• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4 Metode Analisis Data

3.4.2 Hasil Analisis Data

Metode dan teknik penyajian hasil analisis data dilakukan dengan dua cara, yakni metode informal dan formal. Metode informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, sedangkan metode formal adalah perumusan dengan tanda dan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993: 145). Penyajian secara formal tampak dalam penggunaan tanda di antaranya: tanda bintang arterisk (*),tanda panah (→) tanda kurung miring (//) dan sebagainya. Adapun lambang yang dimaksud diantaranya adalah lambang huruf sebagai singkatan kata ( PAN dan BG) dan sebagainya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perubahan Makna yang terjadi dari Bahasa Proto-Austronesia Ke Bahasa Gayo.

Perubahan makna yang terjadi dari bahasa proto ke bahasa Gayo adalah perubahan makna meluas dan perubahan makna menyempit. Perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna tetapi kemudian karena beberapa faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Menurut chaer (1995), yang dimaksud dengan makna mengurang atau menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya memiliki makna yang cukup luas, lalu berubah menjadi terbatas. Dalam Rachmat (2019).

4.1.1 Perubahan Makna Meluas

Perluasan makna terjadi pada sebuah kata yang semula memiliki satu makna tetapi karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain.

PAN *utak terwaris dalam BG dengan perubahan vocal tinggi belakang /a/

menjadi vocal tinggi depan /o/ pada silabel ultima terbuka. Perubahan ini menurunkan kata “utok” dalam BG. PAN *utak bermakna “otak” yaitu alat untuk berpikir yang terdapat di bagian dalam kepala manusia. Kata “utok” dalam BG memiliki dua makna yaitu :

1. Otak yang dibagian kepala dalam arti kongkrit. Seperti kalimat di bawah ini;

a. kekanak si metoh ari nangka mane parah pedeh sampek pecah ulue tangkoh utok ke.

b. “anak yang jatuh dari pohon nangka kemarin sangat parah sampai pecah kepalanya keluar otaknya”.

2. Pikiran. Seperti kalimat dibawah ini;

a. buet sana ningko ya lagu jema gere mutok.

b. “pekerjaan apa ini seperti orang tidak ada otak”.

Dari contoh penggunaan kalimat-kalimat di atas terlihat gejala perluasan makna PAN dalam BG. PAN *utak yang semula bermakna “otak dalam arti kongkrit meluas maknanya menjadi otak dalam arti “pikiran”. Gejala perluasan makna ini disebabkan oleh faktor asosiasi. Masyarakat cenderung mengasosiasikan fungsi otak sebagai alat untuk berfikir sehingga terjadilah perluasan makna PAN *utak menjadi otak yang berupa pikiran manusia.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B C PAN *utak (otak) - -

BG utok (otak) mutok -

PAN *dapuy terwarisi dengan perubahan konsonan /y/ mejadi /r/.

perubahan ini mewariskan kata “dapur” dalam BG. PAN *dapuy bermakna tungku api yaitu tempat memasak yang dinyalakan api di bawahnya. Dalam BG kata “dapur” juga bermakna tungku api. Namun dalam perkembangan maknanya, kata “dapur” juga memiliki makna lain yaitu “ruangan tempat memasak”.

Sebagai contoh,

1. dapur ruangan untuk memasak

a. ibi dapor ku nge murengop, kerna kuyu keras mane.

b. “bik dapur saya sudah rusak, karena angin kencang kemarin”.

2. dol dapur (abu dari bakaran kayu)

a. sareng kope mulo dol dapor ni male ken uwak

b. “saring kan dulu abu dapur ni mau untuk obat”.

Dapur yang semula bermakna tungku meluas maknanya menjadi ruangan.

Gejala perluasan makna ini disebabkan oleh faktor asosiasi. Masyarakat cenderung menyamakan rujukan “tungku dengan ruangan dapur” karena pada hakikatnya tunggu dan dapur terletak dalam ruangan yang sama. Dengan demikian, terjadilah perluasan makna dapur menjadi “ruangan tempat memasak”.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B C PAN *dapuy (tungku api) - -

BG dapur (tungku api) dol dapur (abu dari bakaran kayu)

dapur (ruangan tempat memasak) PAN *karu terwaris linier sebagai kata “karu” dalam BG. PAN *karu bermakna “ribut”. Dalam BG, kata “karu” juga bermakna “ribut”. Akan tetapi selain bermakna ribut, kata karu juga bermakna bertengkar.

Misalnya dalam kalimat berikut ;

1. Pertengkaran.

a. engon so jema o nge karu ya.

b. “lihat orang itu sedang bertengkar”.

Namun dalam kalimat lain;

a. Enti karu, gere tepenge ne ceramah ustad ho.

b. “Jangan ribut, tidak bisa terdengar ceramah ustad itu”.

Dari kalimat di atas, terlihat gejala perluasan makna PAN dalam BG. PAN *karu yang semula bermakna ribut meluas menjadi “bertengkar dan ribut”. Perluasan makna ini diakibatkan oleh faktor kekaburan makna. Tidak adanya perbedaan makna yang pasti antara “bertengkar dan ribut” sehingga makna kata “karu”

dalam BG meluas menjadi bertengkar.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B C PAN *karu (ribut) - -

BG karu (ribut) karu (bertengkar) -

PAN *ba’u terwaris secara linier ke dalam BG sebagai kata ‘bau’. PAN

*ba’u bermakna kata “bau busuk” yaitu bau tidak enak yang disebabkan oleh sesuatu benda. Kata bau dalam BG juga digunakan untuk menyatakan “bau busuk”. Namun dalam perkembangannya kata bau juga digunakan untuk menyatakan bau wangi. Jadi semua jenis bau dalam BG digunakan kata bau.

Misalnya dalam kalimat ;

a. Bau sana ini lagu bau borok

b. “Bau apakah ini seperti bau busuk”.

Kata bau dalam kalimat tersebut menyatakan bau busuk. Dalam kalimat lain ;

a. Wangi di bau e parfum mu ni hana merek ke ? b. “Wangi sekali parfum kamu apa merk nya?”

Dari dua kalimat di atas dengan makna yang dirujuknya terlihat gejala perluasan makna PAN dalam BG. Kata bau yang semula bermakna bau busuk meluas menjadi bau busuk dan bau wangi. Gejala perluasan makna ini disebabkan oleh faktor linguistik yaitu kebiasaan memunculkan dua makna kata bersama – sama sehingga makna dari sebuah kata dialihkan begitu saja kedalam makna yang lain.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B C PAN *ba’u (bau busuk) - -

BG bau borok (bau busuk) bau wangi (bau wangi)

bau mesing (bau gosong)

PAN *tuha terwaris seacara inovasi dalam BG dengan mengalami perubahan dan penghilangan konsonan /h/ dan perubahan konsonan /a/ menjadi /e/

mewariskan kata “tue” dalam BG. PAN *tuha bermakna tua yaitu orang/hewan yang sudah berusia lama. Kata tue dalam BG juga bermakna tua.

Namun dalam perkembangannya kata tue ini mempunyai makna lain yaitu ;

1. Orang tua

a. Nasihat urang tue enti lupen.

b. “Nasihat orang tua jangan di lupakan”.

2. Penasihat kampung

a. Ike sanah pe buet torah orom petue.

b. “Apapun urusan harus dengan aparat desa”.

Dari beberapa contoh kalimat di atas terlihat gejala perluasan makna PAN dalam BG. PAN *tuha yang semula bermakna “orang yang berusia lanjut” meluas menjadi beberapa makna lain dalam BG. Gejala perluasan makna ini disebabkan oleh faktor sosial. Dalam konteks hubungan sosial, orang tua sangat memerankan peranan penting dalam pengambilan keputusan. Orang yang sudah berusia tua dianggap mampu menyelesaikan masalah-masalah dalam masyarakat, karena dianggap berpikiran matang. Struktur sosial masyarakat semakin berkembang dengan aturan-aturan yang memerlukan penanganan yang bijaksana. Dengan demikian orang tua yang merupakan sosok yang dihormati meluas maknanya karena peran-perannya yang di laksanakan di dalam masyarakat.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B C PAN *tuha (usia lanjut) - -

BG tue (tua) urang tue (orang tua) petue (aparat desa)

PAN *bunga terwaris dengan perubahan vocal /a/ menjadi /e/ perubahan ini menurunkan kata bunge. PAN *bunga bermakna bunga yaitu bagian tumbuhan yang akan menjadi buah, dalam BG kata bunge bermakna bunga. Namun dalam perkembangannya makna kata bunge memiliki makna lain yaitu seperti dalam kalimat ;

b. “Bunga kopi nya banyak sekali”.

Dari kalimat diatas terdapat gejala perluasan makna PAN dalam BG. PAN

*bunga yang semula memiliki makna bagian dari tanaman sebelum menjadi buah.

Pada saat berbunga sesuatu itu dianggap awal dari sebuah keberhasilan atau

BG Bunge kupi (bunga tumbuhan kopi) Bunge sen (bunga uang)

PAN *kaka terwaris dengan penghilangan vocal rendah pada silabel ultima terbuka /k/. Penghilangan ini mewariskan kata ‘aka’. PAN *kaka bermakna saudara perempuan kandung. Dalam BG kata ‘aka’ juga bermakna kakak saudara

perempuan kandung. Namun dalam perkembangannya makna kata ‘aka’ memiliki makna lain yaitu seperti dalam kalimat ;

1. Sapaan untuk orang yang lebih tua.

a. Piyen rege e toes ni aka?

b. “Berapakah harga rebung ini kak”?

Makna kata aka disini untuk menyapa orang perempuan yang lebih tua.

2. Sapaan untuk orang perempuan yang di kenal.

a. Arisi enggeh te ka

b. “Kakak berasal dari mana”?

Dari contoh kalimat terlihat gejala perluasan makna PAN dalam BG. PAN

*kaka yang semula bermakna saudara perempuan kandung meluas maknanya menjadi dua rujukan lain. Gejala perluasan makna ini disebabkan oleh faktor sosial. Hubungan sosial untuk menjaga kesopanan dan sikap saling menghargai menyebabkan perluasan makna untuk PAN *kaka ini.

Seperti data dibawah ini :

aka (sapaan untuk menghormati seseorang)

PAN *masak terwaris dengan mengalami perubahan vocal /m/ menjadi /t/.

Perubahan ini mewariskan kata tasak dalam BG. PAN *masak bermakna masakan yang telah matang. Kata tasak dalam BG juga bermakna masakan yang telah matang. Namun dalam perkembangan maknanya kata masak ini memiliki makna lain yaitu seperti dalam kalimat ;

1. Buah yang sudah tua dan waktunya di petik.

a. Ntah kite beloh ngotep pake uwah kupi ku I emposo nge meh tasak.

b. “Ayo kita pergi memetik kopi di kebun ku”.

2. Kepanasan.

a. Ike lagu ini porak nelo bebuet kite wan umeo tasak kiteni b. “Kalau begini teriknya hari bekerja di sawah kepanasan kita”.

Dari contoh kalimat di atas dapat kita lihat gejala perluasan makna PAN dalam BG. PAN *masak yang bermakna masakan yang matang, meluas menjadi buah-buahan yang siap di panen, dan kepanasan. Hal ini disebabkan karena makanan dikonsumsi setelah selesai di masak, begitu juga dengan buah-buahan yang di konsumsi setelah matang. Demikian juga dengan meluasnya PAN *masak ini menjadi kepanasan. Hal ini disebabkan karena proses memasak itu identik dengan suhu panas. Dengan demikian makna PAN *masak ini pun mengalami perluasan makna.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B C PAN *masak (telah matang) - -

BG tasak (telah matang) tasak (siap panen) tasak (kepanasan)

PAN *mata mewariskan secara linier sebagai kata turun dalam BG. PAN * mata bermakna alat indera untuk melihat. Namun dalam perkembangannya kata mata memiliki makna lain yaitu seperti kalimat di bawah ini ;

1. Hati- hati ko we ara mata-mata e ya.

- “hati- hati kamu dia ada mata-matanya”.

2. Aku beli mata nekek ni mulo meha baru beloh nekek kite ku lot.

- “aku beli mata pancing dlu setelah itu kita pergi memancing ke danau”.

Berdasarkan contoh diatas terlihat gejala perluasan makna PAN *mata yang semula bermakna jalan menurun meluas maknanya menjadi beberapa rujukan lain dalam BG. Perluasan makna ini disebabkan oleh faktor asosiasi

4.1.2 Perubahan Makna Menyempit

Perubahan makna menyempit terjadi untuk membedakan arti ke yang lebih spesifik atau khusus. Etimon PAN berikut ini mencerminkan perubahan makna dalam BG yang disebutkan sebagai penyempitan makna.

PAN *manuk terwaris dengan perubahan vocal tinggi belakang /u/

menjadi /o/ mewariskan dalam BG sebagai kata ‘manok’. Kata ‘manuk’ dalam PAN bermakna jenis unggas seperti burung, akan tetapi juga bermakna ikan.

Dalam BG kata ‘manok’ juga bermakna ‘burung’ sedangkan untuk menyatakan

‘ikan’ dalam BG dikenal kata ‘gule’. Disini terlihat gejala penyempitan makna yang semula digunakan untuk menyatakan semua jenis unggas dan ikan, namun di dalam BG kata ‘manuk’ hanya untuk menyatakan burung. Penyempitan makna kata ‘manok’ ini diakibatkan oleh faktor perkembangan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup. Burung adalah binatang peliharaan favorit bagi sebagian orang dan dijadikan untuk sumber pendapatan. Dalam perkembangannya semakin banyak masyarakat yang tertarik memelihara burung semakin banyak pula jenis-jenis dan nama-nama dari burung tersebut.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B

PAN *manuk (burung) *manuk (ikan) BG manuk (burung) -

PAN *buluh terwaris dengan penghilangan vokal /b/ dalam BG sebagai kata uluh. Kata ‘uluh’ dalam PAN bermakna bambu yang merujuk pada semua

jenis bambu. Dalam BG kata ‘uluh’ juga bermakna bambu namun merujuk pada jenis ‘bambu’ yang digunakan. Jika digunakan untuk membuat lemang, dikenal dengan ‘uluh pedih’, jika digunakan untuk dinding rumah dikenal dengan ‘uluh regen’ dan yang di gunakan untuk pagar dikenal dengan ‘uluh biang’. Disini terlihat gejala penyempitan makna PAN dalam BG. Bahasa Gayo mengenal beberapa kata yang berhubungan dengan bambu yaitu disebut dengan kata towes.

Kata ‘towes’ di pakai untuk merujuk pada bambu yang masih muda sedangkan bambu yang sudah tua disebut dengan uluh. Ada pepatah Gayo mengatakan

"tengah kucak ken pong kero nge kol ken pong nome" artinya adalah sewaktu kecil bisa jadikan bahan pangan ketika sudah besar di jadikan dinding rumah.

Gejala penyempitan makna diakibatkan oleh faktor pemenuhan kebutuhan hidup dan lingkungan. Bambu adalah tanaman perdu yang tumbuh liar dihutan yang sangat bermanfaat. Begitu banyak manfaat bambu dalam kehidupan masyarakat sehingga dibutuhkan penamaan khusus untuk bagian-bagian bambu dan jenis-jenis bambu yang akrab dengan kebutuhan masyarakat.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B

PAN *buluh (segala jenis bambu) - BG Tergantung pada jenis bambunya -

PAN *bungkuk terwaris secara linier ke dalam BG sebagai kata

‘bungkuk’. PAN * bungkuk bermakna pada semua jenis ‘bengkok’ pada manusia maupun benda. Sementara kata bungkuk dalam BG hanya digunakan untuk menyatakan keadaan bengkok pada manusia. Untuk menyatakan ‘bengkok’ pada

benda dalam BG digunakan kata ‘gedok’. Disini terlihat gejala penyempitan makna PAN dalam BG. Penyempitan makna ini disebabkan oleh psikologis karena faktor tabu. Tabu adalah sesuatu yang suci dan di hormati. Sehubungan dengan penyempitan makna kata bungkuk ini yang khusus digunakan untuk menyebutkan keadaan bengkok pada manusia yang disebabkan karena faktor tabu yang bersumber pada rasa kesopanan, keadaan bungkuk terjadi pada manusia yang usianya sudah tua. Orang tua adalah orang yang pantas dihormati dan bentuk penghormatan itu bisa direalisasikan dalam pemilihan kosa kata yang khusus.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B

PAN *buꬼkuk (pada manusia) *buꬼkuk (pada benda)

BG *buꬼkuk (pada manusia) -

PAN *paꬼkat terwaris linier dalam BG sebagai kata pangkat. PAN

*pankat bermakna kedudukan/jabatan, langkah. Sementara dalam BG pangkat bermakna tingkatan kedudukan/jabatan dalam pemerintahan baik sipil atau militer. Misalnya dalam kalimat “Subah mupangkat pe nye sepoh”, “karena berpangkat pun terus sombong”. Atas di nge pangkate letda . “Pangkatnya sudah tinggi letda”. Dari kedua kalimat tersebut tampak bahwa kata pangkat hanya khusus digunakan dalam BG untuk mengatakan tentang jabatan yang dimiliki seseorang dalam pemerintahan saja. Dalam hal ini terjadi penyempitan makna dari bahasa protonya yang semula bermakna tingkatan, langkah-langkah, kini hanya

digunakan untuk menyebutkan jabatan dalam pemerintahan saja. Gejala penyempitan makna ini disebabkan oleh faktor keperluan.

Seperti data dibawah ini :

Nama A B

PAN *paꬼkat (kedudukan/jabatan) *paꬼkat (langkah)

BG *paꬼkat (kedudukan/jabatan) -

PAN *patung terwaris dengan perubahan vokal tinggi depan /u/ menjadi vokal tengah belakang /o/ pada posisi ultima tertutup yang mewariskan kata patong dalam BG. PAN *patung bermakna patung, gambar. Sementara kata patung dalam BG bermakna patung saja. Disini terlihat gejala penyempitan makna PAN dalam BG. Penyempitan makna ini disebabkan oleh faktor perbedaan asosiasi. Pada mulanya patung dan gambar dianggap memiliki rujukan yang sama karena keduanya adalah refleksi dari suatu benda atau mahluk karena hasil sebuah karya. Namun kemudian, seiring perkembangan bahasa, asosiasi keduanya berbeda. Patung adalah hasil karya yang merupakan refleksi manusia atau benda dibuat lebih terkesan hidup dan biasanya dibuat dengan ukiran atau menggunakan benda padat untuk memahatnya. Namun gambar adalah hasil karya yang merupakan realisasi bentuk asli juga namun terbuat dari kertas.

Seperti data dibawah ini :

PAN *lipꬿt terwaris secara linier dengan mewariskan kata lipet dalam BG.

PAN *lipet bermakna membungkus, melipat. Sementara kata lipat dalam BG bermakna melipat saja. Misalnya dalam kalimat "naku lipet kope mulo opohni.

Nak tolong lipatlan kain ini. Sementara untuk merujuk kata membungkus digunakan kata bungkus. Dari kalimat diatas terlihat bahwa kata lipet dan bungkus mempunyai dua rujukan yang berbeda dalam BG. Disini terlihat gejala penyempitan makna PAN dan BG yang diakibatkan oleh faktor perbedaan tanggapan pemakai bahasa. Faktor perbedaan tanggapan pemakai bahasa yang berbeda dari dua rujukan ini menghendaki penyempitan makna.

Seperti data dibawah ini :

Penghalusan makna adalah gejala perubahan makna dengan makna kata yang tetap, tetapi konsep makna mengenai kata tersebut berubah menjadi lebih halus (santun/berkonotasi positif [tinggi]). Gejala penghalusan makna ini merupakan gejala umum pada masyarakat Indonesia.

PAN *babuj terwaris dengan mengalami perubahan vocal /u/ dan /j/ menjadi /i/. Perubahan ini mewariskan kata babi dalam BG. PAN *babuj bermakna hewan yang bermoncong dan berbahaya. Kata babi dalam BG juga bermakna hewan

yang bermoncong dan berbahya. Akan tetapi di dalam BG kata lipe berubah memiliki makna menjadi lebih halus seperti berikut ini:

1. Abang item

c. Nengone kelemne abang item liwet meh korok ne tanohni merah ketol d. “Kelihatannya tadi malam babi lewat mencari cacing”.

Dari contoh kalimat di atas dapat kita lihat gejala penghalusan makna PAN dalam BG. Orang Gayo memiliki sebuah kepercayaan mengganti kata ‘babi’

menjadi kata ‘abang item’. Hal ini disebabkan karena ketika mereka berada di dalam hutan ada rasa takut dengan hewan buas seperti babi, oleh karena itu mereka mengganti kata babi menjadi ‘abang item’ karena lebih sopan, dengan demikian makna PAN *babuj ini pun mengalami penghalusan makna.

4.1.4 Penyebab Terjadinya Perubahan Makna Bahasa Proto Austronesia ke Bahasa Gayo.

Ada berbagai faktor yang melatar belakangi terjadinya perubahan makna yaitu:

1. Faktor linguistik, perubahan makna karena faktor linguistik bertalian erat dengan fonologi, morfologi, dan sintaksis.

2. Faktor asosiasi, hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain berkenaan dengan bentuk ujaran itu maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu

3. Pertukaran tanggapan indra, alat indra kita yang lima sebenarnya sudah mempunyai tugas-tugas tertentu untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi. Umpanya rasa pahit, getir, dan manis harus ditanggap oleh alat perasa lidah. Rasa panas, dingin, dan sejuk harus ditanggap oleh alat perasa pada kulit. Gejala yang berkenaan dengan cahaya seperti terang, gelap, dan remang-remang harus ditanggap dengan alat indra mata; sedangkan yang berkenaan dengan bau harum ditanggap dengan alat indra penciuman, yaitu hidung. Namun dalam penggunaan bahasa banyak terjadi kasus pertukaran tanggapan antara indra yang satu dengan yang lain.

Rasa pedas, misalnya, yang seharusnya ditanggap dengan alat indra perasa lidah, tertukar menjadi ditanggap oleh alat indra pendengaran seperti tampak dalam ujaran kata-katanya cukup pedas.

4. Perkembangan sosial dan budaya, perkembangan dalam masyarakat berkenaan dengan sikap social dan budaya, juga menyebabkan terjadinya perubahaan makna. Kata saudara, misalnya pada mulanya berarti seperut, atau orang yang lahir dari kandungan yang sama. Tetapi kini, kata saudara digunakan juga untuk menyebut orang lain. Sebagai kata sapaan, yang diperkirakan sederajat baik usia maupun kedudukan sosial.

BAB V SIMPULAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan gambaran tentang perubahan makna Proto Austronesia ke bahasa Gayo kajian Linguistik Historis Komparatif, dapat disimpulkan bahwa perubahan makna yang terjadi dari bahasa proto ke bahasa Gayo adalah perubahan makna meluas, perubahan makna menyempit dan perubahan penghalusan makna. Perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna tetapi kemudian karena beberapa faktor memiliki makna-makna lain.

Perubahan makna menyempit terjadi untuk membedakan arti ke yang lebih spesifik atau khusus. Etimon PAN berikut ini mencerminkan perubahan makna dalam bahasa Gayo yang disebutkan sebagai penyempitan makna.

Adapun faktor penyebab terjadinya perubahan makna bahasa Proto Austronesia ke bahasa Gayo yaitu faktor linguistik, faktor kesejarahan, faktor sosial masyarakat, faktor psikologis, faktor kebutuhan kata baru, faktor perkembangan ilmu dan teknologi, faktor perbedaan bidang pemakaian lingkungan, faktor pengaruh bahasa asing, faktor asosiasi, faktor pertukaran

tanggapan indera, faktor perbedaan tanggapan pemakaian bahasa, faktor penyingkatan.

5.2 Saran

Berdasarkan kajian di atas, penelitian terhadap bahasa daerah sangatlah penting demi kelestarian bahasa tersebut. Bahasa daerah dapat dikaji dengan banyak teori salah satunya adalah Linguistik Historis Komparatif. Penelitian Linguistik Historis Komparatif dapat dikatakan masih langka, sehingga kiranya penelitian-penelitian yang berhubungan dengan kedua hal tersebut lebih ditingkatkan lagi atau ditangani secara lebih mendalam. Untuk penyempurnaan kajian Linguistik Historis Komparatif dalam BG sebaiknya dilakukan pendalaman terhadap bahasa tersebut, seperti meneliti perubahan makna apa saja yang terjadi dalam BG, rekonstruksi protobahasanya dan mencari kekerabat BG.

DAFTAR PUSTAKA

Apulina M, Arnati WN.2017. “Pewarisan Bunyi Etimon-etimon Proto-Austronesia dalam Bahasa Karo”. Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud: Vol. 21, No.1, Hal 129-134.

Andrian, Fredy F.2013. Perubahan Bunyi Fonem Vokal Etimon-Etimon Proto

Andrian, Fredy F.2013. Perubahan Bunyi Fonem Vokal Etimon-Etimon Proto

Dokumen terkait