BAB VI UPAYA HUKUM
PETUNJUK MENGHADAPI PERKARA PIDANA
Dalam pelaksanaan tugas pengurusan piutang negara dan pelaksanaan lelang, tidak jarang petugas atau pejabat DJPLN dilaporkan kepada pihak penyidik baik kepolisian ataupun pihak kejaksaan. Laporan ini dapat terjadi karena pelapor tidak puas atas tindakan petugas atau pejabat DJPLN dalam melaksanakan pengurusan piutang negara dan lelang. Atas laporan tersebut, pihak kepolisian dan/atau pihak kejaksaan memanggil petugas atau pejabat di lingkungan DJPLN untuk dimintai keterangannya, baik sebagai saksi, saksi ahli atau tersangka.
Dalam hal petugas atau pejabat DJPLN dipanggil oleh penyidik (kepolisian/ kejaksaan) baik sebagai saksi, saksi ahli, atau tersangka, maka sebelum memenuhi panggilan perlu diperhatikan hal sebagai berikut:
1. meneliti dengan cermat surat panggilan yang diterimanya, yaitu:
a. hari, tanggal, dan jam menghadap;
b. tempat menghadap;
c. pejabat yang memanggil;
d. kapasitas petugas atau pejabat yang dipanggil (sebagai saksi, saksi ahli, atau tersangka);
e. tindak pidana dan pasal yang dituduhkan;
f. tanggal surat panggilan.
2. mempelajari kasus yang berkaitan dengan panggilan penyidik;
3. berkoordinasi dengan Kanwil atau Kantor Pusat DJPLN.
A. Saksi
Saksi adalah seseorang yang dapat memberikan keterangan tentang suatu tindak pidana yang dialami, dilihat dan didengar secara langsung.44 Dalam penyampaian keterangan sebagai saksi, petugas atau pejabat yang dipanggil hanya memberikan keterangan mengenai hal-hal dan keadaan-keadaan yang dialami, dilihat atau didengar secara langsung dan tidak menyampaikan keterangan yang didapat dari orang lain atau pendapat berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
Petugas atau pejabat yang dipanggil sebagai saksi perlu mempersiapkan diri dengan memperhatikan hal sebagai berikut:
1. Mempelajari permasalahan dan membuat resume atas kasus yang berkaitan.
2. Berkoordinasi dengan pejabat kanwil dan/atau kantor pusat.
3. Meminta kepada Kanwil dan/atau Kantor Pusat DJPLN untuk mendampingi yang bersangkutan dalam pemberian keterangan dihadapan penyidik.
4. Memenuhi panggilan sesuai dengan tanggal dan waktu yang ditentukan dalam surat panggilan. Apabila berhalangan, hendaknya menghubungi pejabat yang memanggil dengan mengemukakan alasan yang tepat.
5. Memberikan keterangan hanya mengenai hal-hal dan keadaan-keadaan yang dialami, dilihat atau didengar secara langsung.
6. Jawaban cukup singkat dan padat; kalau tidak tahu, cukup jawab “tidak tahu”.
44 Pasal 185 ayat (1) KUHAP. Alat bukti yang sah dalam hukum acara pidana adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa (vide Pasal 184 ayat (1) KUHAP).
53
7. Membaca dan meneliti berita acara pemeriksaan serta membubuhkan paraf pada setiap lembar berita acara pemeriksaan sebelum menandatanganinya.
8. Menyanggah isi berita acara pemeriksaan apabila tidak sesuai dengan keterangan yang telah diberikan dan tidak membubuhkan paraf serta tidak menandatangani berita acara.45
Pada dasarnya semua orang dapat menjadi saksi, kecuali:46
1. keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;
2. saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama dengan terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan, dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;
3. suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama sebagai terdakwa.
Saksi diperiksa dengan tidak disumpah, kecuali apabila ada cukup alasan untuk diduga bahwa ia tidak akan hadir dalam pemeriksaan di pengadilan.47
B. Saksi Ahli
Dalam KUHAP tidak dikenal istilah saksi ahli, melainkan keterangan ahli, yaitu apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.48 Dalam KUHAP tidak dijelaskan siapa yang disebut ahli dan apa itu keterangan ahli.
Definisi keterangan ahli terdapat dalam Pasal 343 Ned.Sv. yaitu, pendapat seorang ahli yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya, tentang sesuatu apa yang dimintai pertimbangannya. Seseorang dapat memberikan keterangan sebagai ahli jika ia mempunyai pengetahuan, keahlian, pengalaman, latihan, atau pendidikan khusus yang memadai untuk memenuhi syarat sebagai seorang ahli tentang hal yang berkaitan dengan keterangannya.49
Permintaan terhadap petugas atau pejabat DJPLN untuk didengar keterangannya sebagai ahli (saksi ahli) pada umumnya diajukan oleh penyidik kepada institusi (Kantor Pusat DJPLN, Kanwil DJPLN, KP2LN atau Biro Hukum Departemen Keuangan). Dalam hal dipanggil sebagai ahli (saksi ahli) oleh penyidik, petugas atau pejabat DJPLN hendaknya memperhatikan hal sebagai berikut:
1. Mempelajari permasalahan.
2. Berkoordinasi dengan pejabat Kanwil dan/atau Kantor Pusat DJPLN.
3. Memenuhi panggilan sesuai dengan surat panggilan. Apabila berhalangan hendaknya menghubungi pejabat yang memanggil dengan mengemukakan alasan yang tepat.
4. Memberikan keterangan hanya sebatas hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan, pendidikan, pengalaman, dan keahlian.
5. Jawaban cukup singkat dan padat; kalau tidak tahu, cukup jawab “tidak tahu”.
45 Saksi tidak dapat dipaksa untuk menandatangani berita acara pemeriksaan, apabila ia menolak isi berita acara pemeriksaan. Penyidik cukup mencatat hal itu dalam berita acara dengan menyebutkan alasannya (vide Pasal 118 ayat (2) KUHAP).
46 Pasal 168 KUHAP.
47 Pasal 116 ayat (1) KUHAP.
48 Pasal 184 ayat (1) huruf b jo. Pasal 186 KUHAP.
49 Prof. Dr. Andi Hamzah, S.H., 2004, Hukum Acara Pidana Indonesia, h.268-269.
54
C. Tersangka
Sejak pemeriksaan awal, tersangka berhak mendapat bantuan hukum dari penasehat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan.50 Selain itu tersangka mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut:51
1. Hak untuk segera diperiksa, diajukan ke pengadilan, dan diadili (Pasal 50 KUHAP).
2. Hak untuk mengetahui dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan (Pasal 51 huruf a KUHAP).
3. Hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik (Pasal 52 KUHAP).
4. Hak untuk mendapat juru bahasa (Pasal 53 ayat (1) KUHAP).
5. Hak untuk menghubungi dokter bagi tersangka yang ditahan (Pasal 58 KUHAP).
6. Hak untuk diberitahu kepada keluarga atau orang lain yang serumah dengan tersangka yang ditahan untuk mendapat bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhan penahanan (Pasal 59 KUHAP).
7. Hak untuk berhubungan dengan keluarga untuk mendapat bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhan penahanan (Pasal 60 KUHAP).
8. Hak untuk dikunjungi sanak keluarga yang tidak ada hubungan dengan perkara tersangka untuk kepentingan pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan (Pasal 61 KUHAP).
9. Hak untuk berhubungan surat menyurat dengan penasihat hukum (Pasal 62 KUHAP).
10. Hak untuk menghubungi dan menerima kunjungan rohaniawan (Pasal 63 KUHAP).
11. Hak untuk mengajukan ganti rugi (Pasal 68 KUHAP).
Petugas atau pejabat DJPLN yang diminta keterangannya sebagai tersangka hendaknya memperhatikan hal sebagai berikut:
1. Pelajari unsur-unsur tindak pidana dan pasal yang disangkakan.
2. Pelajari dan pahami ketentuan pengurusan piutang negara dan pelaksanaan lelang yang berkaitan dengan tindak pidana yang disangkakan.
3. Pahami maksud pertanyaan yang diajukan sebelum menjawab.
4. Jawab pertanyaan secara singkat, padat, dan usahakan jawaban tidak menimbulkan pertanyaan baru.
5. Kalau tidak tahu, cukup jawab “tidak tahu”.
50 Vide Pasal 54 KUHAP.
51 Vide Pasal 50 sampai Pasal 68 KUHAP.
55
BAB VIII