• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Sosial Pondok Pesantren Al Ishlah 1 Bungah Gresik

BAB III : PERUBAHAN DI PONDOK PESANTREN AL ISHLAH 1

D. Perubahan Sosial Pondok Pesantren Al Ishlah 1 Bungah Gresik

75

D. Perubahan Sosial Pondok Pesantren Al Ishlah 1 Bungah Gresik dalam Teori AGIL

Sebagaimana yang telah dijabarkan sebelumnya dan telah ditemukan beberapa temuan dilapangan, dalam hal ini membahas tentang hasil temuan-temuan yang ada di lapangan. Kemudian di analisis dengan menggunakan teori yang cocok, sehingga dengan adanya sumber data, maka penelitian tersebut mendapatkan permasalahan-permasalahan diantaranya:

a. Bentuk perubahan di pondok pesantren Al Ishlah 1 Bungah Gresik Dari teori AGIL dijelaskan bahwa fungsi Adaptasi merupakan fungsi yang sangat penting. Sistem ini harus dapat beradaptasi dengan cara menyesuaikan diri dengan lingkungan serta menyesuaikan lingkungan untuk kebutuhannya. Seperti santri pondok pesantren Al Ishlah yang pertama, terdapatnya aturan baru yang memperbolehkan membawa alat teknologi. Awalnya aturan tersebut dilarang di pondok pesantren. Karena banyaknya santri yang membawa akhirnya aturan itu diperbolehkan. Lingkunganlah yang menyebabkan itu terjadi.

Fungsi selanjutnya yaitu Goal (tujuan), tujuan santri pondok pertama alat teknologi cukup dijadikan sebuah alasan bahwa mereka banyak tugas dari sekolah atau perkuliahan. Tetapi ada tujuan yang lebih mereka inginkan, yaitu agar dapat mengetahui dunia luar yang

76

kemungkinan tipis dapat terwujud, dengan melihat di sosial media mereka sudah cukup puas dengan hanya mengetahui hal-hal tersebut.

Integrasi merupakan sebuah sistem yang mampu mengatur dan menjaga hubungan komponen-komponennya. Santri-santri masih dapat mengatur dirinya sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan selama dipondok. Mengaji dan berjamaah yang merupakan kegiatan wajib di pondok masih mereka laksanakan dengan baik. Meskipun terkadang keterlambatan dalam melakukan kegiatan itu terjadi.

Sistem harus mampu berfungsi sebagai pemeliharaan pola, sebuah sistem harus memelihara dan memperbaiki motivasi pola-pola individu dan kultural yang disebut dengan Latensi. Motivasi pada santri-santri pondok pesantren ingin menjadikan dirinya santri yang lebih baik. Budaya yang sudah mengakar pada masyarakat bahwa santri merupakan seseorang yang baik, sopan, dan dapat ditiru oleh masyarakat lain.

a. Dampak Perubahan di Pondok Pesantren Al Ishlah Bungah Gresik Subsistem teknologi masuk dalam sebuah sistem, maka setiap sistem komponen yang ada dalam sistem tersebut (AGIL) harus melakukan berbagai penyesuaian. Proses ini terjadi dalam setiap sistem apa pun. Teknologi dapat mempengaruhi integrasi, teknologi

77

dapat mempengaruhi pola-pola pemeliharaan sistem dan teknologi akan mempengaruhi adaptasi sistem.

Kehadiran teknologi akan membawa berbagai perubahan, mulai dari efektivitas kerja sampai masalah interaksi. Santri harus beradaptasi untuk merespon perkembangan teknologi yang hadir di tengah-tengah mereka. Keberadaan teknologi tentu saja akan menyebabkan perubahan aspek lain, misalnya akomodasi menjadi meningkat, kebutuhan semakin bertambah, dan masih banyak yang lainnya.

Setiap santri pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai, untuk dapat mewujudkan tujuan itu, setiap santri memiliki cara yang berbeda misalnya, memanfaatkan teknologi untuk mempermudah tugas sekolah dengan mengcopy paste di internet. Keberadaan teknologi dapat memperkuat integrasi, misalnya melalui media elektronik seperti Hp, santri menyatukan dirinya dengan alat elektronik tersebut. Mereka menjadi mempunyai anggapan bahwa tidak ada Hp mereka tidak bisa. Terhadap kyai pun sudah berbeda, santri dapat berhubungan langsung dengan kyai tanpa bertatap muka. Menggunakan alat teknologi agar cepat dan mudah berhubungan dengan kyai secara langsung. Konsultasi terhadap kyainya langsung juga dapat dilakukan.

78

Teknologi dapat merusak pola-pola pemeliharaan sistem Latensi. Keberadaan internet dapat merusak tatanan nilai dan norma dalam keluarga yang telah berjalan sejak lama akibat masuknya nilai-nilai baru melalui media-media yang telah mereka pelajari dan santri sudah paham pada media tersebut. Santri lebih kepada perubahan sosial yang mengakibatkan sistem pondok pesantren tidak maksimal. Perubahan sosial telah berhasil mempengaruhi santri.

79

BAB IV

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut:

A. Kesimpulan

Hasil akhir dari penelitian Pesantren dan Perubahan (Studi Kasus Pondok Pesantren Al Ishlah Bungah Gresik), dapat di simpulkan sebagai berikut:

1. Bentuk perubahan sosial yang terjadi di pondok pesantren Al Ishlah pertama adalah tingkah laku yang ditunjukkan oleh santri berbeda setelah ditinggal wafat oleh Kyai. Perhatian terhadap santri dan pondok berkurang, santri sekarang telah merasakan ada celah kebebasan pada diri mereka masing-masing. Rasa hormat pada kyai masih ada, tetapi ke tawadhuan terhadap kyai sedikit berkurang. Karena kurangnya perhatian itulah yang menyebabkan keadaan santri menjadi seperti itu. Dalam segi budaya, sudah Nampak bahwa teknologi yang telah dibawa kepondok sudah mempengaruhi para santri. Dengan diperbolehkannya santri membawa alat teknologi, perhatian santri bertambah dengan adanya alat teknologi. Kemudahan yang mereka dapatkan dari alat tersebut telah membuat keadaan pondok menjadi tidak stabil dan kurang tertib.

80

2. Dampak yang terjadinya perubahan di pondok pesantren Al Ishlah lebih menonjol pada pondok yang pertama. Dampaknya terdiri dari dua bagian, dampak positif dan dampak negative. Dampak positifnya pada santri bisa belajar lebih banyak tentang teknologi secara lebih luas. Dan ilmu pengetahuan semakin bertambah. Sedangkan dampak negatifnya dapat berpengaruh terhadap santri. Tingkat kesopanan santri terhadap keluarga ndalem menurun, tidak seperti dahulu. Sekarang santri menganggap mereka adalah sama seperti mereka, masih berjiwa muda. Mangkanya mereka mudah akrab terhadap gus-gus keluarga ndalem. Sekarang ini santri lebih modern, dahulu masih sering menggunakan sarung. Sekarang santri lebih banyak menggunakan rok. Santri yang identik dengan kesederhanaan sedikit demi sedikit mengubah pola pikir dan pola dalam hal berbusana. Tidak ingin terlihat kuno akhirnya mereka melakukan beberapa hal dengan melihat teknologi yang sudah mereka pahami.

B. Saran

Setelah penulis mengetahui kejadian-kejadian ataupun permasalahan-permasalahan yang terjadi dan setelah penulis mengetahui hasil akhir dari penelitian ini, maka saran-saran yang penulis berikan adalah sebagai berikut:

1. Bagi para santri di pondok pesantren Al Ishlah 1 Bungah Gresik, hendaklah menaati peraturan yang sudah ada di pondok

81

pesantren. Jika ada kebijakakan dari pengasuh, mohon dicerna dengan baik dan dipilah mana yang baik dan yang buruk. 2. Bagi pengasuh sebaiknya kedua pondok diperhatikan dengan

lebih baik lagi. Agar masyarakat masih menganggap pondok pesantren Al Ishlah selalu menjadi panutan untuk masyarakat. 3. Bagi fakultas, supaya meningkatkan keilmuan di bidang

sosiologi dan supaya sering mengadakan kerjasama dengan masyarakat luar yang melibatkan mahasiswa, supaya dapat mengembangkan serta mengamalkan ilmu pengetahuan di bidang sosiologi.

4. Bagi peneliti sejenis kiranya dengan adanya hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai salah satu referensi yang akan melengkapi karya atau hasil penelitian selanjutnya demi kesempurnaan.

82

DAFTAR PUSTAKA

A’la, Abd, Pembaruan Pesantren. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara, 2006

Burhan, Bungin. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Bandung: Pustaka jaya, 2002

George Ritzer, Edisi Terbaru Teori Sosiologi, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004

George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011

H.M. Sulthon, Manajemen Pondok Pesantren dalam Prespektif Global. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2006

Intan Purnama Sari, SMK Alternatif Berbasis Pesantren (Studi Tentang Upaya

Memadukan Agama dan Teknologi di SMK Syubbanul Wathon), Skripsi,

Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Kasyadi, Wajah Ganda Modernisasi di Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Muntilan Magelang Jawa Tengah. Skripsi, Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008

Martono, Nanang, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012

83

Martono, Nanang. Sosiologi Perubahan Sosial: Prespektif Klasik, Modern, Postmodern, dan Poskolonial, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2012

Masri Singarimbun, Sofian Effendi, Metode penelitian survai, Jakarta: Pustaka: LP3es, 2006

Nafi’, Dian Dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, Yogyakarta : PT L-kis Pelangi Aksara, 2007

Narisan “Sistem Pendidikan Pesantren Menurut Nurcholish Madjid”, Skripsi Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2008

Nazir Moh, MetodePenelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999

Ranjabar, Jacobus, Perubahan Sosial, Bandung: ALFABETA, 2015

Ritzer, George Teori Sosiologi Modern, terjemahan Alimandan, Jakarta: Kencana Prana Media Group, 2012

Saridjo, Marwan, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta: Penerbit Dharma Bhakti, 1992

Saridjo, Marwan, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta:Penerbit Dharma Bhakti, 1992

Soekanto Sorjono, Pengantar Sosiologi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003

Ulber Silalahi, Metode Peneletian Sosial, Bandung: Refika Aditama, 2010

Umi Najikhah Fikriyati mengenai, Tradisi Pesantren di Tengah Perubahan Sosial (Studi Kasus Pada Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta), Skripsi, Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

84

Wahid, Abdurrahman, Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta:LP3ES, 2009

Yasma, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Majid terhadap Pendidikan Islam Tradisional, Jakarta: Quantum Teaching, 2005.

Dokumen terkait