BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Pertumbuhan Penduduk
2.3.1. Sejarah Pertumbuhan Penduduk
Para ahli kependudukan memperkirakan penduduk dunia sekitar 250 juta pada saat lahirnya Nabi Isa. Sedangkan kapan manusia mulai mendiami bumi ini, diperkirakan sejak 2 juta tahun yang lalu. Dari tahun 0 – tahun 2000 penduduk dunia berkembang lambat sampai pertengahan abad ke 17. Pada sekitar tahun 1665 penduduk dunia diperkirakan sebesar 500 juta. Penduduk dunia kemudian meningkat menjadi 2 kali lipat dalam jangka waktu 200 tahun yaitu pada tahun 1850. dalam jangka waktu 80 tahun kemudian penduduk dunia menjadi 2 kali lipat, yaitu pada tahun 1930. sedangkan untuk mencapai 4 milyar kemudian, hanya diperlukan waktu 45 tahun.
Pertumbuhan penduduk yang makin cepat ini dapat dimengerti apabila kita melihat adanya penemuan Penicillin pada tahun 1930 dan program kesehatan masyarakat yang makin meningkat sejak tahun 1960-an. Dengan perkembangan teknologi obat-obatan maka angka kematian menurun sedangkan angka kelahiran masih tetap tinggi sehingga membuat kedua angka tersebut makin besar. Dengan kata
lain pertumbuhan penduduk makin cepat. Pertumbuhan penduduk yang makin cepat tersebut, mengundang banyak masalah.
2.3.2. Pertumbuhan Penduduk Dan Pembangunan Ekonomi
Jumlah penduduk biasanya dikaitkan dengan pertumbuhan ‘income per capita’ negara tersebut. Yang secara kasar mencerminkan perekonomian negara tersebut. Ada yang berpendapat bahwa jumlah penduduk yang besar adalah sanagat menguntungkan bagi pembangunan ekonomi. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa penduduk yang sedikit yang dapat mempercepat pembangunan ekonomi ke arah yang lebih baik. Disamping itu ada pendapat yang mengatakan bahwa jumlah penduduk suatu negara harus seimbang dengan jumlah sumber – sumber ekonominya, baru dapat diperoleh kenaikan pendapatan nasional. Inilah yang dikenakan dengan teori penduduk optimum.
Pertumbuhan ekonomi dibutuhkan dan merupakan sumber utama peningkatan standar hidup penduduk yang jumlahnya terus meningkat. Pada akhir abad 18 telah berkembang suatu pandangan yang mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk (population growth) akan sangat dibatasi oleh kemampuan alam untuk menyediakan kebutuhan – kebutuhan dasar (basic needs) dari penduduk yang jumlahnya terus meningkat itu. Jika penduduk bertambah lebih cepat daripada kemampuan ekonomi maka pertumbuhan penduduk harus dikendalikan atau dikontrol, sebab kalau tidak akan menyebabkan penderitaan umat manusia yang semakin berat.
2.3.3. Dinamika Penduduk
jumlah penduduk. Secara terus menerus akan dipengaruh oleh jumlah bayi yang lahir (menambah jumlah penduduk), tetapi secara bersamaan pula akan dikurangi oleh jumlah kematian yang terjadi pada semua golongan umur. Sementara itu Migrasi berperan yaitu “imigran” (pendatang) akan menambah dan “emigran” akan mengurangi jumlah penduduk.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh 4 komponen yaitu : kelahiran (fertilisasi), kematian (mortalitas), in-migration (migrasi
masuk) dan out-migation (migrasi keluar). Selisih kelahiran dan kematian disebut “reproductive change” (perubahan reproduktif) atau “natural increase” (pertumbuhan alamiah). Selisih antara in-imigration dan out-migration disebut “net- migration” atau migrasi netto. Jadi perubahan penduduk hanya dipengaruhi oleh 2 cara yaitu melalui perubahan reproduksi dan migrasi neto.
Pertumbuhan penduduk tersebut dapat dinyatakan dengan formulasi sebagai berikut :
Pt = PO + (B – D) + (Mi – MO)
Diman PO : Jumlah penduduk pada tahun dasar PT : Jumlah penduduk pada tahun tertentu B : Angka kelahiran
D : Jumlah kematian M0 : Migrasi keluar Mi : Migrasi masuk
2.3.4. Teori – Teori Kependudukan a. Teori Malthus
Malthus merupakan orang pertama yang berhasil mengembangkan suatu teori kependudukan yang komprehensif dan konsisten dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi. Thomas Robert Malthus, menyatakan apabila penduduk tidak ada pembatasan, akan berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat bebarapa bagian dari muka bumi ini. Tingginya pertumbuhan penduduk disebabkan oleh tingginya tingkat perkawinan antara laki – laki dan perempuan. Malthus berpendapat bahwa manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan, sedangkan laju pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk selalu mengikuti deret ukur sedangkan kemampuan untuk meningkatkan sarana-sarana jauh lebih lambat atau mengikuti deret hitung. Apabila tidak ada pembatasan pada laju pertumbuhan penduduk, maka manusia akan mengalami kekurangan bahan makanan. Inilah sumber kemelaratan dan kemiskinan manusia (Ida Bagoes, 2003)
Menurut Malthus pembatasan tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu Preventive checks, dan positip checks. Preventive checks adalah pengurangan penduduk melalui penekanan kelahiran. Positip checks adalah pengurangan penduduk melalui proses kematian. Apabila di suatu wilayah jumlah penduduk melalui jumlah persediaan bahan makanan, maka tingkat kematian akan meningkat mengakibatkan terjadinya kelaparan, wabah penyakit dan sebagainya. Proses ini akan terus berlangsung sampai jumlah penduduk seimbang dengan persediaan bahan pangan.
b. John Stuar Mill
John Stuart Mill, menerima pendapat Malthus mengenai laju pertumbuhan penduduk melampaui laju pertumbuhan bahan makanan sebagai suatu aksioma. Namun dia berpendapat bahwa pada situasi tertentu manusia dapat mempengaruhi perilaku demografinya. Selanjutnya ia mengatakan apabila produktivitas seseorang tinggi ia cenderung ingin mempunyai keluarga yang kecil. Dalam situasi yang seperti ini fertilasi rendah. Tidaklah benar bahwa kemiskinan tidak dapat dihindarkan (seperti dikatakan Malthus) atau kemiskinan itu disebabkan karena sistem kapitalis dengan mengatakan kalau suatu waktu disuatu waktu disuatu daerah terjadi kekurangan bahan makanan, maka keadaan ini hanyalah bersifat sementara saja. Pemecahannya ada dua kemungkinan yaitu mengimport bahan makanan atau memindahkan sebagian penduduk wilayah tersebut ke wilayah lain.
John Stuart Mill berpendapat bahwa pada situasi tertentu manusia dapat mempengaruhi perilaku demografinya. Selanjutnya ia mengatakan apabila produktivitas seorang tinggi ia cenderung ingin mempunyai keluarga yang kecil. Dalam situasi seperti ini fertilitas akan rendah. Jadi taraf hidup (standard of living) merupakan determinan fertilitas.
Dengan memperhatikan bahwa tinggi rendahnya kelahiran ditentukan oleh manusia itu sendiri, maka Mill menyarankan untuk meningkatkan golongan yang tidak mampu. Dengan meningkatnya pendidikan penduduk maka secara rasional mereka akan mempertimbangkan perlu tidaknya menambah anak sesuai dengan karir dan usaha yang ada.
c. Arseno Dumont
Arseno melancarkan teori penduduk baru yang disebut dengan Teori Kapilaritas Sosial (theori of sosial capilary). Kapilaritas sosial mengacu kepada keinginan seseorang untuk mencapai kedudukan yang tinggi di masyarakat untuk mencapai itu keluarga yang besar merupakan beban berat dan perintang.
d. Emile Durkheim
Durkheim menekankan perhatiannya pada keadaan akibat adanya pertumbuhan penduduk. Ia mengatakan pada suatu wilayah dimana angka kepadatan penduduknya tinggi akibat dari tingginya laju pertumbuhan penduduk, akan timbul persaingan diantara penduduk untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam usaha itu tiap orang berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan dan mengambil spesialisasi tertentu.
e. Michael Thomas Sadler dan Doubleday
Sadler mengatakan bahwa adanya reproduksi manusia dibatasi oleh jumlah penduduk yang ada di suatu wilayah atau negara. Jika kepadatan penduduk tinggi, daya reproduksi manusia akan menurun, sebaliknya jika kepadatan penduduk rendah, daya produksi akan meningkat.
Doubleday berpendapat bahwa day reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan bahan makanan yang tersedia. Kekurangan bahan makanan merupakan perangsang bagi reproduksi manusia, sedangkan kelebihan makanan justru merupakan faktor pengekang pertumbuhan penduduk. Dalam golongan masyarakat yang berpendapat rendah, seringkali terdiri dari penduduk dengan keluarga besar,
keluarganya kecil. Dalam situasi yang seperti ini fertilisasi rendah. Tidaklah benar bahwa kemiskinan tidak dapat dihindarkan (seperti dikatakan Malthus) atau kemiskinan itu disebabkan karena sistem kapitalis.