Alhamdulillahirobbil alamin. Ashadualla ilahailallah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Robbisrohli sodri wayassirli amri wahlul ‘uqdatanmillisani yafqohu qouli. Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, Para Pemohon, Perwakilan Pemerintah, dan Para Pihak Terkait yang kami hormati. Terlebih dahulu perkenankan kami untuk memperkenalkan organisasi kami, Persatuan Islam Istri (Persistri) adalah bagian otonom dari ormas yang bernama Persatuan Islam disingkat Persis. Yang didirikan di Bandung pada tanggal 12 September 1923.
Persis merupakan badan hukum Indonesia yang telah memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, serta telah memiliki keputusan Menteri Hukum dan HAM. Salah satu pimpinan kami adalah Bapak Muhammad Nasir, Almarhum., yang telah mendapat gelar pahlawan nasional. Organisasi kami bergerak di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan lainnya.
Persis telah memiliki anggota serta kepengurusan di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Jenjang kepengurusan kami mulai dari tingkat nasional disebut pimpinan pusat, tingkat provinsi disebut pimpinan wilayah, tingkat kabupaten/kota disebut pimpinan daerah, tingkat kecamatan disebut pimpinan cabang, tingkat desa/kelurahan
disebut pimpinan ranting, dan tingkat lingkungan pemukiman disebut pimpinan jamaah.
Persistri sebagai bagian otonom dari Persis didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1936, berkedudukan di Jalan Kalipah Apo Nomor 145/22C, Bandung. Kami berusaha membantu pemerintah antara lain dengan menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia dini dan perempuan dewasa di atas 30 tahun atau sudah menikah. Karena bagi yang belum menikah dan belum usia 30 tahun itu diserahkan kepada bagian otonom lainnya, yaitu Pemudi Persis. Kami telah memiliki 410 PAUD yang tersebar di berbagai provinsi. Dalam bidang pembinaan bagi perempuan dewasa kami menyelenggarakan dakwah dan kajian di berbagai majelis taklim, serta menyelenggarakan pendidikan nonformal dan telah tersebar lebih dari 1300 tempat. Tujuan kami adalah agar masyarakat muslimah Indonesia menjadi perempuan sholihah, sehingga terbentuk keluarga sakinah yang pada gilirannya mewujudkan ketahanan keluarga yang berkualitas sebagai pondasi negara yang kuat.
Majelis Hakim Konstitusi Yang Mulia, kami mengajukan permohonan sebagai Pihak Terkait tidak langsung, selanjutnya disebut sebagai Pihak Terkait dalam Perkara Nomor 46/PUU-XIV/2016. Permohonan pengujian Pasal 284 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), Pasal 285, dan Pasal 292 KUH Pidana terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Bahwa Pihak Terkait sangat berkepentingan dengan pokok perkara yang sedang diuji. Permohonan yang diajukan Pemohon dalam perkara di atas sangat terkait dengan kegiatan yang kami laksanakan, baik pembinaan terhadap anak usia dini, maupun pembinaan terhadap perempuan dewasa.
Perzinaan yang dilakukan oleh orang yang tidak menikah, hubungan sesama jenis baik sesama orang dewasa maupun sesama anak-anak, sudah menjadi teror kejahatan seksual yang sangat meresahkan bagi ketahanan keluarga yang berkualitas. Demikian pula pemerkosaan yang dilakukan baik terhadap perempuan maupun fakta bahwa laki-laki pun bisa mengalami pemaksaan untuk berhubungan seksual dengan perempuan yang tidak diinginkannya.
Bunyi pasal-pasal tersebut di atas jelas bertentangan dengan dasar Negara Republik Indonesia yang Berketuhanan Yang Maha Esa dan tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Terutama Pasal 28B, Pasal 28G, dan Pasal 28J. Bahwa kami dalam hal pengajuan judicial review ini memfokuskan pada fakta bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan pedoman utama bagi semua undang-undang lainnya. Dan dalam hal undang-undang lain tersebut bertentangan dengan ketentuan pasal-pasal yang ada dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, maka yang harus diubah sesuaikan dan ditafsirkan ulang adalah undang-undang yang tidak sejalan dengan ketentuan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut. Dan kami sependapat dengan Para Pemohon bahwa sudah selayaknya dan sepantasnya Pasal-Pasal 284, 285, dan 292 KUHP diubah sesuai dengan napas pasal-pasal yang ada di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Juga dengan memasukkan pertimbangan keyakinan agama-agama yang ada di Indonesia dan nilai-nilai moral yang dianut oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Kami tetap meyakini bahwa ketika terjadi pertentangan antara pasal-pasal yang ada di dalam beberapa undang-undang, maka batu uji bagi semua pasal tersebut tetaplah harus Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sehingga kami berpendapat adalah tidak pantas dibiarkan bebas terjadinya perzinaan antara mereka yang tidak terikat dalam perkawinan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 284 KUHP. Yang pada akhirnya, kami menemukan teramat banyak kejadian hamil di luar nikah, pembunuhan dan pembuangan bayi yang tidak diinginkan, bahkan sampai pembunuhan pihak perempuan yang sedang hamil tersebut. Dan kami sudah sampai pada keyakinan yang didukung oleh fakta bahwa Indonesia sudah darurat kekerasan seksual dan mengalami degradasi moral kesusilaan yang luar biasa. Dengan demikian, permohonan Pemohon dalam perkara di atas menurut pandangan kami sudah tepat.
Salah satu program kami di PERSISTRI adalah melakukan sosialisasi perundang-undangan negara Indonesia agar anggota kami khususnya dan masyarakat pada umumnya taat hukum yang berlaku di Indonesia. Dari berbagai pengalaman sosialisasi dan kajian hukum tentang kejahatan terhadap kesusilaan yang diatur oleh KUHP, khususnya Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292, kami menyimpulkan bahwa pasal-pasal tersebut merupakan pasal yang tidak layak disosialisasikan. Masyarakat yang semula tidak mengira ada pasal-pasal yang sungguh bertentangan dengan persepsi dan nilai-nilai yang mereka anut sejak lama secara turun-temurun, semuanya memberikan reaksi yang negatif. Mulai dari terbengong-bengong keheranan, mencibir, memaki, bahkan geram dan marah. Bagi Pemohon Pihak Terkait tidak langsung adalah suatu kesalahan besar ketika kita terus mempertahankan pemberlakuan KUHP Belanda tanpa mereduksi hal-hal yang bertentangan dengan pasal-pasal yang ada di Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menjadi aturan dasar bernegara kita. Dan kita sudah melihat penerimaan tanpa syarat kita yang akhirnya menimbulkan berbagai masalah sosial dan kesehatan di masyarakat.
Kami, perempuan Indonesia tidak mengharapkan pasal-pasal yang diajukan dalam judicial review ini terus dipertahankan hanya karena dalil-dalil ketentuan internasional tentang hak asasi manusia yang bertentangan dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Padahal kita
bahwa beban negara tidaklah ringan dengan terus diberlakukannya Pasal 284 KUHP tersebut. Akan terjadi kerusakan moral yang luar biasa dan itu sudah kita alami saat ini. sebagai contoh, data anak sekolah yang sudah tidak perawan lagi sudah menakutkan kami, diikuti dengan tingkat aborsi yang tinggi karena kebebasan berzina tidak diikuti dengan tanggung jawab atas akibat perzinaan. Dan ini menjadi salah satu penyebab putusnya proses pendidikan formal yang sedang diikuti anak-anak tersebut. Akan sangat banyak sisa perempuan yang hancur masa depannya akibat telah melakukan perzinaan yang berdampak pada kehamilan di luar pernikahan. Perempuan menanggung risiko yang lebih besar dari kejahatan perzinaan. Belum lagi upaya pembunuhan terhadap perempuan hamil yang juga semakin marak terjadi. Sehingga rasanya cukup kuat alasan bagi Mahkamah untuk mengabulkan permohonan Para Pemohon.
Majelis Hakim Konstitusi Yang Mulia, sudah tercatat dalam sejarah hukum bahwa sebelum Christiaan Snouck Hurgronje mengemukakan pendapatnya pada 1893 di kalangan ahli hukum dan ahli kebudayaan Hindia Belanda dianut suatu pendapat yang mengatakan bahwa di Indonesia berlaku hukum Islam. Pendapat ini dikemukakan antara lain oleh Solomon Keizer, seorang ahli bahasa dan ahli kebudayaan Hindia Belanda. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Lodewijk Willem Christiaan van den Berg, seorang ahli hukum Belanda. Ia mengatakan bahwa hukum mengikuti agama yang dianut seseorang. Jika orang itu memeluk agama Islam, hukum Islamlah yang berlaku baginya. Van den Berg mengatakan bahwa orang Islam di Indonesia telah melakukan resepsi hukum dalam keseluruhannya dan sebagai satu kesatuan tidak hanya bagian-bagian hukum Islam. Pendapat van den Berg ini disebut dengan teori receptio in complexu. Pendirian peradilan agama pada tahun 1882 besar kemungkinan dipengaruhi oleh pemikiran Scholten van Oud Haarlem.
Berdasarkan para pemikiran tersebut, pemerintah VOC meminta kepada freijer untuk menyusun suatu compendium yang memuat hukum perkawinan dan kewarisan Islam. Setelah disempurnakan oleh para penghulu dan ulama Islam, kitab hukum tersebut diterima oleh VOC yang dipergunakan oleh pengadilan untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di kalangan umat Islam di daerah-daerah yang dikuasai VOC. Kitab hukum ini dalam kepustakaan terkenal dengan nama Compendium Freijer. Selain kitab tersebut, terdapat pula kitab hukum Muharrar karangan A. Rafiq yang memuat sebagian besar hukum pidana Islam. Christiaan Snouck Hurgronje sebagai penasihat Hindia Belanda urusan Islam dan bumiputera sangat menentang teori receptio in complexu ini yang dikemukakan oleh Van den Berg. Kemudian mengemukakan suatu teori yang dikenal dengan teori resepsi, teori ini dikembangkan secara sistematis dan ilmiah oleh Cornelis van Vollenhoven dan Bertrand Verhaar [Sic!].
Selanjutnya pada masa kemerdekaan, Abdul Gani Abdullah mengemukakan bahwa keberlakuan hukum Islam di Indonesia secara konstitusional memiliki tiga dasar. Pertama, dasar filosofis. Ajaran Islam merupakan pandangan hidup, cita-cita, dan landasan moral umat Islam di Indonesia sehingga memiliki peran penting bagi terciptanya norma fundamental kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kedua, dasar sosio historis. Perjalanan sejarah umat Islam di Indonesia membuktikan bahwa cita-cita hukum dan kesadaran hukum yang berdasarkan ajaran Islam memiliki tingkat aktualitas yang berkesinambungan.
Ketiga, dasar yuridis. Pasal 24, Pasal 25, dan Pasal 29 UUD Tahun 1945 memberi ruang terbuka bagi keberlakuan hukum Islam secara legal formal.
Berdasarkan pendapat Hazairin menurut Ichtianto, teori resepsi telah atau harus dinyatakan hapus dengan berlakunya UUD 1945, ini disebut teori resepsi exit yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia dan setelah diundangkan UUD 1945. Intinya bahwa teori resepsi yang terdapat di dalam Pasal 134 ayat (2) inde staatsregeling secara otomatis sudah tidak berlaku setelah diberlakukannya UUD 1945.
Manusia berasal dari Tuhan, diciptakan oleh Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan. Kenapa harus membenci hukum Tuhan? Dan lebih percaya kepada teori hasil pemikiran manusia daripada aturan ciptaan Tuhan. Kita sudah saksikan bersama betapa semakin hari semakin terbukti kekuasaan Tuhan, tidak ada yang dapat menandingi apalagi mencegah. Ajaran atau paham yang selalu menyepelekan aturan Tuhan telah merugikan hak konstitusional umat Islam karena tidak dapat meyakini ajaran agamnya secara utuh.
Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, jangan dibayangkan bahwa apabila Pasal 284 diubah, maka orang-orang yang sudah melakukan perbuatan tersebut sebelum Mahkamah Konstitusi ini mengabulkan permohonan Pemohon dapat dipidana. Hukum pidana tidak berlaku surut (nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali) sebagaimana diatur dalam Pasal 281 ayat (1) UUD 1945 ... Pasal 28I ayat (1) UUD 1945.
Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang disebut (suara tidak terdengar jelas) syar’i atau asas legalitas, yaitu bahwa seseorang tidak dapat dipidana sebelum ada aturan yang disertai ancaman terhadap perbuatan yang dilakukannya.
Selain itu, hukum acara pidana dalam Islam terutama pembuktian perzinaan sangat ketat, orang yang dapat dipidana terkait dengan perzinaan dalam Islam hanyalah orang yang berani melakukan zina di hadapan 4 orang saksi, bukan yang berzina sembunyi-sembunyi. Pengakuan dari pelaku masih harus diklarifikasi kebenarannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Rasullullah Saw ketika ada orang yang
Rasullullah Saw selain beberapa kali memalingkan muka, beliau bertanya kepada orang tersebut, “Barangkali kamu cuma meraba? barangkali pikiranmu sedang tidak sehat?”
Hasil FGD antara PP Persisi dengan Dosen Fakultas Syariah Unisba ditemukan bahwa ketika menjelaskan pasal-pasal tersebut kepada para mahasiswa, terjadi pertentangan dengan hati nurani dan menjadi bahan tertawaan mahasiswa. Ketika mereka bertanya dengan menggunakan penafsiran argumentum a contrario yang hasilnya bahwa hubungan kelamin antara yang belum menikah itu tidak melanggar undang-undang asalkan suka sama suka. Perempuan memerkosa laki-laki tidak melanggar undang-undang, perbuatan cabul sesama jenis kelamin asal sama-sama dewasa atau sama-sama anak-anak tidak melanggar undang-undang.
Bagi seorang pendidik tentu saja masalah ini menjadi beban moral yang sangat berat dan harus menjelaskannya dengan panjang lebar. Jika tidak demikian, maka dikhawatirkan para mahasiswa kita yang notabene merupakan generasi harapan bangsa akan hancur dan dimurkai Allah SWT.
Indonesia saat ini sudah darurat LGBT ... saya lewat saja. Sudah menjadi tren menakut-nakuti masyarakat dengan sanksi yang ada di dalam hukum pidana Islam. Sadar atau tidak sadar bahwa cara berpikir seperti itu sudah memposisikan masyarakat sebagai calon penjahat, bukan sebagai masyarakat yang akan terlindungai dengan hukum tersebut. Alangkah teganya orang tua yang memposisikan anaknya sebagai calon pendosa, sebagai calon pelaku kejahatan. Bukankah seharusnya orang tua memiliki tekad yang kuat agar anaknya memiliki pandangan yang sama terhadap suatu kejahatan? Bahwa kejahatan tetaplah kejahatan.
Mari kita hentikan memposisikan anak kita, keluarga kita sebagai calon pelaku kejahatan. Mari kita ganti atau kita ubah dengan doa agar anak dan keluarga kita menjadi orang saleh-salehah. Keluarga yang baik akan berusaha sekuat kemampuan untuk menjaga anaknya agar hidup secara benar dan wajar.
Kesalehan anak harus dimulai dari kesalehan orang tuanya, perilaku dipengaruhi oleh pandangan hidup. Pandangan hidup berketuhanan akan meluluhkan hati dan pikiran sehingga tunduk pada hukum Tuhan. Telah banyak penelitian bahwa perilaku seks yang tidak benar dapat menyebabkan pelakunya terjangkit penyakit berbahaya.
Pengakuan tentang adanya hasil penelitian bahwa tingginya penularan HIV AIDS di Indonesia disebabkan tabunya membicarakan penggunaan kondom. Patut diduga bahwa ini merupakan penelitian yang dilatarbelakangi dengan pemahaman bahwa zina tidak dilarang, bukan mencari penyebab aslinya. Mari kita syukuri nikmat kemerdekaan dengan mencintai karya bangsa sendiri termasuk dalam masalah hukum, bukan
mempertahankan produk kolonial yang nyata-nyata bertentangan dengan nilai-nilai bangsa sendiri.
Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi. Idealnya suatu undang-undang itu disosialisasikan agar masyarakat tahu hukum, walaupun berlaku teori fiksi hukum. Pasal 284 KUHP tidak layak disosialisasikan dan sampai saat ini tidak secara sengaja disosialisasikan karena memang tidak pantas dan tidak layak disosialisasikan. Bayangkan saja kalau ada orang tua yang menasihati anaknya agar tidak melakukan hubungan kelamin yang tidak benar. Kemudian anaknya mengakatan, “Pak, Bu, yang dilarang berzina oleh undang-undang itu bapak dan ibu yang sudah menikah. Saya yang belum menikah tidak dilarang. Jadi biarkanlah mumpung belum menikah yang penting suka sama suka.” “Pak, Bu, hubungan sesama jenis yang dilarang itu kalau orang dewasa terhadap anak-anak, sesama dewasa. Sementara sesama anak-anak tidak dilarang oleh undang-undang.” Mungkin kelompok yang tidak sependapat dengan Pemohon mengatakan bahwa di samping ada norma hukum, kan ada norma lain. Tidak semua aturan hidup harus diangkat ke undang-undang. Di sini mereka memakai standar ganda. Suatu saat kalau ada pelaku kejahatan kesusilaan yang mendapat hukuman sosial, mereka akan mengatakan, “Kan tidak melanggar undang-undang.” Bahkan tidak mustahil ke depan mereka akan menjadi pembela muda-mudi yang mendapat sanksi sosial akibat melakukan perzinaan. Pembelaan kemungkinan dilakukan di depan sidang pengadilan dengan tuntutan mempidanakan masyarakat yang memberi sanksi sosial.
Mengenai alasan bahwa saat ini Rancangan KUHP sedang dibahas. Kami memiliki pengalaman belasan tahun, beberapa ormas Islam antara lain Persatuan Islam, dan beberapa perguruan tinggi antara lain Pasca Sarjana Unisba, dan beberapa partai Islam, dan yang berbasis Islam telah menyelenggarakan semiloka nasional yang menghasilkan draft KUHP yang disebut … yang diberi nama KUHP Harapan Umat, pada awal masa multipartai tahun 2001, kami terlibat di dalamnya. Di antara pasal yang paling banyak mendapat perhatian adalah pasal mengenai perzinaan.
Draft KUHP Harapan Umat tersebut telah diserahkan kepada fraksi di DPR saat itu. Setelah 15 tahun lamanya, sampai saat ini DPR masih belum selesai merumuskan KUHP nasional. Entah berapa lama lagi kami harus menunggu. Sementara menunggu, entah berapa banyak lagi tragedi yang akan terjadi, berapa banyak lagi korban yang akan berjatuhan.
Mahmud Saltut mengemukakan ada 5 berkaitan dengan kebutuhan primer manusia yang dilindungi hukum, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Perilaku seks menyimpang telah menghancurkan tatanan agama, bukan saja agama islam. Tidak ada agama yang membolehkan perilaku seks menyimpang tersebut.
Mengenai perlindungan terhadap jiwa, banyak pembunuhan terjadi diawali dengan perzinaan, baik itu dilakukan oleh yang sudah menikah maupun yang belum menikah. Mengenai perlindungan akal, perilaku seks tidak benar menimbulkan ketagihan yang berarti dapat mengganggu fungsi otak. Berkaitan dengan perlindungan terhadap keturunan, perzinaan dapat melahirkan anak yang rentan dengan kekerasan dan penelantaran, bahkan pembunuhan bayi-bayi hasil perzinaan sangat banyak terjadi di masyarakat kita. Perilaku seks tidak benar merusak moral bangsa dan generasi muda. Mengenai perlindungan harta, berapa banyak pemerintah harus mengeluarkan biaya demi mengobati penyakit menular dan membahayakan akibat dari persetubuhan yang tidak sehat, baik itu berganti pasangan maupun sesama jenis? Penyakit ini menyerang tidak pilih bulu hanya yang kepada sudah menikah saja. Beban biaya negara bertambah dengan harus menyediakan dana untuk memelihara kesehatan para pengidap penyakit akibat perzinaan. Padahal, apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang menurut norma agama, adat, dan moralitas adalah perbuatan dosa dan terlarang.
Larangan melakukan hubungan kelamin yang tidak benar adalah karunia dari Allah SWT bagi manusia sebagai makhluknya yang paling mulia. Firman Allah SWT di dalam Surat An Nur ayat (10) mengakhiri firmanya tentang aturan perzinaan. Allah SWT menyatakan yang terjemahnya, “Sekiranya bukan karena karunia dan kasih sayang Allah kepadamu, bla, bla, bla.” Ini maksudnya adalah manusia dilarang melakukan hubungan seksual yang tidak benar adalah semata-mata merupakan karunia dan kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Tinggal terserah kepada manusia itu sendiri, apakah mau diberi karunia dan mau disayangi atau tidak?
Majelis Hakim Konstitusi Yang Mulia, masyarakat banyak yang mempertanyakan, “Kenapa undang-undang yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia itu tidak diubah? Memangnya tidak bisa diubah?” Kini saatnya bagi Mahkamah Konstitusi untuk dapat merealisasikan harapan jutaan umat yang ingin hidup normal dan sesuai dengan tuntunan syariah semua agama yang diakui di Indonesia ini sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jika setelah uji materi ini … materiil ini Mahkamah Konstitusi menolak permohonan Pemohon, maka akan semakin menjadi kekuatan dan alat pembenar bahwa perzinaan bagi yang belum menikah, hubungan sesama jenis kelamin selama tidak dilakukan terhadap anak, dan perempuan memerkosa laki-laki itu diakui sebagai perilaku normal.
Hukum itu selain bisa menjadi alat kontrol sosial (social control), juga bisa menjadi alat rekayasa sosial (social engineering) menuju suatu masyarakat yang dicita-citakan. Kita diberi pilihan, apakah mau merekayasa masyarakat agar menjadi pezina, homo, lesbi, dan
membiarkan perkosaan terhadap laki-laki? Atau akan mengembalikan manusia kepada fitrah dan martabatnya? Pemohon berkeyakinan bahwa Pasal-Pasal 284 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), Pasal 285, dan Pasal 292 KUH Pidana bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan dimana Allah SWT melarang dengan tegas perbuatan zina, homoseksual, dan segala bentuk kejahatan, dan penyimpangan seksual demi menjaga kehormatan, dan harkat martabat manusia, serta menjaga kejelasan keturunan. Jika selama ini dikatakan negara ini bukan negara Islam, memang betul adanya. Namun dengan nafas, darah, perjuangan, serta doa para ulama, dan pejuang terdahulu, negara Indonesia ini dapat merdeka. Jangan sampai hal ini menjadikan Indonesia selalu dijajah dengan invasi pemikiran impor barat tentang kebebasan yang tanpa batas.
Kembali hasil (suara tidak terdengar jelas) antara PERSISTRI dengan Dosen Fakultas (suara tidak terdengar jelas) Unisba didapat kesimpulan bahwa perkosaan tidak lagi dilihat sebagai persoalan moral semata, di dalamnya juga mencakup masalah (suara tidak terdengar jelas) yang dianggap merupakan pelanggaran dan pengingkaran terhadap hak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak wanita, namun tidak terkecuali laki-laki. Dalam Al quran, Allah SWT menceritakan dimana Nabi Yusuf as pun pernah dijebak oleh godaan perempuan. Hal tersebut menjadi salah satu contoh bahwa tidak hanya perempuan saja yang menjadi korban perkosaan, namun bisa pula menimpa pada laki. Sehingga selayaknya hukum dapat melindungi keduanya, baik laki-laki maupun perempuan dalam masalah kesusilaan.
Darurat kejahatan seksual Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, sehingga perlunya kembali membangun nilai moral dan kesadaran masyarakat sesuai dengan isi pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, bahkan negara kita berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, serta menjadikan segenap rakyat Indonesia sebagai manusia yang adil serta beradab. Jika perzinaan, homoseksual yang juga