BAB V KAJIAN TIPOLOGI PERMUKIMAN DESA BESILAM
5.2. Pertumbuhan Permukiman Etnik Melayu di Dusun 2 Desa
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap tokoh- tokoh yang memahami permukiman ini maka dapat diambil hasil perkembangan permukiman pada Dusun 2 Desa Besilam Babussalam.
Gambar 5.1. Bentuk awal permukiman pada tahun 1881
Seperti yang dilihat pada Gambar 5.1, bentuk awal permukiman adalah hutan yang sebagian besarnya ditanami palawija, durian cempedak, enau dan sebagian lagi kebun lada. Seperti yang diungkapkan Kostof (1991), bentuk permukiman pada awalnya adalah hutan yang kemudian dibebaskan dan dirambah untuk dijadikan perkampungan. Pada saat itu tepatnya tahun 1881, Syekh Abdul Wahab beserta keluarga dan rombongan pindah dengan resmi ke Babussalam. Sehingga pada saat itu membuat Syekh Abdul Wahab bekerja keras, merintis dan merambah hutan untuk dijadikan perkampungan. Seperti yang disebutkan Kostof (1991:12), pendiri dari suatu permukiman bisa berasal dari apapun. Dalam hal ini pendiri awal permukiman di Dusun 2 Desa Besilam Babussalam adalah orang Melayu asli yang datang langsung dari Riau.
Selanjutnya pada sekitar tahun 1882-1901 mulailah Syekh Abdul Wahab melakukan pembangunan. Pada periode ini permukiman sudah mulai tumbuh pada sisi timur dari Desa Dusun 2 (Gambar 5.2). Bentuk massa bangunan cenderung persegi panjang yang berdekatan antara satu banguna dengan bangunan lain di area hutan yang dibuka. Massa bangunan terhadap massa bangunan lainnya berdiri dengan orientasi pada arah timur dan barat. Sisi memanjang dari massa bangunan hunian bertemu dengan sisi memanjang lainnya membentuk ruang luar yang sempit. Pada sisi bangunan yang lain juga terbentuk ruang luar yang linear dan tidak sempit karena jarak orientasi antara sisi bangunan yang memanjang lebih lebar. Terdapat enam bangunan yang pada mulanya menempati Desa Dusun 2. Pembangunan pertama yang dilakukan ialah mendirikan sebuah Mandarsah tempat shalat bagi laki-laki dan wanita. Luas Mandarsah ini 10x6 depa yang
dibuat dengan kayu-kayu sederhana. Kemudian Syekh Abdul Wahab membangun rumah suluk, khusus laki- laki dan wanita. Setelah itu Syekh Abdul Wahab membangun rumah fakir miskin dan tempat penampungan anaak-anak yatim piatu dan janda-janda. Beberapa tahun kemudian, dibangun pula sebuah rumah tempat tinggalnya sekeluarga di samping Mandarsah dengan ukuran 9x45 m yang terdiri dari beberapa buah kamar. Kamar-kamar ini disediakan untuk tempat anak-anak istri beliau serta tamu-tamu terhormat. Antara rumah tempat kediaman dengan Mandarsah dihubungkan oleh dua jembatan kayu. Sebuah untuk pria dan sebuah lagi untuk wanita. Rumah ini disebut juga Mandarsah Kecil.
Pada tahun 1888, Mandarsah diganti dengan yang baru. Ukurannya 23x8 depa dengan tiang kayu, teras medang, lantai dan dinding papan serta atap nipah. Tetapi pada tahun 1888, Syekh Abdul Wahab dituduh membuat uang palsu di Kampung Babussalam. Akibatnya beliau pindah ke Malaysia mengajar dan mengembangkan ilmu agama sampai tahun 1891. Selama dua tahun yaitu sekitar tahun 1892-1893, Kampung Babussalam dalam keadaan sepi dan terlantar. Yang ada di Babussalam pada saat itu hanyalah 7 buah rumah. Kebun-kebun semak, terlantar dan tidak terurus. Tumbuh-tumbuhan kelapa, durian, rambutan, dan mangga tidak terawat dengan baik. Mandarsah dan tempat kediaman Tuan Guru sudah lapuk. Atapnya bocor dan rumput di sekitar halaman sudah tinggi. Dengan kondisi Kampung Babussalam yang tidak terawat maka Sultan Musa menghimbau Tuan Guru untuk kembali ke Babussalam. Akhirnya pada tahun 1894, Syekh Abdul Wahab kembali ke Kampung Babussalam setelah melakukan perjalanan ke Johor dan Riau. Pada saat itulah Syekh Abdul Wahab kembali membangun
Kampung Babussalam. Pada periode ni belum ada jalan. Penghuni menggunakan ruang luar yang ada untuk bersirkulasi.
Gambar 5.2. Bentuk permukiman pada tahun 1882-1901
Sumber: Digambar Ulang
Kemudian pada sekitar tahun 1902-1921 penambahan rumah terlihat signifikan pada area depan Mandarsah seperti terlihat pada Gambar 5.3. Terdapat 16 penambahan rumah dengan massa bangunan yang lebih kecil dan berdekatan antara satu bangunan dengan bangunan lain di area hutan yang dibuka. Massa bangunan terhadap massa bangunan lainnya berdiri dengan orientasi pada arah
timur. Penghuni permukiman adalah masyarakat yang berperan dalam membuka hutan dan juga masyarakat pendatang. Rata-rata rumah tersebut didiami oleh keluarga Tuan Guru yang datang dari Riau. Jalan yang menghubungkan rumah- rumah tersebut masih berupa jalan tikus, yang harus dilalui warga dengan susah payah. Pada tahun 1906 Mandarsah diperbaharui kembali. Ukurannya 25x52 m dengan tiang kayu, pondasi batu, atap genteng, dinding papan dan bermenara tinggi. Untuk sampai ke menara orang harus melalui 6 tingkatan.
Pada kisaran tahun 1906-1916, Syekh Abdul Wahab membuka sebuah perkebunan jeruk manis di suatu areal tanah di Kampung Babussalam. Syekh Abdul Wahab juga membuka perkebunan karet, lada hitam, kebun pala, kopi, pinang, durian, rambutan, jeruk dan kelapa. Mengingat kemajuan Babussalam, maka diperlukan suatu usaha dalam bidang penerbitan. Maka pada tahun 1907 dibelilah sebuah mesin cetak pertama di Langkat.
Gambar 5.3. Bentuk permukiman pada tahun 1902-1921
Sumber: Digambar Ulang
Kemudian pada sekitar tahun 1922-1961 terlihat penambahan rumah penduduk mulai meningkat. Permukiman sudah mulai tumbuh pada sisi selatan, barat daya, barat dan utara dari Desa Dusun 2. Hal tersebut juga dapat terlihat dengan adanya pola sirkulasi jalan utama di dalam permukiman yang sebelumnya hanya berupa jalan tikus. Penambahan rumah di masa ini terlihat cukup banyak pada bagian depan permukiman seperti yang terlihat pada Gambar 5.4. Rumah- rumah yang terdapat di bagian depan tumbuh secara signifikan mengingat jalan
besar yang di depan semakin baik dan telah munculnya jalan utama maupun jalan kecil menuju ke dalam permukiman. Jalan-jalan kecil yang muncul pada tahun ini terbentuk di antara celah kosong di sisi rumah-rumah penduduk di Dusun 2 Desa Besilam Babussalam.
Pada tahun 1927 dimulailah pembangunan makam yang terbuat dari batu dengan ukuran 24x45 m oleh H.Yahya. Makam ini terdiri dari 3 ruangan besar, memanjang dari utara ke selatan. Pada tahun 1928-1945, Pakih Tuah diangkat menjadi Kepala Kampung Babussalam. Pembangunan yang dilakukannya adalah mengepalai pembangunan sebuah rumah janda dan orang-orang terlantar khusus wanita, yang terletak dekat kolam tak jauh dari madrasah besar dengan ukuran 20x20 m. Terdiri dari dua tingkat dan dapat menampung puluhan janda. Di atas loteng disediakan tempat untuk mengaji. Pembangunan lain yang dilakukannya adalah membangun 3 buah sumur pompa untuk umum, masing-masing terletak di lorong barat, dekat makam almarhum dan sebagian lagi dekat Madrasah Besar bahagian wanita. Selain itu juga membangun jalan raya antara Kampung Babussalam dan Tanjung Pura. Padatahun 1952-1960, Pakih Tuah dan Pakih Muhammad meneruskan pembangunan makam dengan memperbaiki dan menambah kubah di puncak ruangan tengah. Sesudah Pakih Tuah meninggal dunia, maka usaha pembangunan ini diteruskan pula oleh puteranya, H.A. Majid dengan dibantu oleh adik-adiknya yang lain.
Gambar 5.4. Bentuk permukiman pada tahun 1922-1961
Sumber: Digambar Ulang
Selanjutnya pada tahun 1962-2001, penambahan rumah terlihat signifikan pada area belakang Mandarsah seperti terlihat pada Gambar 5.5. Akan tetapi penambahan rumah jumlahnya tidak jauh berbeda seperti pada tahun 1922-1961. Banyak penambahan rumah yang berasal dari keluarga yang telah ada sebelumnya. Kondisi pola jalan juga terjadi penambahan. Pada tahun ini dibangunlah panti asuhan dan tambak ikan oleh masyarakat dengan gotong royong. Tambak ikan yang dibangun warga digunakan sebagai suatu ruang luar
yang digunakan masyarakat Desa Dusun 2 untuk bersosialisasi. Susunan rumah- rumah penduduk diatur dengan rapi, sehingga terdapat lorong-lorong untuk masing-masing suku.
Gambar 5.5. Bentuk permukiman pada tahun 1962-2001
Sumber: Digambar Ulang
Pada tahun 1989, makam Syekh Abdul Wahab telah diperbaiki atas bantuan H. Adnan Matkudin, Direktur Pt. Faduco Jl. Ismailiyah No 159 Medan. H. Adnan Matkudin juga memperbaiki Madrasah Kecil. Bantuan tersebut adalah
wakaf dari H. Adnan Matkudin dengan ikhlas. Pada tahun 1992, dibangunlah sebuah benteng untuk mengatasi ancaman banjir di sepanjang Sungai Batang Serangan oleh pemerintah (Gambar 5.6). Pada tahun1996, gedung asrama pelajar sudah lapuk. Maka daripada itu seorang pengusaha dari Medan bernama Rahmatsyah mengganti dengan gedung baru sebagai wakaf. Gedung ini dipergunakan sebagai balai pertemuan umum dan pada musim HUL gedung ini dipergunakan sebagai tempat menginap para tamu.
Gambar 5.6. Bentuk benteng yang berada di belakang permukiman
Kemudian perkembangan permukiman berlanjut sampai sekarang ini yaitu tahun 2014. Pada tahun ini hanya terdapat sedikit penambahan rumah. Di masa ini lebih memfokuskan kepada perbaikan gedung dan rumah yang ditata dengan rapi. Jalan utama sudah diaspal dan dalam kondisi yang baik. Hingga saat ini lahan
kosong yang berada di Dusun 2 Desa Besilam Babussalam dipakai warga untuk menanam buah-buahan dan sayuran.
Gambar 5.7. Bentuk permukiman pada tahun 2002-2014
Adapun klasifikasi tipologi permukiman etnik Melayu di Dusun 2 Desa Besilam Babussalam Langkat secara ringkas ditunjukkan pada tabel 5.1 di bawah ini.
Tabel 5.1 Tipologi Permukiman Etnik Melayu di Dusun 2 Desa Besilam Babussalam Langkat
Periode Terbentuknya Permukiman Bentuk Permukiman
Tahun 1881 - Permukiman belum terbentuk
Periode Terbentuknya Permukiman Bentuk Permukiman
Tahun 1882-1901 - Permukiman sudah mulai tumbuh
pada sisi timur dari Desa Dusun 2 - Terdapat enam bangunan yang pada
mulanya menempati Desa Dusun 2 - Penghuni permukiman adalah
masyarakat yang juga berperan dalam membuka hutan untuk digunakan sebagai area penelitian
- Bentuk massa bangunan cenderung persegi panjang yang berdekatan antara satu bangunan dengan bangunan lain di area hutan yang dibuka
- Massa bangunan terhadap massa bangunan lainnya berdiri dengan orientasi pada arah timur dan barat
1) Sisi memanjang dari massa bangunan hunian bertemu dengan sisi memanjang bangunan lainnya membentuk ruang luar yang sempit
juga terbentuk ruang luar yang linear dan tidak sempit karena jarak orientasi antara sisi bangunan yang memanjang lebih lebar
- Pada periode ini belum ada jalan Penghuni menggunakan ruang luar yang ada untuk bersirkulasi
Tahun 1902-1921 - Permukiman sudah mulai tumbuh
pada sisi utara dari Desa Dusun 2
- Terdapat penambahan 16 bangunan
dengan massa bangunan yang lebih
kecil
- Penghuni permukiman adalah
masyarakat yang juga berperan dalam
membuka hutan
- Bentuk massa bangunan cenderung
lebih kecil yang berdekatan antara satu
bangunan dengan bangunan lain di
- Massa bangunan terhadap massa
bangunan lainnya berdiri dengan
orientasi pada arah timur
- Pada periode ini belum ada jalan
Penghuni menggunakan ruang luar
yang ada untuk bersirkulasi
Tahun 1922-1961 - Permukiman sudah mulai tumbuh
pada sisi selatan, barat daya, barat dan
utara dari Desa Dusun 2
- Penambahan rumah penduduk terlihat
lebih signifikan
- Penghuni permukiman adalah
masyarakat yang berperan dalam
membuka hutan dan juga masyarakat
pendatang
- Pada periode ini sudah terdapat jalan
utama dan jalan setapak yang bisa
Periode Terbentuknya Permukiman Bentuk Permukiman
Tahun 1962-2001 - Permukiman sudah mulai tumbuh
pada sisi selatan, barat daya, timur laut, timur, tenggara dan utara dari Desa Dusun 2
- Penambahan rumah penduduk terlihat lebih signifikan
- Penghuni permukiman adalah masyarakat yang berperan dalam membuka hutan dan juga masyarakat pendatang
Tahun 2002-2014 - Pada periode ini, tidak terjadi penambahan rumah
- Pada periode ini lebih memfokuskan
untuk memperbaiki bangunan yang
rusak
- Lebih menata dengan rapi
permukiman
Dari kondisi permukiman di masa sekarang dapat terlihat bahwa permukiman pada Dusun 2 Desa Besilam Babussalam termasuk kategori permukiman yang tumbuh secara tidak terencana berpola linear. Karakteristik permukiman tradisional Melayu awalnya berupa pola sebaran rumah yang berbanjar mengikuti sungai atau jalan. Jarak antara rumah yang satu dengan rumah lainnya tidak terlalu dekat dan kepadatan bangunannya rendah dengan vegetasi alami yang rindang di sekitarnya. Menurut Yuan (1987), tidak seperti pola sebaran rumah di permukiman modern yang rigid, pola sebaran rumah tradisional Melayu dibangun secara acak dan tidak berpola sehingga memungkinkan angin dapat bergerak secara alami dengan bebas mengikuti alirannya tanpa terhalang oleh bangunan rumah. Selain itu, tidak ada batasan yang jelas antara area lahan rumah yang satu dengan yang lainnya. Terkadang tidak semua rumah memiliki akses langsung terhadap jalan utama, namun harus melalui pekarangan rumah tetangga yang ada di depannya.
5.3. Tipologi Permukiman Etnik Melayu di Dusun 2 Desa Besilam