BAB III GAMBARAN UMUM DAKWAH SYEIKH DAUD BIN
B. Strategi Dakwah Syeikh Daud bin Abdullah
2. Pesantren sebagai basis awal Perkembangan
Patani dan Lengka Muhmud Zuhdi bin Abdulrahman Al-Patani.
Dari ulama-ulama ini, maka pengembangan Dakwah Islam di Patani sesuai dengan kondisi dan situasi yang didalam keadaan terjajah. Peran mereka yang paling utama adalah memperkenalkan karya-karya tulisan dalam bidang ilmu keagamaan dan penumbuhan pondok pesantren, sehingga menjelang abad ke-20, di Patani telah ada Pondok Pesantren sebanyak 256 buah yang terdaftar secara resmi dengan Pemerintah Siam (Thailand), dan dipercaya masih banyak pesantren-pesantren yang belum mendaftarkan walaupun ada tekanan-tekanan dari Pemerintah Siam (Thailand) itu sendiri (Yusuf, 1999: 35-36).
2. Pesantren sebagai basis awal Perkembangan Islam di Patani
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran kehadiran unsur-unsur pra-lslam tak bisa di lepaskan begitu saja. Dalam kebudayaan Hindu-Budha di wilayah Nusantara (termasuk Patani), peranan tokoh agama atau
guru dalam masyarakat sudah dikenal dengan luas. Dalam masyarakat Patani Buddha tokoh keagamaan di sebut dengan Khu Ba (guru yang terhormat) dan Phrakhru (guru yang dimuliakan). Para pengikutnya mengikuti pelajaran tersebut di daerah-daerah yang terpencil dan jauh dari kota. Pada akhirnya murid-murid yang sedang menimba ilmu tersebut mendirikan sebuah gubuk-gubuk kecil di sekitar tempat tinggal gurunya dan mengikuti pelajaran keagamaannya untuk jangka waktu tertentu. Tempat belajar tersebut (pondok yang kita sebut dalam agama Islam) disebut ashram. Tempat tersebut menjadi sebuah lembaga keagamaan yang berfungsi menyebar luaskan pengetahuan keagamaan dan menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang masih awam soal keagamaan serta ingin mempelajari agama dengan baik. Dengan demikian ashram secara bahasa berarti “pondokan spiritual”. Saat kawasan Asia Tenggara berubah menjadi dunia Islam, sistem kebudayaan dan lembaga tradisonal masih tetap utuh dan berjalan. Lembaga-lembaga itu hanya perlu beralih dan diberi ciri-ciri lslam. Di wilayah Timur Tengah lembaga pendidikan lslam tradisional di sebut (Dayah) yang berkaitan dengan masjid-masjid sebagai lembaga pendidikan (Haidar Putra Daulay, 2007: 25).
Materi yang dipelajari oleh Syeikh Daud adalah Al-Quran dan kitab klasik yang membahas fiqih, tauhid, tasawuf dan lain-lain. Pendidikan ini juga berlangsung bersamaan dengan proses lslamisasi di wilayah Asia Tenggara melalui jaringan ulama yang memunculkan semangat baru. Sebelumnya belum ada masjid yang berdiri sebagai pusat dakwah dan sarana pendidikan maka didalam lingkup kehidupan masyarakat Melayu (termasuk Patani) tak ada lembaga yang memberikan pengajaran tentang agama Islam hal ini di karenakan masyarakat muslim belumlah terbentuk dan terstruktur dengan baik. Namun dalam perkembangannya masyarakat muslim ini sedikit demi sedikit mulai terbentuk, sehingga memerlukan wadah untuk ibadah, belajar dan berkumpulnya para pemuda yang telah baligh agar bisa melaksanakan ibadah shalat sekaligus media pendidikan keagamaan bisa terselenggara maka bangunan kecil yang bernama surau dipergunankan untuk itu. Bangunan surau ini merupakan akulturasi budaya lokal yang telah ada sebelumnya. Dalam kegunaannya terdahulu surau merupakan tempat pemujaan terhadap nenek moyang mereka yang menganut Hindu Budha, animisme, dan dinamisme. Dalam proses Islamisasi, surau tidak mengalammi perubahan makna dan fungsi yakni tempat ibadah namun fungsi sebagai lembaga keagamaan
lebih di tekankan sebagai sarana untuk pendidikan maka surau memiliki peranan penting dalam kemajuan intelektual Islam di wilayah Nusantara. Di dalam surau ini lah para murid yang belajar mendapatkan pendidikan dasar keagamaan. Pelajaran awal yang diberikan adalah membaca huruf hijaiyyah (iqra) dan setelah menguasai baru membaca al-Quran. Setelah itu juga mempelajari tata cara beribadah dengan baik dan benar (fiqih), serta masalah keimanan. Pendidikan tingkat al-Quran dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1. Tingkat rendah, merupakan tingkat pemula, yaitu mengenal huruf al-Quran, pengajian ini dilakukan setelah Shalat maghrib hingga Isya dan setelah shalat subuh. 2. Tingkat atas, pengajian tersebut di tambah dengan pelajaran tajwid, hukum baca, kitab barzanji. Lambat laun pengajian dan rutinitas ibadah shalat yang di adakan disuaru tidak lagi cukup untuk menampung para murid dan jamaah yang belajar dan menunaikan ibadah shalat, maka seiring perkembangan waktu tempat tersebut diubah ke bangunan yang lebih besar lagi daya tampungnya. Maka berdirilah bangunan yang lebih bessar dari surau yaitu, masjid. Kata masjid berasal dari kosakata bahasa Arab yakni sajada yang artinya tempat sujud. Masiid ini didirikan guna menampung jumlah jamaah dan murid yang bertambah seiring pesatnya pertumbuhan lslam di suatu daerah.
Fungsi utamanya tetap menjadi tempat untuk beribadah shalat lima waktu dan shalat Jumat. Masjid juga merupakan lembaga pendidikan seperti surau namun kapasitasnya lebih banyak dan luas, sehingga dalam pembelajarannya dapat di bagi-bagi menjadi beberapa kelompok belajar. Sistem pengajaran di masjid memakai sistem halaqah, yaitu seoarang guru atau Kyai membaca dan menerangakan pelajaran sedangkan para murid mendengarkan setiap ucapan yang dikeluarkan oleh guru atau kyai. Sebelumnya para murid diminta untai mempelajari kitab tertentu untuk dibahas sehingga murid bisa memahami setiap materi yang akan di sampaikan oleh guru. Dalam sistem pengajaran tersebut ada, metode yang digunakan yaitu bandongan, sorogan dan wetonan. Metode bandongan adalah dimana seorang guru membaca dan menjelaskan isi sebuah kitab kemudian para murid mengelilingi gurunya dan membawa kitab yang sama, mendengarkan dan mencatat penjelasan yang diberikan gurunya berkenaan dengan bahasan yang ada dalam kitab tersebut pada lembara kitab atau kertas catatan. Kemudian metode sorogan merupakan metode dimana murid menyodorkan kitab kepada gurunya, kemudian guru memberikan penjelasan bagaimana cara membaca, menghafal dan bagaimana cara menterjemahkan kitab. Sedangkan metode weton berasal dari bahas jawa yang
memiliki arti berkala atau waktu tertentu. Metode weton bukan merupakan pengajian nutin harian namun pada saat tertentu misalnya pada waktu setiap selesai shalat jumat atau waktu lainnya. Para murid yang belajar tersebut berasal dari pelbagai daerah sekitar, ada yang singgah untuk sementara waktu di rumah kyai atau yang pergi pulang Karena jumlah murid yang berasal dari luar daerah semakin banyak maka tidak mungkin tinggal di rumah sang Kyai karena keterbatasan tempat. Maka untuk mengatasi hal itu para murid membangun sebuah bagunan yang sedang untuk di tinggali selama mereka menuntut ilmu. Bangunan tersebut didirikan tidak jauh dari lingkungan masjid. Sebetulnya model bangunan tersebut merupakan asimilasi kebudayaan terdahulu dengan kebudayaan yang baru yakni lslam. Bangunan tersebut dinamakan ashram, maka ashram sendiri diberi nama dari bahasa Arab Findug (motel, hotel, singgah) (Surin Pitsuwan, 1989: 37).
Banyak pula sejarawan terdahulu telah menyebutkan lembaga pendidikan seperti pondok, namun diantara para sejarawan itu belum ada yang bisa memberikan penjelasan yang memuaskan mengenai asal usulnya pondok tersebut. Guru dalam pondok atau pesantren (di Jawa) di kenal sebagai kiyai yang berasal
dari kata orang yang bijaksana dalam bahasa Jawa (Clifford Geertz, 1983: 177-178).
Sedikit penjelasan diatas memungkinkan menjadi landasan dari lembaga pendidikan Islam tradisional yang dikenal sebagai pondok, orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji tentunya juga ingin menyerap lembaga-lembaga sosial yang sudah ada agar mudah diterima dan tetap ada hubungannya dengan rakyat yang masih terikat kepada tradisi. Peran orang bijaksana dan tempat mereka mengajar di ashram sangat dihargai dalam kebudayaan India, dan para penyebar agama lslam tinggal memindahkannya saja dan memberikan sentuhan Arab. Dengan demikian orang bijaksana itu menjadi alim atau Kiyai dan ashram atau tempat pemondokan religius menjadi pondok pesantren. Ini merupakan hal yang baik dalam penyesuaian kebudayaan atau akulturasi yang terjadi apabila dua kebudayaan saling bertemu.
Khususnya di daerah Patani, lembaga pondok tumbuh menjadi sebuah lambang kebangaan bagi orang-orang Melayu muslim untuk beraspirasi dalam bidang pendidikan Islam serta melambangkan sebuah institusi pendidikan yang unggul dan menjadi kebangaan umat Islam, sistem pendidikan tersebut tidak langsamg serentak dengan datangnya Islam di wilayah tersebut. Dalam sistem pendidikannya para ulamalah y ang
memberikan bimbingan serta pengajaran Islam kepada santri-santrinya dalam upaya menunaikan kewajiban agama, dan pondok juga berfungsi sebagai model segala keutamaan lslam dan wawasan-wawasan yang baik serta etis bagi para santri yang belajar dan masyarakat muslim di pondok (Surin Pitsuwan, 1989: 138).
Para santri-santri yang menempuh pendidikan di pondok akan dihormati oleh masyarakat setempat karena merekalah yang akan pertama kali di ajak untuk menghadiri acara syukuran di samping acara-acara Islam lainnya seperti pembacaan tahlil, pembacaan maulid. Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan dapat menghindari mereka dari hal-hal yang kurang baik, seperti berkumpul-kumpul, berjalan-jalan tak ada tujuan dan sebaginya. Bagi masyarakat melayu Muslim (termasuk Patani) pondok dan penghuninya merupakan komunitas yang sakral yang misinya adalah menyampaikan Islam sejati kepada masyarakat marginal, seperti di daerah Jawa (Clifford Geertz, 1983: 121-130).
Santri pondok (dek pondok) dianggap sebagai orang miskin dan musafir yang mencari ilmu Islam yang diwajibkan kepada mereka. Untuk mendapatkan penghasilan para santri (dek pondok) membantu masyarakat sekitar dengan melakukan ritual-ritual keagamaan yang berkaitan dengan kelahiran, kematian,
perkawinan, dan peristiwa-peristiwa amal dan kebaikan lainnya sumbangan yang paling bermanfaat bagi para santri (dek pondok) walaupun mereka masih belajar adalah kegiatan dakwah di kalangan masyarakat Muslim yang tinggal jauh dari pusat kegiatan keagamaan dan masih suka melakukan kegiatan atau praktek animistik. Maka setiap bulan puasa dan hari-hari besar Islam lainnya seperti Maulid Nabi, Idul Adha, dan pada waktu panen, santri-santri ini berkeliling ke seluruh pelosok pedesaan untuk berdakwah dan menerima sedekah dari masyarakat (Surin Pitsuwan, 1989: 140).
Dengan begitu maka tercipta hubungan yang sangat akrab antara lembaga pondok dan masyarakat Muslim-Melayu pada umumnya. Para santri melakukan fungsi-fungsi sosial dan keagamaan, sementara mereka juga memperoleh pendapatan dari masyarakat.
Hampir semua Kiyai atau Guru To Khru Guru Kehormatan) adalah bergelar Haji. Tapi tidak semua Haji di wilayah Thailand Selatan (termasuk Patani) memiliki pondok sendiri orang yang telah menunaikan ibadah Haji (di kenal sebagai Tok Haji) memiliki otoritas moral atas penduduk di desa. Tapi Kiyai atau Guru yang juga Haji memiliki pengaruh moral yang jauh lebh besar, sebab ilmu agama yang mereka miliki dianggap berasal langsung dari sumbernya dan karena lebih murni serta
lebih mendekati ajaran dan sunnah Nabi. Kebanyakan Kiyai atau Guru menguasai bahasa Arab klasik dan Jawi (bahasa Melayu dengan aksara Jawi). Semua buku pelajaran ditulis dalam bahasa Arab klasik atau Jawi. Pada saat pemerintahan Siam Thai menlancarkan upaya intergrasi bahasa Thai tidak digunakan apalagi diajarkan di pondok. Kiyai atau Guru tetap menerapkan sistem pendidikan tradisonal dan tidak mengubahnya menjadi lembaga pendidikan yang sekuler di mana bahasa Thai menjadi bahasa pengantar dan pendidikan agama hanya menjadi bagian kecil dari kurikulum. Pondok-pondok yang ada di wilayah Thailand Selatan (termasuk Patani) lebih menyukai metode tradisional yakni membaca dan mengomentari buku-buku pelajaran klasik, daripada cara mengajar dalam ruang kelas menurut jadwal waktu yang sudah ditentukan.
Pendidikan agama itu sendiri dianggap sebagai ibadah oleh orang Melayu-Muslim, maka pelajarannya berlangsung diantara waktu-waktu shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Maka Masjid yang berada di lingkungan pondok juga berfungsi sebagai tempat belajar, dimana begitu selesai shalat berjamaah dimana Kiyai atau Guru menjadi imamnya kemudian setelah selesai shalat maka Kiyai atau Guru itu menghadap kepada ma‟mum yang juga para santri untuk memulai pengajaran yakni
mengutip dan mengomentari nash-nash dari buku klasik sampai waktu shalat berikutnya. Pada umumnya yang diajarkan dalam pondok adalah mengaji al-Quran (Qira-at), tafsir, hadits, asas-asas ilmu hukum (Ushul al-Fiqh), hukum Islam (Fiqh), tata bahasa dan konjungsi (Nahwu dan Sharaf, teologi Tauhid atau Ushuludin, logika (mantiq), sejarah (Tarikh), mistik (tassawuf) dan etika (Akhlak) (Surin Pitsuwan 1989: 143).
Puncak kejayaan pengajian pondok adalah pada abad ke-19 M. Pada zaman tersebut lslam telah berkembang dengan pesatnya di mana aktivitas penterjemahan dan penyusunan buku-buku giat dilakukan. Kitab-kitab yang berbahasa Arab Jawi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan di sebarluaskan ke setiap pondok-pondok yang berada di Patani dan menjadi pedoman utama dalam pengajaran. Hal ini karena semakin banyak masyarakat Muslim yang pergi menunaikan ibadah haji di Mekkah dan mereka semakin mengerti dan peka terhadap perkembangan lslam dan kemaslahatan umat. Dalam periode abad ke-19 M ini keilmuan Islam mencapai puncak kejayaannya dengan hadirnya Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fatani dan ulama lainnya yang sezaman. Di samping itu juga banyak karya sufi dan tauhid telah diterjemahkan kedalam bahasa Melayu. Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fathoni bersama
Syeikh Abush shamad Al-Palimbani bertanggung jawab membangkitkan kembali kegemilangan Imam Al-Ghazali di alam Melayu. Karya agung mereka adalah Minhaj al-Abidin ila jannat Rab al-Alamin yang di terbitkan di Mekkah pada tahun 1824 M merupakan koleksi terjemahan dari tiga buah karya lmam al- Ghazali yaitu Ihya Ulumuddin, Kitab Asrar, dan kitab Qurbah llallah, Kitab Minhaj al-abidin tersebut telah tersebar ke seluruh kepulauan Melayu dan karya tersebut begitu terkenal di kalangan tarikat lkhwan Naqshabandiyah (Wan kamal Mujani, 2003: 229).
Walaupun tidak banyak penjelasan mengenai perkembangan pondok secara luas oleh sejarawan terdahulu, tetapi bedasarkan jumlah buku-buku yang dihasilkan oleh Ulama-ulama Patani, baik yang telah hilang ataupun yang masih dipergunakan hingga sekarang jelas telah menunjukan bahwa pengajian pondok di Patani telah berkembang pesat dan mencapai puncaknya. Pekembangan ini selaras dengan kedudukan Patani yang dahulu pernah berjuluk “Serambi Mekkah” dan “Cermin Mekkah” (Wankamal Mujani, 2003: 231).
3. Perkembangan Islam di Patani sebelum Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fathoni
Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathoni bukan ulama pertama yang melakukan pengajaran lslam di
daerah Patani. Banyak ulama-ulama terdahulu yang telah memberikan pengajaran Islam di daerah Patani salah satunya adalah keluarga dari Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathoni itu sendiri. Kedatangan lslam sudah ada dan bersiar pada masa pemerintahan kerajaan Sukothai di abad ke tiga belas, yang terjalin dari hubungan dagang dengan pedagang muslim. Kemudian muncul kerajaan Ayutthaya sebagai pengganti kerajaan Sukothai yang runtuh pada abad ke empat belas, yang pada saat itu Islam telah memiliki kekuatan politik. Kemudian banyak para muslim tersebut di angkat oleh Raja untuk di jadikan perdana menteri dan pejabat penting di kerajaannya. Peran orang-orang muslim sebagai menteri. pejabat tinggi dan pedagang yang dekat dengan Raja menjadikan mereka kelompok yang berpengaruh di Istana (Ibnu Muhammad Ibrahim, 1972: 94-97).
Islam mungkin saja sudah menyebar secara luas tak hanya di kalangan istana saja namun sudah ke pelosok-pelosok daerah baik di pesisir pantai atau dalam pedesaan. Dalam kegiatan keagamaannya bercampur dengan keagamaan terdahulu yang sinkretisme. Praktek magis (permohonan) di antara rakyat desa adalah hal yang berbeda dari agama, yang merupakan Islam ortodoks. Kata Magi sendiri di definisikan sebagai “agama rakyat Melayu” hidup di antara orang-orang
Melayu, baik yang berkuasa ataupun yang dikuasai. Sebagai contoh pentingnya kegiatan magi sendiri bagi kalangan kerajaan adalah keyakinan kuat terhadap upacara tabal pusaka (atau secara bahasa, pelantikan leluhur) yang dilakukan pada sore hari hingga tengah malam. Kemudian harinya dilakukan tabal adat (yang bisa disebut sebagai pengukuhan) yang dilaksanakan pada hari upacara pelantikan suatu penguasa. Tentu saja kedua acara tersebut dilaksanakan dengan cara Islam, misalnya dengan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Magi sendiri terbagi dalam pelbagai macam bentuk seperti kegiatan ekonomi (menanam padi, menangkap ikan nelayan melakukan upacara tahunan yang disebut basemah, yang merupakan bentuk sesajian untuk terhindar dari ruh-ruh jahat), komtruksi bangunan (bangunan rumah atau sebagainya), siklus hidup manusia (kehamilan, kelahiran, penikahan, dan kematian), pengobatan tradisional, hiburan (permainan bayang-bayang, Nyabung ayam, adu kerbau), ramal-ramalan (membaca tanda-tanda dari dunia ruh), kehidupan pribadi (memikat lawan jenis). dan hubungan antar pribadi lainnya (magi cinta atau black magic).
Selain hal di atas tersebut masyarakat memiliki kepercayaan terhadap sesuatu yang keramat Kata „keramat‟ sendiri bisa diartikan sebagai „hal yang sakral‟.
Baik berbentuk benda mati atau benda hidup lainnya. Bebebrapa contoh keramat adalah bantuan karang yang berbentuk aneh, pohon-pohon besar yang tua umurnya dan sudah tidak utuh lagi bentuknya, kuburan yang ditemukan di tengah hutan, hewan-hewan yang berbentuk aneh (hewan albino, berkaki ganjil, dsb), dan terutama sesepuh pendiri desa yang memiliki pengetahuan lebih soal agama (Saifull Mujani, 1993: 70).
Aspek-aspek budaya dan keagamaan kehidupan daerah Patani sebelum kemunculan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathoni adalah gabungan dari dua tradisi pra-Islam dan Islam yang datang dari Timur Tengah, walaupun masyarakat Patani sudah memeluk Islam sejak abad 15 yang lalu. Selain di kalangan masyarakat Patani, kegiatan atau praktek magis masih di jalankan oleh raja-raja di kerajaan Patani. Mungkin karena pengaruh Budha. Mahayana yang begitu kuat dan turun temurun di dalam istana sehingga ke dua ajaran tersebut bercampur aduk menjadi sebuah agama sinkretisme. Ahli-ahli sejarah terdahulu berpendapat bahwasannya raja Patani sebelum Sultan Ismail Syah adalah raja-raja yang belum memeluk Islam walaupun agama lslam sudah ada dan mulai berkembang seperti contohnya pada tahun 1412 M (pada masa Phya Tu Kurub Mahajana) ada seorang dari ulama Patani yang
pergi ke Pulau Buton dan menyebarkan Islam. Raja setempat yang bernama Mulaesi-Gola menyambutnya dengan baik. Kemudian datang seorang Syeikh yang bernama Syeikh Said barsisa seorang bomoh atau tabib yang berasal dari Pasai pada tahun I457 M barulah raja di kerajaan Patani memeluk lslam. Raja pertama kali memeluk Islam adalah Phya Tu Nakpa keturunan dari Sultan Sulaiman syah yang memerintah di negeri Langkasuka (Wurawari). Sebagai bentuk rasa syukurnya karena telah memeluk Islam dan sebagi bentuk rasa tanggung jawab untuk mensyiarkan Islam maka Sultan Ismail Syah mendirikan sebuah masjid yang di beri nama Masjid Kerisek yang berasiterktur masjid- masjid di Asia Barat.
Setelah kewafatan Sultan lsmail Syah kemudian takhta kerajaan di berikan kepada cucu dari saudaranya yang bemaman Phya Tu Intira yang merupakan cucu dari Sultan Muhammad Tohir, Raja Ligor yang menikah dengan Dewi Cahaya. Dalam “sejarah Kerajaan Melayu Patani” disebutkan bahwa Syeikh Saifuddin yang mengajarkan lslam dan menglslamkan raja Phya Tu Intira (Raja Indra) yang memerintah di Pada kurun waktu 1500 M-1532 M, kemudian setelah memeluk agama Islam namanya berubah menjadi Sultan Muhammad Syah. Sebagai balas
jasa karena mengajarkan lslam kepada dirinya maka Sultan Muhammad Syah mengangkat Syeikh Safiuddin sebagai pembesar istana (mengajarkan hukum-hukum Islam di kalangan lstana) serta dianugrahi gelar Dato Seri Raja Pakeh.
Dikatakan bahwa para raja-raja Patani hanya meninggalkan makan babi dan tidak menyembah berhala tetapi masih memakai tradisi terdahulu dalam segala hal, seperti masih mempercayai ramalan dukun, jika ada yang meninggal hendaknya jangan melakukan kegiatan yang menimbulkan kegaduhan (menumbuk, benyanyi, menari) karena akan menganggu yang sudah mati dan penuh dengan atmalan-amalan khufarat dan bid‟ah. Dalam buku hikayat Patani (hum 74) (Bashan Abdul Halim, 1994: 51). menyebut, adapun raja itu sungguh pun ia membawa agama Islam, yang menyembah berhala dan makan babi itu juga yang di tinggalkan: lain daripada itu segala pekerjaan kafir itu suatu pun tiada diubahnya Pada masa pemerintahan Sultan Muzzafar Syah (1532 M-1565 M) amalan-amalan tersebut masih tetap berjalan. Sultan Mansur Syah membuat batu nisan yang terbuat dari emas untuk putrinya yang meninggal dunia saat masih berumur 5 tahun dan selama 40 hari orang-orang tidak diperbolehkan menumbuk, konon akan terganggu ruh anaknyan yang meninggal itu.
Kemudian seorang ahli ramal nasib yang bernama Along In menjadi seorang pengasuh anak dari Raja Bahadur dan menjadi ahli ramal nasib di istana. Raja Mas Cayam (keturunan raja Kelantan) telah mengasingkan anak angkat dari Long Yunus (pendiri keluarga Kerajaan Kelantan Modern) yang selama 15 tahun di asuh olehnya namun menurut ramalan ahli rama akan membawa kesialan dalam pemerintahannya, maka dari itu di asingkanlah anak angkatnya itu. Islam pada masa sebelum Daud bin Abdullah Al-Fathoni dikatakan masih Islam secara agamanya saja tidak keseluruhan dalam menjalankan syariatnya.
4. Perkembangan Islam di Patani semasa Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fathoni
Antara kegiatan Syeikh Daud ialah mengarang, mengajar dan mengurus ihwal Haji berkat penumpuan yang bersungguh-sungguh selama sepertiga abad (1809-1843) Syeikh Daud telah berjaya menghasilkan peratanya sebuah hingga dua buah karya ilmiah pada setiap tahun. Ini membuktikan betapa berminat beliau dalam bidang karang-mengarang, hampir keseluruhan karangan dihasilkan di bumi Hijaz (Mekkah dan Thoif).
Semua kitab karangan ditulis, diterjemah atau sadur dalam bahasa Jawi, tetapi kebanyakan memakai
judul-judul dalam bahasa Arab yang indah lagi menarik masalah-masalah kitab Arab yang tulisnya. Contohnya