• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta Kendali Atribut

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 34-38)

LEMBAR PERIKSA

1. Peta Kendali Atribut

Peta kendali atribut merupakan peta kendali yang digunakan untuk mengukur kualitas dari ketidak sesuaian produk dengan tujuan untuk mengetahui apakah produksi tersebut berada dalam kondisi terkontrol (in statistical control) ataukah tidak terkontrol (out of statistical control) (Haryono dan Irwan, 2005)

Kualitas karakteristik yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka, misalkan ketika mengukur berat badan, tinggi, jarak, ketebalan dan lain sebagainya. Sebagai contoh dari klasifikasi karakteristik kualitas pada umumnya akan menunjukkan unit sebagai unit sesuai atau unit tidak sesuai. Kriteria lain karakteristik kualitas akan memilih kategori unit ke yang cacat dan yang tidak cacat. Kualitas karakteristik jenis seperti ini yang disebut dengan jenis atribut. Perhatikan bahwa ada perbedaan antara yang tidak sesuai dengan teknik spesifikasi bagian yang terkontrol (tidak cacat) dari sebuah unit, yang tidak sesuai dapat berfungsi dengan baik walaupun pada kenyataannya tidak cacat sama sekali, sementara bagian dapat dikontrol dan tidak berfungsi seperti yang diinginkan misalnya, rusak atau yang lainnya.

Contoh lain dari karakteristik kualitas atribut adalah jumlah kegagalan dalam menjalankan produksi, misalkan banyak produk yang rusak. Dalam proses produksi terkadang ada kesalahan ataupun hasil produksi tidak sesuai dengan keinginan. Dalam hal ini kita dapat menggunakan pengendalian proses statistik data atribut. Data atribut dalam pengendalian kualitas menunjukkan karakteristik kualitas yang sesuai dengan spesifikasi atau tidak sesuai dengan spesifikasi.

Menurut Besterfield, atribut digunakan apabila ada pengukuran yang tidak memungkinkan untuk dilakukan, misalnya goresan, kesalahan warna, atau ada bagian yang hilang. Selain itu, atribut digunakan apabila pengukuran dapat dibuat tetapi tidak dibuat karena alasan waktu, biaya atau kebutuhan. Peta kendali atribut dapat digunakan pada semua tingkatan dalam organisasi, perusahaan, departemen, pusat-pusat kerja dan mesin-mesin.

Selain itu, data atribut dapat membantu mengidentifikasi akar permasalahan baik pada tingkat umum maupun pada tingkat yang lebih mendetail. Disamping kelebihan yang dimiliki oleh peta pengendali kualitas untuk data atribut, ada beberapa kelemahan yang dimiliki peta kendali tersebut, yaitu dalam peta pengendali kualitas data atribut tidak dapat diketahui seberapa jauh ketidaktepatan spesifikasi tersebut.

Jenis-jenis peta kendali atribut meliputi: peta kendali p, peta kendali np, peta kendali c, peta kendali u.

a. Peta kendali kerusakan (p chart)

Jika sampel yang diambil untuk setiap kali melakukan observasi jumlahnya sama maka dapat digunakan peta kendali proporsi kesalah maupun banyaknya kesalahan. Namun bila sampel yang diambil bervariasi untuk setiap kali melakukan observasi berubah-ubah jumlahnya atau memang perusahaan tersebut ingin melakukan 100% inspeksi maka kita harus menggunakan peta pengendali proporsi kesalah (p-chart). Apabila ukuran sampel atau ukuran sub kelompok yang digunakan pada setiap kali observasi naik atau lebih banyak, maka batas-batas pengendali menjadi lebih rendah.

Namun, apabila banyaknya sampel atau sub kelompok yang digunakan pada setiap kali observasi turun dan berkurang, maka batas-batas pengendali menjadi lebih tinggi atau meningkat. Kondisi ini mempengaruhi karakteristik kualitas proses produksi. Hal inilah yang merupakan kelemahan pengendalian kualitas proses statistik untuk data atribut. Sehingga, peta kendali p atau biasa disebut dengan pengendali proporsi kesalahan digunakan untuk mengetahui apakah cacat produk yang dihasilkan masih dalam batas yang ditentukan (batas kontrol).

- Menghitung untuk setiap subgroup nilai proporsi unit yang cacat, yaitu: Jika bagian yang tidak sesuai pada proses itu p tidak diketahui, maka p itu harus ditaksir dari data observasi. Prosedur yang biasa adalah memilih m sampel pendahuluan, masing-masing berukuran n. Jika ada pi unit tidak sesuai

dalam sampel i maka kita hitung bagian yang tidak sesuai dalam sampel ke-i itu sebagai i p = i m n pi ,... 2 , 1  (Persamaan 2.1)

dengan: pi = proporsi cacat pada setiap sampel pi = banyaknya produk cacat

n = ukuran subgroup

- Menghitung nilai rata-rata dari sampel p, yaitu pdapat dihitung dengan:

m n pi m cat proporsica CL m i m i . 1 1

  (Persamaan 2.2)

dimana: CL= Garis pusat peta pengendali proporsi kesalahan

pi = Proporsi kesalahan setiap sampel/sub kelompok dalam setiap

observasi

n = Banyaknya sampel yang diambil tiap observasi

m = Banyaknya observasi yang dilakukan

- Menghitung batas kendali dari peta kendali p:

Selanjutnya akan ditentukan batas kendali atas dan batas kendali bawah yang ditunjukkan oleh persamaan berikut:

UCL (Upper Control Limit) = p + 3

 

n

p p1

(Persamaan 2.3)

LCL (Lower Control Limit) = p- 3

 

n

p p1

(Persamaan 2.4) - Plot data proporsi (persentase) unit cacat serta amati apakah data tersebut

berada dalam pengendalian atau di luar pengendalian.

Menurut Montgomery (1995) tindakan yang akan kita lakukan jika proses tersebut melewati batas kendali (tidak terkontrol) yaitu melakukan penelitian ulang (mengukur ulang pada titik yang berada di luar batas kontrol), untuk

tindakan ini bahwa titik-titik yang terletak diluar batas kendali kemungkinan besar digunakan dari suatu distribusi probabilitas karakteristik keadaan tak terkendali. Alternatifnya tetap menggunakan proses tersebut dengan merevisinya untuk pengendalian selanjutnya.

b. Peta kendali np

Peta kendali np digunakan untuk data yang terdiri dari jumlah (proporsi) tidak sesuai item relatif terhadap jumlah barang yang diperiksa. Secara konseptual, sebagai suatu proses menghasilkan barang atas waktu subkelompok terdiri dari item dipilih dan diperiksa setiap subgroup.

c. Peta kendali c

Barang yang tidak sesuai (cacat dalam pengertian teknis dari kata tersebut) adalah barang yang dalam beberapa hal gagal memenuhi satu atau lebih spesifikasi yang ditetapkan. Setiap kejadian dari kurangnya kesesuaian barang terhadap speisfikasi adalah ketidaksesuaian (cacat atau rusak). Setiap barang yang tidak sesuai berisi satu atau lebih ketidaksesuaian. Telah diketahui bahwa suatu produk dikatakan cacat (defective) jika produk itu tidak memenuhi satu syarat atau lebih. Atau dengan kata lain suatu produk dikatakan berkualitas jika tidak terdapat kecatatan sedikitpun pada sebuah barang atau objek tersebut. Setiap kekurangan atau cacat disebut defect, jadi setiap produk yang cacat terdapat dari satu defect atau lebih. Secara umum dalam peta kendali c yang diperhatikan adalah mengenai adanya ketidaksesuaian atau cacat per tiap unit objek atau barang.

Istilah tidak sesuai bisa berarti cacat atau gagal memenuhi satu atau lebih spesifikasi yang ditetapkan. Setiap barang yang tidak sesuai berisi satu atau lebih ketidaksesuaian. Peta kendali c digunakan untuk pengendalian jumlah item yang tidak sesuai dalam subgroup yang berukuran konstan. Misalnya: Peta kendali c mengetahui jumlah paku keling yang tidak sesuai pada sayap pesawat terbang, mengetahui jumlah ketidaksempurnaan permukaan pada satu monitor komputer yang diteliti, mengetahui jumlah bercak pada sebidang tembok dan lain sebagainya.

d. Peta kendali u

Peta kendali u melukiskan grafik pengendalian untuk ketidak sesuaian dengan ukuran sampel yang konstan dan tidak konstan dengan ukuran unit pemeriksaan. Unit pemeriksaan dipilih untuk memudahkan pengumpulan data atau operasional. Tetapi tidak ada alasan mengapa ukuran sampel harus terbatas pada suatu unit pengukuran.

Ukuran sampel harus dipilih menurut pertimbangan statistik, seperti menentukan ukuran sampel cukup besar untuk menjamin batas pengendali bawah yang positif atau untuk memperoleh probabilitas tertentu akan menyidik suatu pergeseran proses. Sebagai alternatif lain, faktor-faktor ekonomi dapat juga masuk dalam menentukan ukuran sampel.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 34-38)

Dokumen terkait