Pengendalian Kerusakan Lingkungan
6.1. Pengendalian Kerusakan Lahan
6.3. Pesisir dan Laut
6.3. Pesisir dan Laut
6.3.1. Sumber dan kondisi kerusakan
Kekayaan sumber daya alam ekosistem pesisir dan laut sampai saat ini belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat Indonesia karena orientasi pembangunan masih berpusat pada ekosistem daratan. Pertambahan penduduk dan keterbatasan sumber daya lahan mengharuskan terjadi perubahan orientasi pembangunan, dengan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap upaya pemanfaatan ekosistem kelautan. Wilayah pesisir merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk lebih dikembangkan secara terpadu. Dengan panjang pantai di Kabupaten Pemalang sekitar 34,6 km dan memiliki desa pantai sebanyak 29 desa yang tersebar di beberapa wilayah Kecamatan antara lain Kecamatan Pemalang, Taman, Petarukan dan Ulujami, merupakan asset tersendiri untuk dikembangkan secara terpadu, baik pengembangan konservasi, maupun pengembangan bisnis lainnya yang berwawasan lingkungan. Terumbu Karang
Di Kabupaten Pemalang, sampai saat ini belum ada data resmi yang menunjukkan tingkat sebaran terumbu karang di perairan Pemalang. Ekosistem terumbu karang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dengan berbagai jenis biodata laut yang hidup berasosiasi dengan
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-22
terumbu karang, yang penyebarannya di dunia terpusat di Indonesia dan sekitarnya.
Kabupaten Pemalang dengan perairan laut yang memiliki banyak muara sungai di antaranya sungai Sragi, sungai Comal, sungai Waluh, sungai Elon, sungai Srengseng, dan sungai Rambut menjadikan pertumbuhan terumbu karang kurang ideal. Hal ini disebabkan oleh salinitas yang rendah, keruh dan banyak mengandung sedimen, serta kondisi yang tidak mendukung kehidupan karang yang sehat. Namun hasil pemantauan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Pemalang menunjukkan adanya potensi terumbu karang di areal pantai Karangdoyong atau ±5km utara pantai Asemdoyong Kecamatan Pemalang. Tindak lanjut hasil pemantauan tersebut akan direncanakan inventarisasi potensi terumbu karang di laut Pemalang baik luasannya, tingkat pertumbuhannya, kerusakannya dan kajian‐ kajian lingkungan yang lain. Gambar 6.4. Potensi terumbu karang di Kabupaten Pemalang Sumber: POSSI Pemalang
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-23
Hutan Mangrove
Kawasan mangrove merupakan suatu ekosistem yang unik. Berdasarkan kedudukan dan karakteristiknya, ekosistem hutan mangrove mempunyai manfaat sebagai berikut :
a. Manfaat fisik, yaitu sebagai penahan abrasi pantai, penahan angin, dan intrusi air laut serta penangkat sediment.
b. Manfaat biologi, yaitu sebagai habitat satwa liar (burung, reptile, amphibi, udang, kepiting, ikan, dll).
c. Manfaat sosial, yaitu karena merupakan habitat udang, ikan, dan kepiting serta nilai ekonomi tegakan pohon penyusun hutan mangrove sehingga masyarakat memanfaatkannya sebagai tempat mencari nafkah dan memenuhi sebagian kebutuhan keluarga. Ekosistem mangrove di Kabupaten Pemalang tergolong cukup lengkap dan cukup luas, yang terbentang dari pantai utara di Kabupaten Pemalang yaitu mulai dari Desa Lawangrejo Kecamatan Pemalang sampai Desa Tasikrejo, Kecamatan Ulujami. Penduduk di sekitar hutan mangrove sebagian besar adalah petambak dan petani, sehingga kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk merambah hutan mangrove guna mengambil kayu, daun serta mengkonversi lahan hutan menjadi lahan tambak. Kerusakan hutan mangrove diakibatkan oleh penebangan hutan untuk kepentingan pertambakan, pengembangan daerah pemukiman, dan penggunaan kayu untuk bahan bangun rumah dan kayu baker. Di Kabupaten Pemalang wilayah hutan mangrove seluas 1.797 ha, yang terdiri tanaman mangrove di hamparan maupun di tambak. Dari luas 1.797 ha hutan mangrove yang rusak adalah 256,25 ha. Adapun luas hutan mangrove di tiap–tiap desa adalah sebagai berikut : Desa Mojo seluas 443,75, Pesantren 350 ha, Limbangan 320 ha, Kertosari 123,75 ha, Blendung 100 ha, Ketapang 160 ha, Kaliprau 80 ha, Asemdoyong 86,875 ha,
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-24
Kendalrejo 76,20 ha, Lawangrejo 71.875 ha, Nyamplungsari 65 ha dan Sugihwaras 10 ha.
Kegiatan‐kegiatan pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut seperti tersebut di atas, selain mengakibatkan dampak positif berupa peningkatan tingkat perekonomian masyarakat juga mengakibatkan dampak negatif berupa peningkatan tekanan terhadap kualitas maupun kuantitas sumber daya pesisir dan laut. Terlebih lagi dengan semakin berkembangnya luasan usaha perikanan tambak yang dilakukan di kawasan lindung hutan bakau (mangrove) akan mengakibatkan terjadinya perubahan fungsi hutan bakau (mangrove) menjadi kawasan budidaya yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi keberadaan ekosistem pesisir secara keseluruhan.
Tekanan terhadap pemanfaatan lahan di kawasan lindung hutan bakau (mangrove) pada tahun‐tahun yang akan datang sepertinya akan semakin meningkat, mengingat semakin menurunnya produktivitas hasil tangkapan ikan laut yang diperoleh oleh masyarakat nelayan. Hal ini akan menjadi salah satu faktor pemicu bangkitan meningkatnya pemanfaatan lahan hutan bakau (mangrove) untuk budidaya perikanan tambak sebagai profesi pengganti nelayan menjadi pengembang usaha perikanan tambak.
Selain itu, masih maraknya kegiatan penebangan liar (illegal loging) di kawasan hutan bakau (mangrove) mengakibatkan tingginya degradasi lingkungan, terutama penurunan fungsi hutan bakau (mangrove) sebagai pelindung pantai dan habitat hidup berbagai biota.
6.3.2. Regulasi Kebijakan Daerah
Dengan memperhatikan tingginya tekanan terhadap kualitas maupun kuantitas sumber daya pesisir dan laut terutama pada ekosistem
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-25
hutan bakau (mangrove) akibat berbagai aktivitas manusia, maka pemerintah Kabupaten Pemalang merespon keadaan tersebut agar dampak negatif dapat diminimalisir dan dampak positif dapat dikembangkan dengan melakukan beberapa langkah strategis upaya konservasi sumber daya pesisir dan laut terutama ekosistem hutan bakau (mangrove) berupa :
1. Pengaturan pemanfaatan lahan dengan diterbitkannya Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pemalang 2011‐2031.
2. Sosialisasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pemalang. 3. Rehabilitasi hutan mangrove bersama masyarakat.
4. Pengembangan usaha perikanan tambak ramah lingkungan dengan memperhatikan aspek kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian ekosistem hutan bakau (mangrove).
Secara garis besar, permasalahan ekosistem pesisir dan laut yang ada di wilayah Kabupaten Pemalang disajikan dala tabel 6.4
Tabel 6.4 Permasalahan ekosistem pesisir dan laut yang ada di wilayah Kabupaten Pemalang
No. Ekosistem Lokasi Luas
(Ha) Permasalahan Upaya Konservasi
1. Terumbu Karang Pantai Desa Asemdoyong Pantai Desa Ketapang 10 Unit 10 Unit Sumberdaya ikan di laut menurun akibat jumlah usaha penangkapan ikan di laut sudah melebihi batas dan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan Untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah adanya pemasangan rumpon/terumbu karang buatan secara berkelanjutan guna menjaga dan melestarikan ekosistem di laut dan untuk menjaga biota laut 2. Mangrove 4Kecamatan Desa 2.353,125 Ha 11.400 batang Abrasi Terjadinya Rehabilitasi Peningkatan upaya
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-26 Lawangrejo Desa Tasikrejo Desa Limbangan Desa Kertosari 10.000 batang 4.000 batang 7.000 batang penebangan mangrove dan konversi penggunaan lahan yang tidak terkendali rehabilitasi, pemulihan dan konservasi fungsi sumberdaya alam yang telah rusak 3. Cemara Laut Desa Nyamplungsari Desa Lawangrejo Desa Widuri 1.300 batang 1.500 batang 1.000 batang Terjadinya penebangan mangrove dan konversi penggunaan lahan yang tidak terkendali Peningkatan upaya rehabilitasi, pemulihan dan konservasi fungsi sumberdaya alam yang telah rusak 4. Padang Lamun ‐ ‐ ‐ ‐ Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan kab. Pemalang, 2012 6.3.3. Program dan Kegiatan
Program dan kegiatan pengendalian kerusakan pesisir dan laut di wilayah Kabupaten Pemalang dilaksanakan oleh instansi terkait, yaitu: Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan, Bappeda dan Kantor Lingkungan Hidup dengan beberapa kegiatan konservasi pesisir dan laut diantaranya adalah :
Tabel. 6.5 Kegiatan konservasi pesisir dan laut di wilayah Kabupaten Pemalang
No. Program/Kegiatan Lokasi Besaran Mekanisme 1 Program peningkatan
mitigasi bencana alam laut dan prakiraan iklim laut Kegiatan pengendalian kerusakan ekosistem perairan berupa: penanaman mangrove dan cemara laut dan pemasangan terumbu karang buatan serta gerakan bersih pantai dan hari nusantara
Penanaman
mangrove/cemara laut Desa Lawangrejo, Desa Tasikrejo dan Desa Limbangan sedangkan pemasangan TKB di pantai Desa Asemdoyong dan Desa Ketapang serta gerakan bersih pantai Widuri
Penunjukan langsung
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-27 dan Lawangrejo 2. Program peningkatan kesadaran hukum dalam pendayagunaan sumberdaya laut Kegiatan Penyuluhan Hukum dalam pendayagunaan
sumberdaya laut yaitu sosialisasi masyarakat pesisir tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pantai Wilayah kecamatan pesisir se‐Kabupaten Pemalang Pembinaan kepada masyarakat pesisir
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pemalang, 2012
6.3.4. Pemantauan, Pengawasan dan Pemulihan
Kegiatan pemantauan, pengawasan dan pemulihan kerusakan pesisir dan laut di wilayah Kabupaten Pemalang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang melalui instansi terkait antara lain : Dinas Pertanian dan Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan dan Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang. Pemantauan didasarkan pada tingkat kerapatan dan tingkat pertumbuhan mangrove dan tanaman vegetasi lainnya.
Pengawasan dilakukan secara berkala terkait kelestarian vegetasi pesisir dan tingkat abrasi pantai. Peran serta masyarakat dan JKKP sangat berperan dalam kegiatan pengawasan tersebut. Pemulihan kerusakan pesisir pantai dibagi menjadi dua cara, yaitu melalui civil teknis seperti pembuatan groin pemecah gelombang dan penanaman vegetasi melalui penanaman mangrove dan cemara laut sebagai greenbelt pantai. Kegiatan pemulihan dilakukan setiap tahun dengan dana APBD, DAK, maupun bantuan internasional. Beberapa NGO internasional yang melakukan kegiatan penanaman dan pembinaan terhadap petani pesisir antara lain adalah Oisca (Jepang) dan Wetland. Kedua organisasi internasional tersebut mengmberikan bantuan langsung kepada kelompok tani mangrove melaui KKMD dan JKKP.
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-28 6.4. Keanekaragaman Hayati
6.4.1. Sumber dan kondisi kerusakan
Sebagaimana daerah tropis pada umumnya, keanekaragaman flora dan fauna di Kabupaten Pemalang sangat bervariasi. Di wilayah Kabupaten Pemalang terdapat 1 flora dan 18 fauna yang dilindungi. Beberapa faktor telah mempengaruhi keberadaan flora dan fauna. Faktor‐faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain: peningkatan jumlah penduduk, penebangan liar dan kemiskinan. Penebangan liar dan pengubahan fungsi hutan menyebabkan beberapa flora dan fauna sudah mulai langka, bahkan sudah banyak yang punah, misal banteng, kancil, pohon ingas nam‐nam, dan pucung. Meskipun di suatu daerah beberapa jenis flora dan fauna mulai langka, tetapi ada juga daerah lain yang justru cukup melimpah. Hal ini mungkin berkaitan dengan penyebaran yang tidak merata. Upaya perlindungan yang ada di Kabupaten Pemalang berupa penangkaran Kijang yang ada di Desa Lenggerong Kecamatan Bantarbolang.
Potensi untuk tanaman (tumbuhan budidaya) di Kabupaten Pemalang didominasi oleh tanaman budidaya pertanian dan perkebunan seperti yang disajikan pada Tabel 6.6 dan Tabel 6.7.
Potensi Keanekaragaman hayati jenis fauna di Kabupaten Pemalang disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 6.6 Jenis‐Jenis fauna di Kabupaten Pemalang
No. Nama
Daerah Nama Ilmiah Permasalahan Konservasi Upaya
1. Bangau
tongtong Leptoptilos javanicus Terganggunya keseimbangan habitat, perburuan liar Pemantauan populasi dan perlindungan habitat dalam kawasan konservasi 2. Elang Bido Spilornis cheela sda sda
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-29
3. Elang
Brontok Sizetus cirrhatus sda sda
4. Elang Alap‐
alap Acriptideae sda sda 4. Merak Pavo muticus sda sda 5. Sesap Madu Nectarinideae sda sda 6. Kijang Muntiacus
muntjak sda sda
7. Macan Panthera
pardus sda sda
8. Lutung Presbytis
cristata sda sda
9 Landak H Hyyssttrriixx b brraacchhyyuurraa sda sda
10 Jelarang RRaattuuffaa bbiiccoolloorr sda sda 11 Kucing
Hutan PPrriioonnaaiilluurruuss
b
beennggaalleennssiiss
sda sda
12 Kancil TTrraagguulluuss sspp.. sda sda 13 Raja Udang AAllcceenniiddeeaaee sda sda 14 Kuntul
E
Eggrreettttaa sspp.. sda sda
15 Sendang
lawe eCCeppiicciisoosccnnooiipaapu uss sda sda 9. Pelatuk Dinopium
javanense sda sda
10. Ayam Hutan Gallus sp sda sda 11. Kalong Pteropus
vampyrus sda sda
12. Kera Macaca
fascicularis sda sda
13. Kepodang Oriolus
xanthonotus Penyebaran satwa relatif tidak merata Pengelolaan kawasan konservasi/CA dilakukan oleh BKSDA 14. Tupai Tupaia minor sda sda
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-30
15. Ular Tanah Angkistrodon
rodhostroma sda sda
16. Babi Hutan Sus scrofa sda sda 17. Ular Sawah Python
raticulatus sda sda
18. Biawak Varanus
salvator Sda sda
Sumber : Balai KSDA (SKW II Pemalang), 2012
Potensi Keanekaragaman hayati jenis flora di Kabupaten Pemalang disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 6.7. Jenis‐Jenis flora di Kabupaten Pemalang
No. Nama Ilmiah Nama
Daerah Permasalahan Konservasi Upaya
1. Ascocentrum
miniatum Anggrek Kebutan Perlindungan pada habitatnya di kakawasan konservasi
Sumber : Balai KSDA (SKW II Pemalang), 2010
Gambar 6.2. Foto Anggrek Kebutan (Ascocentrum miniatum), Lokasi : CA
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-31
Jenis tumbuhan asli/lokal yang tidak dilindungi dan tanaman budidaya di wilayah Kabupaten Pemalang disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 6.8. Jenis tumbuhan asli/lokal yang tidak dilindungi
No. Nama
Daerah Nama Ilmiah Kuota Konservasi Upaya
1 Bayur Pterosperrmum
javanicum Belum ada ‐‐
2 Bulu Ficcus annulata sda ‐‐ 3 Laban Vitex pubescens sda ‐‐ 4. Beringin Ficus benyamina sda ‐‐ 5. Rengas Gluta renghas sda ‐‐ 6. Kedoya Amoora amphanamixis sda ‐‐ 7. Kepuh Sterculia foetida sda ‐‐ 8. Gondang Ficus variegata sda ‐‐ 9 Sengon Paraserianthes falcataria sda ‐‐ 10 Johar Cassia siamea sda ‐‐ 11 Putat Baringtonia spicata sda ‐‐ 12 Mahoni Swietenia mahogoni sda ‐‐ 13 Pulai Alstonia scholaris sda ‐‐ 14 Wangkal Albizzia procera sda ‐‐ 15 Bendo Artocarpus elasticus sda ‐‐ 16 Salam Eugenia polyantha sda ‐‐ 17 Gempol Sarcocephalus condotus sda ‐‐ 18 Wungu Lagerstroemea speciosa sda ‐‐ 19 Winong Tetrameles nudiflora sda ‐‐ 20 Serut Streblus asper sda ‐‐ 21 Nangka sda ‐‐ 22 Durian Durio sda ‐‐ 23 Sonokeling Dalbergia latifolia sda ‐‐ 24 Anggrek Orchidaceae Sesuai
dengan kemampuan
Budidaya
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-32
dengan kemampuan 26 Sikas Cycas spp Sesuai
dengan kemampuan
Budidaya
27 Spandias
pinnata Kedondong hutan sda ‐‐
28 Syzygium
densiflora Kelampok sda ‐‐
29 Tamarindus
indica Asam Jawa sda ‐‐
30 Ficus
benyamina Beringin sda ‐‐
31 Arenga
obtusifolia Langsep sda ‐‐ Sumber : Balai KSDA (SKW II Pemalang), 2012
Tabel 6.9. Tanaman budidaya di Kabupaten Pemalang.
No. Nama Daerah Nama Ilmiah Varietas Nilai Jual (Rp)
(tahun terakhir)
1. Padi Oryza sativa Biasa 2.500/kg 2. Jagung Zea Mays Unggul 1.500/kg 3. Kacang Tanah Arachis hypogaea Unggul 1.000/kg 4. Kacang Hijau Phaseolus aureus Unggul 12.000/kg 5. Melinjo Gnetum gnemon 6. Durian Durio zibethinus 7. Rambutan Nephelium lappaceum 8. Pisang Musa paradisiaca Unggul 20.000/tandan 9. Mangga Mangifera indica 10. Nangka Artocarpus heterophyllus 11. Petai Parkia specioca 12. Jambu Biji Psidium guajava 13. Srikaya Annona squamosa 14. Kunyit Curcuma domestica 15. Jahe Zingiber officinale 16. Lengkuas Languas galangal 17. Lempuyang Zingiber aromaticum
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-33 Sumber : Balai KSDA (SKW II Pemalang), 2012 Jenis satwa asli/lokal yang tidak dilindungi dan satwa hasil budidaya di wilayah Kabupaten Pemalang disajikan pada tabel berikut ini : Tabel 6.10. Jenis satwa liar yang tidak dilindungi No. Nama
Daerah Nama Ilmiah Kuota Upaya Konservasi
1. Tekukur Strptopelia chinensis 2008 Pemantauan habitat asli
2. Kutilang Pycnonotus
aurigaster dan
3. Terukcuk Pycnonotus goiavier perlindungan terhadap 4. Ciblek Orthotomus sepium perburuan liar. 5. Pendet Lanius scach 6. Kedasih Cacomantis merulinus 7. Gagak Corvuc enca 8. Srigunting Dicrusrus macrocercus 9. Kacer Lepsipus sauralis 10. Prenjak Prinia familiaris 11. Emprit Lonchura leucogastroides 12. Gelatik Batu Parus major 13. Musang Paradoxorus hermaphroditus 14. Kepodang Oriolus chinencis 15 Pelatuk Dinopium javanense 16 Ayam hutan Gallus sp 17 Kalong Pteropus vampyrus 18 Kera Macaca fascicularis 19 Tupai Tupaia minor 20 Biawak Varanus salvator 21 Babi Hutan Sus scrofa 22 Ular Sanca Batik Python raticulatus 23 Ular Tanah Angkistrodon rodhostroma Sumber : Balai KSDA (SKW II Pemalang), 2012
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-34
Tabel 6.11. Ternak satwa hasil budidaya
No. Nama daerah Nama Ilmiah Varietas (tahun terakhir) Nilai Jual (Rp) 1. Ayam Galus ‐ Ayan buras (galus
soneraty) ‐ Ayam hutan ( galus gallus ) ‐ Ayam hutan merah (galus bankiva) ‐ Ayam hutan ceton ( galus lafayetti) ‐ Ayam hutan hijau ( galus varius, galus javanicus ) 20.000 – 50.000
2. Itik Anas sp. ‐ itik alabio ‐ itik tegal ‐ itik comal ‐ itik manila 25.000 – 50.000 3. Angsa 30.000 – 35.000 4. Burung Merpati 6.000 – 8.000 5. Ayam kalkun 40.000 – 50.000 6. Domba Capra sp. ‐ domba merino
‐ domba garut ‐ domba deg ‐ domba lokal/jawa
450.000 – 700.000
7. Kambing Capra sp. ‐ kambing
peranakan etawan ‐ kambing jawa randu ‐ kambing kacangan ‐ kambing saanen 450.000 – 700.000 8. Kelinci 50.000 9. Babi Sus scrova 600.000 10. Rusa
11. Sapi Bos indicus sp. ‐ sapi simental ‐ sapi limusin ‐ sapi brahman ‐ sapi bull elite ‐ sapi coralis ‐ sapi ongole ‐ sapi frissin holland 4,5 ‐ 8 juta 12. Kuda 6 – 7 juta 13 . Kerbau Bos bubalus sp. ‐ Bos bubalus bubalus
Bos bubalus indicus 4,5 – 8 juta Sumber : Balai KSDA (SKW II Pemalang), 2012
Untuk potensi keanekaragaman hayati jenis ternak (satwa hasil budidaya) di Kabupaten Pemalang dapat dikelompokkan menjadi ternak besar, ternak kecil dan unggas. Kelompok ternak besar terdiri
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-35
dari sapi dan kerbau, kelompok ternak kecil terdiri dari kambing, domba dan babi, sedangkan kelompok unggas terdiri dari ayam, angsa dan itik.
Permasalah terhadap keanekaragaman hayati jenis tumbuhan dan satwa liar merupakan permasalahan yang muncul sebagai dampak turunan dari permasalah‐permasalahan terhadap sumber daya hutan dan lahan. Dengan semakin meningkatnya tekanan terhadap kualitas dan kuantitas sumber daya hutan dan lahan maka tekanan terhadap keanekaragaman hayati juga akan meningkat. Hal ini dapat difahami karena hutan dan lahan merupakan habitat asli berbagai tumbuhan dan satwa liar yang ada di Kabupaten Pemalang, sehingga kegiatan‐ kegiatan manusia seperti alih fungsi lahan dan penebangan liar (illegal logging) secara langsung maupun tidak langsung tentunya akan memunculkan permasalahan terhadap keanekaragaman hayati di Kabupaten Pemalang. Sedangkan permasalahan terhadap keanekaragaman hayati jenis tanaman (tumbuhan budidaya) dan ternak (satwa hasil budidaya) lebih kepada pengembangan usaha pertanian dan peternakan untuk menjadi salah satu sektor unggulan Kabupaten Pemalang.
6.4.2. Regulasi Kebijakan Daerah
Keanekaragaman hayati merupakan faktor utama penunjang ketersediaan sumberdaya alam. Kebijakan yang tepat saran dapat memberikan manfaat yang tepat pula guna keberlanjutan keanekaragaman hayati di Kabupaten Pemalang. Kebijakan daerah telah dituangkan dalam RTRW Kabupaten Pemalang 2011‐2031, dan direncanakan adanya beberapa program utama keanekaragaman hayati, yaitu:
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-36
• melakukan pelestarian flora, fauna, dan ekosistem unik pada kawasan perlindungan plasma nutfah;
• melakukan pengendalian kegiatan yang dapat merusak plasma nutfah;
• melakukan program pembinaan, penyuluhan kepada masyarakat dalam upaya pelestarian plasma nutfah; dan
• melakukan pariwisata alam tanpa mengubah bentang alam.
6.4.3. Program dan Kegiatan
Dengan memperhatikan tingginya tekanan terhadap kualitas maupun kuantitas keanekaragaman hayati akibat berbagai aktivitas manusia, maka pemerintah Kabupaten Pemalang merespon keadaan tersebut agar dampak negatif dapat diminimalisir dan dampak positif dapat dikembangkan dengan melakukan beberapa langkah strategis upaya konservasi keanekaragaman hayati berupa upaya perlindungan yang ada di Kabupaten Pemalang berupa penangkaran Kijang yang ada di Desa Lenggerong Kecamatan Bantarbolang dan Pemasangan Plang Habitat dilindungi di setiap BKPH (Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan).
6.4.4. Pemantauan, Pengawasan dan Pemulihan
Kegatan pemantauan dan pengawasan keanekaragaman hayati dilaksanakan oleh Balai Konsevasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah Kantor Seksi Konsevasi Sumber Daya Alam Wilayah IV Pemalang melalui kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati dalam wilayah IV Jawa Tengah yang dilakukan tiap 5 tahun. Inventarisasi keanekaragaman hayati direncanakan dilaksanakan pada tahun 2013 berupa inventarisasi flora dan fauna yang dilindungi
Pengendalian Kerusakan Lingkungan 6-37
berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Jenis‐ jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Kegiatan pemulihan dilaksanakan oleh keanekaragaman hayati dilaksanakan oleh Balai Konsevasi Sumber Daya Alam Kantor Seksi Konsevasi Sumber Daya Alam Wilayah IV Pemalang, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang dan Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang melalui kebijakan konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati.