B. Hasil Penelitian Kerja sama Sinergi Penelitian (SINTA)
5.20. Perumusan Model Pengembangan Skala Usaha dan Kelembagaan Usaha Sapi Potong
Pembangunan sumberdaya ternak domestik khususnya sapi potong belum mendapat perhatian. Sebagian besar, sekitar 80 persen, sapi potong di Indonesia, masih diusahakan secara tradisional. Kebijakan program pemerintah pengembangan sapi potong saat ini masih menggunakan paradigma pemerataan tanpa menetapkan daerah prioritas sesuai potensi sumberdaya dan potensi pasar. Skala usaha relatif kecil sehingga dampak program tidak signifikan terhadap upaya peningkatan produksi daging sapi.
Tujuan umum penelitian ini adalah merumuskan model pengembangan skala usaha dan kelembagaan usaha sapi potong berdasarkan kekuatan dan kelemahan suatu kawasan dalam kerangka meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri. Tujuan spesifik adalah mempelajari faktor penghambat dan pendorong dalam pengembangan usaha sapi potong skala menengah dan mengidentifikasi keragaan usaha sapi potong skala menengah dan potensi wilayah yang layak bagi pengembangannya. Lokasi penelitian adalah di provinsi Jawa Timur, Jawa Barat dan NTT. Disamping itu ada tambahan lokasi di Boyolali karena ada keterkaitan pemasaran pedet sapi perah jantan dari Jabar.
Usaha skala menengah sudah mulai berkembang karena dorongan permintaan pasar dengan insentif harga yang tinggi bagi produsen. Perkembangan skala menengah ditemukan dalam bentuk berbagai model kelembagaan antara lain usaha kelompok, usaha kemitraan dan usaha pribadi (mandiri). Usaha kelompok ini terdiri atas dua tipe kelembagaan yakni berkelompok dengan perusahaan swasta dan peternak berkelompok sebagai peserta program pemerintah. Kemajuan perkembangan tipe pertama sangat tergantung pada kejujuran dan keadilan. Keberlanjutan usaha tipe kedua sangat bervariasi, tergantung pada penentuan calon lokasi dan calon penerima, kekuatan pemupukan modal, manajemen kelompok, binaan petugas dan peran ketua kelompok.
Dibandingkan model lain, nilai R/C rasio berdasarkan biaya tunai (diperhitungkan) model kelompok relatif kecil berkisar 1,21 – 1,72 (1,15-1,59). Tingginya kisaran disebabkan variasi jumlah pemilikan yang tinggi yaitu 4-18 ekor. Seberapa jauh peran usaha sapi potong pada ekonomi rumah tangga peternak dan sebagian besar usaha merupakan dana program pemerintah sangat menentukan seberapa besar curahan perhatian terhadap usaha. Kecenderunganya usaha yang demikian kesinambungan dan kinerja usahanya rendah.
Umumnya pihak inti tidak semata berorientasi pada keuntungan tetapi juga pada kepedulian untuk maju bersama. Model Kemitraan Perusahaan dan Pemanen Sawit. Pada model ini, perawatan sapi dilakukan bersamaan dengan pemeliharan dan panen kebun sawit. Kinerja pemanen dilihat dari seberapa besar produksi TBS yang dipanen. Dengan cara ini sapi lebih banyak menggembala di lahan perkebunan dengan kualitas pakan yang relatif rendah. Sementara tambahan limbah sawit masih terbatas pada daun dan pelepah. Kondisi demikian ini tidak menghasilkan pertumbuhan badan sapi secara maksimal. Namun demikian nilai R/C rasio masih lebih tinggi dibandingkan model kelompok yakni 1,89-2,61 (1,71-2,10)
Model Kemitraan Inti dan Plasma yang hampir sama dengan model perusahaan dan pemanen sawit. Perbedaannya adalah peternak plasma mengerjakan kebunnya sendiri tanpa diawasi seketat seperti pada kebun perusahaan. Peternak plasma lebih berpeluang merawat sapi secara intensif. Plasma juga dapat menjual sapi ke pedagang dengan harga yang relatif tinggi dari harga beli perusahaan pada sapi pemanen. Dua faktor ini diduga penyebab R/C rasio plasma 2,84 (1,11) lebih tinggi dari pemanen.
Model Skala Menengah yang memberikan sumber penghasilan rumah tangga yang dominan kepada peternak. Sebagian dari peternak mulai menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Pada umumnya model ini mempunyai skala usaha relatif tinggi (30-90 ekor). Hasil perhitungan memperlihatkan bahwa efisiensi usaha relative tinggi sehingga memberikan keuntungan yang tinggi. Nilai R/C berkisar antara 1,28-2,47 (1,20-2,19). Dengan demikian, hasil penelitian ini jelas memperlihatkan manfaat pengembagan usahaternak potong skala menengah.
Beberapa faktor penghambat utama dalam pengembangan model usaha sapi potong skala menengah adalah: (a) ketersediaan pakan, akses sumber modal, kebijakan pemerintah, penyediaan bibit sapi dan tataniaga pemasaran. Penyediaan pakan belum didukung oleh kelambagaan produksi dan pemasaran, sehingga sekalipun bahan baku tersedia namun sulit mendapatkannya; (b) akses pada sumber modal masih sangat lemah pasar dan pola pembayaran pinjaman pada beberapa bank tidak fleksibel sesuai dengan pola siklus produksi usaha sapi potong; (c) kebijakan Pemerintah antara lain PP 41 yang menyebabkan banyak institusi peternakan pada daerah potensial peternakan berada di bawah institusi lain; (d) pengadaan bibit sapi bakalan yang sampai saat ini belum ada pengendalian impor ternak dan daging sapi yang terintegrasi dengan produksi sapi dometik sehingga usaha sapi potong domestik makin terdesak; dan (e) sistem Tataniaga sapi dinilai tidak sehat, rantai pemasaran panjang dan dikuasi oleh sekelompok orang.
Beberpa faktor pendorong pengembangan skala menengah antara lain: (a) permintaan daging sapi tinggi, harga daging relatif tinggi; (b) secara finansial usaha sapi potong menguntungkan, sehingga dapat dijadikan sumber pendapatan penting; (c) ketersediaan teknologi dan Lembaga Litbang. Ketersediaan teknologi pakan, teknologi reproduksi, rancangan kelembagaan usaha dengan lembaga penelitian cukup memadai; (d) kebijakan Pemerintah. Program Kredit Usaha Peternakan dengan bunga subsidi tersedia seperti KKPE, KUPS, KUR, dan program CSR. Program teknis mendukung pembangunan peternakan program SMD, Siska, Pembuatan Pupuk Organik, unit biogas, dan lain lain.
Seluruh lokasi penelitian merupakan wilayah yang tepat bagi pengembangan usaha sapi potong skala menengah, baik untuk budidaya pembibitan atau penggemukan. Wilayah ini
mendapat prioritas utama untuk pengembangan usaha sapi potong skala menengah, sekalipun setiap provinsi mempunyai intensitas permasalahan yang berbeda. Strategi kebijakan pengembangan skala menengah ditentukan oleh kerangka kebijakan yang secara eksplisit membentuk kuadran I, yakni mengejar peluang dengan mendorong penguatan wilayah yang dapat mendorong perusahaan meraih peluang-peluang yang tersedia.
Hasil perhitungan LQ menunjukkan konsistensi bahwa daerah basis utama sapi potong nasional di kawasan timur dengan basis pakan dari padang penggembalaan. Sumber pakan lain di daerah itu adalah limbah hasil pertanian dan limbah industri pertanian. Dengan menggunakan teknologi pengolahan dan pengawetan pakan daya tampung ternak di daerah tersebut dapat ditingkatkan. Sebagai daerah sapi perah seperti Jateng dan Jatim, Jabar potensial dikembangkan sebagai daerah penggemukan sapi potong menggunakan sapi bakalan dari sapi perah jantan. Pengembangannya harus mendapat dukungan penyediaan pakan berkualitas. Dengan demikian kemampuan potensial untuk menghasilkan daging dapat terpenuhi sehingga mampu bersaing dengan sapi eks impor yang saat ini sudah mendominasi pasar wilayah Jawa Barat. Berdasarkan LQ, daerah basis sawit juga merupakan basis sapi potong yaitu NAD, Sumbar, Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Irjabar. Sementara itu daerah dengan nilai LQ sawit > 1 tetapi LQ sapi < 1 adalah Sumut, Riau, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim dan Babel. Selain daerah basis sawit sebagian daerah ini adalah daerah sentra konsumsi daging sapi. Karena itu, pada daerah ini sangat prospektif dikembangkan usaha sapi potong.
Hasil LQ berdasarkan Lokasi Studi menunjukkan pengembangan sapi potong di Jawa Barat adalah di daerah basis utama Kuningan dan Sumedang. Potensi pengembangan sapi perah jantan FH mencakup Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka, Subang, Purwakarta, Cianjur dan Bekasi. Pasokan sapi bakalan FH jantan diperoleh dari Bandung, Kota Cimahi, Kota Bogor dan Kota Depok dengan pusat perdagangan di Sumedang dan Kuningan. Pusat pengembangan sapi potong di Jawa Timur terbagi atas wilayah Utara di Tuban dan Lamongan; wilayah Tengah di Magetan, Madiun dan Nganjuk; wilayah Timur di Probolinggo, Situbundo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi dan Madura. Bahan pakan mengandalkan pengolahan limbah pertanian dan limbah industri pertanian. Untuk wilayah NTT, hanya pulau Timor yang merupakan daerah potensi pengembangan sapi potong dengan sumber pakan berbasis pada padang gembala. Sementara itu untuk Bengkulu daerah sentra kebun sawit di Bengkulu Selatan, Seluma, Mukomuko dan Bengkulu Utara dapat dijadikan sentra pengembangan sapi potong.
Terdapat tiga model utama usaha sapi potong skala menengah, yaitu: (1) yang tergabung dalam kelompok, (2) jalinan kerja sama kemitraan, dan (3) usaha pribadi. Ketiga model tersebut didukung oleh kelembagaan yang berbeda antar lokasi. Secara finansial, ketiga model usaha sapi potong skala menengah layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C lebih besar dari satu. Faktor utama yang menghambat perkembangan usaha sapi potong skala menengah adalah manajemen pengadaan pakan secara regional, lemahnya akses pada kredit program yang tersedia, dan kebijakan lintas sektor dan subsektor cenderung melemahkan pembinaan aparat dalam mendukung pembangunan subsektor peternakan. Sementara itu faktor pendorong utama adalah permintaan daging sapi yang tinggi, keuntungan usaha sapi potong, dan dukungan kebijakan dari subsektor peternakan. Selain sentra utama, pengembangan sapi potong masih dapat dikembangkan lebih luas tidak hanya di daerah basis,
tetapi juga di daerah sentra produksi sapi perah di Jawa Barat dan sentra kebun sawit di Bengkulu dan daerah kebun sawit lainnya di Indonesia.
Strategi kebijakan pengembangan skala menengah sesuai dengan hasil SWOT adalah mengejar peluang dengan mendorong penguatan wilayah yang dapat mendorong perusahaan meraih peluang-peluang yang tersedia. Pada umumnya SDA, baik lahan dan air tersedia relatif cukup dalam kawasan. Diperlukan peraturan-peraturan penggunaan lahan dan air. Selain itu perlu dibangun infrastruktur yang mendukung seperti pembangunan jaringan irigasi melintas padang-padang pengembalaan, sehingga padang pengembalaan dapat menghasilkan hijauan yang baik dengan palatabel tinggi dan jumlahnya cukup sepanjang tahun.
Strategi kebijakan yang dibutuhkan untuk mencapai peluang pasar yang relatif tinggi, adalah faktor eksternal yang menyangkut pengawasan penyakit menular yang merugikan, sistem pemasaran yang lebih menguntungkan peternak dan mencperaturan-peraturan daerah kontra produktif. Pemerintah harus dapat menjamin bahwa pemerintah turut memberikan pelayanan sepenuhnya dalam pengendalian penyakit dan menerbitkan peraturan-peraturan pemerintah yang dapat mendorong usaha peternakan sakala menengah. Faktor lain yang dibutuhkan dalam strategi kebijakan pembangunan usaha ternak sapi skala menengah adalah jaminan pemerintah dalam hal meningkatkan akses peternak kepada bank pemerintah dan bank komersil. Peningkatan akses dengan bank antara lain kesediaan pemerintah memberikan jaminan garansi sehingga bank tidak mempunyai keraguan memberikan kredit investasi kepada para peternak.
5.21. Perumusan Model Kelembagaan Petani untuk Revitalisasi Kegiatan Ekonomi