• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Perubahan Kekeringan Tahunan

Kekeringan pertanian lahan sawah di Jawa Barat yang mengakibatkan puso terjadi hampir setiap tahun walaupun dengan luasan dan sebaran yang berbeda-beda, demikian juga dengan tingkat kekeringannya. Sebaran spasial kekeringan yang terjadi tahun 2000-2011 kemudian dikaitkan dengan kondisi fisik wilayahnya seperti curah hujan, kemiringan lereng, drainase tanah, geomorfologi, dan wilayah irigasi.

Sebaran kekeringan yang terjadi juga dikaitkan dengan fenomena iklim global pada rentang waktu yang sama untuk mengetahui adanya anomali akibat pergeseran musim. Kekeringan pertanian lahan sawah hasil kajian diperoleh dengan menggunakan Citra MODIS memakai metode TVI (Thermal Vegetation Index) telah dipetakan dan dianalisis. Luasan kekeringan sangat berat dapat dilihat pada Tabel 5.1, sedangkan peta kekeringan lahan sawah Mei-September tahun 2000-2011 dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Tabel 5.1. Luasan (ha) Kekeringan Sangat Berat di Jawa Barat Tahun 2000-2011

No Tahun Mei Juni Juli Agustus September

1 2000 282.936,4 157.430,5 166.435,8 342.476,9 485.356,4 2 2001 221.666,9 203.721,2 186.052,3 327.221,6 331.181,2 3 2002 311.186,7 145.919,5 217.584,5 181.171,2 500.899,2 4 2003 290.091,7 247.351,6 427.921,5 635.655,4 787.172,3 5 2004 243.223,2 228.235,8 199.440,5 442.627,1 528.693,9 6 2005 315.939,2 227.568,2 191.246,5 314.143,4 248.882,2 7 2006 300.811,1 258.879,5 280.071,3 526.253,4 806.564,0 8 2007 388.819,0 350.406,7 321.180,1 577.217,1 718.013,3 9 2008 350.433,6 368.524,6 680.667,7 680.667,7 772.677,1 10 2009 469.802,5 519.444,7 553.132,9 666.103,1 756.976,8 11 2010 365.390,2 184.677,0 262.833,2 256.636,3 101.958,7 12 2011 231.689,1 336.706,4 277.257,6 428.630,1 201.922,3

T H

MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER

2 0 0 0 2 0 0 1 2 0 0 2 2 0 0 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

T H

MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER

2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

T H

MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER

2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 2 0 1 1 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Sgt Berat

A. Tahun 2000

Kekeringan ringan paling banyak terjadi pada bulan Mei-Juli tahun 2000, sedangkan bulan Agustus-September didominasi oleh kekeringan sangat berat. Kekeringan sedang-berat juga cenderung meningkat dari bulan Mei sampai September. Kekeringan berat sampai sangat berat terjadi di sebagian kecil Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, dan Bandung. Selanjutnya pada bulan Agustus-September, kekeringan meluas di Kabupaten yang mempunyai kekeringan sangat berat pada bulan Mei-Juli, ditambah dengan Kabupaten lainnya di sebelah timur dan selatannya, seperti Kabupaten Purwakarta, Majalengka, Kuningan, Sukabumi, dan Garut, sedangkan Kabupaten Tasikmalaya merupakan satu-satunya kabupaten yang tidak mengalami kekeringan sangat berat pada bulan September. Pada bulan September, daerah yang mempunyai tingkat kekeringan berat paling luas adalah Kabupaten Karawang sebesar 15.183,3 ha, sedangkan kekeringan sangat berat ada di Kabupaten Indramayu sebesar 127.981,2 ha. Pada bulan September tahun 2000 ini, kekeringan sangat berat mencapai 485.356 ha atau sekitar 40% dari total luas lahan sawah di Jawa Barat. Grafik luasan kekeringan bulan Mei-September tahun 2000 dapat dilihat pada Gambar 5.2 di bawah ini.

Gambar 5.2. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2000

Lahan sawah di sebagian Kabupaten Karawang bagian utara pada bulan Agustus (Gambar 5.1, no 4) sebagian tidak terdapat kekeringan, sebagian lagi

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2000

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

mengalami kekeringan ringan padahal CH 0-50 mm/bln. Fenomena tersebut membuktikan bahwa yang mempengaruhi kekeringan lahan sawah tidak hanya curah hujan tetapi faktor lain. Dalam penelitian ini faktor lain yang dilihat berupa karakteristik fisik wilayah, yaitu kemiringan lereng, drainase tanah, geomorfologi, dan irigasi. Secara geomorfologis, wilayah tersebut merupakan cekungan rawa pantai yang merupakan bentuklahan asal marine sehingga lebih lama menyimpan air, kemiringan lereng <10, ada irigasi, drainase tanah sangat terhambat, dan jenis tanah Hydraquent. Tanah ini ditemukan di lahan berupa dataran alluvial hasil sedimentasi, di sepanjang pesisir pantai wilayah Bekasi, Karawang, Subang dan Indramayu. Sifat dan ciri tanah, berwarna kelabu-kelabu muda kepucatan, struktur pejal atau melumpur, tekstur lempung berpasir-liat/liat berdebu, konsistensi lekat, kandungan bahan organik sedang sampai tinggi, dan kejenuhan basa tinggi. Tebal solum dalam, muka air tanah dangkal-sangat dangkal, laju infiltrasi rendah-sangat rendah, drainase sangat buruk dan permeabilitas sangat lambat. Hydraquent ditemukan berasosiasi tanah dengan Sulfaquent, yaitu great group Entisol yang mempunyai bahan sulfidik pada kedalaman < 50 cm dan biasanya selalu jenuh air.

B. Tahun 2001

Gambar 5.3 menunjukkan luasan kekeringan bulan Mei-September tahun 2001. Kekeringan yang cukup mendominasi pada bulan Mei-September adalah kekeringan ringan, walaupun kekeringan sangat berat meningkat tajam pada bulan Agustus-September. Bulan September merupakan puncak kekeringan, mencapai 331.181 ha atau 27% dari total luas lahan sawah di Jawa Barat. Apabila dibandingkan dengan tahun 2000, kekeringan tahun 2001 ini lebih ringan. Walaupun demikian, pola dan sebaran spasial kekeringan pada tahun 2001 hampir sama, yaitu kekeringan sangat berat dimulai dari daerah pantai utara kemudian bergerak ke selatan atau timur, hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.1, no 6-10. Tahun ini yang tidak terjadi kekeringan sangat berat pada bulan September adalah Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya. Sama dengan tahun 2000, daerah yang mempunyai kekeringan berat dan sangat berat paling luas adalah Kabupaten Karawang (19.730,5 ha) dan Kabupaten Indramayu (99.646,6 ha).

Gambar 5.3. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2001

Sebagian besar wilayah Jawa Barat mempunyai CH 101-200 mm/bln pada bulan Mei-Juni tahun 2001, tetapi bagian utara Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu mengalami kekeringan sangat berat, hal itu disebabkan karena daerah tersebut merupakan daerah datar yang mempunyai kemiringan lereng <10, berada di dekat pantai utara sehingga suhunya tinggi dan penguapan besar. Geomorfologi yang terbentuk adalah dataran limbah banjir, cekungan rawa pantai, dataran pasang surut, dan dataran alluvial dengan drainase agak terhambat sampai sangat terhambat, dengan jenis tanah Tropaquept, yaitu ordo Entisol yang memiliki bahan sulfidik pada kedalaman ≤ 50 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki regim suhu tanah iso (perbedaan suhu musim panas dan dingin kurang dari 5oC). Tanah Entisol merupakan tanah yang belum mempunyai perkembangan profil atau merupakan tanah-tanah sisa erosi sehingga solum tanahnya sangat dangkal. Pada umumnya mempunyai potensi erosi yang tinggi sampai sangat tinggi. Tanah ini umumnya berkembang dari alluvium muda di dataran pantai atau jalur air yang merupakan bahan endapan muda dengan daerah berbatu, solum tanah sangat dangkal (Hardjowigeno, 1993).

C. Tahun 2002

Kekeringan paling berat pada tahun 2002 terjadi pada bulan September, hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.4 yang menunjukkan kenaikan grafik kekeringan sangat berat dari bulan Agustus ke September yang cukup besar. Kekeringan sangat berat pada bulan September mencapai 500.899 ha atau sekitar

0 100000 200000 300000 400000 500000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2001

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

42% dari total luas lahan sawah di Jawa Barat. Kondisi kekeringan tersebut lebih berat dibandingkan tahun 2000 dan 2001, sedangkan distribusi spasialnya lebih merata di Jawa Barat walaupun tetap dimulai dari daerah pantura. Wilayah yang mempunyai kekeringan berat terluas adalah Kabupaten Sukabumi pada bulan September, yaitu sebesar 18.320,4 ha, sedangkan kekeringan sangat berat terluas adalah Kabupaten Karawang sebesar 60.721,6 ha.

Gambar 5.4. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2002

Kabupaten Karawang yang mempunyai kekeringan sangat berat paling luas pada bulan September 2002 memiliki karakteristik CH 0-50 mm/bln, kemiringan lereng datar - sangat landai, mempunyai wilayah irigasi 82% dari luas keseluruhan sawah, bentuklahan bervariasi seperti cekungan rawa pantai, dataran pasang surut (marine), dataran alluvial, dataran limbah banjir (fluvial), dan lereng rombakan (denudasional). Drainase tanah baik – agak terhambat, dengan jenis tanah Tropaquepts dan Ustipsamments. Karakteristik jenis tanah Tropaquepts telah dijelaskan di atas, sedangkan Ustipsamment adalah Entisol yang memiliki tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar, dengan drainase lebih baik dari Aquent, serta memiliki rejim kelembapan tanah ustik (tanah yang setiap tahun kering > 90 hari kumulatif tetapi < 180 hari) (Hardjowigeno, 1993). Kondisi yang paling berperan memicu terjadinya kekeringan lahan sawah adalah CH sangat rendah dan topografinya yang berada di dataran rendah dekat pantai utara Jawa sehingga suhu dan kecepatan angin lebih tinggi dibandingkan di daerah

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2002

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

pegunungan. Hal tersebut meningkatkan penguapan sehingga lahan sawah menjadi kering. Walaupun terjangkau saluran irigasi, dimungkinkan sistemnya tidak jalan sehingga tidak mampu mengatasi kekeringan di Kabupaten Karawang.

D. Tahun 2003

Grafik pada Gambar 5.5 menunjukkan luasan kekeringan sangat berat meningkat mulai dari bulan Mei sampai September, sedangkan jenis kekeringan lainnya cenderung tetap atau malah menurun, namun luas kekeringan sangat berat pada bulan September 2003 sangat besar, mencapai 787.172 ha atau 66% dari total luas lahan sawah di Jawa Barat. Kejadian kekeringan ini paling berat dibandingkan tahun 2000-2002. Semua Kabupaten/Kota di Jawa Barat mengalami kekeringan sangat berat pada bulan September walaupun masih ada juga yang ringan sampai berat tetapi proporsinya sangat kecil. Kondisi tersebut terlihat dengan jelas pada Gambar 5.1 no 20, hampir seluruhnya berwarna merah yang merupakan simbol kekeringan sangat berat. Kabupaten Indramayu merupakan wilayah yang mempunyai tingkat kekeringan sangat berat terluas pada September 2003 ini yaitu 126.520,7 ha dengan karakteristik fisik CH 0-50 mm/bln, kemiringan lereng 0-30, bentuklahan asal fluvial (dataran kipas delta, dataran limbah banjir, dataran alluvial), marine (dataran pasang surut, cekungan rawa pantai), 62% lahan sawah terjangkau irigasi, drainase tanah baik – agak terhambat dengan jenis tanah Tropodults dan Tropaquept. Tropodults yaitu Ultisol di daerah humid (musim kering singkat), mempunyai rejim kelembaban tanah udik, kandungan bahan organik rendah, muka air tanah selalu di bawah solum tanah serta tidak terdapat warna kelabu atau karatan langsung di bawah horison A (Hardjowigeno, 1993), sedangkan Tropaquept telah dijelaskan di atas. Faktor fisik yang paling berperan dalam menyebabkan kekeringan di Kabupaten Indramayu ini adalah CH, irigasi, dan bentuklahan yang dipengaruhi aktivitas marine.

Pola spasial kekeringan yang terjadi pada tahun 2003 ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu dari utara kemudian menyebar ke arah timur dan selatan. Pesisir selatan tidak terdapat kekeringan pada bulan Mei, seperti di Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya, kekeringan

cenderung ringan pada bulan tersebut, tetapi beranjak pada bulan Juli mulai terdapat kekeringan berat sampai sangat berat di pesisir selatan.

Jawa Barat bagian tengah dan selatan lahan sawahnya lebih sedikit dibandingkan utara karena geomorfologinya sebagian besar berupa bentuklahan asal vulkan dan denudasional seperti sawah yang berada pada kipas lahar gunungapi, lereng kaki gunungapi, dan dataran bergelombang. Kekeringan yang terjadi di bagian tengah dan selatan juga cenderung lebih ringan karena berada pada daerah bergunung dengan kemiringan lereng landai sampai agak curam. Daerah bergunung tersebut mempunyai suhu lebih rendah dibandingkan daerah pantura sehingga penguapannya lebih kecil.

Gambar 5.5. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2003

Jenis tanah di bagian tengah dan Selatan Jawa Barat sebagian besar adalah Dystropepts, Dystradepts, dan Tropodults. Dystropepts adalah jenis tanah Inceptisols dengan sifat agak lapuk, iklim panas dengan nilai jenuh tanah bawah, kejenuhan basa rendah, laju infiltrasi sedang, solum tanah dalam, dan muka air tanah dalam. Dystrandept dicirikan sebagai tanah yang mengandung bahan asal abu vulkanik 60% lebih di dalam fraksi debu, pasir dan kerikil. Dystrandept mempunyai kejenuhan basa <50% di semua horizon di antara kedalaman 25 dan 75 cm. Karakteristik Dystrandept merupakan tanah – tanah muda yang memiliki ciri – ciri yang sama dengan bahan induknya dan umumnya banyak mengandung debu vulkanik sehingga memiliki pH yang tinggi, sedangkan Tropudalf adalah

0 200000 400000 600000 800000 1000000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2003

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

ordo Alfisols yang mempunyai rejim kelembaban udik, merupakan tanah yang sudah berkembang membentuk susunan horison lengkap (horison A, B, C, R), pada umumnya bertekstur geluh berlempung-lempung sehingga mempunyai laju infiltrasi rendah-sedang, permeabilitas sedang solum tanah dalam-sangat dalam, muka air tanah dalam, struktur gumpal, konsistensi teguh bila basah lekat dan agak plastis (Hardjowigeno, 1993). Ketiga jenis tanah tersebut mempunyai drainase baik, berbeda dengan di bagian utara yang drainase tanahnya agak terhambat sampai sangat terhambat.

Curah hujan Mei-September 2003 cukup bervariasi, hal tersebut dapat dilihat pada Lampiran Gb 16-20, yaitu bulan Mei masih terdapat hujan yang cukup lebat. Menurut Departemen Pertanian, minggu I-III Januari 2003 masih terjadi kekeringan, tetapi memasuki minggu keempat terjadi peningkatan curah hujan di Indonesia yang merupakan akibat adanya siklon tropis yang bergerak dari arah Australia ke barat laut dari Indonesia. Curah hujan mulai berkurang pada bulan Juni sampai September sehingga kekeringan sangat berat meningkat sampai bulan September. Hasil kajian anomali SST (Sea Surface temperature) yang dihasilkan oleh Climatology Research Group Institut Teknologi Bandung memperlihatkan bahwa tahun 2002/2003 merupakan tahun El Nino dengan intensitas lemah-sedang.

E. Tahun 2004

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Mei-Juli kekeringan ringan mendominasi pada tahun 2004 ini, sedangkan bulan Agustus-September kekeringan sangat berat meningkat. Kekeringan sangat berat pada tahun ini tidak seluas tahun 2003, yaitu hanya sekitar 528.693 ha atau meliputi 44% dari luas sawah di Jawa Barat. Luasan kekeringan sedang dan berat dari bulan Mei sampai Juli meningkat kemudian menurun pada bulan Agustus sampai September. Dari Gambar 5.1 no 25 dapat dilihat bahwa sebaran spasial kekeringan sangat berat pada bulan September tidak sampai merata di seluruh Jawa Barat, hanya daerah pantura kemudian meluas sedikit ke selatan sampai Kabupaten Bandung, sedangkan kekeringan ringan merata hampir di semua Kabupaten di Jawa Barat.

Sgt Berat

Kekeringan sangat berat paling luas pada bulan September 2004 berada di Kabupaten Indramayu (123.493,3 ha) yang karakteristik fisiknya telah dijelaskan di atas, sedangkan wilayah yang mempunyai kekeringan berat paling luas adalah Kabupaten Bogor (8.925,6 ha). Lahan sawah di Kabupaten Bogor yang mengalami kekeringan berat mempunyai karakteristik sebagai berikut: bentuklahan kipas lahar gunungapi (fluvial gunungapi), perbukitan bergelombang terlipat kuat (struktural), kemiringan lereng 1-30, CH 201-400 mm/bln, hanya 9,52% lahan sawah terjangkau irigasi, drainase tanah agak baik sampai baik dengan jenis tanah Paleudults.

Gambar 5.6. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2004

Jenis tanah Paleudult yaitu ordo Ultisol daerah humid dimana musim kering singkat, kandungan bahan organik rendah, muka air selalu di bawah solum tanah, tidak terdapat warna kelabu atau karatan langsung di bawah horizon A, mempunyai rejim kelembapan tanah udik. Sifat tanah lainnya adalah memiliki kandungan mineral mudah lapuk pada kedalaman <1 m, <10% dan kandungan liat menurun <20% sampai kedalaman 1,5 m (Hardjowigeno, 1993). Ordo Ultisol adalah tanah-tanah yang telah mengalami perkembangan lanjut, dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada lapisan bawah yang disebut sebagai horison argilik, dengan kejenuhan basa < 35%. Tanah ini terbentuk dari batuan sedimen, metamorfik dan bahan volkanik. Solum tanah dalam, tekstur halus, drainase baik dan reaksi tanah masam. Penyebarannya terutama pada fisiografi perbukitan dan pegunungan dengan bentuk wilayah bergelombang sampai bergunung. Potensi tanah ini selain ditentukan oleh tingkat kesuburan yang tergolong rendah sampai

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2004

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

sangat rendah, juga faktor bentuk wilayah yang bergelombang sampai bergunung, sehingga potensinya sesuai untuk tanaman tahunan (Soil Survey Staff, 1999). Pada kondisi ini yang paling berpengaruh dalam meyebabkan kekeringan berat di Kabupaten Bogor adalah bentuklahan dan jenis tanah karena pada bulan ini CH termasuk tinggi.

F. Tahun 2005

Gambar 5.7 menunjukkan bahwa pada tahun 2005 ini kekeringan terberat terjadi bukan pada bulan September seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan bulan Agustus. Pada bulan tersebut kekeringan sangat berat mencapai 26% dari total luas lahan sawah Jawa Barat, sedangkan pada bulan September hanya sekitar 20%. Bulan Juni mempunyai tingkat kekeringan ringan yang paling besar, sekitar 28% dari total luas lahan sawah Jawa Barat. Kekeringan pada tahun ini secara keseluruhan tergolong lebih ringan dibandingkan kekeringan yang terjadi tahun 2000-2004.

Sebaran spasial kekeringan Jawa Barat pada tahun 2005 ini dapat dilihat pada Gambar 5.1. no 26-30. Terjadi perubahan dari kekeringan sangat berat pada bulan Mei menjadi kekeringan ringan-sedang pada bulan September. Daerah tersebut antara lain Kecamatan Pedes, Tempuran, dan Cilamaya di Kabupaten Karawang. Hal itu disebabkan wilayah tersebut termasuk area yang dialiri air irigasi sehingga mungkin telah diatur sedemikian rupa sehingga tingkat kekeringannnya menjadi lebih ringan.

Kekeringan berat paling luas pada bulan Agustus 2005 adalah Kabupaten Bekasi (10.542,6 ha) sedangkan kekeringan sangat berat terluas ada di Kabupaten Indramayu (98.107,8 ha) yang karakteristik fisiknya telah dijelaskan di atas. Lahan sawah di Kabupaten Bekasi yang mengalami kekeringan berat berada pada kemiringan lereng 0-30, 67% terjangkau irigasi, CH 51-100 mm/bln, bentuklahan dataran alluvial, dataran limbah banjir (fluvial), kipas lahar gunung api (fluvial gunung api), drainase baik - agak terhambat, jenis tanah Tropaquept, Tropudult, dan Paleudult yang telah dijelaskan sifatnya di atas. Kondisi fisik yang paling mempengaruhi kekeringan pada tahun ini adalah CH dan jenis tanah.

Puso

Gambar 5.7. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2005

G. Tahun 2006

Kekeringan yang terjadi tahun 2006 lebih berat dibandingkan pada tahun 2003, yaitu pada bulan September luasan kekeringansangat berat mencapai 806.563 ha atau sekitar 68% luasan lahan sawah di Jawa Barat. Fluktuasi luasan kekeringannya dapat dilihat pada Gambar 5.8. Kekeringan sangat berat melonjak tajam, dari sekitar 280.000 ha di bulan Juli naik menjadi 526.000 ha di bulan Agustus, lalu menjadi 806.563 ha di bulan September. Peta isohyet (Lampiran Gb 31-35) menunjukkan bahwa dari bulan Juli sampai September curah hujan hanya 0-50 mm/bulan. Masih ada beberapa daerah yang mempunyai CH 51-100 mm/bulan pada bulan Juli yaitu sekitar Kabupaten Bogor dan Tasikmalaya. Menurut kajian BMKG, bulan Juni 2006 - Februari 2007 ada pengaruh El Nino di Indonesia.

Sebaran kekeringan sangat berat pada bulan September 2006 hampir merata di seluruh Jawa Barat dapat dilihat pada Gambar 5.1 no 35. Hanya sebagian kecil Kabupaten Karawang, Tasikmalaya, Cianjur, Ciamis, dan Sukabumi yang mengalami kekeringan ringan, padahal termasuk wilayah yang dialiri irigasi pertanian. Pesisir selatan yang jarang kekeringan pun mengalami kekeringan sangat berat pada tahun ini. Wilayah yang mempunyai kekeringan berat paling banyak pada September 2006 ini adalah Kabupaten Cianjur (19.636,3 ha), sedangkan sangat berat di Kabupaten Indramayu (130.937,9 ha).

0 100000 200000 300000 400000 500000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2005

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

Lahan sawah di Kabupaten Cianjur yang mengalami kekeringan berat mempunyai karakteristik sebagai berikut: tidak ada irigasi, kemiringan lereng landai sampai agak curam, CH 0-50 mm/bln, bentuklahan lereng kaki gunung api bergelombang (vulkan terdenudasi), dataran alluvial danau (fluvial danau), lereng kaki gunung api purba (vulkan), dan kipas lahar gunung api purba (fluvial gunung api), drainase tanah agak baik sampai baik, jenis tanah Paleudult dan Dystropept.

Gambar 5.8. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2006

H. Tahun 2007

Kekeringan sangat berat terluas pada tahun 2007 ini terjadi pada bulan September di Kabupaten Indramayu ( 126.548,9 ha), sedangkan kekeringan berat terluas ada di Kabupaten Garut (16.036,3 ha). Karakteristik lahan sawah yang mengalami kekeringan berat adalah irigasi hanya meliputi 11% lahan sawah, sangat landai sampai agak curam (1-90), CH 0-50 mm/bln, bentuklahan dataran antar gunung (vulkan), dataran alluvial (fluvial), dan dataran bergelombang tertoreh sedang (denudasi) , drainase baik, jenis tanah Eutropept dan Eutrandept.

Eutropept adalah jenis tanah Inceptisols dengan sifat agak lapuk, iklim panas dengan nilai jenuh tanah bawah, kejenuhan basa rendah, laju infiltrasi sedang, solum tanah dalam, muka air tanah dalam, kejenuhan basa tinggi, sedangkan Eutrandept dicirikan oleh adanya alofan, suatu mineral liat amorf seperti gell yaitu yang terbentuk dari pelapukan abu vulkan. Secara spesifik tanah – tanah ini mempunyai porositas tinggi, mempunyai kapasitas tukar kation

0 200000 400000 600000 800000 1000000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2006

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

tinggi dan mampu mengikat residu pestisida di dalam tanah (Hardjowigeno, 1993).

Gambar 5.1 no 31-35 menunjukkan bahwa di Kabupaten Karawang terjadi pergeseran tempat yang mengalami kekeringan ringan. Tingkat kekeringan ringan pada bulan Mei dialami di bagian tengah kabupaten, kemudian bergeser ke utara seiring dengan pergantian bulan. Daerah tersebut merupakan wilayah cakupan irigasi, fenomena pergeseran tingkat kekeringan membuktikan bahwa adanya giliran pengairan. Kekeringan hampir merata di seluruh kabupaten pada bulan September, hanya sekitar 11.200 ha sawah yang tidak mengalami kekeringan, sisanya mengalami kekeringan ringan sampai sangat berat.

Gambar 5.9. Luas Kekeringan Mei-September Tahun 2007

Grafik pada Gambar 5.9 menunjukkan bahwa pada tahun 2007 ini sawah yang terkena kekeringan ringan dan sedang luasannya seimbang dari bulan Mei sampai September, kuantitasnya naik dari Mei sampai Juli, kemudian turun pada bulan Agustus-September sedangkan kekeringan sangat berat pada bulan Mei sekitar 388.000 ha kemudian turun menjadi 321.000 ha di bulan Juli, kemudian naik tajam menjadi 577.000 ha pada bulan Agustus, lalu di bulan September naik lagi menjadi 718.000 ha atau mencapai 60% seluruh luasan sawah yang ada di Jawa Barat. Hal tersebut sesuai dengan CH yang mulai menurun mulai bulan Juli sampai September. 0 200000 400000 600000 800000

mei juni juli agst sept

Kekeringan Th 2007

Ringan sedang Berat Sgt Berat ha Bulan

I. Tahun 2008

Kekeringan pada tahun 2008 ini cukup berat, hampir sama dengan kekeringan pada tahun 2003 dan 2006. Peta kekeringan tahun 2008 pada Gambar 5.1 no 41-45, dapat dilihat bahwa sebagian besar Jawa Barat yang semula berwarna hijau dan kuning yang menggambarkan tidak kering-kering ringan pada bulan Mei-Juni berubah menjadi sebagian besar merah yang menggambarkan kekeringan sangat berat pada bulan Juli-September. Berbeda dengan tahun 2007, pada tahun 2008 ini kenaikan tajam luasan sawah yang mengalami tingkat kekeringan sangat berat dimulai pada bulan Juli (Gambar 5.10), maju satu bulan dibandingkan pada tahun 2007. Kenaikannya yaitu sekitar 312.000 ha dari bulan Juni ke Juli, sedangkan Juli ke September naik sekitar 92.000 ha menjadi 772.600

Dokumen terkait