• Tidak ada hasil yang ditemukan

panen dikeringkan dengan alat pengering padi, setelah proses ini dilakukan pembersihan gabah dengan alat pembersih gabah hingga penggilingan padi.

Faktor 2 memiliki 3 variabel indikator penciri faktor. Variabel tersebut adalah pangsa lokal pemupil jagung, pemarut ubi kayu dan penggiling tapioka. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Jika alat pemupil jagung meningkat jumlahnya maka alat pemarut ubi kayu dan penggiling tapioka akan meningkat. Faktor 2 merepresentasikan 13,1% keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing sebesar 0,85, 0,96 dan 0,92.

Faktor 3 terdiri dari variabel indikator penciri faktor. Variabel tersebut adalah pangsa lokal pemberas jagung, tepung jagung dan pellet. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Jika pangsa lokal pemberas jagung meningkat maka pangsa pembuat tepung tapioka dan pembuat pellet meningkat. Faktor 3 merepresentasikan 12,8% keragaman data, nilai pembobot masing – masing sebesar 0,86, 0,97 dan 0,91.

Faktor 4 terdiri dari 2 variabel indikator penciri faktor. Variabel tersebut adalah pangsa penggiling karet tanpa asap dan pangsa rumah asap. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Apabila pangsa lokal penggiling karet tanpa asap mengalami penurunan maka pangsa rumah asap juga akan mengalami penurunan. Faktor 4 merepresentasikan 9,5% keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing faktor sebesar -0,99 dan -0,98.

Faktor 5 terdiri dari 2 variabel penciri faktor. Variabel penciri tersebut pangsa lokal penggiling padi besar dan pangsa lokal pembuat chip. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Apabila pangsa penggiling padi mengalami penurunan maka pangsa pembuat chip juga akan mengalami penurunan. Faktor 5 merepresentasikan 8,8 % keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing variabel penciri sebesar -0,91 dan -0,95.

Faktor 6 memiliki 2 variabel penciri faktor. Variabel tersebut adalah pangsa lokal huller dan pangsa lokal pembuat crumb rubber. Struktur hubungan antar variabel penciri berkorelasi positif. Apabila pangsa lokal huller mengalami peningkatan maka pangsa lokal pembuat crumb rubber dan chip akan mengalami peningkatan. Faktor 6 merepresentasikan 7,5% keragaman data dengan nilai pembobot masing – masing variabel penciri sebesar 0,83 dan 0,91.

Faktor 7 hanya satu variabel penciri faktor. Variabel tersebut indeks diversitas peralatan pertanian dan merepresentasikan 5,5% keragaman data. Nilai pembobot variabel penciri sebesar -0,94. Faktor 8 hanya 1 variabel penciri faktor. Variabel tersebut pangsa lokal perontok padi dan merepresentasikan 5,9% keragaman data, dengan nilai pembobot variabel sebesar 0,89.

Sumberdaya Sosial

Mengukur masalah sosial dalam penelitian ini tidak hanya terfokus pada indikator majelis ta’lim melainkan berbagai macam fenomena sosial yang nampak pada sosial kemasyarakatan. Ukuran variabel indikator terdiri dari 13 data dasar, kemudian dianalisis menjadi 15 variabel indikator. Menghasilkan 10 variabel indikator yang nyata dan menghasilkan 5 faktor komponen utama. Berikut ini akan ditampilkan hasil analisis faktor pembobot.

Tabel 30 Analisis faktor/komponen utama variabel indikator sumberdaya sosial pangsa lokal aktifitas institusi, permukiman kumuh dan intensitas konflik

Faktor Variabel Indikator Penciri Faktor Factor

Loading Pangsa lokal Jumlah bangunan rumah permukiman kumuh X230 (+) F1

Pangsa lokal Jumlah keluarga di permukiman kumuh X230a (+)

Pangsa Persentase kegiatan Ma.ta'lim X108 (+)

F2

Intensitas warga luka akibat perkelahian X113 (-)

Pangsa lokal surat miskin dikeluarkan X227 (+)

F3

Pangsa lokal Jumlah lokasi permukiman kumuh X229 (+)

Intensitas kerugian material akibat perkelahian X114 (-) F4

Pangsa persentase keberagaman etnis X224 (+)

Pangsa lokal penduduk meninggal akibat penyakit X218 (+) F5

Pangsa lokal wabah penyakit X219 (+)

Secara umum sumberdaya sosial menerangkan karakteristik wilayah kecamatan sebesar 85 % terhadap variasi karakteristik dari seluruh kecamatan yang dikaji. Tabel di atas memperlihatkan struktur hubungan antar variabel relatif beragam. Faktor 1 menjelaskan bahwa semakin meningkat permukiman kumuh dalam lokal wilayah akan menyebabkan peningkatan jumlah keluarga di permukiman kumuh. Faktor 1 merepresentasikan 20 % keragaman data dengan faktor pembobot masing – masing sebesar 0,97 dan 0,97.

103

Faktor 2 menjelaskan bahwa semakin meningkat persentase kegiatan majelis ta’lim akan menurunkan intensitas warga yang luka akibat perkelahian. Kedua variabel penciri ini berkorelasi negatif. Faktor 2 merepresentasikan keragaman data sebesar 16, dengan nilai pembobot faktor masing – masing sebesar 0,92 dan -0,87. Institusi kemasyarakatan majelis ta’lim yang memuat pesan agama dan sosial budaya tentang nilai – nilai kemanusian serta moralitas berperan dalam menurunkan potensi konflik. Peran institusi sosial majelis ta’lim sangat penting dalam menjaga sumberdaya sosial guna menghindari konflik.

Intensitas kerugian material juga dapat diminimalkan dengan semakin tingginya keberagaman etnis. Korelasi negatif antar intensitas kerugian material dengan keberagaman etnis berada pada faktor 4. Keragaman data pada faktor ini sebesar 15%, dengan nilai faktor pembobot masing – masing -0,87 dan 0,79. Walaupun faktor 2 dan faktor 4 terpisah tetapi kedua faktor ini dapat mengurangi potensi konflik sosial. Ada kecendrungan majelis ta’lim berada pada jalur kelompok tertentu dalam kemasyarakatan sehingga institusi tersebut terpisah dengan faktor keberagaman etnis. Institusi majelis ta’lim menjaga nilai – nilai yang dianut sementara keberagaman etnis menjaga toleransi etnis akibat ragamnya etnis dan nilai kebudayaan dan sosial.

Institusi majelis ta’lim hadir dalam kelompok yang lebih homogen sementara keberagaman etnis hadir dalam kelompok yang beragam. Kedua faktor ini sangat penting untuk dikembangkan dalam rangka mengurangi konflik.

Faktor 3 terdiri dari 2 penciri utama. Variabel tersebut adalah pangsa lokal surat miskin yang dikeluarkan dengan jumlah lokasi permukiman kumuh. Kedua faktor berkorelasi positif. Semakin tinggi surat miskin yang dikeluarkan sangat terkait dengan jumlah lokasi permukiman kumuh. Faktor 3 menjelaskan keragaman data sebesar 15%, dengan masing – masing pembobot faktor sebesar 0,85 dan 0,84. Lokasi pemukiman kumuh adalah lokasi yang paling mudah untuk di akses oleh orang miskin. Lokasi yang sudah tertata dengan baik seperti perumahan tidak mungkin di akses karena dari segi biaya dan pendapatan tidak cukup bagi mereka untuk hidup. Lokasi pemukiman kumuh menjadi tempat bagi kaum miskin untuk hidup dan mempertahankan hidup.

Lokasi pemukiman kumuh tidak berarti hanya tempat tersebut yang mudah terserang wabah penyakit, tetapi segala tempat bisa menyebabkan wabah penyakit, oleh karena itu wajar jika faktor 3 dan 5 terpisah. Penyebaran penyakit bisa terjadi pada lokasi apapun. Wabah penyakit bisa menyerang siapa saja tanpa melihat mereka berada pada lokasi apa.

Faktor 5 terdiri dari 2 variabel penciri utama. Variabel tersebut adalah pangsa lokal penduduk meninggal akibat wabah penyakit dengan pangsa wabah penyakit. Antar variabel saling berkorelasi positif. Semakin meningkat penduduk meninggal akibat wabah penyakit maka pangsa wabah penyakit akan mengalami peningkatan. Faktor 5 menjelaskan keragaman data sebesar 17%, dengan faktor nilai pembobot masing – masing sebesar 0,90 dan 0,91.

Apa yang telah dibahas di atas mengilustrasikan fenomena kehidupan kemasyarakatan. Ilustrasi tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupan sosial akibat dampak pembangunan dan respon masyarakat terhadap kehidupan sosial itu sendiri. Realitas sosial menggambarkan bahwa masyarakat dapat merespon keadaan sosial atas dasar kesadarannya sendiri dalam rangka menciptakan stabilitas sosial. Di sisi lain mereka juga perlu bantuan atau aksesibilatas dalam rangka memperbaiki kualitas hidup mereka.

Bantuan tersebut tidak lain berasal dari penentu kebijakan atau kelompok sosial yang kehidupannya lebih mapan. Pemerintah dalam merespon masalah tersebut salah satunya mendirikan lembaga yang dapat menjembatani kepentingan berbagai stakeholders. Lembaga yang dibentuk tersebut berdasarkan kelompok yang dapat menjembatani masalah – masalah sosial. Seperti lembaga penyuluhan pertanian, konservasi dan organisasi kewanitaan.

Data dasar yang diambil dari institusi formal terdiri dari 10 variabel indikator dasar, kemudian dianalisis menjadi 12 variabel indikator, kemudian menghasilkan 9 faktor pembobot (Factor Loadings) dibagi dalam 5 faktor skor komponen utama (Factor Score). Berikut ini akan ditampilkan tabel hasil analisis institusi formal dan kegiataanya.

105

Tabel 31 Analisis faktor/komponen utama variabel indikator sumberdaya sosial pangsa institusi sosial formal dan pemerintahan

Faktor Variabel Indikator Penciri Faktor Factor

Loading

Indeks diversitas organisasi X138 (+)

F1

Indeks diversitas kelompok tani X152 (+)

Pangsa lokal kader kepemimpinan sosial wanita X129 (+) F2

Pangsa lokal organisasi sosial X131 (+)

Pangsa lokal perintis kemerdekaan X137 (+)

F3

Pangsa lokal kelompok tani binaan penyuluh (pemula) X147 (+)

Pangsa lokal karang taruna X133 (+)

F4

Pangsa lokal kelompok tani binaan penyuluh (lanjut) X149 (+)

F5 Pangsa lokal LSM X125 (-)

Tabel di atas memperlihatkan terdiri dari 5 faktor, masing – masing faktor mencirikan struktur variabel berbeda dengan variabel yang lain. Secara umum institusi formal mampu menerangkan karakteristik wilayah kecamatan sebesar 87 %. Faktor 1 terdiri dari 2 variabel penciri utama. Variabel tersebut adalah indeks diversitas organisasi dan indeks diversitas kelompok tani. Semakin meningkat indeks diversitas organisasi maka akan meningkatkan indeks diversitas kelompok tani. Faktor 1 menjelaskan keragaman data sebesar 22 %, dengan nilai faktor pembobot masing – masing faktor sebesar 0,99, dan 0,98.

Faktor 2 terdiri dari 3 variabel penciri utama. Variabel tersebut terdiri dari pangsa lokal kader kepemimpinan sosial wanita dan pangsa lokal organisasi sosial. Kedua variabel berkorelasi positif, semakin meningkat pangsa lokal kader kepemimpinan sosial wanita maka pangsa lokal organisasi sosial akan meningkat. Faktor 2 merepresentasikan keragaman data sebesar 20%, dengan nilai pembobot faktor masing – masing secara berturut turut adalah 0,87 dan 0,83.

Faktor 3 terdiri dari 2 variabel penciri utama. Kedua variabel tersebut adalah pangsa lokal perintis kemerdekaan dan pangsa lokal kelompok tani binaan penyuluh pemula. Antar variabel berkorelasi positif. Semakin meningkat organisasi perintis kemerdekaan maka kelompok tani binaan tingkat pemula akan mengalami peningkatan. Faktor merepresentasikan keragaman data sebesar 18%, dengan nilai pembobot masing – masing sebesar 0,92 dan 0,87.

Faktor 4 terdiri dari 2 variabel penciri utama. Variabel tersebut adalah pangsa lokal karang taruna dan pangsa lokal kelompok tani penyuluh (lanjut). Antar variabel berkorelasi positif. Semakin meningkat pangsa lokal karang taruna

maka pangsa lokal kelompok tani penyuluh (lanjut) akan meningkat. Faktor ini merepresentasikan keragaman data sebesar 15%, dengan nialai faktor pembobot masing – masing faktor sebesar 0,74 dan 0,91.

Faktor 5 terdapat 1 variabel penciri utama, variabel tersebut pangsa lokal LSM. Variabel ini bernilai negatif. Faktor ini merepresentasikan keberagaman data sebesar 11,6%, dengan nilai faktor pembobot sebesar - 0,98.

Penganggaran Belanja

Penganggaran merupakan instrumen kebijakan dalam pengalokasian program. Anggaran bisa diperoleh dari masyarakat melalui pajak atau sumbangan dan bantuan Pemerintah Provinsi maupun Pusat. Data dasar yang digunakan dalam analisis ini sebanyak 17, dianalisis menjadi variabel indikator sebanyak 18. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan Principle Component Analysis (PCA) memiliki variabel penciri sebanyak 9 yang dibagi ke dalam 4 faktor komponen utama (Factor Score). Berikut ditampilkan tabel hasil analisis pola penganggaran.

Tabel 32 Analisis faktor/komponen utama variabel indikator pangsa lokal pola penganggaran

Faktor Variabel indikator penciri faktor Factor

Loading Pangsa lokal penerimaan rutin terhdp jumlah penduduk X465 (+) Pangsa lokal pengeluaran rutin terhdp jumlah penduduk X467 (+) F1

Pangsa lokal pengeluaran anggaran pembangunan X469 (+) Pangsa penerimaan daeah trdp pad pungutan desa X474 (+) F2

Pangsa Bantuan Pemerintah daerah trdp pddk X480 (+)

Pangsa penerimaan rutin trdp luas lahan sawah X464 (+) F3

Pangsa pengeluaran rutin trdp luas lahan sawah X466 (+)

Pangsa Bantuan Pemerintah Pusat trhdp pddk X478 (-)

F4

Pangsa Bantuan Pemerintah Provinsi trdp pddk X479 (-) Secara umum pembentuk pola penganggaran mampu menerangkan karakteristik wilayah kecamatan sebesar 82,7% terhadap variasi karakteristik dari seluruh kecamatan yang dikaji. Faktor 1 memiliki variabel penciri sebanyak 3. Variabel tersebut pangsa lokal penerimaan rutin terhadap jumlah penduduk, pangsa pengeluaran rutin terhadap jumlah penduduk dan pangsa lokal pengeluaran anggaran pembangunan. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi secara positif. Faktor 1 merepresentasikan 29% keragaman data, dengan nilai pembobot variabel penciri masing – masing sebesar 0,95, 0,82, dan 0,94.

107

Faktor 2 memiliki variabel penciri faktor, variabel tersebut adalah pangsa penerimaan daerah terhadap PAD pungutan desa dan pangsa bantuan pemerintah terhadap penduduk. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Apabila pangsa penerimaan daearah terhadap PAD pungutan desa meningkat maka pangsa bantuan pemerintah terhadap penduduk akan mengalami peningkatan. Faktor 2 merepresentasikan 16,6% keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing variabel penciri sebesar 0,86 dan -0,84.

Faktor 3 memiliki 2 variabel penciri faktor, pangsa penerimaan rutin terhadap luas lahan sawah dan pangsa pengeluaran rutin terhadap luas lahan sawah. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Apabila pangsa penerimaan rutin terhadap luas lahan sawah mengalami peningkatan maka pangsa pengeluaran rutin terhadap luas lahan sawah akan meningkat. Faktor 3 merepresentasikan 22,1% keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing variabel sebesar 0,94 dan 0,96.

Faktor 4 memiliki 2 variabel penciri faktor, variabel tersebut pangsa bantuan Pemerintah Pusat terhadap penduduk dan pangsa bantuan Pemerintah Provinsi terhadap penduduk. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Apabila bantuan Pemerintah Pusat mengalami peningkatan maka bantuan Pemerintah Provinsi juga akan mengalami peningkatan. Faktor 4 merepresentasikan 15% keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing sebesar -0,79 dan -0,83.

Infrastruktur

Variabel infrastruktur dibagi ke dalam 5 bagian yaitu infrastruktur prasarana ekonomi, infrastruktur lembaga keterampilan, infrastruktur rumah peribadatan dan infrastruktur lembaga kesehatan serta rasio jumlah usia sekolah dengan lembaga pendidikan termasuk di dalamnya rasio siswa SD, SMP dan SMU dengan banyaknya sekolah dan jumlah unit polisi dan PNS.

Data yang digunakan adalah 13 variabel dasar diolah menjadi 25 variabel indikator. Setelah diolah dengan Principle Componen Analysis (PCA) menghasilkan 16 faktor pembobot (Factor Loading) dan 5 faktor komponen utama (Factor Score). Berikut ini tabel infrastruktur prasaran ekonomi.

Tabel 33 Analisis faktor/komponen utama variabel indikator infrastruktur rasio ekonomi

Faktor Variabel Indikator Penciri Indikator Factor

Loading

Rasio koperasi trhdp jumlah peddk X419 (+)

Rasio koperasi trhp luas wilayah X420 (+)

Rasio KUD trhdp luas wilayah X422 (+)

Rasio koperasi simpan pinjam trhdp luas wilayah X426 (+) F1

Rasio koperasi lainnya trhdp luas wilayah X428 (+)

Rasio bank terhadap pdk X414 (+)

Rasio rasio bank terhdp luas wilayah X416 (+)

F2

Rasio bank umum terhdp BPR X418 (+)

Rasio toko trhdp pddk X429 (+)

Rasio toko trhdp luas wilayah X430 (+)

Rasio warung kedai makanan/minuman trhdp jml pddk X437 (+) F3

Rasio warung kedai mkanan/minuman trhp luas wilayah X438 (+)

Rasio hotel trhdap pddk X435 (-)

F4

Rasio hotel trdp luas wilayah X436 (-)

Rasio koperasi industri kecil trdp jmlh pddk X423 (+) F5

Rasio koperasi industri kecil trhdp luas wilayah X424 (+) Secara umum infrastruktur ekonomi mampu menerangkan karakteristik wilayah kecamatan sebesar 87,4% terhadap variasi karakteristik seluruh kecamatan yang dikaji. Faktor 1 terdiri dari 5 variabel penciri faktor. Variabel tersebut terdiri dari rasio koperasi terhadap jumlah penduduk dan luas wilayah, rasio KUD terhadap luas wilayah, rasio koperasi simpan pinjam terhadap luas wilayah dan rasio koperasi lainnya terhadap luas wilayah. Kelima variabel berkorelasi positif. Jika ada salah satu diantara variabel pada faktor 1 mengalami peningkatan maka semua variabel pada faktor 1 akan mengalami peningkatan. Faktor 1 merepresentasikan 26,2% keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing secara berturut – turut adalah 0,77, 0,94, 0,80, 0,86 dan 0,85.

Faktor 2 terdiri dari 3 variabel penciri faktor. Variabel tersebut adalah rasio bank terhadap jumlah penduduk dan luas wilayah dan rasio bank umum terhadap BPR. Ketiga variabel berkorelasi positif. Jika ada salah satu variabel pada faktor 2 mengalami peningkatan maka semua variabel pada faktor 2 akan mengalami peningkatan. Faktor 2 merepresentasikan 17,6% keragaman data, nilai pembobot masing – masing adalah 0,97, 0,90 dan 0,94. Keberadaan bank selain merespon permintaan penduduk sebagai tempat penyimpanan uang yang aman juga sangat terkait dengan aktifitas ekonomi dan persaingan antar bank.

109

Faktor 3 didominasi dengan sektor informal, seperti toko dan warung. Faktor ini terdiri dari 4 variabel penciri faktor. Keempat faktor tersebut adalah rasio toko terhadap jumlah penduduk dan luas wilayah dan rasio warung kedai makanan terhadap jumlah penduduk dan luas wilayah. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Struktur hubungan mengindikasikan bahwa jika ada variabel penciri pada faktor 3 meningkat maka semua variabel penciri pada faktor 3 akan mengalami peningkatan. Faktor 3 merepresentasikan 19,7% keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing sebesar 0,96, 0,73, 0,96 dan 0,73. . Korelasi positif antar aktifitas ekonomi non formal merupakan respon terhadap kurangnya daya serap tenaga kerja sehingga masyarakat berusaha mencari usaha sendiri untuk menjamin pendapatan meraka.

Faktor 4 terdiri dari 2 variabel penciri faktor. Variabel terdiri dari rasio hotel terhadap penduduk dan luas wilayah. Hubungan antar variabel berkorelasi positif. Jika rasio hotel terhadap penduduk menurun maka rasio hotel terhadap luas wilayah akan menurun. Faktor 4 merepresentasikan 11,2% keberagaman data, nilai faktor pembobot masing – masing sebesar -0,93 dan -0,94.

Faktor 5 terdiri dari 2 variabel penciri faktor. Faktor tersebut adalah rasio koperasi industri kecil terhadap jumlah penduduk dan luas wilayah. Struktur hubungan antar variabel saling berkorelasi positif. Rasio koperasi industri kecil terhadap jumlah penduduk meningkat disertai dengan peningkatan dengan rasio koperasi industri kecil terhadapa luas wilayah. Faktor 5 merepresentasikan 12,7% keragaman data, nilai pembobot masing – masing sebesar 0,92 dan 0,89.

Usaha untuk merespon aktifitas ekonomi dengan dasar penyediaan infrastruktur fasilitas ekonomi perlu ditunjang dengan keterampilan khusus lembaga keterampilan. Data dasar yang digunakan untuk menganalisis lembaga keterampilan berjumlah 8 variabel indikator dasar, kemudian dianalisis menjadi 10 variabel indikator. Setelah dilakukan Principle Component Analysis (PCA) menghasilkan 7 variabel penciri dibagi dalam 2 faktor komponen utama (Factor Score). Berikut ditampilkan tabel hasil analisis

Tabel 34 Analisis faktor/komponen utama variabel indikator infrastruktur pangsa lokal lembaga keterampilan

Faktor Variabel Indikator penciri faktor Faktor

Loading

Pangsa lokal keterampilan bahasa X369 (+)

Pangsa lokal keterampilan Komputer X371 (+)

Pangsa lokal keterampilan Menjahit/tata busana X375 (+) Pangsa lokal keterampilan Kecantikan X377 (+) F1

Pangsa agregat lokal X384a (+)

Indeks Diversitas lembaga Keterampilan X384 (+) F2

Pangsa lokal keterampilan Montir mobil/motor X379 (+)

Secara umum variabel lembaga keterampilan mampu menerangkan karakteristik wilayah kecamatan sebesar 85,5% terhadap variasi karakteristik dari seluruh kecamatan yang dikaji. Faktor 1 terdiri dari 5 variabel penciri faktor. Variabel tersebut terdiri dari pangsa keterampilan bahasa, komputer, menjahit, kecantikan dan pangsa agregat lokal. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif. Faktor 1 merepresentasikan 61,4% keragaman data, nilai pembobot masing – masing sebesar 0,90, 0,89, 0,90, 0,80 dan 0,97.

Faktor 2 terdiri dari 2 variabel penciri faktor. Variabel tersebut adalah indeks diversitas lembaga keterampilan dan pangsa lokal keterampilan montir. Struktur hubungan antar variabel berkorelasi positif, jika indeks diversitas lembaga keterampilan meningkat maka pangsa lokal keterampilan montir meningkat. Faktor 2 merepresentasikan 24,2 keragaman data, dengan nilai pembobot masing – masing sebesar 0,76 dan 0,91.

Bahasa inggris dan keterampilan komputer merupakan kebutuhan dasar yang perlu dikuasai oleh masyarakat guna menyongsong era pasar bebas dan era digital. Pangsa lokal keterampilan menjahit/tata busana dan kecantikan juga menjadi bagian dari faktor ini karena terkait dengan mode dan trend.

Keberadaan infrastruktur tidak hanya terkait dengan aktifitas ekonomi dan keterampilan tetapi juga dibutuhkan fasilitas kesehatan untuk menjamin kehidupan yang sehat. Data dasar yang digunakan dalam analisis sebanyak 16 variabel dasar, kemudian dianalisis menjadi variabel indikator sebanyak 17. Setelah dilakukan Principle Component Analysis (PCA) menghasilkan faktor pembobot (Factor Loadings) dibagi dalam 2 faktor komponen utama (Factor Score). Tabel infrastruktur sarana kesehatan sebagai berikut :

111

Tabel 35 Analisis faktor/komponen utama variabel indikator infrastruktur pangsa lokal dan rasio sarana kesehatan dan tenaga medis

Faktor Variabel Indikator Penciri Faktor Factor

Loading

F2 Rasio Rumah Sakit trhdp jmlh pddk X385 (+)

Rasio Tempat Praktek Dokter trhdp jmlh pddk X390 (+)

Rasio Apotik trhdp jmlh pddk X394 (+)

Rasio dokter trhdp jmlh pddk X397 (+)

F1

Pangsa lokal tenaga medis X401 (+)

Secara umum infrastruktur kesehatan mampu menerangkan karakteristik wilayah kecamatan sebesar 87,3% terhadap variasi karakteristik dari seluruh kecamatan yang dikaji. Hasil analisis pada tabel di atas menunjukkan faktor 1 terdiri dari 4 variabel penciri faktor. Variabel tersebut adalah rasio tempat dokter terhadap penduduk, rasio apotik terhadap jumlah penduduk, rasio dokter terhadap jumlah penduduk dan pangsa tenaga medis. Struktur hubungan antar variabel penciri faktor berkorelasi positif, jika salah satu dari faktor 1 mengalami peningkatan maka seluruh faktor penciri pada faktor 1 akan meningkat. Faktor 1 merepresentasikan 62,8% keragaman data, dengan nilai pembobot variabel masing – masing sebesar 0,77, 0,82, 0,96 dan 0,95.

Faktor 2 hanya terdapat 1 variabel penciri faktor. Variabel tersebut adalah rasio rumah sakit terhadap jumlah penduduk. Variabel ini bernilai positif. Kecendrungan penambahan keberadaan rumah sakit tidak dipengaruhi oleh beberapa penciri variabel indikator. Faktor 2 merepresentasikan 24,7% keberagaman data dengan nilai pembobot sebesar 0,97.

Keberadaan tempat praktek dokter untuk memberikan dan memudahkan pelayanan bagi masyarakat. Umumnya keberadaan tempat praktek dokter sering disertai dengan apotik. Keberadaan apotik akan memberikan pelayanan yang lebih mudah bagi pasien yang berobat. Keberadaan apotik di tempat praktek dokter minimal dapat mengurangi biaya transportasi pasien untuk memperoleh obat. Berdasarkan analisis tersebut maka pola asosiasi antar dokter, tempat praktek dokter dan tenaga medis memiliki pengaruh yang kuat.

Penunjang aktifitas lain untuk meningkatkan pelayanan tingkat desa, dalam hal ini pendidikan aparatur desa dan rasio pendidikan. Data dasar terdiri dari 14 variabel dasar, dianalisis menjadi 16 variabel indikator. Setelah dilakukan

Principle Component Analysis (PCA) menghasilkan variabel penciri sebanyak 11 dibagi dalam 5 faktor komponen utama (Factor Score). Berikut ini tabel infrastruktur pendidikan aparatur pemerintah dan rasio pendidikan.

Tabel 36 Analisis faktor/komponen utama variabel indikator infrastruktur rataan pendidikan aparatur pemerintahan dan rasio pendidikan

Faktor Penciri Variabel Indikator Factor

Loading

Rasio SMU terahadap usia 16 s/d 18 thn X367 (+)

Rataan pddkan apratur desa tingkat perguruan tinggi X452 (+) F1

Rasio siswa smu terhadap sekolah SMU X455 (+)

Rasio PNS terhadp pddk X445 (-)

F2

Rasio PNS trhdp luas wilayah X446 (-)

Rataan pddkan apratur desa tamat SMP X449 (-)

F3

Rataan pddkan apratur desa tamat SMU X450 (-)

Rasio unit polisi trdp pddk X439 (+)

F4

Rasio uni polisi trhdp luas wilayah X440 (+)

Rasio SD terhadap usia 7 s/d 12 tahun X365 (-)

F5

Rasio siswa SD terhadap sekolah SD X453 (+)

Secara umum variabel pendidikan aparatur desa dan rasio sarana pendidikan dengan jumlah penduduk mampu menerangkan karakteristik wilayah kecamatan sebesar 90,4% terhadap variasi karakteristik dari seluruh kecamatan

Dokumen terkait