• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertimbangan Hukum dalam Putusan Pengadilan Negeri

BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS MASALAH

3.3. Pertimbangan Hukum Putusan Pengadilan terhadap Direktur Utama

3.3.1. Pertimbangan Hukum dalam Putusan Pengadilan Negeri

Pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banjarmasin dalam perkara a quo antara lain:59

- Setelah Majelis Hakim mempelajari berkas perkara ini bahwa diprosesnya perkara ini berkaitan dengan laporan PT. Hutan Rindang Banua (PT. HRB) yang melaporkan PT. Satui Bara Tama (PT. SBT) telah memasuki areal kerja dari PT. HRB sebagai pemilik Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI), sehingga tanaman yang berupa akasia mangium rusak dan punah, sebagai akibat kegiatan penambangan yang dikeluarkan PT. SBT tersebut;

- Terdakwa selaku Direktur Utama PT. SBT dengan legalitas yang telah dimilikinya telah melakukan eksplorasi dan eksploitasi atas areal yang telah di izinkan, dengan legalitas formal berupa:

1) Keputusan Bupati Kotabaru No. 545/97.a/KP/D.PE tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksplorasi tertanggal 20 Januari 2003;

2) Keputusan Bupati Kotabaru No. 545/31.I/KP/D.PE tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksploitasi tertanggal 20 April 2003;

3) Keputusan Bupati Tanah Bumbu No. 545/24-EX/KP/D.PE tentang Pemberian Perpanjangan Pertama Kuasa Pertambangan Eksploitasi kepada PT. Satui Bara Tama;

4) Keputusan Bupati Kotabaru No. 545/31.A/KP/D.PE tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Pengangkutan dan Penjualan;

5) Keputusan Bupati Tanah Bumbu No. 545/24.PP/KP/D.PE tentang Pemberian Perpanjangan Pertama Kuasa Pertambangan Pengangktan dan Penjualan kepada PT. Satui Bara Tama;

59 Lihat Putusan Pengadilan Negeri Banjarmasin No. 1425/Pid.Sus/2009/PN.Bjm.,tanggal 19 April 2010, h. 213 dst.

45 6) Surat Nomor 050/039/Fispras/Bappeda dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah tertanggal 17 Pebruari 2007 Perihal Penjelasan Fungsi Kawasan atas Wilayah Tambang PT. Satui Bara Tama dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Bumbu;

7) Peta Lokasi KP Eksploitasi PT. Satui Bara Tama berdasarkan Peta RTRW Kabupaten Kotabaru Perda Nomor 3 Tahun 2002.

- Menurut hemat Majelis Hakim bahwa setiap izin yang berkaitan dengan fungsi ruang harus mengacu pada rencana tata ruang yang sudah ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

- Dalam perkara a quo adalah Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2000 tentang RTRW Propinsi Kalimantan Selatan, Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2002 tentang RTRW Kabupaten Kotabaru, dan Peraturan Daerah Nomor 29 Tahun 2005 tentang RTRW Kabupaten Tanah Bumbu, yang telah dipaduserasi pada tanggal 13 April 2007, antara pihak Departemen Dalam Negeri, Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu di Jakarta, dan Perda-perda ini sampai saat ini tidak pernah dicabut ataupun dinyatakan tidak berlaku oleh suatu produk hukum tertentu maka Perda-perda tersebut masih tetap sah dan berlaku;

- Berdasar pada pertimbangan di atas maka kedudukan tiga Perda tersebut di atas apabila disandingkan dengan Kepmenhutbun No. 453/KPTS-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan Propinsi Kalimantan Selatan, menurut Prof. Dr. H. Syamsul Wahidin, SH, MH adalah bahwa Kepmenhutubun tersebut tidak dapat disandingkan apalagi dibandingkan dengan Perda tersebut, karena Peraturan Daerah termasuk di dalam tata urutan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU No. 10 Tahun 2004, sedangkan Keputusan Menteri tidak termasuk dalam tata urutan peraturan perundang-undangan. Di samping itu sifat internal beschikking dari Kepmenhutbun tersebut: Pertama, menggunakan istilah KEPUTUSAN; kedua, dictum kelima memerintahkan kepada Baplan (Badan Planologi Departemen Kehutanan) untuk melakukan pengukuhan, dan ketiga, salinan dari Keputusan tersebut disampaikan kepada instansi-instansi lain;

46 - Namun demikian, apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa Perda-perda tersebut bertentangan dengan peraturan lainnya yang lebih tinggi maka menurut pendapat para saksi ahli, yaitu Prof. Dr. Zudan Arif Fakhrulloh, SH, MH, Prof. Dr. HM. Hadin Muhjat, SH, MH, dan lain-lain, peraturan tersebut tidak serta merta batal atau tidak berlaku, akan tetapi secara hukum harus terlebih dahulu diuji melalui prosedur hukum yang berlaku;

- Berdasarkan pertimbangan di atas, menurut hemat Majelis Hakim bahwa yang dapat dijadikan dasar hukum dalam menentukan apakah lokasi/areal kerja Kuasa Pertambangan PT. SBT itu termasuk Kawasan Hutan atau tidak adalah Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2000 tentang RTRW Propinsi Kalimantan Selatan, Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2002 tentang RTRW Kabupaten Kotabaru, dan Peraturan Daerah Nomor 29 Tahun 2005 tentang RTRW Kabupaten Tanah Bumbu;

- Bahwa Peta lokasi Kuasa Pertambangan Eksploitasi PT. SBT berdasarkan Peta RTRW Kabupaten Kotabaru Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2002 tentang RTRW Kabupaten Kotabaru dan Peraturan Daerah Nomor 29 Tahun 2005 tentang RTRW Kabupaten Tanah Bumbu, serta Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2000 tentang RTRW Propinsi Kalimantan Selatan, hasil paduserasi Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dengan RTRW Propinsi Kalimantan Selatan Perda No. 3 Tahun 1993 dan berkesuaian pula dengan keterangan saksi Drs. H. Muhammad Amin, MT bin Umar Durahman, selaku Kepala Dinas Pertambangan Batulicin, yang tugas pokoknya adalah membantu Kepala Daerah khususnya di bidang pertambangan serta bertanggungjawab kepada Bupati Tanah Bumbu dan Dinas Pertambangan, menyatakan bahwa areal kerja PT. SBT Tidak Termasuk dalam Kawasan Hutan melainkan masuk dalam Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan Pertanian (non kehutanan), dengan demikian diperoleh fakta bahwa lokasi Kuasa Pertambangan dari PT. SBT berada pada kawasan budidaya tanaman tahunan pertanian buka kawasan hutan sebagaimana yang dimaksud dalam unsur pasal ini; - Majelis Hakim memandang perlu untuk mempertimbangkan pula mengenai

47 Status dan Fungsi Kawasan Hutan, yang ditetapkan tanggal 27 Juli 2009 dan telah diundangkan tanggal 29 Juli 2009, yang dijadikan dasar oleh Jaksa Penuntut Umum di dalam upaya membuktikan unsure ini yang terkait dengan Surat Kepmenhutbun No. 453/Kpts-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan Propinsi Kalimantan Selatan sebagaimana diuraikan dalam Surat Tuntutannya tersebut;

- Apabila dicermati Peraturan Menteri Kehutanan RI No. P.50/Menhut-II/2009 yang mulai berlaku sejak tanggal diundangkan yaitu 29 Juli 2009, maka peraturan ini tidak dapat diberlakukan atau diterapkan terhadap perkara a quo mengingat tempos delicti dari peristiwa pidana yang didakwakan ini adalah mulai sekitar tahun 2003 sampai 2 Desember 2008, yaitu mulai PT. SBT melakukan eksplorasi dan eksploitasi serta pengangkutan dan penjualan atas penambangan batubara hingga areal/wilayah kerja Kuasa Pertambangan PT. SBT di-police line atau dihentikan oleh Penyidik Polda Kalimantan Selatan, sedangkan Peraturan Menteri tersebut mulai berlaku sejak tanggal 29 Juli 2009, sehingga peraturan ini tidak dapat berlaku surut;

- Terkait dengan adanya tumpang tindih areal kerja PT. SBT dengan kawasan hutan, maka saksi ahli Prof. Dr. H. Syamsul Wahidin, SH, MH. memberikan pendapat yang pada intinya menyatakan bahwa: 1. Pemohon (dalam hal ini PT. SBT) telah menyampaikan berbagai aspek-aspek prosedural administratif; 2. Ketika itu sudah dilaksanakan dengan baik, tidak ada masalah, termasuk telah membebaskan lahan dan seterusnya, 3. Mengajukan permohonan eksploitasi, menunjukkan bahwa ia telah melalui mekanisme perizinan sebagaimana peraturan yang berlaku.

- Di samping uraian pertimbangan fakta di atas, saksi Drs. H. Muhammad Amin, MT bin Umar Durahman, selaku Kepala Dinas Pertambangan Batulicin, menerangkan pada pokoknya bahwa benar perpanjangan Kuasa Pertambangan eksploitasi PT. SBT dari Bupati Tanah Bumbu tertanggal 13 Juni 2008 yang terletak di Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu dengan luas blok I: 1.492 ha dan blok II: 320 ha dan dasar perpanjangan pertama yang dimohonkan oleh PT. SBT adalah Kepmen ESDM No. 1453.K/29/MEM/2000 tanggal 3 November 2000

48 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum, serta sewaktu pemohon mengajukan permohonan perpanjangan tidak ada komplain dari masyarakat, Pemerintah ataupun Badan Hukum, oleh karenanya Dinas Pertambangan Kabupaten Tanah Bumbu berani mengeluarkan perpanjangan Kuasa Pertambangan;

- Berdasarkan keseluruhan pertimbangan di atas, Majelis Hakim tidak sependapat dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum, karena menurut Majelis Hakim unsur “memasuki kawasan hutan” tidak terpenuhi atas perbuatan Terdakwa;

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banjarmasin yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut telah memutuskan, yang amar putusannya nomor 1: “Menyatakan terdakwa H. Parlin bin H.M. Syahdan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan kesatu primer kesatu subsider atau dakwaan kedua, oleh karenanya membebaskan terdakwa dari segala dakwaan kesatu Primer maupun kesatu Subsider atau dakwaan kedua;”

Putusan bebas terhadap terdakwa yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Banjarmasin antara lain juga didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan hukum sebagai berikut:60

- Untuk menyatakan terdakwa bersalah terdakwa terbukti bersalah atas dakwaan tersebut, maka semua perbuatan terdakwa harus memenuhi unsur-unsur dari pasal-pasal yang didakwakan kepadanya;

- Di persidangan terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum telah didakwa melakukan tindak pidana yaitu Kesatu: Primer sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 78 ayat (6) jo. Pasal 50 ayat (3) huruf g Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; Subsider sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 78 ayat (2) Jo. Pasal 50 ayat (3) huruf a Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; atau Kedua: Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 31 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan;

49 - Dakwaan Kesatu Primer Jaksa Penuntut Umum sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 78 ayat (6) jo. Pasal 50 ayat (3) huruf g Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut: (1) setiap orang; (2) dengan sengaja; (3) melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau ekaploitasi bahan tambang; (4) di dalam kawasan hutan; (5) tanpa izin Menteri.

Ad. 1. Unsur “Setiap Orang”

- Yang dimaksud dengan “setiap orang” menurut ketentun undang-undang adalah subyek hukum yaitu orang atau badan hukum, yang dapat dipertanggung-jawabkan atas perbuatan yang dilakukannya di hadapan hukum;

- Yang diajukan ke persidangan sebagai terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum adalah “orang” yang bernama H. Parlin Riduansyah bin H. Muhamad Syahdan; - Berdasarkan keterangan para saksi dan dari keterangan terdakwa sendiri

berdasarkan Akta Notaris Kasmuri No. 18 tanggal 31 Agustus 1999 yang diperbarui dengan Akta Notaris/PPAT Linda Kenari, SH, MH tanggal 19 Pebruari 2008, diperoleh fakta bahwa benar terdakwa H. Parlin Riduansyah bin H. Muhamad Syahdan adalah sebagai Direktur Utama PT. Satui Bara Tama;

- Menurut ahli Hukum Perusahaan Universitas Lambung Mangkurat H.A. Chadari ADP, SH, MH, menerangkan bahwa berdasarkan ketentuan pasal 98 ayat (1) Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dalam sebuah Badan Hukum, Direktur adalah bertanggung jawab di dalam maupun di luar Pengadilan;

- Terdakwa H. Parlin Riduansyah bin H. Muhamad Syahdan selaku Direktur Utama PT. Satui Bara Tama adalah subyek hukum yang dapat dipertanggungjawabkan atas segala perbuatannya dan terdakwa mampu bertanggung jawab, sehingga unsur “setiap orang” secara hukum terpenuhi atas diri terdakwa tersebut.

Ad. 2. Unsur “dengan sengaja”

- Apa yang dimaksud “dengan sengaja”, dalam undang-undang tidak dijelaskan, namun dalam doktrin dan yurisprudensi unsur “sengaja” dikenal beberapa bentuk

50 kesengajaan, yaitu: sengaja sebagai tujuan, sengaja sebagai kepastian, dan sengaja sebagai kemungkinan;

- Yang dimaksud “dengan sengaja” di sini adalah dolus (opzet) yang mengandung suatu pengertian bahwa setiap orang yang melakukan dalam hal ini pelaku mengetahui dan menghendaki perbuatan yang dilakukan dan/atau akibat yang mungkin timbul dari perbuatannya tersebut;

- Berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan terdakwa H. Parlin Riduansyah bin H. Muhamad Syahdan adalah Direktur Utama PT. Satui Bara Tama, pemegang izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi dari Bupati Kotabaru seluas 1.904 Ha dan izin Pemberian Perpanjangan Pertama Kuasa Pertambangan Eksploitasi dari Bupati Tanah Bumbu seluas 1.812 Ha yang terletak di Desa Sungai Cuka, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, yang berdasarkan keterangan Saksi H. Iwan Yunus pernah menerima surat dari PT. Hutan Rindang Banua (PT. HRB) tertanggal 19 Juli 2007 yang isinya memperingatkan kepada terdakwa selaku Direktur Utama PT. Satui Bara Tama (PT. SBT) bahwa penebangan (pohon akasia) dan pengangkutanbatubara yang dilakukan oleh PT. SBT telah masuk ke dalam areal/wilayah Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) PT. HRB di Desa Sungai Cuka, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, dan akibatnya merusak dan menghancurkan tanaman industrI pulp pada blok SB-3, petak tanaman No. 49, 50, 51, 52, 53 dan 54, tetapi terdakwa tetap mengerjakan penambangan batubara di lokasi kawasan HPHTI milik PT. HRB;

- Atas surat dari PT. HRB tersebut, Saksi H. Iwan Yunus juga menerangkan bahwa 4 (empat) bulan kemudian dengan surat tanggal 6 Nopember 2007, PT. SBT mengirim surat kepada PT. HRB dengan surat No. 131/SBT-Adm/XI/2007 tanggal 6 Nopember 2007 ditandatangani H. Iwan Yunus (Direktur PT. SBT) yang isinya agar PT. HRB tidak meneruskan penanaman pohon akasia di Desa Sungai Cuka, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, yang merupakan tanah masyarakat yang telah diganti rugi oleh PT. SBT, kemudian PT. HRB mengirim surat kembali kepada terdakwa selaku Direktur Utama PT. SBT No. 01/HRB-Lgl/XI/07 tanggal 26 Nopember 2007 yang isinya antara lain agar PT. SBT menghentikan kegiatan

51 penambangan batubara di Desa Sungai Cuka, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, tersebut. Namun, PT. SBT tetap melakukan penambangan yang memang “dikehendaki atau menjadi tujuan” dari perbuatan yang dilakukan terdakwa;

- Sebagaimana fakta yang diperoleh di persidangan terdakwa selaku Direktur Utama PT. SBT di dalam melakukan kegiatannya tersebut telah memiliki Surat Keputusan Bupati Kotabaru Nomor: 545/97.a/KP/D.PE tanggal 20 Januari 2003 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksplorasi seluas 1.904 Ha, Surat Keputusan Bupati Tanah Bumbu Nomor: 545/24-EX/KP/D.PE tanggal 13 Juni 2008 tentang Pemberian Perpanjangan Pertama Kuasa Pertambangan Eksploitasi kepada PT. Satui Bara Tama, Surat Keputusan Nomor: 545/24-PP/KP/D.PE tanggal 13 Juni 2008 tentang Pemberian Perpanjangan Pertama Kuasa Pertambangan, Pengangkutan dan Penjualan kepada PT. Satui Bara Tama, sehingga dengan dasar legalitas tersebut terdakwa melakukan kegiatannya berupa penambangan di areal yang telah dizinkan tersebut hingga pada bulan Desember 2008;

- Oleh karena itu menurut hemat Majelis Hakim, terdakwa telah mempunyai niat, mempunyai maksud atau mempunyai tujuan untuk melakukan penambangan di lokasi sebagaimana telah ditentukan di dalam Surat Kuasa Pertambangan yang dimilikinya tersebut, sehingga dengan demikian unsur “dengan sengaja” telah terpenuhi.

Ad. 3. Unsur melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang

- Yang dimaksud dengan “melakukan kegiatan penyelidikan umum, atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang” menurut Penjelasan Pasal 50 ayat (3) huruf g Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan adalah:

a. Yang dimaksud dengan penyelidikan umum adalah penyelidikan secara geologi umum atau geofisika di daratan, perairan dan dari udara, dengan maksud untuk membuat peta geologi umum atau untuk menetapkan tanda-tanda adanya bahan galian.

52 b. Yang dimaksud dengan eksplorasi adalah penyelidikan geologi pertambangan untuk menetapkan lebih teliti dan lebih seksama adanya bahan galian dan sifat letakannya.

c. Yang dimaksud dengan eksploitasi adalah kegiatan menambang untuk menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya.

- Apabila uraian di atas dikaitkan dengan keterangan para saksi dan bukti-bukti surat baik yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum maupun yang diajukan oleh Penasehat Hukum terdakwa, ternyata terdakwa H. Parlin Riduansyah bin H. Muhamad Syahdan selaku Direktur Utama PT. SBT pemegang izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi, Eksploitasi, Pengangkutan dan Penjualan bahan galian (tambang) sebagaimana tersebut di atas, telah melakukan eksplorasi yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan eksploitasi bahan tambang batubara di lokasi atau areal yang telah ditentukan sesuai dengan Kuasa Pertambangan yang dimilikinya. Dengan demikian, unsur inipun telah terpenuhi pula.

Ad. 4. Unsur di dalam kawasan hutan

- Yang dimaksud dengan “Kawasan Hutan” menurut ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

- Berkaitan dengan hal tersebut, Pasal 12 Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menentukan bahwa perencanaan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (2) huruf a meliputi:

a. Inventarisasi hutan;

b. Pengukuhan kawasan hutan; c. Penatagunaan kawasan hutan;

d. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan.

- Selanjutnya dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ditentukan bahwa berdasarkan inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Pemerintah menyelenggarakan pengukuhan kawasan

53 hutan. Sedangkan di dalam Pasal 14 ayat (2) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyatakan bahwa kegiatan pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan. Selanjutnya, dalam Pasal 15 ayat (1) ditentukan bahwa pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dilakukan melalui proses sebagai berikut:

1. Penunjukan kawasan hutan; 2. Penataan batas kawasan hutan; 3. Pemetaan kawasan hutan; dan 4. Penetapan kawasan hutan.

- Berkaitan dengan hal tersebut, dalam Penjelasan Pasal 15 ayat (1) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dijelaskan bahwa penunjukan kawasan hutan adalah kegiatan persiapan pengukuhan kawasan hutan, antara lain berupa: a. Pembuatan peta penunjukan yang bersifat arahan tentang batas luar;

b. Pemancangan batas sementara yang dilengkapi dengan lorong-lorong; c. Pembuatan parit batas pada lokasi-lokasi rawan; dan

d. Pengumuman tentang rencana batas kawasan hutan, terutama di lokasi-lokasi yang berbatasan dengan tanah milik.

- Dalam kaitan itu yang dijadikan dasar yang substansial dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah kawasan hutan sebagaimana Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan, tanggal 17 Juni 1999, seluas 1.839.494 Ha;

- Berkaitan dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 tersebut serta Peta Asli sebagai lampirannya dikaitkan dengan Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diuraikan di atas, maka beberapa saksi ahli yang diajukan di muka persidangan telah memberikan pendapat (hukum), di antaranya adalah: Saksi Ahli Prof. Dr. HM. Hadin Muhjat, SH, MH, Saksi Ahli Prof. Dr. H. Samsul Wahidin, SH, MH, Saksi Ahli Dr. H. Sadjiono, SH, MH, Saksi Edi Djaya, SH, MH (Departemen

54 Kehutanan RI), Saksi Ahli Ir. Sutaji Benu (Dinas Kehutanan Propinsil Kalimantan Selatan), dan Saksi Ahli Prof. Dr. Zudan Fakhrulloh, SH, MH. Pendapat Saksi-saksi Ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa:

1) Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 tersebut merupakan produk hukum yang berupa “keputusan” (beschikking) yang bersifat internal, sehingga tidak berlaku secara umum (keluar) atau tidak berdampak hukum keluar, akibatnya secara hukum tidak dapat dijadikan dasar hukum untuk menentukan kebijakan-kebijakan apalagi yang berimplikasi pada perbuatan pidana;

2) Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 tersebut hanyalah merupakan penunjukan yang merupakan tahap awal untuk melakukan tahapan-tahapan berikutnya dalam proses pengukuhan kawasan hutan. Jadi, Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 tersebut belum menentukan adanya kawasan hutan yang final dan definitif;

3) Secara teoritis adanya kawasan hutan yang definitif itu ditandai dengan adanya penetapan dari Menteri Kehutanan;

4) Oleh karena itu Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 tersebut belum selesai/belum tuntas oleh karena pengukuhan kawasan hutan melalui beberapa tahapan yang terdiri dari penataan batas, pemetaan, dan penetapan, bersifat kumulatif, artinya semua harus dipenuhi atau selesai dilaksanakan, baru ada kawasan hutan yang definitif sesuai dengan ketentuan Pasal 14 dan Pasal 15 ayat (1) dan Penjelasannya Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

5) Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 tersebut tidak termasuk dalam hirarki tata urutan peraturan perundang-undangan menurut Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 yang menentukan bahwa peraturan perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum

55 mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, antara lain Peraturan Menteri (bukan Keputusan Menteri);

Bertitiktolak dari uraian di atas maka menurut Majelis Hakim penunjukan kawasan hutan tersebut in casu Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 itu hanyalah merupakan tahapan awal dalam kegiatan pengukuhan kawasan hutan, dengan kata lain adanya penunjukan dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 453/Kpts-II/1999 itu belum menentukan adanya kawasan hutan yang definitif atau tetap, melainkan hanya merupakan kegiatan persiapan dalam rangka pengukuhan kawasan hutan yang harus ditindaklanjuti dengan tahapan-tahapan berikutnya, yaitu penataan batas, pemetaan, dan penetapan, sehingga dengan berdasar pada pengukuhan kawasan hutan tersebut kemudian Pemerintah menyelenggarakan penatagunaan kawasan hutan. Oleh karena itu, sangatlah keliru apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa kawasan hutan yang ditunjuk oleh Menteri walaupun belum dilakukan pengukuhan sudah mempunyai kepastian hukum sesuai dengan Pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Berdasarkan keseluruhan pertimbangan di atas, Majelis Hakim tidak sependapat dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum, karena menurut Majelis Hakim unsur “memasuki kawasan hutan” tidak terpenuhi atas perbuatan terdakwa. Oleh karena itu salah satu unsur dari dakwaan Kesatu Primer Jaksa Penuntut Umum tidak terpenuhi, maka terhadap unsure-unsur selebihnya tidak perlu dibuktikan lagi, dan oleh karenanya harus dinyatakan bahwa terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan Kesatu Primer sehingga terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan Kesatu Primer tersebut.

Terhadap putusan Pengadilan Negeri Banjarmasin tersebut di atas, ternyata Jaksa Penuntut Umum telah melakukan kasasi, padahal secara yuridis formal berdasarkan pasal 244 KUHAP dengan jelas dan tegas dinyatakan bahwa terhadap putusan bebas (bebas murni) tidak boleh diajukan upaya hukum kasasi. Ketentuan KUHAP yang menyatakan bahwa putusan bebas tidak boleh diajukan kasasi ini juga dikuatkan oleh pendapat hukum (legal opinion) yang dikemukakan oleh beberapa

56 pakar hukum antara lain: Prof. Dr. Andi Hamzah, SH (Guru Besar Hukum Pidana dan

Dokumen terkait