• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. KARAKTERISASI EFLUEN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

2. Pertumbuhan Tanaman Eceng Gondok ( Eichhornia crassipes )

Kemampuan tanaman eceng gondok dalam menyerap nitrogen sebagai nutrien selain ditunjukkan dengan nilai laju petumbuhan relatif tanaman (RGR), ditunjukkan pula dengan adanya pertumbuhan tanaman selama waktu pengamatan. Adapun pertumbuhan tanaman tersebut

meliputi pertambahan jumlah helai tanaman, tinggi rata-rata tanaman dan diameter rumpun dari tanaman.

Kemampuan tanaman eceng gondok untuk tumbuh di dalam air sangat bervariasi tergantung pada kandungan unsur hara yang terdapat di dalamnya. Seperti halnya tumbuhan lain,unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman eceng gondok terdiri dari unsur makro: N, P, K, Ca, Mg, Fe, serta unsur mikro: Mn, Zn, dan Cu (Gopal, 1987). Eceng gondok masih dapat tumbuh dalam keadaan miskin unsur hara dan pada perairan yang subur tanaman ini dapat berkembang biak dengan cepat.

Berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman eceng gondok, semua eceng gondok yang ditanam pada kolam percobaan mengalami perubahan jumlah helai daun, tinggi rata-rata tanaman dan diameter tanaman. Kondisi pertumbuhan tanaman ini dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini:

Tabel 9. Kondisi pertumbuhan tanaman

Waktu (hari) Perlakuan Parameter 0 3 6 9 Jumlah Helai 33 34 36 38 Tinggi rata-rata 11,71 12,72 12,85 13,25 A1 Diameter rumpun 8.31 9.91 9.73 11.59 Jumlah Helai 60 62 63 65 Tinggi rata-rata 10,73 11,82 10,8 10,85 A2 Diameter rumpun 7.2 8.83 10.23 9.68 Jumlah Helai 31 35 40 41 Tinggi rata-rata 11,59 12,05 11,33 12,07 B1 Diameter rumpun 7.32 7.84 7.59 8.5 Jumlah Helai 47 50 56 63 Tinggi rata-rata 9,68 10,91 12,01 12,35 B2 Diameter rumpun 7.13 9.58 9.1 10.25

Pertambahan jumlah helai daun terbanyak terdapat pada tanaman eceng gondok yang ditanam pada kolam B2, yaitu sebanyak 16 helai daun (dari 47 helai menjadi 63 helai daun), kemudian pada kolam B1 (10 helai

daun) dan, A2 dan B2 mengalami pertambahan jumlah helai daun yang sama, yaitu 5 helai daun.

Adanya peningkatan jumlah helai daun menunjukkan bahwa tanaman eceng gondok mampu berkembang biak selama waktu pengamatan. Selain itu dengan adanya peningkatan tinggi rata-rata tanaman dan pertambahan diameter rumpun tanaman membuktikan bahwa pada kolam percobaan terdapat unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk proses tumbuh dan berkembang dan tanaman eceng gondok memiliki kemampuan untuk menyerap unsur hara dalam kolam percobaan tersebut, sehingga terjadi perubahan pada ketiga parameter tersebut selama waktu pengamatan.

Selain karena tanaman memperoleh nutrisi untuk pertumbuhannya, terdapat faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman eceng gondok, di antaranya adalah terdapat cahaya yang cukup yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh. Hal ini dikarenakan kolam percobaan diletakkan pada lingkungan yang terbuka sehingga cahaya dapat masuk dan membantu pertumbuhan tanaman.

Untuk perubahan tinggi rata-rata tanaman, pertambahan tinggi rata- rata terbesar terdapat pada kolam B2 (9.68 cm menjadi 12.35 cm), kemudian pada kolam A1 (11.71 menjadi 13.25), B1 (11.59 menjadi 12.07) dan pertambahan tinggi rata-rata terendah pada kolam A2 (10.73 menjadi 10.85). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa jumlah nitrogen dalam efluen dan bobot basah tanaman memberikan pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap perubahan tinggi rata-rata tanaman pada keempat kolam percobaan.

Kondisi tersebut di atas terjadi karena kolam B2 memiliki volume air sebanyak 120 l dengan beban nitrogen 433 mg dan bobot tanaman sebesar 618 g atau penutupan permukaan kolam sebesar 50%. Hal ini menyebabkan tanaman lebih banyak memperoleh cahaya dibandingkan dengan tanaman pada kolam percobaan dengan volume 60 l, selain itu dengan jumlah beban nitrogen yang cukup tinggi menyebabkan terpenuhinya nutrien yang dibutuhkan oleh tanaman untuk

pertumbuhannya, sehingga mempercepat pertambahan tinggi rata-rata tanaman dibandingkan dengan kolam yang lain.

Kemampuan untuk tumbuh pada tanaman disebabkan karena adanya kemampuan untuk menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Senyawa-senyawa organik yang terdapat di dalam air akan diuraikan menjadi zat anorganik berupa unsur-unsur C, H, O, dari karbohidrat dan lemak dan unsur-unsur C, H, O, N, S, P dari protein dalam bentuk misalnya ion-ion NO3-, NH4+, dan PO42-. Senyawa ini akan ditimbun dalam vakuola, dan digunakan oleh tanaman untuk keperluan pertumbuhannya. Hal ini yang menyebabkan kecepatan pertumbuhan dan produktifitas tanaman eceng gondok menjadi tinggi.

Adanya peningkatan jumlah helai daun, tinggi dan panjang diameter rumpun eceng gondok dari awal pengamatan sampai dengan hari kesembilan menunjukkan bahwa tanaman eceng gondok mampu menyerap unsur hara yang terdapat pada air yang digunakan untuk pertumbuhannya. Adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan pada setiap tanaman dalam kolam percobaan disebabkan karena adanya perbedaan jumlah beban nitrogen awal pada tiap kolam percobaan. Tanaman eceng gondok dapat tumbuh dengan cepat pada kolam percobaan dengan beban nitrogen awal yang tinggi, seperti pada kolam B1 dan B2.

3. Pengaruh Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terhadap Kandungan Senyawa Nitrogen

Unsur nitrogen dalam perairan dapat berbentuk gas nitrogen (N2), ammonia (NH3) terlarut atau senyawa ammonium (NH4+), nitrit (NO2) dan nitrat (NO3) yang merupakan mata rantai daur (siklus) nitrogen dalam perairan alami.

Nitrogen total adalah gambaran nitrogen dalam bentuk organik dan anorganik pada air limbah (Davis dan Cornwell, 1991). Nitrogen total merupakan penjumlahan dari nitrogen anorganik yang berupa N-NO3, N- NO2, dan N-NH3 yang bersifat larut, dan nitrogen organik yang bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth et al., 1989).

Jumlah nitrogen total mengalami perubahan selama waktu pengamatan. Untuk lebih jelasnya perubahan ini dapat dilihat pada grafik berikut: 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 0 3 6 9 Waktu (hari) Tot a l N it roge n ( mg/ l) A1 A2 B1 B2

Gambar 9. Grafik perubahan nilai nitrogen total

Adanya perubahan total nitrogen menyebabkan perubahan senyawa- senyawa nitrogen yang lain, diantaranya ammonia dan nitrat. Perubahan total nitrogen disebabkan karena adanya proses reaksi pada kolam percobaan, di antaranya reaksi nitrifikasi yang mendekomposisi nitrogen menjadi nitrat menyebabkan perubahan pada kandungan nitrat dalam kolam pecobaan. Hal ini didukung dengan adanya nilai oksigen terlarut (DO) yang mencukupi untuk reaksi nitrifikasi. Adapun mekanisme yang terjadi pada kolam percobaan termasuk ke dalam mekanisme reaksi kolam aerobik, karena jumlah oksigen terlarut (DO) yang terdapat didalam air lebih dari 3 mg/l, sehingga pada kondisi ini tidak terjadi reaksi denitrifikasi. Apabila nilai kandungan oksigen terlarut tidak sesuai dengan kebutuhan reaksi nitrifikasi, maka kolam berada dalam kondisi anaerob dan senyawa nitrogen yang terbentuk di dalamnya adalah senyawa ammonia (NH3), sehingga jumlah total nitrogen akan berkurang dan jumlah senyawa ammonia akan mengalami peningkatan.

Penanaman eceng gondok pada kolam percobaan memberikan pengaruh terhadap kandungan ammonia. Selama penelitian berlangsung,

terjadi perubahan kandungan ammonia pada air kolam percobaan. Pada hari ketiga terjadi peningkatan kandungan amonia pada tiga kolam percobaan, yaitu pada kolam A2, B1, dan B2. Peningkatan kandungan ammonia ini disebabkan oleh kondisi kolam yang tidak diberi tambahan sistem aerasi, selain itu peningkatan ini dapat pula disebabkan oleh banyaknya nitrat yang diserap oleh akar tanaman untuk pertumbuhan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan kemudian diubah menjadi ammonia (ammonifikasi). Tingginya kandungan ammonia dapat pula disebabkan oleh limbah cair yang sebagian besar terdiri dari bahan organik berupa protein dan nitrogen yang berada dalam bentuk organik atau nitrogen protein dan ammonia (Abel, 1989). Nitrogen dalam bentuk protein dirombak menjadi amoniak dengan reaksi sebagai berikut:

Mikroba

Protein R- NH2 + CO2 + energi + hasil lain Mikroba

R- NH2 + HOH NH3 + R- OH + energi

Berikut ini grafik perubahan kandungan ammonia (NH3) selama waktu pengamatan: 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0 3 6 9 Waktu (hari) A m moni a ( m g /l ) A1 A2 B1 B2 Gambar 10. Pengaruh perlakuan terhadap kandungan ammonia (NH3)

pada efluen pengolahan limbah cair

Gambar 10 di atas menunjukkan bahwa mulai hari ke-0 kandungan

terjadi. Peningkatan kandungan ammonia terbesar pada hari ketiga terdapat pada sample B1, dimana pada sampel ini ditanami eceng gondok dengan bobot basah 350 g dan beban nitrogen 433 g dengan luas penutupan permukaan kolam percobaan 50%. Dengan penutupan luas permukaan kolam sebanyak 50% dan beban nitrogen 433 g menyebabkan jumlah ammonia yang terbentuk di dalamnya lebih banyak dibandingkan dengan kolam percobaan yang lain, karena peningkatan jumlah amonia dapat disebabkan oleh dekomposisi amonia tanaman ataupun binatang oleh bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepadatan eceng gondok dan jumlah beban nitrogen pada kolam percobaan memberikan pengaruh terhadap kandungan amonia pada air kolam percobaan. Selain itu, dilihat dari persentase penurunan ammonia pada kolam percobaan, kolam B1 menunjukkan persen penurunan ammonia yang tinggi (72.7%). Nilai ini menunjukkan bahwa tanaman eceng gondok mampu menurunkan senyawa ammonia dengan beban yang tinggi, tetapi pada tingkat kepadatan tanaman yang rendah, sehingga tidak terjadi persaingan antar tanaman dalam memperoleh nitrogen sebagai nutrisi. Kondisi ini menyebabkan tanaman memperoleh nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya dan membantu proses biologi yang berlangsung di dalam air.

Perubahan ammonia terjadi pada setiap waktu pengamatan, hal ini

menunjukkan bahwa lamanya waktu penyerapan yang dilakukan oleh tanaman eceng gondok mempengaruhi kandungan ammonia yang terdapat dalam kolam percobaan. Hal ini pun ditunjukkan dengan hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap penurunan ammonia pada efluen pengolahan limbah cair pada hari ke-6 dan hari ke-9. Dengan demikian dapat dilihat bahwa semakin lamanya waktu penyerapan, maka proses nitrifikasi yang berlangsung akan semakin lama. Dan kondisi tersebut pun mempengaruhi jumlah nitrat (NO3) yang terdapat dalam kolam percobaan.

Kandungan nitrat dan nitrit dapat digunakan sebagai indikator perairan. Parameter ini dalam perairan sangat tergantung pada ketersediaan

oksigen terlarut (DO), sumber dan tipe bahan organik, tipe dan kondisi perairan (Uhlman, 1979 dan Abel, 1989).

Nitrat merupakan senyawa penting, karena dalam bentuk nitrat lebih mudah diserap oleh tanaman air dan digunakan dalam fotosintesa. Dibandingkan dengan senyawa yang lain, nitrat tersedia dalam jumlah yang paling banyak dan sumber nitrat berasal dari difusi udara dan oksidasi nitrit (Orth dan Wilderer, 1987). Selain itu nitrat mewakili produk akhir dan pengoksidasian zat yang bersifat senyawa nitrogen, jadi jumlah nitrat menunjukkan lajunya pembenahan menuju oksidasi lengkap (Mahida, 1986).

Hasil analisa menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada penelitian ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan nitrat yang terdapat dalam air kolam percobaan. Hal ini dapat dilihat pada

grafik perubahan jumlah nitrat pada kolam percobaan berikut ini:

0 2 4 6 8 10 12 0 3 6 9 Waktu (hari) N it rat ( m g /l) A1 A2 B1 B2

Gambar 11. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Nitrat (NO3)

Gambar 11 di atas menunjukan bahwa laju penurunan nitrat sejalan dengan penurunan total nitrogen pada kolam percobaan. Tetapi kondisi ini berbanding terbalik dengan perubahan kandungan ammonia pada kolam percobaan. Pada tiga hari pertama, terlihat bahwa terjadi penurunan kandungan nitrat yang besar pada kolam percobaan. Setelah itu pada hari

berikutnya, nitrat berada pada kondisi dimana tidak terjadi penurunan dalam jumlah yang besar. Hal ini menunjukkan tingkat kemampuan tanaman dalam menyerap nitrat, dimana nitrat yang terdapat dalam efluen pengolahan limbah cair tidak dapat dihilangkan. Adanya penurunan kandungan nitrat dalam kolam percobaan sejalan dengan pertambahan kandungan ammonium yang terdapat pada kedua kolam percobaan tersebut.

Adanya penurunan kandungan nitrat yang diperoleh (>50%) menunjukkan bahwa dengan penanaman eceng gondok mampu menurunkan kandungan nitrat dalam air kolam percobaan. Hasil tersebut sesuai dengan yang didapat oleh Sato dan Kondo (1979) yang menyatakan bahwa dengan penanaman eceng gondok tingkat reduksi nitrat yang terjadi sebesar 78%.

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada keempat kolam percobaan tidak memiliki pengaruh yang nyata (P>0.05) terhadap perubahan nitrat pada efluen pengolahan limbah cair. Lamanya waktu penyerapan mempengaruhi perubahan kandungan nitrat. Hal ini pun dapat dilihat pada grafik perubahan nitrat, dimana pada hari ketiga pengujian, nitrat mengalami penurunan yang cukup besar, kemudian pada hari ke-6 mulai mengalami peningkatan hingga proses oksidasi selesai. Hasil rata-rata pada akhir pengamatan menunjukkan terjadi penurunan kandungan nitrat dari 3.5 mg/l menjadi 1.15 mg/l. Hal tersebut menunjukkan semakin lama waktu penyerapan akan menurunkan kadar nitrat hingga akhir pengamatan.

Berbeda halnya dengan perubahan kandungan ammonia pada kolam percobaan. Persentase penurunan nitrat terbesar terdapat pada kolam A1, dimana pada kolam percobaan ini beban nitrogen yang terdapat di dalamnya lebih kecil dibandingkan dengan kolam yang lain, selain itu bobot basah tanaman eceng gondok dan persen penutupan permukaan kolam percobaan pun lebih kecil dibandingkan dengan kolam yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa eceng gondok dapat menurunkan jumlah

nitrat dengan optimal pada beban nitrogen rendah dan jumlah eceng gondok yang rendah pula, seperti pada kolam A1.

Secara umum terjadi pola perubahan total nitrogen, ammonia dan nitrat selama waktu pengamatan. Seperti halnya pada tiga hari pertama terjadi peningkatan kandungan ammonia pada semua kolam percobaan, tetapi sebaliknya terjadi penurunan kandungan nitrat dan total nitrogen yang cukup besar pada semua kolam. Hal ini menunjukkan bahwa pada tiga hari pertama eceng gondok lebih banyak menyerap nitrat dan terjadi pembentukan ammonia (ammonifikasi), senyawa nitrat digunakan oleh tumbuhan eceng gondok untuk pertumbuhannya. Hal ini didukung oleh pernyataan Orth dan Wilderer (1987) yang mengatakan bahwa nitrat merupakan senyawa terpenting karena dalam bentuk nitrat lebih mudah diserap oleh tanaman air dan dapat digunakan dalam proses fotosintesa. Pada hari keenam, kandungan ammonia mengalami penurunan pada kolam percobaan dengan volume 120 l (kolam B) dan peningkatan jumlah ammonia pada kolam percobaan dengan volume 60 l (kolam A). Hal ini dapat dikaitkan dengan nilai oksigen terlarut (DO) pada masing-masing kolam percobaan. Nilai oksigen terlarut (DO) pada kolam percobaan dengan volume 120 l lebih besar dibandingkan dengan kolam percobaan bervolume 60 l. Kondisi ini menyebabkan terjadinya reaksi nitrifikasi pada kolam percobaan B, dimana oksigen yang ada dalam jumlah yang cukup membantu proses nitrifikasi yang mengubah ammonia menjadi nitrat, sehingga terdapat peningkatan jumlah nitrat.

Pada perubahan senyawa nitrogen ini, perubahan terbesar yang terjadi adalah pada senyawa nitrat (>50%). Jumlah beban nitrogen dan bobot basah eceng gondok mempengaruhi kondisi proses yang terdapat dalam kolam percobaan. Selain itu jumlah beban nitrogen, bobot basah eceng gondok dan kondisi proses pun mempengaruhi perubahan senyawa nitrogen yang terdapat dalam kolam percobaan. Adapun kondisi proses tersebut di antaranya adalah pH, suhu, dan oksigen terlarut (DO).

Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa perlakuan yang diberikan tidak memiliki pengaruh terhadap nilai pH. Secara umum nilai

pH berkisar antara 7.33 sampai dengan 8.21. Namun demikian mulai hari ketiga pH air limbah mengalami peningkatan pada semua perlakuan. Adanya peningkatan nilai pH ini terkait dengan penguraian bahan organik protein menjadi ammonia oleh bakteri aerobik yang menghasilkan CO2, H2O, dan NH3 dengan proses kimia sebagai berikut:

CxHyOzN + O2 CO2 + H2O + NH3 (Pandia et.,al,1995: Effendi 2003)

Penguraian bahan organik dilakukan oleh bakteri aerobik, sampai tingkat NH3 ini dikenal sebagai ammonifikasi. Selain pH, oksigen yang terlarut dalam air pun mempengaruhi reaksi-reaksi yang terjadi pada kolam percobaan. Kandungan oksigen terlarut dalam air sangat diperlukan oleh mikroorganisme pengurai untuk menguraikan bahan-bahan organik biodegradable, menjaga kelestarian reproduksi jenis, kesuburan dan perkembangan populasi. Kandungan oksigen dalam air sangat menentukan penyebaran hewan yang terdapat di dalamnya.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah oksigen yang terlarut dalam suatu perairan antara lain adalah suhu, salinitas, turbulensi perairan dan tekanan udara. Suatu perairan dengan nilai DO 2 mg/l dapat menghindarkan kondisi yang mengganggu kehidupan di perairan itu. Boyd (1979) menyatakan bahwa 1 mg DO/l merupakan konsentrasi minimal untuk ikan pada periode istirahat. Kematian ikan dapat dicegah dengan menjaga kondisi konsentrasi DO 3 mg/l. Sedangkan menurut NTAC (1968) agar kegiatan perikanan dapat berhasil dan layak, maka nilai DO dalam perairan harus dijaga tidak kurang dari 4 mg/l.

Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwa perubahan kandungan oksigen yang terjadi tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pada kolam percobaan nilai oksigen terlarut dapat dijaga dalam kondisi aerob. Kondisi ini mendukung tanaman eceng gondok dalam menyerap senyawa nitrogen dalam efluen. Perlakuan yang ditanami tanaman eceng gondok dengan bobot (basah) yang lebih tinggi dan penutupan 50% memiliki

kandungan oksigen yang paling rendah. Kondisi ini disebabkan karena proses fotosintesa eceng gondok terjadi di permukaan, sehingga oksigen yang dihasilkan lepas ke udara. Wahlquist (1974) menyatakan bahwa kandungan oksigen dibawah perakaran eceng gondok sangat rendah, yang disebabkan oleh respirasi dan rendahnya proses fotosintesis, dan sebaliknya CO2 bebas sangat tinggi. Menurut Mitchell (1974) adanya eceng gondok menyebabkan kandungan oksigen terlarut rendah dibandingkan dengan perairan terbuka.

Gambar 12. Pengaruh Perlakuan terhadap kandungan oksigen terlarut (DO, mg/l)

Gambar 12 menunjukkan bahwa pada hari pertama sampai dengan hari ke-6 kandungan oksigen selama pengujian mengalami peningkatan. Hal ini dapat disebabkan oleh kandungan bahan organik yang berada dalam jumlah sedikit, sehingga oksigen yang diperlukan untuk proses dekomposisi juga sedikit. Kehilangan oksigen dapat disebabkan karena adanya oksigen digunakan oleh eceng gondok untuk respirasi.

Apabila dilihat hubungan antara grafik oksigen terlarut dengan perubahan kandungan nitrat, ammonia dan nitrogen total. Maka terdapat pengaruh oksigen terlarut, beban nitrat dan jumlah tanaman eceng gondok yang ditanam pada kolam percobaan terhadap penurunan ketiga parameter tersebut. 3.32 3.973.92 3.954.36 4.05 4.49 3.65 4.51 4.11 5.11 4.29 3.8 3.34 4.55 3.88 0 1 2 3 4 5 6 DO (m g/l) 0 3 6 9 Waktu (hari)

Grafik kandungan Oksigen Terlarut (DO, mg/l)

A1 A2 B1 B2

Penurunan oksigen terlarut terjadi pada tiga hari pertama, dimana penurunan terbesar terdapat pada kolam B2. Kondisi ini menyebabkan kandungan ammonia pada kolam percobaan meningkat, sebaliknya kandungan nitrat turun sejalan dengan turunnya jumlah nitrogen total yang terdapat dalam kolam percobaan. Begitu pula yang terjadi pada kolam percobaan yang lainnya. Namun pada saat oksigen terlarut mulai meningkat pada hari ke-6, kandungan ammonia akan turun dan nitrat akan meningkat begitu pula dengan nitrogen total. Kondisi ini dapat dilihat pada kolam percobaan B.

Gambaran kondisi di atas menunjukkan suatu hubungan antara oksigen terlarut dengan kandungan nitrogen total, nitrat, dan ammonia. Dimana pada saat oksigen terlarut berkurang, maka akan menyebabkan peningkatan ammonia dan pengurangan nitrat pada air kolam percobaan. Dan sebaliknya, pada saat oksigen terlarut meningkat, maka akan menyebabkan pengurangan ammonia dan peningkatan nitrat pada air kolam percobaan Hal ini pun dipengaruhi pula oleh jumlah eceng gondok yang ditanam dan beban nitrogen pada kolam percobaan.

Selain pH dan oksigen terlarut, kondisi lain yang mempengaruhi penyerapan senyawa nitrogen oleh eceng gondok adalah suhu. Perubahan suhu yang terjadi dapat disebabkan adanya perbedaan cuaca harian dari awal pengamatan sampai dengan hari terakhir pengamatan.

23 24 25 26 27 28 29 30 31 0 3 6 9 Waktu (hari) Su h u ( o C ) A1 A2 B1 B2

Suhu air limbah dalam kolam percobaan memiliki kecenderungan yang sama, baik untuk kolam A maupun maupun kolam B. Penurunan suhu yang terjadi memiliki hubungan dengan kepadatan eceng gondok yang ditanam. Semakin banyak permukaan kolam yang tertutupi oleh tanaman, maka akan semakin besar menghalangi pertukaran panas antara atmosfer dengan permukaan air (Aneja dan Singh, 1992). Sedangkan peningkatan suhu yang terjadi berkaitan dengan adanya hasil pernafasan, baik aerob maupun anaerob berupa CO2 yang berlebihan. Adanya hasil metabolisme mikroorganisme pada akar tanaman serta adanya penghancuran eceng gondok yang sudah mati. Suhu air buangan yang diberi perlakuan masih memiliki kisaran suhu yang normal karena masih berada di atas 10 oC dan di bawah 40 oC. Sehingga dengan demikian perubahan suhu yang terjadi tidak mempengaruhi proses reaksi yang terdapat pada kolam percobaan. Sehingga perubahan senyawa nitrogen yang terjadi disebabkan oleh adanya penanaman eceng gondok dalam kolam percobaan.

Dokumen terkait