• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses yang melibatkan orang dari berbagai SKPD juga membuat orang-orang yang terlibat dapat saling belajar tentang metode kerja dan cara berpikir yang terbentuk di masing-masing SKPD, yang sebenarnya juga mereka butuhkan. Misalnya, staf dari Dinas Kesehatan belajar metode baru menyelia proposal dari kabupaten/kota setelah dalam beberapa kesempatan melihat bagaimana staf Bappeda menjelaskannya atau melakukannya. Sebaliknya, staf Bappeda belajar mengenai cara kerja spesifik bidang kesehatan untuk mempertajam metode perencanaan mereka ketika berhadapan dengan usulan-usulan dari bidang kesehatan. Mereka saling mengadopsi metode masing-masing.

Berargumen

Rangkaian diskusi intensif yang mereka lewati juga melatih para staf SKPD yang terlibat dalam menyampaikan argumen secara lebih runut dan kokoh dalam menyokong pendapat yang mereka ajukan. Mereka pun terbiasa mendukung argumen mereka dengan data-data.

SETELAH penandatangan Peraturan Gubernur No. 16/2013, pekerjaan panjang dan kadang

rumit sudah menanti. Bagian ini mencoba menyajikan sejumlah upaya yang ditempuh

untuk memastikan implementasi dana Bantuan Keuangan Khusus Kesehatan dapat tersalurkan sesuai aturan. Ini termasuk proses upaya pengadaan Perda untuk mengantisipasi berakhirnya masa berlaku Pergub No. 16/2013.

Seperti di bab sebelumnya, penggambaran proses akan disertai uraian mengenai hambatan

dan pembelajaran. Beberapa bagian dari kerja ini belum selesai, sehingga masih butuh waktu

untuk mendapatkan gambaran utuh.

PROSES

SERANGKAIAN diskusi segera berlangsung menyusul pengesahan Peraturan Gubernur No. 16/2013. Berlangsung di sepanjang Mei, forum-forum ini membicarakan implementasi Pergub tersebut, khususnya untuk menyesuaikan lampiran petunjuk teknis pelaksanaan (Juklak) dengan beberapa bagian Pergub yang telah mengalami perubahan dari proses sebelumnya.

Juga mengenai persiapan program prioritas yang akan diusulkan dalam APBD Perubahan 2013, yang masih menyisakan tenggat hingga bulan Oktober. Dengan kata lain, mereka mulai mengusahakan penyaluran dana BKKKes.

Strategi pasca-pengesahan Pergub dibahas lebih jauh sebulan kemudian1, memunculkan usulan dari Dinkes Provinsi agar BASICS memfasilitasi penyusunan proposal Bantuan Keuangan Khusus Kesehatan (BKKKes) untuk 15 Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara.

Sebagaimana diatur dalam Pergub No. 16/2013, Kabupaten/Kota harus

1 Ini berlangsung pada Pertemuan Tahunan Sub Komite BRI 2013 yang diselenggarakan oleh BASICS tanggal 27-28 Juni, dihadiri perwakilan 5 Kabupaten/Kota yang termasuk dalam wilayah kerja BASICS. Sub komite BRI adalah panitia pengarah proyek BASICS daerah di tingkat provinsi untuk mengawal kegiatan BRI di kabupaten/Kota terlaksana. dibentuk oleh Tim Koordinasi Proyek BASICs di tingkat provinsi, terdiri dari Bappeda (bidang sosbud), Dinkes Provinsi (bidang kesehatah keluarga, anak dan gizi dan bidang perencanaan) perwakilan dari Badan PemberdayaanPerempuan dan Anak.

62

memasukkan usulan program demi menerima dana transfer. Usulan ini langsung diterima, dan pada tanggal 2-3 Juli berlangsung lokakarya penyusunan proposal BKKKes, dihadiri oleh Biro perencanaan Kementrian Kesehatan, perwakilan dari Ditjen Otonomi Daerah – UPD 2 Kemendagri, utusan 15 Kabupaten/Kota yang mewakili unsur Bappeda dan Dinkes, serta jajaran Dinkes Provinsi. Dari 15 Kabupaten/ Kota yang hadir, 11 diantaranya merampungkan proposal BKKKes dan menyerahkannya kepada Dinas Kesehatan Provinsi untuk diperiksa. Sejalan dengan proses pematangan proposal dari 11 SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, kerja penyiapan Juklak memasuki babak baru dalam usaha melengkapi dokumen penyerta Pergub No. 16/2013. Dimulai pada tengah Agustus 2013, penyusunan Juklak berlangsung secara maraton di internal Dinas Kesehatan Provinsi didampingi tim BASICS.

Di bulan yang sama datang kabar dari BPKBMD bahwa usulan dari Kabupaten/Kota belum dapat diakomodasi dalam APBD Perubahan 2013. Argumentasi yang berkembang saat itu, beberapa Kabupaten/Kota terlanjur menetapkan APBD Perubahan tanpa memasukkan pengajuan alokasi dana BKKKes karena pihak Provinsi terlambat mensosialisasikan kepada Kabupaten/Kota.

Sementara Pergub No. 16/2013 menghadapi tantangan dalam upaya penerapannya, kabar tentang pencapaian Sulawesi Utara lewat Pergub ini telah mengharumkan nama Pemerintah Provinsi. Dalam Rakerkesnas di Makassar, Sulawesi Utara mendapat penghargaan ke dua tingkat nasional, sesudah Daerah Istimewa Yogyakarta, dan peringkat pertama untuk di Indonesia Timur. Salah satu penilaian adalah keberadaan Pergub untuk percepatan pencapaian MDG’s dan SPM serta pendanaan BKKKes.

Gubernur pun menerima penghargaan atas kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kesehatan, salah satunya Pergub No. 16/2013 dan BKKKes tersebut. Belum lama berselang, delegasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur datang untuk melakukan studi banding, salah satunya mempelajari bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi ke Kabupaten/Kota. Delegasi studi banding juga datang dari Pemerintah Provinsi Gorontalo.2 Setelah itu, pada 5 Juli 2013, Dinkes Provinsi Sulawesi Utara juga diundang sebagai narasumber oleh Dinkes Provinsi Gorontalo untuk mempresentasikan inovasi BKKKes di Kota Gorontalo. DISKUSI intensif berlanjut di sepanjang September untuk memastikan alokasi anggaran BKKKes dalam APBD Perubahan 2013 yang akan ditetapkan pada pertengahan Oktober. Menghadapi kenyataan bahwa APBD perubahan Kabupaten/Kota telah ditetapkan tanpa memasukkan dana BKKKes, muncul usulan untuk memasukkan dana BKKKes ini ke dalam skema DPA Dinkes provinsi, bukan ditransfer langsung ke APBD Perubahan Kabupaten/Kota. Di DPA Dinkes ini sudah tersedia dana sebesar 3,4 miliar untuk pembelian perlengkapan bidan kit dan USG portabel bagi 11 Kabupaten/Kota. Alokasi dana ini tercantum di dalam DPA Dinkes Provinsi. Ini berarti bantuan tersebut bukan menggunakan mekanisme transfer dana langsung ke Kabupaten/Kota sebagaimana diinginkan lewat penerbitan Pergub N0. 16/2013.

2 Kegiatan ini difasilitasi oleh Provinsial Government Support Program - United Nation Development Programme (PGSP-UNDP).

Beberapa kali pertemuan yang diselenggarakan pihak BASICS untuk membahas dana BKKKes belum menemui titik terang. Malah berkembang rumor tentang jumlah dana yang berbeda-beda, meski kepastiannya ada di BPKBMD. Sebagian menginformasikan, di APBD 2014 telah tersedia dana BKKKes sebesar 25 milyar rupiah, tetapi mekanisme pengelolaannya belum jelas. Informasi tentang ketersediaan dana sebesar itu pun belum disertai bukti tentang keberadaannya.

Untuk mencari jawab atas kekaburan informasi tersebut, mereka memutus-kan untuk melakumemutus-kan audiensi kepada pejabat teras provinsi dalam hal ini Wakil Gubernur sebagai ketua MDGs. Di sana mereka menanyakan kejelasan informasi tersebut, sekaligus meminta dukungan sekali lagi. Wakil Gubernur membenarkan keberadaan anggaran tersebut dan berjanji akan memastikan penyalurannya.

Selain untuk mengetahui secara persis posisi dana BKKKes, pertemuan itu juga berperan sebagai alat untuk mengingatkan kembali komitmen agar para pihak yang terkait pelaksanaan Pergub No. 16/2013 dapat mempercepat proses penyaluran dana. Usai bertemu Wakil Gubernur, para pihak terkait langsung mengambil langkah. Pihak BPKBMD menyampaikan informasi tentang dana BKKKes kepada anggota DPRD, juga menelaah Pergub dan Juklak BKKKes sebagai rujukan untuk merumuskan Juknis pengelolaan keuangan untuk dana bantuan secara umum (bukan hanya BKKKes), yang memang menjadi tugas mereka.

Namun jalan panjang bagi penerapan Pergub 16/2013 masih terus berlanjut. Beberapa persyaratan transfer dana dari provinsi ke kabupaten juga belum terpenuhi. Pertama, meski anggaran sudah tersedia, besaran pagu anggaran (perincian pembagian untuk tiap kabupaten) perlu ditetapkan sebelum dapat disalurkan ke Kabupaten/kota. Dengan ditetapkannya pagu anggaran, maka Kabupaten/Kota memiliki dasar dalam menyusun penganggarannya. Kedua, Juknis yang telah dibuat ternyata masih harus diubah mengikuti perubahan yang terjadi pada draft Ranpergub sebelum disahkan menjadi Pergub. Ketiga, nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara kepala daerah pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten/ Kota juga belum dibuat. Padahal MOU inilah yang menjadi dasar penyaluran bantuan keuangan.

Keempat, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), sebuah perangkat khusus untuk bantuan tersebut di

BPKBMD, belum dibentuk. Di level Provinsi, untuk dapat melakukan transfer dana bantuan yang baru dibentuk, harus dibentuk pula Kuasa Pengguna Anggaran (di BPKBMD), yang salah satu perangkatnya adalah ‘bendahara pengeluaran’. Perangkat ini harus ditetapkan melalui SK Gubernur, yang hanya bisa dilakukan di awal tahun anggaran (setahun sekali). Di Kabupaten/Kota juga harus ada perangkat serupa, yaitu Kuasa Penerima Anggaran. Karena itu upaya mengejar tenggat APBD Perubahan menjadi nyaris tidak mungkin.

Selain beberapa syarat di atas, pada tahap selanjutnya, sederet pos birokrasi yang harus disinggahi sudah menunggu. Kelengkapan administratif penyaluran dana masih harus disediakan untuk menjamin terlaksananya Pergub No. 16/2013. Meski dana BKKKes sudah tercantum dalam APBD 2014, pengucurannya membutuhkan Surat Keputusan (SK) Juknis dari Gubernur. Untuk itu, Dinas Kesehatan segera

merumuskan Juknis Program di sepanjang Januari 2014. Tim satuan tugas/Satgas penerapan BKKKes juga segera dibentuk, mengikuti amanat Pergub No. 16/2013, sebelum disahkan lewat SK Gubernur. BPKBMD juga perlu segera mengajukan Juknis pelaksanaan keuangan, sementara Dinas Kesehatan menuntaskan Juknis yang berhungan dengan program, yang meski telah rampung masih perlu diajukan untuk mendapatkan SK Gubernur sebelum dapat berfungsi.3

Akhirnya, penyaluran dana masih harus menimbang keadaan keuangan Pemerintah Provinsi. Walaupun sudah disahkan, tidak seluruh mata anggaran yang tercantum dalam APBD telah siap untuk langsung ditransfer. Berasal dari beberapa sumber (DAU, DAK, Dana Bagi Hasil, dan lain-lain), tidak seluruh sumber pendapatan yang sedianya membiayai belanja yang tercantum di APBD langsung siap di awal tahun anggaran. Artinya, disamping menunggu SK Gubernur diterbitkan4, penyaluran dana BKKKes juga harus bergantung kepada kesiapan dana Pemerintah Provinsi.

3 Menurut seorang staf BPKBMD, penandatanganan MoU antara kepala daerah dan pembentukan perangkat Kuasa Pengguna Anggaran juga masih harus dilakukan.

4 Penerbitan SK Gubernur menununggu kesiapan Juknis baik yang terkait dengan Teknis Pelaksanaan (Dinkes), Tata Cara Penyaluran Dana (BPKBMD). Diharapkan semua Juknis yang dibutuhkan untuk kebutuhan penerbitan SK Gubernur harus sudah selesai/siap akhir Februari 2014.

Apalagi, Dana Bantuan Keuangan Khusus Insfrastruktur baru saja meminta 70 milyar rupiah dari APBD, karena musibah banjir bandang di Sulawesi Utara pada Januari 2014 lalu. Padahal saat itu dana BKKKes sudah tercantum dalam DPA BPKBMD Tahun 2014, pada nomenklatur ‘Belanja Tidak langsung’, Subyek ‘Bantuan Keuangan Khusus Bidang Kesehatan’.

Dokumen terkait