penduduk masa sekarang menilai cara berpikir Generasi di kesilaman zaman.
Intinya Bagaimana Agama dan Dunya bisa maju di Desa Dharma, jika yang jadi tolak Ukur adalah orang yang tidak membuka jalan lebar penuh solusi, juga kurang beramanah dan tidak bertugas untuk di tempat itu, maka yang jelas dan lebih penting untuk di jadikan Tolak Ukur adalah Sunan Gunung Djati dan Raden Surangga Jaya itu sendiri yang welas Asih pada Umat saat itu.
Seorang Sunan Gunung Djati beliau berpesan di masa yang telah Silam bahwa “ Aku Titipkan Masjid dan Faqir Miskin” tentu kalimat ini adalahkalimat yang paling utama diterima oleh seorang Raden Surangga Jaya atau Arya Kamuning, atau pula Adipati Kuningan pengganti tahta
kerajaan Cirebon.
Jika mengacu pada Amanah dari Leluhur Cirebon, maka Desa Dharma adalah untuk kepentingan Rohmat Dunya kepada Agama dan Agama kepada Mashlahatnya Dunya. Dan pembentukan Kuwu pertama
sudah barang tentu di ketahui oleh Raden Surangga Jaya, sebab Utusan beliau bernama Rhama Haji Irengan ada di Dharma saat itu.
Maka Rhama Haji Irengan sajalah bagi kita adalah tokoh yang jelas membawa sebuah Amanah dari Surangga Jaya Cirebon untuk Desa Dharma ini, dan beliau lah yang di Tunggu-tunggu dan di Undang oleh Para leluhur Desa Dharma seperti Mbh Damar Wulan atau Mbh Datuk Kali Putih beserta satuan dari 14 para perwira yang lain pada saat melawan arus serangan dari kerajaan Galuh di desa tersebut yang akan menyerang Cirebon. Wallahu A’lam.
Dharma dan Lengkong
Perihal Talaa’uniah atau acara Saling laknat antara Pihak Syeikh Qoribullah dengan Pihak Eyg Maulani yang jadi sejarah pertama dikutuknya kemajuan Dharma bagi 7 Turunan, di duga itu adalah Missi
dan gossip belaka yang di Orbitkan VOC, sebab pada sejarahnya Belanda ingin merebut kekuasaan secara Luas di Nusantara ini, dan Gosip itu terjadi setelah masa VOC ke Desa Dharma.
Ey Maulani memang Ulama dari Kuningan Timur, dan kelahiran beliau jauh sesudah masa Rhama Haji Irengan menetap di Dharma, yaitu setelah masa Kuwu kedua Raden Yusuf Syafe’I di Dharma akan Di Angkat oleh Raden Datuk kaliputih.
Adapun kalimat Kutukan yang tersebar di Desa tersebut adalah berbunyi : Tujuh turunan Di Dharma Moal Menyat . Ini artinya bahwa 7 Turunan di Dharma di Laknat. Kalimat ini terexpresikan secara sangat Emosionatif. Penuh Durja keDendaman yang mustahil terjadi bagi tarap kewaliyan setingkat yang tertuduh yaitu Ey Maulani putra kesayangan Mbh Daqqo dari Lengkong, sebagai sosok yang akan di adu domba dalam Ring tinju kuasa VOC.
Di Ceritakan dari jurnalis yang tidak jelas dasar beritanya, bahwa Ey Maulani Lengkong Kuningan merasa Sakit dan Durja penuh Dendam pada Ey Qoribullah di Dharma Kuningan, Konon Gosipnya mengabarkan asal usul kedendaman itu akibat kapal-nya Ey Maulani dapat di sergap oleh satuan Compeni VOC di abad 17 kemari, dan alasan yang di berikan VOC kepada Ey Maulani adalah bentuk Pengadu Domba’an di tubuh Pemuka Islam tanah Kuningan,
Logislah kenapa Ey Maulani Marah pada sodaranya yaitu Ey Qoribullah yang tertuduh sebagai sumber sebab kenapa Maulani bisa tertangkap, VOC lah Opertaornya yang memberitakan Qoribullah penyebab kenapa Maulani bisa di tangkap.
Itu Artinya Desa ini masih dalam Izin Besar dari Allah yang jauh lebih teawal mengenali tempat tersebut, sebelum adanya 15 Para Perwira Cirebon di tempat tersebut di siagakan, dan itu Artinya Allah lebih Awal untuk Bijak dan Adil atas perkembangan dan Kemajuan Lanjutan di Desa ini. Wallahu A’lam.
Mengurai Kasus Laknatan di Dharma
“La Yukallipullahu Napsan Illa Wus’aha” Maju atau Mundur suatu kebudayaan di suatu tempat tinggal manusia, maka kebijakan Umum dari Tuhan adalah sebagimana, Daya Ihktiyar dan kasabnya, Maka bergitu pula tuhan terhadap tingkat ke Wargaaan di Dharma.
Bunyi kalimat : “Tujuh turunan Di Dharma Moal aya nu jadi Ulama” Ini artinya bahwa 7 Turunan di Dharma di Laknat. Kalimat ini terexpresikan secara sangat Emosionatif dan A-Moralitatif tidak bersipat mendidik atau tidak Educatif.
Siapa yang dituduh melaknati Dharma?
Ia adalah Ey Maulani bin Mbh daqqo Lengkong pada Masa VOC abad awal para Compeni datang ketanah Jawa.
Apakah ada akibat Negatip yang dapat di rasakan dari Kutukan Ulama Lengkong untuk Warga Dharma?
Tidak ada. Justru Dharma mencitra baik di kecamatan di Kabuptaen hingga saat ini buku di Tulis.
Apa arti penting Laknatan jika itu di lakukan oleh Maulani untuk Dharma?
Jelas tidak baik bagi ke Akhiratan seorang Maulani itu sendiri atau pelaknat yang lain, dan itu tentu bukan yang terpenting bagi Ey Maulani Ra, dalam statusnya, begitu pula dengan Ey Qoribullah ra.
Tujuh yang di Rugikan bernilai Turunan Bani adam yang akan terjual ke neraka berbanding Satu yang merugi. Jelas tidak lah merupakan bandingan yang Adil dan Bijaksana, karna “Kulukum Rain Masulun An Royatihi ” akan masih di jalankan Allahnya., jika itu memang terjadi tanpa ada Mushapahat saling memaafkan.Wallahu A’lam.
Di zaman Kuwu Pertama yaitu pada masa Ey Datuk kali Putih, ini terjadi pada masa sebelum VOC datang di akhir sejarah perang Galuh dengan Cirebon.
Kemajuan di massa itu adalah perubahan Warga ke arah pembentukan Kuwu yang Pertama kalinya, tersusunlah pola kepengurusan merujuk kepada bagaimana seorang Mbah kuwu sangkan Cirebon Girang menjadi Kuwu Pertama di sana, dan
sebelumnya yang belum ada ke Kuwu an saat itu di Nusantara.
Dari Kuwu untuk Masyarakat, dari Masyarakat untuk Kuwu, bukan hanya Filosof saja saat itu, demikian keberkahan pertama di kemajuan perdana buat Desa Dharma.
Pertanian dan Peternakan adalah Komoditi utama saat itu bagi urusan Dunya sementara Masyarakat pada saat Datuk kali putih memimpinya, sementara Perdagangan saat itu belum terorientasikan di zaman itu. Tapi Alhamdulillah kecukupan itu memadai di alam kesederhana’an saat itu. Wallahu A’lam.
Kemajuan Dharma di masa Muhamad Yusuf Syafe’i
Di Zaman Kuwu Ey Buyut Syafi’I , yaitu pada zaman penjajahan VOC setelah ada berita dan gossip mengenai perseteruan antara Ey Maulani dari Lengkong dengan Syekh Qoribullah dari Pasir Djati Dharma.
Perseteruan itu adalah Ilusif tidak terjadi, kecuali hanya pola
Adu Domba dan Peresahan Belanda terhadap Masyarakat Desa Dharma dan Sekitarnya, setelah usai Kuwu pertama menjabat di Desa Dharma.
Kejadian tersebut adalah Ulah VOC semata, dimana mereka ingin mengusai Kuningan dan Dharma dengan segaala keserakahanya, maka segala cara di Halalkan dengan Passiesme dan Cavitalisme nya.
Ey Maulani di jadikan Object penyergapan bagi VOC, dan mereka mengatasnamakan Ey Qoribullah penunjuk jalan keberhasilan untuk menangkapnya. VOC lah Sumber gosip nya.
Bagi kita yang jelas bukan saksi sejarah, di harap jangan ada pengotoran Pikiran dan Anggapan baik di zaman kita sendiri, atau pun kepada Generasi berikutnya, di dalam ataupun di Luar Desa Dharma, yaitu terhadap nilai nilai ke Murnian ke Prawaliyan Negri sendiri.
Adapun Kemajuan untuk Dharma Di zaman Kuwu Muhamad Yusuf Syafe’I Bin…Bin Ey Hadirudin, adalah bentuk Kuwu Lanjutan kedua setelah Raden Datuk Kali Putih atau Mbh Damar Wulan menjabatinya.
Pada masa ini telah terbentuk perkumpulan Pengkajian keilmuan Agama secara Manual di Dukuh Kidul dan di Dukuh Kaler. Saat itu pembentukan Kobong dan Pondok Pesantren belum ter-Inisiasikan { terencanakan}. Adapun pengajian itu hanya terbentuk sebagi Himpunan Kumpul Jum’atan dan hari-hari lain yang para beliau tentukan saat itu.
Di Dukuh Kaler di kelola dengan secara sederhana oleh kasepuhan Rhama Haji Irengan dan nama pengajian saat itu belum ada, sedang di Dukuh Kidul di kelola oleh keturunan Ey Hadirudin dan nama pengajian pun belum dapat kabarnya, di mana Ey hadirudin adalah satu Generasi dengan Raden Damar Wulan atau Datuk kali Putih, sementara Muhamad Yusuf Syafe’I saat Damar Wulan menjabat jadi Kuwu ia adalah bagian dari Para Kaula Muda penggalang Agama penerus generasi sebelumnya di Dharma.
Nama Pondok Pesantren Attahiriyah bukan kenama’an pada massa Muhammad Syafe’I dan Damar Wulan. Sebab tahun di dirikanya adalah 1989 M di Dharmaloka. Wallahu A’lam.
Tak Perlu Gelanggang Ulama
Desa Dharma tidak di bangun oleh para leluhurnya untuk Ring Kompetisi Adu Ilmu. Dan itu tertera pada sikap kepemimpinan seorang yang Adil dan Bijak yaitu Raden Datuk kali Putih sebagai pemimpin pertamanya, beliau adalah mantan komandan keperwiraan Cirebon untuk melawan galuh.
Agama tidak di lahirkan oleh Competisi, untuk Competisi, dari Competisi. oleh sebab itu tidaklah harus ada Liga Ulama. Agama bukan hasil Produk Persaingan para Penganutnya dan Pelopornya, dari sebab itulah yang beragama dan masih competitive di tubuh Agamanya belum mencapai kesadaran Mutlaq dalam Hanif-Silminya.
Agama bukan untuk kepentingan satu orang Warga Dharma, tetapi Berkah Agama adalah kepentingan semua Orang di Desa Dharma dan seterusnya.
Tuhan bukanlah si hamba yang pantas mendapati segala Suruhan, demi kepentingan Hawa Nefsu dari para Penganutnya, Oleh sebab itu takan pernah ada Ulama tercerdas yang akan di per-anaktuhan-kan di desa ini sejak di bentuknya Desa Dharma.
Desa Dharma ini, Entah berapa persennya dari kerajaan Tuhan? oleh sebab itu manusia terpandang di dalam Tuhan “Allah” swt adalah mereka yang telah memandangi Tuhan “ Allah” dengan tulus dan penuh segala Hurmatnya.
Ulama Dharma Bukanlah Ulama Besar Dunia di semesta Alam ini, generasi Ulama tidaklah perlu untuk Riya dan ujub di zaman-zaman, di Ruang-ruang. Juga tak perlu risaukan keridoan Allah jika ia sudah belajar menerima dengan Ridho kepada Titah Allah dan Rasulnya.
Mitos “Moal Aya Ulama Gede di Desa Dharma” artinya “Tidak akan Ada Ulama Besar di Desa Dharma” kalimat di atas telah di anggap sebagi Laknatan yang sudah melekat di sebagian Benak Hati masyarakat Desa Dharma terutama pada Awal zaman Yusuf Syafi’i hingga Abad 19 M -20 M.
Sebagai sebuah perubahan di Dharma di Abad 21 M, terutama ini terjadi setelah generasi-generasinya banyak yang mengenali pendidikan Sekolah dan Kuliah juga Pendidikan Pengajian di Madrasah dan Ma’hadiyah, maka Mitos tersebut sedikit demi sedikit berkurang, dimana Masyarakat sudah mulai mengenali mendekati mendalami Arti sebuah cetusan Hukum Alam dan seleksi alam, yang menyatakan dasar-dasar sebab dan Akibat yang di kaitkan lagi dengan paham Diniyah menganai Bunyi hadits yang Sohih yaitu “ Kullukum Ro’in, Mas’ulun An Ro’yatihi .” Artinya “ setiap individu adalah pemimpin, maka setiap indipidulah yang akan di Hisabkan atau di pinta pertanggung jawabannya” hal ini sama dengan pendapat para 15 perwira Dharma angkatan pertahanan Cirebon, seperti Mbh Damar berpendapat bahwa “Hade Gorengna Urang Dharma, eta lain ku la’nat Si Mbah Daqo jeung turunana, tapi ku masing-masing Paripolahna Ewang-ewangan” pendapat ieu di cuplik melalaui Mediasi Ritual tertentu dari seorang Mediator Muda yang siap di jadikan objek ritual tersebut.
Negri Padang Pasir Arab di timur tengah maka di Arab di iran di Iraq di Brunai di Malayasia pun tidaklah di per-Ulama-kan semuanya, seandainya pun pada tingkat pengetahuan sudah semua mencapai tarapan yang sama puncaknya.
[Agama ini ibarat Kerucut terbalik sekaligus terbuka ke atas, di mana Dasarnya adalah Niat Hijrahnya ber Iftitah Taroqi ke Alam Akbar, tetapi Agama ini ibarat Kerucut tertutup ke bawah, di mana Allah ber Iftitah Tanazul kepada urusan Allah merububiyah ke ALam dan Insan]
Salah besar bagi seorang Tolibal Ilmi, ia mengejar ingin jadi Ulama besar, oleh sebab itu bukan orang Dharma Sejati dimana orang itu masih di dalam orbit hati “ingin mencetak diri jadi Ulama Besar ” di mata
manusia. Sebab di pandangan Allah adalah Hamba Para Pengemis Ijabah saja adanya.
Apalah arti pentingnya bagi kedharmaan yang Abadi nanti, di banding jadi ulama Besar di mata Orang di kehidupan yang sementara ini.
Rupanya kita tak harus perlu dengan Filing Accesories yang bernilai Ilusi Optic yang menipu perasaan hati, di mana kita merasai dengan hati bahwa kita telah sampai pada puncak segala ilmu dan keridhoan Allah, tetapi melalaikan arti penting ke-Rama-an di Dalam Adam Shufiyullah tempat bersarangnya Ridhollah yang terdepan
adanya.
Santri Allah bukanlah santri seseorang, tetapi ia harus telah ber-Rekomendasi-kan Santri di pandangan Allah. Santri Allah baginya tiada Ulamanya, tiada kyainya, tiada Alumninya. Dialah Santri Abadi, Santri Langgeung bagi Allah Sumber ke-Maha-Ghuru-an yang ada, ia Seperti hidup adalah belajar terus untuk mengabdi lebih sempurna pada Allahnya.
Pesantren Allah tidaklah berbangunan Beton atau Bangunan ber Cakar-Ayam atau bengunan mencakar Langit. Tetapi Pesantren Allah adalah Masjid itu sendiri, dan perkara ini telah di singgung di dalam keterangan Muhammad saw yang pernah bersabda “ Wakullal Ardhi Masjidun” oleh sebab itulah “Masjid Allah adalah bumi Allah itu sendiri” dan “Bumi Allah adalah bisa jadi Pesantrian bagi santri Allahnya sendiri” Karna “tiada Ruh dari Pesantren melainkan Masjid itu sendiri ,” yaitu sebagai tempat berdirinya Agama di tihangkan dari sejak Isalam di sebar luaskan, demikian keterangan ini akan membuka situs baru di pengalaman hayat hati kita.
Apalah arti kepesantrenan tanpa Masjid, sebab dari Masjidsemua Pesantren lah dan ulama di beri keuntungan secara spiritual. Dan tetapi apalah arti Masjid itu di banding dengan para pesholat yang potensial. Mari kita sama-sama untuk belajar terus mengcompetensikan Sholat
kita masing-masing dan menghindari segala Competisi di dalam ketertiban Sholat.
Dari sejarah-sejarah yang ber-estafetlah bahwa Agama ini bertihang dengan asas-asasnya Sholat, tetapi karna jika Ilmu Sholat sahaja tanpa para Pesholatnya takan memeberi Arti apa-apa, maka Para Pe-sholat pulalah yang akan selalu lebih barharga dari pada Aturan Sholat itu sendiri yang sudah tertulis.
Tidaklah berdiri dengan sah bagi pe-Sholat untuk arti Shalatnya kecuali ia bersama Fatihat melakukanya dalam pandangan Basis Interior Agama, maka Tiang Agama secara Interior adalah tiada lain kecuali Fatihat dalam Shalatnya sendiri dapat ia Idrak dengan Rasa dari nafsiahnya sendiri, dan dengan Aqal dapat me-Nadzrohnya sendiri.
Tak perlu Competisi dalam Agama, sebab Tihang Agama bukanlah Mobil yang Mewah, bukan pula Rumah yang Megah, bukan juga Rupiah yang melimpah, oleh sebab itu tak perlu Kupur dari sebab Faqir, jika kita tahu kenapa harus ada rukun Agama tentang Arti penting Puasa. Dari sebab itulah Tuhan bersabda kepada yang puasa bahwa : katakan apa mahumu!!! Cuma jarang yang tahu bagaimana tuhan kita saat mengkomunikasikan Sabdanya pada kita setelah kita berpuasa, atau Ibadah yang lainya. Di situlah saatnya kita butuh akan Haq ber Interiorisasi di dalam Agama.
Ternyata kita tak perlu Competisi dalam Agama, sebab Tihang Agama adalah Sholat yang menginterialkan nilai Rasa dan Perasaan berFatihat, pada Sang Raja Agamanya. Maka hanya orang yang lalai dalam Shalatnya merekalah yang Bohong dalam berkeAgamaanya, itulah mereka yang tidak jelas “ Jajar-Jujur-Jejer-Jojor-Jeujeur- Jijir” Rasa dan Perasaan dalam fatihat Shalatnya saat kalimat nya mengatakan Tawajuh sedangkan hati drai penghayatanya tidak seperti yang ia ucapkan, maka oleh sebab itu pulalah Agama telah di Serong untuk kepentingan Pamor Individu Impreal dan Cavital nya. Naudzubullah mindzalik…Amin
Sifat Competitif di dalam Agama tidak hanya dapat di Nadzrroh oleh Aqal-aqal Tobaiahnya, tetapi ia pun dapat di kenali dengan system Dirakat Rasa Rumasa penghayatan Naluri ke Fitrahan. Demikian di kabarkan agar kita selalu saling menjaga hingga akhirat itu menjelangi
kita semua. Wallahu A’lam.
2013 M DESA DHARMA DAN AGAMA
Alhamdulillah Desa Dharma sejak berdirinya hingga saat buku ini di tulis di 213 M telah di lebihkan dari keadaan sebelumnya, ia di berkahi dengan banyak Masjid, jumlah Kobong dan Pondok pesantren walaupun sederhana, juga Pengajian Harian dari para Ibu-ibu Rumah Tangga, dan Majlis –majlis Dzikir yang berdiri di tiap Kaliwonan atau Hari-hari yang di tentukan para Anggotanya, yang bersipat Positif. Wallahu A’lam.
PESAN PENULIS
Bagi Para Wisata Ziyarah Dharmaloka yang semoga di Ridhoi Allah, dan selamat di jalan Tawasulnya terjauh dari Syirik Khofy maupun Jalli, di harap Maklum apa adanya mengenai Ziyarah akan lebih mengena pada arti yang tersusun rapih, jika ber Ziyarah itu dari Ci Rebon ke Dharma-Loka di lanjut ke Pamijahan Ci Amis.
Jadi jika Anda Ziyarah ke Ci Amis ke Syekh Abdul Muhyi tetapi anda tidak ke Rhama Haji Irengan, maka sebetulnya tidak ada yang perlu di persalahkan, akan tetapi mumkin bisa lebih baik lagi jika anda berziyarah kepada seorang Murid lalu andapun berziyarah kepada Gurunya, sebab di Dharmaloka lah, Syekh Abdul Muhyi mengejar Berkah dan Ilmu kepada Haji Irengan selama 7 th di Abad 16-17 M sebelum VOC
tepatnya. Ini bukan Promo tetapi Info Murni saja, untuk mengajak bersama memahami sejarah secara sederhana di Dharma ini.
Untuk Para Pe-Ziyarah ke Dharmaloka ini, maka kami sekalian memperkenalkan situs-situs perziyarahan yang lain yang sama arti pentingnya yaitu menjunjung tinggi 16 Para Leluhur di Islam Tanah Dharma, dimana mereka adalah satu Letting satu Priode dengan Mbh Rhama Haji Irengan yaitu :
1. Eyng Hadirudin Al- Bantani dan Keluarga di dekat Gerbang Desa Dharma
2. Mbh Satori atau Mbah Dalem di Desa Cageur
3. Mbh Rhama Ghede dan Keluarga atau Mbah Katipan di Dharma Kampung Parenca
4. Mbh Depok di Dharma Kampung Parenca 5. Mbh Jangka Ciabot
6. Mbh Braja Barong di Desa Cipasung
7. Mbh Raden Bagus di Desa Kawah Manuk
8. Mbh Marmaganti dan Isrtinya Ibu Mangle di Desa Gunung Sirah 9. Syeh Karibullah dan Keluarga di Dharma Pasir jati
10. Syeh Habibullah di Gn Luhur
11. Syeh Ahmad Aruman di Desa Kopeng 12. Syeh Ahmad Bin Huas di Desa Situsari
13. Syeh Dhrajat dan Kerabat di Desa Cikupa kampung leuwipeundeuy
14. Syeh Ibrahim di Desa Sukarasa 15. Mbh Dhamar di Dharma Appeco
16. Mbh Buyt Syape’I di Ci Parengkel Dharma Appeco
17. Mbh Haji Junadidy Tohiry di Parenca Dharma
Adapun Para Arahat Muslim Prasejarah Desa Dharma yang ada di Dharmaloka yang kami tahu saat ini dari Sumber yang cukup INTERIOR dalam memahami DASAR DHARMA LELAKON adalah sebagai berikut :
2. Mbh. Rama Gusti 3. Mbh. Rama Bukit 4. Mbh. Saringsingan 5. Mbh. Raksa Digjaya 6. Mbh. Raja Jambangan 7. Mbk. Ajiji
9. Nyai Randa Galing 10. Sri Kuning
11. Sri Kembang 12. Aki Guru Bulan 13. Sykh. Padmin 14. Ibu Bukit
15. Mbh Kuwu Ireng
Di Duga sebelum 15 Perwira Cir ebon membuat sebuah Comunitas Muslim di Dharma, ternyata di Ci Borelang sebelah timur Dharma Loka ada 2 Makom Petinggi Penting dari Kerajaan Islam Cirebon, yaitu Makom Raden Arya kamuning pengasuh Raden Surangga Jaya anak angkat Sesuhunan Djati Ci Rebon, kemudian di pinggirnya ad makom Adipati Ewangga sebagi paman Gunung Djati dari Galuh yang ingin
Di bawah ini ada beberapa cuplikan Informasi penting Untuk yang lainnya yang ada di kecamatan Dharma ini, dari apa yang bisa kami informasikan, yaitu :