Untuk mengetahui berbagai alternatif strategi yang dapat digunakan oleh LSPro-Agroindustri TIN dilakukan pengembangan alternatif strategi menggunakan matriks SWOT (Streght-Weakness-Opportunities-Threats). Matriks SWOT pengembangan strategi LSPro-Agroindustri TIN dapat dilihat pada Tabel 12.
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats) (Rangkuti, 2006).
Untuk mencapai tujuan pengembangan LSPro Agroindustri diperlukan strategi baik yang bersifat umum maupun spesifik. Dari analisis SWOT yang dilakukan, telah dirumuskan 4 (empat) alternatif strategi yang dinilai dapat ditempuh untuk mencapai visi dan misi LSPro Agroindustri TIN, yaitu :
• Memanfaatkan dan mengoptimumkan sumber daya yang ada (SDM, fasilitas, sistem, dan kelembagaan) untuk berkontribusi dalam peningkatan daya saing melalui perbaikan sistem jaminan mutu produk agroindustri
• Mengembangkan networking dengan lembaga terkait (Departemen, Dinas, Pemda) dalam pengembangan agroindustri melalui sertifikasi produk
• Melakukan sosialisasi dan promosi mengenai arti penting mutu produk agroindustri
• Melakukan pengembangan diri secara kontinyu untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik secara efisien, mencakup pengembangan ruang lingkup sertifikasi, pengembangan sistem promosi/pemasaran, pengembangan kerjasama dengan instansi terkait.
Alternatif strategi pemasaran disusun berdasarkan interaksi dari faktor-faktor eksternal dan internal LSPro-Agroindusti. Strategi pemasaran yang dihasilkan dan interaksi faktor eksternal dan internal LSPro-Agroindustri terdiri dari empat kombinasi formulasi, yaitu formulasi strategi SO, WO, ST, dan WT.
a) Strategi S-O
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan menggabungkan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesar-besarnya (Rangkuti, 2006).
Pada dasarnya formulasi strategi ini merupakan formulasi strategi yang paling ideal karena hanya faktor positif yang menjadi bahan pertimbangan. Dari hasil wawancara dan pengamatan, kekuatan LSPro-Agroindustri terletak pada pengetahuan dan pengalaman SDM dalam agroindustri baik QA/QC dan sertifikasi produk, fasilitas laboratorium dan sistem mutu (ISO/IEC 17025) yang tersedia, kelembagaan yang "credible" dan komitmen dalam pengembangan agroindustri. Peluang LSPro-Agroindustri adalah tuntutan masyarakat (luar dan dalam negeri) terhadap mutu produk agroindutri meningkat, kebutuhan agroindustri untuk meningkatkan daya saing melalui perbaikan mutu produk, kebijakan pemerintah dalam pengembangan agroindustri sebagai subsektor unggulan / prioritas.
Berdasarkan kekuatan dan peluang yang ada, maka strategi yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan dan mengoptimumkan sumber daya yang ada (SDM, fasilitas, sistem, dan kelembagaan) untuk berkontribusi dalam peningkatan daya saing melalui perbaikan sistem jaminan mutu produk agroindustri.
b) Strategi W-O
Perumusan strategi ini diarahkan pada usaha untuk mendapatkan keuntungan dari peluang yang ada untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari LSPro-Agroindustri.
Kelemahan dari LSPro-Agroindustri yaitu LSPro agroindustri belum dikenal secara luas, ruang lingkup sertifikasi produk masih terbatas, kemampuan dalam pemasaran/ promosi jasa sertifikasi produk, networking dengan lembaga terkait belum terbentuk/ berkembang. Strategi yang dapat diambil adalah dengan mengembangkan networking dengan lembaga terkait (Departemen, Dinas, Pemda) dalam pengembangan agroindustri melalui sertifikasi produk.
c) Strategi S-T
Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi (Rangkuti, 2006). Ancaman yang sangat berpengaruh pada perkembangan LSPro-Agroindustri adalah penghargaan terhadap jaminan mutu / mutu produk oleh sebagian masyarakat agroindustri rendah. Selain itu ada beberapa ancaman lain, yaitu peningkatan biaya QA/QC lebih tinggi dibanding dengan benefits yang diperoleh dan perkembangan LSPro sejenis yang lebih baik di dalam dan luar negeri. Untuk mengatasi ancaman tersebut adalah dengan strategi melakukan sosialisasi dan promosi mengenai arti penting mutu produk agroindustri.
Tabel 12. SWOT LSPro Agroindustri TIN
Sumber : Analisis SWOT (2008) FaktorInternal Faktor Eksternal Kekuatan (S) Kelemahan (W) 1. Pengetahuan dan pengalaman SDM dalam agroindustri, QA / QC dan sertifikasi produk
2. Fasilitas laboratorium dan sistem mutu (ISO / IEC 17025) yang tersedia 3. Kelembagaan yang
"credible" dan komitmen dalam pengembangan agroindustri
1. LSPro agroindustri belum dikenal secara luas 2. Ruang lingkup sertifikasi produk masih terbatas 3. Kemampuan dalam pemasaran/promosi jasa sertifikasi produk 4. Networking dengan lembaga terkait belum terbentuk atau berkembang
Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O
1. Tuntutan masyarakat (luar dan dalam negeri) terhadap mutu produk agroindutri meningkat 2. Kebutuhan agroindustri untuk
meningkatkan daya saing melalui perbaikan mutu produk 3. Kebijakkan pemerintah dalam
pengembangan agroindustri sebagai subsektor unggulan / prioritas
Memanfaatkan dan
mengoptimumkan sumber daya yang ada (SDM, fasilitas, sistem, dan kelembagaan) untuk
berkontribusi dalam peningkatan daya saing melalui perbaikan sistem jaminan mutu produk agroindustri Mengembangkan networking dengan lembaga terkait (Departemen, Dinas, Pemda) dalam pengembangan agroindustri melalui sertifikasi produk
Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T
1. Penghargaan terhadap jaminan mutu / mutu produk oleh sebagian masyarakat agroindustri rendah
2. Peningkatan biaya QA/QC lebih tinggi dibanding dengan
benefits yang diperoleh 3. Perkembangan LSPro sejenis
yang lebih baik di dalam dan luar negeri
Melakukan sosialisasi dan promosi mengenai arti penting mutu produk agroindustri
Melakukan pengembangan diri secara kontinyu untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik secara efisien, mencakup pengembangan ruang lingkup sertifikasi, pengembangan sistem promosi / pemasaran, pengembangan kerjasama dengan instansi terkait
d) Strategi W-T
Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan (Rangkuti, 2006). Pada dasarnya strategi ini hanya bersifat bertahan dalam arti LSPro-Agroindustri meminimumkan kelemahan dan berusaha untuk menghindari ancaman. Berdasarkan beberapa ancaman yang ada, strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengembangan diri secara kontinyu untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik secara efisien, mencakup pengembangan ruang lingkup sertifikasi, pengembangan sistem promosi / pemasaran, pengembangan kerjasama dengan instansi terkait.
2. Pemilihan Strategi Prioritas
Model penentuan strategi pengembangan LSPro-Agroindustri ini dilanjutkan dengan teknik AHP (Analitical Hierarchy Process). Masing-masing elemen pada tiap level dalam struktur hirarkinya juga didapatkan melalui studi literatur, wawancara dengan para pakar serta melalui pengisian kuesioner.
AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan keputusan, karena dapat digambarkan secara grafis, sehingga mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Dengan AHP, proses keputusan kompleks dapat diuraikan menjadi keputusan-keputusan lebih kecil yang dapat ditangani lebih mudah. Selain itu, AHP akan menguji kosistensi penilaian, bila terjadi penyimpangan yang terlalu jauh dari nilai konsistensi sempurna, maka hal ini menunjukan bahwa penilaian perlu diperbaiki, atau hirarki harus distruktur ulang (Marimin, 2004). Prinsip penilaian dengan menggunakan teknik AHP adalah membandingkan tingkat kepentingan atau prioritas antara satu elemen dengan elemen lain yang berada pada tingkatan / level yang sama berdasarkan hasil perbandingan lainnya. Rentang penilaian yang diberikan oleh responden (pakar) adalah sesuai dengan skala 1 sampai 9 yaitu nilai yang dikeluarkan oleh Saaty, dengan metode perbandingan berpasangan (pairwaise comparison) dalam teknik AHP (Analitical Hierarchy Process) Penilaian tersebut
dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan sertifikasi. Selain itu, nilai inconsistency ratio dari setiap level masing-masing pakar harus kurang dari 0,1. Apabila nilainya lebih besar dari 0,1 maka dilakukan revisi penilaian atau pemberian bobot kembali oleh pakar yang bersangkutan.
Dari analisis SWOT yang dilakukan (Tabel 13), telah dirumuskan 4 (empat) alternatif strategi yang dinilai dapat ditempuh untuk mencapai visi dan misi LSPro Agroindustri TIN, yaitu :
• Memanfaatkan dan mengoptimumkan sumber daya yang ada (SDM, fasilitas, sistem, dan kelembagaan) untuk berkontribusi dalam peningkatan daya saing melalui perbaikan sistem jaminan mutu produk agroindustri. • Mengembangkan networking dengan lembaga terkait (Departemen,
Dinas, Pemda) dalam pengembangan agroindustri melalui sertifikasi produk.
• Melakukan sosialisasi dan promosi mengenai arti penting mutu produk agroindustri.
• Melakukan pengembangan diri secara kontinyu untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik secara efisien, mencakup pengembangan ruang lingkup sertifikasi, pengembangan sistem promosi/pemasaran, pengembangan kerjasama dengan instansi terkait.
a) Penyusunan Hirarki Awal
Struktur hirarki dari model penentuan strategi pengembangan LSPro-Agroindustri dapat dilihat pada Gambar 14, Goal (level 1) atau penentuan sasaran yang ingin dicapai, adalah untuk memperoleh strategi pengembangan LSPro-Agroindustri yang terbaik. Kriteria (level 2) dari struktur hirarki AHP adalah potensi dampak / manfaat (benefit), biaya yang diperlukan (cost), dan waktu pencapaian (time).
Level 3 dari struktur AHP strategi pengembangan LSPro-Agroindustri adalah alternatif strategi. Terdapat empat alternatif strategi, yaitu memanfaatkan dan mengoptimumkan sumber daya yang ada (SDM, fasilitas, sistem, dan kelembagaan), mengembangkan networking dengan lembaga
terkait (Departemen, Dinas, Pemda), sosialisasi dan promosi, melakukan pengembangan diri secara kontinyu.
Pada dasarnya, keempat alternatif strategi tersebut dapat dilakukan oleh para pengambil keputusan. Namun, melalui teknik AHP ini pengambil keputusan dapat mengetahui prioritas alternatif strategi terbaik berdasarkan bobot atau peringkat dari perhitungannya.
Perhitungan pembobotan setiap kriteria dilakukan dengan menggunakan software Expert Choice 2000 dimana hasil perhitungannya langsung dapat diperoleh setelah memasukkan masing-masing bobot oleh tiap pakar.
Gambar 14. Struktur Hirarki Model Penentuan Strategi Pengembangan LSPro-Agroindustri
Struktur hirarki pada Gambar 14 didapatkan dari pendapat seorang pakar LSPro mengenai strategi pengembangan LSPro-Agroindustri. Pendapat pakar tersebut membentuk hirarki AHP dari setiap elemennya. Selain itu, penentuan alternatif strategi pengembangan LSPro-Agroindustri juga dilakukan dengan wawancara dengan pakar dan studi literatur.
Strategi Pengembangan LSPro-Agroindustri
potensi dampak / manfaat (benefit)
biaya yang diperlukan (cost) waktu pencapaian tujuan (time) • SDM • Networking • Sosialisasi • Pengembangan • SDM • Networking • Sosialisasi • Pengembangan • SDM • Networking • Sosialisasi • Pengembangan Kriteria Alternatif Goal
b) Output Penentuan Strategi Pengembangan LSPro-Agroindustri
Menurut Suryadi dan Ramdhani (1998), bahwa setelah penyusunan hirarki awal selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan perbandingan antara elemen dengan memperhatikan pengaruh elemen pada level di atasnya. Pembagian pertama dilakukan untuk elemen-elemen pada level atribut dengan memperhatikan level diatasnya, yaitu goal dan tujuan utama.
Setelah hirarki terbentuk, mulai disebarkan kuesioner kepada lima pakar yang terkait dengan LSPro. Bobot nilai elemen pada setiap levelnya diperoleh dari pengisian kuesioner oleh pakar. Setiap bobot elemen tersebut diolah melalui software Expert Choice 2000. Untuk verifikasi dan validasinya dapat dilihat pada Lampiran 13.
Teknik AHP (Analitical Hierarchy Process) tersebut memberikan hasil perhitungan berupa urutan prioritas berdasarkan peringkat dari masing-masing elemen tiap levelnya. Hasil perhitungan agregat pada analisis faktor (level 2) dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Hasil Perhitungan Agregrat Level 2 (kriteria) Penentuan Strategi
Level 2 (Kriteria) Bobot Peringkat
1 Benefit 0.548 1
2 Cost 0.222 3
3 Time 0.230 2
1.000
Sumber : Kuesioner diolah dengan Expert Choice (2008)
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, kriteria benefit (potensi dampak atau manfaat) merupakan faktor yang paling utama yang harus dipertimbangkan dalam analisis penentuan strategi pengembangan LSPro-Agroindustri dengan nilai bobot paling tinggi yaitu sebesar 0.548. Hal tersebut menjadi faktor terpenting yang patut dipertimbangkan untuk mengambil strategi yang tepat, karena manfaat dari pendirian LSPro-Agroindustri adalah sebagai implementasi kepedulian TIN dalam bentuk unit usaha jasa yang dapat memanfaatkan banyak SDM ahli dalam bidang agroindustri di Teknologi Industri Pertanian, dengan harapan dapat terus dimanfaatkan dan
dikembangkan agar mampu membantu para produsen di bidang agroindustri. Sedangkan urutan faktor lain berdasarkan perhitungan tersebut adalah kriteria time (waktu) pada urutan kedua dengan nilai bobot sebesar 0.230, kriteria cost (biaya) pada urutan terakhir dengan nilai bobot sebesar 0.222.
Tahap berikutnya, responden diminta untuk memberikan penilaian terhadap tingkat kepentingan alternatif strategi ditinjau dari tiga kriteria
benefit, cost, dan time. Hasil perhitungan agregrat pada level 3 (alternatif
strategi) dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Hasil Perhitungan Agregat Level 3 (Alternatif)
Level 3 (Alternatif) Bobot Peringkat
1 SDM 0.411 1
2 Networking 0.216 2
3 Sosialisasi 0.164 4
4 Pengembangan 0.210 3
1.000
Sumber : Kuesioner diolah dengan Expert Choice (2008)
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, altenatif strategi 1 (Memanfaatkan dan mengoptimumkan sumber daya yang ada (SDM, fasilitas, sistem, dan kelembagaan) untuk berkontribusi dalam peningkatan daya saing melalui perbaikan sistem jaminan mutu produk agroindustri terpilih menjadi alternatif strategi sebagai prioritas utama untuk pengembangan LSPro- Agroindustri dengan nilai bobot paling tinggi yaitu sebesar 0.411. Sedangkan urutan alternatif strategi berikutnya berdasarkan perhitungan tersebut adalah alternatif strategi 2 (Mengembangkan networking dengan lembaga terkait (Departemen, Dinas, Pemda) dalam pengembangan agroindustri melalui sertifikasi produk) pada urutan kedua dengan nilai bobot sebesar 0.216, alternatif strategi 4 (Melakukan pengembangan diri secara kontinyu untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik secara efisien, mencakup pengembangan ruang lingkup sertifikasi, pengembangan sistem promosi/pemasaran, pengembangan kerjasama dengan instansi terkait) pada urutan ketiga dengan nilai bobot sebesar 0.210 dan alternatif strategi 3 (Melakukan sosialisasi dan promosi mengenai arti penting mutu produk agroindustri) pada urutan terakhir dengan nilai bobot sebesar 0.164.
3. Tampilan Model Penentuan Strategi Pengembangan LSPro-Agroindustri
Analisis penentuan strategi pengembangan LSPro-Agroindustri tersebut dapat digunakan oleh user (pengguna) di dalam Expert Choice, mulai dari pembuatan hirarkinya, pembobotan elemen untuk setiap levelnya, hingga memperoleh urutan prioritas alternatif strategi. Tampilannya dapat dilihat pada Gambar 15 sampai dengan Gambar 18.
Gambar 15. Form Pembuatan Hirarki AHP Model Penentuan Strategi
Gambar 17. Grafik Prioritas Elemen Pada Hirarki AHP Penentuan Strategi
V. KESIMPULAN DAN SARAN