BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan
4.3.3 Perubahan Perilaku
Berdasarkan hasil nontes yang didapatkan dari lembar observasi, lembar jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto menunjukkan bahwa terjadi perubahan perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi setelah dilakukan refleksi siklus I. Perubahan perilaku yang terjadi adalah siswa lebih antusias terhadap pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari keseriusan siswa dalam
0 20 40 60 80 100 siklus I siklus II
memperhatikan penjelasan guru, pada saat media disajikan, dan ketika mengubah teks wawancar menjadi narasi. Siswa yang semula pasif, setelah dilakukan tindakan menjadi lebih aktif dalam bertanya dan berpendapat. Selain itu, dalam pembelajaran sudah tidak ada siswa yang gaduh atau berbicara dengan temannya.
Berikut ini adalah perbandingan perubahan perilaku siswa pada siklus I dan siklus II berdasarkan hasil observasi. Perbandingan tersebut disajikan dalam tabel 24.
Tabel 24 Perbandingan Hasil Observasi Siklus I dan Siklus II
No. Aspek yang diobservasi Siklus I Siklus II Peningkatan
f (%) f (%) f (%)
1.
Siswa memperhatikan media kartun bercerita yang ditampilkan guru.
a. Siswa memperhatikan media yang ditayangkan dengan penuh semangat dan apresiasi.
27 77,1
% 32 89% 5
11,9% (peningkatan)
b. Siswa hanya memperhatikan
tanpa apresiasi. 3 8,6% 2 5,5% 1
3,1% (penurunan) c. Siswa tidak memperhatikan
media yang ditampilkan, bahkan melakukan aktivitas lain, misalnya berbicara dengan teman sebangku.
5 14,3
% 2 5,5% 3
8,8% (penurunan)
2.
Siswa mendengarkan beberapa pertanyaan pancingan yang dibacakan oleh guru agar lebih teliti dalam menganalisis isi teks wawancara.
a. Siswa mendengarkan pertanyaan dengan baik dan langsung bisa menjawab.
31 88,6
% 31
88,6
% 0 0%
b. Siswa mendengarkan pertanyaan namun kesulitan dalam menjawab.
2 5,7% 5 14% 3 8,3%
(peningkatan) c. Siswa tidak mendengarkan
pertanyaan dan tidak bisa menjawab.
2 5,7% 0 0% 2 5,7%
(penurunan)
3.
Siswa dikelompokkan dengan berpasangan dengan teman sebangku. Masing-masing siswa menyusun pertanyaan untuk praktik berwawancara.
a. Siswa terlihat antusias dan langsung berdiskusi dengan pasangan.
24 68,% 32 89% 8 21%
(peningkatan) b. Siswa berdiskusi dengan
pasangan, namun terlihat kurang antusias.
8 22,9
% 2 5,5% 6
17,4% (penurunan) c. Siswa tidak antusias dan tidak
aktif dalam berdiskusi. 3 8,5% 2 5,5% 1
3% (penurunan)
4.
Setiap pasangan melakukan praktik wawancara dan pewawancara mencatat jawaban narasumber pada LK I. siswa berwawancara dengan bergantian. a. Siswa terlihat aktif dan antusias ketika praktik wawancara.
24 68,6
% 32 89% 8
20,4% (peningkatan)
b. Siswa melakukan wawancara dengan benar namun terlihat kurang antusias.
5 14,3
% 4 11% 1
3,3% (penurunan) c. Siswa terlihat malas ketika
berwawancara. 6 17,1 % 0 0% 6 17,1% (penurunan) 5.
Langkah 5: siswa secara individu mengubah teks wawancara menjadi narasi
a. Siswa dapat mengubah teks wawancara menjadi narasi secara cepat dan tepat.
15 42,9 % 29 80,6 % 14 37,7% (peningkatan) b. Siswa mengalami beberapa
hambatan ketika mengubah teks wawancara menjadi narasi. 20 57,1 % 7 19,4 % 13 37,7% (penurunan)
c. Siswa tidak dapat mengubah teks wawancara menjadi narasi.
0 0% 0 0% 0
Langkah yang diamati pertama yaitu ketika siswa memperhatikan media kartun bercerita yang ditampilkan guru. Ada tiga perilaku siswa yang diamati. Pertama, siswa memperhatikan media yang ditayangkan dengan penuh semangat dan apresiasi. Perilaku ini mengalami kenaikan sebesar 11,9%. Pada siklus II hanya terlihat 27 siswa, sedangkan pada siklus II terlihat pada 32 siswa. Kedua, siswa hanya memperhatikan tanpa mengapresiasi lebih lanjut. Jika pada siklus I ada 3 siswa, maka pada siklus II hanya nampak 2 siswa. Ketiga, siswa tidak memperhatikan media yang ditampilkan, bahkan melakukan aktivitas lain, misalnya berbicara dengan teman
sebangku. Pada siklus I terlihat 5 siswa melakukan aktivitas ini, namun hanya 2 anak pada siklus II.
Langkah kedua yang diamati yaitu ketika siswa mendengarkan beberapa pertanyaan pancingan yang dibacakan oleh guru agar lebih teliti dalam menganalisis isi teks wawancara. Ada tiga sikap berbeda yang muncul pada langkah ini. Pertama, siswa mendengarkan pertanyaan dengan baik dan langsung bisa menjawab dengan benar. Aspek ini tidak mengalami kenaikan yaitu sebanyak 31 anak pada siklus II maupun siklus I. Kedua, siswa mendengarkan pertanyaan namun kesulitan dalam menjawab. Sikap ini terlihat oleh 2 anak pada siklus I dan 5 anak pada siklus II. Ketiga, siswa tidak mendengarkan pertanyaan dan tidak bisa menjawab. Sikap ini ditunjukkan oleh 2 anak pada siklus I dan tidak nampak pada siklus 2.
Langkah ketiga yang diamati yaitu ketika siswa dikelompokkan dengan berpasangan dengan teman sebangku. Masing-masing siswa menyusun pertanyaan untuk praktik berwawancara. Pada langkah ini ada tiga perilaku siswa yang muncul. Pertama, siswa terlihat antusias dan langsung berdiskusi dengan pasangan. Perilaku ini meningkat sebesar 21%, yang awalnya hanya 24 siswa menjadi 32 siswa pada siklus II. Kedua, siswa berdiskusi dengan pasangan, namun terlihat kurang antusias. Pada siklus I terlihat 8 siswa yang melakukan aktivitas ini dan 2 siswa pada siklus II. Ketiga, siswa tidak antusias dan tidak aktif dalam berdiskusi. Pada siklus I ada 3 anak yang tidak antusias dalam berdiskusi dan 2 anak pada siklus II.
Langkah keempat yang diamati guru yaitu ketika setiap pasangan melakukan praktik wawancara dan pewawancara mencatat jawaban narasumber pada LK I. Siswa berwawancara dengan bergantian. Ada tiga perilaku siswa yang muncul pada langkah
ini. Pertama, siswa terlihat aktif dan antusias ketika praktik wawancara. Perilaku ini meningkat 20,4% dari siklus I yang hanya 24 siswa menjadi 32 siswa pada siklus II. Kedua, siswa melakukan wawancara dengan benar namun terlihat kurang antusias. Perilaku ini terlihat pada 5 anak saat siklus I dan 4 anak pada siklus II. Ketiga, siswa terlihat malas ketika berwawancara. Siklus I ada 8 siswa yang terlihat malas namun pada siklus II tak ada siswa yang terlihat malas.
Langkah pembelajaran kelima yang diamati yaitu ketika siswa secara individu mengubah teks wawancara menjadi narasi. Pertama, siswa dapat mengubah teks wawancara menjadi narasi secara cepat dan tepat. Sikap ini mengalami kenaikan sebesar 37,7%, sedangkan sikap siswa yang masih mengalami kesulitan menurun sebanyak 37,7%. Ketiga, tidak ada siswa yang tidak dapat menulis karangan narasi.
Berdasarkan hasil perbandingan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan metode pencarian informasi melalui media kartun bercerita berlangsung dengan lebih tertib, lancar, dan kondusif sehingga dapat mendukung terciptanya pembelajaran yang efektif. Selain itu perubahan sikap siswa yang lebih positif juga berpengaruh terhadap perolehan hasil tes yang dicapai. Perbaikan dari segi instrumen nontes juga memberikan dampak yang positif bagi perolehan hasil tes siswa. Hal ini terbukti dengan meningkatnya hasil tes mengubah teks wawancara menjadi narasi dari siklus I ke siklus II dan perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih positif.
4.4 Perbandingan
Penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terbukti dapat memperbaiki penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil yang dicapai pun lebih maksimal. Hal ini
terlihat pada perbandingan hasil penelitian. Pada bagian ini, peneliti akan membandingkan hasil penelitian dengan hasil penelitian yang teah dilakukan oleh Suwarna (2007), Suryanto (2008), dan Rubiah (2009).
Penelitian Suwarna (2007) berjudul “Peningkatan Keterampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Narasi dengan Teknik Penceritaan Pengalaman Pribadi pada Kelas VIIB SMP N 1 Godong”. Pada siklus I, rata-rata kelas meningkat menjadi 65,2 yaitu sebesar 8,5%, sedangkan pada siklus II skor rata-rata kelas meningkat menjadi 76 yaitu sebesar 9,9 %. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti maka hasil tes yang didapatkan lebih tinggi. Pada pada siklus I Suwarna hanya mendapatkan nilai rata-rata kelas 65,2 maka peneliti berhasil mendongkrak nilai menjadi 70,7 dalam kategori cukup. Selain itu, pada siklus II juga Suwarna hanya mendapatkan nilai rata-rata kelas 76, maka peneliti mendapatkan nilai rata-rata klasikal sebesar 81. Suwarna menggunakan teknik penceritaan pengalaman pribadi yang membutuhkan waktu yang lama bagi siswa untuk berpikir. Tetapi hal tersebut dapat diperbaiki oleh peneliti dengan metode pencarian informasi. Metode ini menggunakan pertanyaan pancingan sehingga membantu siswa untuk belajar lebih cepat dan tepat.
Perbandingan yang kedua dengan penelitian Suryanto (2008) yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Narasi dengan Pemodelan pada Siswa Kelas II D SLTP 1 Sukorejo Kendal”. Pada siklus I diperoleh hasil prosentase rata-rata kelas 64,4 dan siklus II diperoleh prosentase rata-rata kelas 80. Berdasarkan hasil tes, penelitian yang dilakukan oleh peneliti mendapatkan nilai yang lebih baik yaitu rata-rata klasikal siklus I sebesar 70,7 dan rata-rata siklus II
sebesar 81. Pada penelitiannya Suryanto menggunaan teknik pemodelan dimana siswa harus menentukan tema sendiri, berkelompok, dan praktik berwawancara. Hal ini membutuhkan waktu yang lama dan pembelajaran tidak menyeluruh karena siswa yang berperan jadi narasumber tidak bisa menjadi pewawancara. Hal ini berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. Ketika berwawancara siswa bergantian sehingga siswa tidak hanya bisa menjadi narasumber saja, namun juga pewawancara. Selain itu, siswa berwawancara berdasarkan media yang telah disajikan guru dan dibimbing dengan metode pencarian informasi sehingga pebelajaran lebih efektif.
Perbandingan yang terakhir yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Rubiah (2009) yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Karangan Narasi dengan Teknik Concept Map pada siswa Kelas VII SMP N 3 Juwana”. Pada siklus I, rata-rata kelas meningkat menjadi 65,2 sebesar 8,5%, sedangkan pada siklus II, skor rata-rata kelas meningkat menjadi 76 yaitu sebesar 9,9%. Berdasarkan hasil tes, penelitian yang dilakukan oleh peneliti mendapatkan nilai yang lebih baik yaitu rata-rata klasikal siklus I sebesar 70,7 dan rata-rata siklus II sebesar 81. Kelemahan penelitian Rubiah (2009) yaitu siswa diberikan visualisasi gambar lalu membuat sebuah konsep masing-masing. Langkah ini membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses pembelajaran. Hal ini tentunya berbeda dengan metode pencarian informasi yang langsung membimbing siswa untuk mendapatkan informasi pokok pada media kartun bercerita. Siswa diberikan pertanyaan pancingan agar lebih cepat dan tepat dalam menangkap informasi.
Berdasarkan perbandingan dengan penelitian Suwarna (2007), Suryanto (2008), dan Rubiah (2009) maka dapat disimpulkan bahwa penelitian “Peningkatan Keterampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Narasi dengan Metode Pencarian Informasi melalui Media Kartun Bercerita Pada Kelas VIID SMP N 30 Semarang” dapat melengkapi kekurangan penelitaian sebelumnya.
148 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian tindakan kelas ini, maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut.
1. Penelitian tentang keterampilan mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan metode pencarian informasi melalui media kartun bercerita memenuhi langkah- langkash berikut: 1) guru menyampaikan materi tentang wawancara dan narasi, 2) siswa berkelompok dengan teman sebangku, 3) guru menyajikan media kartun bercerita, 4) guru membagikan teks wawancara kepada masing-masing kelompok, 5) siswa mendengarkan enam pertanyaan dari guru, 6) masing-masing kelompok menyusun karangan narasi, 7) masing-masing kelompok menukarkan hasil pekerjaannya dengan kelompok lain, 8) masing-masing kelompok memberikan masukan terhadap hasil pekerjaan temannya, 9) masing-masing kelompok memperbaiki pekerjaannya sesuai saran dari kelompok lain, 10) guru membagikan LK I yang berisi ilustrasi sesuai media, dan LK II sebagai tempat untuk mengubah teks wawancara menjadi narasi, 11) guru memberikan enam pertanyaan sesuai dengan ilustrasi cerita yang ada pada LK I, 12) siswa yang berperan sebagai pewawancara menyusun enam pertanyaan, sedangkan yang berperan sebagai narasumber menyiapkan jawaban pada LK I, 13) siswa melakukan praktik wawancara, 14) masing-masing siswa menyusun karangan narasi berdasarkan teks wawancara. Proses pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi kelas VIID SMP N 30 Semarang telah mengalami
perbaikan pada siklus II daripada siklus I. Pada siklus I masih terdapat beberapa kendala dalam pembelajaran, namun hal ini dapat diperbaiki pada siklus II. Salah satu kendala yang muncul yaitu penggunaan media kartun bercerita dalam bentuk audiovisual yang justru tidak sesuai sasaran. Setelah melakukan refleksi, peneliti memutuskan menggunakan media kartun bercerita dalam bentuk visual. Proses pembelajaran siklus II pun menjadi lancar.
2. Terdapat peningkatan keterampilan mengubah teks wawancara menjadi narasi kelas VIID di SMP Negeri 30 Semarang setelah mengikuti pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan metode pencarian informasi melalui kartun bercerita. Peningkatan keterampilan mengubah teks wawancara menjadi narasi diketahui dari hasil tes dan nontes yang dilakukan pada siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa kelas VIID pada siklus I sebesar 70,7 dan masuk dalam kategori cukup. Nilai ini belum mencapai batas tuntas nilai rata-rata yang ditentukan. Kemudian pada siklus II, nilai rata-rata siswa kelas VIID SMP Negeri 30 Semarang mengalami peningkatan sebesar 14,6% menjadi 81 dan termasuk dalam kategori baik. Nilai ini telah mencapai target rata-rata kelas yang telah ditentukan yaitu 77, bahkan dapat melampauinya. Perolehan hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan metode pencarian informasi melalui kartun bercerita pada kelas VIID SMP N 30 Semarang dapat dikatakan berhasil.
3. Terdapat perubahan sikap atau perilaku siswa yaitu perubahan dari perilaku negatif ke arah yang lebih positif. Antusias dan keseriusan siswa untuk mengikuti pembelajaran sudah mulai terlihat pada siklus I, namun belum dapat maksimal.
Masih ada siswa yang asyik berbicara dengan teman lain, melamun, atau mengantuk. Pada siklus II, mereka sudah lebih siap mengikuti pembelajaran, bahkan siswa yang pada awalnya malu untuk bertanya akhirnya mempunyai keberanian untuk mengajukan pertanyaan ketika mengalami kesulitan. Pada siklus I siswa masih suka menjawab pertanyaan guru dengan keroyokan, namun pada siklus II siswa lebih percaya diri untuk menjawab pertanyaan guru secara mandiri. Dengan demikian, metode pencarian informasi dan media kartun bercerita dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam mengubah teks wawancara menjadi narasi.
5.2 Saran
Penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi dan mengatasi masalah-masalah yang dialami siswa. setelah penelitian dilaksanakan, peneliti memberikan saran sebagai berikut ini.
1. Guru mata pelajaran bahasa Indonesia seharusnya dapat memanfaatkan metode pencarian informasi sebagai salah satu alternatif untuk memberikan variasi dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi. Selain itu, guru hendaknya memiliki kreativitas yang tinggi dan dapat menghadirkan pembelajaran yang menarik dan efektif sehingga siswa tertarik selama pembelajaran sehingga. Selain itu, siswa juga dapat menyerap materipmbelajaran dengan baik.
2. Bagi sekolah yang tidak memiliki ruang multimedia atau pun LCD, dapat menggunakan media kartun bercerita dalam bentuk visual untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi.
3. Para peneliti di bidang pendidikan atau peneliti lain hendaknya dapat melakukan penelitian yang serupa dengan strategi, teknik, metode, atau media pembelajaran yang lain sehingga didapatkan alternatif lain untuk pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi narasi. Namun, sebelum melakukan penelitian tindakan kelas, hendaknya peneliti sudah mengenal terlebih dahulu siswa yang akan dijadikan sebagai responden sehingga siswa tidak merasa asing terhadap peneliti.
152
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti dkk. 1991. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo
Azhar, Arsyad. 2000. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja grafindo Perjaka
Doyin, Mukh dan Wagiran. 2005. Curah gagasan: Pengantar Penulisan Karya
Ilmiah. Semarang: Rumah Indonesia
Sugandi, Achmad dan Haryanto. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK Hecht, Robert M. 1976. Teknik Wawancara. Jakarta: Bhratara
Ikeguchi, Cecilia B. 1997. Teaching Integrated Writing Skills. Vol. III, Number 3. dalam http://iteslj.org/, diunduh pada tanggal 9 Januari 2013
Komaidi, Didik. 2007. Aku Bisa Menulis Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap. Yogyakarta: Sabda Media
Keraf, Gorys. 1983. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia ___________. 1991. Komposisi. Jakarta: nusa indah
Kusumah, dkk. 2003. Teknik Wawancara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Muliawan, Jasa Ugguh. 2010. Penelitian tindakan Kelas (Classroom Action
Research). Yogyakarta: Gava Media
Nurudin. 2007. Dasar-Dasar Penulisan. Malang: Universitas Muhammadiyah Parera, J. D. 1983. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta: Erlangga
Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta
Rubiah, Siti. 2009. “Peningkatan Ketrampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Karangan Narasi dengan Teknik Concept Map pada siswa Kelas VII SMP N 3 Juwana”. Skripsi: Unnes
Rusyana, Yus. 1983. Buku Materi Pokok I. Jakarta: BPK Gunung Mulia Semi, M. Atar. 2007. Dasar-Dasar Ketrampilan Menulis. Bandung: Angkasa
Silbermen, Mel. 2009. Active Learning. Diterjemahkan oleh Dr. Komaruddin Hidayat. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
Spencer, Lauren. 2005. A Step-by-Step Guide to Narrative Writing. The Journal of
Educational Research, Vol. 102 No. 5, Mei-Juni. dalam
http://www.goodreads.com/author/show/230374.Lauren_Spencer, diunduh
tanggal 19 Januari 2013
Subyantoro. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Rumah Indonesia
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2007. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Suparno dan Muhammad Yunus. 2006. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka
Suriamiharja, Agus dkk. 1996. Petunjuk Praktik Menulis. Jakarta: Depdikbud.
Suryanto. 2008. “Peningkatan Keterampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Narasi dengan Pemodelan pada Siswa Kelas II D SLTP 1 Sukorejo Kendal”. Skripsi: Unnes
Susmiati. 2009. “Peningkatan Keterampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Narasi dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan pada Siswa Kelas VII F SMP N 32 Semarang”. Skripsi: Unnes
Suwarno. 2007. “Peningkatan Ketrampilan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Karangan Narasi dengan Teknik Penceritaan Pengalaman Peribadi pada Kelas VII SMP N 1 Batang”. Skripsi: Unnes
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa Bandung
Widyastuti. 2009. “Peningkatan Kemampuan Mengubah Teks Wawancara Menjadi Narasi dengan Teknik Menulis Cepat dan Media Video Compact Disk (VCD) Siswa kelas IV SMP N 5 Ketro kecamatan Karangkayung kabupaten Grobogan”. Skripsi: Unnes
Lampiran 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Siklus I
Satuan Pendidikan : SMP N 30 Semarang Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : VIID
Semester : II
Alokasi Waktu : 4 x 40 menit
A. STANDAR KOMPETENSI
Menulis: 12. Mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat.
B. KOMPETENSI DASAR
12.2 Mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan memperhatikan cara penulisan kalimat langsung dan tak langsung.
C. INDIKATOR
1. Mampu menentukan informasi pokok yang terdapat pada teks wawancara. 2. Mampu menentukan ciri-ciri karangan narasi.
3. Mampu mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tak langsung. 4. Mampu mengubah teks wawancara menjadi karangan narasi. 5. Mampu menyunting karangan narasi yang telah dibuat.
D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Siswa mampu menentukan informasi pokok yang terdapat pada teks wawancara dengan teliti.
2. Siswa mampu menentukan ciri-ciri karangan narasi dengan cermat.
3. Siswa mampu mengubah kalimat langsung menjadi tak langsung dengan mandiri.
4. Siswa mampu mengubah teks wawancara menjadi karangan narasi dengan teliti.
5. Siswa mampu menyunting karagan narasi dengan teknik yang tepat.
Nilai karakter yang diharapkan yaitu teliti, madiri, bertanggung jawab, dan dapat bekerja dalam sebuah kelompok.
E. MATERI AJAR
1. Pengertian Wawancara 2. Pengertian Narasi
3. Ciri-ciri Karangan Narasi
4. Kalimat Langsung dan Tak Langsung 5. Teknik Menyunting
F. METODE PEMBELAJARAN Metode : Pencarian Informasi
Teknik : Ceramah, dikusi, dan Tanya jawab.
G. MEDIA PEMBELAJARAM Media : Kartun Bercerita
Sumber : Buku Paket Airlangga Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII
H. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN Pertemuan Pertama
No Kegiatan Metode Teknik Alokasi waktu
1. Kegiatan awal
1. Guru mengondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran.
2. Guru menjelaskan tentang tujuan dan manfaat pembelajaran.
3. Guru memotivasi siswa dengan cara menceritakan salah satu kisah penulis sukses (Asma Nadia). Setelah mendengar cerita ini diharapkan siswa mulai tertarik untuk menulis.
4. Guru bertanya kepada siswa tentang wawancara dan narasi untuk mengarahkan pemahaman siswa tentang materi yang akan dipelajari.
Ceramah
2. Kegiatan inti
1. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai wawancara, narasi, serta kalimat langsung dan tak langsung. (eksplorasi)
2. Siswa berpasangan dengan teman sebangku. (elaborasi)
3. Guru menyajikan media kartun bercerita sebagai contoh wawancara. Selain itu, media kartun bercerita juga digunakan sebagai sarana untuk menarik minat siswa. (elaborasi)
4. Tiap kelompok mendapatkan lampiran berisi teks wawancara pada kartun yang dibagikan oleh guru. (elaborasi)
5. Siswa mendengarkan enam pertanyaan pancingan yang dibacakan oleh guru agar lebih teliti dalam menganalisis isi teks wawancara. (elaborasi)
6. Tiap kelompok membuat kerangka karangan berdasarkan teks wawancara yang telah dibagikan. (elaborasi)
7. Setiap kelompok
mengembangkan kerangka karangan dengan dipandu oleh guru. (elaborasi) Pencarian Informasi Ceramah Diskusi 60 menit
8. Setiap kelompok menukarkan pekerjaannya dengan kelompok lain. (elaborasi)
9. Siswa dengan dibimbing guru mengoreksi hasil pekerjaan kelompok lain. (elaborasi)
10.Tiap kelompok memperbaiki karangannya berdasarkan komentar yang telah diberikan oleh kelompok lain. (elaborasi) 11.Guru menjelaskan materi yang
belum dipahami siswa selama pembelajaran berlangsung. (konfirmasi)
Ceramah
3. Kegiatan Penutup
1. Hasil karya siswa dikumpulkan.
2. Guru bersama siswa
menyimpulkan materi
pembelajaran.
3. Guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung.
Refleksi
Pertemuan Kedua
No. Langkah Pembelajaran Metode Teknik Waktu
1. Kegiatan awal
1. Guru mengondisikan siswa.
2. Guru menjelaskan tujuan dan manfaat pembelajaran.
3. Guru memotivasi siswa agar semangat dalam belajar.
4. Guru mengingatkan siswa tentang materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya.
5. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya jika ada materi yang belum dipahami. Ceramah Ceramah Tanya jawab 10 menit 2. Kegiatan Inti
1) Siswa berpasangan dengan teman sebangku. Siswa pertama berperan sebagai pewawancara dan siswa kedua sebagai narasumber. (eksplorasi)
2) Guru menampilkan media.
3) Guru membagikan LK I dan LK II. 4) Guru memberikan enam pertanyaan
pancingan berdasarkan media.
5) Siswa yang berperan sebagai pewawancara membuat daftar pertanyaan pada lembar kerja 1, sedangkan pasangannya menyiapkan jawaban yang sesuai. (elaborasi)
Diskusi
I. PENILAIAN
a. Bentuk penilaian : Tes dan Nontes b. Bentuk instrumen :
Tes : rubrik penilaian
Nontes : lembar observasi, jurnal, dan wawancara
c. Rubrik penilaian
6) Setiap pasangan melakukan praktik wawancara dan pewawancara mencatat jawaban narasumber pada LK 1 pula. Selama berwawancara ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh siswa, yaitu (1) kelancaran, (2) penggunaan kalimat efektif, dan (3) kinestetik. (elaborasi)
7) Tiap-tiap siswa menyusun karangan narasi pada LK 2 berdasarkan informasi yang telah didapatkan dari kegiatan wawancara. (elaborasi) 8) Guru menjelaskan materi yang belum
dipahami siswa selama pembelajaran. (konfirmasi)
3. Kegiatan Akhir
1) Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran.
2) Guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung.