1 Bahwa ketentuan Pasal 22 UU Pengadilan Anak berbunyi, “Terhadap Anak Nakal hanya dapat dijatuhkan pidana atau tindakan yang ditentukan dalam
Butir 7. Hak-hak anak
C. Keterangan DPR
3. PERTIMBANGAN HUKUM
[3 .1 ] Menimbang bahwa pokok permohonan para Pemohon adalah menguji konstitusionalitas Pasal 1 angka 2 huruf b, Pasal 4 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 22, Pasal 23 ayat (2) huruf a, Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3668, selanjutnya disebut UU Pengadilan Anak) terhadap Pasal 28B ayat (2), Pasal 28D ayat (1), dan Pasal 28I ayat (1) UUD 1945;
[3 .2 ] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan mempertimbangkan:
a. kewenangan Mahkamah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;
Terhadap kedua hal tersebut di atas, Mahkamah berpendapat sebagai berikut; Kewenangan Mahkamah
[3 .3 ] Menimbang bahwa menurut Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316, selanjutnya disebut UU MK) juncto Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), Mahkamah berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang- Undang terhadap UUD 1945;
[3 .4 ] Menimbang bahwa permohonan Pemohon adalah menguji konstitusionalitas norma Pasal 1 angka 2 huruf b, Pasal 4 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 22, Pasal 23 ayat (2) , Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak terhadap Pasal 28B ayat (2), Pasal 28D ayat (1), dan Pasal 28I ayat (1) UUD 1945, sehingga oleh karenanya Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon
[3 .5 ] Menimbang bahwa menurut Pasal 51 ayat (1) UU MK, yang dapat bertindak sebagai Pemohon dalam pengujian suatu Undang-Undang terhadap UUD 1945 adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya suatu Undang-Undang yang dimohonkan pengujian, yaitu: a. perorangan, termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama,
warga negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang;
d. lembaga negara;
[3 .6 ] Menimbang bahwa para Pemohon terdiri dari dua badan hukum yakni Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai Pemohon I dan Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak Medan (YPKPAM) sebagai Pemohon II yang merasa hak konstitutionalnya dirugikan atau setidak-tidaknya berpotensi memiliki kerugian konstitutional dengan berlakunya sejumlah pasal dalam UU Pengadilan Anak;
[3 .7 ] Menimbang bahwa Pemohon I adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan amanat Pasal 74 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2003. Berdasarkan Pasal 76 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, Pemohon I memiliki tugas, yakni melakukan sosialisasi, pengaduan, penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan yang berkaitan dengan perlindungan anak, serta memberikan pertimbangan kepada presiden dalam permasalahan perlindungan anak (vide Bukti P-1A), sedangkan Pemohon II adalah badan hukum privat yang berdasarkan Pasal 3 angka 1 Akta Pendiriannya memiliki tujuan untuk “memberikan perlindungan terhadap anak dan perempuan dan terhadap setiap orang atau lembaga yang melakukan pelanggaran terhadap hak anak”; (vide Bukti P-3A);
[3 .8 ] Menimbang bahwa para Pemohon memiliki misi untuk menjalankan advokasi kepentingan publik (public interest advocacy) dalam hal kepentingan anak, sehingga berdasarkan Putusan Nomor 002/PUU-I/2003 tentang Pengujian Undang-Undang Migas yang telah mengabulkan kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM), dikarenakan terbukti memiliki public interest advocay atas permohonan yang diajukan;
[3 .9 ] Menimbang pula bahwa Mahkamah sejak Putusan Nomor 006/PUU-III/ 2005, bertanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007, bertanggal 20 September 2007 serta putusan-putusan selanjutnya telah berpendirian bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK harus memenuhi lima syarat, yaitu:
a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;
b. hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh Pemohon dianggap dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;
c. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut harus bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;
d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dimaksud dan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi;
[3 .1 0 ] Menimbang bahwa para Pemohon merasa dirugikan dengan berlakunya pasal-pasal dalam Undang-Undang a quo yang dianggap berpotensi merugikan kepentingan dan misi para Pemohon sebagai badan hukum yang bertujuan untuk melakukan perlindungan anak, sedangkan berdasarkan praktik yang dihadapi oleh para Pemohon, keberadaan pasal-pasal a quo telah menimbulkan kerugian konstitusional atau setidaknya berpotensi menimbulkan kerugian konstitusional terhadap aktivitas perlindungan anak di Indonesia;
[3 .1 1 ] Menimbang bahwa melalui pandangan inilah, para Pemohon memiliki hubungan sebab akibat (causal verband) serta berpotensi untuk dapat dirugikan hak konstitusionalnya sebagaimana dijamin dalam Pasal 1 angka 2 huruf b, Pasal 4 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 22, Pasal 23 ayat (2) huruf a, Pasal 31 ayat (1) Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak terhadap Pasal 28B ayat (2), Pasal 28D ayat (1), dan Pasal 28I ayat (1) UUD 1945;
[3 .1 2 ] Menimbang bahwa meskipun para Pemohon tidak memiliki kerugian langsung yang secara nyata, aktual, dan spesifik diderita disebabkan dengan berlakunya pasal-pasal a quo, namun keberadaan Bukti P-1A dan Bukti P-3A telah menunjukkan bahwa para Pemohon memang merupakan badan hukum publik dan
privat yang memiliki misi setidaknya untuk melakukan perlindungan dan advokasi perlindungan anak;
[3 .1 3 ] Menimbang bahwa berdasarkan prinsip kepentingan umum dan keadilan, maka kedudukan hukum para Pemohon yang memiliki public interest advocacy dapat dikualifikasi sebagai pihak yang patut dipertimbangkan dalam perkara ini;
[3 .1 4 ] Menimbang bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, menurut Mahkamah, para Pemohon secara prima facie mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan pengujian pasal-pasal dalam UU Pengadilan Anak sehingga substansi permohonan Pemohon sangat relevan dan harus dipertimbangkan secara cermat dan akurat dalam pokok permohonan;
Pokok Permohonan
[3 .1 5 ] Menimbang bahwa oleh karena para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing), maka selanjutnya pokok permohonan yang diajukan, yakni mengenai konstitusionalitas pasal-pasal yang dimohonkan pengujian harus dipertimbangkan dan diberi penilaian hukum dan keadilan;
[3 .1 6 ] Menimbang bahwa para Pemohon mendalilkan pasal-pasal dalam UU Pengadilan Anak yang dimohonkan pengujian bertentangan dengan UUD 1945 atau setidaknya konstitusional bersyarat, yakni;
1. Pasal 1 angka 2 huruf b sepanjang frasa “... maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan belaku dalam masyarakat yang bersangkutan.”
2. Pasal 4 ayat (1) sepanjang frasa “...sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun...” 3. Pasal 5 ayat (1) sepanjang frasa “...belum mencapai umur 8 (delapan) tahun...” 4. Pasal 22 sepanjang frasa “...pidana atau...”
5. Pasal 23 ayat (2) huruf a sepanjang frasa “...pidana penjara...”
6. Pasal 31 ayat (1) sepanjang frasa “...di Lembaga Pemasyarakatan Anak...”
Para Pemohon mendalilkan bahwa tiga dari enam pasal yang dimohonkan oleh para Pemohon adalah inkonstitutional atau bertentangan dengan UUD 1945, sedangkan frasa lainnya yang terdapat dalam tiga pasal lainnya, dimohonkan oleh para
Pemohon untuk ditafsirkan inkonstitusional bersyarat, jika proses penyidikan anak sudah menjamin perlindungan hak-hak anak dengan memperhatikan hak-hak anak memperoleh prioritas tindakan bukan pidana;
Ada pun tiga pasal yang dimohonkan untuk dinyatakan inkonstitutional dan bertentangan dengan UUD 1945 adalah menyangkut isu hukum berikut:
1. Definisi Anak Nakal. Para Pemohon menyatakan bahwa definisi anak nakal