BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Sabli dan Noor
2.4. Perumusan Hipotesis
2.4.1 Jumlah Dewan Komisaris dan Manajemen Pajak
Dalam pedoman umum good corporate governance, peran dewan komisaris sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam hal pengawasan pengelolaan operasi perusahaan termasuk didalamnya mengenai manajemen pajak. Pada teori agensi yang sesuai dengan pernyataan Jensen dan Meckling (1976) bahwa dewan komisaris sebagai prinsipal atau pemilik bertugas untuk mengawasi dan mengontrol tindakan-tindakan direksi, sehubungan dengan tindakan oportunistik yang berpotensi manajemen lakukan, dengan kata lain keberadaan dewan komisaris mampu meminimalisir konflik agensi (agency conflict) yang ada.
Penelitian Minnick dan Noga (2010) menemukan bahwa semakin baik corporate governance sebuah perusahaan akan meningkatkan manajemen pajaknya. Kuatnya corporate governance sebuah perusahaan salah satunya ditentukan oleh jumlah dewan komisaris, dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas.
Menurut Mulyadi (2002) dewan komisaris adalah wakil dari para pemegang saham yang berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yang dilakukan oleh manajemen dan mencegah pengendalian yang terlalu banyak di tangan manajemen. Adanya hubungan antara jumlah dewan komisaris dengan keefektifan fungsi pengawasan. Coles et al. (2008) menemukan bahwa jumlah
dewan komisaris yang optimal berbeda-beda tergantung pada karakteristik perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang berukuran besar dan memiliki struktur yang kompleks akan maksimal kinerjanya apabila jumlah dewan komisaris semakin banyak. Hal ini terjadi karena semakin besar perusahaan akan semakin banyak membutuhkan penasihat. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah:
H1 : Jumlah dewan komisaris berpengaruh positif terhadap manajemen pajak yang diukur dengan GAAP ETR
2.4.2 Persentase Komisaris Independen dan Manajemen Pajak
Komisaris Independen adalah komisaris yang berasal dari luar perusahaan dan tidak mempunyai hubungan terhadap internal perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung seperti yang dijelaskan oleh Surya dan Yustiavandana, (2006). Komisaris Independen diperlukan untuk meningkatkan independensi dewan komisaris dari manajemen (Michelon dan Parbonetti, 2010). Komisaris independen merupakan bagaian yang berasal dari luar manajemen sehingga komisaris independen cenderung untuk tidak terpengaruh oleh tindakan manajemen, mereka cenderung mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi yang lebih luas kepada para stakeholder-nya.
Berdasarkan teori agensi, apabila jumlah komisaris independen semakin besar pada dewan komisaris, maka semakin baik mereka dalam menjalankan peran mereka dalam mengawasi dan mengontrol tindakan-tindakan para direktur eksekutif. Premis dari teori agensi adalah bahwa komisaris independen
tindakan direksi, sehubungan dengan perilaku oportunistik mereka (Jensen dan Meckling, 1976). Bonazzi dan Islam (2007) menyatakan bahwa bukti empiris masa lalu telah menyepakati peran pengawasan yang baik dilakukan oleh dewan luar perusahaan dan direktur independen terhadap kinerja manajerial dan perusahaan secara keseluruhan dimana para dewan luar dan direktur perusahaan mengawasi perusahaan agar beroperasi sesuai dengan jalurnya dan tidak bertentangan dengan hukum. Efisiensi dalam pembayaran pajak dengan melakukan manajemen pajak bukan merupakan suatu bentuk manipulasi, melainkan hal tersebut dilakukan melalui pengelolaan pajak yang baik dengan memanfaatkan kelemahan undang-undang perpajakan yang berlaku, sehingga kualitas laba meningkat yang berimbas terhadap pengembalian maanfaat terhadap para investor.
Minnick dan Noga (2010) melihat aspek dari sisi positif yang menyangkut pada nilai perusahaan setelah pajak, yang kemudian meningkatkan kekayaan pemegang saham serta memberikan dorongan yang signifikan dari bottom line performance. Komisaris independen bersama dewan komisaris yang lain bersama-sama melaksanakan tugas pengawasan dan menentukan strategi kebijakan jangka panjang maupun jangka pendek yang menguntungkan bagi perusahaan namun tidak melanggar hukum termasuk dalam penentuan strategi yang terkait dengan pajak. Dengan adanya komisaris independen maka dalam setiap perumusan strategi perusahaan yang dilakukan oleh dewan komisaris beserta manajemen perusahaan dan para stakeholder akan memberikan jaminan hasil yang efektif dan
efisien termasuk pada kebijakan mengenai besaran tarif pajak efektif perusahaan, sehingga mengarah ke hipotesis kedua sebagai berikut:
H2 : Persentase komisaris independen berpengaruh positif terhadap manajemen pajak yang diukur dengan GAAP ETR
2.4.3 Penerapan CG Perusahaan dan Manajemen Pajak
Masalah agensi pada sebuah perusahaan yang disebabkan oleh asimetri informasi akibat pemisahan kepemilikan dan manajemen perusahaan dapat memberikan celah bagi manajemen untuk melakukan tindakan oportunis. Salah satu cara untuk memonitor masalah agensi adalah dengan menggunakan tata kelola perusahaan (corporate governance). Manfaat penerapan CG bagi perusahaan adalah meningkatkan kinerja perusahaan. Penerapan CG dapat mendorong manajemen mengelola perusahaan lebih efisien dan menerapkan langkah-langkah yang tepat untuk kepentingan perusahaan. Hal ini akan berpengaruh terhadap pengawasan internal yang lebih baik sehingga seluruh pengelolaan perusahaan akan lebih efektif dan efisien (Irawan dan Aria, 2012).
Penelitian terdahulu yang dilakukan Minnick dan Noga (2010) menemukan pengaruh yang signifikan antara penerapan CG perusahaan dengan tingkat pengelolaan pajak perusahaan. Pengelolaan yang professional (efektif dan efisien) menjadi sebuah unsur peningkatan penerimaan laba perusahaan. Salah satu hal yang mempengaruhi penerimaan laba adalah dengan melakukan manajemen pajak yang efisien karena terkait biaya yang berhubungan dengan usaha untuk meningkatkan bottom-line performance. Oleh karenanya, penerapan
efisien. Berdasarkan uraian sebelumnya, hipotesis ketiga dalam penelitian ini sebagai berikut:
H3 : Penerapan CG perusahaan berpengaruh positif terhadap manajemen pajak yang diukur dengan GAAP ETR
2.4.4. Tingkat Kompensasi Komisaris serta Direksi dan Manajemen Pajak Dalam teori keagenan muncul masalah yang disebut agency conflict yang disebabkan oleh tidak selarasnya kepentingan pemilik modal (principal) dengan kepentingan manajer (agent). Pemilik modal menghendaki pertambahan kekayaan dan kemakmuran, seiring dengan bertambahnya tanggung jawab yang harus dilaksanakan, disatu sisi para manajer juga menginginkan bertambahnya kesejahteraan termasuk memaksimumkan kompensasinya. Pemberian kompensasi diharapkan mampu mengatasi agency conflict yang ada. Kompensasi dapat memberikan insentif jangka panjang dengan menggunakan bentuk insentif stock option maupun memberikan insentif jangka pendek dengan menggunakan kompensasi dalam bentuk uang (Meilinda, 2013).
Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa manajemen pajak merupakan aktivitas yang dapat meningkatkan nilai perusahaan dan memberikan manfaat kepada pemegang saham (Graham dan Tucker, 2006; Desai dan Dharmapala, 2006). Hal ini dapat menimbulkan perbedaan kepentingan ekonomis antara pihak prinsipal dan para manajer selaku agent. Manajer akan cenderung bertindak apabila pengelolaan pajak tersebut juga memberikan manfaat kepada mereka.
Phillips (2003) menyatakan bahwa pemberian kompensasi berperan dalam memotivasi kinerja manajer untuk meminimalisasi tingkat pajak efektif perusahaan. Desai dan Dharmapala (2006) meneliti pengaruh tax sheltering dan pemberian kompensasi yang tinggi untuk para manajer. Mereka menemukan bukti yang beda bahwa peningkatan kompensasi untuk manajer cenderung mengurangi tingkat tax sheltering. Tax sheltering merupakan upaya mengurangi tingkat pendapatan kena pajak sehingga tercapai efisiensi pembayaran pajak.
Sejalan dengan yang lain, dalam penelitian Armstrong et al. (2012) serta Minnick dan Noga (2010) juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara kompensasi dengan tingkat pembayaran pajak perusahaan. Manajemen pajak merupakan tujuan jangka panjang, maka diperkirakan perusahan yang memberikan kompensasi yang tinggi akan berinvestasi lebih dalam hal manajemen pajak yang dapat meminimalisasi tingkat pajak efektif. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang diajukan:
H4 : Tingkat kompensasi komisaris dan direksi berpengaruh positif terhadap manajemen pajak yang diukur dengan GAAP ETR
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana penelitian akan dilaksanakan secara operasional. Dalam bab ini akan diuraikan mengenai variabel penelitian dan definisi operasionalnya, populasi dan sampel penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisisnya.