• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

6. Peta Wisata Kawasan Puncak

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di kota Bogor pada tanggal 25 Februari 1989. Penulis bernama lengkap Lorisa Ndela yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Syafrul SU dan Nurlaila. Penulis mengawali pendidikan di TK Aisiyah Bogor pada tahun 1993. Tahun 2001 penulis menyelesaikan studi di Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 3 Bogor. Tahun 2004 penulis lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Bogor. Tahun 2007 penulis lulus Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Bogor, lalu pada tahun 2007 penulis melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI dan diterima sebagai mahasiswi Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif dalam Klub Resource and Environmental Economics Student Association (REESA) divisi Coorporate Social Responsibility pada tahun (2010). Selain itu, penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan di lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) seperti Green Base pada tahun 2009.

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Karakteristik iklim mikro di kawasan Puncak Bogor selama sepuluh tahun terakhir ini telah mengalami perubahan. Hal tersebut ditandai dengan adanya peningkatan suhu udara rata-rata, peningkatan jumlah curah hujan, peningkatan jumlah hari hujan, dan penurunan kecepatan angin rata-rata di Puncak Bogor.

2. Hari hujan yang semakin panjang pada bulan kering (Juni, Juli, Agustus) mengakibatkan menurunnya permintaan wisata kebun teh di Puncak pada bulan tersebut selama empat tahun terakhir dan berdasarkan hasil estimasi model regresi linear berganda, diketahui bahwa kecepatan angin, curah hujan dan jumlah hari hujan berpengaruh nyata terhadap tingkat permintaan wisata kebun teh Gunung Mas.

3. Berdasarkan hasil estimasi regresi linear berganda, diketahui bahwa faktor- faktor yang berpengaruh terhadap tingkat permintaan wisata di Puncak dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan adalah biaya perjalanan, kecepatan angin, curah hujan, hari hujan, pendapatan, dan jarak tempuh. Sementara variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kunjungan wisatawan adalah umur dan pendidikan terakhir.

4. Wisata paralayang, flying fox TWM, dan arung jeram SOAR mengalami kerugian terbesar saat kondisi angin tidak mendukung kegiatan wisata.

Sedangkan wisata kebun teh Gunung Mas mengalami kerugian terbesar jika turun hujan.

7.2. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Perlu ketegasan pemerintah dalam menghadapi masalah perubahan iklim yang terjadi di Puncak untuk mencegah atau menghindari bencana yang mungkin ditimbulkan saat cuaca semakin buruk dengan memperbaiki kondisi lingkungan di Puncak.

2. Perlu adanya kerja sama yang erat antara pemerintah dengan berbagai pihak pengelola wisata Puncak agar dapat melakukan pengembangan potensi wisata yang lebih baik dan terintegrasi.

3. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap permintaan wisata di kawasan lainnya.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perubahan iklim merupakan isu global yang menjadi sorotan dunia saat ini. Perubahan iklim ditandai dengan meningkatnya suhu rata-rata bumi secara global. Peningkatan suhu ini oleh IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dipastikan dipengaruhi oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer yang menimbulkan pemanasan global bumi (KLH, 2009).

Salah satu fenomena perubahan iklim adalah meningkatnya curah hujan. Menurut Harmoni (2005), distribusi curah hujan telah membawa dampak yang luas dalam banyak segi kehidupan manusia dan diperkirakan akan terus memburuk jika emisi gas rumah kaca (GRK) tidak dapat dikurangi dan distabilkan.

Sepanjang tahun 2007 yang lalu hingga awal tahun 2008, bencana banjir, kekeringan, angin topan, dan tingginya gelombang laut silih berganti menimpa sebagian besar daerah di Indonesia sebagai akibat berubahnya iklim. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bappenas, selama periode tahun 2003 hingga 2005 telah terjadi 1429 kejadian bencana, dimana banjir adalah bencana yang paling sering terjadi diikuti oleh tanah longsor (KLH, 2007).

Beberapa dekade ini, iklim dunia mengalami perubahan yang tidak menentu. Flannery (2005) menyatakan bahwa kegiatan manusia merupakan kontribusi terbesar terjadinya perubahan iklim global. Perubahan iklim menunjuk pada adanya perubahan pada iklim yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan manusia yang mengubah komposisi atmosfer global.

atau yang berkaitan dengan transportasi atau rumah tangga menghasilkan gas rumah kaca yang jumlahnya terus meningkat, terutama gas karbondioksida, yang diemisikan ke atmosfer. Hal ini menyebabkan bertambah panasnya permukaan bumi dan memicu terjadinya perubahan iklim global. Pesatnya perkembangan industri di dunia mengakibatkan semakin cepatnya perubahan yang terjadi pada iklim.

Perubahan iklim yang merupakan isu utama dunia mempunyai keterkaitan terhadap sektor pariwisata. Meunurut Rosyidie (2004), perubahan iklim akan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kepariwisataan, baik itu terhadap preferensi wisatawan akan daerah tujuan wisatanya maupun berubahnya daya tarik wisata yang berakibat juga pada perubahan pengelolaan destinasi pariwisata.

Dampak perubahan iklim global terjadi juga di Indonesia yang sangat mengandalkan potensi sumber daya alam, keanekaragaman hayati dan budayanya dalam mengembangkan kepariwisataan. Perubahan iklim di Indonesia diperkirakan mempengaruhi karakteristik dan pola kunjungan wisatawan. Produk pariwisata khususnya daya tarik wisata, baik alam maupun budaya, akan terpengaruh oleh fenomena perubahan iklim tersebut. Oleh karena itu, diperlukan antisipasi dampak perubahan iklim terhadap pariwisata dan berbagai kebijakan terkait sehingga diharapkan dapat memperkecil dampak yang mungkin ditimbulkan.

Pariwisata adalah salah satu sektor yang berperan besar dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia. Pariwisata perlu diberdayakan karena

selain sebagai sumber penerimaan, serta pengembangan dan pelestarian seni budaya, juga membangkitkan sektor perekonomian.

Salah satu tujuan wisata di Indonesia yang banyak diminati para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara adalah Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor memiliki banyak obyek wisata yang menarik perhatian pengunjung. Pengembangan kepariwisataan Kabupaten Bogor perlu terus dilakukan dengan meningkatkan seluruh potensi pariwisata, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara, peningkatan lama tinggal wisatawan, penyerapan angkatan kerja secara maksimal, peningkatan kontribusi pada PAD dan kesejahteraan masyarakat1.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata, beberapa obyek wisata yang terdapat di Kabupaten Bogor antara lain Taman Safari Indonesia, Talaga Warna, Wisata Agro Gunung Mas, Curug Cilember, Taman Wisata Matahari, Taman Wisata Mekarsari, Air Panas GSE, Sirkuit Sentul, Wana Wisata Bodogol, Taman Rekreasi Lido, Pemandian Air Panas Tirta Sanita, Wana Wisata Buper Gunung Bunder, Curug Nangka, Warso Farm, Curug Panjang, Taman Merlimba, dan sebagainya. Beberapa obyek wisata tersebut merupakan obyek wisata unggulan di Kabupaten Bogor, hal ini terlihat dari banyaknya wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun nusantara yang berkunjung pada tahun 2010, sebagaimana terlihat pada Tabel 1.

1http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3232&Item id=694. 2007. Profil Investasi Bidang Pariwisata Kota Bogor. Diakses pada tanggal 9

Tabel 1. Banyaknya Wisatawan yang Berkunjung ke Obyek Wisata di Kabupaten Bogor Tahun 2010

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor (2010)

No Nama Obyek Wisata Lokasi Kunjungan Wisatawan Wisatawan Nusantara Wisatawan Mancanegara Jumlah 1 Taman Safari Indonesia Cisarua 691.948 8.413 700.362 2 Taman Wisata Mekarsari Cileungsi 331.436 4.284 335.720 3 Wisata Agro Gunung Mas Cisarua 325.135 2.351 327.486

4 Curug Cilember Cisarua 204.894 4.706 209.600 5 Taman Wisata

Matahari

Cisarua 124.575 0 124.575

6 Warso Farm Cijeruk 84.722 0 84.722

7 Wana Wisata Buper Gunung Bunder

Pamijahan 84.585 0 84.585

8 Pemandian Air Panas Tirta Sanita

Ciseeng 77.444 1.205 78.649

9 Sirkuit Sentul Citeureup 73.496 1.605 75.100

10 Curug Nangka Tamansari 70.583 27 70.611

11 Taman Merlimba Cisarua 66.546 11 66.557

12 Curug Panjang Megamendung 18.650 0 18.650

13 Air Panas GSE Pamijahan 18.245 36 18.281

14 Talaga Warna Cisarua 15.882 569 16.451

15 Wana Wisata Bodogol Cigombong 8.779 105 8.884 16 Taman Rekreasi Lido Cigombong 6.132 0 6.132

Salah satu tempat wisata utama di Kabupaten Bogor adalah kawasan Puncak. Kawasan ini dikenal sebagai tempat yang segar dengan wilayah pegunungan yang alami. Selain suasana yang nyaman, kawasan ini memiliki banyak obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi, seperti Wisata Agro Gunung Mas, Taman Safari Indonesia, Curug Cilember, Talaga Warna, Taman Wisata Matahari, Curug Panjang, Taman Merlimba, dan sebagainya. Tidak hanya obyek wisata yang menarik wisatawan untuk datang ke Puncak, melainkan banyaknya tempat persinggahan seperti hotel dan villa bagi wisatawan yang ingin menginap. Seiring berjalannya waktu dan berubahnya iklim mikro di kawasan

Puncak Bogor, jumlah wisatawan yang datang mengalami perubahan tiap tahunnya.

Fenomena perubahan iklim berpengaruh terhadap kondisi iklim mikro di kawasan wisata Puncak Bogor. Salah satu fenomena perubahan iklim yang terjadi di kawasan Puncak Bogor adalah meningkatnya suhu udara. Saat ini, udara di kawasan Puncak Bogor tidak sedingin dulu karena adanya peningkatan gas CO2 akibat kendaraan bermotor dan banyaknya lahan pertanian di kawasan Puncak yang beralih fungsi menjadi perumahan, hotel, ataupun villa (Wahyuni et al., 2006).

Adanya perubahan iklim diduga dapat mempengaruhi tingkat permintaan wisata di Puncak. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis dampak perubahan iklim mikro terhadap permintaan wisata di kawasan Puncak Bogor. 1.2. Perumusan Masalah

Perubahan iklim global yang terjadi saat ini berpengaruh terhadap kondisi iklim mikro di kawasan wisata Puncak Bogor. Salah satu fenomena perubahan iklim di kawasan Puncak Bogor adalah berubahnya suhu udara rata-rata sepanjang tahun. Udara di Puncak saat ini tidak sedingin dulu dan kondisi cuaca semakin tidak menentu.

Kajian mengenai dampak perubahan iklim terhadap tingkat permintaan wisata penting untuk dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh perubahan iklim mikro yang terjadi di kawasan wisata Puncak Bogor terhadap jumlah permintaannya. Penelitian ini juga memberikan informasi mengenai rekomendasi kebijakan adaptasi yang dapat dilakukan pihak pengelola wisata dalam menghadapi perubahan iklim.

Berdasarkan uraian tersebut, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana fenomena perubahan iklim mikro yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir di kawasan wisata Puncak Bogor?

2. Bagaimana dampak perubahan iklim mikro terhadap permintaan wisata di kawasan Puncak Bogor?

3. Berapa besarnya kerugian yang diterima obyek wisata akibat adanya pengaruh perubahan iklim?

4. Bagaimana strategi adaptasi yang dapat dilakukan pengelola obyek wisata di kawasan Puncak Bogor terhadap perubahan iklim?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Menganalisis fenomena perubahan iklim mikro selama periode sepuluh tahun terakhir di kawasan wisata Puncak Bogor.

2. Menganalisis dampak perubahan iklim mikro terhadap permintaan wisata di kawasan Puncak Bogor.

3. Mengestimasi besarnya kerugian yang diterima obyek wisata akibat adanya pengaruh perubahan iklim.

4. Mengkaji strategi adaptasi pengelola obyek wisata di kawasan Puncak Bogor dalam menghadapi perubahan iklim.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi peneliti diharapkan penelitian ini dapat berguna di dalam pengembangan

ilmu pengetahuan.

2. Bagi akademisi diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dalam mengkaji dampak perubahan iklim terhadap sektor pariwisata dalam lingkup yang lebih luas.

3. Bagi pengelola obyek wisata di kawasan Puncak Bogor diharapkan dapat menjadi masukan dalam menentukan kebijakan untuk mengatasi dampak perubahan iklim khususnya dampak terhadap permintaan wisata.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengkaji dampak perubahan iklim terhadap tingkat permintaan wisata di kawasan Puncak Bogor. Analisis karakteristik perubahan iklim diantaranya kecepatan angin, curah hujan, dan hari hujan. Analisis dampak perubahan iklim terhadap permintaan wisata dengan menggunakan model regresi linear berganda dilakukan pada dua cakupan wilayah, yaitu analisis dampak perubahan iklim terhadap permintaan wisata di kebun teh Gunung Mas dan analisis dampak perubahan iklim yang dirasakan pengunjung Puncak terhadap permintaan wisata di Puncak (wisata kebun teh, wisata paralayang, wisata outbound, dan juga di beberapa hotel/villa). Perubahan permintaan wisata akibat adanya pengaruh iklim berdampak pada obyek wisata sehingga strategi adaptasi yang dilakukan pihak pengelola obyek wisata tersebut penting sebagai kebijakan dalam mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh perubahan iklim.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Cuaca dan Iklim

Menurut Sarjani (2009), cuaca dan iklim merupakan akibat dari proses- proses yang terjadi di atmosfer yang menyelubungi bumi. Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit pada jangka waktu yang singkat. Cuaca terbentuk dari gabungan unsur cuaca dimana jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja (pagi hari, siang hari atau sore hari), dan keadaannya bisa berbeda-beda untuk setiap tempat serta setiap jamnya.

Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 10 tahun) dan meliputi wilayah yang luas. Iklim dapat terbentuk karena adanya:

a. Rotasi dan revolusi bumi, sehingga terjadi pergeseran semu harian matahari dan tahunan.

b. Perbedaan lintang geografi dan lingkungan fisis. Perbedaan ini menyebabkan timbulnya penyerapan panas matahari oleh bumi sehingga besar pengaruhnya terhadap kehidupan di bumi.

Ada beberapa unsur yang mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim suatu daerah atau wilayah, yaitu:

a. Suhu atau temperatur udara

Suhu atau temperatur udara adalah derajat panas dari aktifitas molekul dalam atmosfer.

b. Tekanan udara

Tekanan udara adalah suatu gaya yang timbul akibat adanya berat dari lapisan udara. Besarnya tekanan udara di setiap tempat pada suatu saat berubah-ubah.

Makin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, makin rendah tekanan udaranya. Hal ini disebabkan karena makin berkurangnya udara yang menekan.

c. Angin

Angin adalah udara yang bergerak dari daerah bertekanan udara tinggi ke daerah bertekanan udara rendah.

d. Kelembaban udara

Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam massa udara pada saat dan tempat tertentu.

e. Curah hujan

Curah hujan adalah jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Curah hujan diukur dalam harian, bulanan, dan tahunan.

2.2. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Menurut Susanta dan Sutjahjo (2008), pemanasan global merupakan kejadian yang diakibatkan oleh meningkatnya temperatur rata-rata pada lapisan atmosfer, air laut, dan daratan. Gejala terjadinya pemanasan global dapat diamati dan dirasakan oleh siapapun. Hal tersebut ditandai dengan adanya pergantian musim yang tidak dapat diprediksi, hujan badai disertai angin puting beliung yang sering terjadi dimana-mana, banjir dan kekeringan yang terjadi pada waktu yang bersamaan, penyakit yang mewabah di banyak tempat, serta terumbu karang yang memutih.

Pemanasan global disebabkan oleh semakin tingginya jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki efek penyelimutan karena gas-gas tersebut menyerap panas yang

dilepaskan oleh permukaan bumi. Emisi gas rumah kaca (GRK) yang berlangsung pada atau di atas tingkat kecepatannya saat ini akan menyebabkan pemanasan lebih lanjut dan memicu perubahan-perubahan lain pada sistem iklim global.

Salah satu akibat peningkatan atau penurunan suhu global adalah perubahan iklim. Menurut Murdiyarso dalam Subandono et al. (2009), perubahan iklim adalah perubahan unsur-unsur iklim dalam jangka waktu panjang (50 sampai 100 tahun) yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK). GRK paling penting yang menangkap panas di dalam atmosfer adalah uap air dan karbondioksida (CO2). Gas lain yang terdapat secara alami adalah metana, nitrat oksida, dan ozon. Selain itu, ada juga gas buatan yang mempunyai efek rumah kaca amat kuat, yakni klorofluorokarbon (CFC).

Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan. Selain perubahan yang berpola siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal. Kegiatan manusia merupakan kontribusi terbesar terjadinya pemanasan global. Pembakaran bahan bakar fosil dan alih guna lahan merupakan kegiatan yang mengemisikan gas rumah kaca terbesar ke atmosfer, diikuti oleh kegiatan-kegiatan lain seperti pertanian, peternakan dan persampahan (KLH, 2009).

Pemanasan global menimbulkan perubahan pada iklim bumi yang ditandai dengan meningkatnya jumlah presipitasi (baik berupa hujan maupun salju), perubahan pola angin serta aspek-aspek cuaca ekstrim seperti kemarau, presipitasi

berat, gelombang panas dan intensitas topan tropis (KLH, 2009). Menurut Konvensi Kerja PBB tentang Perubahan Iklim United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dalam Trenberth et al. (1995), perubahan iklim dinyatakan sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh aktifitas manusia yang mengubah komposisi atmosfer, yang akan memperbesar keragaman iklim teramati pada periode yang cukup panjang.

Menurut Subandono et al. (2009), salah satu unsur iklim yang berfungsi sebagai pengendali cuaca adalah suhu udara. Perubahan iklim dicirikan oleh berubahnya nila rata-rata atau median dan keragaman dari unsur iklim. Apabila dalam periode waktu yang panjang ada kecenderungan data suhu naik dari waktu ke waktu dan atau fluktuasinya (naik turunnya) semakin membesar atau kejadian anomali iklim semakin sering terjadi dibanding periode waktu sebelumnya, maka dapat dikatakan perubahan iklim sudah terjadi.

2.2.1. Dampak Perubahan Iklim Secara Umum

Potensi dampak dari perubahan iklim adalah peningkatan permukaan air laut, peningkatan temperatur bumi, perubahan pola hujan, penurunan produktivitas pertanian dan perikanan, perubahan tata guna dan fungsi hutan, pengurangan kuantitas dan kualitas air. Ryutaro (2000) menyatakan dampak perubahan iklim terhadap manusia merupakan konsekuensi dari peristiwa hidrologi. Air merupakan isu paling menonjol terhadap perubahan iklim yaitu dengan adanya kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global. Penduduk daerah pantai secara langsung terancam oleh naiknya permukaan laut, dan ratusan orang beresiko terkena banjir akibat badai hujan.

Berdasarkan laporan IPCC ke-4 tahun 2007, dari dua belas tahun-tahun terpanas sejak 1850, sebelas tahunnya terjadi dalam rentang tahun 1995 hingga 2005. Peningkatan suhu ini juga meningkatkan suhu permukaan laut global hingga kedalaman 3000 m, yang menyebabkan pengembangan air laut yang berkontribusi terhadap naiknya muka air laut rata-rata global. Kenaikan muka air laut ini juga disebabkan karena penurunan tutupan salju dan es di daerah kutub. Laju rata-rata naiknya muka air laut selama rentang waktu 1961 hingga 2003 adalah 1,8 mm per tahun. Laju ini lebih cepat selama rentang waktu 1993 hingga 2003, yaitu sekitar 3,1 mm per tahun (KLH, 2009).

Perubahan iklim membawa pengaruh pada intensitas dampak dan sangat tergantung pada tingkat penyimpangannya. Secara umum dampak penyimpangan iklim terhadap aspek-aspek penataan ruang, meliputi pemanfaatan lahan budidaya berupa penurunan atau bahkan kegagalan berproduksi usaha pertanian, penyimpangan iklim berupa curah hujan yang cukup tinggi sehingga memicu terjadinya gerakan tanah (longsor) yang berpotensi menimbulkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, penyimpangan iklim berupa curah hujan yang sangat rendah dibarengi peningkatan suhu udara menyebabkan terjadinya kekeringan sehingga berdampak pada penurunan ketersediaan air dan juga kebakaran hutan (Ditjen, 2002).

Dampak lainnya yaitu kenaikan temperatur yang mempercepat siklus hidrologi. Atmosfer yang lebih hangat akan menyimpan lebih banyak uap air, sehingga menjadi kurang stabil dan menghasilkan lebih banyak presipitasi, terutama dalam bentuk hujan lebat. Panas yang lebih besar juga mempercepat proses evaporasi. Dampak dari perubahan-perubahan tersebut dalam siklus air

adalah menurunnya kuantitas dan kualitas air bersih di dunia. Sementara itu, pola angin dan jejak badai juga akan berubah. Intensitas siklon tropis akan semakin meningkat (namun tidak berpengaruh terhadap frekuensi siklon tropis), dengan kecepatan angin maksimum yang bertambah dan hujan yang semakin lebat (Subandono et al., 2009).

2.2.2. Dampak Perubahan Iklim di Indonesia

Perubahan-perubahan pada pola iklim di Indonesia terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Bagi Indonesia, pemanasan global merupakan suatu kenyataan. Indonesia sebagai negara kepulauan, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Misalnya saja, meningkatnya permukaan air laut bagi Indonesia tentu saja menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir. Daerah-daerah pantai serta pulau-pulau kecil di Nusantara yang jumlahnya mencapai ribuan tentu saja terancam tenggelam dan hilang (KLH, 2009).

Perubahan iklim juga memberikan dampak pada sektor kehutanan di Indonesia, dimana meningkatnya suhu dapat memicu terjadi kebakaran hutan secara alami akibat meningkatnya kekeringan. Keanekaragaman hayati Indonesia yang sebagian besar berada di daerah hutan terancam dengan terjadinya kebakaran hutan.

Terkait dengan ketersediaan pangan, berdasarkan hasil pemantauan kekeringan pada tanaman padi selama periode tahun 1993-2002 yang dilakukan oleh Departemen Pertanian, diperoleh angka rata-rata lahan pertanian yang terkena kekeringan mencapai lebih dari 200 ribu ha dengan lahan puso (gagal panen) mencapai sekitar 43 ribu ha atau setara dengan kehilangan 190 ribu ton

gabah kering giling (GKG). Sementara itu, areal persawahan yang terlanda banjir mencapai luas 158 ribu ha dengan puso sekitar 39 ribu ha (setara dengan 174 ribu ton GKG). Selain itu, dengan meningkatnya intensitas curah hujan maka banjir lebih sering terjadi dan memicu terjadinya berbagai penyakit seperti penyakit kulit dan diare serta tercemarnya sumber air (KLH, 2009).

2.3. Pariwisata

Pengertian pariwisata menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (2004) adalah kegiatan perjalanan seseorang atau serombongan orang dari tempat tinggal asalnya menuju tempat lain dalam jangka waktu tertentu. Tujuan perjalanan dapat bersifat pelancongan, bisnis, keperluan ilmiah, keinginan keagamaan, serta

Dokumen terkait