METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
4.1 Perubahan Bunyi Bahasa Proto Austronesia Ke dalam Bahasa Melayu Riau Dialek Kampar
Perubahan bunyi merupakan tipe perubahan bunyi yang lebih meneropong perubahan bunyi secara individual, yaitu hanya mempersoalkan bunyi proto itu tanpa mengaitkannya dengan fonem-fonem lain dalam lingkungan yang dimasukinya. Ditemukan perubahan bunyi yaitu perubahan bunyi berdasarkan tempat yang terbagi menjadi tujuh antara lain adalah:
metatesis adalah proses perubahan bunyi yang berupa pertukaran tempat dua fonem. Aferesis adalah proses perubahan bunyi berupa penghilangan sebuah atau beberapa fonem pada awal kata. Sinkop adalah perubahan bunyi berupa penghilangan satu atau beberapa fonem pada tengah kata. Apokop adalah perubahan bunyi berupa penghilangan satu atau beberapa fonem pada akhir kata. Protesis adalah perubahan bunyi yang berupa penambahan sebuah atau beberapa fonem pada awal kata. Epentesis merupakan proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah atau beberapa fonem di tengah kata. Paragog adalah proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah atau beberapa fonem pada akhir kata.
4.1.1 Metatesis
Table I Perubahan Bunyi Metatesis
No PAN BMRDK GLOS
2 *dilah lidah lidah
3 *k∂tip pәti? petik
Kata */t‟ilak/ mengalami perubahan bunyi secara metatesis → /kilat/ yaitu
terjadi pertukaran tempat dua fonem yaitu bunyi yang berpindah */t/ → /k/. Dengan ciri fonem konsonan /t/ adalah mati, oral, apiko-dental, dan plosif. Fonem konsonan /k/ memiliki ciri-ciri mati, oral, velar, dan plosif.
Kata */dilah/ mengalami perubahan bunyi secara metatesis → /lidah/ dalam BMRDK, yaitu bunyi yang berpindah */d/ → /l/. Dengan ciri fonem konsonan /d/ adalah plosif, dental, dan bersuara. Sedangkan ciri fonem konsonan /l/ adalah lateral, dental/alveolar, dan bersuara.
Kata */ k∂tip/ mengalami perubahan bunyi secara metatesis → /pәti?/ yaitu terjadi pertukaran tempat dua fonem yaitu bunyi yang benpindah */k/ → /p/. Dengan ciri fonem konsonan /k/ adalah mati, velar, dan tidak bersuara. Ciri fonem konsonan /p/ adalah plosif, labial, dan tidak bersuara.
4.1.2 Aferesis
Tabel II Perubahan Bunyi Aferesis
No PAN BMRDK GLOS
1 *haŋin aŋin angin
2 *bapa? apa? bapak
3 *?iduŋ iduŋ hidung
4 *hujan ujan hujan
Kata */haŋin/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis → /aŋin/ yaitu
suatu proses perubahan bunyi antara bahasa kerabat berupa penghilangan sebuah atau beberapa fonem pada awal sebuah kata. Kata */hujan/ → /ujan/ dengan ciri fonem konsonan /h/ adalah frikatif, laringal dan tidak bersuara. Kata */bapa?/ →
/apa?/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis, dengan ciri fonem konsonan /b/ adalah plosif, bilabial, dan bersuara. Kata */ɣumah/ → /umah/ yaitu penghilang bunyi /ɣ/ yang memiliki ciri semi vokal, palatal, dan bersuara. Kata
*/?iduŋ/ → /iduŋ/ dengan ciri fonem /?/ adalah plosif, glotal, dan tidak bersuara.
4.1.3 Sinkop
Tabel III Perubahan Bunyi Sinkop
No PAN BMRDK GLOS
1 *dukdu? dudu? duduk
2 *jahit jai? jahit
3 *jawuh jauh jauh
4 *tahun taun tahun
Kata */dukdu?/ → /dudu?/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop yaitu perubahan bunyi dengan penghilangan bunyi fonem pada tengah kata. Ciri fonem /k/ adalah plosif, velar, dan tidak bersuara. */jawuh/ → /jauh/ dengan ciri fonem /w/ adalah semi vokal, bilabial, dan bersuara. */tahun/ mengalami perubahan secara sinkop yaitu penghilangan fonem pada tengah kata → /taun/ dengan penghilangan bunyi /h/ yang memiliki ciri-ciri frikatif, laringal, dan tidak bersuara.
4.1.4 Apokop
Tabel IV Perubahan Bunyi Apokop
No PAN BMRDK GLOS
1 *duwa du dua
2 *ikuy iku ekor
3 *ituh itu itu
4 *tidur tidu tidur
5 *tuha tu tua
Kata */duwa/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /du/ yaitu penghilangan bunyi /w/ dan /a/ dengan ciri fonem /w/ adalah semi vokal, bilabial, dan bersuara. Fonem /a/ memiliki ciri rendah, belakang, dan tidak bulat. Kata */ikuy/ mengalami apokop → /iku/ yaitu dengan penghilangan bunyi /y/ yang memiliki ciri semi vokal, palatal, dan bersuara. Kata */ituh/ → /itu/ dan */tuha/ → /tu/ dengan penghilangan bunyi /h/ yang memiliki ciri frikatif, laringal, dan tidak bersuara. Kata */tidur/ → /tidu/ mengalami perubahan bunyi secara apokop yang penghilangan bunyi /r/ yang memiliki ciri trill, alveolar, dan bersuara.
4.1.5 Protesis
Tabel V Perubahan Bunyi Protesis
No PAN BMRDK GLOS
1 *inum minum minum
Kata */inum/ mengalami perubahan bunyi secara protesis → /minum/ yaitu penambahan bunyi /m/ yang memiliki ciri nasal, bilabial, dan bersuara.
4.1.6 Epentesis
Tabel VI Perubahan Bunyi Epentesis
No PAN BMRDK GLOS
1 *CaCiN cacioŋ cacing
2 *dagiŋ dagioŋ daging
3 *den deyen dan/ dengan
4 *kuniŋ kunioŋ kuning
Kata */CaCiN/ → /cacioŋ/, */dagiŋ/ → /dagioŋ/, dan kata*/kuniŋ/ →
/kunioŋ/ mengalami perubahan bunyi secara epentesis yaitu proses perubahan
bunyi antara bahasa kerabat berupa penambahan sebuah atau beberapa fonem pada tengah sebuah kata. Ketiga kata di atas sama-sama mengalami penambahan bunyi fonem /o/ yang memiliki ciri-ciri sedang, depan, dan bundar. Kata */den/
→ /deyen/ yaitu penambahan bunyi /y/ dan /e/. Bunyi /y/ memiliki ciri-ciri semi vokal, palatal, dan bersuara. Sedangkan bunyi /e/ memiliki ciri-ciri sedang, depan, dan tidak bundar.
4.1.7 Paragog
Tabel VII Perubahan Bunyi Paragog
No PAN BMRDK GLOS
1 *aka akae akar
2 *buka buka? buka
Kata */aka/ → /akae/ yaitu mengalami perubahan bunyi secara paragog berupa penambahan bunyi pada akhir kata. Bunyi tersebut adalah penambahan fonem /e/ yang memiliki ciri sedang, depan, dan tidak bundar. Kata */buka/ → /buka?/ mengalami penambahan bunyi fonem /?/ yang memiliki ciri plosif, glotal, dan tidak bersuara. Kata */k∂za/ → /kojam/ mengalami penambahan bunyi /m/ yang memiliki ciri nasal, bilabial, dan bersuara. Kata ini juga mengalami perubahan bunyi /∂/ → /o/ dan /z/ → /j/. Ciri-ciri bunyi tersebut adalah fonem /∂/ adalah sedang, depan, dan tidak bundar. Fonem /o/ adalah sedang, belakang, dan bundar. Sedangkan fonem /z/ memiliki ciri gescran, dental/alveolar dan bersuara. Fonem /j/ memiliki ciri-ciri paduan, palatal, dan bersuara.
4.2 Pewarisan Linear dan Inovasi Bahasa Proto Austronesia Ke dalam