7.1 Analisis Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Indonesia
7.1.3 Perumusan Matriks SWOT Agribisnis Teh Indonesia
Tahap selanjutnya adalah merumuskan strategi berdasarkan faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang telah dianalisis sebelumya. Dalam merumuskan strategi pengembangan agribisnis teh Indonesia alat yang digunakan adalah Matriks SWOT. Rumusan strategi yang dihasilkan merupakan kombinasi antara beberapa faktor SWOT. Dengan menggunakan Matriks SWOT strategi yang dihasilkan terdiri dari strategi SO (penggunaan kekuatan dari agribisnis teh nasional untuk memanfaatkan peluang yang ada), strategi WO (memanfaatkan peluang untuk meminimalkan kelemahan dari agribisnis teh Indonesia), strategi ST (penggunaan kekuatan agribisnis teh nasional untuk mengatasi ancaman) dan strategi WT (meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman dari lingkungan eksternal).
Tabel 27. Matriks SWOT Agribisnis Teh Nasional Kekuatan
(Strengths-S)
1. Teh Indonesia unggul secara komparatif 2. Kandungan katekin teh
Assamica lebih tinggi dibandingkan dengan teh Sinensis
3. Tenaga kerja banyak tersedia
4. Banyak bagian dari tanaman teh yang dapat dimanfaatkan
Kelemahan (Weaknesses-W) 1. Rendahnya posisi
tawar petani dalam menentukan harga 2. Sebagian besar PBN
masih mengekspor teh dalam bentuk teh curah 3. Maraknya konversi
lahan yang dilakukan oleh produsen
4. Petani masih sulit mengakses sumber modal
5. Rendahnya kualitas teh yang beredar di dalam negeri
Peluang
(Opportunitties-O) 1. Adanya asosisasi-
asosiasi (ATI,
APTEHINDO) dan DTI 2. Adanya kontribusi
penelitian dari lembaga riset PPTK
3. Adanya potensi peningkatan konsumsi teh dalam negeri 4. Adanya industri olahan
berbasis teh yang telah berkembang
5. Semakin tingginya
kesadaran masyarakat dunia akan kesehatan
SO Strategy
1. Meningkatkan kegiatan promosi produk teh Indonesia (S2, S3, O1, O3,O5)
2. Meningkatkan produksi dan diversifikasi produk teh (S1, S3, S4, O2, O4, O5)
3. Mempercepat
pelaksanaan industri teh berkelanjutan (S1, S3, O2, O4, O5)
WO Strategy
1. Meningkatkan peranan ATI, APTEHINDO, dan DTI bagi
produsen, khususnya petani rakyat (W1, W3, W4, O1, O2)
2. Pembentukan dan penguatan kelompok tani (WI, W3, W4, O1) 3. Meningkatkan
komposisi produk teh olahan untuk diekspor dan meningkatkan alokasi teh curah 1st grade di pasar DN (W2, W5, O3, O4, O5) Ancaman
(Threats-T)
1. Kondisi cuaca yang semakin tidak menentu 2. Kelangkaan pupuk di
kalangan produsen 3. Persaingan antara
minuman subtitusi, produk impor, eksportir internasional
4. Rendahnya tarif impor bagi teh curah dan teh kemasan
ST Strategy
1. Merancang pendirian kluster industri teh di Jawa Barat (S1, S3, S4, T2, T3, T4)
WT Strategy
1. Pembatasan kuota dan nilai impor teh curah dan olahan (W5, T3, T4)
2. Melakukan perencanaan pola tanam, serta kompak mengatur,
mengendalikan dan menjaga kualitas dan kuantitas stok di pasar (WI, W3, W4, T1, T2)
1)Strategi SO
Strategi SO merupakan strategi yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kekuatan yang dimiliki agribisnis teh nasional untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada seoptimal mungkin. Dengan menggunakan faktor-faktor kekuatan dan peluang yang telah diperoleh dari analisis faktor strategis sebelumnya, maka rumusan strategi SO yang dapat diterapkan untuk meningkatkan dayasaing agribisnis teh Indonesia adalah meningkatkan kegiatan promosi produk teh Indonesia, meningkatkan produksi dan diversifikasi produk teh Indonesia serta mempercepat pelaksanaan indutri teh berkelanjutan.
a. Meningkatkan Kegiatan Promosi Produk Teh Indonesia
Strategi ini dirumuskan dengan mempertimbangkan banyaknya tenaga kerja manusia di Indonesia yang dapat digunakan untuk melakukan upaya-upaya promosi seperti penyebaran informasi mengenai teh dan pengenalan teh sebagai minuman fungsional. Adanya asosiasi seperti Asosiasi Teh Indonesia (ATI) dapat dimanfaatkan sebagai sarana publikasi dan jembatan informasi antara pengusaha teh dengan konsumen. Selain itu, adanya potensi peningkatan konsumsi masyarakat terhadap teh juga dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan tujuan dari strategi ini. Surjadi (2003) yang menyatakan bahwa masyarakat akan semakin meningkatkan konsumsinya terhadap teh seiring dengan bertambahnya pengetahuan mereka terhadap manfaat teh itu sendiri. Karena itu, strategi peningkatan kegiatan promosi menjadi sangat penting bagi upaya peningkatan konsumsi teh domestik. Berdasarkan sasarannya, tujuan dari strategi promosi ini terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Promosi untuk meningkatkan konsumsi teh dalam negeri, serta
2. Promosi untuk meningkatkan brand awareness dan brand image produk teh Indonesia di pasar internasional.
Kegiatan promosi di dalam negeri dapat dilakukan dengan menyebarkan informasi mengenai teh dan penekanan mengenai tingginya kandungan katekin teh Indonesia, serta manfaatnya bagi kesehatan. Dengan demikian, diharapkan pengetahuan konsumen domestik akan bertambah dan berimbas pada peningkatan minat mereka terhadap teh. Sementara untuk strategi promosi di pasar
internasional dilakukan dengan melakukan kegiatan promosi yang diarahkan untuk meningkatkan brand awareness dan citra produk teh Indonesia di mata konsumen internasional. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan keberadaan Dewan Teh Indonesia sebagai perwakilan lembaga teh Indonesia di pasar dunia. Strategi ini juga dapat dilakukan untuk memanfaatkan adanya peluang peningkatan kesadaran konsumen global terhadap kesehatan. Kegiatan promosi mengenai kandungan katekin teh Indonesia juga diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dunia terhadap teh Indonesia.
b. Meningkatkan Produksi dan Diversifikasi Produk Teh
Strategi peningkatan produksi teh dapat dilakukan dengan menggunakan potensi sumberdaya yang dimiliki Indonesia yang telah unggul secara komparatif, termasuk unggulnya sumberdaya manusia Indonesia dalam hal jumlah. Peningkatan produksi ini dilakukan dengan tujuan mengangkat kembali posisi Indonesia sebagai produsen teh besar di pasar internasional. Adanya lembaga penelitian dan pengembangan Pusat Penelitian Teh dan Kina yang telah menghasilkan klon-klon dengan produktivitas tinggi dan memiliki ketahanan yang baik terhadap hama dan penyakit dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan dari strategi ini.
Di samping itu, dengan menggunakan bagian-bagian dari tanaman teh, dan memanfaatkan adanya perkembangan industri besar yang mengolah produk- produk berbahan dasar teh peningkatan produksi juga dapat dilakukan dengan melakukan diversifikasi produk teh. Peningkatan produksi dan diversifikasi produk juga dapat dilakukan untuk memanfaatkan adanya peluang yang muncul akibat adanya peningkatan kesadaran masyarakat dunia terhadap kesehatan. Karena itu dengan melakukan peningkatan produksi dan diverisfikasi produk diharapkan Indonesia dapat menjadi produsen yang menawarkan berbagai produk kesehatan berbahan dasar teh.
c. Mempercepat Pelaksanaan Industri Teh Berkelanjutan
Pelaksanaan sustainable tea atau industri teh berkelanjutan sudah berjalan di beberapa negara penghasil teh dunia seperti India, Kenya dan Sri Langka. Sustainable tea adalah pelaksanaan serangkaian kegiatan dimulai dari kegiatan
budidaya, pengolahan, pengemasan, quality control, hingga pendistribusian barang sampai ke konsumen yang dilakukan dengan benar, jujur dan bertanggung jawab. Artinya seluruh proses dilaksanakan dengan prosedur yang benar dan bertanggung jawab terhadap manusia, mahluk hidup maupun lingkungan di sekitarnya. Di Indonesia, pelaksanaan sustainable tea mulai marak dilakukan oleh perkebunan atau pabrik teh curah yang berorientasi ekspor. Hal tersebut dikarenakan perusahaan-perusahaan besar teh dunia mulai menetapkan standarisasi tinggi bagi produk sekaligus perkebunan pemasok bahan baku teh mereka. Indonesia sebagai salah satu pemasok bahan baku (teh curah) juga dituntut untuk dapat memenuhi standar produk yang mereka tetapkan, salah satunya terkait dengan melengkapi perkebunan atau pabrik mereka dengan sertifikasi yang telah diakui secara internasional.
Strategi percepatan pelaksanaan industri teh berkelanjutan menunjukkan respon yang cepat terhadap adanya perubahan tuntutan konsumen, khususnya konsumen internasional. Strategi ini disusun dengan mempertimbangkan bahwa hingga saat ini agribisnis teh Indonesia telah memiliki keunggulan komparatif, sehingga pelaksanaan sustainable tea akan lebih mudah apabila dibandingkan dengan negara lain yang belum unggul secara komparatif. Hal tersebut juga didukung dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang siap untuk dipekerjakan.
Percepatan pelaksanaan sustainable tea artinya melakukan sertifikasi kebun dan pabrik sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin sehingga peluang adanya peningkatan konsumsi teh dunia dan maraknya tuntutan terhadap produk berkualitas, sehat dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dapat terjawab. Adanya Pusat Penelitian Teh dan Kina dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi dan inovasi teknologi yang dapat membantu mempercepat pelaksanaan sustainable tea di Indonesia. Teknologi peningkatan keanekaragaman hayati, peningkatan kesuburan tanah khususnya peningkatan kadar organik tanah serta teknologi peningkatan nilai produk untuk meningkatkan nilai tambah yang merupakan teknologi tepat guna untuk mempercepat implementasi sustainable tea saat ini seluruhnya telah tersedia di PPTK. Selain itu, adanya industri teh olahan yang mulai berkembang di Indonesia akan semakin mempermudah pelaksanaan percepatan sustainable tea ini.
2)Strategi ST
Strategi ST adalah strategi yang digunakan untuk menghindari ancaman yang datang dari luar lingkungan internal dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki. Ancaman yang dinilai paling mempengaruhi kondisi agribisnis teh Indonesia adalah ancaman cuaca, kelangkaan pupuk, persaingan dengan produk subtitusi, impor maupun produk teh dari negara lain serta rendahnya tarif impor yang menyebabkan volume teh impor semakin meningkat setiap tahunnya. Strategi yang dapat dilakukan adalah merancang pendirian kluster industri teh di Jawa Barat.
a. Merancang Pendirian Kluster Industri Teh di Jawa Barat
Strategi pendirian kluster industri teh di Jawa Barat didasari oleh potensi Jawa Barat sebagai sentra produksi teh di Indonesia. Hal tersebut juga didukung oleh sebagian besar perkebunan dan perusahaan terkait yang terletak di Jawa Barat dan sekitarnya. Unggulnya teh Indonesia, termasuk tersedianya jumlah tenaga kerja merupakan modal utama dalam pendirian kluster industri. Selain pengembangan usaha berbahan dasar daun teh di dalam kluster, dapat juga dikembangkan industri sampingan yang memanfaatkan bagian-bagian lain dari tanaman teh, seperti usaha furniture, pewarna pakaian dan jenis usaha lainnya. Dengan pendirian kluster, adanya ancaman kelangkaan pupuk diharapkan dapat diminimalisir, karena kluster pada hakekatnya akan membentuk dan mengkoordinasikan berbagai elemen mulai dari penyedia input, produsen pucuk, pabrik-pabrik serta lembaga pendukung teh lainnya.
Selain itu, pada perkembangannya pembentukan kluster diharapkan mampu menciptakan efisiensi dari rantai tataniaga teh, khususnya di Jawa Barat sebagai pusat kegiatan industri teh di Indonesia. Seiring dengan kuatnya kluster industri teh tersebut, maka diharapkan akan tercipta industri dengan produk- produk teh unggulan yang siap bersaing dengan produk-produk lain, baik persaingan dengan produk subtitusi, produk impor yang muncul akibat rendahnya tarif impor, maupun produk-produk teh lain yang diperdagangkan oleh pesaing- pesaing Indonesia di pasar internasional. Pembangunan kluster industri teh akan menciptakan integrasi yang kuat antara semua subsistem, mulai dari subsistem hulu hingga jasa dan penunjang.
3)Strategi WO
Strategi WO merupakan strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek yang muncul dari kelemahan-kelemahan pada agribisnis teh Indonesia dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Strategi WO yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dayasaing agribisnis teh Indonesia diantaranya adalah meningkatkan peranan ATI, APTEHINDO dan DTI, melakukan pembentukan dan penguatan kelompok tani serta melakukan peningkatan alokasi teh mutu pertama di pasar domestik.
a. Meningkatkan Peranan ATI, APTEHINDO dan DTI
Petani sebagai pemilik areal perkebunan teh terbesar di Indonesia justru memiliki tingkat produktivitas terendah diantara kedua tipe kepemilikan kebun lainnya. Rendahnya produktivitas petani tersebut diantaranya disebabkan oleh rendahnya posisi tawar petani teh Indonesia, maraknya konversi lahan yang dilakukan oleh produsen serta sulitnya petani dalam mengakses sumber modal. Ketiga kelemahan tersebut muncul karena kurangnya peranan pihak luar sebagai pendamping, Pembina dan fasilitator (pihak yang menjembatani para stakeholder) bagi produsen, khususnya petani. Adanya Asosiasi Teh Indonesia dan Asosiasi Petani Teh Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan peran tersebut. ATI dan APTEHINDO diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan teknologi serta menjadi koordinator dari seluruh elemen produsen teh. Sehingga dengan adanya koordinasi yang baik akan memperbaiki posisi tawar petani dan mengurangi tren konversi lahan karena pengetahuan produsen mengenai usahatani teh telah bertambah.
Sementara adanya Dewan Teh Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai fasilitator dan negosiator antara produsen dengan lembaga-lembaga pendukung lainnya, seperti pemerintah, pihak swasta dan lembaga keuangan. Dengan demikian salah satu efek yang diharapkan adalah terbukanya akses bagi produsen teh khususnya petani menuju sumber modal. Selain itu, adanya DTI juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawas bagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seluruh stakeholder, sehingga diharapkan akan mengurangi adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan merugikan produsen.
b. Pembentukan dan Penguatan Kelompok Tani
Permasalahan rendahnya posisi tawar petani dan sulitnya mengakses sumber modal juga disebabkan oleh lemahnya petani jika hanya memanfaatkan kekuatan individu mereka. Sempitnya luas areal yang dimiliki masing-masing individu petani menyebabkan jumlah produksi yang dihasilkan petani rendah. Selain itu, tidak jarang pucuk yang dihasilkan pun tidak seragam atau berkualitas rendah. Hal tersebut mengakibatkan munculnya penekanan harga dari pihak pedagang karena petani tidak dapat memenuhi jumlah maupun kualitas yang diminta. Selain itu, sulitnya petani mengakses sumber modal salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan petani dalam memenuhi persyaratan yang diminta oleh pihak lembaga keuangan. Karena itu, dengan memanfaatkan adanya asosiasi seperti ATI dan APTEHINDO, strategi pembentukan dan penguatan kelompok tani diharapkan dapat menyelesaikan atau setidaknya mengurangi efek dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki petani.
Pembentukan kelompok tani baru dan penguatan kelompok tani yang sudah ada dapat menjadi wadah bagi petani untuk dapat berkumpul dan menghimpun kekuatan sehingga diharapkan posisi tawar petani akan meningkat. Ke depannya diharapkan kelompok tani dapat mandiri dan mengarah kepada pembentukan koperasi tani sebagai bentuk perusahaan milik petani.
c. Meningkatkan Komposisi Produk Teh Olahan untuk Ekspor dan Meningkatkan Alokasi Teh Curah 1st Grade di Pasar Domestik
PT Perkebunan Nusantara merupakan market leader bagi industri teh di Indonesia. PT Perkebunan Nusantara juga berperan sebagai tombak ekspor teh Indonesia. Hampir 70 persen dari total ekspor teh Indonesia berasal dari PT Perkebunan Nusantara. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT KPBN, diketahui bahwa sebagian besar produk yang diekspor oleh Indonesia merupakan teh hitam dan masih berbentuk teh curah. Hal ini menyebabkan penerimaan Indonesia yang berasal dari ekspor teh lebih rendah dibandingkan dengan negara- negara lain yang telah mulai mengkomibnasikan produk ekspor mereka dengan produk teh olahan.
Suprihatini dan Rosyadi (2003) menyatakan bahwa Indonesia khususnya perusahaan eksportir, perlu mulai melakukan perubahan komposisi produk teh
yang diekspor ke pasar internasional. Hal ini selain untuk meningkatkan penerimaan perusahaan, juga dapat dilakukan untuk mengantisipasi adanya kecenderungan kejenuhan pasar terhadap produk teh hitam curah yang beredar di pasar internasional. Suprihatini dan Rosyadi (2003) menyebutkan bahwa diantara seluruh produk yang diperdagangkan di pasar internasional, produk teh hitam curah merupakan produk dengan dayasaing terendah, sementara teh hijau curah, teh hitam olahan dan teh hijau olahan memiliki dayasaing yang lebih baik. Peningkatan komposisi produk ekspor lebih dianjurkan kearah peningkatan produk teh hitam olahan, mengingat mayoritas produk teh yang diekspor Indonesia adalah teh hitam curah. Selain itu, kandungan katekin yang terdapat pada teh hitam Indonesia tidak kalah dengan kandungan katekin dari teh hijau yang berasal dari Cina. Hal tersebut dapat digunakan untuk memanfaatkan adanya peluang dari tren peningkatan kesadaran masyarakat global terhadap kesehatan.
Sementara di pasar domestik, teh yang beredar masih didominasi oleh teh bermutu rendah. Strategi peningkatan alokasi teh curah first grade ke pasar domestik dapat dilakukan dengan mempertimbangkan adanya potensi konsumsi teh di dalam negeri. Surjadi (2003) mengatakan bahwa konsumen rumah tangga di Jawa Barat memiliki kecenderungan meningkatkan konsumsi teh mereka setelah pengetahuan mereka tentang teh dan khasiatnya bertambah pula. Dengan meningkatkan alokasi teh curah mutu pertama ke pasar domestik diharapkan dapat mendidik konsumen teh Indonesia sehingga penghargaan terhadap produk teh berkualitas akan meningkat. Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan adanya industri teh olahan yang berkembang, termasuk PT Perkebunan Nusantara sebagai market leader.
4)Strategi WT
Strategi WT adalah strategi yang sifatnya defensif, dimana strategi yang dilakukan harus mampu meminimalisir kerugian akibat dari kelemahan yang dimiliki sekaligus bagaimana menghindari ancaman-ancaman yang mungkin datang. Strategi WO yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dayasaing agribisnis teh nasional adalah pembatasan kuota dan nilai impor teh curah dan olahan serta melakukan perencanaan pola tanam, dan mengatur juga menjaga kualitas dan kuantitas stok di pasar.
a. Pembatasan Kuota dan Nilai Impor Teh Curah dan Teh Olahan
Selama tahun 2000 hingga 2009, volume dan nilai impor teh yang masuk ke Indonesia cenderung terus meningkat. Sejak tahun 2000, peningkatan volume impor teh ke Indonesia meningkat dengan peningkatan rata-rata sebesar 18,67 persen setiap tahunnya. Sementara nilai impor teh meningkat sebesar 20 persen setiap tahunnya. Meskipun sebagian produk teh impor merupakan bahan baku bagi industri blending tea di pasar lokal, namun peningkatan volume dan nilai impor yang cukup besar tidak dapat terus dibiarkan. Hal tersebut akan mengurangi penerimaan devisa bagi negara bahkan dapat menimbulkan ketergantungan impor di masa yang akan datang. Strategi pembatasan kuota dan nilai impor dapat dilakukan untuk melindungi produsen teh dalam negeri, sekaligus menjaga stabilisasi persaingan antara produk teh domestik dengan produk teh impor yang masuk. Selain itu, dengan pembatasan nilai impor teh, maka akan mengurangi penggunaan devisa negara untuk membeli teh impor.
b. Melakukan Perencanaan Produksi, serta Kompak Mengatur, Mengendalikan dan Menjaga Kualitas dan Kuantitas Stok di Pasar
Strategi perencanaan produksi dapat dilakukan untuk menghindari risiko akibat adanya ketidakpastian cuaca dan kelangkaan pupuk yang seringkali terjadi di kalangan produsen. Dengan melakukan perencanaan yang tepat, petani dapat menghindari penurunan jumlah dan kualitas produksi yang disebabkan oleh cuaca. Selain itu, dengan mengatur dan menjaga kualitas dan kuantitas stok yang ada di pasar secara kompak, petani dapat mengendalikan jumlah pasokan sehingga akan terhindar dari risiko anjloknya harga pucuk. Petani juga akan memegang kendali dalam peredaran produk di pasar, karena didukung dengan perencanaan produksi yang matang. Hal tersebut juga dapat membantu menstabilkan harga. Di samping itu, dengan mengatur pelaksanaan produksi dan pemasaran, maka biaya yang dikeluarkan dapat dimanfaatkan seefisien mungkin. Hal tersebut memungkinkan petani untuk terus melakukan usaha meskipun kemampuan mengakses sumber modal tambahan sangat sulit. Pengaturan, pengendalian dan upaya menjaga kualitas dan kuantitas stok di pasar juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sehingga akan mengurangi upaya konversi yang dilakukan oleh petani.