• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Ekonomi dan Perkembangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Pertumbuhan Ekonomi dan Perkembangan

Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Di sini, proses mendapat penekanan karena mengandung unsur dinamis. Para teoretikus ilmu ekonomi pembangunan masa kini, masih terus menyempurnakan makna, hakikat dan konsep pertumbuhan ekonomi. Para teoretikus tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dengan penambahan PDB dan PDRB saja, tetapi juga diberi bobot yang bersifat immaterial seperti kenikmatan, kepuasan, dan kebahagiaan, dengan rasa aman dan tenteram yang dirasakan masyarakat luas (Arsyad, 1999).

Pertumbuhan ekonomi (economic growth) bertautan erat dengan peningkatan produksi barang dan jasa, yang antara lain diukur dengan besaran yang disebut produk domestik bruto (PDB) pada aras nasional dan produk domestik regional bruto (PDRB) untuk daerah, baik propinsi maupun Kabupaten/Kota. BPS (2000) menyebut

pertumbuhan ekonomi sebagai pertumbuhan produksi riil, baik secara sektor maupun totalitasnya. Disebut pertumbuhan produksi riil karena harga yang digunakan dalam menilai suatu produksi dari tahun ke tahun menggunakan harga pada tahun tertentu sehingga perubahan harga (inflasi) tidak mempengaruhi nilai produksinya. Penilaian ini dapat dilakukan atas dasar harga berlaku (current price) pada tahun perhitungan, atau atas dasar harga konstan (constant price) dari suatu tahun yang dipilih sebagai tahun dasar (base year).

Wijaya dalam Joni (1989) mengemukakan dua konsep pertumbuhan ekonomi : (1) pertumbuhan ekonomi adalah proses di mana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang apabila terjadi pertumbuhan output riil. Output riil suatu perekonomian bisa juga tetap konstan atau mengalami penurunan sepanjang waktu.

Ini berarti perekonomian statis atau mengalami penurunan. Penurunan merupakan perubahan negatif, sedang pertumbuhan adalah perubahan positif. (2) Pertumbuhan ekonomi terjadi apabila ada kenaikan output per kapita. Dalam hal ini pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup yang diukur dengan output riil per orang. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi terjadi apabila tingkat kenaikan output riil total lebih besar daripada tingkat pertumbuhan. Sebaliknya terjadi penurunan taraf hidup aktual bila laju kenaikan jumlah penduduk lebih cepat dari pada laju pertumbuhan output riil total.

Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik, seperti Adam Smith, David Recardo, Thomas Robert Malthus, dan John Sturt Mill, ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu jumlah penduduk, jumlah stok barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, dan tingkat teknologi yang digunakan (Sukirno, 1981). Pakar pertumbuhan ahli-ahli ekonomi klasik tersebut lebih lanjut dikembangkan oleh para pemikir Neo Keynes dan Neo Klasik, yang mengatakan pertumbuhan ekonomi berpokok pada proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat (Djoyohadikusumo, 1994).

Dari teori klasik hingga teori Keynes dan Harrod-Domar, laju pertumbuhan ekonomi suatu negara pada umumnya didukung oleh unsur investasi. Aspek utama yang dikembangkan Keynes, misalnya adalah aspek yang menyangkut peran investasi melalui perantara masyarakat (aggregate demand). Kemudian Harod-Domar mengembangkan peranan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi melalui konsep Capital Output Ratio (COR).

Menurut Rostow dalam Sukirno (1981) ada 5 tahap pertumbuhan ekonomi, masyarakat tradisional, pra kondisi lepas landas, lepas landas, gerakan menuju kematangan dan masa konsumsi besar-besaran. Kunci diantara tahapan ini adalah tahap tinggal landas yang ditandai dengan meningkatnya investasi dan pendapatan riil masyarakat dari 5% menjadi lebih dari 10% PDB, pengembangan satu atau sektor andalan yang tumbuh dengan laju yang tinggi, munculnya kerangka politik dan sosial serta institusional yang berorientasi pada modernisasi yang kuat dan inspirasional.

Untuk membangun daya saing yang kuat, suatu daerah harus menerapkan kebijakan yang jelas dan terpadu bagi investasi domestik maupun asing. Menurut Kotler dalam Sirojuzilam (1998) investasi asing pada dasarnya memperhatikan paling sedikit empat ciri daya tarik suatu negara bagi investasi yaitu:

a. Keuntungan komparatif dan bersaing, meliputi empat atribut yang luas yakni berkaitan dengan kondisi-kondisi faktor produksi, kondisi-kondisi perantara, industri-industri terkait dan pendukung dan strategi struktur dan persaingan yang tegas.

b. Stabilitas Ekonomi dan Politik Dalam Negeri, merupakan faktor kunci keberhasilan Asia Timur, Singapura dan Malaysia dalam menarik investasi langsung. Dipihak lain kegagalan Brazilia untuk mempertahankan stabilitas makro ekonominya merupakan faktor utama dalam menarik investasi asing langsung di negara ini pada tahun 1980-an. Kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia pada 3 tahun terakhir ini.

c. Perlindungan Hak Cipta, berkaitan dengan kerangka hukum dan kelembagaan yang menguasai investor asing langsung hendaknya terbuka, dapat diramalkan, dan stabil. Akses bebas ke valuta asing untuk pengalihan keuntungan dan untuk memperoleh output hendaknya diterapkan. Para penanam modal asing khawatir terhadap upaya nasionalisasi.

d. Zona-zona Perdagangan Asing, merupakan salah satu cara untuk menarik investasi asing langsung dengan membangun zona-zona Perdagangan Asing

(Foreign Trade Zone (FTZ) dan Multi National Corporation (MNC) yang diperbolehkan untuk beroperasi, impor, membuat dan bahkan memiliki secara keseluruhan suatu bisnis di dalam lingkungan FTZ.

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu ukuran utama keberhasilan dari pembangunan yang dilaksanakan. Pertumbuhan harus berjalan secara berdampingan dan berencana, mengupayakan terciptanya pemerataan kesempatan dan pembagian hasil-hasil pembangunan dengan lebih merata.

Djojohadikusumo dalam Joni (1994), pertumbuhan ekonomi ditandai dengan tiga ciri pokok: (1) Laju pertumbuhan pendapatan per kapita dalam arti nyata (2) Pesebaran (distribusi) angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya, dan (3) pola persebaran penduduk.

Ananta dalam Sirojuzilam (1993) menjelaskan pertumbuhan ekonomi biasanya disertai dengan adanya proses akselerasi. Pemberdayaan sumber daya dan dana untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Dalam rangka melihat fluktuasi pertumbuhan ekonomi tersebut dengan secara riil dari jangka waktu tahun ke tahun akan tergambar melalui besarnya Produk Domestik Regional Bruto atau indeks harga Konsumen secara berkala. Pertumbuhan yang positif akan menunjukkan adanya peningkatan perekonomian, sebaliknya apabila negatif akan menunjukkan adanya penurunan.

Sedangkan menurut Kaldor dalam Boediono (1957) pertumbuhan ekonomi yang membaik, yakni pertumbuhan dengan tingkat optimis. Dalam hal ini harus

diperhatikan komposisi kekuatan atau output yang dihasilkan.

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tujuan penting dari kebijakan ekonomi makro. Perekonomian yang tumbuh akan memberikan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik bagi penduduk negara yang bersangkutan. Untuk mengetahui kemajuan, kesejahteraan suatu perekonomian diperlukan suatu alat pengukur yang tepat. Beberapa alat ukur itu, diantaranya adalah produk domestik bruto, pendapatan per kapita, pendapatan perjam kerja, dan tingkat harapan hidup. Kenaikan produk domestik bruto atau pendapatan nasional sangat ditentukan oleh intensitas penggunaan faktor produksi (Suparmoko dalam Joni, 1996).

Menurut Sudarman dalam Joni (1996) mengatakan bahwa faktor-faktor produksi dalam ekonomi disebut "sumber daya" yang meliputi tenaga kerja, kapital, tingkat teknologi, dan sumber daya alam, sumber daya yang dimiliki oleh suatu perekonomian, mempunyai sifat tidak stabil (fluit) dan berubah-ubah (versatile) dalam arti bentuk dan macam benda yang dihasilkan.

Pada dasarnya pembangunan wilayah berhubungan dengan tingkat dan perubahan dalam kurun waktu tertentu suatu rangkaian variabel seperti produksi, produk, angkatan kerja, rasio modal tenaga dan berbagai faktor dalam wilayah dibatasi secara jelas. Laju pertumbuhan dari daerah-daerah biasanya diukur menurut output atau tingkat pendapatan yang berbeda-beda.

Pola pertumbuhan ekonomi wilayah tidak sama dengan apa yang ditemukan pada pertumbuhan ekonomi nasional. Pada dasarnya disebabkan pada analisa

pertumbuhan ekonomi wilayah yang lebih memerlukan pengaruh perbedaan karakteristik space terhadap pertumbuhan ekonomi. Kesamaannya yakni penilaiannya pada unsur waktu yang merupakan faktor penting dalam analisa pertumbuhan ekonomi wilayah (Hardjisaroso dalam Joni, 1994).

Perbedaan lainnya dengan teori pertumbuhan ekonomi nasional, dalam pertumbuhan ekonomi wilayah faktor yang mendapat perhatian utama adalah keuntungan lokasi, aglomerasi, migrasi dan arus lalu lintas modal antara wilayah. Sementara faktor yang sangat diperhatikan dalam pertumbuhan ekonomi nasional adalah modal, lapangan pekerjaan dan kemajuan teknologi yang bisa tumbuh dalam berbagai bentuk.

Esmara (1986) mengelompokkan teori pertumbuhan ekonomi wilayah atas, 4 (empat) bagian yaitu:

1. Kelompok pertama disebut export base-models

Dipelopori oleh North (1955) dan dikembangkan oleh Tiebout (1965), kelompok ini mendasarkan pandangan dari sudut teori lokasi, berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi suatu region lebih banyak ditentukan oleh jenis keuntungan lokasi dan dapat dipergunakan oleh wilayah akan ditentukan oleh eksplorasi dan eksploitasi yang bersifat alamiah. Pertumbuhan ekspor wilayah yang bersangkutan juga dipengaruhi oleh tingkat permintaan ekstern wilayah lain.

Pendapatan yang diperoleh dari penjualan ekspor akan mengakibatkan berkembangnya kegiatan-kegiatan penduduk setempat, perpindahan modal dan

tenaga kerja, keuntungan eksternal dan pertumbuhan wilayah suatu region, strategi pembangunannya harus disesuaikan dengan keuntungan lokasi yang dimilikinya dan tidak harus sama dengan strategi pembangunan pada tingkat nasional.

2. Kelompok kedua lebih berorientasikan pada kerangka pemikiran Neoklasik. Dipelopori oleh Stein (1964) dan dikembangkan oleh Roman (1965) dan Siebert (1969), Kelompok ini mendasarkan analisanya pada peralatan fungsi produksi. Dikatakan bahwa unsur-unsur yang menentukan pertumbuhan ekonomi wilayah adalah tanah, tenaga kerja, dan modal. Dalam kelompok ini juga dibahas tentang pengaruh perpindahan penduduk (migrasi) dan lalu lintas modal terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah.

Dalam model ini terdapat hubungan antar tingkat pertumbuhan suatu negara dengan perbedaan kemakmuran wilayah (regional disparity) pada negara yang bersangkutan. Pada saat proses pembangunan baru dimulai (negara sedang berkembang) tingkat perbedaan kemakmuran antar wilayah cenderung akan tinggi (divergence), bila proses pembangunan telah berjalan dalam waktu yang lama (sedang berkembang) perbedaan tingkat kemakmuran antar wilayah cenderung menurun (convergence).

3. Kelompok ketiga, menggunakan jalur pemikiran Keynes yang disebut cummulative-causative models

Dipelopori oleh Myrdal dalam Boediono (1975) dan dilanjutkan oleh Kaldor. Kelompok ini berpendapat peningkatan pemerataan pembangunan antar wilayah tidak

hanya diserap pada kekuatan pasar (market mechanism). Perlu adanya campur tangan pemerintah dalam bentuk program-program pembangunan wilayah, terutama wilayah yang relatif masih terbelakang.

4. Kelompok Keempat dinamakan core-periphery models

Dipelopori oleh Friedman dalam Boediono (1966). Kelompok ini menekankan pada hubungan yang kuat dan saling mempengaruhi antara pembangunan Kota (Core) dan Desa (Peripheral). Menurut teori tersebut, gerak langkah pembangunan wilayah perkotaan akan lebih banyak ditentukan oleh keadaan Desa-Desa yang ada disekitarnya. Corak pembangunan wilayah pedesaan akan ditentukan oleh arah pembangunan perkotaan. Dengan demikian aspek interaksi antar daerah (spatial interaction) akan lebih ditonjolkan.

Dokumen terkait