untuk digunakan oleh Perhutani, pesanggem dan LMDH harus merelakannya. Meski keinginan kami untuk memperpanjang kontrak belum terealisasi, kami tetap berusaha semaksimal mungkin dan tetap menjaga perdamaian dengan pihak terkait
„kita ajak diskusi secara lisan dan memberikan kelonggaran‟, itu alasan kami membiarkan pesanggem tetap menggarap lahan tersebut.”119
Penjelasan dari Mantri Perhutani tersebut di atas menegaskan bahwa memang secara kontrak kerjasama tertulis tidak ada setelah peristiwa tahun 2016, tetapi untuk pengelolaan lahan di bawah tegakan, Perhutani membiarkan dan membolehkan para pesanggem dengan dibina oleh LMDH melakukannya. Hal ini menyiratkan bahwa para pesanggem masih memiliki hak atas pengelolaan lahan di bawah tegakan milik Perhutani. Legalitas ini tidak lantas memberikan kebolehan para pesanggem untuk melakukan transaksi ijarah dengan penyewa atau penggarap yang bukan diketahui oleh Perhutani. Sebab secara tidak langsung, meskipun hanya secara lisan, dalam kesepakatan antara Perhutani, LMDH dan pesanggem pasca 2016, yang diamanati untuk melakukan pengelolaan adalah pesanggem dan bukan pihak lain.
Dalam kasus di Desa Gesengan perlu diluruskan, bahwa lahan yang menjadi objek sewa menyewa diantara para pesanggem, maupun antara pesanggem dengan petani lain adalah milik Perhutani. Sehingga, pemilik sah, maupun yang berwenang mengambil keputusan kepada siapakah lahan tersebut di sewakan adalah pihak Perhutani, bukan pesanggem atau petani penggarap.
Perjanjian sewa menyewa kedua belah pihak tanpa setahu Perhutani, dan tanpa adanya keterangan perjanjian hitam diatas putih (hanya lisan saja) yang mampu mengarah pada perselisihan. Apalagi, objek sewa tersebut memiliki kekuatan hukum siapa wewenang yang sah.
Objek sewa menyewa harus jelas dan dibenarkan oleh syara‘. Barang sebagai objek sewa menyewa harus:
1. Dapat diserahkan sebagaimaan penyerahan harga (adanya serah terima).
2. Objek sewa menyewa dapat dimanfaatkan sampai kepada masa yang disepakati.
3. Manfaat benda dapat dipahami dan dikenal.
119 Sunoto, Wawancara Mantri Perhutani, Tanggal 1 September 2019.
4. Penyerahan sewa harus sempurna yakni adanya jaminan keselamatan objek sewa sampai kepada masa yang disepakati.120
Pada item 1, obyek sewa harus bisa diserahterimakan salah satunya dapat diartikan bahwa obyek yang menjadi akad adalah obyek yang tidak sedang dalam perselisihan atau dapat menimbulkan perselisihan. Secara kepemilikan, obyek ijarah antara pesanggem dan penyewa adalah milik Perhutani. Dalam hal ini, meski tidak secara langsung mengetahui dari pesanggem sebagai pihak yang dipasrahi, namun adanya pengetahuan setelahnya (dari pihak penyewa) dan dilanjutkan dengan pembiaran dengan pertimbangan aspek manfaat dan kerugian, hal ini mengindikasikan bahwa Perhutani membiarkan atau membolehkan adanya praktek ijarah lahan Perhutani antara pesanggem dan penyewa.
“Bagi kami yang terpenting adalah mengedepankan klausul sosial dalam program pemerintah yakni berbagi tepat, ruang, lahan untuk tujuan ketahanan pangan.
Apalagi para pesanggem juga mengetahui konsekuensi dari kebolehan mengelola lahan tersebut. Dengan demikian, ada upaya untuk saling mendapat keuntungan dari keberadaan hutan produksi di wilayah Desa Gesengan Mbak.”121
Dengan demikian dapat diketahui bahwa terkait dengan keberadaan obyek akad ijarah telah menjadi jelas dengan adanya pemahaman dari Perhutani. Terlebih lagi, dalam akad ijarah antara pesanggem dan penyewa juga disertakan ketentuan untuk tidak melakukan perusakan serta keharusan melakukan pengelolaan lahan dengan baik dan benar. Hal ini dapat terlihat dari isi perjanjian lisan antara pesanggem dan penyewa yang poin-poinnya adalah sebagai berikut:
1. Penyewa harus membayar uang sewa di awal akad dengan ketentuan pembagian sebanyak 40%
bagi pemberi sewa dan 60% untuk penyewa dari perolehan hasil banyaknya rupiah panenan terdahulu dihitung dalam waktu satu tahun, karena pada umumnya lahan tersebut rata-rata ditanami dengan pohon ketela. Untuk penyewa prosentasenya lebih banyak karena untuk biaya ganti pembiayaan modal, dan disepakati kedua belah pihak.
2. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman polowijo.
3. Harus menjaga keamanan lingkungan lokasi tanam.
120 Abi Abdullah Muhammad Bin Idris Asy-Syafe‘I, Al-Umm, Juz IV, (Beriut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah), 30-32.
121 Mohadi, Wawancara Asper Ngarengan LHK Pati, Tanggal 1 September 2019
63
4. Saat jangka waktu berakhir maka penyewa harus mengembalikan lahan pertanian kepada pemberi sewa.
Selain aspek para pihak yang berakad, sighat akad, serta kejelasan obyek akad ijarah, hal penting lain yang harus diperhatikan dalam akad ijarah adalah adanya nilai manfaat manfaat penggunaan aset, bukan penggunaan aset itu sendiri. Manfaat harus bisa dinilai dan diniatkan untuk dipenuhi dalam kontrak, dan pemenuhan manfaat atau manfaat itu sendiri harus diperbolehkan secara syar‘I, serta kemampuan untuk memenuhi manfaat harus harus nyata dan sesuai dengan sayri‘ah.
Manfaat harus dikenali sedemikian rupa sehingga bisa menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa. Manfaat dispesifikasikan dengan menyatakan objek atau jangka waktu, bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik.122.
Aspek manfaat juga menjadi unsur yang ditegaskan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia dalam ijarah yang meliputi:
a. Manfaat barang dan sewa, atau b. Manfaat jasa dan upah.
Manfaat barang dan sewa adalah manfaat dari barang yang menjadi objek sewa menyewa.
Tidak lain yaitu tanah borgan (nama lahan perhutani yang di garap oleh pesanggem Desa Gesengan).
Manfaat dari borgan harus jelas, yakni sebagai lahan untuk bercocok tanam pesanggem agar memperoleh pengahsilan dari hasil panen supaya dapat menyokong perekonomian masyarakat Desa Gesengan. Dalam kata lain, sebagai mata pencaharian warga. Sedangkan manfaat jasa dan upah adalah pembayaran sewa, yakni masyarakat pesanggem menggunakan uang rupiah degan besaran sesuai harga ketela di pasaran hitung dengan luas area yang di sewakan serta hasil panen tahun terdahulu. Besaran harga sewa sudah menjadi tradisi turun temurun Desa Gesengan, sehingga masyarakat sudah faham penghitunganya. Serta di pastikan kedua manfaat ini terhindar dari maksiat, seperti barang maupun jasa diperguanakan untuk maksiat, satau hal-hal yang dilarang oleh agama
122 Dimyauddin Zuhri Qudsy, Pengantar Fiqih Muamalah, (Yogyakarta: Pustakan Pelajar, 2008), hlm. 159.
termasuk adanya paksaan dari salah satu pihak yang tidak sesuai dengan syara‘. Ketentuan ini sesuai dengan Q.S an-Nisa‘ ayat 29:
َّٓلَِإ ِوِطََٰبْىٱِب مُنَىْيَب مُنَى ََُْٰمَأ ۟ا ُُٓيُمْأَح َلَ ۟اُُىَماَء َهيِرَّىٱ بٍَُّيَأََٰٓي َلَ ََ ۚ ْمُنىِّم ٍضا َسَح هَع ًة َس ََٰجِح َنُُنَح نَأ
بًمي ِح َز ْمُنِب َنبَم َ َّللَّٱ َّنِإ ۚ ْمُنَسُفوَأ ۟ا ُُٓيُخْقَح
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (Q.S 4 [an-Nisa‟] :29)
Di ketahuai bahwa, manfaat telah dikenali sedemikian rupa oleh penyewa dan piahak yang menyewakan. Baik spesifikasi dari objek nya, jangka waktu penyewaan dengan rata-rata satu tahun, serta jelasnya manfaat lahan itu sebagai lahan bercocok tanam. Juga mengetahui perjanjian PLDT (Penanaman lahan Dibawah Tegakan). Penyewa telah mengetahui lahan yang akan di garapnya, seperti apakah jumlah pohon jati dalam petak tersebut apakah masih lengkap atau sudah berkurang.
Uang sewa juga dibayar diawal akad, sehingga tidak mempengaruhi rukun dan syarat sewa menyewa.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa dari aspek rukun dan syarat ijarah, praktek ijarah telah memenuhi syarat. Selain itu, praktek sewa menyewa lahan Perhutani di Desa Gesengan yang dilakukan oleh pesanggem juga terkandung unsur menjauhkan kemadlaratan yang diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kemadlaratan dari kehalalan rizki. Tindakan Perhutani dengan membiarkan serta tidak melarang atau menghentikan kerjasama kebolehan pesanggem maupun penyewa untuk mengelola lahan di bawah tegakan merupakan cerminan dari upaya Perhutani untuk tetap menjaga aspek halal dalam usaha mencari rizki. Hal ini sangat penting karena dalam Islam, rizki tidak hanya dituntut baik saja tetapi juga harus diperoleh dengan jalan yang halal.
2. Kemadlaratan dari kerugian negara. Pada dekade 90-an pernah terjadi penjarahan hutan oleh masyarakat sekitar hutan, termasuk Desa Gesengan. Oleh sebab itu, menurut penulis, langkah yang dilakukan oleh Perhutani sangat tepat. Dengan mengutamakan program pemerintah ketahanan pangan program pemerintah yakni berbagi ruang, tempat, lahan dengan masyarakat,
65
untuk pemerataan ekonomi. Meski mengalami kerugian secara materiil langsung, keuntungan yang diperoleh adalah Negara mampu menekan akngka kemiskinan terutama di Desa Gesengan.
Jika tidak diperbolehkan mengelola lahan Perhutani, tentu masyarakat yang tidak memiliki lahan tidak mempunyai tambahan pendapatan yang berakibat sulitnya upaya meningkatkan pendapatan.
Kondisi ini tentu akan menciptakan masyarakat pra sejahtera yang berakibat pada kerugian negara.
3. Kemadlaratan dari perbuatan melanggar hukum. Pembiaran yang cenderung membolehkan pesanggem melakukan akad ijarah di lahan perhutani secara tidak langsung juga melindungi masyarakat dari perbuatan melanggar hukum. Yakni dalam keabsahan akad dalam surat perjanjian tahun sebelumnya. selain dari itu, dikawatirkan masyarakat melakukan penjarahan hutan akibat tidak terlaksananya berbagi ruang seperti pada masa lalu, sebab sadarnya masyarakat akan hak manfaat hutan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sewa menyewa yang dilaksanakan oleh pesanggem dan penyewa di lahan milik Perhutani dapat diterima dalam hukum Islam karena adanya pengetahuan Perhutani, meskipun secara tidak langsung, terhadap praktek sewa menyewa.
Bahkan secara kaidah hukum, praktek ijarah tersebut berkesesuaian dengan kaidah hukum, sebagaimana berbunyi:
رْلارُءْرَد ر دَقُمرِدِساَفَم رِحِلاَصَمْلار ٍبْلَُرىَلَع رٌمر
Bahwa menolak kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan.
Intinya, bila mashlahat dan mafsadat bertententangan, maka secara umum, diutamakan menolak mafsadat terlebih dahulu.123 Imam Izzuddin bin Abd al-Salam mengatakan bahwa seluruh Syari‘ah itu adalah maslahat, baik dengan car amenolak mafsadat atau dengan cara meraih maslahat.
Kerja manusia itu ada yang membawa kepada maslahat, ada pula yang menyebabkan mafsadat.
Seluruh yang maslahat diperintahkan oleh Syari‘ah dan seluruh yang mafsadat dilarang oleh syari‘ah.124
123 A. Ghozali Ihsan, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, (Semarang: Basscom Multimedia Grafika, 2015), 86-87.
124 Izzuddin bin Abd al-Salam, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-„Anam, Juz I(Dar al-Jail, 1980), 11.
66
BAB VPENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan serta analisa yang telah dilakukan terhadap kasus praktek ijarah di lahan pertanian di Desa Gesengan antara pesanggem dengan penyewa dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Praktek sewa menyewa antara pesanggem dengan penyewa tidak melanggar ketentuan hukum positif didalam Pasal 3 huruf b, d dan e Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Hal ini karena dilakukan setelah berakhirnya pernjanjian tertulis yang berlanjut dengan upaya kesepakatan lisan antara Perhutani, pihak pesanggem dan LMDH yang mana dalam upaya menyongsong ketahanan pangan tersebut tidak ada pembahasan terkait larangan pemindahtanganan pengelolaan lahan milik Perhutani.
2. Dalam tinjauan hukum Islam, praktek sewa menyewa antara pesanggem dan penyewa di lahan milik Perhutani juga tidak melanggar hukum Islam karena didasarkan pada pertimbangan aspek kemadharatan dari kehalalan rizki, kemadharatan dari kerugian Negara, serta kemadharatan dari perbuatan melanggar hukum. Praktek ijarah tersebut berkesesuaian Bahwa menolak kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan.
B. Saran
Berdasarkan temuan-temuan di lapangan, ada beberapa saran yang dapat penulis ajukan terkait dengan praktek ijarah antara pesanggem dengan penyewa di lahan milik Perhutani yaitu:
1. Perlu kiranya perjanjian kerjasama yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan lahan milik negara, dalam hal ini hutan milik Perhutani, dibuat sesederhana mungkin dan membuka peluang sebesar-besarnya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tanpa mengurangi aspek keamanan dan menghindari kerugian negara.
2. Perlu adanya pendidikan terhadap masyarakat terkait dengan hukum yang berlaku dalam kehidupan, khususnya hukum yang berhubungan dengan perilaku ekonomi. Pendidikan hukum yang dimaksud tentunya adalah pendidikan hukum positif dan pendidikan hukum Islam.
C. Penutup
Demikian hasil penelitian yang dapat penulis paparkan. Bercermin dari ungkapan ―tiada gading yang tak retak‖ maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki hasil penelitian ini. Di luar kekurangan dalam skripsi ini, semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi dan dalam kehidupan masyarakat secara luas serta dalam khasanah keilmuan muamalah.