BAB II KAJIAN TEORI
4. Pesantren dan Pendidikan Sosial
pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur di tengah masyarakat multikultural, pengembangan pendidikan Islam yang dilakukan oleh pondok
pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur di tengah masyarakat multikultural kabupaten Jembarana, provinsi Bali, faktor pendukung dan penghambat
eksistensi pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur di tengah masyarakat multikultural kabupaten Jembarana, provinsi Bali. Pada tahap ini
juga dilakukan penyederhanaan data yang diberikan oleh informan maupun
subjek penelitian serta diadakan perbaikan dari segi bahasa maupun
sistematikanya agar dalam pelaporan hasil penelitian tidak diragukan lagi
keabsahannya.
I. Sistematika Pembahasan
Dalam pembahasan dan kajian penelitian Eksistensi Pondok Pesantren
Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur di tengah Masyarakat Multikultural Kabupaten Jembrana Provinsi Bali, maka peneliti menyusun sistematika pembahasan sebagai
berikut:
BAB I. Pendahuluan yang di dalamnya terdapat sub pembahasan antara
lain tentang A. Konteks Penelitian, B. Batasan Masalah, C. Rumusan Masalah, D.
Tujuan Penelitian, E. Kegunaan Penelitian, F. Telaah Pustaka, G. Penelitian
Terdahulu. H. Sistematika Pembahasan.
BAB II. Kajian Teori berisi tentang teori, konsep, pengertian yang dipakai
dalam penelitian ini A. Eksistensi Pesantren 1. Fungsi Pondok Pesantren, 2.
Landasan Pondok Pesantren dalam Islam, 3. Pesantren sebagai lembaga
multikultural B. Pesantren dan Sistem Sosial yang meliputi: 1. Makna sistem
sosial, 2. Pesantren dan sistem sosial, 3. Sistem nilai-nilai Pesantren, 4. Pesantren
dan dinamika sosial. C. Masyarakat Multukultural yang meliputi 1. Pengertian
Masyarakat, 2. Pengertian Multikulturalisme, 3. Landasan Multikulturalisme
dalam Islam, 4. Masyarakat Multikultural.
BAB III. Dalam bab ini khusus membahas tentang Paparan Data yang
meliputi A. Profil pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur yang
meliputi 1. Sejarah pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur, 2.
Lembaga-lembaga pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur. B.
Eksistensi Pondok Pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur Jembrana Bali di Tengah Masyarakat Multikultural yang terdiri dari 1. Fase Pendiri/Pengasuh I
(1930-1976), 2. Fase Pengasuh II (1976-saat ini), Selanjutnya C. Upaya yang
dilakukan pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur dalam
mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat multikultural kabupaten
Jembrana provinsi Bali yang terdiri dari 1. Mendirikan Lembaga Formal (R.A
Manba’ul ‘Ulum, Mts Manba’ul ‘Ulum, M.A. Manba’ul ‘Ulum, 2. Membentuk Manajemen Yayasan, 3. Mendirikan PKSM (Peningkatan Kualitas Santri
Manba’ul ‘Ulum), 4. Mengadakan perkumpulan lailah adz-dhikri,5. Mendirikan BMT, 6. Mengadakan perkumpulan alumni, 7. Mengadakan kegiatan One Day
One Juz . Dan yang terkahir D. Faktor Pendukung dan Penghambat
eksistensi pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur di tengah masyarakat MultikulturalJembrana Bali
BAB VI. Pembahasan Temuan Penelitian, berisikan tentang A. eksistensi
pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur di tengah masyarakat multikultural, B. Upaya pondok pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur dalam
mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat multikultural Kabupaten
Jembrana Provinsi Bali. C. Faktor pendukung dan penghambat eksistensi pondok
pesantren Manba’ul ‘Ulum Loloan Timur di tengah masyarakat multikultural
kabupaten Jembrana Provinsi Bali
BAB V Penutup yang terdiri dari A. Kesimpulan, B. Implikasi teoritik, C.
BAB II KAJIAN TEORI A. Eksistensi Pesantren
1. Fungsi Pondok Pesantren
Fungsi pesantren sejak masa awal berdirinya sampai dengan masa
kurun waktu sekarang mengalami perkembangan. Visi, posisi, dan
persepsinya terhadap dunia luar telah berubah. Pada masa awal (masa Syaikh
Maulana Malik Ibrahim) berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penyiaran
agama Islam. Kedua fungsi ini bergerak saling menunjang1. Pendidikan dapat
dijadikan bekal dalam mengumandangkan dakwah, sedang dakwah dapat
dimanfaatkan sebagai sarana dalam membangun sistem pendidikan.
Menurut Ma’shum sebagaimana dikutip Qomar2 fungsi pesantren semula mencakup tiga aspek yaitu fungsi religius (diniyyah), fungsi sosial
(Ijtimaiyyah), dan fungsi edukasi (tarbawiyyah). Ketiga fungsi ini masih
berlangsung hingga sekarang. Seiiring perkembangan pesantren saat ini,
pesantren berperan dalam berbagai bidang lainnya secara multidimensional.
Seperti peran ekonomi masyarakat, politik, juga tidak sedikit pesantren yang
ikut menanggulangi masalah nasional seperti narkotika baik secara
institusional maupun personal.
1Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokrasi Institusi. (Jakarta: Erlangga, 2005), 22.
Pesantren sebagai pusat pengembangan masyarakat dalam
menjalankan fungsinya harus dan bahkan suatu keniscayaan untuk
menintegrasikan pengembangan ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu
pengetahuan teknologi. Dengan demikian alumni pesantren dapat beradaptasi
dengan perubahan lingkungan sekitar atau perkembangan zaman yang ada.
Menurut Nurcholis Madjid, pesantren memiliki posisi sebagai pengembang
amanat ganda (duo mission); yaitu amanat keagamaan dan moral, dan amanat
ilmu pengetahuan yang dikembangkan secara serentak dan proporsional,
sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.3 Sedangkan menurut
Azyumardi Azra4 bahwa tugas pokok pesantren pada esensinya adalah
mewujudkan manusia dan masyarakat muslim Indonesia yang beriman dan
bertakwa kepada Allah SWT. Dalam kaitan ini pesantren bahkan diharapkan
berfungsi lebih dari pada itu; ia diharapkan dapat memikul tugas yang tak
kalah pentingnya, yakni reproduksi ulama.
2. Landasan Pondok Pesantren dalam Islam
Landasan pondok pesantren secara normatif terdapat dalam al-Qur’an
surat Ar-Ruum ayat 30-31 sebagaimana berikut:
3 Nurcholis Madjid, Bilik-bilik PesantrenSuatu Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997), 116
4 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III (Jakarta: Kencana, 2012), 45.
Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) ; sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (30). Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (31).
Ayat diatas menjadi landasan eksistensi pesantren sebagai lembaga
pendidikan Islam yang megajarkan ajaran Tauhid sebagai pondasi utama
dalam beragama, dan pengamalan ajaran Islam yang dilaksanakan di pondok
pesantren. Seperti shalat berjama’ah, belajar ilmu al-Qur’an dan juga kitab-kitab klasik sebagai referensi dalam menjalankan syari’at Islam.
3. Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam
Pesantren secara historis menjadi lembaga pendidikan tertua di
Indonesia yang mulai ada sejak dakwah Islam itu disyia’arkan oleh para wali
songo. Dengan demikian, pesantren menjadi lembaga yang diinisiasi oleh
masyarakat dalam hal pendidikan agama. Pesantren dalam melaksanakan
fungsinya sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki dua misi.5 Pendidikan
5 Mohammad Tidjani Djauhari, Masa Depan Pesantren: Agenda yang Belum Terselesaikan (Jakarta: Taj Publishing, 2008), 88.
umat secara umum, yakni dengan menyiapkan pemuda-pemudi Islam untuk
menjadi umat berkualitas (Khaira Ummah) dalam berbagai bidang terutama
dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana tertulis dalam
al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 110 yakni:
Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.6
Dalam kapasitas mereka sebagai khalifatullah fil-ardh. Kedua misinya
sebagai lembaga pendidikan pengkaderan ulama, agent of exellence, dan
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Selain misi
tersebut, pesantren juga memiliki misi dakwah Islam baik bil hal maupun bil
lisan, karena dakwah merupakan kelanjutan risalah Rasulullah SAW dan menjadi tugas seluruh lapisan umat Islam.7 Termasuk dalam hal ini mendidik
masyarakat, dan dengan perannya di tengah masyarakat pesantren menjadi
pusat pengembangan pendidikan (center of education development) yang
mampu mendidik masyarakat melalui kegiatan ta’lim dan juga kegiatan
6 Al-Qur’an Kementrian Agama, Versi 1.3.3.9, Ali ‘Imran (3:110)
keagamaan bagi masyarakat. Karena pesantren juga berasal dari dukungan
masyarakat serta untuk memperjuangkan masyarakat.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki
tujuan khusus dalam proses pendidikan maupun pembelajaran. Dalam hal ini,
Qomar menguraikan tujuan tersebut yakni: Pertama, mendidik santri menjadi
seorang muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, cerdas,
terampil, sehat lahir dan batin dan memahami norma sosial, budaya dan
Pancasila; Kedua, mendidik santri untuk menjadikan dirinya sebagai ulama
dan mubaligh yang ikhlas, tabah, tangguh dan senantiasa mengamalkan
ajaran Islam secara utuh dan dinamis; Ketiga, mendidik santri untuk
memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat
menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun
dirinya dan bertanggung jawab kepada pembangunan bangsa dan negara;
Keempat, mendidik tenaga-tenaga penyuluh pembangunan mikro (keluarga)
dan regional (pedesaan/masyarakat/lingkungan); Kelima, mendidik santri
agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan,
khususnya kesejahteraan sosial masyarakat lingkungan dalam rangka
mendukung pembangunan masyarakat bangsa.8 Dari uraian diatas dapat
dipahami bahwa dalam proses pendidikan di pesantren yang berlandaskan
pada ajaran Islam baik etika, moral (akhlak) yang baik juga menanamkan
8 Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam, Dari Metode Rasional hingga Metode KritikI
cinta tanah air dengan ikut serta dalam proses pembangunan bangsa. Dengan
kata lain, para santri dituntut untuk menjalankan nilai-nilai Islam dan belajar
bermasyarakat di lingkungan mereka berada.
Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional
yang genuine Indonesia disebut juga sebagai lembaga alternatif dan
akomodatif. Terutama jika ditinjau dari transformasi lembaga yang ada di
pesantren. Dari lembaga non formal dilengkapi dengan lembaga formal,
kemudian dari lembaga yang bernaung dibawah kementrian agama, ditambah
dengan lembaga yang bernaung di kementrian pendidikan dan kebudayaan.
Dari sekolah tinggi agama Islam menuju Universitas yang terdiri dari
bermacam fakultas. Hal ini semakin menunjukkan kontribusi pesantren
sebagai sub pendidikan Nasional yang turut serta dalam pembangunan bangsa
dan menjadi jawaban dari aspirasi dan kebutuhan masyarakat di era saat ini.
4. Pesantren dan pendidikan sosial
Pesantren dengan berbagai elemen atau komponen di dalamnya yang
saling terkait dapat dikatan sebagai sebuah sistem. Sebuah sistem yang
kemudian diorganisir secara sistematis dan terpadu dapat memberikan
kontribusi terhadap masyarakat. Dan hal ini sudah jelas dibuktikan dengan
peran serta kontribusi pesantren sejal awal masa berdirinya. Ada tiga
karakter dasar yang memungkinkan pesantren memberi kontribusi besar
dalam mengembangkan pendidikan kemasyarakatan (sosial) dan
terpadu dengan masyarakat, 2) Sistem pembelajaran bersifat intensif karena
santri 24 jam tinggal di pondok, 3). Karakter pembelajaran di pesantren yang
berbasis Islam memungkinkan ditafsirkan secara universal termasuk dalam
konteks sosial dan kebudayaan.9