• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN STRUKTUR AGRARIA DAN HARMONI SEMU

Dalam dokumen Perubahan struktur agraria dan harmoni semu (Halaman 115-131)

Distribusi Manfaat Reklaiming

Reklaiming sebagai bentuk akses terhadap hutan lindung yang dilakukan oleh komunitas petani kopi rakyat yang merupakan warga Desa Sidomulyo dan sekitarnya telah memberikan manfaat/keuntungan. Keuntungan tersebut berasal dari pembukaan kebun kopi di dalam hutan lindung yang mereka reklaim. Untuk memelihara akses ini, awalnya mereka memberikan “cukai” kepada para petugas Perhutani. “Cukai” ini kemudian oleh diakomodasi oleh Perhutani secara lembaga diakui sebagai “sharing” sebagaimana diterimanya dari para pesanggem di hutan-hutan produksi yang dikelolanya. Bahkan Perhutani melalui Surat Perjanjian Kerjasanma (SPK) yang ditandatangani bersama LMDH mematok besaran 1/3 hasil panen sebagai “sharing” tersebut.

Manfaat dari reklaiming sebenarnya tidak hanya dinikmati oleh dua aktor utama di atas. Selama budidaya kopi, baik dalam pemeliharaan kebun maupun panen kopi, menciptakan banyak kesempatan kerja. Sehingga para buruh tani dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang berarti juga pendapatan. Setelah itu, pengolahan hasil panen kopi yaitu menjadikan buah kopi (kopi glondong) menjadi kopi beras (ose) juga menciptakan kesempatan kerja dan peluang penerapan inovasi-inovasi teknologi. Proses pengolahan ini juga membuka kesempatan kerja. Setelah itu pemasaran kopi menciptakan peluang bagi para pedagang untuk mengambil keuntungan. Bergeraknya perekonomian di wilayah desa menjadikan pemerintah desa terpacu untuk meningkatkan pelayanannya dan melaksanakan program-program pembangunan untuk mendukung aktivitas warganya.

Peningkatan perekonomian warga Desa Sidomulyo berpengaruh pada kondisi kehidupan sosial mereka. Interaksi sosial semakin intensif, relasi sosial juga semakin berkembang dan kompleks. Kondisi sosial ekonomi yang semakin kondusif menarik para pemilik modal untuk berinvestasi baik kepada pedagang maupun kepada petani kopi. Mereka juga berharap dapat menikmati keuntungan yang bersumber dari kebun-kebun kopi hasil reklaiming hutan lindung.

Kontestasi para pihak dalam reklaiming hutan lindung dengan segala kepentingannya akan bermuara pada suatu struktur agraria baru. Perubahan struktur agraria ini pada dasarnya adalah perubahan sosial karena terjadi perubahan pola perilaku, hubungan sosial, lembaga dan struktur sosial pada komunitas petani kopi rakyat yang melakukan reklaiming pada khususnya dan wilayah Desa Sidomulyo pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari perubahan unsur-unsur pembentuk struktur agraria sebagaimana disebutkan oleh Tuma (dalam Sitorus, 2002), yang meliputi: kepemilikan tanah, konsentrasi tanah dan pendapatan, diferensiasi sosial, persaingan usaha, dan rasio tanah/tenaga kerja. Hasil survei dan observasi terhadap 30 rumah tangga petani yang dipilih (Lampiran 1) akan menjelaskan perubahan tersebut.

Kepemilikan Tanah

Kepemilikan tanah responden yang disurvei tidak menunjukkan pertambahan secara langsung karena memang lahan kebun kopi di hutan yang mereka kuasai tidak bisa dimiliki. Tetapi dari hasil kebun kopi tersebut beberapa responden mengaku dapat membeli tanah yang ada di desa baik pekarangan, sawah atau tegalan. Penguasaan tanah efektif23 sebagaimana disebut Wiradi (1984) yang sebelum adanya reklaiming berkisar pada rata-rata 1 hektar berubah menjadi 2 hektar lebih. Angka rata-rata ini tidak bisa mencerminkan keadaan sebenarnya tetapi hanya menunjukkan besarnya perubahan rata-rata penguasaan tanah yang mencapai 100% bahkan lebih. Kenyataannya dari 30 responden tersebut 10 orang di antaranya sebelumnya tidak mempunyai kebun kopi sama sekali (lihat Lampiran 2).

Penguasaan kebun kopi di atas tidak semuanya berasal dari usaha warga membuka sendiri di hutan lindung. Bahkan hasil survei menunjukkan bahwa paling banyak responden (14 orang atau 47%) menguasai kebun kopi tersebut dengan membeli atau istilah mereka mengganti rugi. Responden yang menguasai kebun kopi dengan membuka sendiri sebanyak 13 orang (43%) dan sisanya (3 orang atau 10%) menguasai kebun kopinya dengan membuka sendiri dan membeli. Pola penguasaan kebun kopi ini menunjukkan adanya komodifikasi lahan sebagai faktor produksi.

23

Misalnya, jika sebidang tanah disewakan kepada orang lain maka orang lain itulah yang secara efektif menguasainya. Jika seseorang menggarap tanah miliknya sendiri, misalnya 2 ha, lalu menggarap juga 3 ha tanah yang disewa dari orang lain, maka ia menguasai 5 ha.

95

Lahan di hutan lindung yang sudah berubah menjadi kebun kopi rakyat menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat dipindah-tangankan walaupun tanpa bukti kepemilikan.

Nilai dari kebun kopi yang ada di hutan lindung ketika akan dipindah- tangankan tidak berdasarkan pada luas arealnya, melainkan pada jumlah pohon kopi dan kondisinya. Karena jarak tanam yang dipakai warga relatif sama yaitu 2x1 meter, maka setiap hektar rata-rata berisi 1600 pohon. Hanya saja karena topografi tanahnya yang miring, maka dalam satu hektar tidak bisa persis berisi 1600 pohon, biasanya di bawah jumlah tersebut. Kondisi kebun dapat dilihat dari umur tanaman dan perawatannya. Kebun yang tanamannya memasuki umur produktif (di atas 5 tahun) dan bagus perawatannya maka akan dihargai mahal. Seperti kebun yang dikuasai salah seorang informan (Pak Bs, Dsn K), dengan tanaman kopi sebanyak 1500 pohon beliau menyatakan seandainya ditawarkan 50 juta maka akan banyak orang yang mau.

Konsentrasi Tanah dan Pendapatan

Semakin tingginya peralihan lahan bukaan di hutan lindung kepada mereka yang mampu membeli mengarah pada konsentrasi tanah pada para pemilik modal. Konsentrasi tanah ini pada gilirannya mengarah pada konsentrasi pendapatan. Mereka yang menguasai tanah kebun kopi lebih banyak semakin banyak pula pendapatan yang mereka peroleh. Ada beberapa orang yang akhirnya menguasai kebun kopi di hutan lindung dalam jumlah yang luas hingga ratusan hektar. Luasan tersebut tidak pernah diakuinya, tetapi banyak warga yang menegaskan bahwa mereka itu menguasai kebun kopi yang luas di kebun kopi karena seringkali membeli dari para warga yang menjual. Di samping itu mereka juga mempunyai banyak pekerja yang menangani pekerjaan-pekerjaan di kebun kopi yang ada di hutan lindung mulai dari perawatan sampai pemanenan.

Rata-rata pendapatan yang diperoleh warga dari kebun kopi yang ada di hutan per tahunnya sebanding dengan penguasaan lahannya (Tabel 5). Semakin luas lahan yang dikuasai semakin besar pula pendapatan yang diperolehnya. Meskipun demikian ada beberapa faktor yang mempengaruhi besaran tersebut antara lain:

jumlah pohon kopi yang ditanam, umur tanaman, hasil panen, besaran cukai/sharing, harga kopi, dan biaya usahatani.

Tabel 5. Rata-rata Pendapatan Petani Kopi di Lahan Hasil Reklaiming

No. Luas Kebun Kopi (Ha) Rata-rata Pendapatan/Tahun (Rp)

1 ≤ 0,5 3.667.000

2 0,5-1 8.583.444 3 1-2 12.648.722 4 ≥2 29.401.500 Sumber: Lampiran 3

Jumlah pohon yang ditanam oleh para warga tidak sama per luasannya karena mempertimbangkan topografi yang tidak semuanya datar. Semakin curam topografi lahan yang dikuasainya, biasanya semakin sedikit jumlah pohon yang ditanam. Umur tanaman akan mempengaruhi produktivitasnya. Tanaman kopi mulai berbuah setelah berumur 4 tahun dan mencapai produktivitas tertinggi pada umur 6-7 tahun dan setelahnya harus disambung untuk mempertahankan produktivitasnya. Jumlah pohon dan umur tanaman inilah yang mempengaruhi hasil panen. Selanjutnya besaran “cukai” yang disebut oleh warga dan “sharing” yang disebut oleh Perhutani akan mengurangi hasil yang bisa dijual oleh warga. Harga kopi per kg relatif sama, walaupun ada sedikit perbedaan karena kualitas olahannya menjadi kopi beras atau perbedaan pedagang yang membelinya. Biaya usahatani yang dikeluarkan tergantung luas lahan yang dikuasai warga, semakin luas tentu saja semakin besar biayanya. Hal ini dikarenakan selain semakin banyak input produksi yang harus dibeli juga semakin banyak tenaga kerja yang diperlukan yang tentu saja tidak bisa dikerjakan tenaga kerja dalam keluarga. Artinya mereka yang luas lahannya akan semakin banyak membutuhkan tenaga kerja luar keluarga/upahan. Besaran dari faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan warga dari hasil kebun kopi di hutan lindung secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 3.

Diferensiasi Sosial

Diferensiasi sosial warga desa Sidomulyo mengalami dinamika sejak terjadinya reklaiming hutan lindung. Warga-warga yang menguasai kebun kopi di

97

hutan lindung menciptakan kelompok sosial baru dengan kesamaan kondisi sosial ekonomi dan kepentingan yang sama. Peningkatan pendapatan yang mereka peroleh dari hasil kebun kopi di hutan lindung mengubah kondisi kehidupan ekonominya. Dengan kondisi ekonomi yang baru, kehidupan sosial mereka juga mulai berubah. Dahulu, ketika belum mempunyai kebun kopi mereka tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial karena sibuk dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya dan tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajiban dari kegiatan-kegitan tersebut seperti iuran dan penyediaan konsumsi. Setelah mereka mengalami peningkatan kondisi ekonomi mereka menjadi aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti pengajian, kelompok tani dan koperasi. Keikutsertaan mereka didorong oleh adanya kebutuhan untuk saling tukar informasi sesama warga terutama yang sama-sama menguasai kebun kopi di hutan lindung. Informasi tersebut berkisar tentang perkembangan keberadaan kebun kopi mereka, ketersediaan pupuk, harga kopi dan tenaga kerja.

Hasil pengamatan peneliti menunjukkan adanya interaksi sosial yang lebih intensif di antara sesama warga yang menguasai kebun kopi di hutan dibandingkan dengan warga lainnya. Dalam sebuah pengajian, mereka juga mengelompok untuk sekedar memperbincangkan hal-hal yang terkait dengan kebun kopi di hutan lindung. Terlebih dalam kelompok tani, anggota yang mempunyai kebun kopi di hutan lindung lebih aktif karena kebutuhannya akan fasilitas yang bisa diperoleh dari kelompok tani lebih besar. Melalui kelompok tani mereka dapat mengakses proyek- proyek baik dari pemerintah maupun swasta. Meskipun sejatinya proyek-proyek tersebut ditujukan untuk pengembangan kopi yang arealnya ada di wilayah desa, tetapi mereka juga menggunakannya untuk kebun kopinya yang ada di hutan lindung. Dalam kelompok tani sendiri, terdapat stratifikasi sosial berdasarkan penguasaan lahan yang kemudian menjadi pertimbangan posisinya dalam kepengurusan. Mereka yang mempunyai lahan luas relatif menduduki jabatan yang lebih strategis dibandingkan mereka yang mempunyai lahan lebih sempit.

Para petani kopi rakyat yang mempunyai kebun kopi hasil reklaiming menjadi kelompok sosial baru menengah dengan pengusaaan kebun rata-rata 2 hektar. Kelompok sosial ini menjadi kelompok sosial baru atau setidaknya memperlebar kelompok ini dari sebelumnya. Kondisi yang ada sebelumnya

kelompok sosial penguasaan tanah terpolarisasi pada tuan-tuan tanah dengan pengusaan yang luas (> 10 hektar) dan petani-petani gurem dengan penguasaan yang sangat sempit (< 0,5 hektar).

Persaingan Usaha

Pengusahaan kopi di hutan lindung tidak terlepas dari adanya persaingan dalam beberapa hal. Yang paling dominan adalah kebutuhan pupuk. Selain itu kebutuhan akan tenaga kerja pada pekerjaan-pekerjaan tertentu di kebun kopi yang membutuhkan banyak orang seperti panen juga memunculkan persaingan. Dan yang tidak kalah sengitnya adalah persaingan dalam pemasaran hasil panen.

Walaupun tanah di hutan lindung relatif masih subur, tetapi kebiasaan petani menggunakan pupuk dan keinginan agar tanamannya tumbuh dengan lebih baik mendorong mereka menggunakan pupuk kimia secara berlebihan. Padahal sebagaimana diketahui bahwa penjualan pupuk dibatasi oleh pemerintah karena terkait dengan subsidi. Pembatasan tersebut berdasarkan perkiraan luas areal pertanian tanaman pangan yang ada di wilayah tertentu. Sehingga sebenarnya tidak ada alokasi pupuk untuk tanaman kopi apalagi yang arealnya tidak terdaftar karena ada di hutan lindung. Tetapi dengan kelompok tani dan koperasi yang mereka miliki, kebutuhan pupuk dapat mereka peroleh dari distributor pupuk resmi. Tentu saja dengan berbagai alasan mereka dapat meyakinkan distributor bahwa memang kebutuhan pupuk di wilayah tersebut sangat besar sehingga perlu penambahan dari alokasi yang ditetapkan.

Persaingan untuk memperoleh pupuk di antara sesama anggota khususnya antara yang mempunyai lahan luas dan sempit kerapkali menimbulkan ketegangan- ketegangan di antara mereka. Masing-masing ingin mendapatkan pupuk sejumlah pupuk sebanyak yang ia perlukan, padahal alokasi yang ada terbatas jumlah dan jenisnya serta datangnya bertahap. Mereka yang berlahan luas ingin diprioritaskan karena kebutuhannya sangat besar dan merasa bahwa permintaannya yang besar itulah yang menjamin kepercayaan distributor untuk memberikan alokasi pupuk di wilayah tersebut. Sedangkan mereka yang berlahan sempit menuntut adanya pemerataan dan keadilan. Semua berhak mendapatkan jatah secara merata, selebihnya baru boleh dijual kepada yang memerlukan. Kebijakan yang diambil oleh

99

pengurus koperasi memang berpihak pada mereka yang berlahan sempit, yaitu semua mendapat jatah yang sama. Meskipun demikian pada praktiknya karena mereka yang berlahan luas banyak yang duduk sebagai pengurus dan merupakan tokoh-tokoh masyarakat, maka dengan berbagai cara dapat memperoleh pupuk melebihi jatah yang seharusnya.

Banyaknya kegiatan di kebun kopi menuntut adanya tenaga kerja yang juga banyak untuk menyelesaikannya. Kebiasaan rumah tangga petani di Sidomulyo menggunakan tenaga kerja luar keluarga untuk pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya seperti pemupukan, jombret (membersihkan kebun) dan panen. Khususnya pada saat panen, kebutuhan akan tenaga kerja sangat tinggi. Bahkan tenaga kerja dari dalam desa belum mencukupi, sehingga banyak mendatangkan dari luar desa. Persaingan mendapatkan tenaga kerja cenderung dimenangkan pemilik lahan luas. Hal ini karena para tenaga kerja lebih memilih bekerja pada pemilik lahan luas karena lebih menjamin keberlangsungan lama pekerjaan yang artinya mendapatkan upah yang lebih banyak. Meskipun pada kenyataannya pemilik lahan sempit justru lebih perhatian terhadap tenaga kerja dengan memberikan konsumsi dan upah yang lebih tinggi. Tetapi karena memang lahan yang sempit hanya membutuhkan waktu yang tidak lama untuk diselesaikan pekerjaannya maka menjadi tidak menarik bagi para tenaga kerja.

Persaingan dalam pemasaran kopi hasil panen tidak terjadi di antara petani, melainkan pada pedagang. Pedagang yang dimaksud adalah mereka yang berhubungan langsung dengan petani yaitu: penebas, pedangang pengumpul untuk pasar lokal dan pedagang pengumpul untuk pasar ekspor. Setiap petani kopi rakyat di Desa Sidomulyo memiliki alasan tersendiri untuk memilih kepada siapa mereka akan menjual hasil panennya. Beberapa alasan yang sering mereka ungkapkan terkait pemilihan tersebut adalah: adanya faktor kebutuhan ekonomi yang mendesak, faktor keterikatan anggota dalam kelompok tani maupun faktor keterikatan utang piutang. Mereka yang terdesak kebutuhan ekonomi akan menjual hasil panennya kepada penebas. Penebas akan menaksir jumlah kopi yang ada di kebun, dan apabila disepakati harganya maka kebun berada dalam penguasaan penebas sampai selesai panen. Hal ini dikarenakan selain lebih cepat mendapatkan uang, mereka juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk panen. Sedangkan mereka yang mampu melakukan

panen sendiri menjual kopinya dalam bentuk beras kepada pedagang pengumpul. Mereka yang berlahan sempit menjualnya kepada pedagang pengumpul untuk pasar lokal yang tidak mensyaratkan kualitas tertentu. Sedangkan mereka yang berlahan luas menjualnya kepada pedagang pengumpul untuk pasar ekspor. Para pedagang ini hanya menerima dalam jumlah besar karena akan melakukan proses sortasi kualitas sebelum memasarkannya ke eksportir.

Rasio Tanah dan Tenaga Kerja serta Implikasinya

Desa Sidomulyo memiliki luas wilayah sebesar 4.984,3 hektar dengan penggunaan sebagian besarnya untuk areal perkebunan dan hutan, sedangkan selebihnya terdiri dari pemukiman umum, pertanian sawah, ladang/tegalan, bangunan, sarana rekreasi dan olahraga serta kuburan. Dari luasan tersebut yang dimiliki petani sebagai sawah, tegalan dan kebun hanyalah 465.8 hektar. Sedangkan penduduk yang tercatat sebagai petani sebesar 5.126 jiwa. Sehingga apabila dirata- rata seorang petani hanya bisa mengerjakan 908,7 m2 saja atau kurang dari 0,1 hektar. Hal ini juga dapat diartikan satu hektar tanah di Desa Sidomulyo harus mampu menyerap lebih dari 10 tenaga kerja petani. Angka rata-rata ini juga memiliki bias yang tinggi karena konsentrasi pemilikan yang timpang.

Kondisi rasio tanah dan tenaga kerja di desa yang kecil ini dahulunya mendorong beberapa warga ke luar daerah untuk mencari pekerjaan. Peristiwa reklaiming hutan lindung yang mencapai ribuan hektar24 ternyata memberi solusi terhadap kecilnya rasio tanah dan tenaga kerja. Warga petani khususnya buruh tani, yang dahulu bingung mencari pekerjaan karena terbatasnya lahan sekarang justru bingung mencari tenaga kerja untuk membantu menyelesaikan pekerjaan di lahannya. Bahkan beberapa warga yang bekerja di luar daerah ada yang kembali ke desa setelah mendengar adanya kesempatan menguasai kebun kopi di hutan lindung. Kondisinya sekarang hampir semua rumah tangga di Desa Sidomulyo memiliki kebun kopi di hutan lindung walaupun hanya 0,25 hektar atau sekitar 400 pohon kopi seperti yang dikuasai oleh Bu N, Dsn CD. Informan ini sebelumnya tidak mempunyai kebun sama sekali. Sebagai seorang janda sekaligus kepala keluarga

24

Berdasarkan monografi Desa Sidomulyo 2007 hutan lindung yang masuk wilayah Desa Sidomulyo sebesar 1849.9 hektar dan semuanya sudah menjadi obyek reklaiming dan menjadi kebun kopi semua.

101

sebelumnya hanya bekerja sebagai buruh perkebunan dengan upah yang tidak menentu. Ketika banyak orang membuka hutan lindung untuk kebun kopi, Bu N pun tidak mau ketinggalan. Dengan segala keterbatasannya akhirnya mampu membuka kebun dengan tanaman 400 pohon kopi atau sekitar ¼ ha. Dari kebun tersebut terakhir beliau dapat panen sebanyak 200 kg kopi beras. Setelah membayar “cukai” sebanyak 20 kg, setidaknya beliau dapat hasil dari penjualan sebesar Rp. 2.520.000,- (180 kg x Rp. 14.000,-). Walaupun hanya setahun sekali, pendapatan sebesar itu tentunya sangat berharga baginya.

Perubahan struktur agraria di atas secara langsung dapat mengatasi pengangguran pedesaan yang diakibatkan terbatasnya lahan garapan. Jumlah penduduk yang masuk angkatan kerja di Desa Sidomulyo (usia 16-55 tahun) mencapai jumlah 6.367 jiwa. Dengan lahan garapan yang ada di desa hanya 465.8 hektar, maka dapat dibayangkan besarnya pengangguran yang ada. Adanya lahan reklaiming di hutan lindung yang mencapai ribuan hektar ternyata dapat memecahkan permasalahan ini. Walaupun hanya sebagai tenaga kerja upahan, setidaknya mereka tidak kebingungan mencari pekerjaan. Seperti yang dialami oleh seorang informan di dusun yang ada di wilayah perkebunan (P.K, Dsn SD). Lelaki berumur 55 tahun ini bekerja sebagai pesanggem dengan andil 700 pohon pinus. Dari andil sebesar ini beliau tiap minggu dapat menyetorkan 80 kg getah pinus yang upahnya Rp.1.700,-/kg. Sehingga dalam seminggu hanya dapat mengantongi Rp. 136.000,- yang digunakan untuk menghidupi 6 orang anggota keluarganya. Artinya dalam sehari belanja keluarganya tidak boleh lebih dari Rp. 20.000,-.

Sebelum reklaiming kebun kopi yang dikelola di pekarangannya yang merupakan tanah emplasemen perkebunan kurang dari 0,5 ha dengan jumlah tanaman sebanyak 300 pohon kopi. Dari kebun ini tiap tahunnya dapat dipanen tidak lebih dari 2 kwintal kopi. Dengan harga Rp. 14.000,-/kg maka dapat diperoleh hasil kotor sebesar 2,8 juta rupiah. Setelah dikurangi rata-rata biaya sebesar 30% maka beliau dapat mengantogi Rp. 1.960.000,-. Setelah reklaiming, P.K berhasil menguasai dua petak kebun kopi dengan masing-masing tanamannya berjumlah 600 dan 800 pohon kopi atau lebih dari satu hektar. Dari dua petak kebun yang terakhir ini, panen terakhir beliau mendapatkan 1, 2 ton. Dengan harga Rp. 14.000,-/kg setidaknya beliau mendapatkan penghasilan kotor Rp.16.800,000,-. Sehingga dapat

dibayangkan peningkatan pendapatannya setelah menguasai kebun kopi hasil reklaiming.

Luasnya kebun kopi hasil reklaiming yang mencapai ribuan hektar terbukti secara langsung meningkatkan rasio tanah dan tenaga kerja, meningkatkan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja sebagaimana dijelaskan di atas. Bahkan yang terjadi adalah kekurangan tenaga kerja dari dalam desa. Sehingga banyak menarik kembali warga yang sudah ke luar daerah untuk kembali ke Desa Sidomulyo dan tenaga kerja upahan dari luar desa.

Harmoni Semu

Perubahan-perubahan dalam unsur-unsur struktur agraria di atas dan kondisi harmoni yang tercipta ternyata masih menyisakan banyak persoalan yang belum terjawab tuntas. Persoalan-persoalan tersebut dapat diketahui dari dinamika yang terjadi atas proses reklaiming dan hasil-hasil yang tercipta.

Dinamika reklaiming hutan lindung oleh warga Sidomulyo yang bermula dari euforia reformasi tidak menunjukkan prasyarat harmoni yaitu tidak adanya keterpaksaan. Perhutani terpaksa membiarkan warga membuka hutan lindung karena tidak punya kekuatan untuk mencegah. Demikian juga warga memaksa membuka hutan karena merasa punya hak sebagaimana yang diperoleh oleh nenek moyang mereka. Kalau kemudian masing-masing pihak dapat bertemu dan berkomunikasi, hal ini hanyalah pada strategi mereka untuk mencapai tujuan masing-masing. Perubahan “cukai” menjadi “sharing” yang mengikuti perjalanan fenomena reklaiming ini juga menunjukkan adanya kompromi di antara mereka. “Cukai” yang merupakan inisiatif dari warga sebagai bentuk pemberian bawah tangan kepada petugas Perhutani dalam perjalanannya diakomodasi oleh Perhutani secara institusi menjadi setoran bagi hasil atau “sharing” yang resmi.

Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai hasil dari reklaiming tidak semuanya bermakna positif bagi warga Sidomulyo. Pertambahan penguasaan lahan garapan kebun kopi di hutan masih belum mendapat pengakuan secara legal yang artinya sangat rentan untuk ditarik kembali oleh penguasa (negara). Penguasaan yang mengarah pada komodifikasi lahan semakin menguatkan kapitalisasi pedesaan. Tanah hanya berfungsi sebagai faktor produksi yang hanya dinilai dengan

103

produktivitas. Konsentrasi lahan kebun kopi di hutan lindung kepada para pemilik modal mengikis semangat awal reklaiming yaitu tuntutan keadilan sosial. Lahan kebun kopi hasil reklaiming seharusnya menjadi sumber mata pencaharian bukan sebagai komoditi faktor produksi yang dengan mudah dapat berpindah tangan dengan ganti rugi sejumlah uang. Konsentrasi lahan yang mengarah pada polarisasi akan semakin mengaburkan harmoni karena akan menjadikan warga kembali menjadi buruh tani bukan lagi sebagai penggarap.

Dalam dokumen Perubahan struktur agraria dan harmoni semu (Halaman 115-131)

Dokumen terkait