• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Garis Pantai

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-39)

Daratan dan sedimen pesisir pada dasarnya dinamis bergerak menurut dimensi ruang dan waktu. Gelombang pecah, arus pasang-surut, sungai, tumbuhan pesisir, dan aktivitas manusia merupakan faktor yang dapat menimbulkan perubahan dinamika pantai untuk membentuk suatu keseimbangan dinamika pantai yang baru. Setiap kawasan pesisir tidak dapat semuanya merespons terhadap seluruh proses perubahan tergantung pada beberapa faktor seperti jenis sedimen, morfologi, kondisi geologi pantainya.

Tabel 19 Karakter Masing- Masing Sel/Segmen Sel/

Segmen Karakter

1 Daerah persawahan dan dataran agak tinggi

2 Daerah persawahan, bekas lokasi penanaman mangrove, lokasi penambangan pasir, bekas tambak dan lokasi kuburan (rusak) 3 Bekas sawah, tambak dan daratan agak tinggi

4 Bekas sawah, bekas tambak dan daratan agak tinggi 5 Bekas sawah, bekas tambak dan daratan agak tinggi 6 Bekas sawah, bekas tambak dan daratan agak tinggi

7 Bekas sawah, sawah, muara sungai (Jeti) dan daratan agak rendah 8 Lahan darat agak tinggi, areal industri pemukiman dan tambak

Model analisis budget sediment yang diprediksi berdasarkan data gelombang, sudut datang gelombang, densitas sedimen dan perairan, menunjukan bahwa setiap tahun, dari 2001 – 2006 terjadi pemunduran yang mengarah perubahan garis pantai di Teluk Indramayu (tanda ‘-‘ menunjukan terjadinya erosi pada pantai) dari pada penambahan garis pantai. Analisis dilakukan berdasarkan arah datang gelombang terhadap pantai, sebab itu dipisahkan untuk gelombang yang menyebabkan sedimen terangkut dari barat ke timur dan timur ke barat. Kemudian dari kedua kondisi tersebut di bagi berdasarkan skala waktu dan ruang.

Untuk transpor sedimen yang bergerak dari barat ke timur (Gambar 30), dalam skala waktu (tahun) kisaran perubahan terbesar terjadi pada tahun 2001, yaitu sebesar 0.84 m3/hari (pemunduran) sedangkan penambahannya sebesar 0.02 m3/hari. Terkecil pada tahun 2002 dengan nilai pemundurannya 0.27 m3/hari dan penambahan 0.007 m3/hari. Perbedaan ini sebagai akibat dari perbedaan tinggi gelombang pertahun. Berdasarkan sel/segmen atau secara spasial, ternyata dari dari delapan sel/segmen yang ada 6 sel menunjukan terjadi

pemuduran atau terjadi erosi (sel/segmen 1,2,3,4,5 dan 8), 1 sel/segmennya terjadi penambahan (sel/segmen 6) dan 1 tidak mengalami perubahan (sel/segmen 7). Erosi terbesar terjadi pada sel/segmen 2 dengan kisaran nilainya 0.27–0.84 m3/hari; sel/segmen 3 dengan kisaran 0.10–0.30 m3/hari dan sel/segmen dengan nilai terkecil adalah sel/segmen 5 (0.007 – 0.13 m3/hari). Kisaran nilai penambahan berkisar antara 0.007 – 0.013 m3. Perbedaan spasial yang terjadi ini sangat terkait dengan kedalaman perairan yang membentuk kemiringan profil pantai dan sudut datang gelombang pada setiap sel/segmen. Sedangkan sel/segmen yang tidak mengalami perubahan disebabkan karena profil yang dipakai sebagai acuan memiliki nilai yang sama.

Untuk transpor dari timur ke barat (Gambar 31), dalam skala waktu (tahun) pemunduran terbesar terbesar terjadi pada tahun 2004 yaitu 0.009-0.42 m3/hari, kemudian tahun 2001 (0.006-0.34 m3/hari) dan 2005 (0.005-0.26 m3/hari). Sedangkan yang terkecil pada tahun 2003 yaitu (0.001-0.08 m3/hari), perbedaan yang terjadi sebagai akibat dari perbedaan tinggi gelombang yang kemudian mengakibatkan perbedaan kecepatan arus per tahun. Secara spasial hasil analisis menunjukan bahwa terjadi pemunduran pada semua sel/segmen di masing-masing profil. Sel/segmen terbesar yang mengalami pemunduran pada adalah sel/segmen 2 dengan kisaran pemundurannya 0.08-0.42 m3/hari dan kemudian sel/segmen 1 dan 4 (0.06-0.20 m3/hari), nilai pemunduran yang terkecil adalah 0.001-0.006 m3/hari pada sel/segmen 3. diduga perbedaan yang terjadi disebabkan karena perbedaan topografi atau kemiringan dasar perairan dan sudut datang gelombang pada masing-masing segmen.

Jika kedua model barat-timur dan timur barat di gabung (Gambar 32) terlihat bahwa di seluruh sel/segmen terjadi pemunduran, Itu berarti terjadi perubahan. Dalam skala waktu kondisi terbesar pada sel/segmen 2 (0.01–1.18 m3/hari) dan terkecilnya sel/segmen tahun 2002 (0.00–0.40 m3/hari). Berdasarkan skala spasial, pemunduran terbesar itu pada sel/segmen 2 yaitu 0.40-1.81 m3/hari dan yang terkecil sel/segmen 7, sebesar 0.00-0.01 m3/hari. Dari tersebut juga dapat dikatakan bahwa perubahan garis pantai yang terjadi lebih disebabkan oleh abrasi pantai.

Hasil analisis perubahan garis pantai dengan memanfaatkan citra landsat tahun 2001 dan 2006 (Gambar 33), menunjukan secara menyeluruh garis pantai telah mengalami pemunduran. Besar pemunduran tersebut berkisaran antara 12.23 – 242.07 meter dengan nilai rata-ratanya 119.34 meter. Titik terkecil

berada sekitar 1070.92’ BT dan 60.25’ LS, sedangkan yang terbesar pada 1070.98’ BT dan 60.27’ LS. Dari kisaran nilai yang ada, dapat dikatakan bahwa proses pemunduran garis pantai yang terjadi sepanjang pantai Indramayu pertahun berkisar antara 2.04 – 40.34 m/thn dengan rata-ratanya 19.89 m/thn.

Bila kisaran nilai pemunduran dari hasil analisa citra landsat di buat per sel/segmen (Gambar 34). Terlihat bahwa pemunduran maksimal berkisar antara 150-240 m, dimana nilai terbesar pada sel/segmen 6 (240 m) dan 8 (230 m). Sedangkan nilai terendah pada sel/segmen 5 (150 m).

Perbedaan nilai pemunduran pada bagian pantai diduga disebabkan oleh perbedaan karakter pantai. Secara umum kondisi pantai Teluk Indramayu sangat terbuka terhadap dinamika perairan sebagai akibat dari hilangnya hutan bakau sebagai pelindung pantai. Tapi pada bagian-bagian tertentu telah dibangun talud khususnya daerah yang dekat dengan wilayah pemukiman dan lokasi industri. Biasanya pada daerah ini kondisinya agak stabil dibandingkan dengan daerah lain yang tidak terlindungi.

Dari Tabel 19 terlihat bahwa hampir sepanjang pantai lahan darat yang bearda dekat dengan garis pantai sudah mengalami perubahan fungsi sebagai areal yang pernah dan telah dikelola oleh masyarakat. Artinya bahwa ketika kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi, maka kemampuan kawasan tersebut untuk mempertahankan kestabilannya akan sangat labil. Khsusunya pada daerah yang beralih fungsi sebagai lahan sawah dan tambak, kondisisnya sangat rentan sebab tanahnya dikelola oleh masyarakat dengan memanfaatkan begitu banyak air dan struktur tanahnya tidak rapat, sehingga bila tekanan yang datang dari laut terus menerus akan sangat mudah kawasan tersebut mengalami kerusakan. Hal ini juga terkait dengan porositas sedimen yang berada di kawasan tersebut yang umumnya didominasi oleh ukuran silt dan clay. Sebab jika sedimen yang dominan berukuran kecil porositasnya sangat kecil tapi sangat mudah mengalami perpindahan atau mudah untuk ditranspor walaupun tekanan yang diberikan agak kecil. Kondisi ini terjawab dari distribusi sedimen pada daerah tersebut, dimana hasilnya menunjukan bahwa pasang surut, gelombang dan arus sepanjang pantai (longshore current) memiliki peran yang sangat besar terhadap transpor sedimen sepanjang pantai.

Kedua hasil analisis menunjukan bahwa terjadi perubahan garis pantai dan polanya terlihat pada sel/segmen 2, namun begitu jika di padukan ada perbedaan. Hal ini disebabkan karena dalam metode budget sediment garis

pantai dianggap lurus dan karakter dibangun berdasarkan profil topografi, sedangkan dari citra satelit kondisinya berbeda sebab profil topografi diabaikan dan yang menjadi karakter utama adalah pola garis pantai yang dianggap tidak lurus tapi berlekuk sebab hasil analisis citranya memberikan gambaran yang sangat jelas.

Dari hasil permodelan dinamika gelombang permusim kemudian dihitung transpor sedimen dengan menggunakan konsep budget sediment memanfaatkan kisaran nilai tinggi, periode dan arah datang gelombang. Hasilnya menunjukan bahwa (Gambar 35) sepanjang pantai terjadi perubahan tapi tidak secara keseluruhan hanya pada sel-sel tertentu. Jika dipilah berdasarkan skala waktu, bisa dikatakan bahwa perubahan terbesar terjadi pada musim barat (3,12 m3/hr), dimana besaran yang ada menggambarkan perubahan tersebut hanya terdapat di dua segmen, artinya ketika terjadi abrasi pada segmen 11 kemudian diendapkan (akresi) pada segmen 13. Untuk skala ruang, perubahan yang terbesar terjadi pada segmen 11 dan 13, tapi yang untuk setiap musim segmen 11 selalu berdinamika.

Menurut BAPEDDA Jawa Barat (2007) pantai sepanjang kurang lebih 20 km dari Kecamatan Eretan ke arah barat hingga perbatasan Kabupaten Subang, menunjukkan bahwa telah terjadi proses erosi pantai yang dicirikan oleh tebing pantai yang terjal. Abrasi di Pantai Eretan kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh perputaran arus yang bergerak dari barat yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan Delta Cipunegara (Pamanukan). Abrasi di pantai Eretan merupakan kejadian alam sebagai upaya untuk mencapai keseimbangan. Diperkirakan pantai yang terabrasi tidak stabil tetapi ada kemungkinan akan berpindah sesuai dengan pertumbuhan Delta Cipunagara, selain itu dipengaruhi pula oleh kuat lemahnya arus barat.

Hasil penelitian terdahulu juga menunjukan bahwa perubahan garis pantai yang terjadi juga disebabkan oleh gangguan ekosistem pantai seperti pembuatan tanggul dan kanal serta pembuatan bangunan di sekitar pantai. Hutan bakau sebagai penyangga pantai banyak dirubah fungsinya untuk dijadikan sebagai daerah pertambakan, hunian, industri dan daerah reklamasi (Hanafi, 2005). Sedangkan menurut Darlan (2007) sedimen yang dominan di perairan Indramayu adalah pasir halus, lanau dan lempung. Dengan kondisi tersebut kekuatan gelombang dan arus sangat mudah menyebabkan terjadinya perpindahan dari

suatu tempat ke tempat yang lain dan berdampak kepada kerusakan dan proses ketidakstabilan pantai.

Data Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Kab. Indramayu (2005) mencapai total luas wilayah terabrasi adalah 2143,10 ha yang meliputi Kec. Sukra yang merupakan lokasi PLTU 1 Jawa barat sebesar 522,47 ha, Kec. Kroya (418,34 Ha), Juntinyuat (406,33 Ha), Krangkeng (293,13 Ha), Balongan (201,81 Ha) dan kec. Indramayu (197,07 ha). Penyebab abrasi selama ini adalah pembukaan lahan hutan mangrove oleh penduduk pesisir Kab. Indramayu berdasarkan survey lapangan di beberapa lokasi daerah abrasi sudah dipasang

Shore line atau tanggul pelindung pantai yaitu di daerah PPI (pusat Pelelangan

-0.85 -0.75 -0.65 -0.55 -0.45 -0.35 -0.25 -0.15 -0.05 0.05 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun K is a ra n N ila i Se d im e n ( m 3 /h r) Profil 1 2 3 4 5 6 7 8

Gambar 30. Grafik Hasil Analisis Model Budget Sediment Berdasarkan Transpor Sedimen Menyusur Pantai Per Sel/Segmen Pantai Selama Tahun 2001 – 2006 Saat Gelombang bergerak Dari Barat Ke Timur.

-0.45 -0.4 -0.35 -0.3 -0.25 -0.2 -0.15 -0.1 -0.05 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Tahun

K

isar

an

N

il

ai

S

ed

im

en

(

m

3/

h

r)

Profil 1 2 3 4 5 6 7 8

Gambar 31. Grafik Hasil Analisis Model Budget Sediment Berdasarkan Transpor Sedimen Menyusur Pantai Per Sel/Segmen Pantai Selama Tahun 2001 – 2006 Saat Gelombang bergerak Dari Timur Ke Barat.

-1.20 -1.00 -0.80 -0.60 -0.40 -0.20 0.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun K is a ra n N il a i S e di m e n ( m 3 /hr ) Profil 1 2 3 4 5 6 7 8

Gambar 32. Grafik Hasil Analisis Model Budget Sediment Berdasarkan Transpor Sedimen Menyusur Pantai Per Sel/Segmen Pantai Selama Tahun 2001 – 2006.

-190

-210

-190

-210

-150

-240

-200

-230

-250

-200

-150

-100

-50

0

1 2 3 4 5 6 7 8

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-39)

Dokumen terkait