BAB IV PEWARISAN HAK CIPTA MENURUT KUHPERDATA
C. Pewarisan Ekspresi Budaya Tradisional dan Hak Cipta atas
Indonesia adalah negara terbesar yang memiliki 17.508 pulau dengan kepemilikan hasil kebudayaan masyarakat yang terbesar diantara negara kepulauan lainnya di dunia.84
84
Arif Lutviansory, Hak Cipta dan Perlindungan Folklor di Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010.
Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia tersebut muncul dalam bentuk berbagai macam kreasi intelektual yang berada dalam ruang lingkup seni, sastra dan ilmu pengetahuan. Salah satu kreasi intelektual melalui lingkup seni, sastra dan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tradisional (traditional knowledge).Pengetahuan Tradisional diartikan sebagai pengetahuan yang dimiliki atau dikuasai dan digunakan oleh suatu komunitas, masyarakat, atau suku bangsa tertentu yang bersifat turun– temurun dan terus berkembang sesuai dengan perubahan lingkungan.
1. Konsep Ekspresi Budaya Tradisional dan Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui sebagai Kekayaan Intelektual
a. Pengertian dan Ruang Lingkup Ekspresi Budaya Tradisional dan Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui
Pengertian Traditional Knowledge termuat secara lengkap dalam Article 8J mengenai Traditional Knowledge, Innovations and Practices Introduction yang menyatakan :85
Sementara itu, masyarakat asli sendiri umumnya memiliki pemahaman tersendiri mengenai pengetahuan tradisional yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
Bahwa pengetahuan tradisional merujuk pada pengetahuan, inovasi dan praktik dari masyarakat asli dan lokal di seluruh dunia. Dikembangkan dari pengalaman melalui negara-negara dan diadaptasi ke budaya lokal dan lingkungan, pengetahuan tradisional ditransmisikan secara lisan dari generasi ke generasi. Hal itu menjadi kepemilikan secara kolektif dan mengambil bentuk cerita, lagu, folklor, peribahasa, nilai-nilai budaya, keyakinan, ritual, hukum masyarakat, bahasa daerah dan praktik pertanian, mencakup pengembangan spesies tumbuhan dan keturunan binatang. Pengetahuan tradisional utamanya merupakan praktik alamiah, secara khusus seperti dalam wilayah pertanian, perikanan, kesehatan, horikultural dan kehutanan.
86
1) Pengetahuan tradisional merupakan hasil pemikiran praktis yang didasarkan atas pengajaran dan pengalaman dari generasi ke generasi;
85
Ahmad Zen Umar Purba, “Pokok-Pokok Kebijakan Pembangunan Sistem HKI Nasional”, Jurnal Hukum Bisnis, hlm. 27, sebagaimana dikutip dalam Kanti Rahayu,”Arti Penting Folklore dan
Traditional Knowledge bagi Indonesia sebagai The Country of Origin”, Jurnal , Tegal, 2012, hlm.
5. 86
2) Pengetahuan tradisional merupakan pengetahuan dari daerah perkampungan;
3) Pengetahuan tradisional tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pemegangnya, meliputi kesehatan, spiritual, budaya dan bahasa dari masyarakat pemegang. Hal ini merupakan way of life karena lahir dari semangat untuk bertahan;
4) Pengetahuan tradisional memberikan kredibilitas pada masyarakat pemegang.
WIPO sebagai orgnisasi internasional di bidang HKI juga menyinggung mengenai masalah ekspresi budaya tradisional atau folklor ini. Menurut WIPO pengetahuan tradisional adalah: The categories of traditional knowledge include…expressions of folklore in the form of music, dance, song, handcraft, desaign, stories and artwork…”87
Pengetahuan tradisional itu terbagi dua, satu yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati, yaitu yang menyangkut traditional know-how, traditional medicine, traditional agriculture practices,
. Melalui pengertian tersebut diketahui bahwa WIPO mendefinisikan traditional knowledge sebagai muatan atau substansi pengetahuan yang berasal dari kegiatan intelektual dalam konteks tradisional, dan termasuk kecakapan teknis, ketrampilan, inovasi, praktik–praktik dan pembelajaran yang membentuk bagian dari sistem pengetahuan tradisional, dan pengetahuan yang terdapat dalam gaya hidup tradisional berbagai komunitas lokal dan asli pribumi, atau pengetahuan yang terdapat dalam sistem pengetahuan yang terkodifikasi yang diwariskan antar generasi.
”,
andtraditional planting materials. Satunya lagi berkaitan dengan seni seperti tarian rakyat, atau cerita rakyat.88
Disinilah dapat dilihat bahwa ekspresi budaya tradisional (folklore) merupakan bagian dari pengetahuan tradisional (traditional knowledge) tersebut yang mencakup 4 kelompok ekspresi, yaitu:
expression by words (verbal), expression by musical sounds (music), expression of the human body (by action), and expressions incorporated in a material object (tangible expression).
Ada beberapa istilah lain yang merujuk kepada Ekspresi Buda ya Tradisional, yaitu expression of folklore, dan folklore. Ketiga istilah di atas merujuk pada produk, aliran sosial serta proses kreatif kommunal intergenerasi yang menggambarkan dan mengidentifikasikan sejarah, budaya dan identitas sosial serta nilai dari komunitas tersebut. Artinya istilah ekspresi budaya tradisional yang disebutkan dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 samalah maknanya dengan istilah folklor pada Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002.
Penjelasan Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta memberikan definisi terhadap folklor sebagai berikut:
Folklor dimaksudkan sebagai sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standar dan niali-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun, termasuk:
November 2014 pukul 19.51 WIB.
a. Cerita rakyar, puisi rakyat;
b. Lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional; c. Tari-tarian rakyat, permainan tradisional;
d. Hasil seni antara lain berupa: lukisan, gambar, ukiran-ukiran, pahatan, mozaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional.
Saat ini Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional (RUU PPKI PTEBT) telah dibuat dan disosialisasikan oleh Direktorat Jenderal Peraturan Perundang- undangan. Adapun pengertian Ekspresi Budaya Tradisional pada Pasal 1 angka 2 dalam RUU PPKI PTEBT adalah “karya intelektual dalam bidang seni, termasuk ekspresi sastra yang mengandung unsur karakteristik warisan tradisional yang dihasilkan, dikembangkan, dan diperlihara oleh komunitas atau masyarakat.
Dalam Penjelasan Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta bahwa Ekspresi Budaya Tradisional yang dilindungi mencakup salah satu atau kombinasi bentuk ekspresi berikut ini:
a. Verbal tekstual, baik lisan maupun tulisan, yang berbentuk prosa maupun puisi, dalam berbagai tema dan kandungan isi pesan, yang dapat berupa karya sastra ataupun narasi informatif;
b. Musik, mencakup antara lain: vokal, instrumental atau kombinasinya;
c. Gerak, mencakup antara lain: tarian;
d. Teater, mencakup antara lain: pertunjukan wayang dan sandiwara rakyat;
e. Seni rupa, baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi yang terbuat dari berbagai macam bahan seperti kulit, kayu,
bambu, logam, batu, keramik, kertas, tekstil, dan lain-lain atau kombinasinya; dan
f. Upacara adat.
b. Konsep Kepemilikan Ekspresi Budaya Tradisional dan Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui
Karya-karya tradisional diciptakan oleh masyarakat tradisional secara berkelompok sehingga terdapat banyak orang yang memberikan sumbangan tenaga dan pikiran pada produknya. Bahkan yang lebih prinsip adalah banyak masyarakat tradisional yang tidak mengenal konsep hak individu karena harta dianggap berfungsi sosial dan bersifat milik umum. Dengan demikian, para pencipta dalam masyarakat tradisional yang bersangkutan tidak berniat atau ingin mementingkan hak individu atau hak kepemilikan atas karya-karya mereka demi keuntungan pribadi semata.89 Bagi masyarakat lokal, hak eksklusif untuk memanfaatkan karya cipta mereka secara ekonomis sebagaimana yang dianut dalam rezim hak kekayaan intelektual khususnya hak cipta tidaklah penting. Mereka tidaklah begitu memperhatikan nilai ekonomis yang terkandung dalam tiap ekspresi budaya tradisional atau folklore yang mereka miliki. Hal yang paling diutamakan oleh masyarakat lokal atau tradisional adalah unsur estetis, sosial, dan budaya yang terkandung dalam karya cipta mereka yang sering kali juga mengandung unsur spiritual yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat lokal yang bersangkutan.90
Oleh karena sifatnya yang kolektif serta lampaunya masa penciptaan yang begitu lama, maka terhadap pengetahuan tradisional
89
Tim Lindsey,dkk, Hak Kekayaan Intelektual: Suatu Pengantar, PT. Alumni, Bandung, 2006, hlm 261.
90
Dieter Dambiec, “Indigenous People’s Folklore and Copyright Law”.
diakses pada 13 November 2014.
ini sangat sulit sekali diketahui siapa pencipta serta keasliannya. Namun, perihal kepemilikannya terdapat definisi yang diberikan oleh WIPO mengenai pemilik atau pemegang pengetahuan tradisional atau
traditional knowledge yaitu:
“semua orang yang menciptakan, mengembangkan, dan mempraktikkan traditional knowledge dalam aturan dan konsep tradisional. Masyarakat asli, penduduk, dan negara adalah pemilik
traditional knowledge, tetapi tidak semua traditional knowledge adalah asli”.
Pasal 38 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta menyatakan bahwa Negara Indonesia memegang hak cipta atas ekspresi budaya tradisional, dimana karya tersebut merupakan bagian dari warisan budaya komunal maupun bersama.
Negara juga memegang hak cipta atas ciptaan yang penciptanya tidak diketahui, hal ini dapat dilihat dalam Pasal 39 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa “dalam hal ciptaan tidak diketahui penciptanya dan ciptaan tersebut belum dilakukan pengumuman, hak cipta atas ciptaan tersebut dipegang oleh negara untuk kepentingan pencipta”. Hal ini untuk mempertegas kepemilikan hak cipta dalam hal suatu karya yang penciptanya tidak diketahui dan belum diterbitkan, misalnya dalam hal karya tulis yang belum diterbitkan dalam bentuk buku atau karya musik yang belum direkam, dan sebagainya.
Selanjutnya dalam hal ciptaan telah dilakukan pengumuman tetapi tidak diketahui penciptanya, atau hanya tertera nama aliasnya atau samaran penciptanya, maka hak cipta atas ciptaan tersebut dipegang oleh pihak yang melakukan pengumuman untuk kepentingan
pencipta.91Sedangkan apabila suatu ciptaan tidak diketahui baik penciptanya maupun pihak yang melakukan pengumuman atas ciptaan yang telah diterbitkan tersebut, maka hak cipta atas ciptaan tersebut dipegang oleh negara.92
2. Pengaturan dan Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dan Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui
Perlindungan terhadap ekspresi budaya tradisional serta ciptaan- ciptaan yang tidak diketahui penciptanya, UNESCO dan WIPO telah melaksanan berbagai usaha untuk pengaturannya. Berdasarkan prakarsa kedua organisasi internasional ini, pada tahun 1976 pengaturan ekspresi budaya tradisional/ ekspresi folklor telah dimuat dalam Tunis Model Law on Copyright for Developing Countries. WIPO pada tahun 1985 juga telah mengaturnya dalam Model Provisions for National Laws on the Protection of Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions.93
91
Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta 92
Pasal 39 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta 93
Tim Lindsey,dkk, op.cit., hlm 276-278.
Melalui pengaturan tersebut definisi expression of folklore tersebut meliputi secara khusus perlindungan: “verbal expression” seperti dongeng, hikayat, “musical expression” seperti lagu-lagu rakyat, “expression of action” seperti tari-tarian rakyat dan ritual, “tangible expression” seperti kerajinan tangan dan perhiasan kuno.
Di Indonesia sendiri kini telah ada pengaturan mengenai ekspresi budaya tradisional serta hak cipta atas ciptaan yang tidak diketahui penciptanya. Yaitu diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta pada Bab V Pasal 38 dan Pasal 39. Serta diatur juga dalam Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional.
Warisan budaya serta ciptaan-ciptaan yang tidak diketahui penciptanya yang terdapat di masing-masing daerah di Indonesia dapat dilindungi hak cipta, guna menghindarkan penggunaan tanpa izin oleh negara lain.
3. Pelaksanaan Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dan Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui di Indonesia
Dalam Penjelasan UUD 1945 Sebelum Perubahan, terdapat asumsi identitas nasional harus dibentuk dan berakar dari puncak-puncak warisan budaya tradisional dari beragam komunitas lokal dan masyarakat tradisional yang tersebar di seluruh Indonesia.
Lebih jauh perkembangannya dalam negara kesejahteraan, negara bertanggungjawab untuk memenuhi hak sosial, ekonomi dan budaya, dengan intervensi positif negara dalam bidang-bidang kehidupan masyarakat. Tanggungjawab negara dalam pemenuhan hak tersebut dilakukan berdasarkan politik hukum negara untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara dalam dimensi pencapaian kesejahteraan yang luas. Berdasarkan Pasal 18B ayat (2), 28C ayat (2), 28I (3) UUD 1945, pemerintah berkewajiban untuk memenuhi Hak Asasi Budaya yang dimiliki oleh komunitas lokal atas aset intelektual yang dimilikinya, dengan regulasi yang mendukung pelaksanaan hak tersebut. Dalam kaitannya dengan Pasal 33 ayat (3) dan (4) UUD 1945, negara bertanggungjawab untuk mengelola sumber daya hayati bagi kesejahteraan masyarakatnya tanpa terkecuali, termasuk mengelola ekspresi budaya tradisional dan ciptaan-ciptaan yang tidak diketahui penciptanya. Tujuan dari pengelolaan ekspresi budaya tradisional (folklor) oleh negara antara lain adalah untuk:94
94
Rianda Rakhmada P, Jurnal,Perlindungan Hukum Folklor Wayang Kulit di dalam Undang-
a. Mengakui adanya nilai-nilai yang secara intrinsik terdapat di dalam warisan budaya tradisional. Nilai-nilai itu mencakup nilai-nilai sosial, budaya, spiritual, ekonomis, ilmiah, intelektual, komersial maupun edukatif, serta pengakuan bahwa kebudayaan tradisional dan ciptaan yang tidak diketahui penciptanya juga dapat memberikan kontribusi dan keuntungan baik bagi masyarakat pemangkunya maupun seluruh umat manusia;
b. Mempromosikan penghormatan terhadap budaya tradisional, termasuk penghormatan terhadap niali-nilai filosofis, intelektual maupun spiritual dari masyarakat pemangku dan pelestarian niali-nilai tersebut, agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan aktual mereka;
c. Mewadahi aspirasi masyarakat pemangku, dengan melandaskan diri pada aspirasi dan ekspektasi yang secara langsung dinyatakan oleh kelompok masyarakat pemangkunya, sebagai wujud dari penghormatan kepada hak-hak mereka, baik berdasarkan hukum nasional maupun internasional dan berkontribusi terhadap kesejahteraan dan pembangunan sosial, lingkungan, budaya dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pemangku terkait;
d. Mencegah pemanfaatan secara melawan hukum maupun penyalahgunaan lainnya (misappropriation and misuse);
e. Berkontribusi terhadap keanekaragaman budaya, promosi dan perlindungan bagi keberagaman ekspresi budaya;
f. Mendorong kreativitas dan inovasi komunitas pemangku ekspresi budaya tradisional,termasuk mempromosikan kebebasan intelektual dan kebebasan artistik, penelitian dan pertukaran budaya dengan cara- cara yang adil;
g. Mengupayakan perlindungan hukum, dengan memungkinkan cara-cara praktis maupun upaya-upaya hukum bagi masyarakat pemabgku termasuk penegakan hukum yang efektif, untuk mencegah penyalahgunaan ekspresi budaya tradisional mereka termasuk dalam membuat turunan dan alih-wujudnya. Selain itu, cara-cara praktis dan
upaya-upaya hukum itu juga diberikan untuk memberi peluang kepada masyarakat pemangku untuk mengontrol penggunaan dan pemanfaatan suatu ekspresi budaya tradisional di luar konteks tradisional dan kebiasaan adat mereka dan untuk mempromosikan pembagian keuntungan yang adil dari hasil penggunaan tersebut.
Di Indonesia sendiri, ekspresi budaya tradisional dan hak cipta atas ciptaan yang penciptanya tidak diketahui telah diatur dalam Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal 38 dan 39. Negara memegang hak cipta atas ekspresi budaya tradisional dan hak cipta atas ciptaan yang penciptanya tidak diketahui.Negara wajib mengiventarisasi, menjaga, dan memelihara ekspresi budaya tradisional, serta penggunaan ekspresi budaya tradisional ini harus memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat pengembannya.
Adapun sifat dari ekspresi budaya tradisional (folklore) yang dimaksud adalah:95
1) Merupakan hak kolektif komunal; 2) Merupakan karya seni;
3) Telah digunakan secara turun-temurun; 4) Hasil kebudayaan rakyat;
5) Perlindungan hukum tak terbatas (UU Hak Cipta); 6) Belum berorientasi pasar;
7) Negara pemegang hak cipta atas ekspresi budaya tradisional /folklore(UU Hak Cipta);
8) Penciptanya tidak diketahui;
9) Belum dikenal secara luas di dalam forum perdagangan internasional.
95
Emawati Junus, “Perlindungan Hukum HKI, Traditional Knowledge, Folklore”, hlm.11, sebagaimana dikutip dalam Kanti Rahayu,”Arti Penting Folklore dan Traditional Knowledge bagi
Pengaturan tentang jangka waktu perlindungan ekspresi budaya tradisional dan hak cipta atas ciptaan yang penciptanya tidak diketahui dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014, Pasal 60 ayat (1) menyatakan: hak cipta atas ekspresi budaya tradisional yang dipegang oleh negaraberlaku tanpa batas waktu. Sedangkan hak cipta atas ciptaan yang penciptanya tidak diketahui baik ciptaan yang belum dilakukan pengumuman, maupun ciptaan yang telah dilakukan pengumuman, serta ciptaan yang telah diterbitkan, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak ciptaan tersebut pertama kali dilakukan pengumuman baik ciptaan tersebut yang dipegang oleh negara ataupun yang dilaksanakan oleh pihak yang melakukan pengumuman.96
96
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Intelectual Property Rights merupakan kebendaan immaterial yang juga menjadi obyek hak milik sebagaimana diatur dalam hukum kebendaan. Hak cipta merupakan salah satu macam hak kekayaan intelektual dan termasuk sebagai benda bergerak tidak bertubuh.Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ditegaskan oleh Pasal 16 Ayat (1) bahwa hak cipta dianggap sebagai benda bergerak.Dengan status hak cipta dipandang sebagai benda bergerak mempunyai konsekuensi seperti benda bergerak lainnya yaitu dapat dibawa kesana kemari maupun dipindahtangankan kepada pihak lain.Berdasarkan Pasal 16 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Ciptatelah diatur secara limitatif tentang hak tersebut, bahwa hak cipta dianggap sebagai benda bergerak sehingga hak cipta dapat dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian karena pewarisan, hibah, wkaf, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab lain yang dibenarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hak cipta merupakan salah satu harta kekayaan pewaris yang menjadi objek warisan, oleh sebab itu hak cipta dapat diwariskan.
2. Hak cipta yang beralih karena pewarisan terjadi berdasarkan ketentuan undang-undang sehingga kepemilikan beralih kepada ahli waris karena ketentuan undang-undang, beralih otomatis sejak meninggalnya pemilik hak.Hak cipta dapat diwariskan setelah penciptanya atau pemegang hak cipta (pewaris) meninggal dunia. Ahli waris yang berhak mewaris diutamakan adalah golongan pertama, yaitu anak-anak dan istri atau suami yang hidup terlama, dan apabila tidak ada baru ahli waris golongan berikutnya, dan apabila tidak ada juga maka segala harta peninggalan si
pewaris menjadi milik negara.Selanjutnya setelah adanya proses peralihan hak cipta melaui pewarisan, maka kedudukan hak cipta baik yang menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat tidak dapat disita, kecuali jika hak itu diperoleh secara melawan hukum. Jelaslah bahwa sesungguhnya hak cipta diakui dan mendapat perlindungan dari undang- undang secara tepat dan sempurna, walaupun si pencipta yang telah meninggal dunia namun kedudukan hak cipta tersebut masih tetap diakui dan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.Berdasarkan Pasal 58, maka hak Cipta berlaku selama hidup Pencipta yang meninggal dunia dan berlangsung hingga 70 (lima puluh) tahun sesudahnya.
3. Negara sebagai pemegang hak cipta atas ekspresi budaya tradisional yang mencakup salah satu atau kombinasi bentuk ekspresi (a. Verbal tekstual, baik lisan maupun tulisan, yang berbentuk prosa maupun puisi, dalam berbagai tema dan kandungan isi pesan, yang dapat berupa karya sastra ataupun narasi informatif; b. Musik, mencakup antara lain: vokal, instrumental atau kombinasinya; c. Gerak, mencakup antara lain: tarian; d. Teater, mencakup antara lain: pertunjukan wayang dan sandiwara rakyat; e. Seni rupa, baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi yang terbuat dari berbagai macam bahan seperti kulit, kayu, bambu, logam, batu, keramik, kertas, tekstil, dan lain-lain atau kombinasinya; dan f. Upacara adat), hak atas ciptaannya ditetapkan dalam Pasal 60 ayat (1) UU Nomor 28 Tahun 2014 berlaku tanpa batas waktu, artinya berlaku sepanjang zaman.Tujuan perlindungan ekspresi budaya tradisional di Indonesia menurut UU Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 adalah untuk mencegah terjadinya praktik monopoli atau komersialisasi serta tindakan untuk merusak tanpa seizin negara Republik Indonesia sebagai pemegang hak cipta. Hal ini untuk mencegah tindakan pihak asing yang dapat merusak nilai kebudayaan tradisional Indonesia.Serta untuk melindungi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional yang bersifat komunal, kepemilikan bersama, dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Sedangkan negara sebagai pemegang hak atas ciptaan yang penciptanya tidak diketahui baik ciptaan yang belum dilakukan pengumuman, maupun ciptaan yang telah dilakukan pengumuman, serta ciptaan yang telah diterbitkan, berlaku selama 50 tahun sejak ciptaan tersebut pertama kali dilakukan pengumuman baik ciptaan tersebut yang dipegang oleh negara ataupun yang dilaksanakan oleh pihak yang melakukan pengumuman.
B. Saran
1. Dalam pengalihan atau pemindahan harta kekayaan seseorang atau pewaris tertama dalam hal hak cipta perlu ada pengaturan yang lebih jelas di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 khususnya dalam hal pengalihan hak cipta melalui cara pewarisan yaitu mengenai kedudukan hak cipta seseorang setelah meninggal dunia dan cara-cara pembagian pewarisan hak cipta tersebut.
2. Baik ciptaan yang diketahui penciptanya namun penciptanya telah meninggal dunia lalu hak cipta tersebut dimiliki oleh ahli warisnya maupun ciptaan yang tidak diketahui penciptanya, maka perlu ada peran aktif dari masyarakat umum dan negara dalam rangka menjaga dan melestarikan ciptaan tersebut.
3. Apabila perlindungan terhadap ekspresi budaya tradsional ini sementara waktu masih ingin diatur dengan menggunakan Pasal 38 Undang-Undang Nomor28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, maka sudah seharusnyalah Pemerintah lebih memberikan perhatian perihal pelaksanaannya yang tidak akan memberikan kesimpangsiuran dalam praktek. Dalam hal ini pemerintah dapat segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah perihal pelaksanaan Pasal 38 tersebut.Hal ini diharapkan dapat memberikan kepastian dalam hal pelaksanaan perlindungan terhadap ekspresi budaya tradisionalterutama mengenaipenyelesaian sengketa bila terjadi penyalahgunaan ekspresi budaya tradisionalIndonesia oleh pihak asing tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Buku
Abdulkadir Muhammad. Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2004.
Abdulkadir Muhammad. Hukum Perdata Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2011.
Abdulkadir Muhammad. Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001.
Arif Lutviansory, Hak Cipta dan Perlindungan Folklor di Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.