• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEMBAHASAN

B. Kajian Teori

3. Peserta Didik Kelas Tinggi

Peserta didik kelas tinggi merupakan peserta didik yang berada pada jenjang kelas IV, V, dan VI di MIMA 30 Bustanul Ulum Ambulu.

G. Asumsi Penelitian

Asumsi penelitian merupakan sudut pandang peneliti terhadap suatu objek yang berfungsi sebagai dasar pemikiran dan tindakan dalam pelaksanaan

Hipotesis merupakan jawaban sementara yang diperlukan untuk memecahkan masalah penelitian. Jawaban dalam hipotesis masih bersifat praduga, sehingga untuk dapat membuktikan kebenarannya membutuhkan pembuktian melalui hasil pengujian secara empiris. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban empiris.28 Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan logis matematis dengan kedisiplinan belajar matematika pada peserta didik kelas tinggi

27 Abdul Mukhid, Metodologi Penelitian Pendekatan Kuantitatif, (Surabaya: CV. Jakad Media Publishing, 2014), 60

28 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2015), 64.

Kecerdasan Logis Matematis

(X)

Kedisiplinan Belajar Matematika (Y)

di MIMA 30 Bustanul Ulum Ambulu Jember Tahun Pelajaran 2022/2023.

H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan logis matematis dengan kedisiplinan belajar matematika pada peserta didik kelas tinggi di MIMA 30 Bustanul Ulum Ambulu Jember Tahun Pelajaran 2022/2023.

I. Sistematika Pembahasan

Pembahasan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:

BAB I atau pendahuluan, berisi sub bab latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, definisi operasional, hipotesis, dan sistematika pembahasan.

BAB II atau kajian pustaka, berisi dua sub bab penting dalam penelitian, di dalamnya terdapat penelitian terdahulu yaitu hasil penelitian yang memuat fakta dan memiliki relasi dengan penelitian yang akan dilakukan, kemudian terdapat pula sub bab kajian teori, di dalamnya berisi teori-teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Teori tersebut menjadi dasar pijakan bagi peneliti dalam melakukan penelitian.

BAB III atau metode penelitian, berisi tentang pendekatan dan jenis penelitian, populasi dan sampel, teknik dan instrumen pengumpulan data, dan analisis data.

BAB IV atau pembahasan, merupakan bab yang menjadi inti dalam penelitian, karena memuat tentang gambaran obyek penelitian, penyajian data, analisis data dan pengujian hipotesis, dan pembahasan.

BAB V atau penutup memuat kesimpulan dan saran. Kesimpulan menyajikan secara ringkas seluruh penemuan penelitian yang terkait dengan masalah penelitian yang diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Saran-saran dirumuskan berdasarkan hasil penelitian yang berisi uraian mengenai langkah-langkah apa yang harus diambil oleh pihak-pihak yang terkait dengan hasil penelitian yang bersangkutan.

20

penelitian menunjukkan bahwa nilai thitung = 53,3 > ttabel = 3,15 pada taraf signifikan 5%. Nilai thitung yang lebih besar dari ttabel menunjukkan bahwa Ha diterima dan H0 ditolak, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan verbal dan kecerdasan logika matematika terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika. 30

3. Penelitian yang dilakukan oleh Astriyati Lodhong Milsan dan Melkior Wewe yang berjudul “Hubungan Antara Kecerdasan Logis Matematis dengan Hasil Belajar Matematika”.

Penelitian yang dilakukan pada kelas V SD Gugus Bajawa I tahun ajaran 2016/2017 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecerdasan logis matematis dengan hasil belajar matematika peserta didik.

Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh besarnya hubungan antara kecerdasan logis matematis dengan hasil belajar matematika sebesar rxy = 0,866 dan rtabel untuk dk = 91 dan α = 0,05 adalah 0,207, sehingga rhitung >

rtabel. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecerdasan logis matematis dan hasil belajar matematika pada peserta didik kelas V SD Gugus Bajawa I tahun ajaran 2016/2017.31

4. Penelitian yang dilakukan oleh Supardi U. S. yang berjudul “Peran Kedisiplinan Belajar dan Kecerdasan Matematis Logis dalam Pembelajaran Matematika”.

30 Ayu Puspitasari, Rapani, dan Alben Ambarita, “Hubungan Kecerdasan Verbal dan Logika Matematika dengan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika”, Pedagogi:

Jurnal Pendidikan Dasar, Vol. 6, No. 2, 2018, 1-12

31 Astriyati Lodhong Milsan dan Melkior Wewe, “Hubungan Antara Kecerdasan Logis Matematis dengan Hasil Belajar Matematika”, Journal of Education Technology, Vol. 2, No. 2, 2018, 65-69.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh kedisiplinan belajar dan kecerdasan matematis logis terhadap prestasi belajar matematika pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 98 Jakarta. Hasil penelitian yang dilakukan pada 40 peserta didik kelas XI di tahun ajaran 2012/2013 menunjukkan hasil uji koefisien menggunakan analisis regresi berganda menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel atau 21,8 > 3,25, hal ini menunjukkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kedisiplinan belajar dan kecerdasan matematis logis terhadap prestasi belajar matematika.32

Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti laksanakan, maka lihatlah tabel berikut ini :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama Persamaan Perbedaan

1 2 3 4

1. Defi Efa Naibaho, Regina Sipayung, dan Darina Sofia Tanjung

(2020).

“Hubungan Disiplin Belajar dengan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V di SD Negeri 24 Tanjung Bunga”

1. Penelitian sama-sama mengkaji tentang kedisiplinan belajar.

2. Metode analisis datanya

menggunakan teknik analisis korelasi

pearson product moment

1. Penelitian terdahulu variabel bebasnya kedisiplinan belajar (X) dan variabel terikatnya adalah hasil belajar (Y), sedangkan penelitian ini variabel bebasnya adalah kecerdasan logis matematis (X) dan kedisiplinan belajar matematika sebagai variabel terikatnya (Y).

2. Penelitian terdahulu

menggunakan teknik

pengambilan sampel

menggunakan simple random sampling sedangkan penelitian

32 Supardi, “Peran Kedisiplinan Belajar”, 80-88.

ini menggunakan teknik sampling total.

2. Ayu Puspitasari, Rapani, dan Alben Ambarita

(2018).

“Hubungan

Kecerdasan Verbal

dan Logika

Matematika dengan Kemampuan

Menyelesaikan Soal Cerita Matematika”

1. Meneliti tentang variabel

kecerdasan logis matematis 2. Analisis data

menggunakan teknik korelasi Spearman rank

1. Penelitian terdahulu membahas variabel lain yaitu kecerdasan verbal dan kemampuan menyelesaikan soal cerita, sedangkan pada penelitian ini membahas tentang kedisiplinan belajar matematika.

2. Penelitian terdahulu

menggunakan teknik

pengambilan sampel

mengunakan Proporsionated stratified random sampling sedangkan penelitian ini menggunakan teknik sampling total.

3. Astriyati Lodhong Milsan dan Melkior Wewe

(2018).

“Hubungan Antara Kecerdasan Logis Matematis dengan Hasil Belajar Matematika”

1. Meneliti tentang variabel

kecerdasan logis matematis 2. Analisis data

menggunakan korelasi

pearson product moment

1. Penelitian terdahulu meneliti variabel hasil belajar matematika sebagai variabel terikat. Sedangkan pada penelitian ini variabel terikatnya adalah kedisiplinan belajar matematika.

2. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian terdahulu menggunakan simple random sampling, Sedangkan pada penelitian ini menggunakan sampling total.

4. Supardi U. S.

(2014).

“Peran Kedisiplinan

Belajar dan

Kecerdasan

Matematis Logis dalam Pembelajaran Matematika”

1. Meneliti tentang kedisiplinan belajar dan kecerdasan logis matematis.

2. Menggunakan teknik

pengambilan data berbasis tes dan angket.

1. Pada penelitian terdahulu terdapat variabel lain yaitu prestasi belajar matematika.

2. Teknik pengambilan sampel pada penelitian terdahulu menggunakan simple random sampling, sedangkan penelitian ini menggunakan teknik sampling total.

3. Penelitian terdahulu menggunakan teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda. Sedangkan pada penelitian ini menggunakan korelasi Pearson Product moment dan Spearman rank.

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa penelitian tentang hubungan antara kecerdasan logis matematis dan kedisiplinan belajar matematika pada peserta didik kelas tinggi di MIMA 30 Bustanul Ulum Ambulu mendukung beberapa penelitian terdahulu yang membahas tentang kecerdasan logis matematis dan kedisiplinan belajar peserta didik, karena terdapat persamaan dan perbedaan dalam penelitian tersebut.

Persamaan dari keempat penelitian terdahulu yang pertama adalah pembahasan penelitian tentang variabel kecerdasan logis matematis dan kedisiplinan belajar. Kedua, teknik analisis data yang digunakan menggunakan uji korelasi Product moment dan Spearman rank. Ketiga, Metode pengumpulan data menggunakan angket dan tes.

Adapun perbedaan dari keempat penelitian terdahulu yang pertama adalah adanya pembahasan variabel lain pada penelitian terdahulu seperti variabel hasil belajar, kecerdasan verbal, prestasi belajar dan kemampuan menyelesaikan soal cerita. Kedua, perbedaan penggunaan teknik sampling menggunakan simple random sampling dan proporsionated stratified random sampling. Ketiga, adanya perbedaan teknik analisis data dengan menggunakan analisis regresi linier.

B. Kajian Teori

1. Kecerdasan Logis Matematis

a. Pengertian Kecerdasan Logis Matematis

Kecerdasan memiliki istilah lain yaitu intelegensi. Kata Intelegensi berasal dari bahasa Latin yaitu intelligentia yang memiliki arti kekuatan

akal manusia.33 Menurut Anita E. Woolfolk sebagaimana dikutip dalam buku Irma Agustinalia, kecerdasan berarti kemampuan seseorang untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan situasi baru di sekitarnya.34 Di pihak lain, Elida Prayityo mengungkapkan kecerdasan sebagai kepandaian seseorang dalam memperoleh pengetahuan, kecakapan berpikir dalam situasi yang kompleks, serta kemampuan menyelesaikan problematika secara efektif.35

Ahli psikologi menyebutkan bahwasanya kecerdasan terdiri dari tiga kemampuan, yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan menentukan tujuan dan meraihnya (goal directed), dan kemampuan menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitarnya (adaptation). Oleh karena itu, seorang anak yang cerdas ialah mereka yang memiliki kemampuan berpikir dan memahami hal-hal yang bersifat konsep, mampu menyelesaikan permasalahan hidupnya, mampu mempelajari sesuatu yang baru, dan memiliki kemampuan adaptasi diri dengan lingkungannya.36

Kecerdasan manusia tidak hanya terbatas pada kecerdasan intelektual, namun juga mencakup ranah kecerdasan emosi bahkan spirit. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang psikolog yang mengembangkan teori kecerdasan majemuk

33 Ina Magdalena, Psikologi Pendidikan Sekolah Dasar, (Sukabumi: CV Jejak, 2021), 42

34 Irma Agustinalia, Mengenal Kecerdasan Manusia, (Sukoharjo: CV Graha Printama Selaras, 2018), 1

35 Dedek Pranto Pakpahan, Kecerdasan Spiritualitas (SQ) dan Kecerdasan Intelektual (IQ) dalam Moralitas Remaja Berpacaran: Upaya Mewujudkan Manusia yang Seutuhnya, (Malang: CV. Multimedia Edukasi, 2021), 6

36 Pakpahan, 5.

(Multiple Intelligences) dan mengategorikan beragam potensi kecerdasan manusia menjadi sembilan profil kecerdasan, yaitu:

kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematis, kecerdasan visual/spasial, kecerdasan jasmani/kinestetik, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.37

Multiple intelligences memberikan penegasan bahwasanya setiap individu mempunyai beberapa level kecerdasan dan mempunyai profil kecerdasan masing-masing yang berpotensi untuk dikembangkan melalui beragam cara yang berbeda pada setiap individu. Salah satu profil multiple intelligences yang mempunyai keterkaitan dengan matematika adalah kecerdasan logis matematis. 38

Menurut Chatib sebagaimana dikutip dalam jurnal Hilman dan Nurani, kecerdasan logis matematis adalah kemampuan seseorang dalam menangani bilangan, perhitungan, pola-pola, serta pemikiran logis yang sifatnya ilmiah.39 Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Masykur dan Fathani yang menyatakan bahwa, kecerdasan logis matematis merupakan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan

37 Masganti, Optimalisasi Kecerdasan, 38-39.

38 Rizqona Maharani, “Kontribusi Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Matematis Logis Terhadap Penyelesaian Masalah Pembuktian dan Kecemasan Matematika”, Inspiramatika, Vol.4, No.2, 2018, 92.

39 Hilman dan Hadnistia, “Analisis Capaian Potensi Kecerdasan”, 20.

permasalahan matematika yaitu kemampuannya dalam mengukur, menghitung, serta menyelesaikan persoalan yang bersifat matematis.40

Menurut Linda dan Bruce Campbell sebagaimana dikutip dalam buku Halim dan Fathani, kecerdasan logis matematis umumnya dikaitkan dengan otak yang melibatkan beberapa komponen, seperti perhitungan secara matematis, berpikir logis, pemecahan masalah, pertimbangan deduktif (penjabaran ilmiah dari khusus ke umum) dan induktif (penjabaran ilmiah dari umum ke khusus), serta ketajaman pola dan hubungan.41 Pendapat yang senada juga diungkapkan oleh Neni Hermita dkk yang menjelaskan bahwa kecerdasan logis matematis adalah kemampuan berpikir logis yang dimiliki oleh seorang anak, yaitu kemampuan berpikir induktif-deduktif, mengamati sesuatu, dan menyimpulkannya ke dalam pola-pola yang dapat dipahami, serta menggunakan informasi yang didapatkannya untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasi suatu permasalahan.42

Kecerdasan logis matematis memiliki keterkaitan dengan logika dan matematika. Logika dapat diartikan sebagai ilmu berpikir secara tepat untuk dapat memisahkan penalaran yang benar dan penalaran yang salah. Dalam melakukan aktivitas berpikir secara tepat dibutuhkan aturan-aturan tertentu, seperti berpikir tepat, akurat, rasional, objektif,

40 Moch. Masykur dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Intelligence: Cara Cerdas melatih Otak dan Menanggulangi Kesulitan Belajar, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 153.

41 Masykur dan Fathani, 153.

42 Neni Hermita et al, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak di SD, (Yogyakarta:

Deepublish, 2017), 25

kritis, atau dapat dikatakan proses berpikir yang menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan. 43

Kaidah-kaidah yang disebutkan di atas dapat diperoleh pada saat melakukan aktivitas belajar matematika sebagaimana penjelasan Khurin’In, bahwa: 44“Mathematics education is important to be given to students because through these students can be eqquipped with the ability to think logically, analytically, systematically, critically, and creatively.” Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa, melalui pendidikan matematika peserta didik akan dibekali dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Kemampuan tersebut sangat penting dalam membantu peserta didik untuk berpikir secara logis.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, kecerdasan logis matematis berkaitan dengan kemampuan peserta didik menyelesaikan operasi hitung bilangan dan melakukan penalaran secara logis dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

b. Karakteristik Kecerdasan Logis Matematis

Kecerdasan logis matematis memiliki ciri-ciri atau karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan kecerdasan lain. Menurut Andin Sefrina, kemampuan logis matematis berkaitan dengan kemampuan berpikir logis serta keterampilan memanipulasi

43 Mohammad kholil, Matematika Dasar untuk PGSD/PGMI, (Bantul: Lembaga Ladang Kata, 2022), 1.

44 Khurin’In, dkk, Mathematics Learning Strategies to Improve Critical Thinking and Problem Solving Skills for Madrasah Ibtidaiyah Students, International Conference on Education Innovation and Social Science (ICEISS), 2022, 56.

angka atau rumus. Karakteristik yang paling terlihat pada anak yang memiliki kemampuan kecerdasan logis matematis biasanya ditunjukkan dengan ketertarikannya pada hal-hal yang bersifat logis dan ilmu pengetahuan atau sains.45

Selain itu, karakteristik lain pada peserta didik dengan kecerdasan logis matematis tinggi yaitu menyukai aktivitas menganalisis, mempelajari sebab-akibat suatu peristiwa, berpikir secara konseptual, seperti menyusun hipotesis; mengategorikan; dan mengklasifikasi hal-hal di sekitarnya. Biasanya peserta didik semacam ini juga menyukai kegiatan berhitung dan memiliki kemampuan menyelesaikan permasalahan matematika dengan cepat. 46

Pandangan lain tentang karakteristik kecerdasan logis matematis juga diungkapkan oleh Linda Campbell dalam jurnal Ujang Khiyarussoleh, sebagai berikut:

1) Mengenal konsep-konsep yang bersifat kuantitas, waktu, dan hubungan sebab akibat.

2) Memahami pola-pola dan hubungan-hubungan.

3) Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah secara logis 4) Mengajukan dan menguji hipotesis.

5) Menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menunjukkan secara nyata (konkret), baik objek maupun konsep-konsep.

45 Andin Sefrina, Deteksi Minat Bakat Anak: Optimalkan 10 Kecerdasan Pada Anak, (Yogyakarta: Media Pressindo, 2013), 74-77

46 Masykur dan Fathani, Mathematical Intelligence, 157.

6) Menggunakan bermacam-macam keterampilan matematis seperti memperkirakan (estimating), perhitungan algoritme (calculating algorithms), menafsirkan statistik (intepreting statistics), dan menggambarkan informasi visual dalam bentuk grafik (gambar).

7) Merasakan berbagai tujuan dan fungsi mereka dalam lingkungannya.

8) Berpikir secara sistematis dengan mengumpulkan bukti, membuat hipotesis, merumuskan berbagai model, mengembangkan contoh-contoh tandingan dan argumen-argumen yang kuat.

9) Menciptakan model-model baru atau memahami wawasan baru dalam ilmu pengetahuan alam atau matematika

10) Menyukai operasi yang kompleks seperti kalkulus, fisika, pemrograman komputer, atau metode penelitian.

11) Mengungkapkan ketertarikan dalam karier-karier seperti akuntansi, teknologi komputer, hukum, mesin, dan ilmu kimia.

12) Menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah matematis.47 c. Strategi Mengembangkan Kecerdasan Logis Matematis

Kecerdasan tidak dibentuk dari genetik semata, terdapat faktor lain di luar gen yang dapat membantu mengembangkan kecerdasan seseorang. Kecerdasan logis matematis dapat dikembangkan melalui permainan menarik maupun hal-hal lain yang dapat memacu keterampilan berpikir lebih tinggi dan mengarah pada aktivitas

47 Ujang Khiyarussoleh, “Kecerdasan Logika Matematika di Lihat dari Kecerdasan Majemuk Siswa SD Se-Brebes Selatan”, Jurnal Naturalistic, Vol. 03, N0. 01, 2018, 243.

pemecahan masalah. Berikut beberapa cara untuk mengembangkan kecerdasan logis matematis, antara lain:

1) Mempelajari cara menggunakan sempoa untuk berhitung.

2) Menggunakan kalkulator untuk menghitung soal matematika pada kehidupan sehari-hari.

3) Mengisi teka-teki logika.

4) Berlatih soal-soal matematika sederhana.

5) Melakukan percobaan ilmiah menggunakan perangkat sains.

6) Mempelajari bahasa komputer.

7) Mengunjungi museum, planetarium, atau pusat sains lainnya.

8) Melakukan diskusi tentang konsep matematika atau sains di dalam berita.

9) Mempelajari buku tentang matematika atau sains secara mandiri, atau mengambil kursus di bidang tersebut.

10) Melakukan permainan yang mengasah logika matematika bersama teman atau keluarga.

11) Membaca pengetahuan tentang penemuan matematika atau sains.

12) Membaca cara menggunakan heuristika dalam memecahkan masalah.

13) Membentuk kelompok diskusi yang membahas penemuan ilmiah mutakhir serta implikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

14) Menonton tayangan dokumenter tentang sains.

15) Menandai konsep tentang sains/matematika yang belum dikenal dalam sebuah bacaan serta menggali penjelasannya dari berbagai sumber.

16) Membuat rekaman suara saat berbicara keras-keras tentang cara memecahkan soal matematika yang sulit.

17) Mengidentifikasi konsep ilmiah yang penting di sekitar lingkungan.

18) Berlangganan majalah ilmiah.

19) Menyelesaikan dan tidak menghindari soal matematika dalam kehidupan sehari-hari.

20) Mengamati dan meneliti lingkungan di sekitar menggunakan mikroskop atau teleskop.

21) Mengajarkan konsep matematika/sains kepada orang yang kurang memahaminya.

22) Menggunakan benda-benda konkret seperti balok, butir kacang, atau benda lainnya untuk mempelajari konsep matematika yang masih baru.48

Secara khusus, Hamzah dan Masri menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan logis matematis peserta didik, pendidik dapat melakukan diskusi tentang kesulitan belajar matematika yang dialami peserta didik. Selain itu, pendidik juga harus menggunakan paradigma pengoptimalan potensi peserta didik melalui

48 Agustinalia, Mengenal Kecerdasan, 50-51

proses belajar aktif. Adapun cara-cara untuk menciptakan proses belajar aktif, diantaranya:

1) Menggunakan beragam strategi tanya jawab

2) Mengajukan permasalahan untuk dipecahkan siswa 3) Mengonstruksi model dari konsep kunci

4) Meminta peserta didik menggunakan benda konkret untuk mengungkapkan pemahaman mereka

5) Memprediksi serta menyatakan hasil secara logis

6) Menegaskan pola dan hubungan dalam berbagai fenomena

7) Meminta peserta didik untuk menyampaikan alasan dari pernyataan dan tanggapan yang mereka ajukan.

8) Memberi kesempatan peserta didik melakukan observasi dan analisis.

9) Mendorong peserta didik untuk mengonsep maksud dan tujuan mereka belajar.

10) Menghubungkan konsep atau proses matematis dengan mata pelajaran lain serta kehidupan sehari-hari.49

d. Indikator Kecerdasan Logis Matematis

Berdasarkan berbagai pendapat tokoh yang mengemukakan karakteristik kecerdasan logis matematis, peneliti mengambil tiga indikator menurut Linda dan Bruce Campell yang kemudian digunakan

49 Uno dan Kuadrat, Mengelola Kecerdasan, 103-104.

sebagai landasan dalam penyusunan tes kecerdasan logis matematis, yaitu:

1) Mengenal konsep yang bersifat kuantitas, waktu, dan hubungan sebab akibat.

Sub indikator:

a) Konsep kuantitas

Dalam KBBI, kuantitas berkaitan dengan banyaknya benda atau jumlah sesuatu. Materi konsep kuantitas yang digunakan berkaitan dengan konsep penjumlahan serta perbandingan bilangan (lebih dari (>) , kurang dari (<), dan sama dengan (=).

Konsep kuantitas diukur melalui 8 item soal. Sumber rujukan pembuatan item soal diambil dari: (1) buku karya Mohammad Kholil, yang berjudul Matematika Dasar untuk PGSD dan PGMI. (2) Skripsi Diyah Kurniasih, yang berjudul Hubungan Antara Kecerdasan Logika-Matematika dengan Minat Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Se-Gugus 1 Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun Ajaran 2015/2016

b) Konsep waktu

Konsep waktu berkaitan dengan kecakapan peserta didik menyelesaikan perhitungan hari, minggu, dan bulan; serta perhitungan jam, menit, dan detik.

Konsep waktu terdiri dari 5 item soal. Sumber rujukan yang digunakan untuk menyusun item soal tersebut berasal dari Skripsi Diyah Kurniasih, yang berjudul Hubungan Antara Kecerdasan Logika-Matematika dengan Minat Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Se-Gugus 1 Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun Ajaran 2015/2016.

c) Hubungan sebab-akibat

Hubungan sebab-akibat atau hubungan kausal disebut sebagai penalaran yang didapatkan dari gejala yang saling memiliki keterkaitan.50 Hubungan sebab akibat diperoleh dari satu atau beberapa fakta lain yang saling dihubungkan. Pada pola penalaran sebab-akibat, peristiwa yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu, kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat dari fakta yang telah dikemukakan.51 Item hubungan sebab akibat akan mengukur kemampuan peserta didik dalam menentukan kesimpulan secara logis berdasarkan premis-premis yang telah diungkapkan sebelumnya.

Penguasaan terhadap konsep sebab-akibat diukur melalui 6 item soal. Referensi yang digunakan untuk menyusun soal yaitu:

(1) Skripsi Diyah Kurniasih, yang berjudul Hubungan Antara Kecerdasan Logika-Matematika dengan Minat Belajar

50 Nizwardi Jalinus et al, Riset Pendidikan dan Aplikasinya, (Padang: UNP Press, 2021), 19.

51 Trianto Ibnu Badar A. dan Hadi Suseno, Desain Pengembangan Kurikulum 2013 di Madrasah, (Jakarta: Prenamedia Group, 2017), 206-207.

Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Se-Gugus 1 Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun Ajaran 2015/2016, (2) Buku karya Tim Psikolog Hariwijaya Group yang berjudul Membangkitkan Motivasi Berprestasi Anak dengan Tes IQ.

2) Memahami pola dan hubungan.

Sub Indikator:

a) Pola-Pola

Susunan benda yang terdiri atas, warna, bentuk, atau peristiwa akan membentuk sebuah pola.52 Konsep pola yang diperkenalkan pada jenjang sekolah dasar adalah pola geometri.

Geometri termasuk bagian dari bidang matematika yang mempelajari titik, garis, bidang, dan ruang, serta mempelajari sifat-sifat, ukuran-ukuran, dan keterkaitan satu dengan yang lain.53 Item pola-pola akan menilai kecakapan peserta didik dalam mengelompokkan pola bangun datar dan bangun ruang menjadi susunan yang tepat.

Item soal yang mengukur kemampuan memahami pola terdiri dari 6 butir soal. Sumber rujukan pembuatan soal berasal dari buku karya Tim Psikolog Hariwijaya Group yang berjudul Membangkitkan Motivasi Berprestasi Anak dengan Tes IQ.

52 Anik Lestari Ningrum et al, Inovasi Pembelajaran Anak Usia Dini, (Madiun: CV Bayfa Cendekia Indonesia, 2021), 51

53 Indah L. Nuraini et al, “Pembelajaran Matematika Geometri Secara Realistis Dengan GeoGebra”, Jurnal Matematika, No. 16, Vol. 2, 2017, 1.

b) Hubungan-Hubungan

Hubungan-Hubungan yang digunakan dalam indikator kecerdasan logis matematis menilai kecakapan peserta didik dalam menemukan persesuaian atau persamaan antara dua kata yang memiliki hubungan analogis.

Pemahaman terhadap hubungan-hubungan diukur melalui 5 item soal yang diadaptasi dari: (1) Skripsi Diyah Kurniasih, yang berjudul Hubungan Antara Kecerdasan Logika-Matematika dengan Minat Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Se-Gugus 1 Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun Ajaran 2015/2016, (2) Buku karya Wahyu Irma Yanti, yang berjudul Super Top No.1 Soal TPA dan Psikotes Masuk SMP dan SMA.

c) Menyukai operasi yang kompleks.

Item pada indikator menyukai operasi yang kompleks digunakan untuk menilai sejauh mana kemampuan peserta didik menyelesaikan operasi hitung campuran seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dalam satu item pertanyaan.

Item soal yang mengukur kemampuan menyelesaikan operasi hitung campuran terdiri dari 5 item soal. Referensi yang digunakan untuk menyusun soal ialah dari Skripsi Diyah Kurniasih, yang berjudul Hubungan Antara Kecerdasan

Dokumen terkait