[2.10] KESIMPULAN TERADU
IV. PERTIMBANGAN PUTUSAN
[4.1] Menimbang pengaduan Pengadu pada pokoknya mendalilkan bahwa Para Teradu diduga melanggar kode etik atas tindakan sebagai berikut:
[4.1.1]Bahwa diduga terdapat ketidaksesuaian jumlah pemilih/penggelembungan suara yang dilakukan oleh Para Teradu di Kabupaten Aceh Besar. Berdasarkan Keputusan Komisi Independen Pemilihan Nomor 31/HK.03.1-Kpt/1106/KIP-kab/IV/2019 tentang Penetapan Pemilih Tetap (DPT) hasil perbaikan ketiga dalam pemilihan umum tahun 2019 tertanggal 2 April 2019, telah menetapkan daftar pemilih tetap dalam lampiran A.DPTHP.3-KPU Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap hasil perbaikan ketiga (DPTHP-3) Pemilihan Umum tahun 2019 Kabupaten Aceh Besar dengan jumlah 266.700 pemilih dalam 23 Kecamatan yang telah disosialisasi kepada partai politik Peserta Pemilu. Namun Para Teradu tidak memberitahukan kepada Partai Peserta Pemilu tentang adanya Surat Edaran KPU terhadap pengunaan DPTHP-2 tertanggal 15 Desember 2018 dengan jumlah DPT 266.005. Padahal DPTHP-2 Tertanggal 15 Desember 2018 merupakan daftar rekapitulasi yang belum menyertakan daftar pemilih khusus (DPK) yang didalam keputusan KIP Nomor 31/HK.03.1-Kpt/1106/KIP-kab/IV/2019 berjumlah sebesar 695. Selanjutnya berdasarkan analisis rekapitulasi daftar pemilih, data penggunaan surat suara sah dan tidak sah untuk tingkat DPRA dan DPRK berdasarkan hasil rekap pleno PPK se-KabupatenAceh Besar Pengadu menyimpulkan telah terjadi pelanggaran kode etik dalam penentuan jumlah pengguna hak pilih yang melebihi sebanyak 273.530;
[4.1.2] Bahwa diduga Para Teradu telah melakukan pelanggaran kode etik dengan cara mengusir saksi tingkat Kabupaten dari Partai Aceh yang mengajukan keberatan/interupsi dalam rekapitulasi hasil perolehan suara
tingkat Kabupaten Aceh Besar sehingga patut diduga melanggar ketentuan Peraturan KPU Nomor 4 tahun 2019 tentang rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan penetapan hasil pemilihan umum;
[4.1.3] Bahwa pelaksanaan sidang pleno KIP Kabupaten Aceh Besar yang dilaksanakan di aula DPRK Kabupaten Aceh Besar dilakukan secara tertutup dan masyarakat tidak bisa melihat pleno tersebut karena hanya bisa menyaksikan dari luar pagar DPRK Kabupaten Aceh Besar. Bahkan suara saat pelaksanaan pleno tersebut juga tidak terdengar ke luar karena mikrofon dimatikan. Bahwa hal tersebut bertentangan dengan Pasal 2 ayat (1) Peraturan KPU Nomor 4 Tahun 2019;
[4.1.4] Bahwa pada saat skor sidang pleno rekapitulasi yang bertempat di Aula Jantho Sport Center dilakukan Para Teradu selama 2 hari tanpa pemberitahuan kepada saksi Partai Peserta Pemilu. Sebelum akhirnya pleno dilanjutkan pada tanggal 10 Mei 2019 ke aula Gedung DPRK Kabupaten Aceh Besar;
[4.1.5] Bahwa pada tanggal 17 Mei 2019 diduga Para Teradu menutup pleno KIP Kabupaten Aceh Besar untuk DPRK Aceh Besar secara sepihak tanpa ada pemberitahuan yang jelas dengan dalih bahwa pleno tersebut akan dibawa oleh Para Teradu ke KPU RI;
[4.1.6] Bahwa diduga Para Teradu tidak menjalankan Rekomendasi dari
Panwaslih Kabupaten Aceh Besar Nomor:
058/K.BAWASLU.AC/02/PM.00.02/IV/2019 tertanggal 30 April 2019 yang ditujukan kepada Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Besar Perihal Perhitungan Suara Ulang di 15 Kecamatan, 115 Desa, 220 TPS di Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 2 Mei 2019
[4.1.7] Diduga Para Teradu tidak menjalankan Putusan Panwaslih Kabupaten Aceh Besar Nomor : 002/LP/PL/ADM/KAB/01.08/IV/2019 dengan amar putusan memerintahkan kepada Ketua dan Anggota PPK kecamatan Indrapuri, Ketua dan Anggota PPK kecamatan Kuta Cot Glie, Ketua dan Anggota PPK kecamatan Seulimum, Ketua dan Anggota PPK kecamatan Jantho, Ketua dan Anggota PPK kecamatan Kuta Malaka, Ketua dan Anggota PPK kecamatan Ingin Jaya, Ketua dan Anggota PPK Kecamatan Suka Makmur melalui KIP Aceh Besar untuk melakukan perbaikan administrasi terhadap tata cara, prosedur atau mekanisme rekapitulasi suara di kecamatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak putusan dibacakan. Namun sampai dengan habis waktu 3 (tiga) hari dan sampai dengan diajukannya pengaduan pelanggaran kode etik ini ke DKPP, Para Teradu tidak menindaklanjuti putusan dimaksud;
[4.2] Menimbang jawaban dan keterangan Para Teradu pada pokoknya menolak seluruh dalil aduan Pengadu dengan uraian sebagai berikut:
[4.2.1] Bahwa Para Teradu menolak tuduhan terjadinya ketidaksesuaian Pemilih/Pengelembungan suara sebagaimana termuat dalam dalil aduan Pengadu.Menurut Para Teradu dari hasil Rekapitulasi Perolehan suara terlihat jelas bahwa pengguna hak pilih tidak lebih besar dari data pemilih di Kabupaten Aceh Besar. Bahwa Berdasarkan Keputusan KPU RI Nomor : 601/HK.03.1-Kpt/07/KPU/III/2019 tentang Jumlah Surat Suara yang dicetak dalam Pemilihan Umum Tahun 2019 sebanyak 271.890 lembar yang didasari pada jumlah DPT Aceh Besar sebanyak 266.005 ditambah 2% surat suara cadangan per TPS. Sehingga total keseluruhan surat suara yang diterima oleh Para Teradu sebanyak 271.890 lembar. Sehingga dalil Pengadu
tersebut menurut Para Teradu terlalu dipaksakan dan tidak mendasar. Bahwa tidak benar Para Teradu tidak menyampaikan/memberitahukan Surat Edaran KPU RI terhadap DPTHP 2 Kepada Pengadu. karena Para Teradu selalu menyampaikan hal-hal yang bersifat informasi, kebijakan dan semua intruksi dari penyelenggara pemilu setingkat diatasnya atau lebih tinggi kepada peserta pemilu maupun stakeholder yang ada di Kabupaten Aceh Besar.
[4.2.2] Berkenaan dengan tuduhan pengusiran Saksi dalam pleno, Para Teradu menjawab bahwa saksi dari Partai Aceh diminta meninggalkan ruang sidang pleno karena telah melanggar tata tertib pleno dengan melakukan interupsi secara terus menerus yakni mempertanyakan tentang tekomendasi Panwaslih Kabupaten Aceh Besar yang belum dilaksanakan oleh Para Teradu. Sehingga mengganggu dan mengacaukan fokus jalannya sidang pleno. Akibat dari tindakan saksi dimaksud tersebut, suasana di dalam ruang rapat pleno menjadi tidak terkendali dan dengan bantuan petugas keamanan Saksi Partai Aceh diminta untuk dapat duduk di luar arena pleno. Sementara itu sebagian besar Partai Politik lain juga meminta kepada pimpinan rapat untuk dapat melanjutkan pleno. Bahwa pada saat rapat pleno dimulai pimpinan sidang telah membacakan tata tertib untuk kelancaran proses rapat pleno rekapitulasi dan Penetapan Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu Tahun 2019 Kabupaten Aceh Besar dan Saksi Partai Aceh (PA) telah melanggar Tatib angka 9 (sembilan) dan 10 (sepuluh), dimana pada angka 9 (sembilan) menyebutkan bahwa ...Saksi dan Bawaslu Kabupaten dapat menyampaikan keberatan atau pendapat setelah izin pimpinan sidang. Angka 10 (Sepuluh) peserta rapat tidak diperkenankan melakukan interupsi selama presentasi hasil perhitungan oleh PPK. Berdasarkan Tatib tersebut Saksi Partai Aceh (PA) telah diperkenankan untuk menyampaikan interupsi. Namun interupsi yang dilakukan secara terus menerus dan/atau berulang-ulang tanpa adanya izin dari Pimpinan Sidang serta menanyakan perihal yang sama dan/atau berulang telah mengganggu jalannya rapat pleno. Sehingga Pimpinan Rapat telah mengingatkan beberapa kali akan tetapi tidak diindahkan oleh Saksi dari Partai Aceh (PA) tersebut. Bahkan setiap keberatan Saksi telah diperkenankan untuk diisikan dalam Form DB2 KPU; [4.2.3] Berkenaan dengan pelaksanaan sidang pleno Kabupaten Aceh Besar yang dilaksanakan di aula DPRK Kabupaten Aceh Besar, tidak benar tuduhan Pengadu tentang pelaksanaan yang tertutup. Bahwa benar dilakukan pembatasan jumlah yang masuk ke dalam ruangan, dengan mengutamakan pemilik bukti mandat partai, tetapi hal itu semata-mata demi kelancaran forum. Bahkan tindakan Para Teradu tidak menyalahi amanat Peraturan KPU Nomor 4 Tahun 2019 karena dihadiri unsur utama yakni Bawaslu Kabupaten Aceh Besar, Saksi Partai Politik Peserta Pemilu, Panitia Pemilihan Kecamatan. Adapun perihal mematikan mikrofon, hal itu tidak benar karena pada perkembangannya peralatan sound system dibakar oleh massa sehingga suara mikrofon tidak terdengar ke luar.
[4.2.4] Bahwa pleno rekapitulasi di Jantho Sport center (JSC) dilakukan skorsing dan rencananya akan dilanjutkan setelah Ibadah Shalat Tarawih. Namun kemudian di sekitar lokasi terjadi kericuhan dan amuk masa. Sehingga Para Teradu diamankan oleh Polres dengan menaiki kendaran Baracuda. Selanjutnya Para Teradu berkoordinasi dengan pihak POLRES Aceh Besar, Kodim 0101/BS, Kejari Jantho, dengan kesimpulan bahwa tidak
memungkinkan lagi melanjutkan rapat pleno rekapitulasi digedung JSC. Akhirnya diputuskan untuk memindahkan tempat pleno ke gedung DPRK Aceh Besar, yang akan dikoordinasikan keesokan harinya dengan pihak Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar. Pagi harinya Para Teradu berkoordiasi dengan pihak Sekwan DPRK (terkait izin pemakaian gedung) untuk setelah diizinkan pihak KIP Aceh Besar menyiapkan undangan lanjutan Rapat Pleno pada tangal 10 Mei 2019 dan juga Para Teradu melakukan pergeseran logistik (kotak suara dan lain-lain) ke gedung DPRK Aceh Besar.
[4.2.5] Para Teradu menerangkan bahwa Penutupan Pleno tanggal 17 Mei 2019 yang dilakukan oleh Para Teradu disebabkan suasana sidang pleno yang tidak terkendali akibat interupsi yang terus menerus dilakukan secara beruntun oleh Pengadu yang mempertanyakan tentang putusan bawaslu Nomor 002/LP/PL/ADM/KAB/01.08./IV/2019. Kendati sebelumnya Para Teradu telah memberikan penjelasan yang komprehensif kepada Pengadu; [4.2.6] Para Teradu menyanggah dugaan tidak menjalankan Rekomendasi
dari Panwaslih Kabupaten Aceh Besar Nomor:
050/K.BAWASLU.AC/02/PM.00.02/IV/2019 tertanggal 30 April 2019 yang ditujukan kepada Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Besar Perihal Perhitungan Suara Ulang di 15 Kecamatan, 115 Desa, 220 TPS di Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 2 Mei 2019. Para Teradu dalam menjalankan tugas fungsinya sangat terikat pada deadline batasan waktu yang ditentukan dalam tahapan pelaksanaan oleh KPU RI, serta untuk menghindari terganggunya tahapan pelaksanaan rekapitulasi secara keseluruhan.Bahkan menyikapi kondisi tersebt, Para Teradu telah meminta kepada Pengadu untuk mengisi keberatan Dalam Form DB2;
[4.2.7] Para Teradu menjawab pokok aduan Pengadu perihal dugaan tidak menjalankan Putusan Panwaslih Kabupaten Aceh Besar Nomor: 002/LP/PL/ADM/KAB/01.08/IV/2019. 1. Menurut para Teradu, amar putusan tersebut masih sumir karena tidak menyebutkan secara detail TPS mana saja yang harus dilakukan perbaikan administrasi terhadap tata cara, prosedur, atau mekanisme rekapitulasi suara di Kecamatan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Para Teradu telah berikhtiar meminta penjelasan dan penegasan dari Panwaslih Aceh Besar namun belum ada jawaban memadai. Sehingga terjadi perdebatan yang tidak kunjung usai antara Para Teradu dengan Panwaslih Aceh Besar dan Saksi Partai Politik.Para Teradu akhirnya menskors Rapat Pleno untuk selanjutnya berkoordinasi dengan KIP Provinsi Aceh. Hingga pada tanggal 20 Mei 2019 dilakukan musyawarah yang bersifat konsultatif di Aula KIP Provinsi Aceh yang dihadiri Oleh KIP Provinsi Aceh, Panwaslih Provinsi Aceh, KIP Aceh Besar dan Panwaslih Aceh Besar guna mencari solusi dalam pelaksanaan putusan dimaksud. Bahwa Pada tanggal 21 Mei 2019, Para Teradu kembali melaksanakan Rapat Pleno di Aula KIP Aceh Besar yang juga dihadiri Oleh Ketua KIP Provinsi Aceh dan dua orang anggotaPanwaslih Provinsi Aceh. Dalam Rapat Pleno tersebut kembali terjadi perdebatan karena Saksi Partai Politik Lokal tidak menerima Berita Acara Rapat Pleno KIP Aceh Besar yang mereka anggap sepihak. Sehingga Para Teradu meminta kesediaan Ketua KIP Provinsi Aceh dan Komisioner Panwaslih Provinsi Aceh untuk memberikan penjelasan terkait dengan lahirnya Berita Acara Rapat Pleno KIP Aceh Besar tanggal 20 Mei 2019. Dimana disitu disebutkan bahwa penghitungan suara ulang hanya dilakukan untuk 96 TPS yang tersebar di 9 kecamatan.Tetapi
saksi Partai Politik Lokal tetap tidak menerima. Situasi forum semakin panas ketika Ketua Panwaslih Aceh Besar mengatakan kemunculan jumlah 96 TPS adalah dilatarbelakangi adanya tekanan. Pada akhirnya rapat pleno tidak dilanjutkan mengingat situasi keamanan yang tidak memungkinkan dan Para Teradu menskors rapat pleno sampai batas waktu yang tidak ditentukan; [4.3] Menimbang jawaban dan keterangan para pihak, bukti dokumen, dan fakta yang terungkap dalam sidang pemeriksaan, DKPP berpendapat:
[4.3.1] Bahwa berkenaan dugaan ketidaksesuaian jumlah Pemilih/ Pengelembungan suara terbukti bahwa pengguna hak pilih di Kabupaten Aceh Besar pada Pemilu tahun 2019 tidak lebih besar dari Data Pemilih Tetap. Total keseluruhan surat suara yang diterima oleh Para Teradu sebanyak 271.890 lembar, yakni didasarkan pada jumlah DPT Kabupaten Aceh Besar sebanyak 266.005 ditambah 2% surat suara cadangan per TPS. Sedangkan terkait dalil aduan perihal penggunaan kembali data DPTHP-2 dan Surat Edaran KPU RI, Para Teradu tidak mampu membuktikan dalilnya telah menyampaikan/memberitahukan Surat Edaran KPU kepada Pengadu dan partai politik lain meskipun telah diberi kesempatan untuk melengkapi alat bukti berupa transkrip pembicaraan telepon antara KIP Aceh Besar dengan partai politik peserta pemilu yang diterbitkan oleh Telkom. Sikap dan tindakan Para Teradu tidak transparan dan akuntabel dalam penetapan DPT terbukti melalui keterangan pihak terkait Panwaslih Kabupaten Aceh Besar yang menyatakan tidak pernah menerima pemberitahuan dari Para Teradu tentang Surat Edaran KPU RI yang digunakan sebagai pedoman penetapan DPT. Sepatutnya Para Teradu memberikan akses pelayanan kepada Peserta Pemilu, Pengawas Pemilu dan Pemilih untuk mendapatkan informasi dan data pemilih sebagai dasar penetapan DPT. Keterbukaan informasi dan data oleh Penyelenggara Pemilu merupakan kewajiban absolut, bertujuan membangun partisipasi masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap proses Pemilu yang berintegritas. Dengan demikian pokok aduan Pengadu dapat diterima dan jawaban Para Teradu tidak meyakinkan DKPP. Para Teradu terbukti melanggar ketentuan Pasal 6 ayat (2) huruf d dan ayat (3) huruf d juncto Pasal 13 huruf b dan Pasal 16 huruf a Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu;
[4.3.2] Berkenaan pokok aduan tentang pengusiran Saksi dalam pleno rekapitulasi, terungkap fakta saksi dari Partai Aceh menyampaikan interupsi terus menerus kepada Teradu I sebagai pimpinan rapat atas tidak dilaksanakannya putusan Panwaslih Kabupaten Aceh Besar Nomor : 002/LP/PL/ADM/KAB/01.08/ IV/2019 tanggal 15 Mei 2019. Merespon keberatan tersebut, Teradu I meminta saksi Partai Aceh meninggalkan ruang sidang pleno dengan alasan berdasarkan Tata Tertib rapat pleno rekapitulasi sebagaimana diatur pada angka 9 (sembilan) dan angka 10 (sepuluh); Saksi dan Bawaslu Kabupaten dapat menyampaikan keberatan atau pendapat setelah izin pimpinan sidang. Selanjutnya peserta rapat tidak diperkenankan melakukan interupsi selama presentasi hasil perhitungan oleh PPK. Atas penjelasan Teradu I, saksi Partai Aceh tetap menyatakan keberatan. Selanjutnya, Teradu I meminta aparat keamanan untuk mengeluarkan saksi Partai Aceh dari ruang rapat pleno rekapitulasi. DKPP berpendapat, Tindakan Teradu I tidak dapat dibenarkan menurut etika. Sepatutnya Teradu I mematuhi kewajiban hukum dan etik melaksanakan putusan Panwaslih Kabupaten Aceh Besar. Dengan demikian pokok aduan Pengadu terbukti dan
jawaban Para Teradu tidak meyakinkan DKPP. Teradu I terbukti melanggar Pasal 6 ayat (3) huruf a juncto Pasal 11 huruf a Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu; [4.3.3] Berkenaan dalil aduan pelaksanaan rapat pleno di aula DPRK Kabupaten Aceh Besar dilakukan secara tertutup, pada fakta persidangan Para Teradu terbukti dalam menggelar rapat pleno telah memedomani Peraturan KPU Nomor 4 Tahun 2019 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum. Rapat pleno tingkat Kabupaten Aceh Besar dilaksanakan secara terbuka dihadiri Panwaslih Kabupaten Aceh Besar, Saksi Partai Politik Peserta Pemilu dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Para Teradu membatasi unsur masyarakat lainnya semata-mata karena keterbatasan daya tampung ruangan dan factor keamanan. Sedangkan terkait dalil aduan mematikan mikrofon, pada fakta persidangan tidak terbukti karena mikrofon dan pengeras suara di luar ruangan tidak lagi tersedia pada rapat pleno tersebut, karena pada pelaksanaan sidang pleno sebelumnya di gedung Jantho Sport Center (JSC) peralatan sound system dibakar oleh massa. Sehingga suara mikrofon pada rapat pleno lanjutan di aula DPRK Kabupaten Aceh Besar tidak bisa terdengar lagi hingga ke luar ruang pleno. Dengan demikian dalil aduan Pengadu tidak terbukti dan jawaban Para Teradu meyakinkan DKPP;
[4.3.4] Bahwa terkait dalil aduan pleno rekapitulasi di Jantho Sport center (JSC) dilakukan skorsing dan rencananya akan dilanjutkan setelah Ibadah Shalat Tarawih. Pada pemeriksaan sidang diketahui terjadi keributan pada saat pelaksanaan pleno tersebut sehingga Para Teradu bermusyawarah dengan Polres Aceh Besar, Kodim 0101/BS, Kejari Jantho dengan kesimpulan bahwa tidak memungkinkan lagi melanjutkan rapat pleno rekapitulasi digedung JSC dan diputuskan untuk memindahkan tempat pleno ke gedung DPRK Aceh Besar dan pleno rekapitulasi dilanjutkan tanggal 10 Mei 2019. Tindakan Para Teradu melakukan penundaan rapat Pleno dan memindahkan tempat kegiatan ke gedung DPRK Aceh Besar setelah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan utama Pemilu dapat dibenarkan menurut etika penyelenggara Pemilu. Para Teradu telah melaksanakan kewajiban etis melakukan segala upaya yang dibenarkan menurut peraturan perundang-undangan untuk menjamin kelancaran rekapitulasi. Dengan demikian pokok aduan Pengadu tidak terbukti dan jawaban Para Teradu meyakinkan DKPP; [4.3.5] Bahwa terhadap dalil aduan Para Teradu menutup rapat pleno tanggal 17 Mei 2019 secara sepihak, berdasarkan keterangan Panwaslih Kabupaten Aceh Besar terdapat peran utama Teradu I selaku Ketua KIP Kabupaten Aceh Besar yang tidak memiliki kemampuan manajerial dalam mengelola sidang. Sehingga KIP Kabupaten Aceh besar tidak dapat menyelesaikan rapat pleno rekapitulasi tingkat Kabupaten Aceh Besar secara tepat waktu. Pelaksanaan rapat Pleno mengalami keterlambatan sampai tanggal 17 Mei 2019 atau H-5 sebelum rekapitulasi tingkat nasional. KPU RI memberi perpanjangan waktu kepada KIP Kabupaten Aceh Besar untuk menyelesaikan rekapitulasi sampai tanggal 21 Mei 2019 atau bersamaan dengan pengumuman rekapitulasi hasil Pemilu nasional, namun Para Teradu tidak berhasil melaksanakan tugasnya. Berdasarkan fakta tersebut, Para Teradu dinilai tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya menetapkan hasil Pemilu tingkat Kabupaten Aceh Besar sehingga KPU RI memberikan sanksi pemberhentian sementara kepada Ketua dan Anggota KIP Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 28 Mei 2019. Selanjutnya KPU RI memerintahkan KIP Provinsi Aceh mengambil alih
tugas dan wewenang KIP Kabupaten Aceh Besar untuk menyelesaikan tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat Kabupaten Aceh Besar. Para Teradu terbukti tidak mampu menggunakan waktu secara efektif sesuai tahapan dan jadwal Pemilu sehingga mencederai integritas proses Pemilu khususnya pada tahapan rekapitulasi. Tindakan para Teradu gagal menetapkan hasil Pemilu di tingkat Kabupaten Aceh Besar mengakibatkan penetapan pemilu secara nasional oleh KPU RI tidak mencakup seluruh hasil Pemilu. Dengan demikian dalil aduan Pengadu terbukti dan jawaban Teradu I tidak meyakinkan DKPP. Teradu I terbukti melanggar Pasal 6 ayat (3) huruf c juncto Pasal 12 huruf a dan Pasal 6 ayat (3) huruf f juncto Pasal 15 huruf c Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu;
[4.3.6] Bahwa terhadap pokok aduan bahwa Para Teradu tidak menjalankan rekomendasi Panwaslih Kabupaten Aceh Besar Nomor 050/K.BAWASLU.AC/002/PM.00.02/IV/2019 tanggal 30 April 2019, pada fakta persidangan Para Teradu telah menindaklanjuti rekomendasi dengan mengundang seluruh partai politik di aula PDAM Tirta Montala, Kabupaten Aceh Besar, namun terjadi deadlock terkait perbedaan jumlah TPS yang harus dilaksanakan penghitungan suara ulang. Para Teradu tidak dapat melaksanakan rekomendasi tersebut karena dibatasi dengan jadwal tahapan Pemilu yang sudah ditetapkan. Rekomendasi Panwaslih Kabupaten Aceh Besar tertanggal 30 April 2019 diterima oleh Para Teradu pada 2 Mei 2019 jam 03.30 WIB yang salah satu isinya meminta penundaan pleno rekapitulasi hasil perolehan suara tingkat Kabupaten Aceh Besar pada 2 Mei 2019 menjadi 4 Mei 2019. Begitupula rekomendasi yang memerintahkan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) sebagaimana tercantum dalam lampiran rekomendasi untuk melakukan penghitungan suara ulang kotak suara DPRK pada tanggal 2 Mei 2019. Para Teradu beralasan sesuai Pasal 378 ayat (2) Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, penghitungan suara ulang di TPS dan di PPK dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari setelah hari/tanggal pemungutan suara. Dalam persidangan juga terungkap fakta terbitnya rekomendasi Panwaslih Kabupaten Aceh Besar dimaksud karena adanya pertemuan antara Teradu I, Ketua Panwaslih Kabupaten Aceh Besar dan Wakil Bupati Aceh Besar. Pada tanggal 2 Mei 2019 dinihari Ketua Panwaslih Kabupaten Aceh Besar dan Teradu I memenuhi undangan Wakil Bupati Aceh Besar di rumah dinas. Ternyata di rumah dinas Wakil Bupati telah hadir pimpinan partai lokal yang meminta solusi atas persoalan internal partai diduga terjadi pergeseran suara sehingga perlu dilakukan penghitungan suara ulang di 2 (dua) kecamatan, yaitu Kecamatan Seulimum dan Kecamatan Indrapuri. Teradu I menyanggupi mengabulkan permintaan tersebut apabila Panwaslih Kabupaten Aceh Besar menerbitkan rekomendasi. Berdasarkan hasil komunikasi di forum tersebut, Ketua Panwaslih Kabupaten Aceh Besar menerbitkan rekomendasi Nomor 050/K.BAWASLU.AC/002/PM.00.02/IV/2019 bertanggal mundur pada 30 April 2019 tanpa melibatkan 2 (dua) orang anggota Panwaslih Kabupaten Aceh Besar lainnya. Teradu II s.d Teradu V baru mengetahui pertemuan Teradu I dan Ketua Panwaslih Kabupaten Aceh Besar dengan Wakil Bupati Aceh Besar perihal rencana penerbitan rekomendasi pada saat sidang pemeriksaan DKPP tanggal 26 Juli 2019. Berdasarkan fakta tersebut Teradu II s.d Teradu V tidak terbukti melakukan pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu. Sedangkan Teradu I terbukti melanggar prinsip mandiri. Tindakan
Teradu I bertemu dengan Peserta Pemilu dan merencanakan kebijakan guna kepentingan Partai Lokal tersebut tidak dapat dibenarkan menurut hukum maupun etika. Teradu I terbukti melanggar ketentuan Pasal 6 ayat (2) huruf b juncto Pasal 8 huruf a dan huruf b Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilihan Umum; [4.3.7] Bahwa terkait dalil Para Teradu tidak menjalankan Putusan Panwaslih Kabupaten Aceh Besar Nomor : 002/LP/PL/ADM/KAB/01.08/IV/2019 tanggal 15 Mei 2019, pada sidang pemeriksaan Para Teradu menyatakan putusan tersebut sumir sehingga tidak bisa dilaksanakan. DKPP berpendapat Para Teradu sengaja mengabaikan putusan Panwaslih Kabupaten Aceh Besar. Fakta persidangan sebagaimana diuraikan pada angka [4.3.2] Teradu I menolak tuntutan Saksi Partai Aceh untuk melaksanakan putusan Panwaslih