• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUN PUSTAKA

E. Pertimbangan Hakim

2. Pertimbangan Sosiologis

Pertimbangan sosiologis adalah pertimbangan yang menggunakan pendekatan-pendekatan terhadap latar belakang, kondisi sosial ekonomi dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pasal 5 ayat (1) Rancangan KUHP Nasional Tahun 1999-2000, menentukan bahwa dalam pemidanaan, Hakim mempertimbangkan:

1. Kesalahan terdakwa;

2. Motif dan tujuan melakukan tindak pidana;

3. Cara melakukan tindak pidana;

4. Sikap batin membuat tindak pidana;

5. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pelaku;

6. Sikap dan tindakan pembuat setelah melakukan tindak pidana;

7. Pengaruh tindak pidana terhadap masa depan pelaku;

8. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana, terhadap korban atau keluarga.

34 Pertimbangan keputusan disesuaikan dengan kaidah-kaidah, asas-asas dan keyakinan yang berlaku dalam masyarakat. Karena itu pengetahuan tentang sosiologis, psikologis perlu dimiliki oleh seorang Hakim.

35 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam pembahasan dan Penulisan skripsi ini, maka Penulis melakukan penelitian di Kabupaten Kepulauan Selayar. Pengumpulan data dan informasi akan dilaksanakan ditempat yang dianggap mempunyai data yang sesuai dengan objek yang diteliti, yaitu di Pengadilan Negeri Selayar.

B. Jenis dan Sumber Data

Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian ini, maka jenis dan sumber data yang diperlukan adalah:

1. Jenis Data a. Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh dari penelitian lapangan dengan melakukan wawancara terhadap responden yang dianggap mengetahui masalah yang dibahas, yaitu Hakim.

b. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui pengkajian literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

Adapun sumber-sumbernya yaitu buku-buku, majalah, serta dokumen atau arsip yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

36 2. Sumber Data

a. Sumber Penelitian Lapangan (Field Research), yaitu sumber data lapangan sebagai salah satu pertimbangan hukum dari para penegak hukum yang menangani kasus ini.

b. Sumber Penelitian Kepustakaan (Library research), yaitu sumber data yang diperoleh dari hasil penelaahan beberapa literatur dan sumber bacaan lainnya yang dapat mendukung Penulisan ini.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan Penulis dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Untuk jenis data primer, Penulis melakukan pengumpulan data dengan metode interview atau wawancara terhadap Hakim guna memperoleh data dan informasi yang akurat yang berkaitan dengan pembahasan ini.

2. Untuk data sekunder, Penulis melakukan penelitian kepustakaan untuk mencari data tambahan guna menunjang keberhasilan Penulisan ini. Dalam hal ini data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan antara lain bersumber dari:

a. Buku-buku, majalah, tulisan ilmiah, dan yang berhubungan dengan objek penelitian.

b. Peraturan perundang-undangan dan konvensi-konvensi internasional yang berhubungan dengan objek penelitian.

37 D. Analisis Data

Data yang diperoleh baik secara primer maupun sekunder dianalisis secara kualitatif, dengan pendekatan deskriptif yang menggambarkan pelaksanaan dalam menilai unsur-unsur penganiayaan yang dilakukan oleh seseorang dan pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan hukuman terhadap pelaku tindak pidana penganiayaan berat.

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penerapan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Penganiayaan Berat Dalam Putusan Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly.

Hakim dalam memeriksa perkara pidana, berupa mencari dan membuktikan kebenaran hukum materil berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, serta memegang teguh surat dakwaan yang dirumuskan oleh JPU yang selanjutnya disebut JPU. Sebelum Penulis menguraikan mengenai penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana penganiayaan berat dalam Putusan Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly, maka perlu diketahui terlebih dahulu Posisi Kasus, Dakwaan JPU, Tuntutan Penuntut Umum, dan Amar Putusan Hakim, yaitu sebagai berikut:

1. Posisi Kasus

Kasus penganiayaan ini terjadi pada hari Rabu tanggal 28 Maret 2012 sekitar jam 20.00 wita bertempat di Dusun Balla Bulo Timur Desa Bonto Jati, Kec. Pasimasunggu Timur, Kab. Kep. Selayar atau setidak-tidaknya masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Selayar, dengan terdakwa Muh. Saleh alias Singsong dan korbannya adalah Saransing Bin Karang, perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

39 Pada waktu dan tempat sebagaimana disebutkan di atas, awalnya saksi Sutta datang ke rumah saksi korban Saransing Bin Karang dan duduk bersama sambil berbincang-bincang. Setelah itu saksi Sutta mengajak saksi korban Saransing Bin Karang ke rumah saksi Arba dengan suatu keperluan. Saksi korban Saransing setuju dan kemudian mereka pergi berdua dengan berjalan kaki ke rumah saksi Arba. Setelah sampai di rumah saksi Arba, terdapat saksi Arba dan saksi Patta Ali sedang duduk berbincang-bincang, dan saksi korban Saransing bersama saksi Sutta pun dipersilahkan masuk ke rumah oleh saksi Arba. Tidak lama kemudian datang juga saksi pelaku Muh. Saleh alias Singsong untuk meminta hasil teripangnya kepada saksi Arba. Selanjutnya, saksi pelaku meminta minuman merek bendi kepada saksi Arba. Saksi Arba pun bergegas mengambilkan minuman tersebut, selanjutnya terdakwa minum-minum bersama para saksi-saksi. Tiba-tiba saja terdakwa menjadi emosi dan memukul dengan kepalan tangannya dan mengenai mulut saksi korban Saransing Bin Karang, dimana sebelum kejadian ini, terdakwa pernah berselisih faham dengan saksi korban Saransing Bin Karang dimana saksi korban Saransing Bin Karang pernah memarangi terdakwa sehingga mengakibatkan gangguan syaraf pada mata sebelah kiri dan menimbulkan bekas luka sebetan parang di pipi sebelah kiri pada tahun 2005 silam. Selanjutnya, dilerai oleh saksi Sutta dan saksi Arba, kemudian saksi korban Saransing Bin Karang pun lari keluar pagar karena melihat terdakwa membawa parang yang diambil di samping pagar rumah

40 tersebut. Selanjutnya, terdakwa mengejar saksi korban Saransing Bin Karang. Setelah mendapati saksi korban Saransing Bin Karang, kemudian terdakwa mengayunkan parang berkali-kali kearah bagian kepala dan punggung terdakwa sehingga mengakibatkan:

- Kepala 4 x (empat) masing-masing 8 ukuran berkisar panjang 4 (empat) sentimeter sampai 6 (enam) sentimeter dan kedalaman diperkirakan 1 (satu) sentimeter sampai 3 (tiga) sentimeter;

- Punggung tengah panjang sekitar 12 (dua belas) sentimeter dan kedalaman 1 (satu) sentimeter sampai 3 (tiga) sentimeter;

- punggung kiri atas tepatnya tulang belikat panjang 12 (dua belas) sentimeter dan kedalaman 0,5 (nol koma lima) sentimeter;

- Pinggang kanan panjang 8 (delapan) sentimeter dalam 0,5 (nol koma lima) sentimeter;

- Pundak kiri panjang 5 (lima) sentimeter dalam 0,5 (nol koma lima) sentimeter;

- Leher bagian kiri panjang 7 (tujuh) sentimeter dalam 3 (tiga) sentimeter;

- Lengan kiri atas bagian dalam panjang 4 (empat) sentimeter dalam 1 (satu) sentimeter;

- Pergelangan tangan kanan hampir putus 95%;

- Punggung kanan terdapat 2 (dua) luka dengan ukuran masing-masing 8 (delapan) sentimeter dan 10 (sepeluh) sentimeter kedalam 1 (satu) sentimeter;

41 - Gerahan kanan panjang 10 (sepuluh) sentimeter kedalam 1 (satu)

sentimeter.

2. Dakwaan JPU

Surat dakwaan merupakan dasar atau landasan pemeriksaan perkara dalam sidang di pengadilan. JPU harus bersikap cermat/teliti terutama yang berkaitan dengan penerapan peraturan perundang-undangan yang berlaku agar tidak terjadi kekurangan dan atau kekeliruan yang mengakibatkan batalnya surat dakwaan atau unsur-unsur dalam dakwaan tidak berhasil dibuktikan. JPU juga harus mampu merumuskan unsur-unsur tindak pidana/delik yang didakwakan secara jelas, dalam artian rumusan unsur-unsur delik harus dapat dipadukan dan dijelaskan dalam bentuk uraian fakta perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa.

Dengan kata lain uraian unsur-unsur delik yang dirumuskan dalam pasal yang didakwakan harus dapat dijelaskan/digambarkan dalam bentuk fakta perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Sehingga dalam uraian unsur-unsur dakwaan dapat diketahui secara jelas apakah terdakwa dalam melakukan tindak pidana yang didakwakan tersebut sebagai pelaku (pleger), pelaku peserta (medepleger), penggerak (uitlokker), penyuruh (doen pleger) atau hanya sebagai pembantu.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang selanjutnya disebut KUHAP, tidak pernah diatur berkenaan dengan bentuk dan susunan dari surat dakwaan. Sehingga dalam praktek hukum, masing-masing JPU dalam menyusun surat dakwaan pada umumnya

42 dipengaruhi oleh strategi dan rasa seni sesuai dengan pengalaman prakteknya masing-masing, namun demikian tetap berdasarkan pada persyaratan yang diatur dalam Pasal 143 ayat (2) KUHAP.

Dalam praktek hukum dikenal beberapa bentuk surat dakwaan yaitu surat dakwaan tunggal, surat dakwaan subsider, surat dakwaan alternatif, surat dakwaan alternatif, surat dakwaan kumulatif, dan surat dakwaan kombinasi.

Dalam perkara Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly ini, JPU menggunakan dakwaan Subsider, yaitu didalamnya dirumuskan beberapa tindak pidana secara berlapis dimulai dari delik yang paling berat ancaman pidannya sampai dengan yang paling ringan. Akan tetapi, sesungguhnya dakwaan terhadap terdakwa yang harus dibuktikan dipersidangan hanya “satu”

dakwaan. Dakwaan Subsider itu terdiri dari dakwaan Primair, dakwaan Subsidair, dan dakwaan Lebih Subsidair. Dakwaan Primair melanggar Pasal 354 ayat (1) KUHP, Subsidair melanggar Pasal 353 ayat (2) KUHP, dan Lebih Subsidair melanggar Pasal 351 ayat (2) KUHP. Dakwaan JPU dalam Putusan Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly ini, akan Penulis uraikan sebagai berikut:

a. Dakwaan Primair

Bahwa terdakwa pada hari Rabu tanggal 28 Maret 2012 sekitar jam 20.00 wita atau setidak-tidaknya pada suatu hari dalam bulan Maret tahun 2012, bertempat di Dusun Balla Bulo Timur Desa Bonto Jati, Kec.

Pasimasunggu Timur, Kab. Kep. Selayar atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Selayar yang berwenang mengadili perkara ini, sengaja melukai berat

43 saksi korban Saransing Bin Karang, perbuatan terdakwa lakukan dengan cara sebagai berikut:

Pada waktu dan tempat sebagaimana disebutkan di atas, terdakwa pernah berselisih paham dengan saksi korban Saransing Bin Karang dimana saksi korban Saransing Bin Karang pernah memarangi terdakwa sehingga mengakibatkan gangguan syaraf pada mata sebelah kiri dan menimbulkan bekas luka sebetan parang di pipi sebelah kiri. Selanjutnya pada saat terdakwa minum-minuman keras bersama para saksi-saksi, tiba-tiba terdakwa menjadi emosi dan memukul dengan kepalan tangannya dan mengenai mulut saksi korban Saransing Bin Karang kemudian dilerai oleh saksi Sutta dan saksi Arba. Selanjutnya saksi korban Saransing Bin Karang lari keluar karena melihat terdakwa membawa parang yang berada disamping pagar rumah tersebut, kemudian terdakwa mengejar saksi korban Saransing Bin Karang kemudian terdakwa mengayunkan parang berkali-kali kearah bagian kepala dan punggung sehingga mengakibatkan:

- Kepala 4 x (empat) masing-masing 8 ukuran berkisar panjang 4 (empat) sentimeter sampai 6 (enam) sentimeter dan kedalaman diperkirakan 1 (satu) sentimeter sampai 3 (tiga) sentimeter;

- Punggung tengah panjang sekitar 12 (dua belas) sentimeter dan kedalaman 1 (satu) sentimeter sampai 3 (tiga) sentimeter;

- punggung kiri atas tepatnya tulang belikat panjang 12 (dua belas) sentimeter dan kedalaman 0,5 (nol koma lima) sentimeter;

- Pinggang kanan panjang 8 (delapan) sentimeter dalam 0,5 (nol

- Lengan kiri atas bagian dalam panjang 4 (empat) sentimeter dalam 1 (satu) sentimeter;

- Pergelangan tangan kanan hampir putus 95%;

- Punggung kanan terdapat 2 (dua) luka dengan ukuran masing-masing 8 (delapan) sentimeter dan 10 (sepeluh) sentimeter kedalam 1 (satu) sentimeter;

- Gerahan kanan panjang 10 (sepuluh) sentimeter kedalam 1 (satu) sentimeter.

Dengan kesimpulan luka tersebut di atas diduga akibat benda tajam sebagaimana Visum et Repertum nomor: 045.2/1809/UM/IV/2012 yang dikeluarkan oleh UPTD Puskesmas Ujung Jampea pada tanggal 3 April 2012 yang dibuat dan ditandatangani oleh KASMAN, AMK.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 354 ayat (1) KUHP.

44 b. Subsidair

Bahwa terdakwa pada hari Rabu tanggal 28 Maret 2012 sekitar jam 20.00 wita atau setidak-tidaknya pada suatu hari dalam bulan Maret tahun 2012, bertempat di Dusun Balla Bulo Timur Desa Bonto Jati, Kec.

Pasimasunggu Timur, Kab. Kep. Selayar atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Selayar yang berwenang mengadili perkara ini, melakukan penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu terhadap saksi korban Saransing Bin Karang, sehingga mengakibatkan luka-luka berat, perbuatan tersebut dilakukan terdakwa sebagaimana terurai dalam dakwaan Primair di atas.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 353 ayat (2) KUHP.

c. Lebih Subsidair

Bahwa terdakwa pada hari Rabu tanggal 28 Maret 2012 sekitar jam 20.00 wita atau setidak-tidaknya pada suatu hari dalam bulan Maret tahun 2012, bertempat di Dusun Balla Bulo Timur Desa Bonto Jati, Kec.

Pasimasunggu Timur, Kab. Kep. Selayar atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Selayar yang berwenang mengadili perkara ini, melakukan penganiayaan terhadap Saransing Bin Karang, sehingga mengakibatkan luka-luka berat, perbuatan tersebut dilakukan terdakwa sebagaimana terurai dalam dakwaan primair di atas.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (2) KUHP.

3. Tuntutan Penuntut Umum

Tuntutan Penuntut Umum merupakan permohonan Penuntut Umum kepada Hakim ketika hendak mengadili suatu perkara. Adapun tuntutan Penuntut Umum dalam Nomor Registrasi Perkara PDM-045/Sly/Ep.2/06/2012, tertanggal 13 Juni 2012 yang pada pokoknya meminta Hakim Pengadilan Negeri Selayar memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan:

a. Menyatakan terdakwa Muh. Saleh alias Singsong Bin Raupung, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak

45 pidana “sengaja melukai berat orang lain” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 354 ayat (1) KUHP;

b. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 4 (empat) tahun dikurangkan seluruhnya selama terdakwa berada dalam masa penahanan sementara, dengan perintah terdakwa tetap ditahan;

c. Menyatakan barang bukti berupa:

1) 1 (satu) bilah parang panjang dengan ukuran panjang kurang lebih 43 cm, lebar 2,5 cm berwarna putih dengan menggunakan gagang kayu berwarna hitam dan terdapat berisi warna putih melingkar dengan panjang keseluruhan bersama dengan gagang parang tersebut panjangkurang lebih 53 cm; kaos tersebut PT. BENUA KATULISTIWA CABANG SELAYAR;

Dirampas untuk dimusnahkan;

d. Menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah).

4. Amar Putusan Hakim

Dalam perkara Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly Hakim memutuskan:

MENGADILI

1. Menyatakan terdakwa Muh. Saleh alias Singsong Bin Raupung telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penganiayaan berat”;

2. Menjatuhkan pidana oleh karenanya terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan;

3. Menetapkan masa tahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari lamanya pidana penjara yang dijatuhkan;

4. Menetapkan agar terdakwa tetap ditahan;

5. Menetapkan barang bukti berupa;

- 1 (satu) bilah parang panjang dengan ukuran panjang kurang lebih 43 cm, lebar 2,5 cm berwarna putih dengan menggunakan gagang kayu berwarna hitam dan terdapat berisi warna putih melingkar dengan panjang keseluruhan bersama dengan gagang parang tersebut panjang kurang lebih 53 cm;

46 - 1 (satu) lembar baju kaos warna putih yang sudah berlumuran darah serta sobek pada bagian samping kanan baju kaos tersebut dan terdapat sobekan pada punggung belakang baju kaos tersebut sebanyak lima sobekan serta terdapat tulisan warna merah pada punggung baju kaos tersebut PT. BENUA KATULISTIWA CABANG SELAYAR;

Dirampas untuk dimusnahkan;

6. Membebankan supaya terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 1000,- (seribu rupiah).

5. Analisis Penulis

Mencermati posisi kasus dalam perkara ini, penerapan pasal atau dakwaan JPU tidak tepat. Menurut Penulis, ini adalah tindak pidana percobaan pembunuhan bukan penganiayaan. Hal itu dapat dilihat dari alat, akibat dan cara pelaku melakukan perbuatannya. Dalam perkara ini, pelaku menggunakan parang panjang dalam mewujudkan perbuatannya dengan cara mengayunkan parang berkali-kali ke arah bagian kepala dan bagian tubuh korban lainnya, sehingga korban mengalami luka-luka berat.

Dilihat dari cara pelaku mewujudkan perbuatannya itu dan akibat yang ditimbulkannya, dapat diduga bahwa ada maksud pelaku untuk membunuh korban.

Berdasarkan posisi kasus di atas, Penulis berpendapat bahwa seharusnya susunan dakwaan JPU adalah dakwaan Primair melanggar Pasal 338 Jo Pasal 53 ayat (1) KUHP yaitu percobaan pembunuhan, dakwaan Subsidair Pasal 354 ayat (1) KUHP yaitu penganiayaan berat dan Lebih Subsidair adalah Pasal 353 ayat (2) KUHP yaitu penganiayaan berencana yang berakibat luka berat.

47 Mengenai penerapan pasal oleh Hakim, sebagaimana diketahui bahwa Hakim dalam memeriksa dan memutus suatu perkara tidak boleh menyimpang dari apa yang dirumuskan dalam surat dakwaan, maka seorang terdakwa hanya dapat dijatuhi hukuman karena telah terbukti melakukan tindak pidana seperti apa yang disebutkan atau yang dinyatakan jaksa dalam surat dakwaannya. Sehingga, ketika dakwaan JPU keliru maka potensi kekeliruan pada putusan Hakim juga sangat besar. Sama halnya dengan perkara ini, karena dakwaan JPU keliru maka putusan Hakim pun keliru dalam perkara ini.

B. Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Menjatuhkan Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Penganiayaan Berat dalam Putusan Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly.

Pengambilan keputusan sangatlah diperlukan oleh Hakim dalam membuat keputusan yang akan dijatuhkan kepada terdakwa.

Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan setelah proses pemeriksaan dan persidangan selesai, maka Hakim harus mengambil keputusan yang sesuai. Hal ini sangat perlu untuk menciptakan putusan yang proporsional dan mendekati rasa keadilan, baik itu dari segi pelaku tindak pidana, korban tindak pidana, maupun masyarakat. Untuk itu sebelum menjatuhkan sanksi pidana, Hakim melakukan tindakan untuk menelaah terlebih dahulu tentang kebenaran peristiwa yang diajukan kepadanya dengan melihat bukti-bukti yang ada (fakta persidangan) dan disertai keyakinannya setelah itu mempertimbangkan dan memberikan penilaian atas peristiwa yang terjadi serta menghubungkannya dengan

48 hukum yang berlaku. Selanjutnya Hakim mengambil kesimpulan dengan menetapkan suatu sanksi pidana terhadap perbuatan yang dilakukan terdakwa.

Terlepas dari kesalahan penerapan pasal oleh JPU dalam perkara ini sebagaimana yang diuraikan sebelumnya, Penulis akan memberikan penilaian terhadap hal yang menjadi dasar pertimbangan-pertimbangan yang digunakan Hakim dalam Putusan Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly.

1. Pertimbangan Fakta dan Pertimbangan Hukum Hakim

Pertimbangan fakta dan pertimbangan hukum Hakim didasarkan pada dakwaan JPU, alat bukti yang sah, dan syarat subyektif dan obyektif seseorang dapat dipidana.

Hakim Pengadilan Negeri Selayar yang memeriksa dan mengadili perkara Nomor 54/Pid.B/2012/PN.Sly ini, setelah mendengar keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa, dan alat bukti lainnya kemudian mendapatkan fakta-fakta hukum yaitu sebagai berikut:

1. Bahwa benar kejadian penganiayaan tersebut terjadi pada hari Rabu Tanggal 28 Maret 2012 sekitar jam 20.00 wita, bertempat di Dusun Balla Bulo Timur Desa Bonto Jati, Kec. Pasimasunggu Timur, Kab. Kep. Selayar;

2. Bahwa benar yang melakukan perbuatan tersebut adalah terdakwa sendiri dengan cara memukul dengan kepalan tangannya yang mengenai mulut korban dan dengan cara memerangi tubuh korban berkali-kali.

3. Bahwa benar terdakwa pernah berselisih faham dengan saksi korban, dimana saksi korban pernah memarangi terdakwa sehingga mengakibatkan gangguan syaraf pada mata sebelah kiri dan menimbulkan bekas luka sabetan parang di pipi sebelah kiri;

49 4. Bahwa benar pada saat terdakwa minum-minuman keras bersama para saksi, tiba-tiba terdakwa menjadi emosi dan memukul dengan kepalan tangannya dan mengenai mulut saksi korban kemudian dillerai oleh saksi Sutta dan saksi Arba;

5. Bahwa benar selanjutnya kemudian saksi korban lari keluar karena melihat terdakwa membawa parang yang berada di samping pintu pagar rumah tersebut;

6. Bahwa benar terdakwa mengejar saksi korban kemudian terdakwa mengayunkan parang berkali-kali kearah bagian kepala dan punggung sehingga mengakibatkan:

- Kepala 4 x (empat) masing-masing 8 ukuran berkisar panjang 4 (empat) sentimeter sampai 6 (enam) sentimeter dan kedalaman diperkirakan 1 (satu) sentimeter sampai 3 (tiga) sentimeter;

- Punggung tengah panjang sekitar 12 (dua belas) sentimeter dan kedalaman 1 (satu) sentimeter sampai 3 (tiga)

- Pundak kiri panjang 5 (lima) sentimeter dalam 0,5 (nol koma lima) sentimeter;

- Leher bagian kiri panjang 7 (tujuh) sentimeter dalam 3 (tiga) sentimeter;

- Lengan kiri atas bagian dalam panjang 4 (empat) sentimeter dalam 1 (satu) sentimeter;

- Pergelangan tangan kanan hampir putus 95%;

- Punggung kanan terdapat 2 (dua) luka dengan ukuran masing-masing 8 (delapan) sentimeter dan 10 (sepeluh) sentimeter kedalam 1 (satu) sentimeter;

- Gerahan kanan panjang 10 (sepuluh) sentimeter kedalam 1 (satu) sentimeter.

7. Berdasarkan hasil Visum et Repertum nomor:

045.2/1809/UM/IV/2012 yang dikeluarkan oleh UPTD Puskesmas Ujung Jampea pada tanggal 3 April 2012 yang dibuat dan ditandatangani oleh KASMAN, AMK, luka tersebut di atas diduga akibat benda tajam.

Berdasarkan fakta-fakta hukum yang telah disebutkan di atas, kemudian Hakim mempertimbangkan apakah seseorang telah dapat dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana atau tidak yang didakwakan

50 kepada terdakwa, maka keseluruhan dari unsur-unsur pasal yang didakwakan oleh JPU kepada terdakwa haruslah dapat dibuktikan dan terpenuhi seluruhnya.

Meskipun terjadi kesalahan dalam penerapan pasal dalam perkara ini, namun Penulis akan tetap menghubungkan unsur-unsur pasal yang didakwakan JPU dengan perkara yang Penulis angkat, guna mengetahui, menganalisa, dan memberikan penilaian terhadap pertimbangan Hakim.

Adapun unsur-unsur pasal yang didakwakan JPU dalam perkara ini kepada terdakwa, dalam hal ini Pasal 354 ayat (1) yaitu sebagai berikut:

1) Unsur barangsiapa

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan bahwa yang dimaksud barangsiapa adalah setiap orang atau siapa saja yang tunduk dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai subyek hukum pidana serta mampu bertanggungjawab. Artinya, dapat dipertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum, dan salah satu subyek hukum menurut peraturan hukum yang berlaku adalah manusia. Meskipun unsur barangsiapa tidak disebutkan dengan tegas dalam bunyi Pasal 354 ayat (1) KUHP, sehingga haruslah dianggap tersirat dan harus pula dibuktikan.

Dalam perkara ini, dihadapkan seorang bernama Muh. Saleh alias Singsong, dan berdasarkan hasil pemeriksaan di persidangan, ternyata identitas terdakwa yang tercantum dalam surat dakwaan dibenarkan oleh terdakwa, dan ternyata terdakwa dalam keadaan sehat jasmani dan

51 rohani sehingga dapat dimintai pertanggungjawabannya atas segala perbuatan yang dilakukannya. Dengan demikian, Hakim berkesimpulan bahwa unsur barangsiapa telah terpenuhi.

2) Unsur mengakibatkan orang lain luka berat

Berdasarkan fakta-fakta hukum di persidangan, dan berdasarkan Visum et Repertum Nomor: 045.2/1809/UM/IV/2012 yang dibuat dan ditandatangani oleh Kasman, AMK, Hakim berpendapat bahwa perbuatan terdakwa mengakibatkan orang lain luka berat, dalam hal ini adalah saksi korban Saransing Bin Karang, sehingga perbuatan terdakwa diketegorikan atau termasuk perbuatan penganiayaan berat. Dengan demikian, Hakim berkesimpulan unsur mengakibatkan orang lain luka berat telah terpenuhi.

Berdasarkan pembuktian unsur-unsur Pasal 354 ayat (1) KUHP di

Berdasarkan pembuktian unsur-unsur Pasal 354 ayat (1) KUHP di

Dokumen terkait