(i) untuk pajak-pajak yang dipungut di Negara sumbernya, atas penghasilan yang diperoleh pada atau setelah tanggal 1 Januari tahun berikutnya sesudah berlakunya
PERUSAHAAN-PERUSAHAAN YANG SALING BERHUBUNGAN Jika:
(a) suatu perusahaan dari suatu Negara ikut ambil bagian baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kepengurusan, pengawasan atau permodalan dari suatu perusahaan di Negara lain; atau
(b) orang-orang atau badan-badan yang sama ikut ambil bagian baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kepengurusan, pengawasan atau permodalan suatu perusahaan dari suatu Negara dan
juga suatu perusahaan di Negara lain;
dan dalam salah satu dari kedua hal itu, dibuat atau diterapkan syarat-syarat yang berbeda dengan syarat-syarat yang dibuat atau dikenakan di antara dua perusahaan yang masing masing berdiri sendiri, maka setiap laba yang seharusnya jatuh pada salah satu perusahaan sekiranya syarat-syarat itu tidak ada, tetapi tidak diperoleh karena adanya syarat-syarat tersebut, dapat ditambahkan ke dalam laba perusahaan tersebut dan dikenakan pajak.
Pasal 11 DIVIDEN
1. (a) Dividen yang dibayarkan oleh suatu badan yang berkedudukan di Inggeris kepada penduduk Indonesia dapat dikenakan pajak di Indonesia.
(b) Jika penduduk Indonesia berhak atas potongan pajak (tax-credit) sehubungan dengan dividen seperti disebut dalam ayat (2) Pasal ini, pajak dapat juga dikenakan di Inggeris dan sesuai dengan perundang-undangan Inggeris, atas jumlah atau nilai dari dividen itu, dan potongan pajak dimaksud tidak melebihi 15 persen.
(c) Kecuali jika dividen tersebut dibayarkan oleh suatu badan yang berkedudukan di Inggeris kepada penduduk Indonesia dan dikenakan pajak di Indonesia, maka akan dibebaskan dari setiap pengenaan pajak di Inggeris.
2. Penduduk Indonesia yang menerima dividen dari suatu badan yang berkedudukan di Inggeris, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan ayat (3) Pasal ini dan asalkan ia dikenakan pajak atas dividen tersebut di Indonesia, berhak atas potongan pajak sama halnya dengan penduduk Inggeris bila ia
menerima dividen itu dan atas pembayaran setiap kelebihan potongan pajak yang melampaui kewajibannya terhadap pajak Inggeris.
3. Ayat (2) Pasal ini tidak akan berlaku jika penerima dividen adalah suatu badan yang sendiri atau bersama dengan satu atau lebih badan-badan yang saling berhubungan mengawasi langsung atau tidak langsung paling sedikit 10 persen dari hak suara dalam badan yang membayarkan dividen tersebut. Untuk kepentingan ayat ini dua perseroan akan dianggap saling berhubungan jika salah satu diawasi langsung atau tidak langsung oleh yang lainnya, atau keduanya diawasi langsung atau tidak langsung oleh suatu badan ketiga.
4. Dividen yang dibayarkan suatu badan yang berkedudukan di Indonesia kepada penduduk Inggeris dapat dikenakan pajak di Inggeris. Dividen itu dapat juga dikenakan pajak di Indonesia tetapi jika penerima dividen tersebut adalah penduduk Inggeris yang wajib membayar pajak atas dividen tersebut di inggeris, pajak yang dikenakan di Indonesia tidak akan melebihi :
(a) 10 persen dari jumlah kotor dividen tersebut jika penerimanya adalah suatu badan yang mengawasi langsung atau tidak langsung paling sedikit 25 persen dari hak suara di badan yang membayarkan dividen itu.
(b) dalam hal-hal lainnya 15 persen dari jumlah kotor dividen.
5. Ayat-ayat terdahulu dari pasal ini tidak akan mempengaruhi pengenaan pajak terhadap badan itu atas laba di mana dividen dibayarkan.
6. Istilah "dividen" seperti yang digunakan dalam Pasal ini berarti pendapatan dari saham saham, saham jouissance atau hak jouissance, saham-saham pendiri atau hak-hak lain, yang bukan merupakan tagihan piutang, yang ikut serta dalam pembagian laba, juga pendapatan dari hak-hak perseroan lainnya yang diperlakukan sama seperti pendapatan dari saham-saham oleh perundang-undangan pajak Negara tempat kedudukan badan yang membagikan dividen dan juga termasuk setiap bagian lain (kecuali bunga yang dibebaskan dari pajak seperti ketentuan-ketentuan dari Pasal 12) yang diperlukan seperti suatu pembagian laba berdasarkan perundang-undangan pajak Negara tempat kedudukan badan yang melakukan pembayaran.
7. Ketentuan-ketentuan ayat-ayat (1) dan (2) atau, melihat masalahnya, ayat (4) Pasal ini tidak akan berlaku jika penerima dividen yang merupakan penduduk dari suatu Negara memiliki suatu kedudukan tetap di Negara lain, di mana badan yang membayarkan dividen juga berkedudukan, dan penguasaan saham-saham atas nama dividen dibayarkan, mempunyai hubungan efektif dengan usaha yang dijalankan melalui kedudukan tetap itu. Dalam hal demikian ketentuan-ketentuan Pasal 8 akan berlaku. 8. Jika suatu badan yang berkedudukan di suatu Negara memperoleh keuntungan atau pendapatan dari
Negara lain, Negara lain tersebut tidak akan mengenakan pajak apapun atas dividen yang dibayarkan oleh badan itu kepada orang/badan yang tidak berkedudukan di Negara lain itu atau mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagikan, meskipun deviden yang dibayarkan atau laba yang tidak dibagikan itu terdiri seluruhnya atau sebagian dari keuntungan atau pendapatan yang diperoleh dari Negara lain itu.
Pasal 12 BUNGA
1. Bunga yang berasal dari suatu Negara dan dibayarkan kepada penduduk di Negara lain dapat dikenakan pajak di Negara lain itu.
2. Meskipun demikian, bunga itu dapat juga dikenakan pajak di Negara tempat asal bunga tersebut, dan menurut perundang-undangan Negara itu; tetapi jika bunga itu dibayarkan kepada penduduk Negara lain yang wajib membayar pajak di situ, pajak yang dikenakan di Negara tempat asal bunga tersebut
tidak akan melebihi 15 persen dari jumlah kotor bunga itu.
3. Menyimpang dari ketentuan-ketentuan ayat (2) Pasal ini pajak yang dikenakan oleh Negara tempat asal bunga tidak akan melebihi 10 persen dari jumlah kotor bunga itu, jika :
(a) bunga tersebut terhutang oleh bank atau lembaga keuangan atau oleh suatu perusahaan terutama yang bergerak dalam bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, industri barang-barang, pengangkutan, proyek perumahan rakyat, parawisata dan prasarana, dan
(b) bunga tersebut diterima oleh suatu bank atau lembaga keuangan atau oleh suatu perusahaan lain. 4. Menyimpang dari ketentuan-ketentuan ayat (2) dan (3) Pasal ini bunga yang berasal dari suatu Negara
dan diterima oleh pemerintah atau badan-badan yang dibentuk oleh pemerintah Negara lain akan dibebaskan dari pajak di Negara yang disebut pertama.
5. Istilah "bunga" seperti yang digunakan dalam Pasal ini berarti pendapatan dari surat-surat perbendaharaan Negara, obligasi atau surat hutang baik yang dijamin hipotik ataupun tidak dan baik yang berhak ataupun tidak untuk ikut serta dalam pembagian laba, dan semua bentuk tagihan piutang lainnya dan juga semua pendapatan lain yang dipersamakan dengan pendapatan dari pinjaman uang oleh perundang-undangan Negara tempat asal bunga tersebut.
6. Ketentuan-ketentuan ayat (1), (2) dan (3) Pasal ini tidak akan berlaku jika penerima bunga yang merupakan penduduk suatu Negara memiliki suatu kedudukan tetap di Negara lain di tempat di mana bunga berasal, dan tagihan hutang atas nama bunga dibayarkan mempunyai hubungan efektif dengan
usaha yang dijalankan melalui kedudukan tetap itu.
Dalam hal demikian, ketentuan-ketentuan Pasal 8 akan berlaku.
7. Bunga akan dianggap berasal dari suatu Negara jika pembayarannya adalah Negara itu sendiri,
pemerintah daerah/lokal dari Negara itu atau penduduk Negara itu.
Bagaimanapun jika orang/badan yang membayarkan bunga, baik ia penduduk suatu Negara ataupun bukan, memiliki kedudukan tetap di suatu Negara dalam hubungan mana hutang yang menyebabkan pembayaran bunga itu dibuat, dan bunga itu menjadi beban kedudukan tetap, maka bunga itu dianggap berasal dari Negara dimana kedudukan tetap itu berada.
8. Jika di antara penerima dan pembayar bunga terdapat hubungan istimewa atau di antara keduanya dengan orang/badan lain, jumlah bunga yang dibayarkan, setelah memperhatikan tagihan piutang untuk mana bunga dibayar melebihi jumlah yang seharusnya telah disetujui oleh penerima dan pembayar bila tidak ada hubungan seperti itu, ketentuan-ketentuan Pasal ini hanya akan berlaku untuk jumlah yang disebut terakhir. Dalam hal demikian, bagian kelebihan pembayaran akan tetap dikenakan pajak menurut perundang-undangan masing masing Negara, dengan memperhatikan ketentuan- ketentuan lainnya dalam Persetujuan ini.
Pasal 13 ROYALTI
1. Royalty yang berasal dari suatu Negara dan dibayarkan kepada penduduk Negara lain dapat dikenakan pajak di Negara lain itu.
2. Namun demikian royalty itu juga dapat dikenakan pajak di Negara di mana royalty itu berasal dan sesuai dengan perundang-undangan Negara itu; tetapi jika royalty itu dibayarkan kepada penduduk Negara lain yang wajib membayar pajak di situ, maka pajak yang dikenakan di Negara tempat asal royalty tidak akan melebihi 10 persen dari jumlah kotor royalty.
apapun yang diterima karena menggunakan, atau hak menggunakan, setiap hak cipta karya kesusasteraan, kesenian atau karya ilmiah (termasuk film bioskop, dan film atau rekaman untuk siaran radio atau televisi), setiap patent, merek dagang, desain atau model, rencana rumus rahasia atau cara pengolahan, atau karena menggunakan hak atau hak menggunakan peralatan industri, perdagangan atau ilmu pengetahuan, atau karena informasi mengenai pengalaman di bidang industri, perdagangan atau ilmu pengetahuan.
4. Ketentuan-ketentuan ayat (1) dan (2) Pasal ini tidak akan berlaku jika penerima royalty yang merupakan penduduk dari suatu Negara memiliki suatu kedudukan tetap di Negara tempat asal royalty dan hak atau milik yang mengakibatkan timbulnya royalty itu mempunyai hubungan efektif dengan
usaha yang dijalankan melalui kedudukan tetap itu.
Dalam hal demikian, ketentuan-ketentuan Pasal 8 akan berlaku.
5. Royalty akan dianggap berasal dari suatu Negara jika pembayarannya adalah Negara itu sendiri,
pemerintah daerah/lokal atau penduduk Negara itu.
Bagaimanapun, jika orang/badan yang membayar royalty, baik ia penduduk dari suatu Negara ataupun bukan, memiliki suatu kedudukan tetap di Negara lain dalam hubungan mana kewajiban untuk membayar royalty itu telah dibuat dan royalty tersebut menjadi beban kedudukan tetap itu, maka royalty itu akan dianggap berasal dari Negara tempat kedudukan tetap tersebut berada.
6. Jika di antara penerima dan pembayaran terdapat hubungan istimewa atau di antara keduanya dengan orang/badan lain, jumlah royalty yang dibayarkan, setelah memperhatikan penggunaan, hak atau informasi untuk mana royalty dibayarkan, melebihi jumlah yang seharusnya telah disetujui oleh penerima dan pembayar royalty bila tidak ada hubungan seperti itu, ketentuan-ketentuan Pasal ini
hanya akan berlaku pada jumlah yang disebutkan terakhir.
Dalam hal demikian bagian kelebihan pembayaran akan tetap dikenakan pajak menurut perundang- undangan masing-masing Negara, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan lainnya dalam Persetujuan ini.
Pasal 14