• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Kebijakan Akuntansi 1 PT Energi Mega Persada Tbk.

Dalam dokumen Faktor faktor penyajian kembali laporan (Halaman 49-53)

HASIL DAN ANALISA PENELITIAN

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian Tahun

4.2.2. Pengungkapan Penyajian Kembal

4.3.2.1. Perubahan Kebijakan Akuntansi 1 PT Energi Mega Persada Tbk.

Perusahaan melakukan beberapa kali akuisisi anak perusahaan, dimana yang terakhir dilakukan adalah akuisisi PT Tunas Harapan Perkasa yang telah berlaku efektif sejak tanggal 25 Januari 2006. Akuisisi ini merupakan transaksi dengan pihak sepengendali dan sesuai dengan PSAK No. 38 Perusahaan menyajikan kembali laporan keuangan konsolidasi untuk tahun – tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2005, 2004 dan 2003. Dampak penyajian kembali atas ekuitas anak perusahaan disajikan sebagai ”Proforma Ekuitas dari Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”.

4.3.2.1.2. PT. Bank Artha Graha Internasional Tbk.

Berdasarkan akta penggabungan yang diaktakan pada tanggal 14 April 2005 serta addendum akta penggabungan tanggal 2 Mei 2005 PT Bank Artha Graha menggabungkan diri kedalam PT Bank Inter-Pacific, Tbk. Dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa untuk melakukan penggabungan usaha.

Penggabungan usaha ini dilakukan dengan menggunakan metode penyatuan kepentingan (pooling of interest method), sesuai dengan PSAK No. 22 ”Akuntansi Penggabungan Usaha” dan PSAK No. 38 ”Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”. Penggabungan usaha tesebut menjadi effektif sejak tanggal persetujuan perubahan anggaran dasar perusahaan oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. C.16863.HT.01.04.TH.2005 tanggal 17 Juni 2005 dan perubahan tersebut telah terdaftar pada daftar perusahaan di Departemen Perindustrian dan Perdagangan dengan No. 782/RUB.09.03/VII/2005 tanggal 11 Juli 2005. atas peristiwa tersebut laporan keuangan perusahaan melakukan penyajian kembali laporan keuangan konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 untuk tujuan perbandingan.

4.3.2.1.3. PT. International Nickel Indonesia Tbk.

Di tahun 2005, Perusahaan mengubah kebijakan akuntansi untuk depresiasi Aktiva Tetap menjadi metode garis lurus selama usia ekonomis aktiva tetap, periode Kontrak Karya atau usia tambang, mana yang lebih dulu. Sebelumnya, Perusahaan menggunakan metode unit produksi yaitu menyusutkan nilai buku aktiva tetap dan estimasi biaya perolehan Aktiva Tetap dimasa datang sebesar perbandingan antara produksi bijih/mineral dengan cadangan bijih/mineral terbukti dan terduga yang akan ditambang dimas depan.

Perusahaan berkeyakinan metode garis lurus dapat lebih mencerminkan kegiatan bisnis Perusahaan karena metode ini mempertimbangkan hak untuk menambang berdasarkan Kontrak Karya. Kontrak Karya ini akan berakhir pada tahun 2025. Penerapan kebijkan ini sejalan dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh induk Perusahaan, Inco limited, dan dengan praktik umum industri industri pertambangan.

Perusahaan juga mengubah kebijakan akuntansi untuk pelepasan aktiva tetap dengan mengakui laba/rugi karena pelepasan aktiva tetap di Laporan Rugi Laba. Sebelumnya, selisih nilai perolehan dari pelepasan/penjualan Aktiva Tetap (jika ada), dibebankan ke akumulasi depresiasi dengan tidak mengakui adanya laba/rugi dalam pelepasan aktiva tetap dalam Laporan Laba Rugi.

Perusahaan juga mengadopsi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 (revisi 2004) mengenai Imbalan Kerja. Sehubungan dengan hal yang disebutkan diatas Perusahaan melakukan penyajian kembali atas laporan keuangan tahun 2004.

4.3.2.1.4. PT. Bank Mega Tbk.

Pada tahun 2004, PT Mega Capital Indonesia (MCI), Anak perusahaan, menerbitkan saham baru sebesar Rp 20.000 untuk 40.000.000 saham, Bank tidak mengambil haknya atas penerbitan saham baru tersebut sehingga pemilikan Bank atas MCI turun dari 99.05% menjadi 63.03%. Saham baru tersebut diambil seleuruhnya oleh PT Para Global Investindo (PGI), pemegang saham pendiri utama Bank. Dilusi pemilikan tersebut dibukukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 38 tentang ”Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali” dimana rugi atas dilusi tersebut sebesar

Rp 950 dicatat sebagai ”Selisih Transaksi Entitas Sepengendali” sebagai bagian dari ekuitas.

Pada tanggal 18 Mei 2005, Bank mengadakan perjanjian jual beli saham dengan PGI untuk menjual 69.334.500 saham atau 63,03% pemilikan Bank pada MCI dengan harga sebesar Rp 48.500. Selisih antara harga jual dengan aktiva bersih Anak perusahaan sejumlah Rp 4.523 dibukukan sebagai bagian akun ”Selisih Transaksi Entitas Sepengndali” Transaksi tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diselenggarakan pada tanggal 10 Maret 2005 dan telah diaktakan dengan akta notaris Imas Fatimah,S.H., No. 22 pada tanggal yang sama.

Transaksi diatas dilakukan dengan entitas sepengendali sehingga dicatat sesuai dengan PSAK No. 38 tentang ”Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”. Dengan demikian transakisi tersebut seolah – olah telah dilakukan sejak awal periode penyajian laporan keuangan. Dengan demikian akun – akun MCI yang dikonsolidasi dalam neraca konsolidasi Bank tahun 2004 dikeluarkan dan nilai aktiva bersihnya dicatat dalam akun ”Proforma Modal yang Timbul dari Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”. Demikian pula dengan akun – akun MCI yang dikonsolidasi ke dalam laporan laba rugi konsolidasi Bank tahun 2004 dikeluarkan dan dicatat dalam akun ”Efek Penyesuaian Proforma”.

Laporan keuangan tahun 2004 telah disajikan kembali untuk mencerminkan posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas akibat dari penjualan pemilikan Bank pada MCI.

4.3.2.2. Perubahan Standar Akuntansi dan Peraturan.

Pada tanggal 2 Juni 2004, Ikatan Akuntan Indonesia telah mengeluarkan PSAK No. 24 (Revisi 2004) mengenai imbalan kerja. Sesuai dengan ketentuan dalam pernyataan tersebut, perusahaan memberlakukan penerapan awal PSAK No. 24 (revisi 2004) sebagai perubahan kebijakan akuntansi yang diterapkan retrospektif. Dengan demikian, laporan keuangan perusahaan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 telah disajikan kembali agar dapat diperbandingkan. (untuk penyajian kembali masing – masing laporan keuangan dapat dilihat pada lampiran ini). Dari hasil penelitian ada beberapa perusahaan yang belum menerapkan PSAK No. 24 pada tahun 2004 dan melakukan penyajian kembali laporan keuangannya pada tahun 2005 untuk mengaplikasikan perubahan standar akuntansi yang telah direvisi dan atas perubahan tersebut perusahaan melakukan penyajian kembali.

Pada tahun 2005 berdasarkan hasil penelitian diperoleh tidak hanya penyajian kembali yang disebabkan oleh belum diterapkannya PSAK No. 24 pada tahun 2004 tetapi juga penerapan PSAK No. 38 mengenai ”Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”. Berdasarkan sampel diperoleh bahwa PT Global Financindo Tbk melakukan penyajian kembali atas penerapan PSAK No 24 atas ”Imbalan Kerja” dan PSAK No 38 atas ”Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”.

Pada catatan atas laporan keuangan PT Global Financindo Tbk diinformasikan efektif tanggal 1 Januari 2005, Perusahaan menerapkan PSAK No. 38 (Revisi 2004) ”Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali” secara restropektif. PSAK ini mengharuskan realisasi selisih restrukturisasi dibukukan ke laba rugi jika kondisi di PSAK terpenuhi. Laporan keuangan konsolidasi untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2004, telah disajikan kembali dengan pengakuan secara restropektif atas selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali sebesar Rp 53.338.995.366,00 yang diakui dari akuisisi saham PT Bank Nusa Internasional. Pada tanggal 31 Desember 2005 dan 2004, Perusahaan dan Perusahaan afiliasi diatas sudah tidak mempunyai substansi sepengendali dan investasi terkait pada Perusahaan tersebut telah dilepaskan. Oleh karena itu, berdasarkan PSAK No. 38 (Revisi 2004), saldo ”Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali” yang disajikan pada bagian ekuitas pada neraca konsolidasi dan

laporan perubahan ekuitas konsolidasi pada laporan keuangan tahun 2004 dan 2003 telah disajikan kembali.

4.3.2.3. Kesalahan Mendasar.

Dalam dokumen Faktor faktor penyajian kembali laporan (Halaman 49-53)

Dokumen terkait