OXIDATIVE STRESS
HASIL PENELITIAN
4.6 Perubahan Kadar Glukosa Darah (KGD) (mg/dL)
Tabel 4.6 memperlihatkan kadar KGD pada kelompok gambir puasa hari-1 (234,00±72,71 mg/dL) meningkat menjadi (326,33±67,49 mg/dL) pada 2 jamPP hari-1, secara statistik berbeda bermakna (p=0,001) dengan peningkatan hampir sama dibandingkan pada kelompok plasebo puasa hari-1 (238,50±87,64mg/dL) dengan 2 jamPP hari-1 (329,30±125,71 mg/dL), dimana peningkatan kadar KGD yang terjadi secara statistik berbeda bermakna pada kelompok plasebo hari-1 (p<0,001).
Sedangkan peningkatan yang terjadi di hari ke-14 puasa pada kelompok gambir memperlihatkan peningkatan kadar KGD yang signifikan (p<0,001) pada kelompok gambir puasa (194,33±53,76 mg/dL) menjadi 2 jamPP (302,83±
55,71 mg/dL). Peningkatan kadar KGD yang lebih besar dijumpai pada kelompok plasebo puasa hari-14 (196,00±88,64 mg/dL) menjadi (333,90±73,89 mg/dL) pada 2 jamPP hari-14, dimana peningkatan kadar KGD yang terjadi pada kelompok plasebo hari ke-14 berbeda bermakna (p=0,005) (Tabel 4.6).
Tabel 4.6. Tingkat Kadar Glukosa Darah (mg/dL) berdasarkan pada hari-1 dan hari-14 pengamatan
Hari-1 p Hari-14 p
Puasa 2 jamPP Puasa 2 jamPP
Glukosa darah (mg/dl)
Plasebo 238,50±87,64 329,30±125,71 <0,0011 196,00±88,64 333,90±73,89 0,0054 Gambir 234,00±72,71 326,33 ± 67,49 0,0011 194,33±53,76 302,83±55,71 <0,0011
p 0,9172 0,9592 0,5883 0,3912
p < 0,05, signifikan, 1paired, 2Independent t-test, 3Mann-Whitney, 4Wilcoxon
Tabel 4.7 memperlihatkan perubahan tingkat KGD yang terjadi berupa penurunan pada kelompok gambir puasa hari-1 (234,00±72,71 mg/dl) dengan kadar KGD puasa hari-14 menjadi (194,33±53,76 mg/dl), secara statistik dinyatakan berbeda bermakna (p=0,040). Demikian juga terjadi penurunan kadar KGD pada kelompok plasebo puasa hari-1 (238,50±87,64 mg/dl) menurun menjadi (196,00±88,64 mg/dl) pada puasa hari-14, secara statistik berbeda bermakna (p=0,007). Perubahan yang terjadi di hari ke-1 pada kelompok gambir memperlihatkan peningkatan kadar KGD 2 jamPP (326,33±67,49 mg/dl) dan menjadi (302,83±55,71 mg/dl) pada hari-14, namun secara statistik peningkatan kadar KGD 2 jamPP yang terjadi di hari 1 dan 14 secara statistik signifikan (p=0,021). Sebaliknya pada kelompok plasebo terjadi peningkatan kadar KGD 2 jamPP hari-1 (329,30±125,71 mg/dl) mirip pada 2 jamPP hari-14 (333,90±
73,89 mg/dl) yang secara statistik perbedaan kadar KGD ini tidak berbeda bermakna (p=0,797) (Tabel 4.7). Dengan demikian ekstrak gambir mampu mencegah perburukan KGD.
Tabel 4.7. Tingkat Glukosa Darah (mg/dl) berdasarkan waktu puasa dan 2 jamPP di hari pengamatan.
Puasa P 2 jam post prandial p
Hari-1 Hari-14 Hari-1 Hari-14
Kadar Glukosa Darah
Plasebo 238,50±87,64 196,00±88,64 0,0074 329,30±125,71 333,90±73,89 0,7971 Gambir 234,00±2,71 194,33±53,76 0,0401 326,33 ±67,49 302,83±55,71 0,0211 p < 0,05, signifikan, 1paired, 2Independent t-test, 3Mann-Whitney, 4Wilcoxon
Tabel 4.8. Persentase (%) perubahan kadar Malodialdehyde, Superoxide Dismutase dan Glukosa Darah pada kelompok plasebo dan gambir
Hari-1 Hari-14 P
Malondialdehyde (nmol/dl) Plasebo
Gambir
- 7,17±20,63 -7,14± 26,52 0,2854 -13,13±27,15 -25,66± 8,56 0,3454
p 0,3293 0,0512
Superoxide dismutase (U/ml) Plasebo
Gambir 9,75± 23,42 34,86 ± 26,86 0,0731
59,74 ± 41,78 47,46 ± 18,17 0,5701
p 0,0083 0,3293
Glukosa darah (mg/dl) Plasebo
Gambir
37,52± 6,00 84,77± 36,75 0,0174 44,17±22,33 59,48 ± 23,78 0,2231
p 0,3792 0,1933
p < 0,05, signifikan, 1paired, 2Independent t-test, 3Mann-Whitney, 4Wilcoxon
Pada Tabel 4.8, menunjukkan besar persentase penurunan kadar MDA antara kelompok gambir hari-1 (-13,13±27,15%) dibanding hari-14 (-25,66±
8,56%), dinyatakan tidak berbeda bermakna (p=0,345). Sebaliknya pada kelompok plasebo terjadi peningkatan sedikit dibanding hari-1 (-7,17±20,63%) dengan hari-14 (-7,14±26,52%), meski secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,285). Sedangkan besar persentase penurunan kadar MDA pada kelompok (-13,13±27,15%) dengan plasebo hari-1 (-7,17±20,63%) dinyatakan tidak berbeda bermakna pengurangannya pada hari-1 (p=0,329). Sebaliknya besar penurunan kadar MDA pada hari-14 dinyatakan berbeda bermakna (p=0,051),
pada kelompok gambir 25,66±8,56%) dengan kelompok plasebo (-7,14±26,52%).
Besar persentase perubahan kadar SOD antara kelompok gambir hari-1 (59,74±41,78%) terjadi penurunan dibanding hari-14 (47,46±18,17%), namun dinyatakan tidak berbeda bermakna (p=0,570). Besar persentase pada kelompok plasebo sebaliknya terjadi peningkatan pada hari-1 (9,75±23,42%) menjadi (34,86±26,86%) pada hari-14 meski secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,073). Sedangkan besar persentase penurunan kadar SOD pada kelompok gambir (59,74±41,78%) dengan kelompok plasebo hari-1 (9,75±23,42%) dinyatakan berbeda bermakna pengurangannya pada hari-1 (p=0,008). Sebaliknya besar peningkatan kadar SOD pada hari-14 dinyatakan berbeda tidak bermakna (p=0,329)meskipun pada kelompok gambir persentase peningkatan kadar SOD lebih besar (47,46±18,17%) dibanding kelompok plasebo (34,86±26,86%).
Pada Tabel 4.8, menunjukkan besar persentase peningkatan kadar KGD antara kelompok gambir hari-1 (44,17±22,33%) dibanding hari-14 (59,48±
23,78%), tidak berbeda bermakna peningkatan KGD (p=0,223). Demikian juga pada kelompok plasebo terjadi peningkatanpada hari-1 (37,52±6,00%) dibanding hari-14 (84,77±36,75%), dan secara statistik dinyatakan persentase peningkatan pada kelompok berbeda bermakna dari hari-1 ke hari-14 (p=0,017). Sedangkan besar persentase peningkatan KGD pada kelompok gambir (44,17±22,33%) dengan plasebo hari-1 (37,52±6,00%) tidak berbeda bermakna pada hari-1 (p=0,379). Demikian juga pada hari-14, besar perubahan persentase peningkatan
KGD dinyatakan tidak berbeda bermakna (p=0,193), pada kelompok gambir (59,48± 23,78%) dibanding kelompok plasebo (84,77±36,75%).
Tabel 4.9 Perubahan Kadar SGOT (U/L) dari hari-1 ke hari-14 pada masing-masing kelompok
Hari-1 Hari-14 P
SGOT (U/L)
Plasebo 16,00 ± 4,57 20,20±10,53 0,1914 Gambir 22,50±11,54 18,50± 5,13 0,2031
P 0,1291 0,7193
p < 0,05, signifikan, 1paired, 2Independent t-test, 3Mann-Whitney, 4Wilcoxon
Gambar 4.9 menunjukkan rerata nilai SGOT kelompok plasebo pada hari-1 (16,00±4,57 U/L) meningkat menjadi (20,20±10,53 U/L) pada hari-14, namun peningkatan yang terjadi dari hari-1 ke hari-14 tidak berbeda bermakna (p=0,191). Sementara pada kelompok gambir rerata nilai SGOT hari-1 (22,50±
11,54 U/L)dan terjadi penurunan nilai SGOT pada hari ke-14 (18,50±5,13 U/L), meski secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,203).
Perbandingan rerata nilai SGOT antar kelompok plasebo (16,00±4,57 U/L) dengan gambir (22,50±11,54 U/L) dinyatakan tidak berbeda bermakna pada hari-1 (p=0,129). Demikian pula dengan rerata nilai SGOT pada hari-14 dinyatakan berbeda bermakna (p=0,719), pada kelompok plasebo (20,20±
10,53 U/L) dengan kelompok gambir (18,50±5,13 U/L).
Tampak adanya perbedaan perubahan nilai SGOT antar kelompok plasebo dan gambir. Pada kelompok plasebo menunjukkan adanya kenaikan rerata kadar SGOT sedangkan pada kelompok gambir sebaliknya penurunan SGOT meskipun tidak berbeda bermakna antara kelompok plasebo dengan kelompok gambir (p>0,05) (Gambar 4.9).
Tabel 4.10 Perubahan Kadar SGPT (U/L) dari hari-1 ke hari-14 pada masing- masing kelompok
Hari-1 Hari-14 P
SGPT (U/L)
Plasebo 16,70 ±8,26 21,20±13,13 0,2844
Gambir 21,83 ±7,47 20,17± 8,26 0,1951
P 0,2342 0,8663
p < 0,05, signifikan, 1paired, 2Independent t-test, 3Mann-Whitney, 4Wilcoxon
Gambar 4.10, menunjukkan rerata nilai SGPT kelompok plasebo pada hari-1 (16,70±8,26 U/L) meningkat menjadi (21,20±13,13 U/L) pada hari-14, namun peningkatan yang terjadi dari hari-1 ke hari-14 tersebut tidak berbeda bermakna (p=0,284). Sementara pada kelompok gambir rerata nilai SGPT hari-1 (21,83±7,47 U/L) dan terjadi penurunan nilai SGOT pada hari ke-14 (20,17±
8,26 U/L), meski secara statistik tidak berbeda bermakna (0,195).
Perbandingan rerata nilai SGPT hari-1 antar kelompok plasebo (16,70±
8,26 U/L) dengan gambir (21,83±7,47 U/L) dinyatakan tidak berbeda bermakna pada hari-1 (p=0,234). Demikian pula dengan rerata nilai SGPT pada hari-14 dinyatakan berbeda bermakna (p=0,866), pada kelompok plasebo (21,20±
13,13 U/L) dengan kelompok gambir (20,17±8,26 U/L).
Tampak adanya perbedaan perubahan nilai SGPT antar kelompok plasebo dan gambir, pada kelompok plasebo terjadi kenaikan, sebaliknya pada kelompok gambir menunjukkan adanya penurunan rerata kadar SGPT, meskipun tidak berbeda bermakna antara kelompok plasebo dengan kelompok gambir (p>0,05) (Gambar 4.10).
Tabel 4.11 Perubahan Kadar Ureum (mg/dl) dari hari-1 sampai hari-14 pada masing-masing kelompok
Hari-1 Hari-14 p Ureum (mg/dl)
Plasebo 25,02±5,27 24,27±6,92 0,5704 Gambir 23,32±6,71 19,05±6,86 0,0041 P 0,5802 0,1653
p < 0,05, signifikan, 1paired, 2Independent t-test, 3Mann-Whitney, 4Wilcoxon
Gambar 4.11, menunjukkan rerata nilai ureum kelompok plasebo pada hari-1 (25,02±5,27 mg/dl) menurun sedikit (24,27±6,92 mg/dl) pada hari-14, penurunan yang terjadi dari hari-1 ke hari-14 tidak berbeda bermakna (p=0,570).
Sementara pada kelompok gambir rerata nilai ureum hari-1 (23,32±6,71 mg/dl) dan terjadi penurunan nilai ureum pada hari ke-14 (19,05±6,86 mg/dl), dan secara statistik berbeda bermakna nilai ureum kelompok gambir hari-1 dengan hari-14 (p=0,004).
Perbandingan rerata nilai ureum antar kelompok plasebo (25,02±
5,27 mg/dl) dengan gambir (23,32±6,71 mg/dl) dinyatakan tidak berbeda bermakna pada hari-1 (p=0,580). Demikian pula dengan rerata nilai ureum pada hari-14 dinyatakan tidak berbeda bermakna (p=0,165), pada kelompok plasebo (24,27± 6,92 mg/dl) dengan kelompok gambir (19,05±6,86 mg/dl).
Perbedaan perubahan nilai ureum antar kelompok plasebo dan gambir menunjukkan kecenderungan yang sama dari hari-1 ke hari-14, terjadi penurunan.
Pada kelompok plasebo menunjukkan sedikit penurunan rerata kadar ureum. Hal yang sama terjadi pada kelompok gambir tampak penurunan kadar ureum besar
dibanding kelompok plasebo, dan secara statistik dinyatakan berbeda bermakna (p=0,004) (Gambar 4.11).
Tabel 4.12 Perubahan Kadar Kreatinin (mg/dl) dari hari-1 sampai hari-14 pada masing-masing kelompok
Hari-1 Hari-14 P Kreatinin (mg/dl)
Plasebo 0,89±0,35 0,83±0,21 0,3174 Gambir 0,95±0,31 0,66±0,26 0,0421 P 0,7352 0,1793
p < 0,05, signifikan, 1paired, 2Independent t-test, 3Mann-Whitney, 4Wilcoxon
Tabel 4.12, menunjukkan rerata nilai kreatinin kelompok plasebo pada hari-1 (0,89±0,35 mg/dl) menurun sedikit (0,83±0,21 mg/dl) pada hari-14, penurunan yang terjadi dari hari-1 ke hari-14 tidak berbeda bermakna (p=0,317).
Sementara pada kelompok gambir rerata nilai kreatinin hari-1 (0.95±0,31 mg/dl) dan terjadi penurunan nilai kreatinin pada hari ke-14 (0,66±0,26 mg/dl), dan secara statistik berbeda bermakna nilai kreatinin kelompok gambir hari-1 dengan hari-14 (p=0,042).
Perbandingan rerata nilai kreatinin antar kelompok plasebo (0,89±
0,35 mg/dl) dengan gambir (0,95±0,31 mg/dl) dinyatakan tidak berbeda bermakna pada hari-1 (p=0,735). Demikian pula dengan rerata nilai kreatinin pada hari-14 dinyatakan tidak berbeda bermakna (p=0,179), pada kelompok plasebo (0,83±
0,21 mg/dl) dengan kelompok gambir (0,66±0,26 mg/dl).
Perbedaan perubahan nilai kreatinin antar kelompok plasebo dan gambir menunjukkan kecenderungan yang sama dari hari-1 ke hari-14, terjadi penurunan.
lebih besar dibanding kelompok plasebo, dan secara statistik dinyatakan berbeda bermakna (p=0,042) (Tabel 4.12).
BAB V PEMBAHASAN
Dari pelusuran literatur, penelitian ini adalah yang pertama meneliti stres oksidatif (MDA dan SOD) dan glukosa darah (KGD) pada pasien DM2 yang tidak terkontrol. Seperti yang diungkapkan pada banyak studi sebelumnya bahwa gambir berkhasiat sebagai antioksidan pada kajian in-vitro di jarigan hati, ginjal dan darah, kajian in-vivo pada hewan coba mencit, tikus dan kelinci (Lelo and Riska, 2006; Pilarski et al., 2006; Simos et al., 2012; Umeno, 2016).
Pada penelitian ini diketahui bahwa rata-rata usia kelompok gambir maupun plasebo yang seluruh sampel penderita diabetes melitus tipe 2 hampir sama. Rata-rata usia kelompok gambir (54,83±10,78 tahun) dan plasebo (53,50±
8,45 tahun), sesuai dengan penelitian Kristina et al. (2011), yang melaporkan pada penelitiannya dijumpai rata-rata usia kelompok penderita DMT2 (53,40±8,21 tahun), bila dibanding kelompok orang sehat (45,67±6,57 tahun). Dapat disimpulkan dari usia, faktor risiko DMT2 adalah usia >45 tahun. Peningkatan resiko diabetes seiring dengan usia, khususnya pada usia lebih dari 40 tahun disebabkan karena pada usia tersebut mulai terjadi peningkatan intoleransi glukosa. Adanya proses penuaan menyebabkan berkurangnya kemampuan sel beta pankreas dalam memproduksi insulin (Bustan, 2007).
Rerata body mass index (BMI) pada penelitian ini, kelompok gambir (25,31±3,74 kg/m2). Dijumpai nilai rata-rata BMI pada kelompok gambir
penelitian ini (23,75 ± 4,65 kg/m2), nilainya termasuk dalam kategori overweight (berat badan berlebih). Dimana obesitas dinyatakan apabila BMI >25 kg/m2 (Bustan, 2007), merupakan faktor risiko utama DMT2. Hasil ini didukung penelitian Kristina et al. (2011), yang menjumpai rata-rata BMI pada kelompok penderita DMT2 yakni 25,03±2,88 kg/m2. Pada penelitian lain yang dilakukan Sujaya et al. (2009), menunjukkan individu yang mengalami obesitas mempunyai mempunyai risiko lebih besar untuk terkena DM dibandingkan dengan tidak mengalami obesitas. Obesitas akan menyebabkan meningkatnya asam lemak dalam sel. Peningkatan asam lemak ini akan menurunkan translokasi transporter glukosa ke membran sel, dan menyebabkan terjadinya resistensi insulin pada jaringan otot dan adiposa (Garnita, 2012).
Pada data dasar, semua sukarelawan studi ini adalah penderita DMT2 yang benar-benar kadar glukosa darahnya tidak terkendali, dimana KGD puasa hiperglikemia >200 mg/dl(238,50±87,64mg/dl pada kelompok plasebo dan 234,00±72,71 mg/dl pada kelompok gambir).
Diabetes melitus telah dikenal sebagai keadaan kelebihan pembentukan radikal bebas yang disumbangkan oleh beberapa mekanisme termasuk hiperglikemia yang menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif ini memperparah perkembangan dan komplikasi DM (Baynes, 1999).Hasil dari penelitian yang diperoleh Ikekpeazu et al. (2011).menunjukkan bahwa subjek dengan diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol memiliki kadar MDA, SOD, dan KGD yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif. Pada penelitian ini, dijumpai peningkatan kadar glukosa darahmeski bila dibandingkan dengan
kelompok plasebo secara statistik tidak ada perbedaan. Namun bila dilihat darirerata masing-masing kelompok terbukti bahwa gambir dapat menahan laju KGD dibanding kelompok plasebo (Tabel 4.3).
Pada penderita diabetes tipe 2, jika kontrol glikemik meningkat, indikator stres oksidatif seperti MDA akan menurun sebagian. Hasilnya juga menunjukkan bahwa bila MDA dibandingkan dengan KGD puasa dan HbA1c berkorelasi positif, dengan demikian, karena gula darah puasa meningkat, peningkatan MDA dan HbA1c meningkat. Ada bukti yang berkembang bahwa kelebihan radikal bebas yang sangat reaktif, sebagian besar karena hiperglikemia menyebabkan stres oksidatif, yang semakin memperparah perkembangan diabetes tipe 2 dan komplikasinya. Dalam penelitian ini, ketika KGD meningkat, HbA1c juga meningkat. Kadar HbA1c yang lebih tinggi telah ditemukan pada orang-orang dengan peningkatan gula darah (KGD) seperti yang terlihat pada diabetes melitus tipe 2.
Penelitian ini mendukung fakta bahwa pada pasien diabetes melitus tipe 2, ada peningkatan kadar KGD puasa dan MDA dibandingkan pasien non-diabetes dan bahwa stres oksidatif yang diukur sebagai MDA sangat dipengaruhi oleh kontrol glikemik. Diabetes melitus tipe 2 dikaitkan dengan produksi radikal bebas dan peningkatan ini bersama dengan resistensi insulin dapat menyebabkan perkembangan komplikasi kardiovaskular.
Penelitian Dries et al. (2017), melaporkan adanya peningkatan stres oksidatif yang dikonfirm pada pasien diabetes, terutama berkorelasi positif
meningkat dibanding pada tingkat trigliserida dan menurun bila dibanding pada konsentrasi plasma metformin. Pengurangan kadar MDA dapat juga diamati bila dibandingkan dengan nilai sebelum dan sesudah diobati.
Saat ini, diabetes melitus tipe 2 dikaitkan dengan stres oksidatif melalui mekanismenya memproduksi radikal superoksida. Radikal ini menyebabkan kerusakan peroksidatif pada membran sel dan DNA, yang mengarah ke peningkatan kadar plasma dari beberapa produk akhir seperti MDA. Ini adalah faktor patogen umum yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin, disfungsi sel β pankreas, gangguan toleransi glukosa dan akhirnya diabetes melitus tipe 2.
Selanjutnya,mekanisme ini telah diimplikasikan sebagai penyebab yang mendasari komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular yang terkait dengan diabetes melitus tipe 2. .
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan penurunan tingkat MDA pada kedua kelompok. Namun, tidak ada perubahan signifikan statistik pada tingkat MDA untuk kelompok plasebo selama pengamatan penelitian. Sedangkan pada kelompok gambir terjadi penurunan MDA yang signifikan (P <0,05) pada hari ke-14 (Tabel 4.2).
Perbandingan tingkat MDA pada KGD puasa dan 2 jam postprandial hari-1 dan hari-14 seperti terlihat padaTabel 4.3 menunjukkan bahwa ada terjadi peningkatanMDA yang signifikan (P <0,05) pada waktu puasa pada hari ke-14 dibandingkan dengan hari ke-1 pada kedua kelompok, kecuali untuk kelompok gambir tidak ada perbedaan (P = 0,35) di tingkat MDA pada 2 jam pasca prandial antara hari-1 dibandingkan dengan hari ke-14 (Tabel 4.3).
Selain itu kadarMDA dalam kelompok gambir tampaknya lebih rendah daripada pada kelompok plasebo, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan kecuali pada 2 jam post prandial hari ke-14 kadar MDA dalam kelompok gambir secara signifikan lebih rendah daripada pada kelompok plasebo. (Tabel4.2). Hasil yang mirip dijumpai pada penelitian Yassin et al. (2015), suplementasi vitamin C 250 mg dan vitamin E 400 IU selama 6 minggu pada 18 orang kelompok perlakuan diperoleh hasil bahwa suplementasi tidak dapat menurunkan kadar MDA plasma pasien DMT2, namun dapat menghambat peningkatan kadar MDA dibandingkan kelompok kontrol yang mendapatkan plasebo. Vitamin C berperan sebagai inhibitor enzim aldose reduktase sehingga meminimalisasi pembentukan AGEs dan menekan produksi MDA (Tapp et al., 2006) dan vitamin E berperan menghambat reaksi rantai radikal lipid (Marnett, 1999). Keduanya mampu bekerja bersama menghambat reaksi oksidasi, dengan mengaktifkan sejumlah antioksidan enzimatik lain seperti SOD dan GSH (Benzieet al., 1996; Marnett, 1999) namun akibat kondisi hiperglikemia yang terjadi terus menerus menyebabkan produksi peroksidasi lipid meningkat, sehingga antioksidan tubuh tidak mampu mengimbangi peningkatan oksidasi ini. Peningkatan kadar MDA pada subjek penelitian sejalan dengan keadaan hiperglikemia yang dialami. Berdasarkan uji korelasi dan pengaruh menunjukkan bahwa ada hubungan dan pengaruh kadar KGD puasa terhadap kadar MDA setelah suplementasi (p=0,001). Tingginya kadarKGD puasa diikuti dengan tingginya kadar MDA, hal ini terjadi akibat peningkatan hiperglikemia dapat mempromosikan peningkatan peroksidasi lipid,
Penurunan persentase tingkat MDA pada hari ke-14 adalah dua kali lipat dibandingkan pada hari ke-1, namun secara statistik tidak signifikan (Tabel 4.4).
Sekali lagi ada perbedaan yang signifikan dalam pengurangan persentase tingkat MDA pada hari ke-14 antara kelompok plasebo (-7,14±26,52%) dan gambir (-25,66±8,56%). Bukti ini menunjukkan bahwa gambir yang mengandung catechin menekan produksi MDA setelah dikonsumsi selama dua minggu.Pada studi lain menunjukkan bahwa konsumsi teh catechin teh hijau secara keseluruhan mengurangi konsentrasi MDA-LDL serum (Suzuki et al., 2016). Yasin et al.(2015) melaporkan setelah dilakukan suplementasi selama 6 minggu pada 18 orang kelompok perlakuan diperoleh hasil bahwa suplementasi vitamin C 250 mg dan vitamin E 400 IU tidak dapat menurunkan kadar MDA plasma pasien DMT2, namun dapat menghambat peningkatan kadar MDA dibandingkan kelompok kontrol yang mendapatkan plasebo. Vitamin C berperan sebagai inhibitor enzim aldose reduktase sehingga meminimalisasi pembentukan AGE dan menekan produksi MDA (Setiawan et al., 2005) dan vitamin E berperan menghambat reaksi rantai radikal lipid (Castillo et al., 2005). Keduanya mampu bekerja bersama menghambat reaksi oksidasi, dengan mengaktifkan sejumlah antioksidan enzimatik lain seperti SOD dan GSH (Tapp, 2006), namun akibat kondisi hiperglikemia yang terjadi terus menerus menyebabkan produksi peroksidasi lipid meningkat, sehingga antioksidan tubuh tidak mampu mengimbangi peningkatan oksidasi ini. Peningkatan kadar MDA pada subjek penelitian sejalan dengan keadaan hiperglikemia yang dialami.
Berdasarkan uji korelasi dan pengaruh yang dilakukan Yassin et al.
(2015), menunjukkan bahwa ada hubungan dan pengaruh kadar KGD terhadap kadar MDA setelah suplementasi (p=0,001). Tingginya kadar KGD diikuti dengan tingginya kadar MDA, hal ini terjadi akibat peningkatan hiperglikemia dapat mempromosikan peningkatan peroksidasi lipid, sehingga meningkatkan produksi MDA.
Kadar SOD tampak meningkat dalam semua pengukuran, kecuali tidak ada perubahan hanya pada hari pertama kelompok plasebo. Selain itu tingkat SOD lebih besar di gambir dibandingkan dengan kelompok plasebo, tetapi itu tidak signifikan secara statistik (P> 0,05) (Tabel 4.2). Tabel 4.3 menunjukkan bahwa kadar SOD pada kelompok plasebo baik waktu puasa ataupun 2 jamPP hari-14 lebih rendah daripada hari pertama, namun secara statistik tidak signifikan.
Sebaliknya, pada kelompok gambir kadar SOD pada keadaan puasa ataupun 2 jamPP hari ke-14 lebih besar dibanding haripertama,namun secara statistik tidak signifikan. Bila diamati peningkatan persentase kadar SOD dalam kelompok gambir lebih besar dari pada kelompok plasebo, khususnya pada hari ke-1 peningkatan persentase kadar SOD dalam kelompok gambir adalah enam kali lebih tinggi daripada kelompok plasebo (Tabel 4.4). Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Andriyanie et al. (2015), penelitian efek umbi binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap penurunan KGD dan peningkatan aktifitas SOD jantung tikus yang diinduksi aloksan yang dilakukan. Aloksan menyebabkan hiperglikemia dengan diawali oleh pembentukan ROS (Reactive
kemudian menghambat transportasi glukosa ke sel-sel tubuh sehingga menimbulkan penimbunan glukosa dalam darah (Lenzen, 2008). Sayangnya pada penelitian Lenzen tidak diukur kadar MDA. Flavonoid yang terkandung didalam umbi binahong tersebut berperan sebagai scavenger radikal karena mampu menangkap radikal bebas dalam tubuh dengan adanya ikatan rangkap terkonjugasi dan atom H sebagai donor dari gugus hidroksil (-OH) fenolik pada saat bereaksi dengan radikal bebas (Retno et al., 2013). Hasil penelitian didapatkan pengujian antidiabetes setelah diterapi menggunakan ekstrak etanol 70 % umbi binahong dosis 25, 50 dan 75 mg/kg BB memberikan pengaruh penurunan kadar glukosa darah dan peningkatan aktifitas SOD pada jantung tikus berturut-turut sebesar 5,511; 5,217 dan 4,942 u/ml dengan dosis terbaik yaitu 25 mg/kg BB. Kandungan flavonoid didalam umbi binahong diduga mengembalikan sensitifitas reseptor insulin pada sel sehingga menurun kadar glukosa tersebut, selain itu flavonoid sebagai antioksidan yang dapat memperbaiki sel β pankreas yang telah rusak akibat radikal bebas (Saleh et al., 2012). Umbi binahong juga mengandung senyawa saponin yang dimungkinkan berperan dalam menghambat aktivitas enzim α-glukosidase, yaitu enzim yang bertanggungjawab pada pengubahan karbohidrat menjadi glukosa sehingga menurunkan kadar glukosa darah (Manoi et al., 2009). Sedikit berbeda dengan penelitian Dries et al. (2017) menyatakan kadar MDA berkorelasi positif dengan KGD dan berkorelasi negatif dengan kadar metformin didalam plasma. Kadar SOD tidak berkorelasi dengan KGD, tapi berkorelasi negatif dengan kadar MDA (r= -0.554, p<0.001).
Sebuah penelitian sebelumnya menunjukkan tidak ada perbedaan dalam stres oksidatif enzim antioksidan SOD pada pasien kanker kolorektal dengan dan tanpa terapi gambir (Daroux, 2010).
Sistem pertahanan antioksidan diukur dengan aktivitas enzim antioksidan katalase dan SOD. Suplementasi uncaria dapat mengubah nilai stres oksidatif atau aktivitas enzim antioksidan. Catechin diidentifikasi sebagai senyawa bioaktif utama yang terkandung didalam gambir. Catechin merupakan antioksidan yang aman. Hal ini dibuktikan Anggraini et al. (2010) yang menyatakan bahwa penggunaan gambir aman dengan menguji toksisitasnya menggunakan gambir sampai dengan dosis 15 gram/kgBB pada mencit.
Dosis catechin secara dependen menurunkan tingkat serum MDA dan peningkatan SOD pada kelompok diabetes yang diterapi catechin versus kelompok diabetes yang tidak diobati (P<0,05) (Samarghandian, 2017).
Pemberian dosis catechin 20-80 mg/kgBB/hari, terbukti paling efektif pada dosis 80 mg/kgBB/hari. Dalam penelitian ini kami tidak dapat menunjukkan fenomena ini kemungkinan dikarenakan dosis ekstrak gambir yang digunakan relatif rendah (375 mg).
Catechin adalah senyawa polifenol yang terkait dengan berbagai macam efek kesehatan yang bermanfaat secara in vitro, in vivo dan klinis. Sifat terapeutik ini telah lama dikaitkan dengan antioksidan dan efek radikal bebas dari catechin.
Obat herbal lain seperti coklat mengandung komponen polifenol yaitu catechin, epicatechin, dan procyanidin B2. Komponen-komponen ini memiliki aktivitas
Sanches et al. (2013) meneliti perubahan terkait stres oksidatif pada otot skeletal gagal jantung dan pasien diabetes tipe 2 (dibandingkan vs kontrol yang sehat) dan mengevaluasi efek pengobatan tiga bulan dengan (-) - epicatechin kaya kakao (ERC). Ada perubahan parah dalam sistem regulasi stres oksidatif pada otot skeletal gagal jantung dan pasien diabetes tipe 2 dibandingkan dengan kontrol yang sehat. Perawatan dengan (-) epicatechin kakao kaya diinduksi pemulihan di tingkat glutathione dan meningkat dalam SOD (Sanchez et al., 2013).
Telah disarankan bahwa fluktuasi konsentrasi glukosa darah, seperti yang diamati selama kunjungan glikemik pascaprandial pada orang dengan DMT2, dapat berkontribusi secara signifikan terhadap stres oksidatif yang telah terlibat sebagai penyebab yang mendasari komplikasi makrovaskuler dan mikrovaskular yang terkait dengan DMT2 dan mengembangkan diabetes (Sanchez, 2013).
Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan KGD yang signifikan setelah mengkonsumsi 100 gram roti terjadi pada kedua kelompok dan tidak ada perbedaan KGD yang signifikan antara kedua kelompok (Tabel 4.2). Tabel 4.3 menunjukkan KGD secara signifikan lebih rendah pada hari ke-14 dibandingkan dengan pada hari ke-1, kecuali KGD 2 jam postprandial pada kelompok plasebo, tidak ada perubahan. Persentase kenaikan KGD 2 jam postprandial pada kelompok plasebo adalah dua kali lipat dan signifikan secara statistik (p= 0,02).
Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan KGD yang signifikan setelah mengkonsumsi 100 gram roti terjadi pada kedua kelompok dan tidak ada perbedaan KGD yang signifikan antara kedua kelompok (Tabel 4.2). Tabel 4.3 menunjukkan KGD secara signifikan lebih rendah pada hari ke-14 dibandingkan dengan pada hari ke-1, kecuali KGD 2 jam postprandial pada kelompok plasebo, tidak ada perubahan. Persentase kenaikan KGD 2 jam postprandial pada kelompok plasebo adalah dua kali lipat dan signifikan secara statistik (p= 0,02).