• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Dalam Pokok Perkara

3. PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa permasalahan hukum utama permohonan Pemohon adalah keberatan terhadap Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro

Tahun 2013 oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, bertanggal 12 Juni 2013 (Model DB-KWK.KPU);

[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal berikut:

a. kewenangan Mahkamah untuk mengadili permohonan a quo;

b. kedudukan hukum (legal standing) Pemohon untuk mengajukan permohonan a quo;

c. tenggang waktu pengajuan permohonan;

Terhadap ketiga hal tersebut di atas, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

Kewenangan Mahkamah

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945), Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226, selanjutnya disebut UU MK), Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844, selanjutnya disebut UU 32/2004 juncto UU 12/2008), Pasal 29 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), salah satu kewenangan konstitusional Mahkamah adalah memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum;

Semula, berdasarkan ketentuan Pasal 106 ayat (1) dan ayat (2) UU 32/2004, keberatan berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi

terpilihnya Pasangan Calon diajukan ke Mahkamah Agung. Kewenangan Mahkamah Agung tersebut, dicantumkan lagi dalam Pasal 94 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4865);

Dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721) ditentukan, ”Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah pemilihan umum untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”;

Pasal 236C UU 12/2008 menetapkan, ”Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak undang-undang ini diundangkan”;

Pada tanggal 29 Oktober 2008, Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Mahkamah Konstitusi bersama-sama telah menandatangani Berita Acara Pengalihan Wewenang Mengadili, sebagai pelaksanaan Pasal 236C UU 12/2008 di atas;

[3.4] Menimbang bahwa permohonan Pemohon adalah keberatan terhadap Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2013 oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, bertanggal 12 Juni 2013 (Model DB-KWK.KPU), maka Mahkamah berwenang untuk mengadili perkara a quo;

Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon

[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004 juncto UU 12/2008, Pasal 3 ayat (1) huruf a Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan

Umum Kepala Daerah (selanjutnya disebut PMK 15/2008), Pemohon dalam perselisihan hasil Pemilukada adalah Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah peserta Pemilukada;

[3.6] Menimbang bahwa berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Nomor 15/Kpts/KPU-SITARO/2013 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Yang Memenuhi Syarat Dalam Pemilihan Umum Bupati Dan Wakil Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2013, bertanggal 29 April 2013 (vide bukti P-1), dan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Nomor 16/Kpts/KPU-SITARO/2013 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Bupati Dan Wakil Bupati Dalam Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2013, bertanggal 29 April 2013 (vide bukti P-2), Pemohon adalah pasangan calon yang berhak mengikuti Pemilukada Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2013 dengan Nomor Urut 1;

Dengan demikian, Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan

[3.7] Menimbang bahwa Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004 juncto UU 12/2008, Pasal 5 ayat (1) PMK 15/2008 menyatakan, “Tenggang waktu untuk mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan suara Pemilukada ke Mahkamah paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Termohon menetapkan hasil penghitungan suara Pemilukada di daerah yang bersangkutan”;

[3.8] Menimbang bahwa hasil penghitungan suara Pemilukada Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2013 dituangkan dalam Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten Oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten, bertanggal dua belas bulan Juni tahun dua ribu tiga belas. Dengan demikian 3 (tiga) hari kerja setelah penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon adalah hari Kamis, 13 Juni 2013, hari Jumat, 14 Juni 2013, dan hari Senin, 17 Juni 2013, karena hari Sabtu, 15 Juni 2013, dan hari Ahad, 16 Juni 2013, bukan hari kerja;

[3.9] Menimbang bahwa permohonan Pemohon diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada hari Jumat, tanggal 14 Juni 2013, berdasarkan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 286/PAN.MK/2013, sehingga permohonan Pemohon masih dalam tenggang waktu pengajuan permohonan yang ditentukan peraturan perundang-undangan;

[3.10] Menimbang oleh karena Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo, Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo, dan permohonan diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan maka selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangkan pokok permohonan;

Pendapat Mahkamah Dalam Eksepsi

[3.11] Menimbang bahwa Termohon dan Pihak Terkait mengajukan eksepsi sebagai berikut:

a. Termohon mengajukan eksepsi, yaitu permohonan Pemohon salah objek (error in objecto);

b. Pihak Terkait mengajukan eksepsi, yaitu:

i) permohonan Pemohon salah objek (error in objecto); ii) permohonan Pemohon kabur (obscuur libel);

iii) posita dan petitum Pemohon tidak berkaitan; dan

iv) Mahkamah tidak berwenang mengadili permohonan Pemohon.

Terhadap eksepsi Termohon dan Pihak Terkait yang menyatakan bahwa permohonan Pemohon salah obyek (error in objecto), Mahkamah menilai permohonan Pemohon telah mencantumkan objek permohonannya adalah “Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2013 tertanggal 12 Juni 2013 (Model DB-KWK.KPU)” yang meskipun judulnya tidak sama persis namun merujuk pada “Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten Oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten” yang diterbitkan oleh KPU Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro bertanggal dua belas bulan Juni tahun dua ribu tiga belas.

Dengan demikian, eksepsi Termohon dan Pihak Terkait bahwa permohonan Pemohon salah objek adalah tidak beralasan menurut hukum. Adapun eksepsi Pihak Terkait bahwa permohonan Pemohon bukan kewenangan Mahkamah telah dipertimbangkan Mahkamah dalam paragraf [3.3] dan paragraf [3.4] di atas, sedangkan eksepsi Pihak Terkait bahwa permohonan Pemohon kabur serta tidak terdapat kesesuaian antara positanya dengan petitum, Mahkamah akan mempertimbangkan bersama-sama pokok permohonan;

Dalam Pokok Permohonan

[3.12] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Termohon berbuat curang, tidak adil, dan tidak mandiri karena berada di bawah tekanan Pasangan Calon Nomor Urut 2 yang juga incumbent. Pemohon juga mendalilkan Sekretaris Daerah, Asisten Kantor Sekretariat Daerah, Kepala Dinas dan Badan, Camat, Kepala Sekolah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian dan Kesehatan, Camat, Lurah, dan Kapitalaung se-Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) dimobilisasi oleh Pasangan Calon Nomor Urut 2 dan/atau Termohon untuk memenangkan dirinya. Pasangan Calon Nomor Urut 2 juga mengangkat kepala kampung, antara lain Kepala Kampung Batu Bulan, sebagai Tim Sukses untuk membagikan uang kepada pemilih.

Pemohon telah melaporkan keterlibatan PNS dimaksud kepada Panwaslu namun tidak mendapat tanggapan.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan saksi Andris Tadete, George Puasa, dan Helmud Anggoman, serta bukti surat/tulisan bertanda P-26, bukti P-28, bukti P-32 sampai dengan bukti P-36, bukti P-38, bukti P-39, bukti P-41 sampai dengan bukti P-55, bukti P-57A sampai dengan bukti P-57F, dan bukti P-58.

Termohon pada pokoknya membantah dalil Pemohon dimaksud. Pihak Terkait pada pokoknya membantah dalil Pemohon.

Untuk membuktikan bantahannya Pihak Terkait mengajukan saksi Wildhe Jhon Anthoni serta bukti surat/tulisan bertanda PT-6 dan bukti PT-7.

Terhadap dalil tersebut Mahkamah menilai tidak ada bukti yang cukup mengenai keterlibatan Kepala Kampung Batu Bulan sebagai Tim Sukses Pasangan Calon Nomor Urut 2 tersebut. Apalagi saksi Wildhe Jhon Anthoni

(Kepala Kampung Batu Bulan) yang diajukan Pihak Terkait menerangkan bahwa saksi tidak pernah menerima atau membagikan uang dari Pasangan Calon Nomor Urut 2. Dengan demikian menurut Mahkamah dalil Pemohon tidak beralasan menurut hukum.

Adapun mengenai dalil bahwa Pasangan Calon Nomor Urut 2 menekan Termohon, serta melibatkan PNS, pejabat daerah, dan atau tokoh pemerintahan lainnya dalam Pemilukada Kabupaten Kepulauan Sitaro Tahun 2013, Mahkamah menilai Pemohon tidak menguraikan dengan jelas peristiwa kecurangan yang didalilkannya. Dengan demikian, meskipun Pemohon mengajukan bukti baik berupa dokumen tertulis maupun saksi yang ditujukan untuk membuktikan dalilnya, namun karena dalil a quo tidak jelas atau kabur maka menurut Mahkamah dalil Pemohon a quo tidak beralasan menurut hukum;

[3.13] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Asisten I Kabupaten Sitaro bernama Areros mengumpulkan dan mengarahkan kapitalaung agar membantu mensukseskan Pasangan Calon Nomor Urut 2.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan bukti surat/tulisan bertanda bukti P-13.

Pihak Terkait membantah dalil Pemohon dan mengemukakan bahwa tidak pernah memerintahkan Asisten I Kabupaten Kepulauan Sitaro bernama Areros agar mengumpulkan serta mengarahkan para kapitalaung untuk memenangkan Pihak Terkait.

Untuk membuktikan bantahannya Pihak Terkait mengajukan saksi Replein Areros.

Terhadap dalil Pemohon dimaksud Mahkamah menemukan fakta bahwa mengenai dalil keberpihakan Asisten I Kabupaten Kepulauan Sitaro terhadap Pasangan Calon Nomor Urut 2 telah dibantah oleh saksi Replein Areros (Asisten I Kabupaten Kepulauan Sitaro). Selain itu tidak dapat dipastikan bahwa suara dalam rekaman yang dijadikan bukti bertanda P-13 adalah benar suara Asisten I Kabupaten Kepulauan Sitaro. Berdasarkan pertimbangan tersebut Mahkamah menilai dalil Pemohon tidak beralasan menurut hukum.

[3.14] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Camat Siau Timur bernama E. Takalamingan mengeluarkan kartu keluarga (KK) dengan menggunakan tanda

tangan palsu Lurah Tarorane bernama Maxson Ambat untuk memenangkan calon incumbent.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan saksi Maxson Ambat. Pihak Terkait pada pokoknya membantah dalil Pemohon.

Untuk membuktikan bantahannya Pihak Terkait mengajukan saksi Novryoz E Takalamingan.

Terhadap dalil pemalsuan tanda tangan Lurah Tarorane bernama Maxson Ambat, berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan terutama keterangan saksi Maxson Ambat, Mahkamah tidak meyakini adanya pemalsuan tanda tangan saksi Maxson Ambat (Lurah Tarorane) untuk pembuatan kartu keluarga. Terhadap dalil dimaksud saksi Novryoz Erens Takalamingan (Camat Siau Timur) membantah telah memalsukan tanda tangan Lurah Tarorane dan menerangkan bahwa penerbitan kartu keluarga adalah kewenangan Dinas Kependudukan. Terlebih lagi saksi Maxson Ambat tidak mengetahui siapa pelaku pemalsuan tanda tangannya. Berdasarkan fakta tersebut, dan karena Pemohon tidak membuktikan lebih lanjut dalilnya, Mahkamah berpendapat dalil Pemohon dinyatakan tidak beralasan menurut hukum.

Namun demikian, terlepas dari perkara perselisihan hasil Pemilukada a quo, menurut Mahkamah indikasi pemalsuan tanda tangan pejabat publik dalam pembuatan dokumen kependudukan adalah tindak pidana yang seharusnya dilaporkan kepada aparat berwenang agar ditindaklanjuti untuk mencegah penyalahgunaan dokumen dimaksud.

[3.15] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan pada masa tenang istri calon bupati incumbent bernama Eva Supit Sasengen bersama-sama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sitaro (Katiandagho) dan istri Asisten III (N. Bogar Janis) membagikan uang, voucher kartu sehat, dan sembako kepada pemilih.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan saksi Andris Papona. Pihak Terkait pada pokoknya membantah dalil Pemohon.

Untuk membuktikan bantahannya Pihak Terkait mengajukan saksi Snieuw Witje dan Evita N.W. Jains serta mengajukan bukti surat/tulisan bertanda PT-8.

Terhadap dalil Pemohon dimaksud, Mahkamah menemukan fakta berdasarkan pengakuan saksi-saksi Pemohon dan Pihak Terkait bahwa saksi

Andris Papona dan teman-temannya menghadang mobil yang ditumpangi setidaknya oleh Eva Sasengen (istri Bupati Toni Supit), Snieuw Witje (Kadis Pendidikan dan Kebudayaan), serta Evita N.W. Jains (PNS Dinas Kesehatan). Namun saksi Andris Papona tidak menemukan adanya uang, voucher kartu sehat, serta sembako sebagaimana didalilkan Pemohon. Saksi Andris Papona hanya menemukan lima dus biskuit dan minuman ringan. Adapun voucher kartu sehat yang menurut saksi Andris Papona adalah voucher santunan tutup usia, ternyata ditemukan saksi Andris Papona di kendaraan lain. Terkait dalil dimaksud saksi Snieuw Witje dan Evita N.W. Jains membantah bahwa mereka sedang berkampanye, melainkan sedang berjalan-jalan. Berdasarkan fakta tersebut di atas, karena Pemohon tidak membuktikan lebih lanjut dalilnya, Mahkamah menilai dalil Pemohon tidak beralasan menurut hukum.

[3.16] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Anggota KPU Kabupaten Kepulauan Sitaro bernama Fidel Molumbot berkomunikasi dengan Tim Kampanye Pasangan Calon Nomor Urut 2 via short messages service (SMS) dalam rangka memperbanyak Formulir C-1.KWK.KPU.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan bukti surat/tulisan bertanda P-14 dan bukti P-56.

Termohon membantah dalil Pemohon dan mengemukakan bahwa tidak pernah berkomunikasi dengan Tim Pasangan Calon Nomor Urut 2 via SMS terkait penggandaan Formulir C-1.KWK.KPU.

Pihak Terkait membantah dalil Pemohon dan mengemukakan bahwa Pihak Terkait hanya mengingatkan KPU Kabupaten Kepulauan Sitaro agar memperbanyak Formulir C-1.KWK.KPU untuk memenuhi kebutuhan para saksi pasangan calon.

Terhadap dalil tersebut, menurut Mahkamah bukti surat/tulisan bertanda P-14 dan bukti P-56 berupa pesawat telepon seluler serta transkrip short message services (SMS) dari pesawat telepon seluler tersebut tidak menunjukkan dengan jelas mengenai pihak-pihak, waktu, serta tema komunikasi (perbincangan) yang dilakukan. Seandainya pun benar terjadi komunikasi via SMS terkait penggandaan Formulir C-1.KWK.KPU, bahkan seandainya benar telah dilakukan penggandaan Formulir C-1.KWK.KPU dimaksud, Pemohon juga tidak mengemukakan kerugian apa yang ditimbulkan akibat penggandaan formulir dimaksud. Berdasarkan

pertimbangan tersebut, menurut Mahkamah dalil Pemohon tersebut harus dinyatakan tidak beralasan menurut hukum.

[3.17] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Termohon (PPK, PPS, dan KPPS) memberikan hak pilih kepada pemilih dari daerah lain, seperti Kabupaten Sangihe, Kota Bitung, Kota Manado, dan Jakarta, dengan hanya menggunakan KTP dan Kartu Keluarga; menolak pemilih simpatisan Pemohon.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan saksi Rahmat dan Recky J.A. Tamaka, serta bukti surat/tulisan bertanda P-8, bukti P-15 sampai dengan bukti P-22.

Termohon membantah dalil Pemohon dan mengemukakan bahwa Termohon tidak pernah memberikan hak pilih kepada pemilih dari Kabupaten Sangihe, Kota Bitung, Kota Manado, dan Jakarta.

Untuk membuktikan bantahannya Pihak Terkait mengajukan bukti surat/tulisan bertanda T-10 sampai dengan bukti T-12.

Terhadap dalil Pemohon tersebut, berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan terutama keterangan saksi Recky J.A. Tamaka, Mahkamah meyakini benar terdapat penduduk yang secara administratif bukan warga Kabupaten Kepulauan Sitaro namun masih terdaftar dalam DPT Pemilukada Kabupaten Kepulauan Sitaro Tahun 2013 dan ikut memilih. Adanya peristiwa tersebut menurut Mahkamah menunjukkan bahwa proses pemutakhiran DPT oleh Termohon serta pihak terkait tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun demikian, meskipun hal tersebut merupakan pelanggaran, Mahkamah tidak melihat adanya signifikansi pengaruhnya terhadap perolehan suara para pasangan calon, apalagi tidak dapat dipastikan kepada pasangan calon yang mana saksi Recky J.A. Tamaka dan kawan-kawan memberikan suaranya. Berdasarkan pertimbangan tersebut menurut Mahkamah dalil Pemohon harus dinyatakan tidak beralasan menurut hukum.

[3.18] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan pada saat rekapitulasi, saksi Pemohon pada delapan TPS di Kecamatan Siau Timur dan 18 TPS di Kecamatan Siau Timur Selatan tidak diberi salinan Formulir C-1.KWK.KPU.

Untuk membuktikan bantahannya Pemohon mengajukan bukti surat/tulisan bertanda P-10B.

Termohon pada pokoknya membantah dalil Pemohon.

Terhadap dalil tersebut, Pemohon tidak mengajukan cukup bukti yang dapat menunjukkan bahwa benar saksi Pemohon di delapan TPS di Kecamatan Siau Timur dan saksi di delapan belas TPS di Kecamatan Siau Timur Selatan tidak diberi salinan Formulir C-1.KWK.KPU. Berdasarkan pertimbangan tersebut, menurut Mahkamah dalil Pemohon dimaksud harus dinyatakan tidak beralasan menurut hukum.

[3.19] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Tim Sukses Pemohon tidak diberi salinan DPT oleh KPU Kabupaten Kepulauan Sitaro meskipun sudah mengajukan permintaan.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan saksi Max Sudirno Kaghoo dan bukti surat/tulisan bertanda P-31.

Termohon pada pokoknya membantah dalil Pemohon.

Untuk membuktikan bantahannya Termohon mengajukan saksi Hendrik Kudimang dan Syanet Gandaria.

Terhadap dalil mengenai tidak diberikannya DPT kepada Pemohon meskipun telah diminta tiga kali, yaitu sebelum kampanye, pada saat rapat koordinasi KPU Kabupaten Kepulauan Sitaro 23 Mei 2013, serta pada saat pengesahan DPT, Termohon telah membantah dalil dimaksud namun tidak dapat membuktikan bahwa Termohon telah memberikan salinan DPT kepada Pemohon. Saksi yang diajukan Termohon, yaitu Hendrik Kudimang dan Syanet Gandaria hanya menerangkan telah memberikan salinan DPT kepada para saksi TPS pada hari pemungutan suara, dan bukan pada saat rapat pleno pengesahan DPT. Menurut Mahkamah, tidak diberikannya salinan DPT kepada Pemohon merupakan pengabaian hak Pemohon, dan merupakan sebuah pelanggaran administrasi Pemilukada. Namun, pelanggaran yang demikian tidak dapat begitu saja dijadikan alasan membatalkan hasil Pemilukada jika tidak dapat dibuktikan lebih lanjut adanya manipulasi data pemilih yang menguntungkan salah satu pasangan calon dan merugikan pasangan calon yang lain, serta mempengaruhi atau berpotensi mempengaruhi perolehan suara masing-masing pasangan calon.

Dari bukti-bukti terkait DPT yang diajukan para pihak, Mahkamah tidak menemukan adanya kesengajaan manipulasi data pemilih untuk keuntungan

pasangan calon tertentu. Dengan demikian, menurut Mahkamah dalil Pemohon dimaksud harus dinyatakan tidak terbukti menurut hukum.

[3.20] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Camat Siau Barat bernama Hendrik Lalamentik mengancam akan menganiaya Ivan Paraeng di Manado jika tidak bersedia memilih calon incumbent.

Untuk membuktikan dalilnya Pemohon mengajukan saksi Ivan Paraeng. Pihak Terkait membantah dalil Pemohon dan mengemukakan bahwa tidak pernah memerintahkan Camat Siau Barat bernama Hendrik Lalamentik agar mengancam Ivan Paraeng.

Untuk membuktikan bantahannya Pihak Terkait mengajukan saksi Hendrik Lalamentik.

Terhadap dalil Pemohon mengenai intimidasi, keterangan saksi Ivan Paraeng yang pada pokoknya bahwa saksi pernah diintimidasi oleh Camat bernama Hendrik Lalamentik telah dibantah oleh saksi Hendrik Lalamentik yang diajukan Pihak Terkait. Dengan dibantahnya keterangan saksi yang diajukan Pemohon, dan tidak adanya bukti lain yang dapat membuktikan dalil Pemohon, Mahkamah tidak dapat meyakini kebenaran peristiwa intimidasi (ancaman pembunuhan) tersebut, dan karenanya dalil Pemohon harus dinyatakan tidak beralasan menurut hukum. [3.21] Menimbang bahwa terhadap dalil Pemohon yang selain dan selebihnya, karena tidak diuraikan dengan jelas dan/atau tidak dibuktikan lebih lanjut, maka Mahkamah tidak akan mempertimbangkan, dan karenanya dalil-dalil tersebut harus dinyatakan tidak beralasan menurut hukum.

[3.22] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, menurut Mahkamah tidak terdapat pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif yang secara signifikan mempengaruhi perolehan suara dan peringkat perolehan suara masing-masing pasangan calon peserta Pemilukada Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2013.

4. KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.2] Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[4.3] Permohonan diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan;

[4.4] Eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait tidak terbukti menurut hukum;

[4.5] Permohonan Pemohon tidak terbukti menurut hukum;

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226), Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844), dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

5. AMAR PUTUSAN

Dokumen terkait