• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Umur Petani

Umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan fisik dan pola pikir petani dalam mengelola usahataninya. Umur petani yang masih mudah dan sehat memiliki kemampuan fikir yang lebih luat dibandingkan dengan petani yang berusia relatif tua. Hal tersebut karena petani yang masih muda lebih cepat menerima hal-hal baru dan berani mengambil risiko dalam kegiatan usahataninya.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat menyimpulkamn bahwa kemampuan berfikir dan keahlian dalam bekerja merupakan faktor yang dapat dipengaruhi oleh umur. Pada dasarnya kematangan umur adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena jika ditinjau dari kemampuan fisik yang lebih kuat maka petani akan mampu melahirkan inovasi baru yang dapat dibandingkan dengan petani yang sudah berumur lebih tua. Oleh sebab itu,

49 indikator untuk menilai tingkat kemampuan kerja petani adalah umur, sedangkan petani yang berumur tua mempunyai kemampuan fisik yang lemah dan tingkat kefektifannya dalam bekerja akan berkurang. Meskipun begit petani yang berumur tua mempunyai pengalaman kerja yang begitu lama sehingga lebih inovatif jika menerapkan inovasi baru.

Tabel 8. Komposisi Golongan Umur Petani Responden di Desa Soki Kecamatan Belo Kabupatan Bima

No. Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 23-29 9 15 2. 30-36 8 14 3. 37-43 4 7 4. 44-50 18 30 5. 51-57 7 12 6. 58-64 6 10 7. 65-71 7 12 Jumlah 59 100

Sumber: Data Primer setelah Diolah, 2021

Berdasarkan hasil olahan data primer pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa, tingkat umur petani bawang merah Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima dari jumlah responden sebanyak 59 orang, didominasi oleh umur dengan golongan 40-50 tahun yaitu sebanyak 18 orang dengan Persentase sebesar 30%. Hal tersebut menunjukan bahwa jika ditinjau dari jumlah dan prsentase golongan umur di atas dapat disimpulkan bahwa petani Desa Soki memiliki umur prdouktif lebih banyak yakni antara umur 44 sampai dengan umur 50 tahun. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Rusman (2000) bahwa sesorang dapat dikatakan produktif apabila memiliki kisaran umur berada pada 15-55 tahun. Dari pernyataan tersebut dapat digambarkan bahwa masadepan keberlanjutan usaha petani bawang merah Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima dapat meningkat di masa yang akan datang.

50 2. Tingkat Pendidikan Responden

Hasil dari pendidikan setiap orang memiliki pengaruh terhadap kemajuan yang akan dicapai, karena tingkat pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi taraf hidup yang tingi, begitu juga sebaliknya taraf pendidikan yang renda akan menjadi cerminan hidup yang rendah pula. Berdasarkan hasil pengamatan peniliti terhadap masyarakat Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima telah di menjadi bukti bahwa penyampaian kritikan terhadap suatu masalah yang disampaikan menjadi bagian dari bahan evaluasi bagi mereka untuk keberlanjutan usahatani yang sedang dikelola.

Disamping itu, pendidikan adalah faktor yang dijadikan sebagai penentu dalam pembangunan usahatani, baik itu untuk memperoleh hasil optimal, pendapatan yang lebih menguntngkuan maupun merugikan. Jika pernyataan tersebut mengarah pada pendidikan formal yang diikuti oleh petani, pendidikan non formal turut berpengaruh terhadap kamampuan polah pikir masyarakat petani dalam mengembangkan usahataninya. Pendidikan non formal yang dimaksud adalah ketika masyarakat ikut dalam forum-forum yang berkaitan dengan pertanian, seperti pelatihan, penyuluhan, magang dan lain sebagainya.

Tentunya pendidikan-pendidikan tersebut mampu mengubah pola pikir masyarakat petani dalam menyerap dan mengadopsi teknologi usahatani, sehingga pencapaian produksi akan lebih baik dan lebih menguntungkan. Tingkat pendidikan masyarakat petani Desa Soki dapat menjadi penunjang untuk mengembangkan sistem pengelolaan agribisnis bawang merah.

51 Tabel 9. Komposisi Tingkat Pendidikan Petani Bawang Merah di Desa Soki

Kecamatan Belo Kabupaten Bilang

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. Tidak Tamat SD 16 27 2. SD 7 12 3. SMP 15 25 4. SMA 19 32 5. Sarjana 2 3 Jumlah 59 100

Sumber: Data Primer setelah Diolah, 2021

Berdasarkan hasil olah data primer yang dilakukan pada tabel 9, dapat kita lihat bahwa tingkat pendidikan petani responden penelitian di Desa Soki di dominasi oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 19 orang dengan Persentase 32%. Kondisi tersebut dapat menggambarkan bahwa suatu kemajuan bagi masyarakat petani Desa Soki, hal tersebut dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan terhadap pengelolaan hasil usahatani, khususnya tanaman bawang merah. Data tersebut juga menjadi bukti bahwa kemajuan dalam bidang pendidikan mampu mendorong masyarakat petani Desa Soki untuk menciptakan inovasi baru dalam berusahatani.

3. Jumlah Tanggungan Keluarga

Peningkatan produksi usahatani, khususnya bawang merah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah jumlah tenaga kerja yang ada dalam keluarga tanggungan keluarga). Tanggungan keluarga merupakan semua anggota keluarga yang merupakan tanggungan rumah tangga.

Banyak dan sedikitnya jumlah tanggungan keluarga petani akan dapat mempengaruhi keberhasilan pengelolaan usahatani bawang merah. Artinya semakin banyak jumlah tanggungan keluarga merupakan gambaran terciptanya potensi hasil dan pendapatan petani bawang merah. Adapun jumlah

52 tanggungan keluarga petani responden Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima dapat dilihat pada rincian sebagai berikut:

Tabel 10. Komposisi Tanggungan Keluarga Petani Bawang Merah di Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima

No. Tanggungan Keluarga Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 1 0 0 2. 2 11 19 3. 3 17 29 4. 4 22 37 5. 5 7 12 6. 6 2 3 7. 7 0 0 Jumlah 59 100

Sumber: Data Primer setelah Diolah, 2021

Penjelasan tabel 10 menunjukan bahwa jumlah tanggungan keluarga petani Desa Soki didominasi oleh urutan keempat yaitu sebanyak 22 orang dengan Persentase 37%. Jumlah tersebut dapat mengindikasikan bahwa petani Desa Soki rata-rata memilki tanggungan keluarga yang cukup, sehingga hambatan yang akan dihadapi oleh petani dalam mengembangkan komoditas bawang merah dimasa yang akan datang tidak terlalu besar.

4. Luas Lahan Responden

Salah satu faktor penentu dalam usahatani yang paling penting selain modal adalah luas lahan. Selain itu, indikator tingginya hasil produksi dan pendapatan masyarakat petani, khususnya bawang merah adalah bergantung pada luas lahan. Semakin tinggi luas lahan petani maka akan semakin tinggi pula keuntungan yang akan didapatkan, begitu juga sebaliknya. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Rahim (2007) bahwa, lahan pertanian merupakan penentu dari hasil produksi yang akan capai, semakin luas lahan

53 garapan yang dimiliki oleh petani, maka akan semakin besar juga peluang lahan tersebut dalam menghasilkan produksi.

Luas lahan sangat mempengaruhi petani dalam pengambilan keputusan dan kebijakan yang berhubungan dengan penggunaan lahan untuk dapat menghasilkan produksi pertanian yang diinginkan. Petani yang memiliki lahan yang luas tentunya akan memperoleh hasil yang lebih besar, tetapi tidak menjamin bahwa dengan luas lahan tersebut yang lebih produktif dalam memberikan hasil dibandingkan dengan luas lahan yang kecil. Untuk lebih jelasnya luas lahan petani Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima dapat dilihat pada rincian sebagai berikut:

Tabel 11. Komposisi Luas Lahan Petani Bawang Merah di Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima

No. Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 0,7 – 0,74 2 3 2 0,75 – 0,79 1 2 3 0,8 – 0,84 10 17 4 0,85 – 0,89 28 48 5 0,9 – 0,94 9 15 6. 0,95 – 0,99 0 0 7. 1 9 15 Jumlah 59 100

Sumber: Data Primer setelah Diolah, 2021

Berdasarkan hasil olahan data primer pada tabel di atas menunjukkan bahwa, luas lahan petani responden yang mendominasi terdapat pada golongan 0,85 – 0,89 Ha dengan jumlah responden sebanyak 28 orang dan hasil Persentase yang dimiliki sebesar 48%. Oleh karena itu, petani responden yang memiliki luas garapan/lahan akan memungkinkan untuk mendapatkan jumlah produksi yang timggi.

54 5. Pengalaman Responden dalam Berusahatani

Aspek pengalaman berusahatani juga berpengaruh terhadap keputusan petani untuk mengembangkan usahatani bawang merah. Pengalaman berusahatani merupakan kegiatan yang pernah dialami oleh seorang petani dalam berusahatanu baik yag sudah lama maupun yang masih proses perkembangan.

Selain dari beberapa karakterisitik responden yang telah dijelaskan sebelumnya, tentang tingkat peran masing-masing dalam mempengaruhi tinggi rendahnya produksi dan pendapatan petani. Pengalaman petani dalam melakukan usahatani juga memiliki pengaruh terhadap keberhasilan pengelolaan usahatani, khsusunya bawang merah. Petani yang memiliki pengalaman yang cukup lama dalam berushatani bawang merah akan dengan mudah menerima inovasi baru, baik itu pengolahan, pengendalian maupun terhadap penggunaan teknologi baru.

Tabel 12. Komposisi Pengalaman Responden dalam Berusahatani Bawang Merah di Desa Soki Kecamatan Belo Kabupaten Bima

No. Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 10-16 15 25 2 17 – 23 4 7 3 24 – 30 7 12 4 31 – 37 12 20 5 38 – 44 3 5 6 45-51 4 7 7 52-58 14 24 Jumlah 59 100

Sumber: Data Primer setelah Diolah, 2021

Tabel 12 diatas menunjukan bahwa jumlah petani responden yang memiliki pengalaman terbanyak yaitu dengan tingkat pengalaman

55 berusahatani angtara 52-58 tahun, dengan jumlah responden sebanyak 14 orang dan memiliki Persentase sebesar 24%. Keadaan demikian dapat memberikan gambaran bahwa petani responden rata-rata memiliki pengalaman yang tidak terlalu lama, sehingga hal tersebut memungkinkan adanya hamabatan dalam melakuan usahatani bawang merah, khususnya pengembangan komoditas bawang merah dimasa yang akan datang.

5.2. Analisis Pendapatan Usahatani Bawang Merah

Struktur biaya usahatani bawang merah merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani selama proses usahatani dalam satu musim tanam. Biaya usahatani bawang merah meliputi biaya tetap dan biaya variabel serta pendapatan bersih yang diterima oleh responden/musim tanam. Biaya usahatani bawang merah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu biaya tetap dan biaya variabel.

Dokumen terkait