• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan lahan atau alih fungsi lahan adalah perubahan fungsi yang terjadi pada suatu lahan dalam kurun waktu yang berbeda. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut yaitu faktor politik dan faktor ekonomi. Faktor politik dapat mempengaruhi pola perubahan terhadap suatu lahan karena adaya kebijakan yang diambil oleh pengambil keputusan. Faktor ekonomi adalah perubahan pendapatan serta pola konsumsi yang menyebabkan kebutuhan akan ruang dan tempat rekreasi meningkat sehingga terjadilah perubahan penggunaan lahan (Dirjen, 2008).

Permintaan akan sumberdaya lahan yang semakin meningkat disebabkan oleh meningkatnya aktifitas pembangunan dan keterbatasan serta karakteristik sumberdaya lahan mendorong beralih fungsinya lahan-lahan pertanian ke non-pertanian (Lopulisa, 1995).

Menurut Nasoetion dan Winoto (1996) ada dua faktor yang langsung menentukan proses alih fungsi lahan baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu (1) sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah, dan (2) sistem non-kelembagaan yang berkembang secara alamiah di dalam masyarakat. Sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah antara lain direpresentasikan dalam bentuk terbitnya beberapa peraturan mengenai konversi lahan.

Jumlah penduduk yang meningkat berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan pangan dan perumahan. Kebutuhan lahan dalam pemenuhan kebutuhan pangan perumahan telah menyebabkan pergeseran pola penggunaan lahan seperti pertanian semusim di daerah-daerah yang semestinya tidak diperbolehkan. Sedangkan penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah ruang dan kesesuaian lahan menyebabkan dampak lingkungan yang kurang menguntungkan, seperti terjadi erosi, menurunnya fungsi hidrologis hutan, terjadinya degradasi lahan dan meningkatnya lahan kritis serta kerusakan lingkungan (Desman, 2007).

Alih fungsi lahan sawah di Jawa mencapai 22.000 ha selama kurun waktu 1987 sampai 1993, untuk konversi lahan sawah sekitar 100.000 ha (sampai akhir 2000). Dalam hal ini dapat berpengaruh terhadap ketahanan pangan (Dirjen, 2008). Lebih lanjut Witjaksono (1996) menjelaskan bahwa alih fungsi lahan memiliki lima faktor sosial yang mempengaruhinya, yaitu perubahan perilaku, hubungan pemilik dengan lahan, pemecahan lahan, pengambilan keputusan, dan apresiasi pemerintah terhadap aspirasi masyarakat. Dengan asumsi pemerintah sebagai pengayom dan abdi masyarakat, seharusnya dapat bertindak sebagai pengendali terjadinya alih fungsi lahan.

2.3. Nilai Ekonomi Lahan (land rent)

Land rent merupakan selisih penerimaan dan biaya dalam satu unit satuan lahan. Menurut Soeharjo dan Patong (1973) penerimaan usaha tani terdiri dari tiga komponen, yaitu hasil produk, produk yang dikonsumsi sendiri oleh keluarga, dan kenaikan nilai inventaris. Selanjutnya juga dinyatakan bahwa usaha tani merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh hasil produksi di lapangan pertanian, pada akhirnya akan dinilai dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh, dimana selisih dari keduanya merupakan pendapatan kegiatan usahanya.

Menurut Barlowe (1978) manfaat ekonomi dianggap sebagai suatu surplus yang merupakan bagian dari jumlah nilai produk atau total pendapatan dari sisa setelah pembayaran yang didasarkan pada jumlah faktor biaya atau total biaya. Manfaat ekonomi suatu lahan umumnya dapat dinilai dari pendapatan bersih per meter persegi lahan per tahun untuk penggunaan tertentu. Manfaat

ekonomi lahan ditentukan oleh dua faktor, yaitu kualitas lahan sebagai mana yang dijelaskan dalam teori ricardiant rent (Gambar 1) dan faktor lokasi yang menjadi prinsip utama konsep locational rent (Gambar 2).

Gambar 1. Ilustrasi Ricardiant Rent

Gambar 1 menjelaskan kondisi kualitas lahan yang berbeda mempengaruhi nilai lahan. Tanah A dan tanah B dengan biaya sebesar Q memiliki jumlah produksi yang berbeda. Tanah A memiliki produksi sebesar OY1 dab tanah B memiliki produksi sebesar OY2 maka nilai akan lahan yang harus di bayar untuk kualitas lahan yang berbeda dengan biaya yang sama pada tanah A dan B adalah selisih dari OY1 dengan OY2.

Gambar 2 menjelaskan bahwa nilai lahan dipengaruhi oleh letak lahan tersebut terhadap pusat aktifitas/kegiatan. Lahan A akan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan lahan B karena jaraknya yang lebih dekat. Biaya yang harus dikeluarkan untuk perbedaan letak lahan ini adalah selisih dari AA1 dengan BB1 (Reksohadiprojo dan Karseno,1997).

Dalam kenyataannya nilai dan fungsi lahan tidak hanya ditentukan oleh dua faktor terbsebut tetapi juga ditentukan oleh faktor sosial yang keudian dikenal

PRODUKSI BIAYA Q Y1 Y2 TANAH A TANAH B Q2 Q1

O

Gambar 2. Ilustrasi Locational Rent

sebagai sociocultural rent dan manfaat ekologi atau disebut juga ecological rent dan banyak faktor yang belum diketahui. Dengan demikian pemanfaatan lahan harus memenuhi persyaratan kesesuaian (suitability) secara fisik dan biologi, secara ekonomi menguntungkan (feasible) dan secara kelembagaan dapat dierima oleh masyarakat.

Bersadarkan penelitian yang dilakukan oleh Sehani (2007) nilai land rent penggunaan lahan sawah di Kabupaten Karanganyar dengan pola tanam padi-padi-padi memiliki nilai Rp 1.344,36/m2/tahun sampai dengan Rp 2.623,53/ m2/tahun. Sawah dengan pola tanam padi-bera-padi memliki nilai yag lebih kecil yaitu sebesar Rp. 0,67/ m2/tahun sampai dengan Rp 2.179,12/ m2/tahun dan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Rumiris (2008) nilai land rent pertanian di Kecamatan Dramaga adalah sebesar Rp 44,12/ m2/tahun sampai dengan Rp. 1.070,44/ m2/tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rumiris (2008) nilai land rent lahan terbangun pemukiman di kecamatan Dramaga memiliki rentang nilai antara Rp 208,33/ m2/tahun sampai dengan Rp 35.069,33/ m2/tahun.

B1 A1 A B JARAK PUSAT KEGIATAN LOCATIONA L RENT NILAI RENT

2.4. Sawah Irigasi

Sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dibatasi oleh pemantang, saluran untuk menyalurkan air, yang biasanya ditanami oleh padi sawah tanpa memandang darimana diperolehnya lahan tersebut (Deptan,2000). Sawah dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya sawah berpengairan, sawah tadah hujan, sawah pasang surut, sawah lebak, dan lain-lain.

Sawah berpengairan dibedakan menjadi sawah beririgasi teknis, sawah beririgasi setengah teknis dan sawah berpengairan sederhana. Yang dimaksud sawah beririgasi teknis adalah sawah yang memperoleh pengairan dimana saluran pemberi terpisah dari saluran pembuangan dengan penyedia dan pembagi irigasi dapat sepenuhnya diatur dan diukur dengan mudah. Saluran induk serta pembuangannya dibangun, dikuasai, dan dipelihara oleh pemerintah. Sawah beririgasi setengah teknis adalah sawah berpengairan teknis tetapi pemerintah hanya menguasai bangunan penyadap untuk mengatur dan mengukur pemasukan air, sedangkan jaringan selanjutnya tidak diukur dan dikuasai pemerintah. Sawah berpengairan sederhana adalah sawah yang memperoleh pengairan dimana cara pengairan dan pembuangannya belum diatur, walaupun pemerintah telah membangun sebagian dari jaringan tersebut, misalnya bendungan. Sedangkan sawah tadah hujan adalah sawah yang pengairannya hanya tergantung pada air hujan (BPS, 1998).

Luas sawah di Indonesia lebih kurang 8,6 juta ha dan terus menyusut dari waktu ke waktu. Sawah tersebut terdiri dari sawah Irigasi seluas 7.314.740 Ha dan sawah non irigasi seluas 1.265.304 Ha.Luas sawah di Pulau Jawa lebih kurang 4,2 juta ha, di Pulau Sumatera seluas 2,3 juta ha dan pulau jawa menjadi sentra sawah nasional. Pada tahun 1994 – 2004 luas sawah di luar pulau Jawa terjadi peningkatan seluas 602 ribu ha. Pertumbuhan luas sawah tersebut sebagian besar terdapat di Pulau Sumatera, yaitu seluas 460 ribu ha atau lebih kurang 76,42% dari keseluruhan pertumbuhan luas sawah di Indonesia. Sedangkan dalam kurun yang sama terjadi penyusutan luas sawah kelas satu di wilayah Pulau Jawa dan Bali seluas 36.798 ha atau sekitar 3.679 ha/tahun (BPN, 2007).

2.5. Lahan Terbangun

Pada dasarnya lahan terbangun memiliki pengertian yang hampir sama dengan fasilitas karena memiliki pengertian yang luas meliputi prasarana dan sarana. Prasarana atau infrastruktur adalah alat atau tempat yang paling utama dalam kegiatan sosial atau ekonomi, sedangkan sarana adalah alat pendukung dari prasarana (Jayadinata, 1992). Sehingga ruang terbangun memiliki pengertian sebagai ruang-ruang dalam kota atau wilayah, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area vertikal/horizontal dimana dalam pengguanaannya tinggi dan memiliki aspek fungsional yang jelas pada dasarnya lebih bersifat ekonomis memiliki bentuk bangunan. Dalam ruang terbangun, pemanfaatannya lebih berbentuk prasarana ruang tertutup, yaitu :

1. Sebagai perlindungan, yaitu rumah

2. Sebagai unit pelayanan umum, yaitu prasarana kesehatan dan keamanan misalnya balai pengobatan, rumah sakit, pos pemadam kebakaran, pos polisi, dsb

3. Sebagai kehidupan ekonomi, misalnya : pasar, bangunan bank, bangunan pusat perbelanjaan, bangunan pabrik, dsb

4. Sebagai unit kebudayaan pada umumnya, misalnya : bangunan kantor pemerintahan, bangunan sekolah, bioskop, musium, gedung perpustakaan, dsb.

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman yang terdiri dari Desa Caturtunggal, Desa Maguwoharjo dan Desa Condongcatur (Gambar 3). Kecamatan Depok terletak di Kabupatan Sleman propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geeografis Kabupaten Sleman terletak antara 7º 34’ 51” dan 7º 47’ 30” LS dan antara 107º 15’ 03” dan 107º 29’ 30” BT. Kecamatan Depok termasuk daerah daratan yang relatif rendah, mempunyai kemiringan wilayah 0 – 2%. Secara administratif, Kecamatan Depok mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kecamatan Ngaglik dan Kecamatan Ngemplak Sebelah Timur : Kecamatan Kalasan

Sebelah Barat : Kecamatan Mlati

Sebelah Selatan : Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta dan Kecamatan Banguntapan Kab. Bantul

Analisis data dilakukan di Bagian Perencanaan Pengembangan Wilayah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari – September 2010

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Citra Quickbird Kabupaten Sleman tahun 2005, peta penggunaan lahan tahun 2008 dengan skala 1: 50000 yang bersumber dari citra landsat tahun 2000, Peta Administrasi, Peta Jalan, Peta RTRW Kabupaten Sleman tahun 2008 dengan skala 1:53.000, Data Potensi Desa (PODES) tahun 2008 dan data Monografi desa tahun 2008.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah seperangkat komputer dan perangkat lunak yang terdiri dari, Arc View versi 3.3, microsoft office excel, microsoft office word, dan GPS Garmin.

Gambar.3 Peta Lokasi Penelitian

3.3. Metode Penelitian

Pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap kegiatan yaitu : (1) tahap persiapan data, (2) tahap pemetaan penggunaan lahan, (3) tahap pengecekan lapang dan pengumpulan data, (4) tahap analisis data. Bagan alur penelitian dari metode penelitian ini disajikan pada Gambar 4.

3.3.1. Persiapan

Dalam tahap persiapan dilakukan pengumpulan data dan koreksi geometrik. Data yang dikumpulkan berupa citra Quickbird Kabupaten Sleman tahun 2005, peta penggunaan lahan, Peta Administrasi, Peta Jalan Peta RTRW Kabupaten Sleman, data Potensi Desa (PODES) tahun 2008 data monografi desa. Koreksi gometrik dilakukan untuk merujuk citra Quickbird ke peta topografi, sehingga kedua data tersebut kompatibel secara geografis.

Proses geometrik dilakukan dengan merektifikasi citra ke Peta Topografi (image to map rectification) berdasarkan GCP (Ground Control Point). Titik GCP yang digunakan adalah gunung merapi, bandara, stadion, dan Lapangan softball.

Menurut Short 1982 dalam Sutanto 1986 akurasi dapat dilihat dengan perhitungan Root Mean Square-error (RMS-error). Pada umumnya akurasi yang tinggi diperoleh jika nilai RMS-error kurang dari satu dengan distribusi GCP yang merata baik pada citra maupun pada peta. Nilai RMS-error dihitung berdasarkan persamaan berikut :

RMS-error =

Dimana, x dan y adalah koordinat masukan (input) yang diperoleh dari peta topografi (baris dan kolom)

X da Y adalah koordinat untuk citra yang dikoreksi.

3.3.2. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Jenis data primer yang dikumpulkan dalam penelitian berupa citra Quickbird Kabupaten Sleman tahun 2005, data input-output penggunaan lahan sawah irigasi dan lahan terbangun.

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian berupa peta penggunaan lahan tahun 2008 dengan skala 1 : 50.000 yang bersumber dari citra landsat tahun 2000, Peta Administrasi, Peta RTRW Kabupaten Sleman, Data Potensi Desa (PODES) tahun 2008 data Monografi desa dan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Data tersebut diperoleh dari pemerintahan kecamatan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman, Dinas Pertanian Kabupaten Sleman dan instansi terkait lainnya.

Pengumpulan data dibagi menjadi dua tahapan yaitu (1) pengecekan lapang untuk mengecek kebenaran hasil interpretasi di lapang, (2) pengumpulan data untuk analisis land rent.

3.3.2.1. Pengecekan Lapang

Kegiatan pengecekan lapang untuk mengetahui kondisi penggunaan lahan sebenarnya di lapangan di Kecamatan Depok. Pengecekan lapang dilakukan pada

23 titik untuk sawah irigasi dan sebanyak 26 titik untuk penggunaan lahan lahan terbangun yang tersebar di setiap desa. Untuk menentukan lokasi titik pengecekan lapang tersebut digunakan GPS. Koordinat penggunaan lahan sawah irigasi disajikan pada Lampiran 1 dan sebaran lokasi pengecekan lapang pada Gambar 5 serta koordinat penggunaan lahan lahan terbangun pada Lampiran 2 dan sebaran titik lokasi pengecekan lapangnya pada Gambar 6.

3.3.2.2. Pengumpulan Data Land Rent

Pengumpulan data land rent dilakukan dengan teknik wawancara dengan alat bantu kuesioner (Lampiran 3). Jenis data primer yang dikumpulkan untuk perhitungan land rent penggunaan lahan sawah irigasi meliputi : varietas, produksi, harga jual, pendapatan, biaya variabel, biaya tetap, modal (input), dan harga minimum atau maksimum. Jenis data primer yang dikumpulkan untuk perhitungan land rent lahan terbangun adalah identitas responden, kondisi sosial

Gambar 5. Peta Distribusi Sampling Sawah Irigasi

# # # # # # # # # # # # # # # # # ## # # # # S1cc S2cc S3cc S4cc S5cc S6cc S1ct S2ct S3ct S1mg S2mg S3mg S4mg S5mg S6mg S7mg S8mg S4ct S5ct S6ct S10mg S11mg S9mg 7°48' 7°48' 7°47' 7°47' 7°46' 7°46' 7°45' 7°45' 7°44' 7°44' 110°22' 110°22' 110°23' 110°23' 110°24' 110°24' 110°25' 110°25' 110°26' 110°26' 110°27' 110°27' Legenda : Desa Caturtunggal Desa Condongcatur Desa Maguwoharjo

#Titik Cek Lapang

S1-6 ct = Titik Sample di Desa Caturtunggal S1-6 cc = Titik Sample di Desa Condondcatur S1-10 mg = Titik Sample di Desa Maguwoharjo

Sumber :

Citra Quickbird Tahun 2005 Koordinat GPS Hasil Cek Lapang 2010

N

Gambar 6 Peta Sebaran sampling lahan terbangun

responden yang meliputi kondisi fisik bangunan rumah (dilihat dari keadaan rumahnya apakah tipe rumah sangat sederhana, sederhana, atau tergolong rumah mewah), penghasilan per bulan, pendidikan, luas pemilikan lahan, posisi bangunan, dan jarak dengan jalan aspal, jenis pekerjaan, pendapatan, dan jumlah rata-rata pengeluaran.

Jumlah responden yang diwawancarai untuk sawah irigasi sebanyak 25 dan untuk lahan terbangun sebanyak 42. Responden sawah irigasi adalah anggota gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) Sidomulyo Kecamatan Depok. Respoden lahan terbangun terdiri dari pemilik jasa kos-kosan 8, warung makan 8, foto copy 12, dan rumah tinggal 14. Sebagian besar responden lahan terbangun memiliki kegiatan jasa dan usaha dengan input cukup besar dan secara produktif menghasilkan. Penentuan lokasi ini didasarkan pada kondisi wilayah Kecamatan Depok sebagian besar berkembang sebagai pusat pendidikan.

# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # T1ct T2ct T3ct T4cc T5cc T4ct T5ct T6ct T7ct T8ct T1cc T2cc T3cc T9ct T5cc T6cc T7cc T8cc T1mg T2mg T3mg T4mg T5mg T6mg T10ct T11ct 7°48' 7°48' 7°47' 7°47' 7°46' 7°46' 7°45' 7°45' 7°44' 7°44' 110°22' 110°22' 110°23' 110°23' 110°24' 110°24' 110°25' 110°25' 110°26' 110°26' 110°27' 110°27' Legenda : Desa Caturtunggal Desa Condongcatur Desa Maguwoharjo

#Titik Cek Lapang

T1-11 ct = Titik Sample di Desa Caturtunggal T1-9 cc = Titik Sample di Desa Condondcatur T1-6 mg = Titik Sample di Desa Maguwoharjo

Sumber :

Citra Quickbird Tahun 2005 Koordinat GPS Hasil Cek Lapang 2010

N

3.3.3. Analisis Data

3.3.3.1. Interpretasi Visual Penggunaan Lahan

Interpretasi penggunaan lahan dilakukan secara visual pada citra Quickbird dengan pendekatan unsure-unsur interpretasi yang di dukung dengan pengecekan lapang. Unsur interpretasi citra tersebut adalah rona/ warna, ukuran, bentuk, tekstur, pola, bayangan, situs, asosiasi (Sutanto, 1986) :

1) Rona, adalah tingkat kegelapan atau kecerahan suatu objek pada citra. Rona dapat pula diartikan sebagai tingkat dari hitam ke putih atau sebaliknya.pada citra quickbird Kecamatan Depok objek yang banyak memantulkan atau memancarkan tenaga ke arah sensor menimbulkan rona yang cerah. Sebaliknya objek yang banyak menyerap tenaga atau sedikit memantulkan tenaga menimbulkan rona yang gelap.

2) Bentuk, ialah konfigurasi atau kerangka suatu objek. Bentuk beberapa objek demikian mencirikan sehingga citranya dapat diidentifikasi langsung hanya berdasarkan kriteria ini, misalnya beberapa bentuk yang harus di identifikasi adalahn bentuk gedung sekolah atau bangunan pemerintahan yang berupa huruf L atau U, dan sungai dikenali dari bentuknya yang panjang dan berkelok kelok serta seluruh bentuk khas yang terlihat di citra. 3) Ukuran, erat kaitanya dengan skala pada citra. Untuk mengukur ukuran

objek pada citra maka skala citra harus dipertimbangkan. Ukuran suatu objek meliputi dimensi jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume.

4) Tekstur, adalah frekuensi perubahan rona pada citra fotografi. Tekstur merupakan kenampakan yang tidak bisa dibedakan secara individual. Tekstur merupakan hasil gabungan dari bentuk, ukuran, pola, bayangan dan ronanya.

5) Pola, ialah hubungan spasial objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau hubungan merupakan karakteristik bagi banyak objek alamiah maupun bangunan dan akan memberiakn suatu pola yang membantu penafsir untuk mengenali objek tertentu. Pengenalan objek melalui pola pada citra Quick Bird misalnya, kompleks perumahan yang dikenali dengan pola yang teratur dengan bentuk rumah yang ukurannya seragam, dan menghadap ke arah jalan.

6) Bayangan, objek yang tidak tertembus cahaya akan menyebabkan terdapatnya ssuatu daerah yang tidak terkena sinar secara langsung yang disebut dengan bayangan. Hal ini menyebabkan objek pada daerah tersebut akan samar-samar bahkan tidak tampak pada citra. Jadi bayangan dapat bersifat menyembunyikan objek yang terdapat di suatu daerah. Namun ada juga objek-objek tertentu yang justru tampak lebih jelas karena adanya bayangan, misalnya cerobong asap atau tembok stadion.

7) Situs, adalah letak suatu objek. Sawah mempunyai situs di dekat aliran sungai/air, karena sawah pada umumnya memerlukan pengairan yang cukup.

8) Asosiasi, adalah keterkaitan antara objek satu dengan objek yang lainnya. Bandara dikenali karena ada lapangan tempat parkir pesawat.

3.3.3.2. Analisis Entropy

Pengertian entropi adalah semakin beragam aktifitas atau semakin luas jangkauan spasial, maka semakin tinggi entropi wilayah, artinya wilayah tersebut semakin berkembang (Indeks entropi tinggi = tingkat perkembangan juga tinggi). Keunggulan dari konsep ini karena dapat digunakan untuk : (1) memahami perkembangan suatu wilayah; (2) memahami perkembangan atau kepunahan keanekaragaman hayati; (3) memahami perkembangan aktifitas perusahaan; dan (4) memahami perkembangan aktifitas suatu sistem produksi pertanian dan lain-lain (Saefulhakim, 2006). Persamaan umum entropy adalah sebagai berikut :

S = -Σ P

ij

l

n

P

ij

Dimana, S = Entropy

Pi = Peluang Kejadian i (luas setiap penggunaan lahan) i = Jenis penggunaan lahan

Analisis entropy dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan lahan yang paling menyebar di Kecamatan Depok. Penggunaan lahan dengan nilai entropi yang tinggi akan dipilih unutk dilakukan analisis land rent.

3.3.3.3. Analisis Land Rent

Dalam Pravitasari, 2007 Land rent adalah keuntungan yang diperoleh dengan melakukan aktifitas pada suatu luasan lahan selama kurun waktu satu tahun. Manfaat ekonomi dari suatu lahan umumnya dapat dinilai dari pendapatan bersih per m2 lahan per tahun penggunaan tertentu.

Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Dimana,

P1, P2 ,….. Pn : Volume output produksi H1, H2 ,….. Hn : Harga output produksi B1, B2 ,…... Bn : Input produksi

1,2,3….,n : Contoh ke-

Output :

1. Sawah irigasi adalah berupa hasil produksi dari total luas yang dimanfaatkan

2. Lahan terbangun adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan penerimaan dari pemanfaatan lahan terbangun

Input :

1. Sawah irigasi adalah berupa biaya variable (pupuk, pestisida,bibit) dan biaya tetap (cangkul,spreyer), tenaga kerja

2. Lahan terbangun adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dari pemanfaatan lahan terbangun seperti listril, air, gas, kbersihan, keamanan, dll.

3.3.3.4. Analisis Kesesuaian Pengalokasian Penggunaan Lahan dengan Peta RTRW

Dalam menganalisis kesesuaian pengalokasian penggunaan lahan dengan peta RTRW dilakukan dengan cara menumpang tindihkan peta penggunaan lahan Kecamatan Depok dengan peta RTRW Kecamatan Depok sehingga dapat di lihat kesesuainan pengalokasian penggunaan lahannya dengan RTRW Kecamtan Depok.

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

4.1. Keadaan Iklim dan Topografi

Suhu udara rata-rata di Kecamatan Depok 26 sampai dengan 32 derajat celcius dan curah hujan rata-rata 2704 mm/tahun. Wilayah kecamatan ini merupakan dataran rendah terletak pada ketinggian 150 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan sekitar 2%. Jenis tanah di Kecamatan Depok alluvial dengan bahan induk dari Gunung Merapi. Wilayah ini mempunyai topografi datar, sehingga mempunyai lahan yang baik untuk pemukiman dan pertanian. Hal ini menyebabkan pesatnya perubahan lahan di Kecamatan Depok.

4.2. Penggunaan Lahan

Kecamatan Depok mempunyai luas wilayah 3.555 ha, merupakan wilayah dengan pertumbuhan paling pesat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berada di Kawasan Utara Aglomerasi Kota Yogyakarta. Depok istimewa dengan keberadaan berbagai perguruan tinggi, obyek vital (bandar udara Adisucipto Yogyakarta, Stadion Maguwoharjo, dan Markas Polda DIY) dan kawasan pemukiman baru (Pemerintah Kabupaten Sleman, 2010).

Depok merupakan kawasan aglomerasi Kota Yogyakarta sehingga penggunaan lahan di wilayah Kecamatan Depok hampir seluruhnya merupakan lahan terbangun di bagian Utara dan Selatan yang digunakan dalam berbagai macam peruntukan (pemukiman, pemerintahan, pendidikan, usaha). Penggunaan lahan lain yang terdapat di Kecamatan Depok adalah lahan sawah yang sebagian besar menggunakan irigasi teknis seluas 511,75 ha yang sebagian besar terdapat di bagian timur (Desa Maguwoharjo).

4.3. Kondisi Sosial Ekonomi

Jumlah penduduk di Kecamatan Depok tahun 2007 sebanyak 121.305 jiwa, yang terdiri dari 62.770 jiwa laki-laki dan 58.535 jiwa perempuan, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 34.974 Kepala Keluarga yang tersebar dalam 3 desa yaitu (1) Desa Caturtunggal terdiri dari 20 padukuhan, (2) Desa

Condongcatur terdiri dari 10 padukuhan, (3) Desa Maguwoharjo terdiri dari 20 padukuhan (Pemerintah Kecamatan Depok, 2008).

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam pengembangan sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa banyak ditentukan oleh kualitas pendidikan penduduknya. Beberapa faktor utama yang mendukung penyelenggaraan pendidikan adalah ketersediaan sekolah yang memadai dengan sarana prasarananya, pengajar dan keterlibatan anak didik, maupun Komite Sekolah. Kecamatan Depok merupakan kecamatan yang memiliki fasilitas pendukung pendidikan serta tenaga pengajar pendidikan yang terlengkap di Kabupaten Sleman, karena Kecamatan Depok merupakan kawasan yang dikembangkan untuk pusat pendidikan. Fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Depok SLB sebanyak 4 unit, TK sebanyak 57 unit, Sekolah Dasar (SD) negeri sebanyak 44 unit dan swasta sebanyak 10 unit, SMP negeri sebanyak 6 unit dan swasta sebanyak 10 unit, SMA negeri sebanyak 4 unit dan Swasta sebanyak 12 unit. Di tingkat perguruan tinggi Kecamatan Depok memiliki akademi sebanyak 10 unit, Politeknik sebanyak 2 unit, sekolah tinggi sebanyak 8

Dokumen terkait