• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Perubahan Tutupan Mangrove di DAS Besitang

Analisis luas hutan mangrove pada penelitian ini dilakukan pada tiga tahun pengamatan, yaitu tahun 2008, 2013, dan 2018. Berdasarkan interpretasi visual terhadap citra satelit 2008, 2013, dan 2018, didapatkan informasi luas tutupan lahan mangrove pada tiap-tiap tahun pengamatan. Pada tahun 2008, luas tutupan lahan mangrove di lokasi penelitian adalah sekitar 5.804,40 ha, pada tahun 2013 sekitar 4.304,11 ha, dan pada tahun 2018 sekitar 4.126,66 ha.

Perubahan luas hutan mangrove di lokasi penelitian di ketiga tahun pengamatan, dihitung dengan data luas hutan mangrove tahun 2008 sebagai tahun acuan. Hasil klasifikasi penutupan lahan pada citra landsat tahun 2008, 2013, dan tahun 2018 menunjukkan bahwa sebagian besar tipe penutupan lahan mengalami 35

perubahan menjadi tipe penutupan lahan lainnya. Hal ini diiringi dengan penambahan dan pengurangan luasan maupun proporsi dari setiap penutupan lahan. Hasil analisis menunjukkan telah terjadi pengurangan luasan hutan mangrove sebesar 1.242,73 ha. Perubahan hutan mangrove terbesar adalah menjadi lahan terbuka di Desa Pulau Kampai dan Desa Bukit Selamat, yakni sebesar 380,93 ha yang disajikan pada Tabel 4.8 dan diilustrasikan Gambar 4.5.

Tabel 4.8. Perubahan Tutupan Hutan Mangrove di DAS Besitang

No. Tipe Tutupan Lahan

Perubahan Luas (ha)

2008 2013 2018

1. Mangrove Lahan Terbuka Lahan Terbuka 380,93

2. Mangrove Tambak Badan Air 307,59

3. Mangrove Lahan Terbuka Perkebunan 136,72

4. Mangrove Tambak Lahan Terbuka 127,39

5. Mangrove Tambak Pemukiman 126,49

6. Mangrove Tambak Tambak 105,19

7. Mangrove Perkebunan Perkebunan 58,42

Gambar 4.5. Peta perubahan tutupan lahan mangrove di DAS Besitang 4.4. Penyebab Perubahan Mangrove di Wilayah Pesisir DAS Besitang

Penyebab perubahan mangrove di lokasi penelitian diperoleh dari wawancara yang mendalam terhadap masyarakat, LSM serta pejabat pemerintahan setempat

36

yang dianggap mengetahui sejarah perubahan mangrove yang terjadi. Pengurangan luas ekosistem mangrove di DAS Besitang diakibatkan oleh perambahan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, tambak dan pemukiman/sarana prasarana. Informasi yang diperoleh dari wawancara disajikan pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Kutipan Representatif dari Wawancara dengan Responden Kunci

No Pernyataan/Ujaran Responden Pewakil

1 Perubahan fungsi kawasan dari kawasan Hutan Negara menjadi Areal Penggunaan Lain (APL) sebagai pemicu kegiatan alih fungsi mangrove di Kecamatan Besitang . Lahan mangrove di sekitar sungai Sesirah, sungai Sikundur dan sungai Halaban.

Pelaku alih fungsi adalah pungusaha luar

J. Purba (42 tahun), aparat pemerintahan Kecamatan Besitang.

2 Booming tambak tahun 2000-an yang merubah hutan mangrove di Sei Meran menjadi tambak intensif untuk budidaya udang tiger (Penaeus monodon) oelh pengusaha “keturunan” di ketiga lokasi masing-masing 40 ha, 10 ha dan 15 ha. Masyarakat lokal ikut membuat tambak udang dengan sistem empang paluh (sylvofisheries).

Jaelani (52 tahun), mantan kepala Desa Sei Meran

3 Hutan mangrove di sekitar Sungai Bamban - Sungai Buluh tahun 2007 dialihfungsikan oleh pengusaha dari Aceh menjadi perkebunan kelapa sawit. Kerusakan mangrove di Pulau Kampai juga terjadi akibat rencana pencetakan sawah baru seluas + 1.500 ha.

Ridwansyah ( 48 tahun) ketua Koperasi Tunas Baru Pulau Kampai

4 Untuk menyelamatkan mangrove Pulau Kampai , dibangun wisata

mangrove di Panta Berawe sejak tahun 2003. Pantai Berawe menjadi salah satu destinasi wisata

Kabupaten Langkat. Edi berharap dengan berwisata mangrove, masyarakat sadar untuk menyelamatkan mangrove di Pulau Kampai. Memanfaatkan hutan mangrove tidak harus menebang kayunya, namun yang dimanfaakan adalah pemandagan alam-nya (view). Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain dengan penanaman mangrove di pesisir pantai Berawe bersama pelajar, pengunjung dan masyarakat sekitar, yang pada umumnya ramai pada saat hari libur sekolah atau libur nasional.

Edi (52 tahun) warga P Kampai, pengelola objek Wisata Pantai Berawe

5 Usaha dapur arang yang mengolah kayu bakau menjadi arang bakaumerupakan usaha turun temurun di Desa Pangkalan Siata sat ini terdapat + 36 dapur arang yang yang aktif .Lokasi dapur arang berada di Tangkahan Serai, Bukit Siata, Tungkam dan Tanjung Keramat. Penebangan kayu ini merusak ekosistem mangrove, namun masyarakat pengrajin dapur arang di Desa Pangkalan Siata berkeyakinan bahwa hutan mangrove mereka tetap lestari asalkan tidak dialihfungsikan menjadi tambak atau perkebunan kelapa sawit.

6 Kemitraan Kehutanan merupakan salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memberikan akses kelola kepada masyarakat di sekitar hutan.

Surbakti, (45 tahun) Kasi Perencanaan dan Pemberdayaan pada KPH Wilayah I Stabat

37

Hasil wawancara dengan Purba, kepala seksi pemerintahan Kecamatan Besitang bahwa kerusakan mangrove di Besitang bermula ketika beberapa pengusaha asal Medan tahun 2007, mengalih fungsikan kawasan mangrove di sekitar sungai Sedapan hingga sungai Pucuk Kelurahan Pekan Besitang. Kegiatan alih fungsi lahan tersebut dipicu oleh perubahan peta kawasan hutan Provinsi Sumatera Utara lokasi, dimana lokasi tersebut berada diluar kawasan hutan negara (areal penggunaan lain/APL). Hal ini dibenarkan oleh S. Tarigan, mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaen Langkat bahwa terjadi perubahan fungsi kawasan hutan di Kecamatan Besitang, ekosistem mangrove di dalam peta TGHK masuk dalam kawasan hutan, berdasarkan Peta Penunjukan Kawasan Hutan Provinsi Sumatera Utara (SK 44/2005) menjadi bukan kawasan hutan.

Purba menambahkan, melalui ganti rugi dengan masyarakat, kawasan mangrove dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 2008 kegiatan alih fungsi lahan berlanjut ke Desa Bukit Selamat, Desa Halaban. Perubahan fungsi kawasan diduga kuat sebagai pemicu kegiatan alih fungsi mangrove. Lahan mangrove di sekitar sungai Sesirah, sungai Sikundur dan sungai Halaban statusnya berubah dari kawasan Hutan Negara menjadi Areal Penggunaan Lain (APL)/diluar kawasan hutan. Melalui tokoh-tokoh masyarakat setempat, dan oknum pegawai pemerintah Kabupaten Langkat, para pengusaha berhasil mengusai lahan mangrove di lokasi tersebut dengan cara memberikan ganti rugi kepada masyarakat desa, untuk selanjutnya lokasi mangrove dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Masyarakat nelayan yang tidak setuju dengan kegiatan alih fungsi lahan mangrove menjadi perkebunan kelapa sawit melakukan unjuk rasa ke DPRD Kabupaten Langkat, hingga Pemerintah Kabupaten Langkat membentuk Tim Penertiban Alih Fungsi Lahan yang diketuai oleh Sekretaris Daerah dengan anggota Satuan Kerja 38

Perangkat Daerah serta Camat di wilayah pesisir yang memiliki hutan mangrove.

Penertiban alih fungsi lahan dilaksanakan di Kecamatan Besitang tahun 2008, yang melibatkan Tim Alih Fungsi Lahan dari Pemkab Langkat bersama Camat Besitang dan melibatkan Polsek dan Koramil di wilayah Besitang, namun tidak ada tersangka yang ditetapkan oleh pihak kepolisian. Kegiatan alih fungsi sempat terhenti sementara, namun kegaitan alih fungsi lahan mangrove kembali terjadi, sehingga mangrove di sekitar sungai Sesirah, sungai Sikundur dan sungai Halaban beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Areal hutan mangrove yang masih tersisa dimanfaatkan masyarakat setempat menjadi tambak alam, sebagian yang lain mangrove yang masih ada di sempadan sungai masih dipertahankan keberadaannya hingga saat ini.

Alih fungsi ekosistem mangrove juga terjadi di Kecamatan Pangkalan Susu.

Kepala Desa Sei Meran Kecamatan Pangkalan Susu Bapak Jaelani menceritakan bahwa kerusakan ekosistem mangrove bermula ketika booming tambak sekitar tahun 90-an. Masyarakat maupun pengusaha mengalihfungsikan hutan mangrove menjadi tambak udang baik tambak intensif maupun tambak tradisional. Pengusaha pada umumnya dari Medan, membuka tambak intensif di ekosistem mangrove yang memang paling sesuai daya dukungnya untuk budidaya tambak udang. Sedangkan masyarakat setempat membuka tambak udang dengan cara tradisional dengan pola empang parit (sylvofisheries), yang tidak menggunakan kincir air. Kepala Desa menerapkan peraturan tidak tertulis untuk mempertahankan tambak rakyat dengan tidak memberikan izin alih fungsi tambak menjadi kebun kelapa sawit.

Pengelolaan mangrove di Desa Pangkaan Siata sedikit berbeda dengan pengelolaan di desa Sei Meran maupun di Desa Bukit Selamat. Masyarakat Desa Pangkalan Siata di Kecamatan Pangkalan Susu, mempertahankan ekosistem 39

mangrove untuk dimanfaatkan menjadi usaha dapur arang yang mengolah kayu bakau menjadi arang bakau. Usaha ini dilaksanakan secara turun temurun. M. Nasir, mantan kepala Desa Pangkalan Siata yang juga sebagai kader rehabilitasi hutan dan lahan, mengatakan bahwa di Desa Pangkalan Siata terdapat + 36 dapur arang yang mengolah kayu bakau menjadi arang. Lokasi dapur arang berada di Tangkahan Serai, Bukit Siata, Tungkam dan Tanjung Keramat. Kayu bakau diambil dari hutan yang ada di Desa Pangkalan Siata.

Akses jalan dari Pangkalan Susu menuju Desa Pangkalan Siata harus dilalui menggunakan perahu (boat) selama + 25 menit. Akses jalan yang sulit ini mungkin menjadi salah satu penyebab desa ini masih memiliki ekosistem mangrove yang relatif luas. Penebangan kayu bakau dilaksanakan dengan sistem tebang pilih. Untuk kelestarian mangrove yang ada, masyarakat lokal memiliki aturan yang disepakati bersama antara lain pohon bakau yang ditebang dengan diameter minimal 3 inci, penebangan tidak diperbolehkan sampai ke akar dan harus menyisakan batang mangrove yang masih hidup di dalam satu rumpun yang ditebang. Lokasi penebangan ini akan dibiarkan selama kurun waktu + 3 tahun dan diharapkan hutan mangrovenya akan pulih dan siap untuk dipanen. Pohon yang ditebang, asalkan masih tersisa cabang hidup, akan tumbuh tunas cabang baru menggantikan cabang pohon yang ditebang. Secara alami biji buah bakau yang jatuh juga akan berkembang menjadi anakan bakau yang akan berkembang menjadi pohon besar. Setelah pohon telah mencapai diameter 3 - 4 inci pohon bakau akan ditebang kembali untuk dijadikan arang bakau. Selain membiarkan hutan mangrovenya pulih, di Pangkalan Siata pernah dilakukan rehabilitasi mangrove oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat pada tahun 2010 dan 2013 masing-masing seluas 30 hektar dan 25 hektar.

40

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular pada tahun 2010 juga pernah melaksanakan rehabilitasi mangrove di Desa Pangkalan Siata seluas 200 ha. Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu) juga pernah melaksanakan rehabilitasi mangrove di beberapa desa di Kabupaten Langkat termasuk di Desa Pangkalan Siata. Masyarakat pengrajin dapur arang di Desa Pangkalan Siata berkeyakinan bahwa hutan mangrove mereka tetap lestari asalkan tidak dialihfungsikan menjadi tambak atau perkebunan kelapa sawit.

Kegiatan alih fungsi lahan mangrove menjadi perkebunan kelapa sawit juga terjadi di Kecamatan Pangkalan Susu yaitu di Desa Pematang Tengah dan Desa Pulau Kampai. Ridwan, salah seorang kader rehabilitasi hutan dan lahan Dinas Kehutanan dan Perke bunan menuturkan, pada tahun 2007 terjadi pembukaan hutan mangrove oleh pengusaha asal aceh di sekitar Sungai Tualang seluas + 40 hektar, ekosistem hutan mangrove dirusak dengan dibuatnya benteng keliling setinggi + 3 meter, sehingga air asin tidak masuk ke lahan tersebut. Pernah dilakukan operasi oleh pihak kepolisian bersama Pemerintah Kabupaten Langkat, alat berat berupa excavator (backhoe) disita dan diangkut ke Polres Langkat, namun dua tahun kemudian kegiatan alih fungsi lahan di lokasi tersebut kembali terjadi. Kegiatan alih fungsi lahan marak terjadi di Pulau Kampai sekitar tahun 2008 sampai 2010, hutan mangrove di sekitar sungai Bamban - sungai Buluh meralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, meskipun kalau dilihat pohon sawit memang tumbuh di lokasi tersebut namun buah yang dihasilkan hanya sedikit. Ridwan juga menambahkan bahwa kerusakan mangrove di Pulau Kampai juga terjadi akibat mantan Kepala Desa Pulau Kampai (Buyung) memiliki gagasan mencetak lahan sawah baru. Lokasi yang dipilih adalah ekosistem mangrove disebelah utara sawah tadah hujan yang sudah ada saat ini, yaitu mulai dusun Damar Seratus ke arah Utara 41

sampai batas laut. Dana pencetakan sawah ditarik dari masyarakat Pulau Kampai, namun karena kekurangan dana maka proyek pencetakan sawah baru terealisasi pembuatan benteng keliling. Akibat pembuatan benteng keliling tersebut, mangrove yang berada dalam benteng terhalang untuk mendapatkan pasokan pasang surut air laut, akibatnya banyak pohon yang mati.

Ridwan yang juga bekerja sebagai nelayan, melaporkan maraknya kegiatan alih fungsi lahan di desanya ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Langkat, dan menceritakan keprihatinannya akan kelestarian mangrove di desanya yang mungkin saja akan berdampak pada hasil tangkapan nelayan. Dinas menyarankan dibentuk kelompok tani atau koperasi di Desa Pulau Kampai untuk mendapatkan akses pengelolaan hutan mangrove di Desa Pulau Kampai. Dengan difasilitasi oleh Dishutbun Kabupaten Langkat maka terbentuklah Koperasi Tunas Baru yang akhirnya memperoleh Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR) yang ditandatangani oleh Bupati Langkat atas nama Menteri Kehutanan.

Kerusakan mangrove di Kecamatan Pangkalan Susu juga terjadi di desa-desa pesisir yang lain, antara lain Pintu Air, Tanjung Pasir, Sei Siur, Beras Basah, Bukit Jengkol dan Alur Cempedak. Kerusakan mangrove diakibatkan alih fungsi menjadi tambak tahun 90-an. Kegagalan usaha tambak setelah tahun 2000-an, menyebabkan tambak-tambak terbengkalai, dan akhirnya beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit seperti yang terjadi di DesaTanjung Pasir, Sei Siur, Beras Basah dan sebagian di Desa Sei Meran.

Alih fungsi lahan mangrove sebagaimana dilangkat juga terjadi di Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara. Ningsih (2017) mengatakan bahwa luas ekosistem mangrove di Kecamatan Medang Deras berkurang diakibatkan oleh 42

maraknya perambahan, pengalihfungsian lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, tambak, serta penebangan secara berlebihan untuk permukiman. Sedangkan penambahan ekosistem mangrove dari 410.13 Ha menjadi 575.61 Ha dengan selisih luas 162.36 Ha, hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekosistem mangrove secara alami serta reboisasi.

Irwanto dalam Siburian (2016) menyebutkan bahwa perubahan kawasan mangrove juga diakibatkan oleh peralihan fungsi kawasan dalam bentuk konversi lahan menjadi pemukiman, industri perlusan tambak. Perubahan kawasan mangrove berakibat berubahnya karakteristik fisik dan kimiawi di sekitar habitat mangrove.

Kawasan ini tidak lagi sesuai dengan kehidupan dan perkembangan flora dan fauna di hutan mangrove. Dampak yang ditimbulkan antara lain adalah abrasi pantai, intrusi air laut yang menyebabkan masyarakat sulit mendapatkan air bersih, turunnya potensi perikanan alibat perubahan karakteristik kawasan yang sudah , dan kehidupan satwa liar yang terganggu yang menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem di kawasan itu serta berkurangnya sumber mata pencaharian penduduk setempat.

Dokumen terkait