• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Pembahasan

B. Pertimbangan hukum dalam menjatuhkan pidana

bersama-sama.

Dalam sistem Hukum Indonesia yang berlandaskan Pancasila (landasan filosofi) menjadikan sila-sila Pancasila tersebut mutlak menjiwai produk-produk hukum yang mengatur sanksi pidana dalam Undang-undang dimaksud ahrus didasarkan pada ke-Tuhanan yang Maha Esa dan mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam penjatuhan pidana bukan semata-mata sebagai jalan balas dendam atas perbuatan yang telah dilanggar, melainkan adalah suatu upaya pemberian bimbingan pada pelaku tindak pidana dan sebagai upaya pengayoman atas korban dari tindak pidana yang ada. Hakim dalam menjatuhkan suatu putusan haruslah mempertimbangkan unsur-unsur obyektif yang tidak

59 bersifat emosi semata. Oleh karena itu, sebelum Majelis Hakim menjatuhkan pidana kepada terdakwa-terdakwa maka perlu dipertimbangkan berbagai hal sesuai dengan kasus tersebut di atas.

Hal-hal yang dipertimbangkan hakim sebelum menjatuhkan putusan :

1. Pertimbangan berdasarkan dakwaan Penuntut Umum.

Oleh karena dakwaan Penuntut Umum disusun secara alternatif maka Majelis Hakim akan langsung mempertimbangkan dakwaan yang cocok diterapkan kepada terdakwa-terdakwa dan sesuai fakta hukum di persidangan yang lebih tepat diterapkan adalah dakwaan kesatu. Dalam dakwaan kesatu terdakwa-terdakwa didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana yakni terdakwa JUMAKKARA Bin H. PACA dan terdakwa EDY Bin Madi serta SALIM dan ZUL (DPO) sebagai pelaku, menyuruh melakukan dan turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang anak yakni saksi korban IRMA alias IMA untuk melakukan persetubuhan dengannya. Untuk menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa-terdakwa maka perlu dipertimbangkan apakah perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa sebagaimana diuraikan dalam

60 dakwaan Penuntut Umum memenuhi keseluruhan unsur-unsur dari pasal-pasal tersebut.

2. Pertimbangan fakta dan pertimbangan yuridis terpenuhinya atau tidak terpenuhinya setiap unsur delik.

Penuntut Umum dalam membuktikan dakwaannya dipersidangan mengajukan saksi-saksi setelah mereka disumpah terlebih dahulu sesuai ajaran agamanya masing-masing kecuali saksi korban. Saksi-saksi tersebut yakni saksi korban Irma alias Ima, Risal Num Ridwan, Faridawati dan Arlan. Selanjutnya terdakwa-terdakwa juga memberikan keterangan tentang kasus tersebut. Selain keterangan dari para saksi dan terdakwa-terdakwa di persidangan Penuntut Umum telah mengajukan barang bukti berupa :

- 1 (satu) lembar baju kaos warna merah kancing putih; - 1 (satu) lembar celana pendek warna orange;

- 1 (satu) lembar celana dalam warna putih bertuliskan love pada karet pinggangnya;

- 1 (satu) lembar BH warna putih;

- 1 (satu) lembar fotocopy kutipan akte kelahiran atas nama Irma alias Ima Binti Mahun.

Setelah adanya pembuktian mengenai unsur-unsur yang didakwakan dan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan yang diperoleh berdasarkan barang bukti, keterangan saksi-saksi,

61 dan keterangan terdakwa-terdakwa maka secara sah dan meyakinkan terdakwa-terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana “secara bersama-sama dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan” sebagaimana yang diatur dan diancam pidana dalam pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, maka ketentuan pidana minimum dalam pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yakni pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan ketentuan impretatif sifatnya maka ketentuan pidana minimum itu akan ikut dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana terhadap terdakwa-terdakwa. Dalam perkara ini selain pidana penjara, sesuai dengan ketentuan Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Tentang Perlindungan Anak, maka terdakwa-terdakwa akan dijatuhi pula denda yang besarnya akan ditentukan dalam amar pututsan, dengan suatu ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka harus diganti dengan pidana kurungan yang lamanya akan ditetapkan dalam amar putusan.

3. Tuntutan Penuntut Umum

Berdasarkan uraian diatas, maka Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini, dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang bersangkutan menuntut kiranya Majelis Hakim

62 Pengadilan Negeri Makassar yang memeriksa dan megadili perkara ini berkenan untuk memutuskan:

1. Menyatakan para terdakwa yaitu terdakwa I JUMAKKARA BIN H.PACA dan terdakwa II EDY BIN MADI bersalah melakukan tindak pidana “secara bersama-sama dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain” melanggar Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, dalam dakwaan kesatu;

2. Menjatuhkan pidana kepada para terdakwa dengan pidana penjara masing-masing selam 10 (sepuluh) tahun dan denda sebesar Rp.60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) subsidair 1 (satu) bulan kurungan dikurangkan selama para terdakwa berada di dalam tahanan sementara dengan perintah agar para terdakwa tetap berada dalam tahanan;

3. Menyatakan barang bukti berupa :

- 1 (satu) lembar baju kaos warna merah kancing putih; - 1 (satu) lembar celana pendek warna orange;

- 1 (satu) lembar celana dalam warna putih bertuliskan love pada karet pinggangnya;

63 Dikembalikan kepada pemiliknya yakni Irma alias Ima

- 1 (satu) lembar photo copy kutipan akte kelahiran atas nama Irma alias Ima Binti Mahun.

4. Menetapakan agar para terdakwa membayar biaya perkara masing-masing sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).

Demikianlah surat tuntutan ini kami bacakan dan diserahkan dalam sidang hari ini, Kamis 15 Oktober 2009.

4. Alasan-alasan yuridis peniadaan pidana, pemberatan pidana dan peringanan pidana dalam kasus tersebut.

Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas oleh karena semua pembuktian mengenai unsur-unsur yang didakwakan dan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan yang diperoleh berdasarkan barang bukti, keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa-terdakwa maka secara sah dan meyakinkan terdakwa-terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana “secara bersama-sama melakukan pemerkosaan terhadap anak”, sehingga selama persidangan berlangsung tidak ditemukan adanya hal-dal yang dapat meghapuskan kesalahan terdakwa baik berupa alasan pembenar maupun alasan pemaaf, karena itu terhadap terdakwa-terdakwa harus dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Akan tetapi sebelum Majelis Hakim menjatuhkan pidana kepada terdakwa-terdakwa maka perlu dipertimbangkanm hal-hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa-terdakwa, yaitu:

64 a. Hal-hal yang meringankan (pengurangan pidana) :

- Para terdakwa belum pernah dihukum;

- Para terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya; - Para terdakwa bersikap sopan di persidangan.

b. Hal-hal yang memberatkan (penambahan pidana) :

- Perbuatan para terdakwa merusak masa depan saksi korban yang masih anak-anak;

- Perbuatan para terdakwa meresahkan masyarakat;

- Perbuatan para terdakwa dilakukan terhadap anak yang mempunyai keterbelakangan mental.

5. Pertimbangan-pertimbangan tentang alasan-alasan subyektif pelaku.

Adapun alasan-alasan subyektif pelaku yang perlu dipertimbangkan oleh hakim sebelum menjatuhkan pidana kepada terdakwa-terdakwa yakni : selama proses persidangan terdakwa-terdakwa mengakui terus terang perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi dalam arti tidak akan bermasalah lagi dengan hukum. Selain itu, terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya.

65 6. Amar Putusan

MENGADILI :

1. Menyatakan TERDAKWA I JUMAKKARA BIN H.PACA dan TERDAKWA II. EDY BIN MADI telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana

“SECARA BERSAMA-SAMA DENGAN SENGAJA

MELAKUKAN KEKERASAN ATAU ANCAMAN

KEKERASAN MEMAKSA ANAK MELAKUKAN

PERSETUBUHAN”;

2. Menjatuhkan pidana kepada TERDAKWA I JUMAKKARA BIN H.PACA dan TERDAKWA II. EDY BIN MADI tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara masing-masing selama 6 (enam) tahun dan denda sebesar Rp.60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan hukuman kurungan selama 1 (satu) bulan;

3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani para terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

4. Menetapakan para terdakwa tetap dalam tahanan; 5. Menetapkan barang bukti berupa :

- 1 (satu) lembar baju kaos warna merah kancing putih; - 1 (satu) lembar celana pendek warna orange;

66 - 1 (satu) lembar celana dalam warna putih bertuliskan

love pada karet pinggangnya; - 1 (satu) lembar BH warna putih;

Dikembalikan kepada pemiliknya yakni Irma

- 1 (satu) lembar photo copy kutipan akte kelahiran atas nama Irma.

6. Membebankan biaya perkara kepada para terdakwa masing-masing sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Majelis HakimPengadilan Negeri Makassar pada hari : Kamis, tanggal 22 Oktober 2009 dengan MUSTARI, S.H. sebagai Hakim Ketua, PARLAS NABABAN, S.H, M.H dan KEMAL TAMPUBOLON, S.H, M.H. masing-masing sebagai Hakim Anggota, putusan mana diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Hakim Ketua yang didampingi Hakim-hakim anggota dan dibantu oleh JUSTIAH SAID, S.H. sebagai Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Makassar dan NOORDIEN KUSUMANEGARA, S.H, M.H. Jaksa Penuntut Umum dan para terdakwa.

67 7. Komentar

Hakim dalam memeriksa perkara pidana berusaha mencari dan membuktikan kebenaran materiil berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, serta berpegang teguh pada apa yang dirumuskan dalam surat dakwaan Penuntut Umum. Apabila surat dakwaan tersebut terdapat kekurangan atau kekeliruan maka hakim sulit untuk mempertimbangkan dan menjatuhkan putusan.

Berdasarkan posisi kasus sebagaimana telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dakwaan Penuntut Umum, tuntutan Penuntut Umum, dan pertimbangan Hakim Pengadilan dalam amar putusan telah memenuhi unsur dan syarat dapat dipidananya seorang terdakwa. Hal ini didasarkan pada pemeriksaan dalam persidangan, dimana alat bukti yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, termasuk di dalamnya keterangan saksi-saksi yang saling bersesuaian ditambah dengan keterangan terdakwa-terdakwa yang mengakui secara jujur perbuatan yang dilakukannnya. Oleh karena itu, Hakim Pengadilan Negeri Makassar menyatakan dalam amar putusannya bahwa terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “secara bersama-sama dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan” sebagaimana yang diatur dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana dan 285 KUHPidana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

68 Menurut penulis, penjatuhan pidana sebagaimana tersebut diatas didasarkan pada penilaian objektif dari hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut. Misalnya latar belakang terpidana apakah sudah pernah melakukan tindak pidana. Hakim juga harus memperhatikan bahwa perbuatan terdakwa-terdakwa sangat dipengaruhi oleh kondisi yang dialaminya sehingga terdakwa-terdakwa kehilangan pengendalian diri untuk menginsafi bahwa perbuatannya dapat merugikan orang lain khususnya kepada saksi korban. Sebagai dampak dari keadaan tersebut, juga berpengaruh pola perilaku individu dari masyarakat dalam berinteraksi dengan individu lainnya. Banyak pribadi yang mengalami gangguan jiwa yang kemudian muncul konflik budaya yang ditandai keresahan sosial, ketidaksinambungan, disharmonisasi, ketegangan, ketakutan dan perilaku-perilaku lain yang akhirnya melanggar norma formal. Akibatnya individu lalu mengembangkan pola perilaku menyimpang dari norma-norma umum, dengan berbuat semaunya dengan mengedepankan kepentingan pribadi yang merugikan pihak lain.

Uraian diatas diperkuat dengan hasil wawancara penulis dengan Kepala HUMAS Pengadilan Negeri Makassar : Makmur, S.H, M.H., (wawancara tanggal 17 januari 2013) yang menyatakan bahwa : “dalam menjatuhkan pidana kepada terdakwa-terdakwa yang harus diperhatikan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan serta tujuan pemidanaan itu sendiri, yang semuanya terdapat di dalam putusan. Misalnya: pertimbangan mengenai keringanan kepada para terpidana

69 kasus pemerkosaan ini hakim melihat dalam berkas-berkas perkara terdakwa telah mengakui semua perbuatannya dengan jujur dan berjanji tidak akan mengulanginya. Pertimbangan lain bahwa, tujuan pemidanaan bukanlah sebagai sarana balas dendam yang memandang pidana sebagai suatu nestapa yang dikenakan kepada pembuat karena melakukan suatu delik. Hal ini disebabkan tujuan pidana mengalami perkembangan kearah rasional. Diantaranya variasi dari bentuk-bentuk penjeraan (defferent), baik ditujukan kepada pelanggar hukum itu sendiri maupun kepada mereka yang mempunyai potensi menjadi penjahat. Dimana titik tekan dari tujuan pemidanaan tersebut adalah perlindungan kepada masyarakat dari perbuatan jahat dan perbaikan kepada penjahat. Artinya, bukan saja bertujuan memperbaiki kondisi ketika di penjara tetapi juga mencari alternatif lain yang bukan bersifat pemidanaan dalam membina para pelanggar hukum sehingga mendapat pengalaman bagi para terpidana setelah mereka selesai menjalani hukuman yang nantinya, mereka akan memperbaiki dirinya sendiri di dalam kehidupan bermasyarakat”.

70 BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah hasil penelitian dan pembahasan, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dengan adanya pembuktian mengenai unsur-unsur yang didakwakan dan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan yang diperoleh berdasarkan alat bukti keterangan saksi-saksi, surat dan keterangan terdakwa-terdakwa maka secara sah dan meyakinkan telah terbukti melakukan tindak pidana “secara bersama-sama dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan” sebagaimana yang diatur dan diancam pidana dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yakni pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan ketentuan imperatif sifatnya maka ketentuan pidana minimum itu akan ikut dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana terhadap terdakwa-terdakwa. Dalam perkara ini, selain pidana penjara sesuai ketentuan pada Pasal di atas, maka terdakwa-terdakwa akan dijatuhi pula denda yang besarnya ditentukan dalam amar putusan, dengan suatu ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka

71 harus diganti dengan pidana kurungan yang lamanya ditetapkan dalam amar putusan.

2. Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku delik pemerkosaan anak yang didasarkan pada penilaian objektif dari hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut yaitu: latar belakang terdakwa apakah sudah pernah melakukan tindak pidana atau belum pernah melakukan tindak pidana. Hakim juga harus memperhatikan bahwa perbuatan terdakwa-terdakwa sangat dipengaruhi oleh kondisi yang dialaminya sehingga terdakwa-terdakwa kehilangan pengendalian diri untuk menginsafi bahwa perbuatannya tersebut merugikan orang lain khususnya saksi korban. Selain itu, dalam menjatuhkan pidana kepada terdakwa-terdakwa diperhatikan diantaranya : hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan serta tujuan pemidanaan itu, yang semuanya terdapat didalam putusan. Misalnya pertimbangan mengenai keringanan kepada terpidana kasus pemerkosaan ini hakim melihat dalam berkas-berkas perkara terdakwa bahwa terdakwa belum pernah melakukan tindak pidana, kemudian terdakwa telah mengakui semua perbuatannya dengan jujur dan berjanji tidak akan mengulanginya.

72 B. Saran-saran

Berdasarkan dari kesimpulan diatas, maka penulis mengajukan saran sebagai berikut:

1. Kepada pihak yang terkait dalam menangani kasus ini yakni Majelis Hakim sebaiknya lebih mempertimbangkan penerapan sanksi pidana yang lebih tegas terhadap terdakwa-terdakwa dalam kasus pemerkosaan anak sesuai dengan perbuatannya yang telah merugikan masa depan korban itu sendiri yang dalam hal ini adalah anak.

2. Diharapkan kepada pembuat undang-undang agar juga memperhatikan kepentingan korban sebagai bentuk perlindungan hukum sehingga perannya untuk membantu mengungkap kejahatan pemerkosaan dapat berjalan dengan maksimal. Disamping itu, juga perlu adanya upaya represif untuk mengembalikan citra korban pemerkosaan sebagai manusia yang berguna sehingga diperlukan lembaga psikologis yang memberikan bantuan kepada para korban pemerkosaan utamanya korban yang masih anak, sehingga dapat menghilangkan traumanya di kemudian hari.

3. Diharapkan kepada masyarakat Iebih meningkatkan kontrol sosial dan perlunya pengawasan orang tua atas Iingkungan dan pergaulan anak-anaknya.

73 DAFTAR PUSTAKA

Efendy, Rusli. 1986. Azas-Azas Hukum Pidana. Ujung Pandang : Leppen UMI.

Farid, Zainal Abidin. 2007. Hukum Pidana I, Jakarta : Sinar Grafika.

Gosita, Arief. 1987. Masalah Korban Kejahatan. Jakarta: Akademika Pressindo.

Hamzah, Andi. 1994. Azas-Azas Hukum Pidana. Bandung : PT. Rineka Cipta.

Kusuma, Mulyana W. 1981. Kriminologi dan Masalah Kejahatan. Bandung : Armico

Lamintang, P.A.F. 1997. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

Marpaung, Leden. 2005. Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika.

Prodjodikoro, Wirjono. 2003. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. Bandung : PT. Refika Aditama.

Poernomo, Bambang. 1993. Asas-Asas Hukum Pidana. Yogyakarta : Ghalia Indonesia.

Puspa, Pramadya, Yan. 2008. Kamus Hukum. Semarang : CV Aneka Ilmu.

Sughandi. 1980. KUHP dan Penjelasannya. Surabaya : Usaha Nasional.

Sugiono, Dendy. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Soesilo, R. 1980. Pokok-pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik-delik Khusus. Bogor : Politea.

______, R. 1995. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bogor : Politea.

Yustisia, Pustaka, Tim Redaksi. 2010. Perundangan tentang Anak. Yogyakarta : Pustaka Yustisia.

Wahid, Abdul dan Irfan, Muhammad. 2001. Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual. Bandung : PT. Rafika Aditama.

74 Waluyo, Bambang. 2008. Pidana dan Pemidanaan. Jakarta : Sinar

Grafika.

Perundang-Undangan :

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Undang-Undang nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

Sumber-sumber lain : - http://makalah-fifacom.blogspot.com/2010/02/hukum-pidana-pemerkosaan. html - http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4748/1/09E019 48.pdf

Dokumen terkait