BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN PUSTAKA
2. Peta Konsep
a. Pengertian Peta Konsep
Menurut martin dalam trianto peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasi bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama.
Pemetaan konsep menurut novak dianggap sebagai teknik belajar yang utama diguanakan untuk representasi grafis dari pengetahuan. Teknik ini sebelumnya dibuat dan dikembangkan di Cornell University dan didasarkan pada teori “belajar bermakna” yang diusulkan oleh Ausubel. Teori ini mendukung hipotesis bahwa
“faktor yang paling penting dalam belajar adalah subjek apa yang telah diketahui”
jadi peta konsep merupakan suatu gambaran besar konsep yang tersusun atas konsep-konsep yang saling berakiatan sebagai hasil dari pemetaan konsep-konsep. Konsep-konsep-konsep pada peta konsep dapat digunakan sebagai alat untuk belajar bermakna oleh peserta didik, mengetahui seberapa banyak peserta didik tahu konsep dari suatu materi.
Novak dan Gowin mencatat bahwa pemetaan konsep adalah kegiatan kreatif dimana pelajar harus menggerakkan upaya untuk memperjelas makna konsep dalam pengetahuan domain yang spesifik, dengan mengidentifikasi konsep-konsep penting,
11
membangun hubungan konsep, dan struktur yang menunjukkan mereka. Pemetaan konsep dapat menjadi kegiatan yang sangat baik dalam menilai pengetahuan peserta didik sebelumnya.
b. Tujuan Pembelajaran Peta Konsep
Peta konsep memiliki berbagai tujuan diantaranya adalah untuk menyelidiki apa yang telah diketahui peserta didik (pengetahuan awal), menyelidiki cara belajar peserta didik, mengungkapkan konsepsi yang salah pada peserta didik (miskonsepsi) dan sebagai alat evaluasi pembelajaran.
Penggunaan peta konsep dalam menyelidiki pengetahuan peserta didik mengenai pemahamannya terhadap suatu pembelajaran akan lebih mudah terlihat hubungan antar konsepnya. Peserta didik dalam menentukan hubungan keterkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lain saling berhubungan akan sangat membantu peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal sains khususnya fisika. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa penggunaan peta konsep dapat membantu untuk memahami konsep peserta didik dan dapat mengemukakan seluruh pengetahuan yang diperoleh peserta didik mengenai suatu masalah.
c. Ciri-Ciri Peta Konsep
Agar pemahaman terhadap terhadap peta konsep lebih jelas, mengungkapkan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut.
1) Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain lain. Dengan membuat sendiri peta konsep peserta didik melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang
studi lebih bermakna. Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang
2) Studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang menjadikan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan gambar satu dimensi saja. Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan hubungan antara konsep-konsep.
3) Cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama, ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.
4) Adanya hierarki, jika dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hierarki pada peta konsep tersebut.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, maka sebaiknya peta konsep disusun secara hierarki, artinya konsep yang lebih umum diletakkan pada puncak peta, makin kebawah konsep-konsep diurutkan menjadi konsep yang lebih khusus. Peta konsep yang dibuat peserta didik dapat membantu pendidik untuk mengetahui macam-macam konsep yang ditanamkan dalam pembelajaran lebih besar dari yang diajarkan, untuk mengetahui pengetahuan awal peserta didik dan untuk memperkuat pemahaman konseptual pendidik itu sendiri dan disiplin ilmunya. Pemahaman ini
13
akan memperbaiki perencanaan dan intruksi pendidik. Pemetaan yang jelas dapat mengetahui pengetahuan awal peserta didik yang dibentuk peserta didik.
d. Macam-macam Peta Konsep
Menurut Nur dalam Trianto, peta konsep ada empat macam yaitu pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (event chains), peta konsep siklus (cycle concept map) dan peta konsep laba-laba (spider concept map).
1) Pohon Jaringan (network tree)
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata yang lain dituliskan pada garis-garis penghubung. Garis-garis pada peta konsep menunjukkan hubungan antar ide-ide itu. Kata-kata yang ditulis memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan ha-hal berikut:
a) Menunjukkan sebab akibat b) Suatu hierarki
c) Prosedur yang bercabang
d) Istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan.
2) Rantai Kejadian (event chain)
Peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atautahap-tahap dalam suatu proses. Rantai kejadian ini mengutamakan suatu kejadian pokok atau kejadian awal yang kemudian mengakibatkan kejadian lain sampai tertuju
pada suatu hasil dalam membuat rantai kejadian, pertama-tama temukan suatu kejadian yang mengawali rantai itu. Kejadian ini disebut rantai awal, Kemudian temukan kejadian berikutnya dalam rantai itu dan lanjutkan sampai mencapai suatu hasil. Rantai kejadian cocok untuk memvisualisasikan sebagai berikut:
a) Memberikan tahap-tahap dari suatu proses b) Langkah-langkah dalam suatu prosedur linier c) Suatu urutan kejadian
3) Peta Konsep Laba-laba (spider concept map)
Peta konsep model laba-laba dapat digunakan untuk memvisualisasikan hasil curah pendapat ide-ide berangkat dari suatu ide central sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut :
a) Kategori yang tidak paralel.
b) Tidak tersusun atas hierarki.
c) Hasil curah pendapat.
4) Peta Konsep Siklus (cycle concept map)
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkansuatu hasil final. Kejadian terakhir pada rantai itu menghubungkankembali ke kejadian awal. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukkan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang.
15
Dari macam-macam peta konsep di atas materi dalam bentuk bagan yang menghubungkan konsep-konsep tersebut dapat berperan dalam pembelajaran bermakna sebagai media pengajaran yang baik dan menarik karena melalui peta konsep materi-materi pelajaran yang dianggap sulit dan rumit terlihat mudah untuk dipahami dan dimengerti.
e. Langkah-langkah Membuat Peta Konsep
Peta konsep mempunyai peranan penting dalam belajar bermakna peserta didik karena dapat mebantu peserta didik memahami suatu materi pelajaran. Oleh sebab itu langkah-langkah membuat peta konsep sebagai berikut:
Tabel.2.1 Langkah-Langkah Membuat Peta Konsep Langkah 1 Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi
sejumlah konsep Langkah 2
Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama
Langkah 3 Menempatkan ide utama ditengah atau dipuncak peta tersebut
Langkah 4
Mengelompokkan ide-ide sekunder disekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan hubungan ide-ide
tersebut dengan ide utama
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan pula langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut:
a) Memilih suatu bahan bacaan pada materi ekosistem.
b) Menentukan konsep-konsep materi ekosistem yang relevan.
c) Mengelompokkan konsep-konsep materi ekosistem dari yang paling umum ke yang paling khusus.
d) Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan. Konsep yang paling umum diletakkan dibagian atas bagan tersebut, lalu dihubungkan dengan kata penghubung misalnya “terdiri atas”,” menggunakan”, dan lain-lain.
f. Kegunaan Peta Konsep
Dalam pendidikan peta konsep dapat diterapkan untuk berbagai tujuan, diantaranya:
1. Menyelidiki apa yang telah diketahui peserta didik
Telah dikemukakan terdahulu bahwa belajar bermakna membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep yang relevan yang telah mereka miliki. Untuk memperlancar proses ini, baik pendidik maupun peserta didik , perlu mengetahui “tempat awal konseptual”. Dengan perkataan lain, pendidik harus mengetahui konsep-konsep apa yang telah dimiliki oleh peserta didik waktu pelajaran akan dimulai.
2. Mempelajari cara belajar
Dengan melatih peserta didik membuat peta konsep untuk mengambil inti dari apa yang mereka baca, baik buku teks maupun buku baca-bacaan lain, berarti kita meminta mereka untuk membaca buku itu dengan seksama.
Mereka tidak dapat dikatakan lagi tidak berpikir. Untuk mengeluarkan konsep-konsep kemudian menghubungkan konsep-konsep itu dengan kata penghubung menjadi proposisi yang bermakna.
17
3. Mengungkapkan miskonsepsi
Dari peta konsep yang dibuat oleh para peserta didik, adakalanya ditemukan miskonsepsi yang terjadi dari dikaitkannya dua konsep atau lebih yang membentuk proposisi yang salah.
4. Alat evaluasi
Salah satu alat evaluasi yang disarankan adalah peta konsep yang didasarkan pada tiga gagasan dalam teori belajar Ausubel. Dalam menilai peta konsep yang dibuat oleh para pelajar secara ringkas dikemukakan empat kriteria penilaian , yaitu 1) kesahihan proposisi 2) adanya hierarki 3) adanya ikatan silang 4) adanyacontoh seperti yang dikemukakan Novak.
3. Materi Usaha dan Energi a. Usaha
Dalam kehidupan sehari-hari, usaha berarti segala sesuatu yang dikerjakan manusia. Usaha menurut pengertian sehari-hari berbeda dengan pengertian usaha menurut fisika. Usaha dalam fisika, berkaitan dengan suatu perubahan. Seperti kita ketahui, gaya dapat menghasilkan perubahan. Apabila gaya bekerja pada benda yang diam, benda tersebut bisa berubah posisinya. Sedangkan bila gaya bekerja pada benda yang bergerak, benda tersebut bisa berubah kecepatannya. Pendefinisian usaha yang berkaitan dengan gaya dan perpindahan yaitu pada saat memindahkan massa yang lebih besar diperlukan usaha yang lebih besar. Demikian pula untuk memindahkan benda pada jarak yang lebih jauh, juga diperlukan usaha yang lebih besar.
Berdasarkan kenyataan ini, usaha dalam fisika hanya dilakukan oleh gaya yang bekerja pada benda yang menyebabkan benda tersebut mengalami perpindahan.
Seseorang berusaha menarik lemari dengan mengerahkan seluruh energinya tetapi lemari tersebut tidak bergerak. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tersebut memang melakukan usaha karena telah mengeluarkan sebagian energi kimianya.
Namun, dalam fisika orang tersebut tidak melakukan usaha pada lemari karena lemari tidak bergerak.
Berbeda bila seseorang mendorong sebuah lemari, sehingga lemari berpindah tempat. Orang tersebut melakukan usaha karena lemari mengalami perpindahan. Usaha dpat didefenisikan sebagai hasil kali gaya searah dengan perpindahan misalkan suatu gaya konstan Fx yang bekerja pada suatu benda menyebabkan benda berpindah sejauh s searah dengan gaya Fx, Seperti pada Gambar.2.2.a. sehingga dapat dituliskan secara matematis.
𝑊 = 𝐹𝑥 ∆𝑥 … (1)
Gambar.2.1 Usaha yang dilakukan oleh gaya F menyebabkan perpindahan sejauh s
Gambar.2.2 Usaha yang membentuk sudut terhadap perpindahan
19
Sedangkan untuk gaya (Fx ) yang segaris dengan perpindahan dan membentuk sudut 𝜃 terhadap perpindahan (s) seperti pada Gambar.2.2.b dapat dituliskan secara matematis
W = F cos 𝜃 s = FS cos 𝜃
W = F s cos 𝜃 … (2)
Dengan :
W = usaha (joule = j F = gaya (N) s = perpindahan (s)
Apabila pada benda bekerja gaya konstan F dan menyebebkan benda berpindah dari posisi awal x1 ke posisi x2 searah dengan gaya F, maka usaha yang dilakukan gaya konstan adalah :
W = Fx
∆
xW = Fx (x2-x1) … (3)
Apabila diketahui gaya yang digambarkan seperti pada grafik Gambar.2.3 dan Gambar.2.4, untuk mengetahui besar usaha yang dilakukan gaya tersebut maka, hal yang harus dilakukan adalah dengan menghitung luas daerah yang diarsir oleh posisi x1 hingga posisi x2. Demekian pula pada gaya yang tidak konstan juga berlaku luasan yang dibatasi oleh posisi x1 hingga posisi x2.
Gambar.2.3 Grafik gaya terhadap posisi untuk gaya konstan
Gambar.2.4 Grafik gaya terhadap posisi untuk gaya yang berubah
Sehingga,
Usaha = luas daerah yang diarsir
Satuan usaha dalam SI dinyatakan dengan joule (j), untuk menghormati james Prescott Joule (1818-1889). Satu joule adalah besar usaha yang dilakukan oleh gaya satu newton meter atau 1kj = 1000j. dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya satuan joule (j) saja yang digunakan, misalnya erg dan kalori. 1 erg = 10-7joule dan 1 kalori = 4,2 joule.
Ternyata dalam kehidupan sehari-hari, usaha yang bekerja pada benda tidak hanya dilakukan oleh satu gaya melainkan oleh beberapa gaya. Gaya-gaya tersebut misalnya gaya gesek, gaya normal, dan gaya lainnya. Untuk dapat menghitung usaha yang dilakukan oleh beberapa gaya yaitu dengan menjumlahkan gaya-gaya yang bekerja pada benda sehingga diperoleh usaha.
21
b. Energi
Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Bentuk-bentuk energi bermacam-macam seperti energi mekanik, energi kimia, energi kalor, energi elektromagnetik, energi nuklir, dll. Bentuk-bentuk eneri tersebut dapat berubah bentuk ke energi yang lain. Misalnya pada kipas angin, energi listrik diubah menjadi energi gerak. Selain bentuk energi, terdapat juga sumber energi yaitu energi matahari, energi angin, energi air, energi fosil, energi gelombang, energi panas bumi, dan energi nuklir. Sumber energi juga dikelompokkan lagi menjadi dua yaitu energi yang dapat diperbaharui dan energi yang tidak dapat diperbaharui. Berikut merupakan pengelompokan sumber-sumber energi dari yang telah disebutkan sebelumnya.
1) Energi Kinetik
Usaha yang dilakukan oleh suatu gaya pada benda terkait dengan perpindahan benda, yaitu perubahan posisi benda. Akan tetapi, usaha juga terkait dengan perubahan kecepatan benda. Usaha ini akan memberikan tambahan energi pada suatu benda tang disebut energi kenetik. Energi kinetik yaitu energi yang dimiliki suatu benda karena geraknya. Untuk menghitung besar energi kinetik benda, dapat dari hubungan antara rumus usaha W = Fs, rumus gerak lurus berubah beraturan untuk kecepatan awal nol v2= 2as,dan hokum II newton F = ma.
Untuk sebesar W = ½ mv2 ini merupakan usaha yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan kelajuan benda, yang berarti sama dengan besarnya energy kinetic yang dimiliki benda pada saat kalajuannya sama dengan v, dengan demikian, energy kinetic dapat dirumuskan sebagai
E
k= ½ mv
2… (4)
Dengan
Ek = energi kinetic (j) m = massa (m)
v = kecepatan benda (m/s)
Usaha yang dilakukan untuk mengubah kelajuan benda dari v1 dan v2 adalah sama dengan usaha yang digunakan untuk mengubah energi kinetik benda dari Ek1
dan Ek2.
2) Energi Potensial
Energi potensial dapat digolongkan menjadi 2 yaitu energi potensial gravitasi dan energi potensial pegas. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai kedua energi potensial tersebut.
a) Energi Potensial Gravitasi
Energi potensial gravitasi adalah energi yang dimiliki suatu benda karena ketinggiannya terhadap suatu bidang acuan tertentu. Tentunya, energi ini berpotensi untuk melakukan usaha dengan cara mengubah ketinggiannya. Semakin tinggi kedudukan suatu benda dari bidang acuan, semakin besar pula energy potensial gravitasin yang dimilikinya.
Untuk menghitung besar energi potensial gravitasi pada suatu benda yang massanya m dan berada pada ketinggian h dari bidang acuan. Misalnya benda-benda yang besarnya sama dengan gaya berat F = mg. usaha untuk mengangkat benda setinggi h adalah
23
W = Fs = mgh … (5)
Dengan demikian, pada ketinggian h benda memiliki energi potensial gravitasi, yaitu kemampuan untuk melakukan usaha w = mgh. Jadi, energi potensial gravitasi dapat dirumuskan sebagai
EP = mgh … (6)
Dengan
Ep = energi potensial gravitasi (j) m = massa benda (kg)
g = gravitasi (m/s2)
h = ketinggian benda dari bidamg acuan (m)
Energi potensial tersebut adalah energi potensial benda terhadap bidang acuan yang terletak pada jarak h dibawah benda. Energi potensial terhadap bidang acuan lain tentu saja berbeda besarnya. Misalnya, terhadap bidang acuan yang jaraknya h dibawah kedudukan benda, maka energi potensialnya adalah mgh1. Bidang acuan tidak harus berada dibawah kedudukan benda. Dapat saja dipilih bidang acuan yang letaknya diatas kedudukan benda. Dalam hal dmikian energi potensial memiliki nilai negatif akan tetapi, biasanya bidang acuan dipilih dibawah kedudukan benda sehingga bernilai positif.
b) Energi Potensial Pegas
Energy potensial pegas merupakan kemampuan pegas untuk kembali ke kedudukannya semula. Benda-benda yang melakukan energy potensial pegas yaitu tali karet busur panah, karet ketapel, pegas, dll. Pegas dapat menyimpan energy potensial elastic bila pegas direnggangkan atau ditekan. Semakin besar regangan atau
tekanan yang diberikan pada pegas maka semakin besar pula energy potensial tersimpan.
Pada pegas simpangan x diukur dari titik kesetimbangan. Gaya pegas dinyatakan F = -kx, besar gaya pegas berbanding lurus dengan besar perubahan panjang pegas seperti yang dpat dilihat pada Gambar.2.5
Gambar.2.5. Grafik F terhadap x pada pegas
Sehingga energy potensial pegas, dapat dituliskan : Ep = ½ kx2 … (7) Dengan
EP = energy potensial pegas (j) k = konstanta pegas ( N/m)
∆𝑥 = simpangan/ pertambahan panjang (m)
Usaha oleh gaya pegas misalnya pada pegas yang disimpangkan sejauh x dari posisi kesetimbangannya, besar gaya pegas F = ks.
25
Gambar.2.6. usaha yang dilakukan oleh gaya pegas Karena gaya F berlawanan dengan perpindahan pegas maka
Sehingga, usaha yang dilakukan gaya pegas adalah
Atau bisa dikatakan bahwa
c. Daya
Daya P didefinisikan sebagi laju usaha yang dilakukan atau besar usaha per satuan waktu t. secara matematis daya dapat ditulis sebagai berikut :
P = W/t … (8)
Dalam SI, satuan usaha W adalah joule (J), dan satuan waktu t adalah sekon (s), maka diperoleh :
Satuan daya = joule/sekon
Satuan daya dalam SI diberi nama watt (W) untuk menghormati james watt (1734-1819), seorang ilmuan skotlandia yang berhasil menemukan mesin uap.
Dengan demikian
1 watt = 1 joule/ 1 sekon <=> 1 w = 1 j / 1 s
Karena daya yang diukur dalam SI biasanya besar, maka satuan daya yang sering digunakan adalah kilowatt (kW) atau megawatt (MW).
1 Kw = 1000 W = 103 W 1 MW = 1 000 000 W = 106 W
Untuk keperluan praktis, biasanya satuan daya yang digunakan adalah daya kuda atau horse power (hp), dimana
1 hp = 746 W = 0,746 Kw
Karena usaha = gaya dikalikan dengan perpindahan (W = F ∆x), maka persamaan (12) dapat dituliskan kembali menjadi :
P = w/t = F ∆x/ t = F ∆x/t
Dapat diketahui bahwa pepindahan (∆x) dibagi selang waktu t sama dengan kelajuan rata-rata, sehingga
P = Fv d. Hukum Kekekalan Energi Mekanik
Dalam proses melakukan usaha, benda yang melakukan usaha tersebut memindahkan energy yang dimilikinya ke benda lain. Energy yang dimiliki benda agar dapat melakukan usaha dinamakan energy mekanik. Besarnya energy mekanik suatu benda selalu tetap sedangkan energy kinetic dan energy potensialnya dapat
27
berubah-ubah. Pada Hukum Kekekalan dinyatakan bahwa energy tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, tetapi hanya dapat diubah menjadi bentuk energy lainnya. Misalnya pada lampu energy listrik diubah menjadi energy cahaya.
Diketahui bahwa pengertian energy mekanik merupakan penjumlahan antara energy kinetik dengan energy potensial.
EM = EP + EK
Energi poyensial dapat berkaitan dengan energy kinetik, penambahan energy potensial menyebabkan pengurangan energy kinetic sehingga bunyi dari hokum kekekalan energy mekanik adalah “jika pada suatu system hanya bekerja gaya-gaya yang bersifat konservatif, energy mekanik system pada posisi apa saja selalu tetap (kekal). Artinya energy mekanik system pada posisi akhir sama dengan energy mekanik system pada posisi awal.”
Hukum kekekalan energy mekanik berkaitan dengan gaya konservatif, gaya konservatif adalah gaya yang tidak berubah terhadap lintasan yang ditempuh benda.
System yang berada dalam medan gaya konservatif hanya mengalami gaya berat sehingga besar energy mekanik adalah konstan atau jumlah energy potensial dan energy kinetiknya adalah konstan.
B. Kerangka Pikir
Salah satu hasil dari proses belajar adalah didapatnya suatu konsep ilmiah.
Sudah barang tentu konsep-konsep yang akan didapatkan oleh peserta didik harus berstruktur dan inilah yang dinamakan mata pelajaran. Konsep-konsep yang telah didapat dipakai untuk menjawab permasalahan mengenai fakta baru atau suatu prinsip maupun teori.
Kalau seorang peserta didik sudah dapat menangkap pengertian beberapa peta konsep yang penting dalam fisika, dia akan mempunyai suatu kemampuan intelektual yang dapat diandalkan, sesuai dengan tujuan pengajaran, kebutuhan peserta didik maupun kebutuhan masyarakat. Keadaan ini pulalah yang dapat mempercepat pembentukan dan pengembangan sikap ilmiah.
Pengembangan materi pelajaran dalam kurikulum biasanya berpusat pada beberapa peta konsep. Kurikulum itu tentu akan sangat menolong para guru dalam rangka mengorganisasikan materi pelajaran. Dan ini merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam menyusun strategi mengajar sebelum kita menentukan metode mengajar yang akan dipergunakan.
Dengan melihat penjelasan di atas ternyata pola mengajar dalam menggunakan peta konsep sangat bermanfaat, baik untuk guru dalam menyusun program pembelajaran maupun siswa dalam mengembangkan pengetahuan awalnya.
Sehingga dalam penelitian ini digunakan peta konsep sebagai salah satu cara mengidentifikasi pengetahuan awal siswa dalam mata pelajaran fisika.
29 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian
“ex post facto” bersifat deskriptif yang terdiri dari satu variabel, yaitu pengetahuan awal yang di peroleh melalui peta konsep.
B. Populasi dan Sampel
Populasi Semua peserta didik kelas X di SMA NEGERI 14 GOWA dan sampel dikelas X MIA 1 dengan menggunakan teknik pengambilan sampel menggunakan non-random sampling,dan dilakukan secara purposive. Sesuai dengan rekomendasi pendidik bidang studi IPA-Fisika di sekolah tersebut..
C. Prosedur penelitian
Prosedur penelitian merupakan serangkaian langkah-langkah dari awal sampai akhir secara sistematis, yang dilakukan dalam penelitian. Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini.
1. Tahap Persiapan a) Prasurvey
Melakukan prasurvei ke SMA NEGERI 14 GOWA, menanyakan tentang permasalahan pembelajaran yang ada pada sekolah tersebut, seperti system pembelajaran.
b) Pembuatan Proposal Penelitian
Setelah prasurvei dan menemukan masalah pembelajaran terkait pengetahuan awal peserta didik yang ada pada sekolah tersebut, maka penulis menyusun proposal penelitian. Dengan Judul identifikasi
materi usaha dan energi.
c) Membuat instrumen
Membuat intrumen berupa peta konsep acuan, panduan pembuatan dan penyusunan peta konsep.
d) Validiatas Intrumen
Intrumen yang divalidasi adalah peta konsep acuan. Kemudian semua intrumen pengambilan data dipertimbangkan kemudian diperbaiki
Intrumen yang divalidasi adalah peta konsep acuan. Kemudian semua intrumen pengambilan data dipertimbangkan kemudian diperbaiki