BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Hasil Analisis Data
3) Perumpamaan
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan yang sengaja dianggap sama dan sering juga
kata “perumpamaan” disamakan dengan persamaan (Tarigan, 1985: 10).
Penanda jenis perumpamaan biasanya menggunakan kata-kata sebagai berikut, seperti, ibarat, bak, sebagai, umpama, laksana, bagai, bagaikan, serupa dan lain-lain. Berikut iklan komersial yang menggunakan gaya bahasa perumpamaan.
(29)
Sumber: Jl. Babarsar, Depok Sleman Yogyakarta
Konteks: Terdapat model wanita cantik dengan gaun hitam berwajah kemilau yang sedang bergaya.
Tuturan: “Kulit cantik bagai bintang LBC solusinya…..”(A.5) Iklan komersial (29) “Kulit cantik bagai bintang LBC
solusinya…..” (A.5), menggunakan modus kalimat saran dan
menggunakan majas perumpamaan. Dalam kalimat pada iklan
komersial (A.5) terdapat kata “bagai”, yang mengumpamakan kulit
cantik bagai bintang. Tindak tutur pada iklan komersial tersebut adalah tindak tutur tidak langsung literal. Sesuai dengan kriteria tuturan ini tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu
78
tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
C. Pembahasan
Iklan merupakan segala bentuk pesan tentang suatu produk atau jasa yang disampaikan lewat suatu media dan ditujukan pada seluruh masyarakat. Dalam bab pembahasan ini peneliti akan membahas jenis-jenis tindak tutur dan penanda kesantunan dalam iklan komersial. Hasil penelitian menemukan tiga jenis tindak tutur yaitu tindak tutur langsung literal, tindak tutur tidak langsung literal, dan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Penanda kesantunan yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu pemakaian diksi sebagai penanda tingkat kesantunan, pemakaian keterangan modalitas, dan pemakaian gaya bahasa sebagai penanda tingkat kesantunan.
Tindak tutur langsung literal merupakan tindak tutur yang memiliki maksud memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Di bawah ini merupakan tindak tutur langsung literal
79
Sumber: Jl. Magelang Km 6.5, Mraen Ring Road Utara
Konteks: Terdapat gambar model wanita cantik dengan bergaya memegang pena dan tersenyum penuh keberhasilan.
Tuturan: “Ayo kuliah Mercu Buana lebih baik.” (I.2)
Tuturan (30) merupakan tindak tutu langsung literal. “Ayo kuliah Mercu Buana lebih baik” (I.2) merupakan kalimat ajakan dengan ditandai modalitas kata
“ayo” pada awal kalimat. Dinyatakan langsung karena tuturan tersebut sesuai
dengan modus kalimatnya yaitu berupa ajakan. Ajakan dari iklan komersial (I.2) supaya pembaca kuliah di unversitas Mercu Buana. Keliteralnya kerena Mercu Buana merupakan salah satu univesitas swasta yang tergolong baik.
Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutraannya, tetapi makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan penutur (Putu Wijana dan Rohmadi, 2009: 32).
(31)
Sumber: Jl. Wonosari Km 6
Konteks : Terdapat gambar istana dengan boneka ratu dan pangeran dan terdapat juga foto-foto aksi-aksi pengunjung pada saat menikmati wahana.
Tuturan: “Selamat datang di pusat rekreasi keluarga Kids Fun bermain sepuasnya di 19 wahana permainan yang fantastis.” (F.1)
Iklan komersial (31) “Selamat datang di pusat rekreasi keluarga Kids Fun bermain sepuasnya di 19 wahana permainan yang fantastis.” (F.1) merupakan
80
salah satu iklan komersial yang tuturannya menggunakan tindak tutur tidak langsung literal. Iklan komersial (F.1) disebut tidak langsung karena menggunakan modus kalimat sapaan dengan maksud tujuannya adalah persuasi atau mengajak. Frasa “selamat datang” merupakan bukti sapaan. Sedangkan persuasi pada iklan (F.1) terdapat pada frasa “bermain sepuasnya dan fantastis” yang berarti Kids Fun salah satu tempat rekreasi yang tergolong lengkap wahana permainan sehingga anak-anak dan keluarga puas bermain dan berlibur. Menurut Nandar (2009: 19) tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari tindak tutur tidak langsung dapat beragam dan tergantung pada konteksnya. Maksud dari iklan komersial (F.1) adalah Kids Fun salah satu tempat rekreasi yang tergolong lengkap wahana permainan sehingga anak-anak dan keluarga puas bermain dan berlibur. Keliteralannya adalah tempat rekreasi keluarga Kids Fun memiliki 19 wahana permain. Tindak tutur tidak langsung literal juga ditemukan pada contoh iklan komersial berikut ini.
(32)
Sumber: Jl. Laksda Adi Sucipto Sleman Yogyakarta Konteks: Terdapat gambar aki.
81
Iklan komersial (32) merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Ketidaklangsungan pada tuturan ”Teknologi Aki MF untuk iklim tropis” (D.7) karena menggunakan modus kalimat berita dengan tujuan atau maksud persuasi.
”Teknologi Aki MF untuk iklim tropis” merupakan kalimat berita yang memberitakan bahwa Aki MF Astra cocok untuk di negara tropis seperti di Indonesia. Oleh kerana itu iklan ini termasuk tuturan literal. Menurut PutuWijana dan Rohmadi (2009: 31), tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Persuasi dalam kalimat iklan ini, merupakan ajakan untuk membeli dan menggunakan Aki MF Astra, karena aki ini memang dibuat khusus untuk daerah tropis seperti Indenesia.
Keliteralannya pada iklan ini tampak pada “Aki MF untuk iklim tropis”.
Penelitian ini juga menemukan jenis tindak tutur tidak langsung tidak literal. Menurut Subagyo tindak tutur tidak langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat dan makna kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang hendak diutarakan (2003: 70-71). Berikut di bawah ini iklan komersial yang terdapat implikatur tindak tutur tidak langsung tidak literal. (33)
82
Konteks : Terdapat gambar topeng pria dan wanita tersenyum.
Tuturan: “Yang lain bersandiwara, gue apaadanya!” (H.3)
Iklan komersial (33) “Yang lain bersandiwara, gue apa adanya!” (H.3) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Ketidak langsungan tuturan (H.2) karena menggunakan modus kalimat berita dengan maksud persuasi. Ketidak langsungan tuturan tersebut terbukti kalimat tersebut menjelaskan kondisinya yaitu apa adanya! walaupun kalimat tersebut terdapat tanda baca seru.
Ketidak literalannya terdapat pada kata “gue”. Kata “gue” ini memiliki makna
yaitu rokok LA Lights itu sendiri bukan perokoknya. Terbukti bahwa iklan (H.3) merupakan tindak tutur tidak langsung tidak literal karena Menurut Subagyo tindak tutur tidak langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat dan makna kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang hendak diutarakan (2003: 70-71). Maksud dalam iklan (H.3) tersebut adalah Cita rasa dan bentuk dari rokok LA Lights dari dulu tidak akan berubah dan tetap sama. Lokusi berupa kalimat berita, ilokusi berupa persuasi, dan perlokusi para penikamat rokok membeli rokok LA Lights. Tindak tutur tidak langsung tidak literal juga ditemukan pada contoh iklan komersial berikut ini.
83
Sumber: Jl. Wonosari Km 8, Yogyakarta
Konteks : Terdapat gambar dua jin pria dan wanita yang sedang terbang menggendong manusia dengan ekspresi wajah pria ketakutan dan wanita sangat marah. Seting di depan rumah di pedesaan.
Tuturan: “ Yang penting Heppiii…”(H.5)
Iklan komersial (34) juga termasuk dalam tindak tutur tidak langsung tidak literal. “ Yang penting Heppiii…” (H.5) kalimat iklan komersial tersebut menggunakan modus kalimat berita dengan maksud dari kalimat tersebut mempengaruhi pembaca atau persuasi. Ketidak langsungan iklan komersial (H.3) karena dalam kalimat iklan tersebut menginformasikan bahwa bagaimanapun dan apapun keadaanya pasti tetap senang. Tetapi tujuannya adalah supaya pembaca membeli dan merokok Djarum 76. Ketidak literalannya terbukti pada kalimat
“yang penting hepiii” tersebut sudah menjadi ciri khas atau semboyan Djarum 76,
jadi pembaca sudah mendapatkan gambaran dengan sombayan yang dimaksud yaitu rokok Djarum 76. Menurut Putu Wijana dan Rohmadi (2009: 31) tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya.
Santun tidaknya pemakaian bahasa dapat dilihat setidaknya dari dua hal, yaitu pilihan kata (diksi) dan gaya bahasa (Pranowo, 2005: 16). Pranowo juga menjelaskan pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengungkapkan makna dan maksud dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu kepada mitra tutur. Penanda kesantunan yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu pemakaian diksi sebagai penanda tingkat
84
kesantunan, pemakaian keterangan modalitas, dan pemakaian gaya bahasa sebagai penanda tingkat kesantunan.
Pemilihan kata atau diksi dalam penelitian ini terdapat tiga penanda yaitu pilihan kata konotatif bermakna halus, pilihan kata konatatif bermakna netral, dan pilihan kata konotatif bermakna kasar. Berikut di bawah ini iklan komersial konotasi bermakna halus.
(35)
Sumber: Jl. Prof. Yohanes Perempatan Pom Bensin Sagan
Konteks: Terdapat gambar foto keluarha yang ceria dan alat gambar tensimeter.
Tuturan: “Langkah bijak memantau tekanan darah secara teratur sebelum Anda sakit” (C.3)
Iklan komersial (35) merupakan iklan elektronik. “Langkah bijak
memantau tekanan darah secara teratur sebelum Anda sakit” (C.3) kalimat iklan tersebut menggunakan pilihan kata “bijak” yang berkonotasi positif untuk
menjaga kesantunan. Kata “bijak” menurut (KBBI, 2005: 88) adalah selalu menggunakan akal budinya. Penggunaan kata “bijak” dalam iklan ini supaya terkesan halus dalam kalimat iklan komersial (C.3). Menurut Pranowo, salah satunya adalah pemakaian diksi, ada beberapa diksi yang jika dipakai secara tepat dapat mengakibatkan pemakaian bahasa menjadi santun (2009: 90). Penggunaan diksi yang baik dan tepat dan tidak menyinggu pihak lain maka tuturan akan
85
semakin santun. Iklan komersial tersebut adalah tindak tutur tidak langsung literal. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (C.3) ini tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
(36)
Sumber: Jl. Laksda Adi Sucipto Sleman Yogyakarta
Konteks: Terdapat gambar botol Cocacola dengan butiran-butiran es yang terlihat dingin dan menyegarkan dan back ground berwarna merah sehingga terlihat sangat kontras.
Tuturan: “Cinta pada tegukan pertama” (E.6)
Iklan komersial (36) merupakan iklan minuman dengan tindak tutur tidak langsung tidak literal. Iklan “Cinta pada tegukan pertama” (E.6) menggukan
diksi “tegukan”. Kata “tegukan” dalam KBBI memiliki arti meminum air (2005: 541). Penggunaan kata “tegukan” dalam iklan ini terkesan halus dan membuat
kalimat iklan tersebut semakin santun dan pembaca semakin tertarik dan suka dengan diksi yang digunakan. Menurut Pranowo (2005: 104), mengemukakan pemakaian kata-kata tertentu sebagai pilihan kata (diksi) yang dapat mencerminkan rasa santun. Selain memperindah kalimat iklan, kalimat tersebut membuat pembaca semakin penasaran dan yang jelas akan mencoba minuman
86
ringan Coca Cola. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (E.6) ini tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
(37)
Sumber: Jl. Magelang km 7.5 Mlati Sleman Yogyakarta
Konteks : Terdapat gambar artis Ayu Ting Ting yang sedang bersenderan di HP Samsung.
Tuturan: “Bikin galaumu makin sik asik Samsung Champ Deluxe” (C.12)
Iklan komersial (37), merupakan salah satu iklan komersial yang berkonotasi netral dan santun. Konotasi netral dalam hal ini sudah dijelaskan pada bagian analisis data pada pembahasan sebelumnya. Netral di sini tidak mengandung nilai rasa kasar ataupun halus. “Bikin galaumu makin sik asik
Samsung Champ Deluxe” (C.12) dalam kalimat iklan komersial tersebut terdapat
kata “sik asik” yang mempunyai maksud memang asik atau ceria. Menurut Pranowo (2009: 79), kata yang dikatakan secara implisit biasanya lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang dikatakan secara eksplisit, terbukti pada kata
“sik asik” mengandung makna tersembunyi yaitu dengan menggunakan Samsung
87
ponsel yang termasuk mini. Diharapkan pembaca dengan membaca iklan tersebut ingin memiliki dan melihat produk ponsel Samsung. Kata “sik asik” dipopulerkan oleh penyanyi dangdut yang sedang populer yaitu Ayu Ting Ting, sehingga dapat menarik perhatian pembaca. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (C.12) ini tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
(38)
Sumber: Jl. Prof. Yohanes Perempatan Pom Bensin Sagan
Konteks: Terdapat hasil proyektor yang jernih dan jelas juga terdapat dua jenis proyektor yang ditawarkan.
Tuturan: “Masih pakai proyektor konvensional? Sekarang jamannya wide screen!!! Pakai Mitsubisi WXGA proyektor” (C.5)
Iklan komersial (38) “Masih pakai proyektor konvensional? Sekarang jamannya wide screen!!! Pakai Mitsubisi WXGA proyektor” (C.5) merupakan iklan komersial yang berkonotasi kasar. Pada iklan (C.5) terdapat frasa “jamannya
wide screen” yang terkesan kasar atau menyindir. Kata “jamannya wide screen”
bermaksud mengkritik orang yang masih menggunakan proyektor konvensional. Menurut Pranowo (2009: 79), kata yang dikatakan secara implisit biasanya lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang dikatakan secara eksplisit. Dalam hal ini tertulis jelas tanpa menggunakan kiasan penulis menuliskan secara langsung
88
yaitu “jamannya wide screen” sehingga menyinggung pembaca yang masih menggunakan proyektor konvensional. Dengan menyindir, pembaca diharapkan terbawa emosi untuk membeli produk yang terbaru yaitu Mitsubisi WXGA proyektor. Pilihan kata atau diksi dalam kalimat komersial (C.5) termasuk kasar dan prespektifnya kurang santun karena mengkritik dan menyindir. Seharusnya kalimat iklan tersebut berbunyi “Mitsubisi WXGA proyektor membuat kerja
Anda semakin mudah dan sangat praktis”. Sehingga tidak ada pihak yang
tersinggung dan kesantunan dalam berbahasa tetap terjaga. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (C.5) ini tergolong kurang santun, karena hanya terdapat dua kriteria, yaitu tidak terdapat unsur ancaman dan tidak ada unsur memaksa. Penggunaan kata berkonotasi kasar terdapat pada iklan komersial di bawah ini. (39)
Sumber: Jl. Kaliurang km 6 Sleman Yogyakarta
Konteks: Terdapat gambar model tiga wanita dan satu pria yang sedang asik bercengkrama dengan back ground berwarna biru.
Tuturan: “Internetan makin asik, download makin kenyang!” (G.6)
Iklan komersial (39), termasuk dalam pemihan kata pada kalimatnya tergolong berkonatasi kasar. “Internetan makin asik, download makin kenyang!” (G.6) terdapat kata “kenyang” sehingga terkesan kurang tepat. Seharusnya kata
89
Bali, kata “kenyang” dalam bahasa Bali sangat tabu, dan provider Tree bisa menjadi bahan tertawaan atau lelucon jika diplesetkan maknanya dan keluar dari
konteks bahasa Indonesia. Walaupun demikian kata “kenyang” masih santun
dalam konteks bahasa Indonesia. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (G.6) ini tergolong santun, karena hanya terdapat tiga kriteria, yaitu tidak terdapat unsur ancaman, tidak terdapat kata kasar, dan tidak ada unsur memaksa.
Pemakaian modalitas juga mempengaruhi kesantunan tindak tutur dalam iklan komersial. Dalam tuturan iklan komersial ditemukan modalitas intenasinal dan deontik. Berikut iklan komersial yang terdapat modalitas intenasional dengan makan ajakan yang ditandai dengan keterangan ayo.
(40)
Sumber: Jl. Laksda Adi Sucipto Sleman Yogyakarta
Konteks: Terdapat gambar dunia dan aliran susu dari langit yang membawa keluarga yang penuh semangat dan keceriaaan.
Tuturan: “Ayo, Indonesia minum susu cair segar dan raih prestasi dunia” (E.5)
Iklan komersial (40) yang terdapat makna ajakan yaitu terdapat kata
“ayo”. “Ayo, Indonesia minum susu cair segar dan raih prestasi dunia” (E.5) dalam kalimat ini terdapat kata ajakan “ayo”, kata tersebut merupakan bentuk penegasan kata di belakangnya. Dalam penggunaan modalitas pada iklan
90
komersial di atas tidak ada kata yang berlebihan dan masih masuk dalam akal sehat sesuai dengan pendapat Pranowo (2009). Penegasan dalam kalimat tersebut mengajak supaya anak Indonesia untuk minum susu. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (E.5) ini tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
(41)
Sumber: Jl. Wonosari Km 6
Konteks: Terdapat gambar produk motor dan logo olah raga balap motor GP.
Tuturan: “Pastikan motor injection Anda, jangan salah pilih!” (D.1)
Iklan komersial (41) merupakan iklan komersial kendaraan dan satu- satunya iklan komersial yang terdapat modalitas deontik. “Pastikan motor
injection Anda, jangan salah pilih!” (D.1) kalimat tersebut menggunakan kata
“jangan” dengan makna larangan. Modalitas dengan kata keterangan “jangan” pada iklan komersial tersebut merupakan bentuk penegasan kata di belakangnya. Penegasan dalam kalimat tesebut jangan salah pilih motor injection. Persepsi iklan komersial di atas masih santun, walaupun terdapat kata larangan persepsi ini sekedar larangan buka ancaman. Menurut Pranowo (2009, 17-18) kata “jangan”
91
tidak santun karena memiliki persepsi ancaman. Sesuai dengan kriteria tuturan ini tergolong santun walaupun terdapat larangan tetapi tidak ada unsur ancaman. Karena kriteria tuturan pada iklan ini hanya tiga yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, dan tidak menggunakan diksi yang kasar.
Gaya bahasa dalam membuat kalimat pada iklan komersial, merupakan salah satu penentu kesantunan dalam berbahasa. Penelitian ini menemukan tiga gaya bahasa yang terdapat pada kalimat iklan komersial. Berikut iklan komersial yang menggunakan gaya bahasa.
(42)
Sumber: Jl. Kaliurang km 5.5 Sleman Yogyakarta Konteks : Terdapat gambar makanan yang jual.
Tuturan:”Satu harga satu rasa” (E.3)
(43)
Sumber: Jl. Magelang km 8.3 Sleman Yogyakarta
Konteks : Terdapat gambar gajah yang sedang menginjak genteng dan gambar genteng dengan bebagai warna.
92
Iklan komersial (42) merupakan iklan komersial makanan yang di dalam kalimatnya menggunakan gaya bahasa epizeuksis atau repitisi. Sudah dijelaskan pada analisis data gaya bahasa tersebut mengulang bunyi-bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam subuah konteks yang sesuai (Keraf, 1984: 127). “Satu harga satu rasa” kalimat iklan komersial (E.3) terdapat pengulangan kata yang diulang dalam iklan ini
adalah kata “satu”. Pengulangan ini berfungsi untuk menegaskan semua harga
masakan di rumah makan BEE’S itu serba Rp.5000. Sedangkan untuk iklan komesial (43) dengan tuturan “Pilih mutu, pilih Mutiara” (J.1) kata yang di
ulangnya adalah kata “pilih”. Pengulangan ini berfungsi untuk menekankan
supaya memilih genteng Mutiara untuk bahan bangunan rumah yang paling baik. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (E.3) dan (J.1) ini tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
(44)
Sumber : Jl. Laksda Adi Sucipto Sleman Yogyakarta
Konteks : Terdapat gambar negara Malaysia yang begitu meriah dipenuhi oleh kembang api dan gemerlap lampu hias yang
93
spektakuler. Selain itu juga terdapat kaum muda yang sedang menikmati liburan.
Tuturan : “Berjuta pengalaman hanya di Malaysia.” (F.5)
Iklan komersial (44) merupakan iklan jasa yang menggunakan gaya bahasa hiperbola. Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang pernyataannya membesar-besarkan atau berlebihan. Pada iklan komersial “Berjuta pengalaman
hanya di Malaysia.” (F.5) terdapat frasa “berjuta pengalaman”. Frasa tersebut sangatlah berlebihan, yang dimaksud adalah pengalaman yang banyak dan menemukan sesuatu yang baru, terlalu banyaknya pengalaman maka menggunakan kata berjuta supaya lebih terkesan menarik. Penggunaan gaya basa hiperbola tersebut masih tergolong santun. Sesuai pendapat Pranowo (2009: 18- 19) penggunaan majas hiperbola yang tidak santun jika tuturan tersebut memiliki sifat negatif, sedangkan dalam iklan (F.5) tidak ada unsur negatif dalam penggunaan majas hiperbola. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (F.5) ini tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
(45)
94
Konteks : Terdapat gambar model artis Tukul Arwana yang sedang bermain internet lewat HP.
Tuturan: “Super ampuh bayar sekali 24 jam gratis internetan, gratis sms, dan gratis nelpon” (G.12)
Gaya bahasa hiperbola juga terdapat dalam iklan komersial (45) iklan ini adalah iklan provider. “Super ampuh bayar sekali 24 jam gratis internetan, gratis
sms, dan gratis nelpon” (G.12) dalam kalimat iklan tersebut terdapat frasa “super
ampuh”. Frasa tersebut tergolong gaya bahasa hiperbola karena terdapat unsur
yang berlebihan. Kata “super” memiliki makna lebih dari yang lain atau luar biasa, sedangkan “ampuh” artinya memiliki kekuatan yang luar biasa. Oleh
karena itu kedua kata jika digabungkan memiliki makna yang berlebihan atau membesar-besarkan. Penggunaan gaya bahasa hiperbola tergolong masih santun. Sesuai pendapat Pranowo (2009: 18-19) penggunaan majas hiperbola yang tidak santun jika tuturan tersebut memiliki sifat negatif, sedangkan dalam iklan (G.12) tidak ada unsur negatif dalam penggunaan majas hiperbola. Sesuai dengan kriteria kalimat pada iklan (G.12) tergolong sangat santun, karena terdapat keempat kriteria, yaitu suatu tuturan tidak menyinggung perasaan pembaca atau pendengar, tidak menggunakan diksi yang kasar, tidak terdapat unsur ancaman, dan tidak ada unsur memaksa.
Penggunaan gaya bahasa perumpamaan dalam penelitian ini hanya menemukan satu iklan komersial. Iklan tersebut sudah dibahas pada analisis data. Berikut di bawah ini iklan komersial yang menggunakan gaya bahasa perumpamaan.
95
(46)
Sumber: Jl. Babarsar, Depok Sleman Yogyakarta
Konteks: Terdapat model wanita cantik dengan gaun hitam berwajah kemilau yang sedang bergaya.