• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Operasional Variabel Penelitian

1. Pertumbuhan Ekonomi

tahun 2015 bernilai 5,76%, pada tahun 2016 bernilai 5,3%, dan pada tahun 2017 bernilai 5,2%, (2) nilai rata-rata di Provinsi Sumatera Selatan bernilai 0,472160172 berarti untuk meningkatkan PDRB ADHK sebesar Rp.1.000.000,00 dibutuhkan modal Rp472.160,00, (3) nilai rata-rata ILOR di Provinsi Sumatera Selatan bernilai 0,0010831 yang berarti untuk meningkatkan PDRB ADHK sebesar 1.000.000.000 dibutuhkan pekerja 1,08 atau 2 orang pekerja.

Kata Kunci: Proyeksi, Pertumbuhan Ekonomi, Investasi, Tenaga Kerja, ARIMA, ICOR, ILOR.

xii KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan rasa syukur dan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, Shalawat serta Salam di haturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai suritauladan dan pemberi safaat. penulis dapat menyelesaikan skripsi ini berdasarkan hasil studi melalui kepustakaan melalui publikasi media cetak ataupun elektronik yang menjadi sumber-sumber dalam penulisan skripsi ini.

Adapun tujuan skripsi adalah menganalisis, mempelajari dan menambah pengetahuan tentang proyeksi pertumbuhan ekonomi, kebutuhan investasi dan penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Selatan dengan menggunakan alat analisis ARIMA (Autoregressive Moving Average), ICOR dan ILOR.

Dalam pembuatan skripsi ini banyak orang-orang yang ikut terlibat secara langsung maupun tidak langsung. untuk itu penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada orang-orang tersebut, diantaranya adalah:

1. Orang-orang terdekat penulis, Ibundaku Tihari Siregar, Ayahandaku Tarmizi, adikku Putra Gemilang dan Della Rahma Praisa, dan teman dekat Novida Sari Sihite, mereka semua yang memotivasi, mendukung dan selalu mendoa’kan dalam penyelesaian skripsi ini. Kedua orang tuaku yang berjasa besar dalam perjalanan hidupku dengan penuh kasih dan sayang, aku mengucapkan terimakasihku yang sebesar-besarnya atas doa’ serta dukungan kalian ayah dan ibuku tanpa kenal lelah dan balasan, teman dekatku yang selalu memberikan motivasi dan selalu mendoa’kanku setiap saat dengan ketulusan hati, terimakasih banyak.

2. Bapak Prof.Dr.H.Abdul Hamid. MS, selaku pembimbing I dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Saya mengucapkan terimakasih atas bimbingan dan pembelajaran yang bapak berikan kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Banyak ilmu pengetahuan dan bimbing yang bapak ajarkan kepada saya selama bimbingan. Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

3. Bapak Zuhairan Yunmi Yunan, SE, M.Si, selaku pembimbing II dan Kepala Jurusan IESP (Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan). Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak yang telah memberikan arahan, ilmu pengetahuan, wawasan, dan bimbingan kepada saya yang banyak sekali memberikan manfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini srta serta selalu memberikan motivasi.

4. Ibu Utami Baroroh, SE, M.Si, selaku dosen pembimbing akademik. Saya mengucapkan terimakasih atas perhatian, bimbingan dan arahan Ibu selama

xiii saya melakukan perkuliahan yang telah banyak memeberikan manfaat dan motivasi bagi saya, saya ucapkan banyak terimakasih.

5. Terimakasih saya ucapkan kepada Bapak dan Ibu Dosen IESP khususnya dan umumnya kepada seluruh Dosen FEB UIN Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan, wawasan, dan mengajarkan etika kepada saya selama saya menuntut ilmu sebagai Mahasiswa di FEB UIN Jakarta. Tidak lupa pula kepada seluruh civitas akademika FEB UIN Jakarta dan civitas akademika Universitas Islam Negeri Jakarta yang telah banyak membantu selama saya beraktifitas dan menuntut ilmu sebagai Mahasiswa. 6. Saya ucapkan banyak terimaksih kepada saudara-saudaraku yang telah

mendoa’kan dan medukungku.

7. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman penulis, Fantriansah, Ilhamsyah, bang Ahmad Rifai, bang Hussein, bang Bambang Dwitomo, Ade Muzaky, Muslih, Hasnan, Lukman, Yusuf Ramadhan, Anwar, Egy, Andika Aryatama, Fahmi Rahman, Rizky Hamid, Fachrizal, Ikmal, Abdi Fauzi, bang Dedy Kusuma, Farid, Triasa Yanuar, Deni Herisandi, Fahmi Rahman, Pratiwie, Lia Nita, Mia Sarah, Ririn Rinjani, Najatun, teman-temanku dan adik-adik kelasku di Pesantren Pertanian Darul Fallah serta seluruh teman-temanku dan adik-adik di Universitas Islam negeri Jakarta yang tidak dapat disebutkan satupersatu serta tidak lupa pula kepada bude sebagai ibu kosku, saya mengucapkan terimakasih atas dukungan dan motivasinya selama ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. oleh karena itu, penulis berharap mendapatkan saran dan kritik yang baik untuk meningkatkan dan penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat dan berguna bagi semua.

Ciputat, 13 Juni 2014 Penulis

xiv DAFTAR ISI

COVER ... i

COVER DALAM ... ii

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIP ... iv

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... v

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... viii

ABSTRACT ... x

ABSTRAK ... xi

KATA PENGANTAR ... xii

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian...15

1. Tujuan Penelitian ... ...15

xv

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 17

A. Teori yang Berkenaan Dengan Variabel ... 17

1. Teori Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah ... ..17

2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 21

3. Investasi ...25

4. Tenaga Kerja . ...32

B. Penelitian Terdahulu . ...36

C. Kerangka Berpikir . ...46

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...49

A. Ruang Lingkup Penelitian ...49

1. Wilayah Penelitian ...49

2. Ruang Lingkup Penelitian ... 49

B. Metode Penentuan Sampel ... 49

C. Metode Pengumpulan Data ... 50

1. Jenis dan Sumber Data ... 50

2. Metode Pengumpulan Data ... 51

D. Metode Analisis ... 51

1. Trend Linier ... 51

a. Trend Linier ... 51

b. Autoregressive Moving Average (ARIMA) ... 54

2. Analisis Incremental Capital Output Ratio (ICOR) .... 59

3. Analisis Incremental Labour Output Ratio (ILOR) ... 61

E. Operasional Variabel Penelitian ... 63

1. Pertumbuhan Ekonomi ... 63

2. Investasi ... 64

3. Tenaga Kerja ... 65

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 66

xvi

1. Letak Geografis ... 66

2. Penduduk dan Ketenaga Kerjaan ... 69

3. Pertumbuhan Ekonomi ... 72

4. Investasi ... 77

B. Analisis dan Pembahasan ... 79

1. Analisis ... 79

2. Pembahasan dan Interprestasi ... 79

a. Preprocessing Data dan Indenfikasi Model ... 79

b. Analisis Least Squared Method dengan ARIMA .... 81

c. Analisis Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ... 89

d. Analisis Icremental Labour Output Ratio (ILOR) . 91 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 96

A. Kesimpulan ... 96

B. Saran ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 101

xvii DAFTAR TABEL

No. Keterangan Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu 37

3.1 Pola ACF dan PACF Pembentukan Model 58

3.2 Oprasional Variable 63

4.1 Jumlah Kecamatan, Desa, dan Kelurahan di Kabupaten Kota

Provinsi Sumatera Selatan 68

4.2 Luas Daearah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan di Kabupaten

Provinsi Sumatera Selatan 70

4.3 Distribusi Persentase PDRB Sumatera Selatan menurut

Lapangan Usaha ADHB dengan Migas, 2007-2012 73 4.4 PDRB Sumatera Selatan menurut Lapangan Usaha ADHK

2000, tahun 2007-2012 75

4.5 Korelogram Diferensiasi kedua Data PDRB tahun 1990-2012 83 4.6 Permodelan ARIMA Data PDRB Sumatera Selatan Tahun

1990-2012 84

4.7 Rangkuman Estimasi Model ARIMA 85

4.8 Uji Q-statistik Model 3 86

4.9 Proyeksi PDRB ADHK Sumatera Selatan tahun 2013-1017 88 4.10 Nilai ICOR Sumatera Selatan Tahun 1994-2012 89 4.11 Proyeksi Kebutuhan Investasi di Sumatera Selatan tahun

2013-2017 91

4.12 Nilai ILOR Sumatera Selatan Tahun 1994-2012 92 4.13 Proyeksi Tambahan Penyerapan Tenaga Kerja (berdasarkan

ILOR) 93

4.14 Perubahan Investasi (∆K) dan Tenaga Kerja (∆L) di Provinsi

Sumatera Selatan Tahun 1994-2012 94

4.15 Proyeksi Tambahan Penggunaan Tenaga Kerja di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2013-2017 (Rasio modal-tenaga kerja)

xviii DAFTAR GAMBAR

No. Keterangan Halaman

1.1 Proyeksi Pertumbuhan Eknomi Indonesia 2010-2014 2 1.2 Nilai & Pertumbuhan PDRB perkapita di Koridor Ekonomi

Sumatera (2008) 8

1.3 Koridor Ekonomi Sumatera Selatan dalam MP3EI 9 1.4 Gambar Potensi Pertambangan Sumatera Selatan 9

1.5 PDRB SumateraSelatan ADHB Tahun 2010 10

1.6 Belanja Modal/Total Belanja Pemerintah Sumatera Selatan

Tahun 2007-2011 12

1.7 Investasi dan Nilai Tambah 13

1.8 Hubungan Investasi, Bisnis, dan Kesejahteraan Masyarakat 13

2.1 Arus Sederhana Pendapatan 32

2.2 Kerangka Berfikir Teoritis 48

4.1 Peta Provinsi Sumatera Selatan 67

4.2 Penduduk 15 Tahun keatas Menurut Jenis Kegiatan Utama di

Provinsi Sumatera Selatan, 2000-2012 72

4.3 Laju pertumbuhan PDRB Sumatera Selatan Menurut

Lapangan Usaha ADHK 2000 (persen), 2006-2012 77 4.4 Realisasi Investasi (PMA dan PMDN) Tahun 2001-2012 78 4.5 Grafik Trend PDRB ADHK Provinsi Sumatera Selatan

Tahun 1990-2012 80

4.6 Grafik Diferensiasi Data PDRB pada Tingkat kedua Tahun

1990-2012 82

4.7 Grafik trend PDRB ADHK Tahun 1990-2013

xix DAFTAR LAMPIRAN

No. Keterangan Halaman

1 Data Penelitian 105

2 Uji Stasioneritas Data 106

3 Grafik PDRB ADHK 109

4 Correlogram Data 112

5 Estimasi Model ARIMA 113

6 Perhitungan ICOR, Rasio Modal-Tanaga Kerja, dan ILOR 115 7 Proyeksi PDRB ADHK, Investasi, dan Tenaga Kerja 118

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Dalam pola pembangunan nasional dan daerah di Indonesia secara keseluruhan telah berubah dengan dilaksakannya otonomi daerah sejak tanggal 1 januari 2001 sesuai dengan Undang-undang No. 22 tentang pemerintahan daerah dan Undang-undang no. 25 tahun 1999, tentang perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Sistem pembangunan yang sangat sentralisir dan didominasi oleh pemerintah pusat telah mulai ditinggalkan, sedangkan pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam pengelolaan sumber keuangan baru untuk mendorong proses pembangunan di daerahnya masing-masing yang selanjutnya akan mendorong proses pembangunan nasional Indonesia secara keseluruhan (Sjafrizal, 2008: 228).

Perkembangan pembangunan ekonomi di Indonesia yang sesuai dengan Undang-Undang No.17 tahun 2007 Tentang Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, pemerintah Indonesia melakukan perencanaan pembangunan yang dikenal dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Melalui langkah MP3EI, percepatan dan perluasan pembangunan akan menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan perkapita yang berkisar antara USD

2 14.250 – USD 15.500 dengan nilai total (PDB) berkisar USD 4,0 – 4,5 triliun. Untuk mewujudkannya diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6,4 – 7,5 persen pada 2011-2014, dan sekitar 8,0 – 9,0 persen pada 2015-2025. Pertumbuhan ekonomi tersebut akan dibarengi oleh penurunan inflasi sebesar 6,5 persen pada 2011-2014 menjadi 3,0 persen pada tahun 2025. Kombinasi pertumbuhan dan inflasi seperti itu mencerminkan karakteristik negara maju seperti yang di tunjukkan oleh gambar 1.1, (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 15: 2011).

Gambar 1.1

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2010-2045

Sumber: Provinsi dan kabupaten dalam angka, Badan Pusat Statistik; Analis tim 2009 MP3EI (Meteri Koordinator Bidang Perekonomian)

Untuk mendukung pembangunan nasional akan membutuhkan dukungan dan keselarasan dari pembangunan daerah, dalam

3 pembangunan ekonomi daerah tentunya perlu memperhatikan pertumbuhan daerah, menurut Sjafrizal (2008, 85) alasannya jelas karena pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu unsur utama dalam pembangunan ekonomi regional dan mempunyai kebijakan yang cukup luas. Kebijakan pembangunan ekonomi regional pada dasarnya merupakan intervensi pemerintah, baik secara nasional maupun regional untuk mendorong proses pembangunan daerah secara keseluruhan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Adapun dalam pengukurannya diperlukan indikator dalam perkembangan ekonomi menurut Todaro (1998: 124) dalam mengukur pertumbuhan ekonomi ada tiga faktor yang merupakan komponen utama yaitu:

1. Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia.

2. Pertumbuhan penduduk, yang beberapa tahun selanjutnya akan memperbanyak jumlah angkatan kerja.

3. Kemajuan teknologi.

Menurut pendapat Jhingan (2010, 2005) indikator dalam pengukuran perkembangan ekonomi adalah:

1. Perkembangan ekonomi harus diukur dalam arti kenaikan pendapatan nasional nyata dalam suatu jangka waktu yang panjang. 2. Kenaikan pendapatan nyata perkapita dalam jangka panjang.

4 3. Kesajahteraan ekonomi, proses kenaikan pendapatan nyata perkapita dan dibarengi dengan penurunan kesenjangan pendapatan dan pemenuhan keinginan masyarakat secara kesuluruhan.

Berkembangnya suatu perekonomian adalah lebih sulit, salah satu syarat penting yang perlu dilakukan dalam mengembangkan suatu perekonomian adalah mewujudkan moderenisasi dalam segala bidang kegiatan ekonomi, yaitu moderenisasi dibidang sektor pertanian sendiri, mengembangkan kegiatan industri dan moderinisasi pemerintahan. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan dua faktor penting yang sangat penting yang sangat terbatas di negara-negara/daerah berkembang yaitu modal dan tenaga ahli, modal yang dimaksud adalah dana modal dan modal bersifat fisik, yaitu barang-barang modal (Sadono Sukirno, 2010: 439).

Menurut Sadono Sukirno (2010: 439) kekurangan modal adalah suatu ciri penting dari setiap negara memulai pembangunannya dan kekurangan ini bukan saja mengurangi kepesatan pembangunan perekonomian yang dapat dilaksanakan, tetapi juga menyebabkan kesukaran kepada negara tersebut untuk keluar dari keadaan kemiskinan. Perkembangan dan moderenisasi suatu perekonomian memerlukan modal yang sangat banyak. Infrastruktur perlu dibangun, sistem pendidikan harus dikembangkan dan kegiatan pemerintah perlu diperluas, dan lebih penting lagi adalah berbagai jenis kegiatan perusahaan dan industri modern perlu dikembangkan. Ini berarti pihak

5 pemerintah dan swasta memerlukan modal yang banyak untuk memujudkan modernisasi diberbagai kegiatan ekonomi.

Dengan keadaan daerah yang sedangkan berkembang membutukan modal yang banyak maka yang akan diperlukan adalah investasi sebagai solusi dalam mengatasi kekurangan modal yang dialami oleh pemerintah maupun pihak swasta dalam mengembangkan perekonomiannya. Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004: 137) investasi memainkan dua peran dalam makro ekonomi. Pertama, karena merupakan komponen pembelanjaan yang besar dan mudah berubah, investasi seringkali mengarah kepada perubahan dalam keseluruhan permintaan dan mempengaruhi siklus bisnis. Selain itu investasi juga mengarah kepada akumulasi modal. Tambahan saham bangunan dan peralatan meningkatkan output potensial negara/daerah dan mengembangkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Model yang mendukung dalam penguatan investasi dalam meningkatan pertumbuhan ekonomi adalah model Harrod-Domar menjelaskan bahwa investasi memberikan peran penting dalam proses pertumbuhan ekonomi, khususnya mengenai watak ganda yang dimiliki investasi. Pertama, menciptakan pendapatan disebut dengan dampak permintaan dan kedua, memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal yang disebut dengan dampak penawaran. Karena itu, selama investasi netto tetap berlangsung, pendapatan nyata dan output akan semakin membesar namun pendapatan

6 maupun output tersebut harus meningkat dalam laju yang sama pada saat kapasitas produktif modal meningkat (M.L Jhingan 2010: 229).

Dalam era desentralisai otonomi daerah saat ini pemerintah daerah dapat menerapkan beberapa kebijakan dalam pembangunan dan pengembangan ekonomi salah satunya dengan meningkatkan investasi yang diharapkan terjadinya efek mutliplier terhadap penyerapan tenaga kerja (Jonni Afriadi, 2007: 2). Investasi juga dapat diartikan dalam pembinaan sumberdaya manusia juga dapat meningkatkan kualitas modal manusia, sehingga pada akhirnya akan membawa dampak positif yang sama terhadap angka produksi, bahkan akan lebih besar lagi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk (Todaro, 1998: 125).

Menurut Sonny Sumarsono (372: 2009) perekonomian juga tampak masih sangat bergantung pada sektor konsumsi yang tentunya tidak akan memberikan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam jangka panjang. Kegagalan untuk menstimulasi investasi tersebut mengakibatkan ekonomi hanya dapat bergerak di bawah kapasitas potensialnya sehingga wajar angka pengangguran terus meningkat agar momentum perbaikan sentimen saat ini dapat ditransformasikan menuju perbaikan fundamental ekonomi yang kuat, dalam jangka menengah pemerintah seharusnya dapat melakukan terobosan baik fiskal, struktural maupun sektor yang dapat memberikan stimulus ekonomi.

Wilayah Sumatera Selatan sebagai bagian dari wilayah Indonesia juga perlu mendukung pembangunan nasional yang pada saat ini

7 direncanakan dalam MP3EI terletak dalam dalam koridor ekonomi Sumatera yang merupakan sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional. Secara geostrategis, Sumatera diharapkan menjadi gerbang ekonomi nasional ke pasar Eropa, Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, serta Australia. Namun ada beberapa hal yang perlu dibenahi, antara lain:

1. Adanya perbedaan pendapatan yang signifikan di dalam koridor, baik antara perkotaan dan pedesaan ataupun antara provinsi-provinsi yang ada dalam koridor.

2. Investasi yang menurun dalam beberapa tahun terakhir.

3. Infrastruktur dasar yang kurang memadai untuk pengembangan industri, antara lain jalan sempit dan rusak, rel kereta api yang sudah rusak dan tua, pelabuhan laut yang kurang efisien serta kurang tenaga listrik yang dapat mendukung industri.

Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah yang tergabung dalam koridor ekonomi Sumatera yang ditunjukkan pada gambar 1.2 perlu mendukung rencana tersebut untuk memajukan perekonomian daerah tersebut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

8 Gambar 1.2

Sumber: Provinsi dan kabupaten dalam angka; Badan Pusat Statistik; Analis tim 2009 MP3EI (Meteri Koordinator Bidang Perekonomian)

Dengan adanya MP3EI maka akan dapat memaksimalkan dalam pembangunan infrastruktur pada gambar 1.3 dan mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki daerah Sumatera Selatan seperti yang terlihat pada gambar 1.4 dan 1.5 untuk mempercepat perkembangan ekonomi di Sumatera Selatan khususnya dan membantu mempercepat perkembangan ekonomi Indonesia pada umumnya.

9 Gambar 1.3

Koridor Ekonomi Sumatera Selatan Dalam MP3EI

Sumber: Analis tim 2009 Master Plan Percepatan dan Perlusan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Meteri Koordinator Bidang Perekonomian

Gambar 1.4

Potensi Pertambangan di Sumatera Selatan

Sumber: Analis tim 2009 Master Plan Percepatan dan Perlusan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Meteri Koordinator Bidang Perekonomian

10 Gambar 1.5

PDRB Sumatera Selatan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2010

Sumber: Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, 2012 Dengan masih kurangnya pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki Provinsi Sumatera Selatan maka akan diperlukan perencanaan, menurut sebagian besar ekonomi perencanaan ekonomi sebagai suatu rencana perekonomian dengan sengaja oleh suatu penguasa pusat untuk mencapai suatu sasaran tertentu dan tujuan tertentu di dalam jangka waktu tertentu pula (Jhingan, 2012: 518). Sebuah rencana pembangunan menurut Arthur Lewis (1986, 15) bisa terdiri dari satu atau beberapa hal berikut ini:

1. Survey keadaan ekonomi saat sekarang. Produk Domestik Regional Bruto Atas

11 2. Usulan-usulan untuk memperbaiki kerangka lembaga kegiatan

ekonomi.

3. Daftar usulan pengeluaran pemerintah. 4. Tinjauan mengenai industri-industri utama. 5. Proyeksi makro ekonomi untuk keseluruhan.

Inti dari perencanaan tersebut untuk produktifitas yang lebih tinggi dalam sektor swasta terletak pada sekumpulan kebijaksanaan yang mendorong orang-orang swasta untuk menggunakan waktunya dan sumber-sumber dayanya dengan lebih produktif.

Menurut Sadono Sukirno (2010: 439) Perkembangan dan moderenisasi suatu perekonomian memerlukan modal yang sangat banyak. Infrastruktur perlu dibangun, sistem pendidikan harus dikembangkan dan kegiatan pemerintah perlu diperluas, dan lebih penting lagi adalah berbagai jenis kegiatan perusahaan dan industri modern perlu dikembangkan. Ini berarti pihak pemerintah dan swasta memerlukan modal yang banyak untuk mewujudkan modernisasi diberbagai kegiatan ekonomi.

Dengan terbatasnya alokasi keuangan yang dimiliki oleh pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk mengalokasikan dananya terhadap belanja modal ditunjukkan pada gambar 1.6 yang menunjukkan trend rasio belanja modal pertotal belanja Provinsi Sumatera Selatan cenderung menurun. Karena perkembangan dan moderenisasi suatu perekonomian memerlukan modal yang sangat banyak. Infrastruktur

12 perlu dibangun, sistem pendidikan harus dikembangkan dan kegiatan pemerintah perlu diperluas, dan lebih penting lagi adalah berbagai jenis kegiatan perusahaan dan industri modern perlu dikembangkan. Ini berarti pihak pemerintah dan swasta memerlukan modal yang banyak untuk memujudkan modernisasi diberbagai kegiatan ekonomi, Sadono Sukirno (2010: 439).

Gambar 1.6

Belanja Modal/ Total BelanjaPemerintah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2007-2011

Sumber: Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, 2012 Dengan latar belakang yang dijelaskan di halaman-halaman sebelumnya maka diperlukan Proyeksi yang merupakan bagian dari perencanaan untuk melihat seberapa besar investasi yang dibutuhkan untuk menciptakan iklim ekonomi mengembangkan potensi ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan yang berdampak dengan penyerapan tenaga kerja sehingga meningkatan pendapatan masyarakat yang dapat 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00% 45.00% 50.00% 2007 2008 2009 2010 2011

13 meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan, sebagai mana yang dikemukakan oleh Henry Faizal Noor (2009: 283) bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat berkaitan erat dengan perkembangan investasi yaitu berupa nilai tambah oleh kegiatan investasi tersebut seperti ilustrasi pada gambar 1.7 dan 1.8.

Gambar 1.7

Investasi dan Nilai Tambah

Gambar 1.8

Hubungan Investasi, Bisnis, dan Kesejahteraan Masyarakat

Faktor Produksi 1. Modal (uang) 2. Tenaga Kerja 3. Faktor Produksi Lainnya 4. Enterpreneuership

Balas Jasa Sektor Produksi (Nilai Tambah) 1. Balas Jasa Modal (Bunga) 2. Upah dan Gaji

3. Sewa 4. Surplus Usaha menghasilkan Kegiatan Investasi menimbulkan n Aktivitas Ekonomi (BISNIS) Kesejahteraan Masyarakat Indentifikasi dan evaluasi potensi dan

keunggulan yang dimiliki, serta kebutuhan

masing-masing daerah, merupakan hal penting

untuk peningkatan investasi

Pemerintah perlu mendorong aktivitas ekonomi dan bisnis,

dimasing-masing daerah, sesuai dengan potensi dan keunggulan yang dumilikinya.

14 Dalam meningkatkan pembangunan dengan adanya daya dukung pembiayaan yang ada diharapkan agar dapat meningkatkan kualitas kinerja pemerintah karena menurut (Pheni Chalid, 2005:6) kualitas kinerja lembaga berkorelasi positif dengan adanya dukungan pembiayaan yang ada. Dengan demikian akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara memaksimalkan pemanfaatan potensi ekonomi yang dimiliki Provinsi Sumatera Selatan.

Dengan demikian maka diperlukannya informasi mengenai analisis keadaan ekonomi periode-periode sebelumnya yang bertujuan untuk melakukan perencanaan daerah di Provinsinsi Sumatera Selatan. Perencanaan wilayah ini merupakan suatu perencanaan yang didesentralisasikan, pemerintah Kabupaten/Kota merupakan daerah otonomi, yang diberikan pemerintah pusat untuk mengelola dan mengatur keuangan daerahnya sesuai dengan aspirasi masyarakat setempat dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku (Adisasmita, 2013:94).

B. Rumusan Masalah.

Dengan latar belakang penelitian yang dikemukakan pada Bab I bagia A, maka rumusan masalah yang dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui seberapa besar pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013-2017 di Provinsi Sumatera Selatan?

15 2. Pertumbuhan masih bergantung terhadap sektor konsumsi sehingga

investasi menjadi solusi oleh karena itu mengetahui seberapa besar investasi yang dibutuhkan di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2013-2017 untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tertentu?.

3. Dengan dilakukannya investasi sebagai dasar mencapai pertumbuhan maka perlu diketahui seberapa besar tenaga kerja yang dapat diserap di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2013-2017?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Beradasarkan permasalahan yang di rumuskan di Bab I pada bagian B, maka tujuan penelitian ini dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :

a. Dengan adanya kebijakan MP3EI (Materplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), Provinsi Sumatera Selatan merupakan bagian dari bagian dari koridor ekonomi Sumatera dan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi yang dimiliki daerah tersebut sehingga memerlukan proyeksi untuk melakukan perencanaan perekonomin kedepan.

b. Dengan keadaan keuangan daerah Provinsi Sumatera Selatan yang kurang mampu melakukan pembiayaan atau belanja modal maka perlu dilakukan Proyeksi investasi yang merupakan bagian dari perencanaan dalam meningkatkan petumbuhan ekonomi.

16 c. Investasi sebagai salah satu cara dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Selatan diharapkan dapat menyerap tenaga kerja di daerah tersebut.

2. Manfaat penelitian.

Penelitian diharapkan menjadi rujukan atau inspirasi sebagai pedoman bagi peneliti lainnya yang berminat di bidang ini:

Dokumen terkait