BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Perumusan Hipotesis
Hipotesis adalah hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji (Sekaran, 2006:135). Berdasarkan perumusan masalah dan kajian empiris yang telah dilakukan sebelumnya, dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
H1 : Ada pengaruh likuiditas terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur di BEI Tahun 2015-2018.
H2 : Ada pengaruh pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur di BEI Tahun 2015-2018.
H3 : Ada pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur di BEI Tahun 2015-2018.
Likuiditas (X1)
Pertumbuhan Penjualan (X2)
Profitabilitas (X4)
Struktur Modal (Y) H1
H2
H3
Struktur Aktiva (X3)
H4
H4 : Ada pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur di BEI Tahun 2015-2018.
49 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pemilihan Metode
Metode penelitian adalah teknik atau cara mencari, memperoleh, mengumpulkan dan mencatat data, baik data primer maupun data sekunder yang dapat digunakan untuk keperluan menyusun karya ilmiah yang kemudian menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pokok-pokok permasalahan sehingga akan didapat suatu kebenaran atau data yang diinginkan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode deskriptif menurut Sugiyono (2016: 13) adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.
Metode kuantitif menurut Sugiyono (2016: 13) diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2018.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Pengertian populasi menurut Sugiyono (2016: 61) merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang berjumlah 154 perusahaan.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2016 : 62).
Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang respresentatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Adapun kriteria yang digunakan untuk memilih sampel adalah sebagai berikut :
a. Perusahaan yang termasuk kelompok perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2018.
b. Perusahaan yang termasuk kelompok manufaktur sub sektor food and beverages yang selama empat tahun berturut-turut terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
c. Perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages yang mempublikasikan laporan tahunan (annual report) untuk periode 31 Desember 2015-2018.
d. Perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages yang menggunakan mata uang rupiah dalam pelaporan keuangannya
Berikut ini akan dijelaskan tahapan dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu:
Tabel 3.2.
Tahapan Pengambilan Sampel
Keterangan Jumlah
Total perusahaan manufaktur di BEI 154
Total perusahaan sub sektor food and beverages di BEI 19 Perusahaan yang baru listing selama periode pengamatan (4) Perusahaan yang delisting periode pengamatan (1)
Jumlah perusahaan sampel 14
Jumlah data observasi (14 perusahaan x 4 tahun) 56
Dari 19 perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2018 terdapat 14 perusahaan yang memenuhi kriteria pemilihan sampel di atas. Berikut ini adalah perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages yang menjadi sampel dalam penelitian ini sesuai dengan kriteria dalam purposive sampling yang ditetapkan oleh peneliti :
Tabel 3.3 Sampel Penelitian
No. Nama Perusahaan
1 PT. Cahaya Kalbar Tbk 2 PT. Delta Djakarta Tbk
3 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk 4 PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 5 PT. Multi Bintang Indonesia Tbk 6 PT. Mayora Indah Tbk
7 PT. Nippon Indosari Carpindo Tbk 8 PT. Sekar Laut Tbk
9 PT. Siantar Top Tbk 10 PT. Ultra Jaya Milk Tbk 11 PT. Tri Banyan Tirta Tbk
12 PT. Bumi Teknokultura Unggul Tbk 13 PT. Budi Starch & Sweetener Tbk 14 PT. Inti Agri Resources Tbk Sumber : www.idx.co.id
D. Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder yaitu data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (dihasilkan satu pihak) atau digunakan oleh lembaga lainnya yang bukan merupakan pengolahnya, tetapi dapat dimanfaatkan dalam suatu penelitian tertentu.
Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah perpustakaan serta dari buku-buku teks yang ada dan dari penulisan karya ilmiah yang berhubungan dengan obyek penelitian yang sedang diteliti serta website www.idx.co.id.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode dokumentasi. Dokumentasi asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melakukan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki
benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2013:201). Dalam penelitian ini dokumentasi dilakukan dengan cara mengutip atau mencatat secara langsung data-data yang diperlukan dan berkaitan dengan penelitian, berupa laporan keuangan sub sektor food and beverages yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2018.
E. Definisi Konseptual Dan Operasional Variabel
Penelitian ini mengungkapkan lima variabel, yaitu likuiditas pertumbuhan penjualan, struktur aktiva, profitabilitas dan struktur modal.
Variabel likuiditas, pertumbuhan penjualan, struktur aktiva dan profitabilitas sebagai variabel bebas (independen) dan struktur modal sebagai variabel terikat (dependen).
1. Definisi Konseptual
Definisi konseptual adalah adalah penarikan batasan yang menjelaskan suatu konsep secara singkat, jelas, dan tegas. Definisi konseptual dalam penelitian ini adalah :
a. Variabel Bebas (Independen)
Adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini definisi operasional dari variabel-variabel bebas adalah sebagai berikut :
1) Likuiditas
Menurut Kasmir (2015:134), rasio lancar yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.
2) Pertumbuhan penjualan
Pertumbuhan penjualan menunjukan sejauh mana perusahaan dapat meningkatkan penjualannya dibandingkan dengan total penjualan secara keseluruhan (Kasmir, 2015:107).
3) Struktur Aktiva
Struktur aktiva yaitu penentuan seberapa besar jumlah alokasi untuk masing-masing komponen aktiva, baik aktiva tetap maupun aktiva lancer. Struktur aktiva akan diukur dengan menggunakan hasil bagi antara aktiva tetap dengan total aktiva.
4) Profitabilitas
Menurut Kasmir (2015: 196) rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.
b. Variabel Terikat (Dependen)
Variabel terikat (dependen) adalah variabel yang dipengaruhi, akibat dari adanya variabel bebas. Dikatakan sebagai variabel terikat karena variabel terikat dipengaruhi oleh variabel independen (variabel bebas). Variabel dependen disebut juga dengan variabel terikat, variabel output, konsekuen, variabel tergantung, kriteria, variabel
terpengaruh, dan variabel efek. Variabel terikat (dependen) dalam penelitian ini adalah struktur modal.
Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan suatu perusahaan yang digunakan dalam mendanai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
2. Definisi Konseptual
Untuk menjelaskan lingkup penelitian dan mencapai obyektivitas penelitian khususnya yang berkaitan dengan pengukuran variabel, maka perlu ditentukan definisi operasional dari variabel yang diteliti terlebih dahulu. Definisi operasional merupakan salah satu cara dari pendefinisian suatu gagasan. Berikut ini akan dijelaskan operasional variable dalam penelitian ini :
Tabel 3.4
Definisi Operasional Variabel
Variabel Indikator / Rumus Skala
Pengukuran Likuiditas
(Kasmir, 2015:134)
Rumus untuk mencari rasio lancar atau current ratio adalah sebagai berikut: perbandingan selisih penjualan pada waktu t dengan t-1 dibagi penjualan t-1.
Rasio
Struktur Aktiva (Harahap, 2013)
Struktur aktiva dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Rasio
Variabel Indikator / Rumus Skala Pengukuran Profitabilitas
(Kasmir, 2015:
196)
Dalam penelitian ini profitabilitas diukur dengan return on asset (ROA).
Rasio
Struktur modal (Riyanto, 2011:
22)
Struktur modal dapat diukur dengan rasio debt to equity ratio (DER), yaitu:
Rasio
F. Metode Analisis Data
Setelah mendapatkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan serangkaian tahap untuk menghitung dan mengolah data-data tersebut, agar dapat mendukung hipotesis yang telah diajukan.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian regresi berganda, perlu dilakukan suatu pengujian asumsi klasik agar model regresi menjadi suatu model yang lebih representatif. Uji asumsi klasik yang digunakan pada penelitian ini adalah uji normalitas data, uji multikoliniearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi yang digunakan karena data yang digunakan dalam penelitian ini lebih dari satu tahun.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi memiliki distribusi normal. Menurut Ghozali (2011: 140) ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual tersebut memiliki distribusi yang
normal atau tidak. Asumsi Normalitas merupakan asumsi dimana setiap variabel dan semua kombinasi linear dari variabel terdistribusi dengan normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid (Ghozali, 2011: 154).
Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan uji statistik, yaitu dengan analisis uji statistik non parametrik one sample kolmogorov smirnov. Ketentuan pengambilan keputusan pada uji one sample kolmogorov smirnov adalah bahwa jika probabilitas signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data tersebut tidak normal. Sebaliknya jika signifikansi di atas 0,05 berarti data yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data tersebut normal (Ghozali, 2011:140).
b. Uji Multikoliniearitas
Uji multikoliniearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2011:103). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal. Orthogonal yang dimaksud mengandung makna tidak saling mempengaruhi atau tidak saling menginterferensi. Jika terjadi korelasi, maka terdapat problem multikoliniearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independennya. Ada tidaknya
multikoliniearitas di dalam model regresi dapat dilihat dari besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan tolerance. Regresi yang terbebas dari problem multikolinearitas apabila nilai VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,10, maka data tersebut tidak ada multikolinearitas (Ghozali, 2011:103).
c. Uji Autokorelasi
Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu dengan yang lain. Masalah ini timbul karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Dengan kata lain masalah ini seringkali ditemukan apabila kita menggunakan data runtut waktu. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi digunakan uji Durbin Watson (DW Test). Untuk pengujian autokorelasi digunakan uji Durbin Watson hanya digunakan autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan masyarakatkan adanya intercept (konstanta) independen. Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi :
Hipotesis nol Keputusan Jika
Tdk ada autokorelasi positif Tdk ada autokorelasi positif Tdk ada autokorelasi negatif Tdk ada autokorelasi negatif
Tdk ada autokorelasi, Positif atau negatif
Tolak
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedasitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Heteroskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas.
Kebanyakan data crossection mengandung situasi Heteroskedastisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang, dan besar).
Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya Heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residulnya SRESID. Deteksi ada tidaknya Heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, daan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized. Dasar analisis :
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindifikasikan telah terjadi Heteroskedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas. (Ghozali, 2011: 134).
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Uji regresi berganda ini bertujuan untuk memprediksi besarnya keterkaitan dengan menggunakan data variabel bebas yang sudah diketahui besarnya. Untuk melakukan pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Analisis regresi berganda digunakan untuk memprediksi besar variabel tergantung dengan menggunakan data variabel bebasnya. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan model berikut:
Dimana:
Y = Struktur modal
α = Konstanta, harga Y bila X = 0
β1- β4 = Koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel terikat (Y) yang didasarkan pada variabel bebas (X).
X1 = Likuiditas
X2 = Pertumbuhan penjualan X3 = Sturuktur Aktiva X4 = Profitabilitas
Y = α + βY = α + β1X1X1 + β1 + β2X2X2+β2+β3X3X3+ β3+ β4X4X4 4 + e+ e
e = epsilon (kesalahan pengganggu/disturbance error’s)
3. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Tingkat signifikasi atau probabilitasnya adalah sebesar 5% atau 0,05. Dasar penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut (Ghozali, 2011: 99) :
a. Jika nilai signifikan < 0,05 maka hipotesis diterima yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara satu variabel independen terhadap variabel dependen.
b. Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara satu variabel independen terhadap variabel dependen.
4. Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Analisis R Square yaitu suatu analisis untuk mengukur kemampuan variabel bebas dalam menerapkan variabel tidak bebas. Dimana R² berkisar antara 0<R²<1. Semakin besar R² (mendekati 1), maka variabel bebas semakin dekat hubungannya dengan variabel tidak bebas, dengan kata lain model tersebut dianggap baik. Rumus yang digunakan adalah:
KP = r2 x 100 % Dimana :
KP = Besarnya koefisien penentu (determinan) r = Koefisien korelasi
62 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Bursa Efek Indonesia
Secara historis, Bursa Efek Indonesia telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC (Sunariyah, 2011:18).
Dengan melihat dampak positif pengoperasian bursa efek di Batavia, Pemerintah Kolonial Belanda terdorong untuk membuka bursa efek di kota lainnya yaitu Surabaya tanggal 11 Januari 1925 dan Semarang tanggal 1 Agustus 1925. Permulaan tahun 1939 terjadi gejolak politik di Eropa yang memperngaruhi perdagangan efek di Indonesia. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini Pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijaksanaan untuk memuaskan perdagangan efek di Batavia dengan menutup bursa efek di Surabaya dan Semarang. Kemudian, pecahnya bursa efek di Batavia pada tanggal 10 Mei 1940. Dengan ditutupnya ketiga bursa efek tersebut otomatis aktivitas perdagangan efek menjadi terhenti (Sunariyah, 2011:19).
Setelah adanya pengakuan kedaulatan dari Pemerintah Hindia Belanda, Pemerintah Republik Indonesia berusaha untuk mengaktifkan kembali bursa efek Indonesia. Langkah konkret yang diambil oleh
pemerintah adalah dengan mengeluarkan Undang-Undang Darurat Nomor 13 Tanggal 1 September 1951, yang kemudian ditetapkan sebagai undang-undang dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1952 tentang Bursa.
Berdasarkan pada undang-undang tersebut maka bursa efek dibuka kembali pada tanggal 11 Juni 1952 dan penyelenggaraannya diserahkan kepada Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE) yang terdiri dari 3 bank Negara dan beberapa makelar efek lainnya dengan Bank Indonesia sebagai penasehat. Sejak itu bursa efek berkembang kembali dengan cukup pesat, meskipun efek yang diperdagangkan adalah efek yang yang dikeluarkan sebelum Perang Dunia II. Aktivitas ini semakin meningkat sejak Bank Industri Negara (sekarang Bapindo) mengeluarkan pinjaman obligasi berturut-turut tahun 1954, 1955, dan 1956. Para pembeli obligasi ini masih kebanyakan orang Belanda, baik perorangan maupun badan hukum (Sunariyah, 2011:19).
Namun keadaan ini berlangsung sampai pada tahun 1958, karena setelah itu Bursa Efek Jakarta mengalami kelesuan sebagai akibat politik konfrontasi yang dilancarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap Pemerintah Belanda dan disusul nasionalisasi perusahaan Belanda di Indonesia serta larangan untuk memperdagangkan semua efek dalam bentuk mata uang Nf. Inflasi yang cukup tinggi pada awal 1960-an dan mencapai puncaknya pada tahun 1966, mengakibatkan iklim pasar modal semakin suram. Nilai saham dan obligasi mengalami penurunan yang drastis dan
keadaan ini menurunkan kepercayaan para investor pada tingkat terendah terhadap Bursa Efek Jakarta (Sunariyah, 2011:19).
2. Perkembangan Bursa Efek Indonesia
Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali Bursa Efek pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian Bursa Efek mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:
a. Desember 1912 : Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda
b. 1914 – 1918 : Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I.
c. 1925 – 1942 : Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya
d. Awal tahun 1939 : Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di Semarang dan Surabaya ditutup.
e. 1942 – 1952 : Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II.
f. 1956 : Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin tidak aktif.
g. 1956 – 1977 : Perdagangan di Bursa Efek vakum
h. 10 Agustus 1977 : Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar
Modal. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
i. 1977 – 1987 : Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal.
j. 1987 : Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia.
k. 1988 – 1990 : Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat.
l. 2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
m. Desember 1988 : Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.
n. 16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya.
o. 13 Juli 1992 : Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.
p. 22 Mei 1995 : Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).
q. 10 November 1995 : Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang No.
8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996.
r. 1995 : Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya s. 2000 : Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai
diaplikasikan di pasar modal Indonesia.
t. 2002 : BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading).
u. 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
v. 02 Maret 2009 : Peluncuran Perdana Sistem Perdagangan Baru PT Bursa Efek Indonesia: JATS-NextG.
w. 27 DESEMBER 2018 : Penambahan Tampilan Informasi Notasi Khusus pada kode Perusahaan Tercatat.
3. Gambaran Umum Perusahaan Sampel a. PT. Cahaya Kalbar Tbk
Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (sebelumnya Cahaya Kalbar Tbk) (CEKA) didirikan 03 Februaru 1968 dengan nama CV Tjahaja Kalbar dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1971.
Kantor pusat CEKA terletak di Kawasan Industri Jababeka II, Jl.
Industri Selatan 3 Blok GG No.1, Cikarang, Bekasi 17550, Jawa Barat – Indonesia, sedangkan lokasi pabrik terletak di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat dan Pontianak, Kalimantan Barat.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CEKA meliputi bidang industri makanan berupa industri minyak nabati (minyak kelapa sawit beserta produk-produk turunannya), biji tengkawang, minyak tengkawang dan minyak nabati spesialitas untuk industri makanan & minuman; bidang perdagangan lokal, ekspor, impor, dan berdagang hasil bumi, hasil hutan, berdagang barang-barang keperluan sehari-hari. Saat ini produk utama yang dihasilkan CEKA adalah Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel serta turunannya.
b. PT. Delta Djakarta Tbk
Delta Djakarta Tbk (DLTA) didirikan tanggal 15 Juni 1970 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1933. Kantor pusat DLTA dan pabriknya berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur – Jawa Barat. Pabrik “Anker Bir” didirikan pada tahun 1932 dengan nama Archipel Brouwerij. Dalam perkembangannya, kepemilikan dari pabrik ini telah mengalami beberapa kali perubahan hingga berbentuk PT Delta Djakarta pada tahun 1970. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan DLTA yaitu
terutama untuk memproduksi dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek “Anker”, “Carlsberg”, “San Miguel”, “San Mig Light”
dan “Kuda Putih”. DLTA juga memproduksi dan menjual produk minuman non-alkohol dengan merek “Sodaku”.
c. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) didirikan tanggal 14 Agustus 1990 dengan nama PT Panganjaya Intikusuma dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1990. Kantor pusat INDF berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai 21, Jl. Jend.
Sudirman Kav. 76 – 78, Jakarta 12910 – Indonesia. Sedangkan pabrik dan perkebunan INDF dan anak usaha berlokasi di berbagai tempat di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Malaysia.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan INDF antara lain terdiri dari mendirikan dan menjalankan industri makanan olahan, bumbu penyedap, minuman ringan, kemasan, minyak goreng, penggilingan biji gandum dan tekstil pembuatan karung terigu. Indofood telah memiliki produk-produk dengan merek yang telah dikenal masyarakat, antara lain mi instan
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan INDF antara lain terdiri dari mendirikan dan menjalankan industri makanan olahan, bumbu penyedap, minuman ringan, kemasan, minyak goreng, penggilingan biji gandum dan tekstil pembuatan karung terigu. Indofood telah memiliki produk-produk dengan merek yang telah dikenal masyarakat, antara lain mi instan