II. TINJAUAN PUSTAKA
4.4. Perumusan Strategi
Matriks Internal-Eksternal (IE)
Matriks EFE dan matriks IFE yang telah memiliki skor terbobot lengkap kemudian digabung dalam Matriks Eksternal dan Internal yang menunjukkan posisi
kekuatan dan keberhasilan strategi yang sudah dijalankan oleh perusahaan dengan melihat pada letak skor pada kuadran-kuadran dalam matriks Internal- Eksternal. Matriks IE untuk industri kulit di Manding pada sumbu horizontal menunjukkan skor total dari matriks IFE sebesar 2.668 sedangkan sumbu vertikal menunjukkan skor total dari matriks EFE sebesar 2.363. Masing-masing total skor pada matriks IFE dan EFE dipetakan dalam matriks IE, sehingga menempatkan industri kulit di Manding pada posisi kuadran V dengan koordinat (2.668; 2.363). Posisi sel ini menunjukkan industri kulit di Manding dapat ditangani dengan baik melalui strategi menjaga dan mempertahankan. Hal yang harus dijaga dan dipertahankan adalah kekuatan internal perusahaan serta kemampuan dalam memanfaatkan peluang yang ada. Adapun strategi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan pada posisi ini adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk.
Posisi eksternal yang berada pada kinerja sedang menunjukkan bahwa faktor peluang dan ancaman mendapat respon perusahaan dengan intensitas yang sedang terhadap perkembangan perusahaan yang akan datang. Besarnya pengaruh peluang yang mungkin dicapai perusahaan dalam pengembangan pasar yang akan datang relatif sama dengan ancaman yang menjadi faktor penghambat perkembangan perusahaan. Adanya peluang yang dimanfaatkan dan acaman yang mungkin dikelola, akan meningkatkan daya saing perusahaan untuk menghadapi persaingan pasar. Kedinamisan pasar yang dihadapi dan lingkungan eksternal yang terus berubah, menyebabkan perusahaan harus menciptakan strategi tumbuh dan berkembang dengan mengelola peluang dan ancaman yang ada.
Matrik IE terlihat pada Tabel 18.Posisi internal yang berada pada kinerja sedang menunjukkan bahwa faktor kekuatan cukup dapat ditonjolkan, dan faktor kelemaan cukup dapat ditekan untuk menghadapi perkembangan perusahaan yang akan datang. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat seharusnya perusahaan mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki, serta mengelola kelemahan- kelemahan yang ada agar dapat medukung pertumbuhan dan pengembangan perusahaan. Kelemahan utama yang harus diatasi dan mempengaruhi perkembangan
perusahaan adalah lemahnya promosi, tidak adanya merk dagang produk serta rendahnya inovasi desain produk.
Tabel 18 Matriks Internal-Eksternal (IE) industri kulit di Manding
S
kor b
obot t
otal EF
E
Skor bobot total IFE
Kuat 3.0-4.0 Sedang 2.0-2.99 Lemah 1.0-1.99
Tinggi 3.0-4.0
(I)
Tumbuh dan Bina (Grow and Build)
(II)
Tumbuh dan Bina (Grow and Build)
(III) Pertahankan dan
Pelihara (Hold and maintain) Sedang
2.0- 2.99
(IV) Tumbuh dan Bina (Grow and Build)
(V) Pertahankan dan
Pelihara
(Hold and maintain)
(VI) Panen dan Lepas (Harvest and divest) Rendah 1.0- 1.99 (VII) Pertahankan dan Pelihara (Hold and maintain)
(VIII) Panen dan Lepas (Harvest and divest)
(IX) Panen dan Lepas (Harvest and divest)
Analisis SWOT
Langkah yang ditempuh setelah melakukan evaluasi faktor eksternal dan internal adalah membuat suatu matriks yang menggabungkan faktor eksternal dan internal ke dalam suatu matriks yang dikenal dengan nama matriks SWOT. Matriks SWOT mengembangkan empat alternatif strategi berdasarkan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (threat) bagi perusahaan. Keempat alternatif strategi tersebut antara lain adalah strategi SO (strength- opportunity), strategi WO (weakness-opportunity), strategi ST (strength-threat) dan strategi WT (weakness-threat).
Dari matrik SWOT akan tergambar secara jelas bagaimana perusahaan memanfaatkan peluang serta mengendalikan ancaman dari eksternal dengan memberdayakan kekuatan yang dimiliki serta meminimalisir kelemahannya. Tujuan dibuatnya matriks SWOT adalah mengumpulkan sebanyak mungkin tindakan- tindakan atau strategi yang memungkinkan untuk digunakan oleh perusahaan. Pemilihan strategi utama dari matriks SWOT ini disesuaikan dengan posisi
perusahaan dan bersifat melengkapi analisis matriks Internal- Eksternal (IE) yang telah dilakukan sebelumnya, sebagaimana terlihat pada Tabel 18.
Hasil analisis matriks SWOT diperoleh sebelas strategi yang layak dipertimbangkan oleh industri kulit di Manding untuk dilakukan dalam rangka memanfaatkan peluang yang ada dengan kekuatan yang dimiliki serta memperbaiki kelemahan untuk mengantisipasi ancaman dari eksternal. Strategi yang dihasilkan matrik SWOT adalah:
1. SO1: Menjalin kerjasama dengan travel agen pariwisata 2. SO2: Melakukan pemasaran berbasis internet.
3. SO3: Pengembangan produk kulit ikan pari yang sedang digemari masyarakat. 4. WO1: Mendirikan showroom milik bersama serta menambahan fasilitas umum.
5. WO2: Pemberian informasi produk dan merk dagang.
6. WO3: Kementerian Perindustrian dan ATK memberian pelatihan, pendampingan,
dan pengawasan yang rutin.
7. WO4: Mengoptimalkan fungsi paguyuban pengrajin.
8. ST1: Mengetatkan persyaratan pendirian showroom produk kulit di wilayah Manding.
9. ST2: Tetap menjaga mutu produk dengan harga bersaing.
10.WT1: Memproduksi produk kulit yang unik dan dalam jumlah terbatas.
11.WT2: BBKKP dan ATK mengembangkan teknologi penyamakan kulit.
Tabel 19 menjelaskan perumusan strategi industri kulit Manding dengan matrik SWOT.
Tabel 19 Perumusan strategi industri kulit Manding dengan matrik SWOT
IFE
EFE
KEKUATAN (S)
S1 : Lokasi usaha yang strategis S2 : Nama besar Manding, Desa
wisata
S3 : Terjaminnya ketersediaan bahan baku
S4 : Mutu produk memuaskan S5 : Suasana kekeluargaan dalam
bisnis
S6 : Harga produk lebih murah S7 : Produk unik sesuai pesanan
KELEMAHAN (W)
W1 : Jaringan kerjasama terbatas W2 : promosi kurang agresif, W3 : Inovasi Desain produk rendah W4 : Tidak ada merk dagang W5 : Keterbatasan modal, sarana
prasarana
W6 : Permasalahan Showroom W7 : Tingkat pendidikan rendah
PELUANG (O)
O1 : Ketersediaan kredit bagi IKM O2 : Dukungan Pemerintah
(Kementerian Perindustrian, ATK, BBPPK)
O3 : Peningkatan jumlah penduduk O4 : Kesan eksotis, elegan, eksklusif
produk kulit
O5 : Teknologi informasi
O6 : Produk kulit pari yang sedang digemari
O7 : Sepatu, jaket dan tas
merupakan kebutuhan pokok
STRATEGI (SO)
SO1 : Menjalin kerjasama dengan travel agen pariwisata .(S1; S2; O2)
SO2 : Melakukan pemasaran berbasis internet. (S2; S4; S6; S7; O2; O4; O5) SO3 : Pengembangan produk
kulit ikan pari yang sedang digemari masyarakat (S3; O1; O6)
STRATEGI (WO)
WO1 : Mendirikan showroom milik bersama serta menambahan area parkir dan fasilitas umum. (W5; W6; O1; O2) WO2 : Pemberian nformasi produk
dan merk dagang.
(W1;W2;W4;W6;O4;O5) WO3 : Kementerian Perindustrian
dan ATK memberian
pelatihan, pendampingan, dan pengawasan yang rutin. (W2; W3; W7; O2; O5; O6) WO4 : Mengoptimalkan fungsi
paguyuban pengrajin. (W1; W2; W5; O1; O2)
ANCAMAN (T)
T1 : Kenaikan harga BBM
T2 : Mudahnya pemain baru masuk T3 : Keberadaan perusahaan sejenis T4 : Adanya produk substitusi T5 : Bahan baku impor lebih
bermutu
T6 : Kulit imitasi semakin menyerupai kulit asli T7 : Bahan baku relatif mahal
STRATEGI (ST)
ST1 : Mengetatkan persyaratan pendirian showroom produk kulit di wilayah manding. (S1; S2; T2) ST2 : Tetap menjaga mutu
produk dengan harga bersaing. (S4; T3; T4)
STRATEGI (WT)
WT1 : Memproduksi produk kulit yang unik dan dalam jumlah terbatas. (W3; W5; T3; T4) WT2 : BBKKP dan ATK
mengembangkan teknologi penyamakan kulit dalam negeri. (W5; T5; T7)
Keterangan : (Si;Oi), (Wi;Oi), (Si;Ti) dan (Wi;Ti) menunjukkan kombinasi lingkungan eksternal dengan internal dalam menghasilkan strategi, (1 = 1,2, ...n).
1. Strategi SO (Strengths – Opportunities):
Merupakan alternatif strategi agresif yang dihasilkan dari penggunaan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang, yakni :
a. SO1: Menjalin kerjasama dengan pihak travel agen pariwisata (S1; S2; O2). Permasalahan serius yang sedang dihadapi para pelaku industri kulit Manding adalah masalah pemasaran. Sebuah industri harus memiliki jaringan kerjasama yang kuat agar wilayah pemasaran luas. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan bantuan dinas pariwisata, melakukan kerjasama dengan travel agen pariwisata agar mencantumkan Manding sebagai salah satu objek wisata Desa
wisata serta pusat belanja produk kulit yang ternama, dengan memanfaatakan lokasi Manding yang strategis yaitu memotong jalur pantai parang tritis dan kota Yogyakarta.
b. SO2: Melakukan pemasaran berbasis internet (S2; S4; S6; S7; O2; O4; O5). Permasalahan pemasaran yang sangat dirasakan melalui penurunan jumlah penjualan yang dialami oleh industri kulit di Manding, juga disebabkan oleh lemahnya kegiatan promosi. Strategi yang diusulkan Melakukan pemasaran berbasis internet. Aplikasi dapat berupa pembuatan website, bergabung dalam forum jual beli seperti jualbeli.com, berniaga.com dan kaskus.com, maupun penggunaan media sosial seperti facebookdan twitter sebagai sarana promosi dan transaksi online. Disediakan katalog produk beserta harganya, menggunakan Bahasa Indonesia dan Inggris, untuk membidik konsumen lokal dan manca, pada konsumen kelas menengah keatas dengan menonjolkan kesan eksotis, elegan, dan eksklusif dari produk kulit; Desa wisata pengrajin kulit; informasi berbagai produk kulit bermutu yang ditawarkan dengan harga bersaing. Serta penawaran layanan pesan produk sesuai keinginan konsumen, yang mana semua dapat nikmati secara online. Strategi ini dinilai dapat mengatasi permasalahan promosi dan penjualan. Pembuatan website, ID forum jual beli dan media sosial dapat meminta bantuan dinas perindustrian dan ATK, sedangkan untuk pembuatan Desain website dapat meminta bantuan ISI Yogyakarta.
c. SO3: Pengembangan produk kulit ikan pari yang sedang digemari masyarakat (S3; O1; O6).
Perusahaan yang mampu bertahan dalam persaingan yang ketat harus pintar membaca dan mengambil peluang bisnis. Saat ini produk kulit dari ikan pari sedang diminati, maka strategi yang dapat diterapkan industri kulit di Manding adalah pengembangan produk kulit ikan pari yang sedang digemari masyarakat,
dengan memanfaatkan supplier bahan baku yang dapat diandalkan, dan
memanfaatkan peluang ketersediaannya kredit bagi IKM untuk keterbatasan modal pembelian bahan baku dan peralatan. Memproduksi produk yang sesuai
dengan keinginan konsumen diharapkan mampu mengatasi permasalahan turunan penjualan dan meningkatkan jumlah pendapatan pengrajin kulit di Manding.
2. Strategi WO (Weaknesses – Opportunities) :
Merupakan alternatif strategi turn around yang dihasilkan dari pemanfaatan peluang yang ada dengan cara mengatasi kelemahan-kelemahan yang dimiliki, yakni :
a. WO1: Mendirikan showroom milik bersama serta menambahan fasilitas umum (W5; W6; O1; O2).
Showroom merupakan sarana yang cukup efektif bagi pengrajin kulit di Manding untuk penjualan produk, namun yang menjadi permasalahan permasaran masih banyak industri kulit mikro dan kecil di Manding yang belum memiliki
showroom, maka strategi yang dapat dilakukan adalah dengan bantuan pemerintah daerah dan pinjaman kredit bagi IKM mendirikan showroom milik bersama bagi pengrajin yang belum memiliki showroom atau letaknnya tidak dijalan utama sehingga kurang terekspos pengunjung, serta menambahan area parkir dan fasilitas umum seperti toilet, tempat bermain anak, tempat makan agar memberi daya tarik dan kenyamanan kepada konsumen.
b. WO2: Pemberian informasi produk dan merk dagang (W1;W2;W4; W6; O4; O5).
Banyak konsumen yang kesulitan menbedakan produk asli buatan pengrajin Manding dengan produk luar Manding. Strategi pemberian merk dagang produk, serta pemberian informasi bagi produk mana saja yang asli buatan pengrajin Manding agar konsumen mengenal ciri khas produk asli Manding merupakan strategi yang dapat dilakukan untuk media promosi dan solusi permasalahan di
showroom tentang penjualan produk hasil industri kulit bukan Manding yang dapat merusak image produk Manding yaitu bermutu dengan harga terjangkau. Adanya merk dagang juga dapat memperluas jaringan kerja sama terutama dengan konsumen yang loyal terhadap merk tersebut.
c. WO3: Kementerian Perindustrian dan ATK memberian pelatihan, pendampingan,
dan pengawasan yang rutin (W2; W3; W7; O2; O5; O6).
oleh industri kulit di Manding disebabkan oleh rendanya tingkat pendidikan, bukan hanya pendidikan formal namun juga non formal atau berupa kursus ketrampilan, maka strategi yang dapat dilakukan oleh pihak pemerintah adalah melalui departemen perindustrian dan ATK, dengan memberian pelatihan, pendampingan, dan pengawasan yang rutin untuk meningkatkan kemampuan pengrajin dalam berinovasi model produk, pencatatan administrasi keuangan yang teratur, pelatihan ketrampilan, contoh nyatannya berupa pelatihan pembuatan produk dari kulit pari yang sedang digemari masyarakat, atau pelatihan penggunaan teknologi informasi sebagai media promosi. Pelatihan ini arus dilakukan secara kontinyu dan dilakukan pendampingan dan pengawasan sampai industri kulit Manding mampu melakukan sendiri.
d. WO4: Mengoptimalkan fungsi paguyuban pengrajin Manding (W1; W2; W5; O1; O2).
Mengoptimalkan fungsi paguyuban pengrajin Manding untuk membina para pengrajin agar aktif mengikuti pelatihan dan acara-acara pameran yang diselenggarakan pemerintah daerah agar memperluas jaringan kerjasama sekaligus sebagai media promosi, serta paguyuban dapat memfasilitasi dan mendampingi pengrajin Manding dalam administrasi peminjaman kredit bagi IKM. Ini untuk menangkap peluang ketersediaan kredit IKM dan menanggulangi permasalahan minimnya promosi dan sempitnya jaringan kerjasama, dan permasalahan minimnya tenaga terampil baik dalam hal produksi, administrasi keuangan maupun kemampuan berinovasi. Pendampingan administrasi dalam pengajuan pinjaman modal akan menangani permasalahan permodalan.
3. Strategi ST (Stregths – Threats) :
Merupakan alternatif strategi difersifikasi yang dihasilkan dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan dengan cara menghindari ancaman, yaitu :
a. ST1: Mengetatkan persyaratan pendirian showroom produk kulit di wilayah Manding (S1; S2; T2).
memperebutkan pasar akan semakin ketat, untuk menekan pelaku baru masuk strategi yang dapat dilakukan adalah membatasi pendirian showroom produk kulit di wilayah Manding yang kepemilikanya bukan dari pengrajin Manding, serta barang-barang yang ditawarkan bukan berasal dari pengrajin Manding. Ini untuk menekan jumlah pesaing baru yang ingin memanfaatkan nama besar Manding dan lokasi Manding yang strategis. Streatgi ini hanya dapat dilakukan oleh pihak pemerintah daerah Kabupaten Bantul.
b. ST2: Tetap menjaga mutu produk dengan harga bersaing (S4; T3; T4).
Strategi untuk tetap menjaga mutu produk dan dengan memberikan harga yang relatif lebih murah terhadap pesaing, ini akan menekan pemain baru masuk, tetap bisa bersaing dengan pengusaha sejenis, serta memenangkan produk substitusi.
4. Strategi WT (Weaknesses – Threats) :
Merupakan alternatif strategi defensif (bertahan) yang dihasilkan dengan cara mengantisipasi atau menghindari ancaman dari eksternal serta meminimalkan kelemahan-kelemahan yang dimiliki, yaitu :
a. WT1: Memproduksi produk kulit yang unik dan dalam jumlah terbatas (W3; W5;
T3; T4).
Memproduksi produk kulit yang unik dan dalam jumlah terbatas, sehingga menimbukan kesan eksklusif, sehingga merebut segmen pasar yang berbeda dengan perusahaan besar, serta meminimalkan kekuatan produk substitusi. Produksi dengan jumlah yang tebatas maka pembelian bahan baku kulit samak juga tidak banyak sehingga strategi ini cocok untuk industri yang memiliki modal yang terbatas. Kesan ekslusive dapat diciptakan dengan Desain produk yang jarang ditemukan dipasaran, maka inovasi Desain produk harus ditingkatkan.
b. WT2: BBKKP dan ATK mengembangkan teknologi penyamakan kulit dalam
Permasalah mengenai tingginya harga bahan baku disebabkan mutu kulit samak impor lebih bagus dibandingkan kulit samak lokal. Maka pemerintah perlu melakukan strategi yaitu melalui BBKKP dan ATK mengembangkan teknologi penyamakan kulit dalam negeri.
Startegi yang ditujukan untuk pihak pemerintah dan diluar kendali industri kulit di Manding adalah (ST1) mengetatkan persyaratan pendirian showroom produk kulit di wilayah Manding; (WO3) pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan ATK memberikan pelatihan, pendampingan, dan pengawasan yang rutin; dan (WT2) BBKKP dan ATK mengembangkan teknologi penyamakan kulit dalam negeri, maka untuk selanjutnya strategi ini tidak diukutkan dalam tahap pemilihan prioritas strategi dengan metode QSPM.
Matriks Perencanaan Strategi Kuantitatif (QSPM)
Tahap keputusan berfungsi untuk memilih strategi terbaik dari antara strategi yang diimplementasikan di perusahaan, yang diperoleh dengan menggunakan analisis SWOT matriks. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan matriks QSPM (David 2009). Matrik QSPM dibuat untuk memutuskan dan menentukan strategi terbaik yang dapat direkomendasikan kepada perusahaan. Prioritas strategi yang dihasilkan oleh QSPM merupakan strategi yang diandalkan dan menjadi prioritas untuk menghadapi peluang dan ancaman serta kekuatan dan kelamahan yang dimiliki oleh perusahaan. Hasil akhirnya, strategi yang diusulkan disajikan dalam urutan prioritas. Strategi yang memiliki TAS (Total Attractiveness Score) terbesar ditunjuk sebagai prioritas pertama dan paling penting di antara strategi lain.
Hasil analisis matriks SWOT memberikan beberapa alternatif strategi yang mungkin dilakukan oleh perusahaan berdasarkan pada lingkungan internal dan eksternal perusahaan yang mempengaruhinya. Pada analisis QSPM, alternatif tersebut diprioritaskan berdasarkan tingkat keterkaitan kepada lingkungan internal dan eksternal perusahaan, sehingga alternatif tersebut dapat dilakukan berdasarkan tingkatan prioritas kepentingannya. Tabel QSPM dapat dilihat pada Tabel 20.
Pembobotan pada masing-masing faktor internal dan eksternal yang digunakan pada matriks QSPM adalah sama dengan bobot yang digunakan pada matriks IFE dan EFE sebelumnya. Sedangkan penilaian AS (Attractiveness Score) didapat dari hasil kuisioner terhadap para pakar industri kulit di Bantul. Berdasarkan hasil diskusi dengan pakar, pencocokan permasalahan dengan strategi, serta penilaian melalui QSPM, urutan prioritas strategi yang diusulkan untuk industri kulit di Manding adalah;
1. Melakukan pemasaran berbasis internet, dengan jumlah TAS 9.442.
2. Pemberian informasi produk dan merk dagang, dengan jumlah TAS 8.901.
3. Mengoptimalkan fungsi paguyuban pengrajin Manding, dengan jumlah TAS
7.644.
4. Menjalin kerjasama dengan pihak travel agen pariwisata, dengan jumlah TAS 7.394.
5. Tetap menjaga mutu produk dengan harga bersaing, dengan jumlah TAS 7.304.
6. Memproduksi produk kulit yang unik dan dalam jumlah terbatas, dengan jumlah TAS 7.138.
7. Pengembangan produk kulit ikan pari yang sedang digemari masyarakat, dengan
jumlah TAS 7.008.
8. Mendirikan showroom milik bersama serta menambahan fasilitas umum, dengan jumlah TAS 6.325.
Tabel 20 Matriks QSPM
Faktor Strategis Bobot
Alternatif Strategi
SO1 SO2 SO3 ST2 WO1 WO2 WO4 WT1
AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS S1 : Lokasi usaha yang
strategis 0.064 8 0.511 6 0.383 2 0.128 3 0.192 7 0.447 1 0.064 4 0.255 5 0.319 S2 : Nama besar manding,
desa wisata 0.085 8 0.681 7 0.596 1 0.085 2 0.170 6 0.511 3 0.255 4 0.341 5 0.426 S3 : Terjaminnya ketersediaan bahan baku 0.069 1 0.069 3 0.208 6 0.416 8 0.555 2 0.139 7 0.486 5 0.347 4 0.277 S4 : Kualitas produk memuaskan 0.097 2 0.194 5 0.484 6 0.581 8 0.775 1 0.097 7 0.678 4 0.387 3 0.291
S5 : Kental suasana kekeluargaan dalam
bisnis 0.036 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 S6 : Harga produk lebih
murah 0.058 4 0.234 7 0.409 6 0.350 8 0.467 2 0.117 5 0.292 1 0.058 3 0.175 S7 : Produk unik sesuai
pesanan 0.067 2 0.133 6 0.400 7 0.466 5 0.333 1 0.067 8 0.533 3 0.200 4 0.266 W1 : Jaringan kerjasama terbatas 0.099 7 0.692 6 0.593 2 0.198 3 0.297 4 0.396 1 0.099 8 0.791 5 0.495 W2 : promosi kurang agresif, 0.082 7 0.572 6 0.490 3 0.245 1 0.082 4 0.327 2 0.163 8 0.654 5 0.409 W3 : Inovasi desain produk rendah 0.071 2 0.143 6 0.429 7 0.500 5 0.357 1 0.071 8 0.571 3 0.214 4 0.286 W4 : Tidak ada merk
dagang 0.043 4 0.170 7 0.298 3 0.128 2 0.085 6 0.255 5 0.213 1 0.043 8 0.341 W5 : Keterbatasan modal, sarana prasarana umum 0.062 2 0.124 3 0.185 4 0.247 1 0.062 6 0.371 5 0.309 8 0.495 7 0.433 W6 : Showroom (sedikit milik pengrajin, menjual produk luar
manding) 0.067 4 0.269 7 0.471 2 0.135 1 0.067 8 0.538 3 0.202 5 0.337 6 0.404 W7 : Tingkat pendidikan
rendah 0.100 3 0.299 7 0.697 5 0.498 4 0.398 1 0.100 6 0.598 8 0.797 2 0.199
Tabel 20 Matriks QSPM (lanjutan)
Faktor Strategis Bobot
Alternatif Strategi
SO1 SO2 SO3 ST2 WO1 WO2 WO4 WT1
AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS O1 : Ketersediaan kredit bagi IKM 0.063 2 0.125 5 0.313 6 0.375 1 0.063 7 0.438 4 0.250 8 0.500 3 0.188 O2 : Dukungan pemerintah 0.095 7 0.668 6 0.573 4 0.382 1 0.095 8 0.764 3 0.286 5 0.477 2 0.191 O3 : Jumlah penduduk meningkat 0.044 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 O4 : Keunikan produk kulit 0.080 3 0.239 5 0.398 7 0.558 6 0.478 2 0.159 8 0.637 1 0.080 4 0.319 O5 : Teknologi informasi 0.055 7 0.385 8 0.440 2 0.110 4 0.220 1 0.055 6 0.330 3 0.165 5 0.275 O6 : Produk kulit pari
yang sedang
O7 : produk sepatu, jaket dan tas merupakan kebutuhan pokok 0.058 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 T1 : Kenaikan harga BBM 0.099 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 T2 : Mudahnya pemain baru masuk 0.045 7 0.313 8 0.357 3 0.134 2 0.089 6 0.268 1 0.045 4 0.179 5 0.223 T3 : Keberadaan perusahaan sejenis 0.096 7 0.673 8 0.769 1 0.096 4 0.385 3 0.288 6 0.577 2 0.192 5 0.481 T4 : Adanya produk substitusi 0.067 5 0.333 4 0.266 2 0.133 7 0.466 6 0.400 8 0.533 3 0.200 1 0.067 T5 : Bahan baku impor
lebih berkualitas 0.060 4 0.242 3 0.181 2 0.121 7 0.423 1 0.060 8 0.484 6 0.363 5 0.302 T6 : Kulit imitasi
semakin menyerupai kulit
asli 0.065 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 0 0.000 T7 : Bahan baku relative
mahal 0.099 1 0.099 2 0.198 6 0.593 8 0.791 3 0.297 7 0.692 5 0.495 4 0.396 2.00 100 7.394 129 9.442 94 7.008 97 7.304 88 6.315 120 8.901 100 7.644 100 7.138
Urutan strategi prioritas 4 1 7 5 8 2 3 6
Strategi yang memiliki TAS terbesar ditunjuk sebagai prioritas pertama dan paling penting di antara strategi lain. Peran penting disini mengacu kepada peran dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi (David 2009). Berdasarkan nilai TAS QSPM terbesar maka terdapat tiga alternatif strategi prioritas yang relevan untuk dijalankan oleh perusahaan yaitu: melakukan pemasaran berbasis internet; pemberian informasi produk dan merk dagang; dan mengoptimalkan fungsi paguyuban pengrajin Manding. Ketiga strategi tersebut dinilai mampu mengatasi permasalahan utama pengrajin kulit di Manding yaitu permasalahan pemasaran serta permasalahan permodalan, sehingga dengan teratasinya permasalahan utama dinilai mampu meningkatkan daya saing industri kulit di sentra industri kulit Manding.
Validasi adalah proses penentuan apakah model, sebagai konseptualisasi atau abstraksi, merupakan representasi berarti dan akurat dari sistem nyata? (Hoover dan Perry, 1989). Validasi strategi dalam penelitian ini adalah proses penentuan apakah strategi yang dihasilkan dan terpilih sesuai dengan permintaan para pakar, sebagai responden, untuk mengatasi permasalahan nyata di industri kulit Manding, sehingga dapat meningkatkan daya saingnya.
Strategi bersaing yang diterapkan pelaku industri kulit di Manding saat ini adalah: memberikan kartu nama pada konsumen yang telah membeli, itu pun juga jika konsumen meminta; terkadang mengikuti pameran yang ditawarkan oleh pemerintah; memberi potongan kepada pembeli yang membeli dalam jumlah yang besar; memajangan produk di showroom. Strategi ini kurang efektif dalam menarik minat kosumen dan memperluas area pemasaran. Strategi bersaing yang diusulkan dari hasil penelitian ini lebih agresif dalam menarik minat konsumen dan tepat dalam menangani permasalahan yang menyebabkan rendahnya daya saing industri kulit di Manding. Dibandingkan dengan pesaingnya yaitu industri kulit Cibaduyut, Mojokerto, Tanggulangin, dan Garut, secara mutu dan harga produk Manding cukup bersaing, hanya saja model produk kurang bervariasi, promosi sangat minim dan jaringan kerjasama pemasaran yang sempit.
Industri kulit di Manding dapat melaksanakan berbagai strategi dalam upaya peningkatan daya saingnya. Implementasi strategi peningkatan daya saing ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada di dalam lingkungan perusahaan maupun yang ada diluar lingkungan perusahaan. Berdasarkan identifiksi permasalahan faktor pemasaran merupakan faktor yang paling berpengaruh karena faktor pemasaran akan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam mencapai penjualan, pasar maupun profitabilitas. Permasalahan kedua adalah permodalan, yang menyangkut operasional dan pengembangan industri.
Strategi pertama yaitu dengan melakukan pemasaran berbasis internet. Hasil validasi terhadap pakar adalah: strategi pemasaran berbasis internet sangat baik untuk mendukung pengembangan sentra industri kulit di Manding, ini disebabkan pemasaran produk kulit Manding saat ini masih bersifat konvensional dan sulit
berkembang. Aplikasi dapat berupa pembuatan website atau toko online, bergabung dalam forum jual beli seperti jualbeli.com, berniaga.com dan kaskus.com, maupun penggunaan media sosial seperti facebookdan twitter sebagai sarana promosi dan transaksi online.
Kefektifan pemasaran berbasis internet dikarenakan media internet sudah menjadi gaya dan kebutuhan hidup saat ini. Berbagai informasi dapat diperoleh dengan mengakses internet, jaringan social dan forum jual beli juga sangat digemari masyarakat saat ini. Keunggulan pemasaran berbasis internet atau bisa disebut toko
online adalah: jika ingin mengembangkan pasarnya tanpa dukungan modal cukup, toko online membawa keuntungan dari segi set-up toko yang murah; mampu menjangkau pelanggan atau area pasar baru; serta efektifitas dan efisiensi operasional toko online, dari sisi biaya, waktu, tenaga kerja, serta kefektifan kegiatan promosi. Keuntungan lain mempunyai online shop adalah dari sisi kemudahan pengelolaan produk, kemudahan pengelolaan produk bisa dimiliki mulai dari input deskripsi