• Tidak ada hasil yang ditemukan

Variabel lingkungan diperoleh dengan mengekstraksi peta elevasi (Gambar 13), kemiringan lahan (Gambar 14), dan penutupan lahan (Gambar 15), menjadi peta jarak terdekat (euclidean distance). Setiap peta akan memiliki beberapa variabel lingkungan yang terklasifikasi. Peta-peta merupakan variabel lingkungan (environmental variables) yang diperoleh dari hasil analisis dengan software ArcGIS dan digunakan untuk menganalisis karakteristik lanskap habitat SMA. Variabel lingkungan ini terbentuk dari peta jarak terdekat (euclidean distance), yaitu enam jarak terdekat terhadap faktor kemiringan lahan (Tabel 3), lima jarak terdekat terhadap faktor elevasi, dan tujuh jarak terdekat terhadap

12

penutupan lahan. Variabel lingkungan terbentuk Sebanyak 18 variabel lingkungan (euclidean distance) digunakan dalam penelitian ini (Tabel 4).

Tabel 3 Klasifikasi faktor kemiringan lahan

Kelas Kemiringan Lahan Klasifikasi I II III IV V VI 0-3% 3-8% 8-15% 15-25% 25-40% >40% Datar Agak Datar Bergelombang Berbukit Pegunungan Pegunungan

(Sumber: SK. Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. 683/Kpts/Um/1981) Tabel 4 Variabel lingkungan

No Variabel lingkungan Singkatan Sumber

1 2 3 4 5

Jarak terdekat ke elevasi 0-300 meter Jarak terdekat ke elevasi 300-500 meter Jarak terdekat ke elevasi 500-700 meter Jarak terdekat ke elevasi 700-1 000 meter Jarak terdekat ke elevasi > 1 000 meter

JTE1 JTE2 JTE3 JTE4 JTE5 Ekstraksi dari ASTER DEM yang dibuat menjadi peta euclidean 6 7 8 9 10 11

Jarak terdekat ke kemiringan lahan 0-3% Jarak terdekat ke kemiringan lahan 3-8% Jarak terdekat ke kemiringan lahan 8-15% Jarak terdekat ke kemiringan lahan 15-25% Jarak terdekat ke kemiringan lahan 25-40% Jarak terdekat ke kemiringan lahan >40%

JTK1 JTK2 JTK3 JTK4 JTK5 JTK6 distance 12 13 14 15 16 17 18

Jarak terdekat ke badan air Jarak terdekat ke lahan terbuka Jarak terdekat ke lahan terbangun Jarak terdekat ke semak belukar Jarak terdekat ke hutan lahan kering Jarak terdekat ke ladang

Jarak terdekat ke sawah

JTBA JTBK JTBG JTSK JTHK JTLD JTSH Ekstraksi dari peta penutupan lahan yang dibuat menjadi peta euclidean distance

Peta jarak terdekat tersebut diperoleh melalui proses reclassify yang bertujuan untuk menyeragamkan informasi masing-masing piksel data menjadi bernilai 0 dan 1 dengan menggunakan Spatial Analysis Tools. Nilai 1 adalah nilai variabel lingkungan yang ingin diinformasikan sedangkan nilai 0 adalah nilai variabel lingkungan yang sementara dihilangkan informasinya. Setelah itu, peta-peta diubah melalui proses vektor polygon. Proses ini bertujuan untuk mengubah data raster menjadi bentuk vektor. Pada akhirnya, peta-peta bentuk vektor akan diubah menjadi peta jarak terdekat (euclidean distance). Fungsi euclidean distance adalah memberikan informasi tentang jarak dari setiap sel dalam raster ke sumber terdekat. Peta-peta euclidean distance tercantum pada Lampiran 1 hingga Lampiran 18.

Analisis Statistik Pada Karakteristik Lanskap

Analisis komponen utama adalah metode analisis peubah ganda yang bertujuan memperkecil dimensi peubah asal sehingga diperoleh peubah baru

13 (komponen utama) yang tidak saling berkorelasi, tetapi menyimpan sebagian besar informasi yang terkandung pada peubah asal (Jollife 2002). Nilai yang telah diekstraksi dianalisis dengan metode Analisis Komponen Utama (AKU) oleh Varimax Rotation dengan Kaiser Normalization untuk mengintegrasikan semua atribut lingkungan dan mengidentifikasi karakter lanskap stopover habitat SMA dengan bantuan software SPSS.

Analisis Potensi Ekowisata

Analisis potensi ekowisata dilakukan dengan metode grid untuk menentukan sampel lokasi sebagai wilayah yang memiliki potensi ekowisata. Pemilihan sampel berdasarkan dengan kumpulan data Satellite-tracking yang ada di Kabupaten Karangasem. Dari kumpulan data Satellite-tracking tersebut ditentukan titik-titik sampel dengan bantuan grid pada ukuran tertentu. Area yang dipilih sebagai sampel diambil dari kumpulan data Satellite-tracking yang ada di Kabupaten Karangasem, dilihat dari informasi variasi waktu dan intensitas. Kemudian akan dibuat grid dengan ukuran yang berbeda-beda pada daerah tersebut, dimana kumpulan data Satellite-tracking tersebut akan terdistribusi pada grid dengan ukuran tertentu sesuai kumpulan titik yang ada. Ukuran grid yang dibuat terdiri dari ukuran 2.5 x 2.5 km, 5 x 5 km, 10 x 10 km. Selain dari kumpulan data Satellite-tracking, hasil diskusi dengan pemerhati burung setempat juga menghasilkan rekomendasi daerah yang memiliki potensi ekowisata. Ukuran grid yang dibuat berfungsi untuk menentukan lamanya waktu kegiatan ekowisata berbasis raptor migran SMA. Semakin besar ukuran grid, semakin lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan ekowisata. Ukuran grid 2.5 x 2.5 km menunjukkan ukuran grid kecil, ukuran grid 5 x 5 km menunjukkan ukuran grid sedang, dan ukuran grid 10 x 10 km menunjukkan ukuran grid besar. Pada analisis grid diperoleh grid terpilih di setiap masing-masing ukuran grid yang kemudian grid terpilih tersebut di-overlay dengan peta lokasi desa yang memiliki Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW), sehingga didapatkan grid terpilih yang juga ditemui ODTW. Grid terpilih yang ditemui ODTW berpotensi untuk dikombinasikan antara kegiatan ekowisata berbasis raptor SMA dengan kegiatan wisata yang sudah ada di Kabupaten Karangasem. Pada tahap ini juga dikumpulkan data-data non spasial yang menunjang, juga dilakukan wawancara terhadap beberapa pihak yaitu mulai dari pihak masyarakat dan pemerhati burung.

Sintesis

Dari tahap-tahap yang telah dilakukan dapat diperoleh sebuah sintesis berupa karakteristik lanskap stopover habitat SMA, identifikasi potensi ekowisata berbasis raptor migran SMA, dan rekomendasi pengelolaan lanskap stopover habitat SMA di Kabupaten Karangasem, Bali.

14

HASIL

Gambaran Situasional Letak Geografis dan Administrasi

Lokasi penelitian terletak pada Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali. Lokasi ini terletak pada koordinat 8° 00’ 00’’ – 8°41’37.8’’ Lintang Selatan dan 115° 35’ 9.8’’ –115° 54’ 8.9’’ Bujur Timur dengan luas wilayah adalah 83 794.77 ha (Tabel 5). Luas wilayah Kabupaten Karangasem mencapai 14.90 % dari luas Pulau Bali yaitu 5 632.86 km2 (Pemerintah Kabupaten Karangasem 2011). Secara administrasi, Kabupaten Karangasem terbagi atas 8 kecamatan, 78 desa dengan jumlah penduduk 401 133 jiwa (BPS 2010). Secara adat, Kabupaten Karangasem memiliki 188 desa adat dan 605 banjar adat (Pemerintah Kabupaten Karangasem 2011). Kabupaten Karangasem dibatasi oleh:

a. sebelah utara berbatasan dengan Laut Bali, b. sebelah timur berbatasan dengan Selat Lombok,

c. sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, dan

d. sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Buleleng, Bangli, dan Klungkung.

Penutupan Lahan

Penutupan lahan di Kabupaten Karangasem meliputi beberapa kelas diantaranya badan air, lahan terbuka, lahan terbangun, semak belukar, hutan, ladang, dan sawah. Klasifikasi tersebut dibuat berdasarkan kondisi di lapangan yang mengacu pada data citra Landsat 8. Badan air (Gambar 7a) merupakan seluruh kondisi tutupan lahan yang didominasi oleh air meliputi sungai, danau, dan laut. Lahan terbangun (Gambar 7b) merupakan seluruh kawasan dengan lahan terbangun yang mencakup pemukiman, jalan raya, tempat ibadah, dan bangunan lainnya.

(a) (b) Gambar 7 (a) Badan air dan (b) lahan terbangun

(Sumber: Survei lapang 2013)

Lahan terbuka (Gambar 8a) merupakan seluruh kawasan yang didominasi oleh batuan dan tanah kosong. Semak belukar (Gambar 8b) merupakan seluruh kawasan yang terdiri dari campuran antara vegetasi tinggi dan rendah yang tumbuh secara liar serta belum termanfaatkan.

15

(a) (b) Gambar 8 (a) Lahan terbuka dan (b) semak belukar

(Sumber: Survei lapang 2013)

Hutan (Gambar 9a) merupakan seluruh hamparan lahan kering maupun basah yang didominasi oleh tegakan pohon. Ladang (Gambar 9b) merupakan seluruh kawasan berupa pertanian lahan kering yang ditanami non-padi seperti umbi-umbian, jagung, buah-buahan dan sayuran. Sawah (Gambar 10) merupakan seluruh kawasan berupa pertanian lahan basah yang ditanami padi.

(a) (b) Gambar 9 (a) Hutan dan (b) ladang

(Sumber: Survei lapang 2013)

Gambar 10 Sawah (Sumber: Survei lapang 2013)

Elevasi dan Kemiringan Lahan

Elevasi atau ketinggian lahan di Kabupaten Karangasem mulai dari 0 mdpl hingga 3031 mdpl (Gambar 13). Elevasi 0-300 meter memiliki luas terbesar di

16

Kabupaten Karangasem yaitu sebesar 32 744.8 ha (Gambar 11) atau sebesar 39.33% dari luas total keseluruhan. Sedangkan luas terendah terletak pada elevasi 700-1 000 meter yaitu sebesar 10 308.7 ha atau sebesar 12.35% dari luas total keseluruhan.

Gambar 11 Grafik luas klasifikasi elevasi di Kabupaten Karangasem

(Sumber : ASTER GDEM)

Kemiringan lahan atau slope di Kabupaten Karangasem bervariasi, mulai dari datar hingga pegunungan (Gambar 14). Pada Gambar 12 menunjukan bahwa luas daerah kemiringan lahan terbesar yaitu kemiringan lahan 8-15% (bergelombang) dengan luas 19 412.6 ha atau sebesar 23.16% dari luas total keseluruhan. Sedangkan luas terendah terletak pada kemiringan lahan 0-3% (datar) yaitu sebesar 4 892.77 ha atau sebesar 5.84% dari luas total keseluruhan.

4892,77 13565,8 19412,6 17136,6 13880,6 14915,8 0 5000 10000 15000 20000 25000 0-3% 3-8% 8-15% 15-25% 25-40% >40%

Gambar 12 Grafik luas klasifikasi kemiringan lahan di Kabupaten Karangasem

17

Gambar 13 Peta elevasi (Sumber : ASTER GDEM)

18

Gambar 14 Peta kemiringan lahan (Sumber : ASTER GDEM)

19

Klasifikasi Penutupan Lahan

Hasil klasifikasi penutupan lahan dengan metode klasifikasi terbimbing menghasilkan beberapa kelas referensi yaitu no data (data kosong atau bayangan awan), awan, lahan terbangun, badan air, hutan, ladang, sawah, lahan terbuka, dan semak belukar (Gambar 15). Perbandingan luas penutupan lahan di Kabupaten Karangasem dapat dilihat pada Tabel 5. Kelas penutupan lahan memiliki luas terbesar yaitu sebesar 25 330.05 ha sebesar 30.23% dari total keseluruhan luas penutupan lahan dan kelas penutupan lahan badan air memiliki luas terkecil yaitu sebesar 632.61 ha atau sebesar 0.75% dari total keseluruhan luas penutupan lahan.

Tabel 5 Perbandingan luas hasil klasifikasi penutupan lahan di Kab. Karangasem No Kelas Penutupan Lahan Luas (ha) Persentase (%)

1 Badan Air 632.61 0.75 2 Lahan Terbangun 4 086.54 4.88 3 Lahan Terbuka 8 187.93 9.77 4 Semak Belukar 19 020.33 22.70 5 Hutan 13 064.04 15.59 6 Ladang 25 330.05 30.23 7 Sawah 9 742.68 11.63 8 Awan 3 730.59 4.45 Total 83 794.77 100.00

Evaluasi akurasi dengan metode kemungkinan maksimum (maximum

likelihood) menghasilkan akurasi umum (overall accuracy) sebesar 90.35%. Akurasi Kappa yaitu sebesar 88.69%. Matriks kesalahan pada pendugaan akurasi

menunjukkan bahwa nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) terbesar yaitu kelas

penutupan lahan badan air sebesar 100%, sedangkan yang terendah yaitu hutan

sebesar 86.21%. Nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) terbesar yaitu kelas

penutupan lahan untuk semak belukar sebesar 93.48%, sedangkan yang terendah yaitu lahan terbangun sebesar 84.44%. Besarnya akurasi pembuat dan akurasi pengguna pada masing-masing penutupan lahan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Pendugaan akurasi dari penggunaan dan penutupan lahan tahun 2013

Kelas Data Acuan Total

Baris UA (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 Badan Air 1 32 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3 28 0 32 100 Lahan Terbuka 2 2 38 2 0 0 0 0 42 90.48 Lahan Terbangun 3 0 0 32 3 0 0 0 35 91.43 Semak Belukar 4 1 0 1 36 1 0 0 40 90.00 Hutan 5 0 1 0 0 25 3 0 29 86.21 Ladang 6 0 2 0 0 1 43 0 49 87.76 Sawah 7 0 3 0 0 0 0 0 31 90.32 Awan8 0 1 0 0 0 0 0 0 1 - Total Kolom 35 45 35 39 27 46 32 0 259 PA (%) 91.43 84.44 91.43 92.31 92.59 93.48 87.50 -

Overall Accuracy = 90.35%; Kappa Accuracy = 88.69% Keterangan:

20

Gambar 15 Peta penutupan lahan

21

Karakteristik Lanskap Stopover Habitat

Analisis Komponen Utama (AKU) yang telah dilakukan pada seluruh variabel lingkungan menghasilkan 5 Principal Component (PC) atau Komponen Utama (KU) yang dapat menjelaskan 82.491 % dari variasi data bagi karakteristik stopover habitat SMA (Tabel 7). Setiap karakteristik lanskap yang terbentuk memiliki struktur lanskap baru yang tersusun dari variabel lingkungan yang berhubungan. Pada hasil AKU yang telah dilakukan pada seluruh variabel lingkungan dan dirotasi dengan metode varimax rotation didapatkan banyak Komponen Utama (KU). Dari banyaknya KU yang terbentuk, terdapat lima KU yang dapat mewakili 82.491 % dari jumlah data. Dari kelima KU yang didapat memiliki karakteristik lanskap yang berbeda-beda. Karakteristik masing-masing KU juga tersusun oleh variabel lingkungan yang berbeda tiap KU.

Tabel 7 Hasil analisis komponen utama

Variabel Lingkungan KU1 KU2 KU3 KU4 KU5

JTK1 0.905 JTK2 0.790 JTK3 0.869 JTK4 0.641 JTK6 -0.818 JTLD 0.726 JTE1 0.892 JTE2 0.950 JTE3 0.883 JTE4 0.858 JTE5 0.842 JTBK 0.834 JTHT 0.613 JTBA 0.794 JTSH 0.859 JTK5 0.791 JTSK 0.765 JTBG 0.556 Eigenvalue 4.496 3.396 3.028 2.062 1.867 Variance (%) 24.976 18.866 16.821 11.455 10.373 Cumulative (%) 24.976 43.842 60.663 72.118 82.491

*Value are omitted if <0.5

Metode Ekstraksi : Analisis Komponen Utama

Metode Rotasi : Varimax with Kaiser Normalization

Keterangan:

JTE1 = Jarak Terdekat ke Elevasi 0-300 m JTBA = Jarak Terdekat ke Badan Air

JTE2 = Jarak Terdekat ke Elevasi 300-500 m JTBK = Jarak Terdekat ke Lahan Terbuka

JTE3 = Jarak Terdekat ke Elevasi 500-700 m JTBG = Jarak Terdekat ke Lahan Terbangun

JTE4 = Jarak Terdekat ke Elevasi 700-1 000 m JTSK = Jarak Terdekat ke Semak Belukar

JTE5 = Jarak Terdekat ke Elevasi >1 000 m JTHT = Jarak Terdekat ke Hutan

JTK1 = Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan 0-3% JTLD = Jarak Terdekat ke Ladang JTK2 = Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan 3-8% JTSH = Jarak Terdekat ke Sawah JTK3 = Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan 8-15%

JTK4 = Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan15-25% KUn = Komponen ke- n untuk stopover JTK5 = Jarak Terdekat ke Kemiringan Lahan 25-40% habitat

22

Pada komponen utama yang pertama (KU1) memiliki nilai variance dan eigenvalue masing-masing 24.976% dan 4.496, artinya KU1 dapat menjelaskan sebesar 24.976% dari variasi data yang menjadi karakteristik lanskap stopover habitat SMA dan memiliki pengaruh sebesar 4.496. KU1 diinterpretasikan sebagai daerah beragam kemiringan lahan dan ladang. Karakteristik lanskap ini memiliki jarak terdekat dengan lanskap yang memiliki kemiringan lahan 0% sampai 25% dan >40% serta penutupan lahan berupa ladang. Rata-rata jarak terdekat dari variabel lingkungan JTK1, JTK2, JTK3, JTK4, JTK6, dan JTLD masing-masing sebesar 1.23 km, 0.74 km, 0.30 km, 0.27 km, 0.59 km, dan 0.34 km.

Pada komponen utama yang kedua (KU2) memiliki nilai variance dan eigenvalue masing-masing 18.866% dan 3.396, artinya KU2 dapat menjelaskan sebesar 18.866% dari variasi data yang menjadi karakteristik lanskap stopover habitat SMA dan memiliki pengaruh sebesar 3.396. KU2 diinterpretasikan sebagai daerah elevasi <700 meter. Hal tersebut didapatkan karena pada hasil KU2 terkait dengan variabel lingkungan JTE1, JTE2, dan JTE3. Variabel lingkungan JTE1, JTE2, dan JTE3 memiliki rata-rata jarak terdekat sebesar 4.05 km, 2.04 km, dan 1.09 km.

Pada komponen utama yang ketiga (KU3) memiliki nilai variance dan eigenvalue masing-masing 16.821% dan 3.028, artinya KU3 dapat menjelaskan sebesar 16.821% dari variasi data yang menjadi karakteristik lanskap stopover habitat SMA dan memiliki pengaruh sebesar 3.028. KU3 diinterpretasikan sebagai daerah elevasi >700 meter, lahan terbuka, dan hutan. Karakteristik lanskap ini terkait jarak terdekat dengan lahan terbuka, semak belukar, elevasi 700-1 000 meter, dan elevasi >1 000 meter. Variabel lingkungan JTE4, JTE5, JTBK, dan JTHT, memiliki rata-rata jarak terdekat sebesar 0.97 km, 2.15 km, 0.80 km, dan 0.52 km.

Pada komponen utama yang keempat (KU4) memiliki nilai variance dan eigenvalue masing-masing 11.455% dan 2.062, artinya KU4 dapat menjelaskan sebesar 11.455% dari variasi data yang menjadi karakteristik lanskap stopover habitat SMA dan memiliki pengaruh sebesar 2.062. KU4 diinterpretasikan sebagai daerah badan air dan sawah. Rata-rata jarak terdekat dari variabel lingkungan JTBA dan JTSH masing-masing sebesar 5.27 km dan 1.28 km.

Pada komponen utama yang kelima (KU5) memiliki nilai variance dan eigenvalue masing-masing 10.373% dan 1.867, artinya KU5 dapat menjelaskan sebesar 10.373% dari variasi data yang menjadi karakteristik lanskap stopover habitat SMA dan memiliki pengaruh sebesar 1.867. KU5 diinterpretasikan sebagai daerah pegunungan dekat semak dan lahan terbangun. Hal ini karena karakteristik lanskap ini berada pada jarak terdekat dengan kemiringan lahan 25-40% (pegunungan), penutupan lahan semak, dan lahan terbangun. Variabel lingkungan JTK5, JTSK dan JTBG memiliki rata-rata jarak terdekat sebesar 0.25 km, 0.30 km, dan 0.90 km.

Potensi Ekowisata Berbasis Raptor Migran SMA

Pada analisis potensi ekowisata berbasis raptor migran SMA digunakan metode grid untuk menentukan lokasi yang berpotensi. Metode grid adalah membuat grid dengan ukuran tertentu sebagai alat untuk menentukan lokasi

23 terpilih atau lokasi yang berpotensi. Grid yang dibuat meliputi ukuran 2.5 x 2.5 km, 5 x 5 km, dan 10 x 10 km. Kemudian grid dengan masing-masing ukuran di-overlay dengan titik data Satellite-tracking yang tersebar di Kabupaten Karangasem. Setelah itu dipilih satu grid dari masing-masing ukuran grid dengan kriteria grid terpilih yaitu grid yang memiliki jumlah titik data Satellite-tracking terbanyak di dalamnya. Analisis potensi ekowisata yang telah dilakukan dengan metode grid menghasilkan sebanyak empat grid terpilih.

Gambar 16 Lokasi dengan Grid 2,5 x 2,5 km (Sumber : ARGOS 2006 - 2009)

24

Grid tersebut meliputi satu grid terpilih pada grid 2.5 x 2.5 km, dua grid terpilih pada grid 5 x 5 km, dan satu grid terpilih pada grid 10 x 10 km. Pada grid terpilih dengan ukuran grid 2.5 x 2.5 km ditemukan empat titik Satellite-tracking. Lokasi grid tersebut terletak di Desa Ban, Kecamatan Kubu (Gambar 16).

Gambar 17 Lokasi dengan Grid 5 x 5 km (Sumber : ARGOS 2006 - 2009)

25 Pada grid 5 x 5 km terdapat dua grid terpilih dengan masing-masing grid ditemukan lima titik Satellite-tracking. Grid terpilih yang pertama terletak di Desa Ban, Kecamatan Kubu, sedangkan grid terpilih yang kedua terletak di Desa Bunutan, Kecamatan Abang dan Desa Seraya Timur, Kecamatan Karangasem. Jumlah titik Satellite-tracking di Desa Bunutan sebanyak dua titik dan tiga titik di Desa Seraya Timur (Gambar 17).

Gambar 18 Lokasi dengan Grid 10 x 10 km (Sumber : ARGOS 2006 - 2009)

26

Pada grid terpilih 10 x 10 km terpilih satu grid dengan jumlah titik Satellite-tracking sebanyak enam titik. Enam titik tersebut tersebar di tiga desa yang mencakup dua titik ditemukan di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, dua titik di Desa Datah, Kecamatan Abang, dan dua titik di Desa Nawakerti, Kecamatan Abang (Gambar 18).

Masing-masing grid terpilih tersebut kemudian di-overlay dengan lokasi desa yang memiliki objek dan daya tarik wisata (ODTW) di Kabupaten Karangasem (Tabel 8), Sehingga diperoleh grid terpilih yang berpotensi untuk dikombinasikan dengan ODTW yang sudah ada. Grid tersebut adalah grid terpilih 10 x 10 km, karena didalam grid terdapat tiga desa yang memiliki ODTW. Desa tersebut adalah Desa Ababi dengan objek wisata budaya, Desa Purwakerti dan Desa Tulamben dengan objek wisata tirta (Gambar 19).

Tabel 8 Data objek dan daya tarik wisata (ODTW) Kabupaten Karangasem Bali No Nama Objek dan Daya

Tarik Wisata (ODTW)

Jenis Wisata Lokasi

1 Bukit Jambul Wisata Alam Desa Pasaban, Kecamatan Rendang

2 Putung Wisata Alam Desa Duda Timur,

Kecamatan Selat

3 Iseh Wisata Alam Desa Sidemen,

Kecamatan Sidemen

4 Yeh Malet Wisata Alam Desa Antiga,

Kecamatan Manggis 5 Wisata Agro Kebun Salak Wisata Alam;

Wisata Minat Khusus

Desa Sibetan,

Kecamatan Bebandem 6 Puri Agung Karangasem Wisata Budaya Desa Karangasem,

Kecamatan Karangasem 7 Taman Soekasada Ujung Wisata Budaya Desa Tumbu,

Kecamatan Karangasem 8 Taman Tirtagangga Wisata Budaya Desa Ababi,

Kecamatan Abang 9 Desa Tenganan Wisata Budaya Desa Tenganan,

Kecamatan Manggis

10 Besakih Wisata Budaya Desa Besakih,

Kecamatan Rendang 11 Padangbai Wisata Tirta Desa Padangbai,

Kecamatan Manggis 12 Jemeluk Amed Wisata Tirta Desa Purwakerti,

Kecamatan Abang

13 Tulamben Wisata Tirta Desa Tulamben,

Kecamatan Kubu 14 Sungai Telaga Waja Wisata Tirta Desa Rendang,

Kecamatan Rendang; Desa Muncan, Kecamatan Selat

15 Candidasa Wisata Tirta Desa Bugbug,

Kecamatan Karangasem (Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem 2013)

27

Gambar 19 Peta lokasi ekowisata berbasis raptor migran Sikep Madu Asia dan ODTW di Kabupaten Karangasem

28

PEMBAHASAN

Karakteristik Lanskap Stopover Habitat

Stopover habitat atau habitat tempat singgah adalah suatu lokasi atau tempat yang menjadi rute migrasi dan dijadikan tempat singgah sementara ketika sedang melakukan migrasi. Selama masa persinggahan burung melakukan istirahat, berkumpul, dan mencari makan (Bildstein 2006). Stopover habitat merupakan resting site untuk pemilihan energi bagi raptor dan kondisi ketersediaan pakan tidak seoptimum di habitat musim dingin. Pada karakteristik komponen utama pertama (KU1) diinterpretasikan sebagai karakter lanskap dengan beragam kemiringan lahan mulai dari kawasan yang datar hingga kawasan pegunungan dan kawasan ladang. Hal ini ditunjukkan pada kondisi di Pegunungan Seraya Karangasem Bali yang beragam kemiringan lahan mulai dari datar, bergelombang, dan pegunungan. Saat bermigrasi, sebagian besar raptor bergerak meluncur dengan menggunakan angin termal untuk menghemat energi (Panuccio 2011). Angin termal dipengaruhi oleh variasi permukaan medan dan radiasi matahari

(Bildstein 2006). Kemiringan lahan yang beragam membuat variasi bentuk lahan

(landform), sehingga berpengaruh terhadap angin yang dihasilkan. Angin seperti ini dibutuhkan SMA untuk terbang dengan baik (Sutjipto 2013). Penutupan lahan

berupa ladang terkait dengan hunting area selain hutan, karena di ladang terdapat

keberadaan pakan seperti ular yang merupakan makanan dari SMA saat berigrasi

melintasi Kabupaten Karangasem.

Pada Karakteristik komponen utama kedua (KU2) diinterpretasikan sebagai karakter lanskap daerah dengan elevasi 0-700 meter. Elevasi 0-700 meter terkait dengan angin termal yang terjadi sehingga SMA dapat terbang dengan menghemat energi. Hal ini menjelaskan bahwa kemiringan lahan dan elevasi menjadi variabel

yang berpengaruh bagi stopover habitat SMA. Bentukan lereng yang beragam di

stopover habitat akan memberikan angin termal yang diperlukan untuk SMA ketika

terbang atau soaring. Raptor membubung dengan meningkatkan aliran udara pada

sayap-sayapnya dan tetap tertahan dalam aliran udara yang cukup kuat. Udara yang berhembus ke atas merupakan nilai tambah bagi raptor. Memanfaatkan aliran udara untuk menghemat energi terbang disebut membubung. Membubung memiliki dua keuntungan utama yaitu menghemat energi yang dibutuhkan di udara ketika mencari makanan atau ketika mempertahankan tempat buruan dan memungkinkan raptor untuk meningkatkan jarak tempuh terbangnya (Ameliawati 2014).

KU1 dan KU2 merupakan karakteristik stopover habitat dengan beragam

kemiringan lahan yang menunjukan dari kawasan Pegunungan Seraya (Gambar 21).

Pegunungan Seraya merupakan salah satu leading line di Kabupaten Karangasem.

Leading line adalah formasi geografi meliputi punggung bukit dan sistem sungai yang menyediakan daya tarik dan saluran migrasi bagi raptor selama bermigrasi. Leading line (Gambar 20) memberikan keuntungan bagi raptor untuk melakukan slope soaring. Slope soaring merupakan teknik raptor terbang membubung naik ke atas dengan memanfaatkan angin yang terjadi akibat angin horizontal membentur dan terbelokan ke atas oleh gunung dan punggung bukit. Soaring merupakan tingkat atau urutan menaik dalam terbang tanpa mengepakan sayap (flapping) dengan hanya mengulurkan sayap yang mana pergerakan udara sama dengan atau lebih besar dari kecepatan dasar raptor saat terbang meluncur (gliding) (Bildstein 2006).

29

Gambar 20 Leading line (Sumber: Bildstein 2006)

Gambar 21 Jalur migrasi musim gugur (Sumber: Germi F & Waluyo D 2006)

Pada karakteristik komponen utama ketiga (KU3) dinterpretasikan sebagai karakter lanskap daerah hutan dan terbuka pada elevasi >700 meter. Karakteristik ini menunjukkan bahwa SMA memerlukan hutan sebagai tempat untuk mencari makan atau sebagai hunting area saat SMA singgah sementara selama satu hingga empat hari di Kabupaten Karangasem. Penutupan lahan terbuka terkait dengan karakter daerah puncak Gunung Agung yang didominasi oleh lahan terbuka (batuan dan tanah kosong) dan juga terdapat penutupan lahan hutan berupa hutan

30

lahan kering yang berada pada ketinggian >700 meter dari permukaan laut. Sebagian hutan pada elevasi >700 meter juga terlihat pada kawasan Pegunungan Seraya. Pada penutupan lahan berupa hutan banyak ditemui tegakan pohon tinggi yang digunakan raptor khususnya SMA untuk bertengger dan mengintai mangsa (roosting). Pada stopover habitat, SMA membutuhkan pakan namun bukan pakan utamanya (larva lebah) yang dimangsa melainkan makanan pengganti sepert ular,

Dokumen terkait