4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Perubahan Komposisi Jenis Lamun
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di tiga stasiun penelitian didapatkan tiga jenis spesies lamun di wilayah perairan Pulau Panjang. Diantara tiga jenis spesies yang ditemukan dua diantaranya merupakan suku
Potamogetonaceae, yaitu Syringodium isoetifolium dan Cymodocea serrulata, sedangkan satu jenis lagi berasal dari suku Hydrocharitaceae, yaitu Syringodium isoetifolium. Komposisi jenis lamun di setiap stasiun pengamatan ditampilkan pada Gambar 3.
28
(a) (b)
(c)
Gambar 3. Komposisi jenis lamun di tiap stasiun (a). Stasiun I (b) Stasiun II (c) Stasiun III
Ditemukan dua jenis lamun pada Stasiun I, yaitu Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata dengan komposisi terbesar adalah jenis lamun Enhalus acoroides mencapai 66% dibandingkan Cymodocea serrulata yang hanya 34%. Jenis lamun Syringodium isoetifolium tidak ditemukan di Stasiun I seperti dua stasiun lainnya, hal ini diduga karena relatif tingginya TSS di daerah tersebut 13 mg/L dan kedalaman perairan yang tergolong dangkal sehingga sering tersingkap saat surut, menurut Kuriandewa (2009) lamun jenis ini tidak dijumpai di daerah yang
mengalami pemaparan saat surut. Hal yang sama pernah diteliti oleh Terrados et al (1998) dalam Hemminga dan Duarte (2000) dengan melakukan pengukuran di daerah Asia Tenggara, dalam laporannya disebutkan bahwa hilangnya jenis lamun Syringodium isoetifolium yang disebabkan karena mendangkalnya perairan akibat tingginya padatan tersuspensi (TSS) sehingga terjadi sedimentasi di perairan tersebut. Larkum et al. (2006) melaporkan bahwa kemungkinan hanya jenis lamun Enhalus acoroides dan jenis lamun yang memiliki pertumbuhan stem secara vertikal yang cepat (Cymodocea nodosa dan C. serrulata) yang dapat beradaptasi di
perairan yang memiliki karakteristik seperti ini. Pendapat ini diperkuat oleh Kiswara (1997) yang melaporkan bahwa lamun jenis Syringodium isoetifolium dapat tumbuh subur pada perairan yang selalu tergenang oleh air, dan sulit tumbuh di daerah yang dangkal. Stasiun I merupakan daerah yang dekat dengan perumahan padat
penduduk, diduga tingginya TSS akibat dari masukan limbah rumah tangga dan akumulasi serasah yang dihasilkan oleh mangrove.
Berbeda dengan Stasiun I, pada Stasiun II dan Stasiun III didominasi oleh jenis lamun Syringodium isoetifolium. Komposisi terbesar ditemukan di Stasiun III dengan persentase 81% sedangkan pada Stasiun II sebesar 60%. Jenis lamun Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata juga ditemukan di stasiun ini tetapi dengan persentase yang sedikit.
Berdasarkan hasil penelitian dari tahun 1989 sampai dengan tahun 2010 telah terjadi pengurangan dan perubahan jumlah dan jenis lamun di perairan Pulau Panjang, perbandingan komposisi jenis lamun pada tahun 1989, 2008, dan 2010 dapat dilihat pada Tabel 4.
30
Tabel 4. Komposisi jenis lamun pada tahun 1989, 2008, dan 2010
Jenis Tahun 1989* 2008* 2010 (Kiswara, 1997) Zulkarnain, 2009) (data penelitian) Enhalus acoroides x x x Cymodocea rotundata x - - C. serrulata x x x Halophila decipiens - - - H. minor - - - H. ovalis x - - H. spinulosa - - - Halodule pinifolia - x - H. uninervis x - - Syringodium isoetifolium x - x Thalassia hemprichii x x - Thalassodendron ciliatum - - - Jumlah 7 4 3
*Ket : (x) = Terdapat Lamun
Kiswara (1997) mengambil data di perairan Teluk Banten pada tahun 1989, sedangkan Zulkarnain pengambilan data dilakukaan perairan Pulau Panjang pada tahun 2008.
Kiswara (1997) melaporkan pada tahun 1989 di Teluk banten terdapat 7 jenis lamun antara lain Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii. Tahun 1998 – 2001 jumlah lamun yang ditemukan pada daerah yang sama
bertambah menjadi 8 jenis dengan ditemukannya spesies Halophila ovata. Daerah perairan Pulau Panjang sendiri menurut Zulkarnain (2009) pada tahun 2008 hanya terdapat 4 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassis hemprichii, Cymodocea serrulata, dan Halophila spinullosa. Hal ini berbeda dengan lamun yang ditemukan
pada tahun 2010 dimana hanya ditemukan tiga jenis lamun yaitu jenis Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, dan Syringodium isoetifolium. Lamun jenis Thalassia hemprichi tidak ditemukan lagi di Pulau Panjang, berdasarkan laporan Kiswara (1997) jenis lamun Thalassia hemprichi tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah yang berasosiasi dengan mangrove, sedangkan daerah Pulau Panjang memiliki komunitas mangrove yang cukup luas di bagian barat dan selatan.
4.3. Kerapatan Jenis Lamun
Kerapatan jenis lamun mempunyai ketergantungan terhadap jenisnya, lamun jenis Syringodium isoetifolium akan lebih rapat jika dibandingkan dengan lamun jenis Enhalus acoroides dan Cymodocea rotundata karena berhubungan dengan ukuran daun dan letak pertumbuhan daun. Kerapatan total lamun di Pulau Panjang digambarkan pada grafik yang disajikan dalam Gambar 4, sedangkan kerapatan jenis lamun digambarkan pada Gambar 5.
Gambar 4. Kerapatan total lamun
0 20 40 60 80 100 120
32
Kerapatan lamun tertinggi ditemukan di Stasiun III yang mencapai 110 ind/m2, sedangakan terendah pada Stasiun I mencapai 13 ind/m2. Tidak ditemukannya jenis Syringodium isoetifolium pada Stasiun I menjadi penyebab rendahnya nilai
kerapatan total di wilayah ini. Pertumbuhan lamun yang kurang baik di Stasiun I diantaranya disebabkan oleh tingginya nilai TSS yang disebabkan oleh buangan limbah rumah tangga, kapal dan serta serasah mangrove, dangkalnya perairan sehingga tersingkap pada saat surut yang diduga dapat mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan lamun dan tidak terdapatnya beberapa jenis lamun yang didapatkan di Stasiun lain.
Gambar 5. Kerapatan rata-rata jenis lamun
Jenis lamun Enhalus acoroides dapat ditemukan di Stasiun I, Stasiun II, dan stasiun III, namun kerapatan tertinggi ditemukan di Stasiun II (10 ind/m2)
dibandingkan dengan Stasiun I (9 ind/m2) dan Stasiun III (8 ind/m2). Sulitnya lamun
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
Enhalus Cymodocea Syringodium
berkembang di Stasiun I diduga karena relatif dangkalnya perairan pada saat surut rendah serta merupakan perairan yang relatif banyak mendapat dampak
antropogenous yang berasal dari limbah rumah tangga, kapal, limbah pencucian rumput laut, buangan kapal, serta serasah mangrove sehingga memiliki padatan tersuspensi yang relatif tinggi, yaitu 13 mg/L.
Jenis lamun Syringodium isoetifolium merupakan jenis lamun yang memiliki nilai kerapatan yang tinggi di Stasiun III maupun di Stasiun II. Syringodium
isoetifolium dapat tumbuh dengan baik pada Stasiun II dan Stasiun III, karena tumbuh pada perairan yang relatif dalam walaupun sedang surut dangkal dan sedikit mendapat dampak antropogenous sehingga tidak terlalu mengalami sedimentasi. Wilayah perairan yang memiliki padatan tersuspensi yang tinggi dapat mengalami sedimentasi dan menyebabkan Syringodium isoetifolium sulit untuk berkembang (Hemminga dan Duarte, 2000). Tinginya kerapatan Syringodium isoetifolium di Stasiun III disebabkan karena substrat yang cocok untuk habitatnya, yang sebagian besar merupakan pasir berlumpur dengan nilai TSS 9 mg/L. Jenis lamun Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata juga tumbuh dengan baik dan membentuk komunitas campuran yang berasosiasi dengan beberapa jenis alga, seperti Sargassum, Padina, dan Halimeda.
Laporan Kondisi Padang Lamun (seagrass) di Perairan Teluk Banten 1998 - 2001 (Kiswara, 2004) mendapatkan kerapatan jenis Enhalus acoroides berkisar (40 – 80) ind/m2, untuk lamun jenis Cymodocea serrulata berkisar (60 – 190) ind/m2, sedangkan untuk lamun jenis Syringodium isoetifoilium berkisar (1230 – 3920) ind/m2 seperti yang ditampilkan pada Gambar 6.
34
Gambar 6. Kerapatan rata-rata lamun Teluk Banten pada tahun 2000 (Kiswara, 2004)
Hal ini sangat berbeda dengan kondisi sekarang, diduga banyak disebabkan karena meningkatnya aktifitas penggerukan wilayah daratan pada kisaran tahun 1989 - 2002 sehingga meningkatnya nilai kekeruhan di perairan (Yunus, 2008). Faktor lain yang diduga mempengaruhi adalah tingginya nilai padatan tersuspensi yang masuk ke perairan yang mempengaruhi penetrasi cahaya yang masuk ke perairan dan juga perubahan struktur komposisi sedimen.