• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. LA NABA KASIM

II. Dalam Pokok Permohonan

3. PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa permasalahan hukum utama permohonan para Pemohon adalah keberatan atas Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011 Di Tingkat Kabupaten Buton Oleh KPU Kabupaten Buton, Nomor 35/BA/KPU-KAB/PKD/VIII/2011, tanggal 9 Agustus 2011, dan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Buton, Nomor 36/Kpts/KPU-KAB/PKD/VIII/2011, tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara Pasangan Calon Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011, tanggal 9 Agustus 2011;

[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal berikut:

a. kewenangan Mahkamah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

b. kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon;

c. tenggang waktu pengajuan permohonan;

Terhadap ketiga hal dimaksud, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

Kewenangan Mahkamah

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945), Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226, selanjutnya disebut UU MK), Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (selanjutnya disebut UU 32/2004) sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844, selanjutnya disebut UU 12/2008), dan Pasal 29 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), salah satu kewenangan konstitusional Mahkamah adalah memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum;

Semula, berdasarkan ketentuan Pasal 106 ayat (1) dan ayat (2) UU 32/2004 keberatan berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya Pasangan Calon diajukan ke Mahkamah Agung. Kewenangan Mahkamah Agung tersebut dicantumkan lagi dalam Pasal 94 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, Dan Pemberhentian Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4865);

Dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721) ditentukan, ”Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah pemilihan umum untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”;

Dalam Pasal 236C UU 12/2008 tentang Perubahan Kedua Atas UU 32/2004, menetapkan, ”Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala

daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak undang-undang ini diundangkan”;

Pada tanggal 29 Oktober 2008, Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Mahkamah Konstitusi bersama-sama telah menandatangani Berita Acara Pengalihan Wewenang Mengadili, sebagai pelaksanaan Pasal 236C UU 12/2008 di atas;

[3.4] Menimbang bahwa oleh karena permohonan para Pemohon adalah sengketa hasil penghitungan suara Pemilukada, yakni Pemilukada Kabupaten Buton Tahun 2011 sesuai dengan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011 Di Tingkat Kabupaten Buton Oleh KPU Kabupaten Buton, Nomor 35/BA/KPU-KAB/PKD/VIII/2011, tanggal 9 Agustus 2011, dan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Buton, Nomor 36/Kpts/KPU-KAB/PKD/VIII/2011, tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara Pasangan Calon Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011, tanggal 9 Agustus 2011, maka Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon

[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004 sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan UU 12/2008, dan Pasal 3 ayat (1) huruf a Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 (selanjutnya disebut PMK 15/2008) Pemohon dalam perselisihan hasil Pemilukada adalah Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah peserta Pemilukada;

[3.6] Menimbang bahwa Pemohon II adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Buton Nomor Urut 9 berdasarkan Keputusan Termohon Nomor 34/Kpts/KPU-KAB/PKD/VII/TAHUN 2011 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011, tanggal 14 Juli 2011 (vide Bukti P-4). Oleh karena itu, menurut Mahkamah Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[3.7] Menimbang bahwa terhadap Pemohon I, Termohon dan Pihak Terkait mengajukan eksepsi yang pada pokoknya menyatakan bahwa Pemohon I tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo (keterangan selengkapnya ada pada bagian Duduk Perkara);

Terhadap esksepsi Termohon dan Pihak Terkait tersebut, setelah mendengar keterangan lisan dan membaca keterangan tertulis Pemohon I, mendengar jawaban lisan dan membaca jawaban tertulis Termohon, dan Pihak Terkait, serta setelah memeriksa bukti-bukti Pemohon I, bukti-bukti Termohon dan Bukti Pihak Terkait, Mahkamah menemukan fakta bahwa Pemohon I memang benar adalah Bakal Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Buton Tahun 2011 yang tidak diakomodir oleh Termohon dikarenakan Pemohon tidak memenuhi syarat minimal dukungan partai politik atau gabungan partai politik sebagai Bakal Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011;

Bahwa menurut Mahkamah sebagaimana putusan-putusan Mahkamah terkait dengan kedudukan hukum (legal standing) Pemohon, Mahkamah dapat memberikan kedudukan hukum (legal standing) kepada bakal pasangan calon tertentu dalam Pemilukada (vide Putusan Nomor 196-197-198/PHPU.D-VIII/2010, tanggal 25 November 2010 dan Putusan Nomor 218-219-220-221/PHPU.D-VIII/2010, tanggal 30 Desember 2010). Pemohon dalam perkara a quo adalah Bakal Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Buton Tahun 2011 berdasarkan Formulir Model B-KWK.KPU PARTAI POLITIK (vide Bukti P-9) dan Berita Acara Penerimaan Berkas Bakal Calon Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Pada Pemilukada Kabupaten Buton Tahun 2011, tanggal 15 Juni 2011 (vide Bukti P-1). Menurut Mahkamah, terdapat alasan yang cukup sehingga Pemohon I dapat diberikan kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan a quo, sehingga eksepsi Termohon dan eskepsi Pihak Terkait tidak beralasan hukum, dan dengan demikian Pemohon I memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan a quo;

Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan

[3.8] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004, Pasal 5 ayat (1) PMK 15/2008, tenggang waktu untuk mengajukan permohonan

pembatalan penetapan hasil penghitungan suara Pemilukada ke Mahkamah paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Termohon menetapkan hasil penghitungan suara Pemilukada di daerah yang bersangkutan;

[3.9] Menimbang bahwa hasil penghitungan suara Pemilukada Kabupaten Buton ditetapkan oleh Termohon berdasarkan Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Buton Nomor 36/Kpts/KPU-KAB/PKD/VIII/2011 tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara Pasangan Calon Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011, tanggal 9 Agustus 2011;

[3.10] Menimbang bahwa tiga hari kerja setelah penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon dalam perkara a quo adalah Rabu, 10 Agustus 2011, Kamis, 11 Agustus 2011, dan Jumat, 12 Agustus 2011;

[3.11] Menimbang bahwa permohonan para Pemohon diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada hari Jumat, tanggal 12 Agustus 2011 berdasarkan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 303/PAN.MK/2011 dan Nomor 305/PAN.MK/2011, sehingga permohonan para Pemohon masih dalam tenggang waktu pengajuan permohonan yang ditentukan peraturan perundang-undangan;

[3.12] Menimbang bahwa oleh karena Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo, para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing), dan permohonan para Pemohon diajukan dalam tenggang waktu yang ditentukan, maka untuk selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangkan permohonan para Pemohon;

Pendapat Mahkamah Dalam Eksepsi

[3.13] Menimbang bahwa terhadap permohonan para Pemohon, Termohon dan Pihak Terkait dalam jawaban tertulisnya telah mengajukan eksepsi yang pada pokoknya menyatakan bahwa permohonan para Pemohon kabur karena permohonan para Pemohon tidak berkenaan dengan hasil penghitungan suara dan tidak menguraikan dengan jelas tentang kesalahan hasil penghitungan suara yang dilakukan oleh Termohon;

[3.14] Menimbang bahwa terhadap dalil eksepsi Termohon dan Pihak Terkait tersebut, menurut Mahkamah eksepsi tersebut sudah menyangkut pokok permohonan sehingga akan dipertimbangkan bersama-sama dengan pokok permohonan;

[3.15] Menimbang bahwa oleh karena eksepsi Termohon dan Pihak Terkait terkait dengan pokok permohonan, selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangakan pokok permohonan;

Dalam Pokok Permohonan

[3.16] Menimbang bahwa sebelum Mahkamah mempertimbangkan pokok permohonan, Mahkamah terlebih dahulu mempertimbangkan bahwa materi permohonan Pemohon tidak terkait dengan kesalahan hasil penghitungan suara yang dilakukan oleh Termohon sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah;

Bahwa dalam menilai proses terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada tersebut Mahkamah membedakan berbagai pelanggaran ke dalam tiga kategori.

Pertama, pelanggaran dalam proses yang tidak berpengaruh atau tidak dapat ditaksir pengaruhnya terhadap hasil suara Pemilu atau Pemilukada seperti pembuatan baliho, kertas simulasi yang menggunakan lambang, dan alat peraga yang tak sesuai dengan tata cara yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Untuk jenis pelanggaran yang seperti ini Mahkamah tidak dapat menjadikannya sebagai dasar pembatalan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh KPU atau KPU Provinsi/Kabupaten/Kota. Hal ini sepenuhnya menjadi ranah peradilan umum dan/atau PTUN. Kedua, pelanggaran dalam proses Pemilu atau Pemilukada yang berpengaruh terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti money politic, keterlibatan oknum pejabat atau PNS, dugaan pidana Pemilu, dan sebagainya. Pelanggaran yang seperti ini dapat membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada sepanjang berpengaruh secara signifikan, yakni karena terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif yang ukuran-ukurannya telah ditetapkan dalam berbagai putusan Mahkamah. Pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya tidak signifikan memengaruhi hasil Pemilu atau Pemilukada seperti yang

bersifat sporadis, parsial, perorangan, dan hadiah-hadiah yang tidak bisa dibuktikan pengaruhnya terhadap pilihan pemilih tidak dijadikan dasar oleh Mahkamah untuk membatalkan hasil penghitungan suara oleh KPU/KPU Provinsi/Kabupaten/Kota. Ketiga, pelanggaran tentang persyaratan menjadi calon yang bersifat prinsip dan dapat diukur (seperti syarat tidak pernah dijatuhi pidana penjara dan syarat keabsahan dukungan pencalonan bagi calon independen) dapat dijadikan dasar untuk membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada karena ada pesertanya yang tidak memenuhi syarat sejak awal;

Bahwa berdasar pandangan dan paradigma yang dianut tersebut maka Mahkamah menegaskan bahwa pembatalan hasil Pemilu atau Pemilukada karena pelanggaran-pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif sama sekali tidak dimaksudkan oleh Mahkamah untuk mengambil alih kewenangan badan peradilan lain. Mahkamah tidak akan pernah mengadili pelanggaran pidana atau administrasi dalam Pemilu atau Pemilukada, melainkan hanya mengambil pelanggaran-pelanggaran yang terbukti di bidang itu yang berpengaruh terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada sebagai dasar putusan tetapi tidak menjatuhkan sanksi pidana dan sanksi administrasi terhadap para pelakunya. Oleh sebab itu, setiap pelanggaran yang terbukti menurut Hukum Acara Mahkamah Konstitusi dan dijadikan dasar putusan pembatalan oleh Mahkamah tetap dapat diambil langkah hukum lebih lanjut untuk diadili oleh lembaga peradilan umum atau Peradilan Tata Usaha Negara sebab Mahkamah tidak pernah memutus dalam konteks pidana atau administratif. Bahkan terkait dengan itu, khusus untuk pelanggaran pidana, Mahkamah Konstitusi telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia yaitu Nota Kesepahaman Nomor 016/PK/SET.MK/2010 dan Nomor B/18/VIII/2010 tentang Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah tertanggal 10 Agustus 2010 yang isinya mendorong agar temuan-temuan pidana dari persidangan-persidangan Pemilukada di Mahkamah dapat terus ditindaklanjuti;

Oleh karena itu, berdasarkan yurisprudensi Mahkamah dalam perkara Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 tanggal 2 Desember 2008 tentang Pemilukada Provinsi Jawa Timur dan putusan-putusan sesudahnya, Mahkamah hanya akan menilai dan mempertimbangkan dalil permohonan para Pemohon terkait dengan pelanggaran Pemilukada yang menurut Pemohon bersifat terstruktur, sistematis, dan masif sehingga mempengaruhi hasil perolehan suara, yaitu:

Pemohon I

[3.17] Menimbang bahwa Pemohon I mendalilkan Termohon telah melakukan pelanggaran dalam tahapan pelaksanaan Pemilukada Kabupaten Buton Tahun 2011 dengan tidak mengakomodasi Pemohon I yang seharusnya telah memenuhi syarat sebagai peserta Pemilukada Kabupaten Buton Tahun 2011. Pelanggaran Termohon adalah menyatakan Pemohon I tidak memenuhi syarat minimal dukungan pencalonan dari partai politik dengan alasan karena partai politik yang mencalonkan Pemohon I terdapat dualisme kepengurusan atau pencalonan ganda. Termohon juga telah membatalkan tiga Partai Politik yang mencalonkan Pemohon I yaitu Partai Indonesia Sejahtera, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, dan Partai Persatuan Nahdatul Ummah Indonesia yang menyebabkan prosentase suara sah Pemohon I berkurang dari 17,20% menjadi 14,9%, padahal ketiga partai politik tersebut telah mengeluarkan surat rekomendasi untuk mencalonkan Pemohon I sebagai Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Buton pada Pemilukada Kabupaten Buton Tahun 2011;

Untuk membuktikan dalilnya, Pemohon I mengajukan bukti surat/tulisan yang diberi tanda bukti P-1, bukti P-2, bukti P-3, bukti P-4, bukti P-5, bukti P-6, bukti P-6.1, bukti P-6.2, bukti P-7, bukti P-8, bukti P-9, bukti P-10, bukti P-11, bukti 12, bukti 13, bukti 14, bukti 15, bukti 16, Bukti 17, bukti 18, bukti P-19, bukti P-20, bukti P-21, bukti P-22, bukti P-23, bukti P-24, bukti P-25, bukti P-26, bukti P-27, bukti P-28, bukti P-29, bukti P-30, bukti P-31, bukti P-32, bukti P-33, bukti P-34, bukti P-35, bukti P-36, bukti P-37, bukti P-38, bukti P-39, bukti P-40, bukti 41, bukti 42, bukti 43, bukti 44, bukti 45, bukti 46, dan bukti P-47, serta saksi-saksi Drs Sukarlan (Ketua Umum DPP Partai Penegak Demokrasi Indonesia), Wa Ode Sitti Hadijah (Ketua DPC Partai Penegak Demokrasi Indonesia Kabupaten Buton), Baiduri (Ketua DPC PPNUI Kabupaten Buton), Superman (Ketua Tim Sukses Pemohon I), Hariasi (Ketua DPC Pakar Pangan Kabupaten Buton), La Maulana (Ketua DPC PPIB Kabupaten Buton), Saipul Rizal (Ketua Umum DPP PPNUI), yang pada pokoknya menerangkan bahwa saksi-saksi telah mencalonkan Pemohon I untuk menjadi peserta pasangan calon bupati dan wakil bupati pada Pemilukada Kabupten Buton Tahun 2011, dan seorang ahli yaitu Maruarar Siahaan yang pada pokoknya menerangkan Termohon telah terbukti

menghalang-halangi hak asasi Pemohon untuk menjadi pasangan calon (keterangan saksi dan ahli selengkapnya ada pada bagian Duduk Perkara);

Pemohon II

[3.18] Menimbang bahwa Pemohon II mendalilkan Termohon telah melakukan pelanggaran pada saat pelaksanaan Pemilukada Kabupaten Buton Tahun 2011 yaitu dengan cara meloloskan empat pasangan calon perseorangan sebagai peserta Pemilukada Kabupaten Buton tahun 2011 tanpa verifikasi administrasi dan verifikasi faktual yaitu:

1. HM. Yasin Welson Lajaha dan H. Abd. Rahman Abdullah (Pasangan Calon Nomor Urut 1);

2. La Sita dan Zuliadi, S.Sos (Pasangan Calon Nomor Urut 5);

3. La Ode M. Syafrin Hanamu, ST., dan Drs. Ali Hamid (Pasangan Calon Nomor Urut 6);

4. Edy Karno, S.Pd., M.Pd., dan Zainuddin, SH. (Pasangan Calon Nomor Urut 8) Untuk membuktikan dalilnya, Pemohon II mengajukan bukti surat/tulisan dan compact disc yang diberi tanda bukti P-20, bukti P-21, bukti P-22, bukti P-23, bukti 24, bukti 25, bukti 26, bukti 27, bukti 28, bukti 29, bukti 30, bukti P-31, bukti P-32, bukti P-33, bukti P-34, bukti P-35, bukti P-36, bukti P-39, bukti P-40, dan bukti P-41, serta saksi-saksi Andi Taufik Aris, Laode Idham Aldo, Rifai, Setia Budi, La Sudi, Salim Tia, Manjus, Hamdin, Anhar, Mardin, Harjono, Maludin, Afka, La Ode Dimu, La Nusia, Hamsidah, Safiah, Bariuddin, Amahidin, La Ode Safrudin, Zafarudin, yang pada pokoknya menerangkan bahwa banyak daftar nama pendukung fiktif untuk pasangan calon perseorangan, tidak adanya Formulir B-8 KWK.KPU, untuk menyatakan keberatan atas dukungan yang dimaksud, tidak adanya verifikasi faktual kepada masyarakat untuk dukungan kepada pasangan calon perseorangan, dan adanya tanda tangan dan cap jempol yang dipalsukan untuk mendukung pasangan calon perseorangan. Ahli Andi Irman Putra Sidin pada pokoknya menerangkan bahwa jika dalam sebuah proses konstitusional Pemilukada ternyata terbukti bahwa salah seorang kontestan sebenarnya tidak memenuhi syarat akibat tidak terpenuhinya metode atau mekanisme verifikasi yang harus dilakukan oleh penyelenggara Pemilu, maka pemungutan suara ulang

bisa menjadi hukuman konstitusional yang harus dijatuhkan (keterangan selengkapnya ada pada bagian Duduk Perkara);

[3.19] Menimbang bahwa terhadap dalil Pemohon I dan Pemohon II tersebut di atas, Termohon membantah dan menyatakan sebagai berikut:

Jawaban Termohon terhadap dalil Pemohon I

Bahwa keputusan Termohon tidak meloloskan Pemohon I sebagai Peserta Pemilu (Pasangan Calon) dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Buton Tahun 2011 didasarkan pada pertimbangan karena Partai Politik pendukung pencalonan Pemohon yang memenuhi syarat hanya 10 (sepuluh) Partai Politik dengan jumlah prosentase suara 14,9% (vide bukti T-11), yaitu:

No. Partai Politik Prosentase Suara

1. Partai Demokrat 3,04

2. Partai Gerindra 2,16

3. Partai Serikat Indonesia (PSI) 1,33

4. Partai Matahari Bangsa (PMB) 1,48

5. Partai Buruh 0,73

6. Partai Pelopor 0,65

7. Partai Pemuda Indonesia (PPI) 1,86

8. Partai Kedaulatan 0,98

9. Partai Karya Perjuangan 1,54

10. Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB) 1,14

Total 14,9 Partai politik pendukung Pemohon I yang tidak memenuhi syarat sebanyak tujuh

partai politk sebagai berikut:

No. Partai Politik Prosentase Suara

1. Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) 0,79

2. Partai Republika Nusantara 1,61

3. Partai Indonesia Sejahtera (PIS) 0,76 4. Partai Pers. Nadhlatul Ummah Ind. (PPNUI) 0,74 5. Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) 1,43

6. Partai Bintang Refomasi (PBR) 2,85

7. Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) 3,34

Total 11,52

Bahwa ketujuh partai politik tersebut menurut Termohon tidak memenuhi syarat sehingga tidak sah mencalonkan Pemohon I sebagai peserta pasangan calon Pemilukada Kabupaten Buton Tahun 2011 dengan alasan sebagai berikut:

(uraian selengkapnya ada pada bagian Duduk Perkara):

Dokumen terkait