• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian ini menguraikan karakteristik individu anggota rumahtangga (selanjutnya ditulis ART) dan rumahtangga peserta “Mitra AGB”. Karakteristik individu ART meliputi jenis kelamin, umur, jenis pekerjaan, dan tingkat pendidikan formal. Adapun karakteristik rumahtangga peserta inisiatif “Mitra

31

Karakteristik Anggota Rumahtangga Peserta “Mitra AGB” Rata-rata Jumlah Anggota Rumahtangga dan Jenis Kelamin

Peserta “Mitra AGB” di Desa Cihideung ilir terdiri atas tiga puluh orang perempuan wirausaha “gurem” yang berasal dari tiga puluh rumahtangga berbeda.

Hasil sensus rumahtangga menunjukkan bahwa jumlah ART dari total

rumahtangga peserta “Mitra AGB” sebanyak 141 orang, dengan rata-rata sekitar lima orang per rumahtangga. Rata-rata jumlah ART pada rumahtangga peserta

“Mitra AGB” tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata jumlah ART penduduk di Desa Cihideung Ilir yang hanya empat orang per rumahtangga. Menurut jenis

kelaminnya, ART peserta “Mitra AGB” terdiri atas 65 orang laki-laki (46,10 persen) dan 76 orang perempuan (53,90 persen). Kondisi ini pun berbeda dengan kondisi umum Desa Cihideung Ilir, dimana persentase penduduk laki-laki (56,02 persen) lebih tinggi dibanding persentase penduduk perempuan (43,98 persen).

Anggota Rumahtangga Menurut Kelompok Umur

Berikut ini disajikan data komposisi ART peserta “Mitra AGB” menurut kelompok umur dan jenis kelamin (Tabel 1). Tabel 1 menunjukkan bahwa secara

umum terdapat sekitar 67 persen ART peserta “Mitra AGB” yang tergolong usia

produkif menurut BPS (15-64 tahun). Adapun sisanya adalah mereka yang tidak produktif. Pada tabel di atas dapat pula dilihat bahwa struktur umur ART peserta

“Mitra AGB” tergolong struktur umur muda, karena proporsi penduduk umur muda sebanyak 40 persen atau lebih, sementara kelompok umur tua kurang atau sama dengan 5 persen. Kondisi tersebut juga serupa dengan struktur umur penduduk Desa Cihideung Ilir secara umum.

Tabel 1 Distribusi ART peserta “Mitra AGB” menurut kelompok umur dan jenis kelamin di Desa Cihideung Ilir tahun 2014 (dalam persen)

Kelompok Umur

(Tahun) Laki-laki Perempuan Total

<15 15.60 17.02 32.62 15-19 7.09 9.22 16.31 20-24 2.84 4.26 7.09 25-29 1.42 2.84 4.26 30-34 1.42 4.26 5.67 35-39 3.55 5.67 9.22 40-44 6.38 3.55 9.93 45-49 2.84 1.42 4.26 50-54 0.71 3.55 4.26 55-59 3.55 2.13 5.67 60-64 0.00 0.00 0.00 65+ 0.71 0.00 0.71 Total (persen) 46.10 53.90 100.00 Total (jumlah) 65 76 141

32

Lebih lanjut, merujuk pada pendapat Rusli (1995) terkait analisis ketergantungan individu (dependency ratio)5, dapat diketahui besaran beban tanggungan setiap rumahtangga dengan cara menghitung rasio ART usia muda dan lanjut usia dengan jumlah ART usia produktif. Berdasar pada data Tabel 1 di atas diperoleh nilai dependency ratio sebesar 50. Artinya setiap 100 orang ART usia produktif harus menanggung 50 orang ART usia tidak produktif. Dengan perkataan lain, analisis ketergantungan individu menunjukkan bahwa peserta

“Mitra AGB” di Desa Cihideung Ilir mempunyai tingkat ketergantungan yang

rendah, yakni sekitar 0.5 atau kurang dari satu. Namun, pada kenyataan di lapangan, ART pada kelompok usia produktif, banyak pula yang tidak bekerja atau pengangguran.

Anggota Rumahtangga Menurut Jenis Pekerjaan

Terdapat 79 orang dari total ART peserta “Mitra AGB” yang tidak bekerja,

karena sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1, terdapat ART yang tergolong anak di bawah usia lima tahun dan usia sekolah sebesar 48.94 persen, serta yang tergolong usia lanjut sekitar tiga persen. Selain itu terdapat pula sekitar 11 persen ART pada usia produktif yang tidak bekerja atau pengangguran. Sehubungan dengan hal tersebut, data yang disajikan pada bagian ini hanya merujuk pada ART yang bekerja saja (62 orang). Tabel 2 berikut menyajikan jenis pekerjaan ART

peserta “Mitra AGB” di Desa Cihideung Ilir.

Tabel 2 Distribusi ART peserta “Mitra AGB” menurut jenis pekerjaan dan jenis kelamin di Desa Cihideung Ilir tahun 2014 (dalam persen)

Jenis Pekerjaan Laki-laki Perempuan Total

Karyawan BUMN 0.00 1.61 1.61 Karyawan Swasta 11.29 1.61 12.90 Pedagang 9.68 46.77 56.45 Supir 22.58 0.00 22.58 Buruh bangunan 3.23 0.00 3.23 Montir 3.23 0.00 3.23 Total (persen) 50.00 50.00 100.00 Total (jumlah) 31 31 62

Berdasarkan data pada Tabel 2, diketahui bahwa pada umumnya ART

peserta “Mitra AGB” bekerja pada sektor jasa. Dari data di atas dapat diketahui

pula bahwa ART laki-laki sebagian besar bekerja sebagai supir dan karyawan swasta dengan persentase masing-masing sebesar 22.58 persen dan 11.29 persen. Seperti diketahui, salah satu sarana transportasi, angkutan dalam kota yang menjadi ciri khas Kota/Kabupaten Bogor adalah angkot, sehingga supir angkot merupakan salah satu jenis pekerjaan yang banyak digeluti oleh masyarakat. Selain sebagai supir angkot, ART laki-laki juga banyak yang menjadi supir rental atau supir pribadi. Adapun ART laki-laki yang tergolong karyawan swasta ialah mereka yang bekerja sebagai satpam (security) dan office boy pada perusahaan-

5 Rumus dependency ratio = Jumlah penduduk umur 0-14 tahun dan 65+ Jumlah penduduk umur 15-64 tahun

33

perusahaan swasta. Selanjutnya, ART laki-laki lainnya bekerja sebagai pedagang, buruh bangunan, dan montir. Jenis-jenis pekerjaan yang digeluti oleh ART laki- laki tersebut, sebagian besar merupakan jenis pekerjaan yang berpenghasilan tidak tetap dan bahkan seringkali berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dan observasi, sebagian besar ART perempuan yang merupakan ibu rumahtangga, membantu suami mereka dalam menambah pemasukan rumahtangga dengan berdagang. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 2, dimana ART perempuan yang bekerja sebagai pedagang sebesar 46.77 persen.

Tingkat Pendidikan Formal Anggota Rumahtangga

Tingkat pendidikan formal dari ART peserta “Mitra AGB” dijelaskan pada Tabel 3, yang meliputi jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dimana

pendidikan formal ART peserta “Mitra AGB” tergolong rendah, karena persentase

tertinggi diantara mereka berpendidikan tamat SD/sederajat. Hal ini diduga karena tipikal masyarakat perdesaan di Indonesia yang cenderung merasa tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi, sehingga tamat SD saja sudah dirasa cukup.

Selain itu, faktor keterbatasan kemampuan ekonomi menjadi salah satu alasan ART tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, hasil wawancara dan observasi di lapangan menunjukkan fakta yang menarik. Terdapat beberapa remaja yang tidak melanjutkan pendidikannya bukan karena orang tua mereka tidak mampu lagi membiayai, akan tetapi karena mereka tidak memiliki motivasi untuk sekolah dan lebih memilih membantu pekerjaan orang tua di rumah atau mencari pekerjaan di luar desa. Hal tersebut diungkapkan oleh

salah satu peserta “Mitra AGB”, Ibu RHN:

“….Anak Ibu yang keempat mah sekarang udah berhenti sekolah. Kemarin cuma sampai kelas 1 SMP. Bukannya Ibu udah ga bisa cari biaya Neng, tapi anaknya aja yang ga mau lagi sekolah, mau bantu-bantu Ibu aja di rumah….”

Tabel 3 Distribusi ART peserta “Mitra AGB” menurut tingkat pendidikan formal dan jenis kelamin di Desa Cihideung Ilir tahun 2014 (dalam persen)

Tingkat Pendidikan Formal Laki-laki Perempuan Total

Tidak tamat SD/sederajat 1.60 4.80 6.40

Bersekolah di SD/sederajat 11.20 8.80 20.00 Tamat SD/sederajat 12.00 14.40 26.40 Bersekolah di SMP/sederajat 5.60 4.00 9.60 Tamat SMP/sederajat 4.00 7.20 11.20 Bersekolah di SMA/sederajat 2.40 4.00 6.40 Tamat SMA/sederajat 8.80 8.80 17.60 Perguruan Tinggi 0.80 1.60 2.40 Total (persen) 46.40 53.60 100.00 Total (jumlah) 58 67 125

Jika dilihat dari perbandingan tingkat pendidikan formal dan jenis kelamin, pada Tabel 3 juga dapat diketahui bahwa ART perempuan yang bersekolah memiliki persentase sedikit lebih tinggi dari ART laki-laki. Pada jenjang sekolah

34

dasar, baik yang masih bersekolah maupun yang sudah tamat, persentase ART laki-laki dan ART perempuan sama sebesar 23.20 persen. Sementara itu, pada jenjang sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi, persentase ART perempuan cenderung lebih tinggi dibanding ART laki-laki. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai yang menganggap anak laki-laki lebih didahulukan dalam mendapatkan pendidikan, tidak terjadi lagi pada masa sekarang. Selain itu, kondisi ini diduga karena laki-laki biasanya menjadi kepala keluarga dan memiliki tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya, sehingga cenderung lebih cepat memasuki dunia kerja dibanding perempuan.

Karakteristik Rumahtangga Peserta “Mitra AGB”

Kepemilikan benda berharga merupakan karakteristik rumahtangga untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dari rumahtangga tersebut. Adapun kepemilikan benda berharga tersebut mencakup kepemilikan atas alat transportasi dan alat-alat atau perabot rumahtangga. Pada Tabel 4 disajikan data berkenaan benda berharga yang dimiliki rumahtangga peserta “Mitra AGB”.

Tabel 4 Rata-rata kepemilikan benda berharga rumahtangga peserta “Mitra AGB” di Desa Cihideung Ilir tahun 2014

Kepemilikan Benda Berharga

Rumahtangga Jumlah (unit)

Rata-rata Kepemilikan per Rumahtangga Mobil 1 0.03 Motor 25 0.83 Televisi 19 0.63 Radio 5 0.17 DVD/VCD Player 12 0.40 Ponsel 60 2.00 Kulkas 19 0.63

Penanak Nasi Elektrik (Rice Cooker) 20 0.67

Dispenser 14 0.47

Mesin Cuci 4 0.13

Komputer/Laptop 8 0.27

Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata kepemilikan benda berharga tertinggi adalah kepemilikan atas ponsel sebesar 2 per rumahtangga. Kepemilikan ponsel ini paling banyak dibandingkan benda lainnya, karena masyarakat telah memposisikan ponsel sebagai kebutuhan primer dalam kehidupannya. Di samping itu, maraknya ponsel dengan harga yang relatif murah dan terjangkau dengan berbagai tipe, telah membuka akses masyarakat dari berbagai lapisan untuk memilikinya. Kepemilikan ponsel juga dalam satu rumahtangga dimungkinkan lebih dari satu unit dibanding dengan benda lainnya.

Meskipun rumahtangga peserta “Mitra AGB” tergolong pada kelas

ekonomi menengah ke bawah, akan tetapi apabila dilihat dari kepemilikan berbagai perabot elektronik rumahtangga, sebagian besar rumahtangga mampu untuk memiliki sejumlah perabot elektronik tersebut. Selama di lapangan, dapat

35

ditemui penjual-penjual yang menawarkan berbagai perabot elektronik rumahtangga dengan sistem kredit (cicilan). Penjual-penjual tersebut berasal dari dalam dan luar desa. Hal tersebut diduga menjadi jalan bagi masyarakat untuk memiliki perabot-perabot elektronik tersebut. Seperti yang dipaparkan oleh salah satu informan, Ibu YRH:

“….Emang Neng, ibu-ibu disini mah seneng beli perabot kreditan. Da kalau ga kredit mah, moal kabeuli. Terus biasanya, kalau ada satu orang yang beli, yang lain ikut-ikutan beli….”

Begitu pula dengan kepemilikan motor dengan rata-rata yang cukup tinggi sebesar 0.83. Hadirnya berbagai jenis kredit motor dengan uang muka dan cicilan yang terjangkau, diduga telah membuka akses masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor.

Dokumen terkait