• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perumusan Strategi Dakwah Pengurus Viking

ANALISIS DAN HASIL TEMUAN

A. Strategi Dakwah Pengurus Viking Dalam Aktivitas Keagamaan

1. Perumusan Strategi Dakwah Pengurus Viking

Perumusan strategi dalam hal ini adalah suatu proses merancang dan menyeleksi strategi yang pada akhirnya menuntun pada pencapaian misi dan tujuan organisasi. Melalui perumusan strategi dakwah juga

3

http://m.merdeka.com/sehat/ini-4-bahaya-minuman-keras-bagi-kesehatan-tubuh.html

4

Wawancara dengan Dovi (Salah satu pengurus Viking Persib Club), jalan Banda, Bandung, 7 Agustus 2014

5

Wawancara langsung dengan ketua Viking Frontline yaitu Tobias Ginanjar 13/09/14 pukul 18.30 wib

ditentukan sikap untuk memutuskan, memperluas, menghindari atau melakukan suatu keputusan dalam proses kegiatan dakwah. Adapun langkah-langkah dalam perumusan strategi dakwah pengurus Viking adalah:

a. Pengenalan Sasaran Dakwah

Dalam pengenalan sasaran dakwah, menurut hasil wawancara dengan ketua Viking Frontline dan termasuk salah satu pengurus Viking pusat yaitu Kang Tobias Ginanjar bahwa sasaran dakwah utamanya yaitu kepada anggota distrik Viking Frontline.

“Viking Frontline sendiri di antara distrik-distrik Viking lainnya terkenal yang paling gila sama minuman keras karena setiap di Stadion banyak stok minuman kerasnya dan juga dikenal sering bentrok dengan kepolisian didalam stadion. Maka dari itu kita fokuskan ke anggota kami dulu untuk acara pengajian rutinnya”.6

Seperti diketahui, Viking Frontline terbentuk pada tanggal 15 Januari 2005 yang merupakan satu-satu nya distrik yang bukan berasal dari suatu daerah dan bukan dari distrik kampus melainkan dibentuk karena selalu dipertemukan jajaran paling depan tribun stadion setiap menyaksikan laga Persib Bandung dan paling banyak stok minuman kerasnya setiap datang ke Stadion.7 Ketua Distrik Viking Frontline yaitu Tobias Ginanjar juga merupakan salah satu pengurus inti Viking Persib Club. Viking FrontLine dikenal dengan istilah “garis keras” karena berada di jajaran terdepan dalam menonton Persib, pasti selalu berhadapan langsung dengan aparat keamanan di dalam Stadion.

6

Wawancara langsung dengan ketua Viking Frontline yaitu Tobias Ginanjar 13/09/14 pukul 18.30 wib

7

Wawancara langsung dengan ketua Viking Frontline yaitu Tobias Ginanjar di Bandung pada tanggal 13/09/14 pukul 18.30 wib

Pada tahun 2012 menurut Tobias Ginanjar, anggota Viking FrontLine mencapai 500 orang. Seperti kutipan wawancara dengan Kang Tobi:

“awalnya anggota hanya ada segelintir orang, memasuki tahun 2012 anggota kita mencapai 500 lebih sehingga sempat kita membuat baju. Namun seiring perjalanan waktu, anggota kami pun mulai berkurang dikarenakan memiliki kesibukan masing-masing”8

Seperti yang telah penulis tulis di Bab 3 bahwa Viking Frontline terbentuk pada tanggal 15 Januari 2005. Viking FrontLine merupakan satu-satu nya distrik yang bukan berasal dari suatu daerah dan bukan dari distrik kampus melainkan dibentuk karena kebetulan dulu belum ada yang namanya Viking kampus, jadi terbentuklah gabungan anak-anak dari kampus Universitas Parahyangan dan Universitas Maranatha yang selalu nonton Persib di Stadion dan selalu bertemu di jajaran paling depan tribun stadion setiap menyaksikan laga Persib Bandung menjadi sebuah distrik yaitu distrik Viking Frontline.

b. Pengkajian Tujuan

Dari berbagai tema yang disajikan, peneliti mengambil contoh tema “Viking dan Galau'ers (Orang-orang yang Galau)” yang dilaksanakan pada tanggal Sabtu, 10 November 2012 pukul 08:00 WIB bertempat di Geger Kalong, Bandung dan tausyiah di pimpin oleh Ustad Erick Yusuf disampaikan kepada anggota Viking distrik Viking FrontLine.

8

Wawancara langsung dengan ketua Viking Frontline yaitu Tobias Ginanjar 13/09/14 pukul 18.30 wib

Ustad Erick Yusuf mengambil tema galau karena tema galau saat itu sedang ngetrend di kalangan anak-anak muda. Hampir di semua media apalagi di sosial media tema-tema tentang galau dibahas.

Peneliti mendapatkan transkip materi dakwah yang yang disampaikan Ustad Erick Yusuf yang dilaksanakan pada tanggal 10 November 2012 pukul 08:00 WIB bertempat di Geger Kalong, Bandung yang bersumber dari republika online. Berikut materi dakwah yang disampaikan Ustad Erick Yusuf:

Jika kita tela’ah kata galau di kamus besar bahasa Indonesia galau berarti ; 1. Ber-galau, sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); ke-galau-an sifat (keadaan hal) galau. Dikatakan “galau” berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan) galau. Merujuk ke defenisi menurut kamus keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang yang tengah galau pikirannya berarti sedang kacau, gundah atau resah dan sebagainya. Saya mengaitkan kata “galau’ers” atau kaum yang galau dengan golongan orang-orang yang kacau pikirannya, resah hatinya, gundah gulana dalam kesehariannya dengan sebuah contoh orang-orang yang menyesali perbuatannya namun tidak bisa keluar untuk memperbaikinya. Dalam Alquran untuk konteks orang-orang seperti ini saya teringat surah Al Qiyamah yang menyebutkan. “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al Qiyamah, 75 : 1-2) . Masalah galau, karenanya agar tidak galau mari memperbanyak majelis ilmu. Dengan mengikuti taushiyah atau ceramah serta ngaji Qur’an sekaligus Hadits. Seperti pemuda-pemuda yang tergabung di “distrik religi” nya Viking Persib Bandung. Pengajian atau taushiyah tersebut Alhamdulillah akan dirutinkan setiap bulannya, dengan peserta yang semakin lama harapannya akan menjadi semakin banyak. Semoga para penonton sepak bola menjadi sholeh, juga pemain-pemainnya, juga pengurusnya dan semua yang terlibat di dalamnya. Agar tidak lagi perlu slogan sportivitas dan fair play. Karena dengan kesholehan otomatis sudah mencakup seluruh nilai-nilai kebaikan yang ada termasuk sportivitas dan fair play. Ayo kang Heru Joko, kang Tobi dan pemuda-pemuda harapan bangsa lainnya. Ayo kita ngaji!9

9

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/celoteh-kang-erick/12/11/12/md861a-viking-dan-galauers-orangorang-yang-galau/

Berdasarkan transkip dakwah di atas, peneliti mengambil intisari dari transkip dakwah di atas yaitu defenisi menurut kamus, keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang yang tengah galau pikirannya berarti sedang kacau, gundah atau resah dan sebagainya. Nah, masalah galau, karenanya agar tidak galau mari memperbanyak majelis ilmu. Dengan mengikuti taushiyah atau ceramah serta ngaji Qur’an sekaligus Hadits.

c. Efektifitas dan Efisiensi dakwah

Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa menurut Asmuni Syukir, Efektif dan Efisiensi adalah di dalam aktivitas dakwah harus diusahakan keseimbangan antara biaya, waktu, maupun tenaga yang dikeluarkan dengan pencapaian hasilnya sehingga hasilnya dapat maksimal.10 Seperti kutipan wawancara berikut:

“Pada saat awal sih belum efektif pas pertama kali masih jadi bahan lelucon dan masih dijadikan olok-olok gitu tapi pada saat kedua dan ketiga mulai agak-agak ada yang berubah sih sekarang anak-anak viking frontline yang sholat 5 waktu lumayan banyak yang tadinya gag pernah sholat sama sekali semua termasuk saya cuman sekarang terakhir setelah pengajian saat tour keluar kota mendukung Persib nyempetin berhenti dulu di mesjid nyempetin sholat shubuh”11

Menurut observasi peneliti, belum begitu efektif dikarenakan ketika menghadiri pengajian, belum sepenuhnya semua distrik Viking berkumpul. Hanya sekitar 20-30 orang setiap menghadiri acara pengajian rutin ini dan masih belum efektif juga disaat pengajian itu

10

Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), h.

33.

11

Wawancara langsung dengan ketua Viking Frontline yaitu Tobias Ginanjar 13/09/14 pukul 18.30 wib

harus dilakukan sebulan sekali dan menurut peneliti harus lebih dirutinkan pengajiannya. Namun sudah ada perubahan walaupun belum signifikan, tetapi setidaknya sudah ada niat untuk menjadi ke arah yang lebih baik lagi. Dari sisi efisiensi menurut peneliti cukup efisiensi karena antara waktu, maupun tenaga yang dikeluarkan dengan pencapaian hasilnya sehingga terlihat maksimal. Efisiensi karena tidak harus menyewa sebuah gedung atau ruangan karena menggunakan rumah anggota yang agak luas ruangannya. Dan kebutuhan dalam pengajian dalam observasi yang peneliti lakukan hanya terdapat makanan, minuman dan sound system sebagai alat pengeras suara.

Dokumen terkait